Anda di halaman 1dari 20

Mengapa siswa saya tidak menanya?

Sebenarnya sangat tergatung pada ketrampilan guru dalam memancing siswa untuk bertanya
mulai dari yang faktual sampai dengan prosedural. Disamping itu guru perlu instrospeksi apakah
pembelajarannya sudah terpadu yaitu memperhatikan ketiga kompetensi yaitu sikap,
pengetahuan dan ketrampilan dalam satu kesatuan proses pembelajaran. Begitu pula apakah
penilaiannya sudah autentik, pembelajaran dengan penilaian dalam satu kesatuan proses.
Berikutnya apakah guru sudah mengembangkan rubrik penilaian ketrampilan menanya. Selamat
mencoba

Bagaimana lintasan perolehan (proses psikologis) dari ketiga kompetensi dalam kurikulum 2013
dicapai?
Pencapaian kompetensi sikap diperoleh melalui aktivitas menerima, menjalankan, menghargai,
menghayati, dan mengamalkan. Pencapaian kompetensi pengetahuan diperoleh melalui
aktivitas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Sedangkan pencapaian kompetensi keterampilan diperoleh melalui aktivitas mengamati,
menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta.

Apakah peserta didik yang sudah mengikuti Ujian Tingkat Kompetensi (UTK), harus mengikuti
lagi Ujian Nasional?
UTK merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengetahui
pencapaian tingkat kompetensi, meliputi sejumlah KD yang merepresentasikan KI pada tingkat
kompetensi tersebut. UN merupakan kegiatan pengukuran kompetensi tertentu yang dicapai
peserta didik dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan, yang dilaksanakan
secara nasional. UTK dilakukan pada akhir kelas II (tingkat 1), kelas IV (tingkat 2), kelas VIII
(tingkat 4), dan kelas XI (tingkat 5), dengan menggunakan kisi-kisi yang disusun oleh
Pemerintah. Ujian tingkat kompetensi pada akhir kelas VI (tingkat 3), kelas IX (tingkat 4A), dan
kelas XII (tingkat 6) dilakukan melalui UN. Ujian Nasional dilakukan oleh Pemerintah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan. Berdasarkan uraian tersebut, maka siswa mengikuti
UTK dan juga mengikuti UN.
Mengapa mapel TIK ditiadakan? Kalau memang TIK menjadi bagian, pada bagian mana guru
TIK berperan?
TIK pada kurikulum 2013 bukan sebagai mata pelajaran, dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, TIK itu adalah tools untuk semua mata pelajaran. Untuk
memfasilitasi Guru TIK, pemerintah sedang mengupayakan terbitnya permendikbud untuk
mengantisifasi dan mempertahankan keberadaan guru TIK di satuan pendidikan. Wanaca yang
berkembang adalah seperti halnya peran guru bimbingan konseling. Tetapi orientasinya pada
pelayanan pendidik dan tenaga kependidikan dalam mengoptimalkan peran teknologi dan
informasi dalam pembelajaran, penilaian dan pengelolaan
Memahamkan guru terhadap pendekatan saintifik tidak mudah, bagaimana sarannya?
Pembelajaran yang menyenangkan seperti apa yang seharusnya dilaksanakan oleh guru dalam
kaitannya dengan penerapan Kurikulum 2013? Apakah 5M harus ada dalam setiap pertemuan?
Pembelajaran tidak boleh terjebak dalam rutinitas, langkah 5M bukanlah seremonial seperti
halnya upacara. Beberapa permasalahan sering mucul pada guru, oleh karena itu sebaiknya
disusun dalam bentuk cook books agar dapat menuntun guru mengikuti alur sains. Penerapan
5M disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga tidak harus setiap pertemuan ada 5M, bisa jadi
sekian pertemuan baru terpenuhi 5M, atau bahkan dalam sekian KD baru terpenuhi 5M, Oleh
karenanya kata kuncinya sesuaikan dengan jenis materi yang akan diajarkan, yang penting
proses sainsnya yang ditekankan. Dengan cara ini peserta didik akan terlatih berpikir tingkat
tinggi, berpikir urut dan sistematis, berbicara ada dasar tidak sekedar berbicara, dll.
Bagaimana Prinsip-prinsip Penilaian dalam kurikulum 2013?
1. Objektif, berarti penilaian berbasis pada standardan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas
penilai.
2. Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan
kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan.
3. Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporannya.
4. Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan
dapat diakses oleh semua pihak.
5. Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah
maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya.
6. Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.
Mohon dijelaskan teknik dan instrumen penilaian sikap, pengetahuan, dan ketrampilan dan
bagaimana guru melaporkan nilai tersebut?
Teknik penilaian kompetensi sikap melalui:
observasi,
penilaian diri,
penilaian teman sejawat(peer evaluation) dan
jurnal.
Instrumen yang digunakan untuk observasi, penilaian diri, dan penilaian antarpeserta didik
adalah daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik. Instrumen untuk jurnal
berupa catatan pendidik.
1. Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan
menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan
pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati.
2. Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk
mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi.
Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri. Penilaian diri dilakukan oleh peserta
didik untuk tiap kali sebelum ulangan harian.
3. Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik
untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa
lembar penilaian antarpeserta didik.
4. Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil
pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan
perilaku.
Laporan hasil penilaian oleh pendidik berbentuk nilai dan/atau deskripsi sikap. Nilai capaian
kompetensi sikap spiritual dan sosial (KI-1 dan KI-2) dalam matapelajaran diisi dengan
menggunakan skala Sangat Baik (SB), Baik (B), Cukup (C), dan Kurang (K) dengan indikator
sebagai berikut.
Predikat Indikator
SB Sudah konsisten (selalu berperilaku) sesuai yang diharapkan
B Mulai konsisten (sering berperilaku) sesuai yang diharapkan
C Belum konsisten (kadang-kadang berperilaku) sesuai yang diharapkan
K Tidak konsisten (tidak pernah berperilaku) sesuai yang diharapkan
Deskripsi kompetensi sikap spiritual dan sosial diisi dengan capaian KD dari KI-1 dan KI-2 (yang
menonjol) dan KD yang perlu ditingkatkan pada setiap mata pelajaran.
Penilaian antar matapelajaran diisi oleh wali kelas dengan deskripsi kesimpulan dari sikap
peserta didik secara keseluruhan. Kesimpulan tersebut diperoleh melalui rapat wali kelas
bersama dengan semua guru mata pelajaran.
Teknik Penilaian kompetensi pengetahuan melalui:
tes tulis,
tes lisan, dan
penugasan.
1) Instrumen tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah,
menjodohkan, dan uraian. Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran.
2) Instrumen tes lisan berupa daftar pertanyaan.
3) Instrumen penugasan berupa pekerjaan rumah dan/atau projek yang dikerjakan secara
individu atau kelompok sesuai dengan karakteristik tugas.
Laporan hasil penilaian oleh pendidik berbentuk nilai dan/atau deskripsi pencapaian kompetensi.
Nilai kompetensi pengetahuan diperoleh dari tes (lisan dan/atau tertulis) dan penugasan, nilai
harian, nilai ulangan tengah semester, dan nilai ulangan akhir semester. Nilai kompetensi
pengetahuan menggunakan skala 14 (kelipatan 0.33), yang dapat dikonversi ke dalam Predikat
A D.
Predikat Nilai Kompetensi
Pengetahuan Keterampilan Sikap
A 4.00 4
SB
A- 3.66 3.66
B+ 3.33 3.33
B
B 3.00 3
B- 2.66 2.66
C+ 2.33 2.33
C
C 2.00 2
C- 1.66 1.66
D+ 1.33 1.33
K
D 1.00 1
Deskripsi kompetensi pengetahuan diisi dengan capaian KD dari KI-3 (yang menonjol) dan KD
yang perlu ditingkatkan pada setiap mata pelajaran.
Teknik penilaian Kompetensi Keterampilan melalui:
tes praktik,
projek, dan
penilaian portofolio.
Instrumen yang digunakan berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang dilengkapi
rubrik.
1) Tes praktik adalah penilaian yang menuntut respon berupa keterampilan melakukan suatu
aktivitas atau perilaku sesuai dengan tuntutan kompetensi.
2) Projek adalah tugas-tugas belajar (learning tasks) yang meliputi kegiatan perancangan,
pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu. Penilaian projek
dilakukan untuk tiap akhir bab atau tema pelajaran.
3) Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh
karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui
minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktu tertentu.
Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian peserta didik
terhadap lingkungannya.
Laporan hasil penilaian oleh pendidik berbentuk nilai dan/atau deskripsi pencapaian kompetensi.
Nilai kompetensi ketrampilan diperoleh dari tes praktik, projek, dan portofolio. Nilai kompetensi
ketrampilan menggunakan skala 14 (kelipatan 0.33), yang dapat dikonversi ke dalam Predikat
A D.
Deskripsi kompetensi ketrampilan diisi dengan capaian KD dari KI-4 (yang menonjol) dan KD
yang perlu ditingkatkan pada setiap mata pelajaran.

Bagaimana perbedaan Ujian tingkat kompetensi (UTK) dengan Ujian Mutu Tingkat Kompetensi
(UMTK)?
Ujian Tingkat Kompetensi (UTK) Ujian Mutu Tingkat Kompetensi (UMTK)
Dilakukan satuan pendidikan Dilakukan pemerintah
Dilaksanakan pada akhir kelas XI (tingkat 5) Dilaksanakan pada akhir kelas XI (tingkat 5)
Menggunakan kisi-kisi yang disusun oleh Pemerintah Menggunakan metode survey
UTK pada akhir kelas XII (tingkat 6) dilakukan melalui UN.

Bagaimana perbedaan antara penilaian portofolio dan pembelajaran portofolio?
Model pembelajaran berbasis portofolio adalah teori belajar konstruktivisme yang pada
prinsipnya menggambarkan bahwa si pelajar membentuk atau membangun pengetahuannya
melalui interaksinya dengan lingkungannya (Kamii, dalam Poedjiadi, 1994:4). Langkah-langkah
portofolio sebagai model pembelajara meliputi; mengidentifikasi masalah yang ada di
masyarakat, memilih masalah untuk kajian kelas, mengumpulkan informasi tentang masalah
yang akan dikaji, membuat portofolio kelas, penyajian portofolio, dan merefleksi pengalaman
belajar.
Portofolio penilaian diartikan sebagai kumpulan fakta/bukti dan dokumen yang berupa tugas-
tugas yang terorganisir secara sistematis dari seseorang secara individual dalam proses
pembelajaran. Atau sebagai koleksi sistematis dari siswa dan guru untuk menguji proses dan
prestasi belajar. Portofolio penilaian mempunyai beberapa karakteristik yaitu; merupakan hasil
karya siswa yang berisi kemajuan dan penyelesaian tugas-tugas secara terus menerus dalam
usaha pencapaian kompetensi, merupakan suatu pendekatan kerja sama, mempunyai tujuan
menilai diri sendiri, memperbaiki dan mengupayakan prestasi, dan adanya keterkaitan antara
penilaian dan pembelajaran.

Apa bedanya pembelajaran projek dan penilaian projek?
Pembelajaran projek adalah adalah metoda pembelajaran yang menggunakan projek/kegiatan
sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan
informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. Sedangkan Penilaian projek adalah
salah satu teknik penilaian untuk mengukur ketrampilan baik ketrampilan abtrak maupun konkirt
mencukp mencakup tiga tahap persiapan, pelaksanaan dan pelaporan.
Beda projek dengan portofolio?
Projek adalah tugas-tugas belajar (learning tasks) yang meliputi kegiatan perancangan,
pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu. Portofolio adalah
kumpulan seluruh karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk
mengetahui minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun
waktu tertentu. Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian
peserta didik terhadap lingkungannya. Karya dapat berupa tugas-tugas dan projek.
Penilaian sikap? Pembinaannya seperti apa?
Pelaksanaan penilaian kompetensi sikap dilakukan oleh pendidik setiap mata pelajaran. Hasil
penilaian diinformasikan kepada masing-masing peserta didik pada setiap akhir pekan dengan
tujuan untuk (a) mengetahui kemajuan hasil pengembangan sikapnya, (b) mengetahui
kompetensi sikap yang belum dan yang sudah dicapai sesuai kriteria yang ditetapkan, (c)
memotivasi peserta didik agar memperbaiki sikap yang masih rendah dan berusaha
mempertahankan sikap yang telah baik, dan (d) menjadi bagian refleksi bagi pendidik untuk
memperbaiki strategi pengembangan sikap peserta didik di masa yang akan datang.
Tindak lanjut hasil penilaian sikap setiap minggu dijadikan dasar untuk melakukan proses
pembinaan dan pengembangan sikap yang disisipkan dalam mata pelajaran yang bersangkutan
tanpa harus memperhatikan pencapaian kompetensi dasar terkait dari aspek kompetensi sikap.
Pada akhir semester, setiap skor penilaian harian selama satu semester dibuat rata-rata nilai
kompetensi sikap. Data penilaian sikap bersumber dari hasil penilaian melalui teknik observasi,
penilaian diri, penilaian antarpeserta didik, dan jurnal.
Apakah nilai pada LCK untuk aspek pengetahuan dan keterampilan diperoleh dari nilai rata-rata
atau melalui pembobotan?
Nilai LCK pengetahuan diperoleh dari nilai ulangan harian dan tugas yang diolah menjadi nilai
harian. Berikutnya nilai harian digabung dengan nilai ulangan tengah semester dan ulangan
akhir semester .Sedangkan nilai LCK ketrampilan diperoleh dari rata-rata nilai praktik, projek dan
portofolio. Pembobotan ataupun rata-rata menjadi hak dan tanggungjawab pendidik, karena
pendidiklah yang memahami karakteristik peserta didiknya.
Pada bagian mana di LCK kita bisa memasukkan kegiatan yang diikuti siswa selama semester
tersebut?
Satuan pendidikan dapat mengisi tabel ekstrakurikuler dan keikutsertaan dalam kegiatan selama
satu semester setelah capaian kompetensi.
Bagaimana teknik pembinaan peserta didik yang nilai sikapnya belum memenuhi kategori baik?
Teknik pembinaan diserahkan kepada kebijakan satuan pendidikan masing-masing dan
tergantung pada sikap apa yang belum mencapai kategori baik tersebut.
Bagaimana kalau ada anak akhir semester yang belum tuntas?
Untuk kompetensi yang belum tuntas, kompetensi tersebut dituntaskan melalui pembelajaran
remedial sebelum melanjutkan pada kompetensi berikutnya. Untuk mata pelajaran yang belum
tuntas pada semester berjalan, dituntaskan melalui pembelajaran remedial sebelum memasuki
semester berikutnya.
Mohon penjelasan RPP yang bagaimana pada kurikulum 2013 yang sudah memenuhi
karakteristik pembelajaran saintific dan penilaian autentik?
RPP yang sudah saudara susun hendaknya memenuhi prinsip-prinsip penyusunan RPP sebagai
berikut:
1. Memfasilitasi perbedaan individual peserta didik antara lain kemampuan awal, tingkat
intelektual, bakat, potensi, minat, motivasi belajar, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar,
kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan
peserta didik.
2. Menunjukkan partisipasi aktif peserta didik.
3. Berpusat pada peserta didik untuk mendorong semangat belajar, motivasi, minat, kreativitas,
inisiatif, inspirasi, inovasi dan kemandirian.
4. Pengembangan budaya membaca dan menulis yang dirancang untuk mengembangkan
kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan berekspresi dalam berbagai bentuk
tulisan.
5. Pemberian umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program pemberian umpan
balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.
6. Penekanan pada keterkaitan dan keterpaduan antara KD, materi pembelajaran, kegiatan
pembelajaran, indikator pencapaian kompetensi, penilaian, dan sumber belajar dalam satu
keutuhan pengalaman belajar.
7. Mengakomodasi pembelajaran tematik-terpadu, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas
aspek belajar, dan keragaman budaya.
8. Penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif
sesuai dengan situasi dan kondisi.
Bagaimana lintasan perolehan (proses psikologis) dari ketiga kompetensi dalam kurikulum 2013
dicapai?
Pencapaian kompetensi sikap diperoleh melalui aktivitas menerima, menjalankan, menghargai,
menghayati, dan mengamalkan. Pencapaian kompetensi pengetahuan diperoleh melalui
aktivitas mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta.
Sedangkan pencapaian kompetensi keterampilan diperoleh melalui aktivitas mengamati,
menanya, mencoba, menalar, menyaji, dan mencipta.
Apa yang dimaksud dengan pengetahuan factual, konseptual, procedural dan metakognitif?
Pengetahuan Faktual (Factual Knoweledge) adalah pengetahuan tentang elemen dasar yang
harus diketahui siswa untuk mengenal suatu disiplin ilmu atau untuk menyelesaikan masalah di
dalamnya. Terdiri dari pengetahuan tentang istilah (Knowledge of terminology) dan Pengetahuan
tentang rincian dan unsur tertentu.(Knowledge of specific details and elements). (Cognitive
process dimension)
Pengetahuan Konseptual (Conceptual Knowledge) adalah pengetahuan tentang hubungan
timbal balik antara elemen-elemen dasar dalam suatu struktur yang memungkinkan elemen-
elemen tersebut berfungsi secara bersama-sama. Meliputi; pengetahuan tentang klasifikasi dan
kategori/penggolongan (Knowledge of classifications and categories), pengetahuan tentang
prinsip dan generalisasi (Knowledge of principles and generalizations) dan pengetahuan tentang
teori, model dan struktur (Knowledge of theories, models, and structures). (Cognitive process
dimension)
Pengetahuan Prosedural (Procedural Knowledge) adalah pengetahuan tentang bagaimana
melakukan suatu hal, metode dan inkuiri, dan kriteria untuk menggunakan suatu keterampilan,
algoritma, teknik dan suatu metode. Terdiri dari pengetahuan tentang keterampilan dan algoritma
tertentu (Knowledge of subject-specific skills and algorithms), pengetahuan tentang teknik dan
metode tertentu (Knowledge of subject-specific techniques and methods), pengetahuan tentang
kriteria untuk menentukan kapan menggunakan prosedur yang tepat (Knowledge of criteria for
determining when to use appropriate procedures). (Cognitive process dimension)
Pengetahuan Metakognitif (Metacognitive Knowledge) adalah pengetahuan kognisi secara
umum seperti kesadaran dan pengetahuan tentang kognisinya itu sendiri. Meliputi; pengetahuan
Strategis (Strategic Knowledge) adalah pengetahuan strategi umum untuk belajar, berpikir dan
pemecahan masalah., pengetahuan tentang tugas kognitif, termasuk pengetahuan kontekstual
dan kondisional yang cocok (Knowledge about cognitive tasks,
including appropriate contextual and conditional knowledge) dan Pengetahuan tentang diri
sendiri (Self-knowledge). (Cognitive process dimension)

Bagaimana kaitan antara model-model pembelajaran DL, I, PBL, PBL
Pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (Discovery/inquiry Learning) adalah teori belajar
yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan
pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri. Discovery
Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Tidak ada
perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan pada
ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya dengan
discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam
masalah yang direkayasa oleh guru.

Di sekolah banyak ditemukan bahwa pembelajaran saintifik terjebak kepada pemahaman 5M
sebagai model pembelajaran. Pemahaman ini menimbulkan pembelajaran monoton, karena
semua guru, semua mapel memasukkan langkah 5M ke dalam kegiatan inti pembelajaran.
Model-model pembelajaran sudah tidak ditemukan lagi di RPP yang disusun guru, semua
menggunakan langkah 5M. Hal ini menandakan belum dipahaminya esensi proses sains oleh
kebanyakan guru.
Perhatikan contoh bagaimana proses sains yang diinginkan oleh Kurikulum 2013 yang
sebenarnya: digambarkan ada 2 gelas aqua yang berisi air yang masing-masing diberi lubang di
sisi bawah. Gelas aqua A diletakkan di lantai, gelas aqua B diletakkan pada pot tanaman yang
ada di atas lantai. Setelah beberapa saat gelas A volume airnya berkurang dan air berpindah ke
lantai sehingga lantai basah oleh air. Sedangkan gelas B airnya habis. Contoh ini melatihkan
peserta didik bertumbuh pikiran untuk bertanya-tanya, kemana gerangan air yang ada di gelas B.
Pertanyaan ini membuat pikiran peserta didik tidak nyaman hingga mendorong mencari
informasi dari berbagai sumber, misalnya lewat membaca buku, mencari tahu di internet,
bertanya kepada guru, bertanya kepada orang tua, dll. Setelah mencari berbagai sumber
akhirnya menemukan jawaban bahwa air pada gelas B terserap oleh tanaman melalui tanah lalu
masuk ke pori-porinya dan diserap oleh akar tanaman, dll. Proses ini terjadi karena peserta didik
menganalisis apa yang menjadi permasalahan dengan apa yang ditemukan dari berbagai
informasi. Tahap inilah yang sebenarnya tahap asosiasi, yaitu menganalsiis dari berbagai
sumber untuk disusun menjadi kesimpulan. Selanjutnya kesimpulan yang telah disusun
dipublikasikan, baik melalui presentasi, poster, karya tulis, dll. Tahap demikian merupakan tahap
mengomunikasikan. Proses berpikir inilah yang dilatihkan melalui kegiatan 5M seperti layaknya
seorang saintis kecil yang sedang menyusun teori.
Memahamkan guru terhadap pendekatan saintifik tidak
Memahamkan guru terhadap pendekatan saintifik tidak mudah, bagaimana sarannya?
Pembelajaran yang menyenangkan seperti apa yang seharusnya dilaksanakan oleh guru dalam
kaitannya dengan penerapan Kurikulum 2013? Apakah 5M harus ada dalam setiap pertemuan?
Pembelajaran tidak boleh terjebak dalam rutinitas, langkah 5M bukanlah seremonial seperti
halnya upacara. Beberapa permasalahan sering mucul pada guru, oleh karena itu sebaiknya
disusun dalam bentuk cook books agar dapat menuntun guru mengikuti alur sains. Penerapan
5M disesuaikan dengan kebutuhan, sehingga tidak harus setiap pertemuan ada 5M, bisa jadi
sekian pertemuan baru terpenuhi 5M, atau bahkan dalam sekian KD baru terpenuhi 5M, Oleh
karenanya kata kuncinya sesuaikan dengan jenis materi yang akan diajarkan, yang penting
proses sainsnya yang ditekankan. Dengan cara ini peserta didik akan terlatih berpikir tingkat
tinggi, berpikir urut dan sistematis, berbicara ada dasar tidak sekedar berbicara, dll.

Pembelajaran Berbasis Projek (Project-Based Learning) adalah model pembelajaran yang
menggunakan projek/kegiatan sebagai inti pembelajaran; (Direktorat PSMA, Model Penyusunan
RPP).
Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem-Based Learning) merupakan sebuah model
pembelajaran yang menyajikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari
peserta didik (bersifat kontekstual) sehingga merangsang peserta didik untuk belajar; (Direktorat
PSMA, Model Penyusunan RPP).
Pembelajaran Inkuiri (Inquiry Learning) adalah sebagai proses bertanya, menyelidiki dan
mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukan. Inkuiri merupakan suatu
proses yang dinamik untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan rasa ingin tahu peserta
didik, sehingga dapat memahami lingkungan dan situasi lainnya. Inkuiri adalah suatu proses
untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi atau eksperimen
untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah
dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis. Inkuiri adalah suatu kegiatan atau
penelaahan sesuatu dengan cara mencari kesimpulan, keyakinan tertentu melalui proses
berpikir dan penalaran secara teratur, runut dan bila diterima oleh akal; (Direktorat PSMA, Model
Penyusunan RPP).
Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai
proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk
finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri. Pada pembelajaran penemuan, siswa
didorong untuk terutama belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan
prinsip-prinsip. Guru mendorong siswa agar mempunyai pengalaman dan melakukan
eksperimen dengan memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip atau konsep-konsep
bagi diri mereka sendiri; (Direktorat PSMA, Model Penyusunan RPP).
Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis
dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Model pembelajaran yang diperlukan
adalah yang memungkinkan terbudayakannya kecakapan berpikir sains, terkembangkannya
sense of inquiry dan kemampuan berpikir kreatif siswa (Alfred De Vito, 1989).


Langkah-langkah model Discovery Learning
1. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan), siswa dihadapkan pada sesuatu yang
menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar
timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Tahap ini Guru bertanya dengan mengajukan
persoalan, atau menyuruh anak didik membaca atau mendengarkan uraian yang memuat
permasalahan. Stimulation pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar
yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.
2. Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah), guru memberi kesempatan kepada
siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan
bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis
(jawaban sementara atas pertanyaan masalah).
3. Data collection (pengumpulan data), guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk
mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau
tidaknya hipotesis. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan
benar tidak hipotesis, dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan
(collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literature, mengamati objek, wawancara
dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
4. Data processing (pengolahan data), merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang
telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.
Data processing disebut juga dengan pengkodean coding/kategorisasi yang berfungsi sebagai
pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan
penegetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian
secara logis.
5. Verification (pentahkikan/pembuktian), bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan
baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu
konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam
kehidupannya.
6. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi), adalah proses menarik sebuah kesimpulan
yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama,
dengan memperhatikan hasil verifikasi. Atau tahap dimana berdasarkan hasil verifikasi tadi, anak
didik belajar menarik kesimpulan atau generalisasi tertentu. Akhirnya dirumuskannya dengan
kata-kata prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi.

Langkah-langkah pembelajaran penemuan (Inquairy Learning)
1. Orientasi, guru melakukan langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang
kondusif. Hal yang dilakukan dalam tahap orientasi ini adalah; menjelaskan topik, tujuan, dan
hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa, menjelaskan pokok-pokok kegiatan yang
harus dilakukan oleh siswa untuk mencapai tujuan. Pada tahap ini dijelaskan langkah-langkah
inkuiri serta tujuan setiap langkah, mulai dari langkah merumuskan merumuskan masalah
sampai dengan merumuskan kesimpulan, dan menjelaskan pentingnya topik dan kegiatan
belajar. Hal ini dilakukan dalam rangka memberikan motivasi belajar siswa.
2. Merumuskan masalah, merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang
mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk
memecahkan teka-teki itu. Teka-teki dalam rumusan masalah tentu ada jawabannya, dan siswa
didorong untuk mencari jawaban yang tepat. Proses mencari jawaban itulah yang sangat penting
dalam pembelajaran inkuiri, oleh karena itu melalui proses tersebut siswa akan memperoleh
pengalaman yang sangat berharga sebagai upaya mengembangkan mental melalui proses
berpikir.
3. Merumuskan hipotesis, adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang dikaji.
Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu diuji kebenarannya. Salah satu cara yang dapat
dilakukan guru untuk mengembangkan kemampuan menebak (berhipotesis) pada setiap anak
adalah dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang dapat mendorong siswa untuk dapat
merumuskan jawaban sementara atau dapat merumuskan berbagai perkiraan kemungkinan
jawaban dari suatu permasalahan yang dikaji.
4. Mengumpulkan data, adalah aktifitas menjaring informasi yang dibutuhkan untuk menguji
hipotesis yang diajukan. Dalam pembelajaran inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses
mental yang sangat penting dalam pengembangan intelektual. Proses pemgumpulan data bukan
hanya memerlukan motivasi yang kuat dalam belajar, akan tetapi juga membutuhkan ketekunan
dan kemampuan menggunakan potensi berpikirnya.
5. Menguji hipotesis, adalah menentukan jawaban yang dianggap diterima sesuai dengan data
atau informasi yang diperoleh berdasarkan pengumpulan data. Menguji hipotesis juga berarti
mengembangkan kemampuan berpikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang diberikan
bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan
dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan kesimpulan, adalah proses mendeskripsikan temuan yang diperoleh
berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Untuk mencapai kesimpulan yang akurat sebaiknya guru
mampu menunjukkan pada siswa data mana yang relevan.


Langkah-langkah pembelajaran Projek (Project Based Learning)
1. Menyiapkan pertanyaan atau penugasan proyek
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang memberikan tugas
kepada siswa dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan dunia
nyata yang dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Guru berusaha agar topik yang
diangkat relevan untuk siswa sesuai dengan tuntusan kompetensi yang diharapkan. Penyiapan
pertanyaan dapat dilakukan di awal semester agar dapat dirancang kegiatan selanjutnya yaitu
mendesain perencanaan.
2. Mendesain perencanaan proyek
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dengan siswa sehingga siswa merasa
memiliki proyek tersebut. Perencanaan berisi aturan main, pemilihan aktivitas pendukung untuk
menjawab pertanyaan esensial dengan cara mengintegrasikan berbagai subyek yang mungkin.
Serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
3. Menyusun Jadwal
Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek.
Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2)
membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa siswa agar merencanakan cara yang
baru, (4) membimbing siswa ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan
proyek, dan (5) meminta siswa untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu
cara.
4. Memonitor kegiatan dan perkembangan proyek
Guru bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas siswa selama
menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara memfasilitasi siswa pada setiap
proses. Dengan kata lain guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas siswa. Agar
mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan
aktivitas yang penting.
5. Menguji hasil
Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian standar, berperan
dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing siswa, memberi umpan balik tentang tingkat
pemahaman yang sudah dicapai siswa, membantu guru dalam menyusun strategi pembelajaran
berikutnya.
6. Mengevaluasi kegiatan/pengalaman
Pada akhir proses pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil
proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok.
Pada tahap ini siswa diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama
menyelesaikan proyek. Guru dan siswa mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki
kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru
(new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.

Langkah-langkah penyusunan projek oleh siswa
1. Planning; kegiatan yang dilakukan adalah a) merancang seluruh projek, kegiatan dalam
langkah ini adalah: mempersiapkan projek, secara lebih rinci mencakup: pemberian informasi
tujuan pembelajaran, guru menyampaikan fenomena nyata sebagai sumber masalah,
pemotivasian dalam memunculkan masalah dan pembuatan proposal, b) mengorganisir
pekerjaan, kegiatan dalam langkah ini adalah: merencanakan projek, secara lebih rinci
mencakup: mengorganisir kerjasama, memilih topik, memilih informasi terkait projek, membuat
prediksi, dan membuat desain investigasi.
2. Creating; siswa mengembangkan gagasan-gagasan projek, mengkombinasikan ide yang
muncul dalam kelompok, dan membangun projek. Tahapan kedua ini termasuk aktifitas
pengembangan dan dokumentasi. Pada tahapan ini pula siswa menghasilkan suatu produk
(artefak) yang nantinya akan dipresentasikan dalam kelas.
3. Processing; meliputi presentasi projek dan evaluasi. Pada presentasi projek akan terjadi
komunikasi secara aktual kreasi ataupun temuan dari investigasi kelompok, sedangkan pada
tahapan evaluasi akan dilakukan refleksi terhadap hasil projek, analisis dan evaluasi dari proses-
proses belajar.
4. Reporting (membuat laporan projek)

Langkah-langkah Penilaian hasil belajar oleh pendidik
1. Tahap persiapan dilakukan melalui langkah-langkah berikut.
a. Mengkaji kompetensi dan silabus sebagai acuan dalam membuat rancangan dan kriteria
penilaian;
b. Membuat rancangan dan kriteria penilaian;
c. Mengembangkan indikator;
d. Memilih teknik penilaian sesuai dengan indikator;
e. Mengembangkan instrumen dan pedoman penskoran.
2. Tahap pelaksanaan.
a. Pelaksanaan penilaian dalam proses pembelajaran diawali dengan penelusuran. Penelusuran
dilakukan dengan menggunakan teknik bertanya untuk mengeksplorasi pengalaman belajar
sesuai dengan kondisi dan tingkat kemampuan peserta didik.
b. Melaksanakan tes dan/atau nontes.
3. Tahap analisis/pengolahan dan tindak lanjut
a. Hasil penilaian oleh pendidik dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui kemajuan dan kesulitan
belajar (lihat Model Pengembangan Analisis Hasil Belajar Peserta Didik).
b. Hasil penilaian dikembalikan kepada peserta didik disertai balikan (feedback) berupa
komentar yang mendidik (penguatan).
c. Hasil analisis ditindaklanjuti dengan layanan remedial dan pengayaan, serta
memanfaatkannya untuk perbaikan pembelajaran.
d. Penilaian kompetensi sikap spiritual dan sosial antarmatapelajaran dilakukan oleh semua
pendidik selama satu semester, hasilnya diakumulasi dan dinyatakan dalam bentuk deskripsi
kompetensi sikap oleh wali kelas.
4. Tahap pelaporan
a. Hasil penilaian dilaporkan kepada pihak terkait.
b. Laporan hasil penilaian kompetensi pengetahuan dan keterampilan oleh pendidik berbentuk
nilai dan deskripsi pencapaian kompetensi.
c. Laporan hasil penilaian kompetensi sikap spiritual dan sosial dalam bentuk deskripsi sikap.
d. Laporan hasil penilaian oleh pendidik disampaikan kepada kepala sekolah dan pihak lain yang
terkait (misal: wali kelas, guru Bimbingan dan Konseling, dan orang tua/wali) pada periode yang
ditentukan.
Mengapa mapel TIK ditiadakan? Kalau memang TIK menjadi bagian, pada bagian mana guru
TIK berperan?
TIK pada kurikulum 2013 bukan sebagai mata pelajaran, dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, TIK itu adalah tools untuk semua mata pelajaran. Untuk
memfasilitasi Guru TIK, pemerintah sedang mengupayakan terbitnya permendikbud untuk
mengantisifasi dan mempertahankan keberadaan guru TIK di satuan pendidikan. Wanaca yang
berkembang adalah seperti halnya peran guru bimbingan konseling. Tetapi orientasinya pada
pelayanan pendidik dan tenaga kependidikan dalam mengoptimalkan peran teknologi dan
informasi dalam pembelajaran, penilaian dan pengelolaan.

Mengapa jumlah jam pelajaran mata pelajaran bahasa inggris berkurang?
Sebenarnya jumlah jam mata pelajaran Bahasa Inggris tidak berkurang, hanya menempatkan
kompetensi tertentu sebagai kompetensi pada peminatan. Materi-materi dasar Bahasa Inggris
ditempatkan pada mapel Bahasa Inggris wajib yang cukup dengan 2 jam pelajaran dapat
dipenuhi
Mengapa jumlah jam pelajaran mata pelajaran sejarah ditambah?
Muatan kompetensi dasar pada mata pelajaran sejarah berkembang bila dibandingkan dengan
kompentensi kurikukum sebelumnya, sehingga memerlukan alokasi waktu yang lebih banyak.
Apa saja yang harus tertuang dalam Komponen Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Kurikulum
2013?
Berdasarkan permendikbud 81A tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum menguraikan
komponen KTSP sebagai berikut:
A. Visi, Misi, dan Tujuan Pendidikan Satuan Pendidikan
B. Muatan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
1. Muatan Kurikulum pada Tingkat Nasional
2. Muatan Kurikulum pada Tingkat Daerah
3. Muatan Kekhasan Satuan Pendidikan
C. Pengaturan Beban Belajar
D. Kalender Pendidikan
1. Permulaan Waktu Pelajaran
2. Pengaturan Waktu Belajar Efektif
a. Minggu efektif
b. Waktu pembelajaran efektif
c. Pengaturan Waktu Libur
Bagaimana prinsip-prinsip penyusunan KTSP Kurikulum 2013?
Prinsip-prinsip penyusunan KTSP sebagai berikut:
1. Peningkatan Iman, Takwa, dan Akhlak Mulia
2. Kebutuhan Kompetensi Masa Depan
3. Peningkatan Potensi, Kecerdasan, dan Minat sesuai dengan Tingkat Perkembangan dan
Kemampuan Peserta Didik
4. Keragaman Potensi dan Karakteristik Daerah dan Lingkungan
5. Tuntutan Pembangunan Daerah dan Nasional
6. Tuntutan Dunia Kerja
7. Perkembangan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni
8. Agama
9. Dinamika Perkembangan Global
10. Persatuan Nasional dan Nilai-Nilai Kebangsaan
11. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Setempat
12. Kesetaraan Jender
13. Karakteristik Satuan Pendidikan
Langkah-langkah analisis kompetensi inti (KI)
1. Melakukan linearisasi kompetensi dasar pengetahuan dan ketrampilan sesuai materi pokok
pada silabus;
2. Mengembangkan indikator pengetahuan berdasarkan kompetensi dasar pengetahuan dan
materi pokok;
3. Mengembangkan materi pembelajaran yang terdiri atas : fakta, konsep, prinsip, dan prosedur
berdasarkan kompetensi dasar pengetahuan dan materi pokok;
4. Merancang penilaian pengetahuan;
5. Mengembangkan indikator keterampilan yang terkait dengan fakta, konsep, prinsip, dan
prosedur berdasarkan kompetensi dasar ketrampilan dan kegiatan pembelajaran dalam silabus;
6. Mengembangkan alternatif pembelajaran mulai dari mengamati, menanya, mencoba,
mengasosiasi, dan mengomunikasikan yang diperlukan untuk mengembangkan sikap sosial dan
sikap religius;
7. Merancang penilaian ketrampilan;
8. Mengidentifikasi nilai-nilai sikap dari kompetensi dasar dan kompetensi inti spirital dan sosial;
9. Merancang penilaian sikap.

Langkah-langkah Penyusunan Indikator Pencapaian Kompetensi Pengetahuan
Kriteria:
1. Indikator dirumuskan dengan kata kerja operasional yang dapat diamati dan terukur,
didalamnya terdapat dua unsur, yaitu tingkat kompetensi pengetahuan dan materi pokok;
2. Penyusunan indikator mengacu pada kompetensi inti, kompetensi dasar, dan materi pokok,
dan penilaian dalam silabus;
3. Tingkat kompetensi indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal yang tercantum
pada kompetensi dasar maupun kompetensi inti dan dapat dikembangkan hingga ke tingkat
yang paling tinggi untuk mencapai target pencapaian kompetensi yang ditetapkan sesuai dengan
karakteristik dan daya dukung sekolah dan lingkungannya;
4. Tingkat kompetensi pada aspek penggetahuan adalah mengingat, memahami, menerapkan,
menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi.
Contoh: mata pelajaran biologi kelas X
KI-3 : Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural
berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan
humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang
kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
KD-3.3 : Menerapkan pemahaman tentang virus berkaitan dengan ciri, replikasi, dan peran virus
dalam aspek kesehatan masyarakat.
Indikator pencapaiaan kompetensi:
Menjelaskan ciri-ciri dan struktur virus,
Mengurutkan replikasi virus,
Mengklasifikasi kasus-kasus penyakit yang disebabkan virus
Menentukan peran virus dalam aspek kesehatan masyarakat
Menganalisis jenis-jenis partisipasi remaja dalam menanggulangi persebaran virus


Langkah-langkah Penyusunan Indikator Pencapaian Kompetensi Ketrampilan
Kriteria:
1. Indikator dirumuskan dengan kata kerja operasional yang dapat diamati dan terukur,
didalamnya terdapat dua unsur, yaitu tingkat kompetensi ketrampilan dan konten;
2. Penyusunan indikator mengacu pada kompetensi inti, kompetensi dasar, kegiatan
pembelajaran dan penilaian dalam silabus;
3. Tingkat kompetensi indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal yang tercantum
pada kompetensi dasar maupun kompetensi inti dan dapat dikembangkan hingga ke tingkat
yang paling tinggi untuk mencapai target pencapaian kompetensi yang ditetapkan sesuai dengan
karakteristik dan daya dukung sekolah dan lingkungannya;
4. Tingkat kompetensi pada aspek ketrampilan adalah mengamati, menanya, mencoba, menalar,
menyaji, dan mencipta.
Contoh: mata pelajaran biologi kelas X
KI-4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan
metoda sesuai kaidah keilmuan
KD-4.3 : Menyajikan data tentang ciri, replikasi, dan peran virus dalam aspek kesehatan dalam
bentuk model/charta
Indikator pencapaiaan kompetensi:
Mengamati berbagai kasus penyakit yang disebabkan virus saat ini
Menanya penyebab berbagai penyakit dan mekanisme penyebarannya
Mengumpulkan data karakteristik virus dan struktur virus, proses perkembangbiakan virus dan
penyebaran virus HIV
Mengolah data kaitan antara struktur dan reproduksi virus dengan penyebaran penyakit dan
mengaitkan perilaku yang harus dilakukannya
Menyajikan secara lisan tentang ciri dan karakter virus, perkembangbiakan dan cara penularan
HIV


Langkah-langkah Penyusunan Indikator Pencapaian Kompetensi Sikap Spiritual dan Sosial
Kriteria:
1. Indikator tidak harus menggunakan kata kerja operasional;
2. Penyusunan indikator mengacu pada kompetensi inti, kompetensi dasar, kegiatan
pembelajaran dan penilaian dalam silabus;
3. Tingkat kompetensi pada aspek sikap adalah menerima, menjalankan, menghargai,
menghayati, dan mengamalkan;
Contoh: mata pelajaran biologi kelas X
KI-1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
KD-1.1 : Mengagumi keteraturan dan kompleksitas ciptaan Tuhan tentang keanekaragaman
hayati, ekosistem, dan lingkungan hidup
Indikator pencapaiaan kompetensi:
Berdoa sebelum dan sesudah menjalankan sesuatu kegiatan
Menjalankan ibadah tepat waktu.
Contoh: mata pelajaran biologi kelas X
KI-2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (gotong
royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan pro-aktif dan menunjukkan sikap
sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.
KD-2.1 : Berperilaku ilmiah: teliti, tekun, jujur terhadap data dan fakta, disiplin, tanggung
jawab,dan peduli dalam observasi dan eksperimen, berani dan santun dalam mengajukan
pertanyaan dan berargumentasi, peduli lingkungan, gotong royong, bekerjasama, cinta damai,
berpendapat secara ilmiah dan kritis, responsif dan proaktif dalam setiap tindakan dan dalam
melakukan pengamatan dan percobaan di dalam kelas/laboratorium maupun di luar
kelas/laboratorium.
Indikator pencapaiaan kompetensi:
Tidak menyontek dalam mengerjakan ujian/ulangan
Datang tepat waktu
Melaksanakan tugas individu dengan baik


Langkah-langkah pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem Based Learning)
1. Mengorientasikan siswa pada masalah; kegiatan guru: melakukan menginformasikan tujuan
pembelajaran, menciptakan lingkungan kelas yang memungkinkan terjadi pertukaran ide yang
terbuka, mengarahkan pada pertanyaan atau masalah, dan mendorong siswa mengekspresikan
ide-ide secara terbuka
2. Mengorganisasikan siswa untuk belajar; kegiatan guru: membantu siswa menemukan konsep
berdasar masalah, mendorong keterbukaan, proses-proses demokrasi dan cara belajar siswa
aktif, dan menguji pemahaman siswa atas konsep yang ditemukan

3. Memandu menyelidiki secara mandiri atau kelompok; kegiatan guru: memberi kemudahan
pengerjaan siswa dalam mengerjakan/menyelesaikan masalah, mendorong kerjasama dan
penyelesaian tugas-tugas, mendorong dialog, diskusi dengan teman, mmbantu siswa
mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang berkaitan dengan masalah,
membantu siswa merumuskan hipotesis, dan membantu siswa dalam memberikan
solusiKegiatan guru: memberi kemudahan pengerjaan siswa dalam mengerjakan/menyelesaikan
masalah, mendorong kerjasama dan penyelesaian tugas-tugas, mendorong dialog, diskusi
dengan teman, mmbantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas-tugas belajar yang
berkaitan dengan masalah, membantu siswa merumuskan hipotesis, dan membantu siswa
dalam memberikan solusi
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil kerja; kegiatan guru: membimbing siswa mengerjakan
lembar kegiatan siswa (LKP) dan membimbing siswa menyajikan hasil kerja.
5. Menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah; Kegiatan guru: membantu siswa
mengkaji ulang hasil pemecahan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemcahan
masalah, dan mengevaluasi materi.


Langkah-Langkah Penyusunan RPP
1. Mengkaji silabus, buku siswa dan buku panduan guru. Silabus menguraikan kompetensi inti,
kompetensi dasar (spiritual, sosial, pengetahuan dan ketrampilan), materi pokok, kegiatan
pembelajaran, penilaian, alokasi waktu dan sumber belajar. Silabus sebagai dasar
pengembangan RPP, terutama pengembangan indikator pencapaian kompetensi, materi
pembelajaran, metode, media/alat/sumber belajar, langkah-langkah pembelajaran dan penilaian.

2. Menuliskan identitas rencana pelaksanaan pembelajaran yang mencakup Sekolah,
Matapelajaran, Kelas/Semester, Materi Pokok dan alokasi waktu. Alokasi waktu ditentukan
sesuai dengan keperluan untuk pencapaian kompetensi dasar dan beban belajar dengan
mempertimbangkan jumlah jam pelajaran yang tersedia dalam silabus dan kompetensi dasar
yang harus dicapai. Alokasi waktu ditulis dengan cara menuliskan jumlah pertemuan x jumlah
jam sesuai struktur kurikulum. Misalnya 2 x 3 JP (dua kali pertemuan masing-masing tiga jam
pelajaran).
3. Menuliskan kompetensi inti, meliputi kompetensi inti spiritual, sosial, pengetahuan dan
ketrampilan;
4. Menuliskan kompetensi dasar dan menyusun indikator pencapaian kompetensi sebagai
berikut:
a. Kompetensi dasar spiritual dan dapat menyusun indikator pencapaian kompetensi spiritual;
b. Kompetensi dasar sosial dan dapat menyusun indikator pencapaian kompetensi sosial;
c. Kompetensi dasar pengetahuan dan menyusun indikator pencapaian kompetensi
pengetahuan;
d. Kompetensi dasar ketrampilan dan menyusun indikator pencapaian kompetensi ketrampnsi
dasarilan;
Penyusunan indicator pencapaian kompetensi memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Indikator dirumuskan dengan kata kerja operasional yang terukur, didalamnya terdapat dua
unsur, yaitu tingkat kompetensi dan konten (pengetahuan dan keterampilan);
b. Penyusunan indikator mengacu pada kompetensi inti, kompetensi dasar, materi pokok,
kegiatan pembelajaran dan penilaian dalam silabus;
c. Tingkat kompetensi indikator harus mencapai tingkat kompetensi minimal yang tercantum
pada kompetensi dasar maupun kompetensi inti dan dapat dikembangkan hingga ke tingkat
yang paling tinggi untuk mencapai target pencapaian kompetensi sesuai dengan karakteristik
dan daya dukung sekolah dan lingkungannya;
d. Tingkat kompetensi pada aspek sikap adalah menerima, menjalankan, menghargai,
menghayati, dan mengamalkan;
e. Tingkat kompetensi pada aspek pengetahuan adalah mengingat, memahami, menerapkan,
menganalisis, mengevalasi, dan mengkreasi;
f. Tingkat kompetensi pada aspek keterampilan adalah mengamati, menanya, mencoba,
menalar, menyaji, dan mencipta, dan
g. Keseluruhan indikator yang disusun memadai untuk mencapai kompetensi dasar, kompetensi
inti, dan standar kompetensi lulusan.
5. Mengembangkan tujuan pembelajaran.
a. Tujuan pembelajaran sikap spiritual
b. Tujuan pembelajaran sikap sosial
c. Tujuan pembelajaran pengetahuan, dan
d. Tujuan pembelajaran ketrampilan.
Tujuan pembelajaran memenuhi:
a. Tujuan pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan kompetensi dasar dengan menggunakan
kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup sikap, pengetahuan, dan
keterampilan;
b. Tujuan dapat diorganisasikan mencakup seluruh kompetensi dasar atau diorganisasikan untuk
setiap pertemuan;
c. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk kalimat pernyataan yang menggambarkan
arah dan target yang dicapai dalam seluruh rangkaian kegiatan (dalam satu atau berberapa
minggu/pertemuan) dalam satu materi pokok/tema/teks, serta memuat penjelasan proses dan
hasil yang diharapkan.
6. Menguraikan materi pokok ke dalam materi pembelajaran. Materi pembelajaran memuat fakta,
konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan
rumusan indikator ketercapaian kompetensi;
7. Menyusun metode pembelajaran, berdasarkan langkah-langkah pembelajaran yang terurai
dalam silabus. Menuliskan model pembelajaran yang digunakan misalnya discovery, inkuiri,
pembelajaran berbasis masalah atau pembelajaran berbasis projek. Menuliskan pendekatan
yang digunakan yaitu pendekatan saintifik, Menuliskan metode pembelajaran, misalnya diskusi,
eksperimen, demonstrasi, dan/atau simulasi,
8. Menyusun media, alat, dan sumber belajar, berdasarkan langkah-langkah pembelajaran yang
terurai dalam silabus;
9. Mengembangkan langkah-langkah pembelajaran berdasarkan kegiatan pembelajaran di
silabus, buku guru dan buku siswa;
Kegiatan pendahuluan meliputi:
a. menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran;
b. mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang materi yang sudah dipelajari dan terkait dengan
materi yang akan dipelajari;
c. mengantarkan peserta didik kepada suatu permasalahan atau tugas yang akan dilakukan
untuk mempelajari suatu materi dan menjelaskan tujuan pembelajaran atau KD yang akan
dicapai; dan
d. menyampaikan garis besar cakupan materi dan penjelasan tentang kegiatan yang akan
dilakukan peserta didik untuk menyelesaikan permasalahan atau tugas.
Kegiatan Inti meliputi:
a. Guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan
pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca;
b. Guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa
yang sudah dilihat, disimak, didengar atau dibaca. Guru perlu membimbing peserta didik untuk
dapat mengajukan pertanyaan: pertanyaan tentang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai
kepada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih
abstrak. Pertanyaan yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik;
c. Menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara sebagai
tindak lanjut dari bertanya. Peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak,
memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari
kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi;
d. Memproses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya,
menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari
pola yang ditemukan;
e. Mengomunikasikan hasil berupa menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam
kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampikan
di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik
tersebut.
Kegiatan Penutup meliputi:
a. guru bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan
pelajaran;
b. melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara
konsisten dan terprogram;
c. memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
d. merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajaran remedi, program
pengayaan, layanan konseling;
e. memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil belajar
peserta didik, dan
f. menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan berikutnya.
10. Menyusun instrumen penilaian pengetahuan yang terdiri dari tes dan tugas. Instrumen tes
mencakup kisi-kisi, soal, kunci jawaban untuk soal pilihan ganda dan pedoman penskoran untuk
soal uraian. Kisi-kisi soal mencakup identitas kisi-kisi yang sekurang-kurangnya memuat nama
sekolah, mata pelajaran, jenis kurikulum, jumlah soal, bentuk soal, alokasi waktu, dan penyusun
soal. Uraian dalam bentuk tabel meliputi; Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Bahan
Kelas/Semester, Materi Pokok, Indikator Soal dan Nomor soal. Indikator soal memenuhi kriteria;
a. Menggunakan kata kerja operasional (perilaku khusus yang tepat),
b. Menggunakan satu kata kerja operasional untuk soal objektif dan lebih dari satu kata kerja
operasional untuk soal uraian/tes perbuatan;
c. Dapat dibuat soal atau pengecohnya (untuk soal objektif);
d. Memperhatikan urgensi, kontinuitas, relevansi, dan keterpakaian (UKRK);
e. Penulisan indikator yang lengkap mencakup A = audience (peserta didik) , B = behaviour
(perilaku yang harus ditampilkan), C = condition (kondisi yang diberikan), dan D = degree
(tingkatan yang diharapkan);
f. Bagi kompetensi yang menuntut kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah ditambah
stimulus.
11. Menyusun intrumen penilaian ketrampilan yang terdiri dari tes praktik, projek, dan/atau
portofolio yang disertai dengan rubrik;
12. Menyusun instrumen penilaian kompetensi sikap spiritual dan sosial yang terdiri dari
observasi, penilaian antarteman, penilaian diri, dan/atau jurnal. Observasi, penilaian antarteman,
penilaian diri dilengkapi dengan rubrik.


Penilaian (assessment) adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi dari proses dan
hasil pembelajaran untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik; (PP No. 32 Tahun
2013 tentang Perubahan atas PP No. 19 tentang SNP).
Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik
untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa
lembar penilaian antarpeserta didik; (Permendikbud No. 66 Tahun 2013 tentang Standar
Penilaian Pendidikan).
Penilaian antar matapelajaran adalah kesimpulan dari sikap keseluruhan dalam mata pelajaran
diputuskan melalui rapat koordinasi bersama dengan guru mata pelajaran dan wali kelas; (Pusat
Pengembangan Tenaga Kependidikan, Manajemen Implementasi Kurikulum 2013)
Penilaian berbasis portofolio merupakan penilaian yang dilaksanakan untuk menilai keseluruhan
entitas proses belajar peserta didik termasuk penugasan perseorangan dan/atau kelompok di
dalam dan/atau di luar kelas khususnya pada sikap/perilaku dan keterampilan. Penilaian
portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang
menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi
tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh
peserta didik; (Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum).
Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk
mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi.
Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri; (Permendikbud No. 66 Tahun 2013
tentang Standar Penilaian Pendidikan).
Penilaian kelas adalah suatu usaha untuk membangun praktek mengajar yang lebih baik dengan
melakukan umpan balik pada pembelajaran peserta didik lebih sistimatik, lebih fleksibel, dan
lebih efektif; (Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum).
Penilaian pengetahuan adalah penilain potensi intelektual yang terdiri dari tahapan mengetahui,
memahami, menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi (Anderson & Krathwohl,
2001).
Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh
karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui
minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktu tertentu.
Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian peserta didik
terhadap lingkungannya; (Permendikbud No. 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian
Pendidikan).
Penilaian produk adalah penilaian terhadap proses pembuatan dan kualitas suatu produk;
(Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum).
Penilaian projek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan
dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan,
pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. Penilaian projek dapat
digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan
penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada matapelajaran tertentu
secara jelas; (Permendikbud No. 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan).
Penilaian autentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai
dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran. Menggunakan berbagai cara
dan kriteria holistik (kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap).
Menilai kesiapan, proses dan hasil belajar secara utuh. Relevan dengan pembelajaran saintific
dalam pembelajaran. Penilaian dan pembelajaran secara terpadu. Harus mencerminkan
masalah dunia nyata. Tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh peserta didik, tetapi lebih
menekankan mengukur apa yang dapat dilakukan; (Permendikbud No. 66 Tahun 2013 tentang
Standar Penilaian Pendidikan).
Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta
didik dalam melakukan sesuatu; (Permendikbud No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi
Kurikulum).


Strategi pembelajaran menurut Kemp (Wina Senjaya, 2008) adalah suatu kegiatan pembelajaran
yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan
efisien. J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran
terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat
konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan
pembelajaran untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran
tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan a plan of operation achieving something
sedangkan metode adalah a way in achieving something (Wina Senjaya (2008).
Taktik Pembelajaran; merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik
pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, dua orang sama-sama menggunakan
metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam
penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki
sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi
lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang
itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru,
sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan.
Dalam taktik ini, pembelajaran akan menjadi sebuah ilmu sekaligus juga seni (kiat) (Wina
Senjaya, 2008).
Teknik Pembelajaran; dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam
mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah
pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang
tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang
jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan
teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya
tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor
metode yang sama (Wina Senjaya, 2008).