Anda di halaman 1dari 18

REFERAT

SPACE OCCUPYI NG LESI ONS


UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
RUMAH SAKIT BAKTHI YUDHA
























NAMA:
MUHAMMAD ADIB THAQIF BIN MAZLAN
NIM:
11-2012-211
NAMA PEMBIMBING
dr. Al-Rasyid, SpS
TANGGAL
26 NOVEMBER 2013



Page 1


PENDAHULUAN
Space Occupying Lesions adalah satu kasus gawat darurat yang bersifat progresif
yang sering ditemukan dalam praktek sehari-hari. Space-occupying lesion seringkali
diakibatkan oleh keganasan tetapi ia dapat disebabkan oleh patologis lain seperti abses atau
hematoma. Hampir setengah daripada tumor intraserebral berbentuk primer tetapi selebihnya
berasal daripada luar sistem saraf pusat dan daripada metastase. Efek daripada tumor bersifat
lokal, karena kerosakan otak yang bersifat fokal dan gambaran klinis yang memberikan
indikasi terhadap letak lesi dan bukan etiologi. Dapat terjadi gejala umum yang lebih
berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial atau kejang, perubahan perilaku atau
tanda lokalisir yang salah. Lesi luas pada beberapa daerah, seperti lobus frontalis, dapat
bersifat dia manakala hemisfera dominan lesi kecil yang dapat memperngaruhi berbicara.
Pada referat ini akan dibahas mengenai definisi Space occupying lesions(SOL), jenis
SOL, patofisiologi, diagnosis serta penanganan SOL dengan tatalaksana baik umum maupun
khusus.
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi
Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang. Otak adalah organ penting
yang mengendalikan pikiran, emosi, keterampilan motorik, sentuhan, visi, respirasi, suhu,
rasa lapar, dan setiap proses yang mengatur tubuh kita. Otak dapat dibagi ke dalam otak besar
( cerebrum), batang otak ( brainstem) dan otak kecil (cerebellum);-
1,2
a. Cerebrum
- Merupakan bagian paling besar
- Terdiri atas bagian kiri dan kanan yang disebut hemispherium cerebri
- Berfungsi untuk kontrol terhadap pembicaraan, emosi, inisiasi gerakan, koordinasi
gerakan, temperatur, sentuhan, penglihatan, pendengaran, penilaian, penalaran,
pemecahan masalah, emosi dan pembelajaran.
b. Cerebellum
- Terletak dibawah cerebrum dan dibelakang otak
- Berfungsi untuk koordinasi gerakan otot sukarela dan untuk mempertahankan
postur tubuh, keseimbangan, dan equilibrium
c. Brainstem
- Batang otak termasuk otak tengah, pons dan medulla

Page 2


- Fungsi daerah ini meliputi: pergerakan mata dan mulut, penyampaian pesan
sensorik, rasa lapar, respirasi, kesadaran, fungsi jantung, suhu tubuh, gerakan otot
tak sadar, bersin, batuk, muntah dan menelan, tekanna darah dan pernapasan.
Secara spesifik, beberapa bagian lain dari otak adalah sebagai berikut:
1,2
- Pons: sebuah bagian yang terletak sangat dalam di otak, terletak di brainstem,
pons berisi banyak daerah kontrol untuk gerakan mata dan wajah
- Medulla: bagian terendah dari batang otak, medulla adalah bagian yang paling
penting dari seluruh otak dan merupakan pusat kontrol jantung dna paru-paru
yang sangat penting
- Saraf tulang belakang: merupakan sekumpulan besar serabut saraf yang terletak
dibagian belakang yang memanjang dari dasar otak ke punggung bawah, syaraf
tulang belakang ini membawa pesan ke dan dari otak dan seluruh badan.
Otak dilindungi oleh tulang tengkorak dan ditutupi oleh 3 membran yang disebut
meningen. Otak juga dilindungi oleh cairan serebrospinal, yang diproduksi oleh pleksus
khoroideus, yang masuk ke dalam 4 ventrikel dan antara rongga meningen. Cairan
serebrospinal membawa nutrient dari darah ke otak dan membawa kembali zat-zat yang tidak
diperlukan lagi dari otak ke darah.
1,2


Space Occupying Lesions (SOL)
Definisi:- Suatu lesi yang meluas atau memenuhi ruang dalam otak termasuk massa
(tumor), hematoma dan abses
3
Gambaran Penuh
Space-occupying lesion seringkali disebakan oleh keganasan tetapi ia dapat
disebabkan oleh patologis lain seperti abses atau hematoma. Hampir setengah daripada tumor
intraserebral berbentuk primer tetapi selebihnya berasal daripada luar sistem saraf pusat dan
daripada metastase. Efek daripada tumor bersifat lokal, karena kerosakan otak yang bersifat
fokal dan gambaran klinis yang memberikan indikasi terhadap letak lesi dan bukan etiologi.
Dapat terjadi gejala umum yang lebih berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial
atau kejang, perubahan perilaku atau tanda lokalisir yang salah. Lesi luas pada beberapa
daerah, seperti lobus frontalis, dapat bersifat dia manakala hemisfera dominan lesi kecil yang
dapat memperngaruhi berbicara. Tumor dapat menginfiltrasi dan merosakkan struktur
penting, ia dapat mengobstruksi aliran serebrospinal dan mengakibatkan hidrosefalus atau

Page 3


dapat mengakibatkan angiogenesis dan memecahkan blood-brain barrier, mengakibatkan
edema.
3
Epidemiologi
1. Keganasan
Metastase, glioma, menigioma, pituitary adenoma, dan acoustic neuroma (merupakan
95% dari seluruh tumor otak). Pada orang dewasa, 2/3 dari tumor otak primer bersifat
supratentorial, sedangkan pada anak-anak 2/3 tumor otak adalah jenis infratentorial. Tumor
primer meliputi astrositoma, glioblastoma, multifore, oligodendroglioma, dan ependyoma.
Hampir kesemuanya mempunyai 5 years survival rate yang kurang dari 50%. Cerebellar
hemangioblastoma memiliki tingkat survival rate 20 tahun sebesar 40%. Meningioma
memiliki recovery total apabila dibuang. 30% tumor otak merupakan metastase dan 50%
daripadanya adalah multiple tumor. Primer tersering adalah kanker paru, diikuti oleh kanker
payudara, karsinoma kolon dan melanoma maligna.
3
2. Penyebab lain
Hematoma akibat trauma, faktor resikonya termasuk usia tua dan antikoagulasi. Abses
cerebri cukup jarang, yang termasuk resikonya adalah COPD yang dapat menjadi sumber
infeksi terhadap sirkulasi sistemik. Abses cerebri bersifat multiple pada 25% kasus.
Amoebiasis dan sistiserkosis cerebral jarang terjadi. Infeksi dan limfoma CNS lebih sering
terjadi dengan infeksi HIV. Granuloma dan tuberkuloma dapat terjadi.
3
Jenis Space Occupying Lesions
A. Primary Intracranial Tumors
Pendahuluan
Separuh daripada neoplasma intrakranial primer adalah glioma dan sisanya adalah
meningioma, adenoma pituitari, neurofibroma dan tumor lainnya. Beberapa tumor, terutama
neurofibroma, hemangioblastomas, dan retinoblastomas, dapat memiliki dasar yang sama,
dan faktor kongenital mendasari perkembangan kraniofaringioma. Tumor dapat terjadi pada
mana-mana usia, tetapi beberapa jenis glioma menunjukkan predileksi usia yang tertentu.
4


Page 4


Gejala dan Tanda Klinis
Tumor intrakranial dapat mengarah kepada gangguan fungsi serebral secara umum
dan mempamerkan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial. Karena itu, dapat terjadi
perubahan personalitas, penurunan intelektual, labilitas emosi, kejang, sakit kepala, mual dan
malaise. Jika tekanan meningkat di dalam ruangan kranial tertentu, jaringan otak dapat
mengalami herniasi ke dalam riangan dengan tekanan rendah. Sindroma yang paling sering
ditemukan adalah herniasi lobus temporalis ke dalam hiatus tentorii secara uncal, sehingga
mengakibatkan kompresi saraf kranial III, batang otak dan arteri cerebralis posterior. Tanda
paling awal untuk sindroma ini adalah dilatasi pupil ipsilateral, diikuti dengan stupor,
komaposturasi deserebrasi dan kesukaran bernafas. Satu lagi sindroma herniasi penting terdiri
daripada penurunan tonsilar cerebelli melewati foramen magnum, sehingga mengakibatkan
kompresi medullaris yang mengarah kepada apnea, circulatory collapse dan kematian.
Sindroma herniasi lain adalah lebih jarang dan kepentingan klinis yang kurang jelas. Tumor
intrakranial dapat mengarah kepada defisit fokal terganting pada lokasinya.
4
Lesi lobus frontal
Tumor pada lobus frontalis seringkali mengarah kepada penurunan progresif
intelektual, perlambatan aktivitas mental, gangguan personaliti dan refleks grasping
kontralateral. Mereka mungkin mengarah kepada afasia ekspresif jika melibatkan
bahagian posterior daripada gyrus frontalis inferior sinistra. Anosmia dapat terjadi
karena tekanan pada saraf olfaktorius. Lesi presentral dapat mengakibatkan kejang
motorik fokal atau defisit piramidalis kontralateral.
4
Lesi lobus Temporalis
Tumor pada daerah ini dapat mengakibatkan kejang dengan halusinasi deria bau dan
gustatori, fenomena motorik dan gangguan kesadaran eksternal tanpa penurunan
kesadaran yang benar. Lesi lobus temporalis dapat mengarah kepada depersonalisasi,
gangguan emosi, gangguan sikap, sensasi deja vu atau jamais vu, mikropsia atau
makropsia (objek kelihatan lebih kecil atau lebih besar daripada seharusnya),
gangguan lapang pandang (crossed upper quadrantanopia) dan ilusi auditorik atau
halusinasi auditorik. Lesi bahagian kiri dapat mengakibatkan dysnomia dan receptive
aphasia, manakala lesi pada bahagian kanan menganggu persepsi pada nada dan
melodi.
4


Page 5


Lesi lobus parietalis
Tumor pada lokasi ini dapat mengakibatkan gangguan sensasi kontralateral dan dapat
mengakibatkan kejang sensorik, penurunan sensorik atau kombinasi keduanya.
Penurunan sensorik bersifat kortikal dan mengakibatkan sensibilitas dan diskriminasi
taktil, sehingga mengarah kepada gangguan sensorik tekstur, saiz, berat dan bentuk.
Objek yang diletakkan kepada tangan tidak dapat dikenali (astereognosis) lesi lobus
parietalis yang luas dapat menghasilkan hyperpathia kontralateral dan sindroma
thalamus. Penglibatan radiasi optik dapat mengarah kepada gangguan lapang
homonim kontralateral yang kadang terdiri hanya lower quadrantanopia. Lesi pada
girus angularis sinistra mengakibatkan sindroma Gerstmann (kombinasi aleksia,
agrafia, akalkulia, konfusi kanan-kiri, dan agnosia jari), manakala penglibatan girus
submarginalis sinistra mengakibatkan apraksia ideational. Anosognosia (denial,
neglect or rejection of a paralyzed limb) sering terlihat pada pasien dengan hemisfera
lesi non dominan (kanan). Constructional apraxia dan dressing apraxia dapat juga
terjadi pada lesi bahagian kanan.
4
Lesi lobus oksipitalis
Tumor pada lobus oksipital secara karakteristiknya menghasilkan crossed
homonymous hemianopia atau gangguan lapang pandang parsial. Dengan lesi sisi kiri
atau bilateral, dapat terjadi agnosia visual untuk objek dan warna, manakala lesi
iritatif pada kedua sisi dapat mengakibatkan halusinasi visual yang tidak berbentuk.
Penglibatan lobus oksipitalis bilateral mengakibatkan kebutaan kortikal di mana
masih terdapat respons pupil. Dapat juga terjadi penurunan persepsi warna,
prosopagnosia (ketidakmampuan untuk mengidentifikasi wajah), simultagnosia
(ketidakmampuan untuk mentafsir dan mengintergrasi suasana komposit) dan Balint
syndrome (gangguan untuk melirik mata kepada satu titik, walaupun tidak terjadi
gangguan pergerakan dan refleks mata). Tidak adanya gangguan kebutaan atau
gangguan lapang pandang mengarah kepada Anton syndrome.
4
Lesi pada batang otak dan serebellum
Lesi batang otak membawa kepada paresis saraf kranial, ataksia, inkoordinasi,
nistagmus, dan defisit piramidalis dan sensoris pada tungkai di satu atau kedua sisi.
Tumor batang otak intrinsik, seperti glioma, cenderung untuk menghasilkan
peningkatan tekanan intrakranial pada perjalanan penyakit lanjut. Tumor serebellar
menghasilkan ataksia yang jelas pada tungkai jika vermis cerebelli terlibat dan

Page 6


gangguan appendikular ipsilateral (ataxia, incoordination dan hypotonia tungkai jika
hemisfera cerebellum terlibat.
4
Tanda lokalisir palsu
Tumor dapat mengarah kepada tanda neurologis selain daripada tekanan direk atau
infiltrasi, selanjutnya mengrah kepada lokalisir klinis yang salah. Tanda lokalisir ini
termasuk paresis saraf kranial III dan VI dan respons plantar ekstensor bilateral yang
dihasilkan oleh sindroma herniasi dan respons plantar ekstensor yang terjadi
ipsilateral terhadap tumor hemisfera sebagai hasil daripada tekanan di pedunkulus
cerebri bertentangan dengan tentorium
4

Tumor Gambaran Klinis
Glioblastoma
multiformis
Mengambarkan keluhan nonspesifik dan peningkatan tekanan
intrakranial. Dengan perkembangan akan menghasilkan defisit fokal.
Astrocytoma Gambaran mirip glioblastoma multiformis tetapi lebih lambat, sering
setelah beberapa tahun. Cerebellar astrocytoma dapat memiliki
gambaran yang lebih jinak
Medulloblastoma Sering terlihat pada anak. Seringkali timbul daripada dasar ventrikel
keempat dan mengarah kepada peningkatan intrakranial selanjutnya
menghasilkan tanda cerebellar dan batang otak.
Ependymoma Glioma yang timbul daripada ependyma ventrikel, terutama pada
ventrikel IV, membawa kepada gejala awal peningkatan tekanan
intrakranial.
Oligodendroglima Berkembang lambat. Seringkali timbul daripada hemisfera serebral
pada dewasa. Kalsifikasi dapat terlihat
Brainste glioma Timbul saat usia muda dengan palsy saraf krania dan kemudian gejala
tract sign pada tungkai. Tanda peningkatan tekanan timbul lambat
Cerebellar
hemangioblastoma
Datang dengan dysequilibrium, ataksia tungkai, dan tanda
peningkatan tekanan intrakranial. Dapat berhubungan dengan lesi
vaskular spinal dan retinal, polyctythemia, dan renal cell carcinoma
Pineal tumor Digambarkan dengan peningkatan tekanan intrakranial, kadang
dengan impaired upward gaze (Parinaud syndrome) dan gangguan
lesi batang otak

Page 7


Craniopharyngioma Berasal daripada sisa Rathke pouch di atas sella, menekan optic
chiasm. Dapat hadir pada semua usia tetapi seringkali pada usia muda
dengan disfungsi endokrin dan gangguan lapang bitemporal
Acoustic neurinoma Gangguan pendengaran ipsilateral. Dapat melibatkan tinnitus, sakit
kepala, vertigo, kelemahan/kesemutan wajah dan long tract sign.
Meningioma Berasal daripada dura mater atau araknoid, menekan dibandingkan
menguasai struktur neural berdekatan. Meningkat dengan berlanjutnya
usia. Saiz berbagai. Gejala tergantung daerah tumor. Seringkali jinak
dan dapat tereteksi dengan CT-Scan, dapat membawa kepada
kalsifikasi dan erosi tulang
Primary cerebral
lymphoma
Berhubungan dengan AIDS dan gangguan immunidefisiensi.
Gambaran termasuk gangguan defisit fokal atau dengan gangguan
kognitif dan kesadaran. Mungkin tidak dapat dibezakan dengan
cerebral toxoplasmosis

Imaging
MRI dengan gadolinium enhancement adalah metode yang sering dipakai untuk
mendeteksi lesi dan mendefinisikan lokasi saiz dan bentuk; perkembangan sehingga terjadi
penyimpangan anatomi yang normal; dan derajat edema serebral atau kelainan massa yang
berhubungan. CT-Scanning dengan penggunaan radiokontras dapat dilakukan namun kurang
membantu daripada MRI untuk lesi yang kecil atau tumor pada posterior fossa. Tanda atau
gambaran meningiomas pada MRI atau CT-Scan secara virtual berbentuk diagnostik, seperti
ada lesi pada daerah tertentu (Regio Parasagittal dan Sylvii, Gyrus Olfaktorius, Sphenoidal
Ridge dan Tuberculum Sellae) yang kelihatan seperti daerah homogenous dengan
peningkatan densitas pada scan non kontras dan meningkat secara seragam dengan kontras.
4
Ateriography dapat menunjukkan peregangan dan salah letak pembuluh darah
serebral normal dengan tumor dan kehadiran vaskularitas tumor. Kehadiran massa avaskular
adalah penemuan nonspesifik yang dapat disebabkan oleh tumor, hematoma, abses, atau
space-occupying lesion lainnya. Dalam pasien dengan tahap hormon normal dan massa
intrasellar, angiography diperlukan untuk membedakan antara adenoma pituitary dan
aneurism arterial.
4

Page 8


Laboratorium dan Pemeriksaan Lainnya
Electroencephalogram membekalkan maklumat penunjang melibatkan fungsi serebral
dan dapat menunjukkan samda gangguan fokal akibat neoplasm atau kelainan difus lain yang
mengambarkan status mental. Lumbar puncture jarang diperlukan; penemuan tidak bersifat
diagnostik; dan prosedur membawa kepada resiko sindroma herniasi.
4
Pengobatan
Pengobatan tergantung pada tipe dan tempat tumor dan kondisi pasien. Beberapa
tumor jinak, terutama meningiomas ditemukan secara kebetulan sewaktu brain imaging untuk
tujuan lain. Untuk tumor simptomatik, pembuangan bedah secara lengkap dapat dilakukan
jika tumor bersifat ekstra-aksial atau ia tidak berada di daerah otak yang kritis. Pembedahan
juga dapat menunjang diagnosis dan dapat membantu dalam menurunkan tekanan intrakranial
dan melegakan simptom walaupun neoplasm tidak dikeluarkan selengkapnya. Defisit
kliniskadang disebabkan oleh hidrosefalus obstruktif, di mana prosedur simple surgical
shunting memberikan pembaikan dramatis. Pada pasien dengan glioma ganas, terapi radiasi
meningkatkan kadar survival tidak mengira prosedur dan kombinasi dengan kemoterapi
memberikan tambahan. Indikasi untuk irradiasi dalam pengobatan pasien dengan neoplasma
intrakranial primer lain tergantung kepada tipe dan aksesibilitas tumor. Temozolomide adalah
obat chemotherapy oral dan intravenous untuk glioma, dan terdapat peningkatan kegunaan
antibodi monoklonal sebagai komponen terapi. Kortikosteroid dapat membantu dalam
menurunkan edema serebral dan seringkali bermula sebelum pembedahan. Herniasi diobati
dengan deksametason intravena (10-20mg bolus diikuti 4 mg setiap jam) dan manitol
intravena (20% diberikan dalam dosis 1.5g/kgBB dalam 30 menit). Antikonvulsan seringkali
diberikan dalam dosis standar tetapi tidak diindikasikan untuk profilaksis dalam pasien tanpa
riwayat kejang. Gangguan neurokognitif jangka lama dapat memberikan komplikas pada
terapi radiasi. Untk pasien dengan penyakit yang memburuk dengan berjalannya pengobatan,
terapi paliatif adalah penting.
4
Pasien Yang Perlu Dirawat
Pasien dnegan peningkatan tekanan intrakranial.
Pasien yang memerlukan biopsi, pengobatan bedah atau prosedur shunting



Page 9


B. Tumor metastatik Intrakranial

a. Metastase Serebral
Metastase tumor otak hadir dalam cara yang sama seperti neoplasma serebral, seperti
dengan peningkatan tekanan intrakranial, dengan gangguan fungsi serebri fokal atau difus
atau keduanya. Dalam pasien dengan satu lesi serebral, keadaan metastase lesi tersebut hanya
dapat terlihat pada pemeriksaan histopatologis. Dalam pasien lain, terdapat bukti penyakit
metastase yang menyebar, atau metastase serebral yang berkembang sewaktu pengobatan
neoplasm primer.
4
Sumber metastase intrakranial yang paling umum adalah karsinoma paru; daerah lain
termasuk payu dara, ginjal, kulit dan traktus gastrointestinal. Kebanyakan metastase serebral
terletak supratentorial. Pemeriksaan laboratorium dan radiologis digunakan untuk
mengevaluasi pasien dengan metastase adalah pasien yang digambarkan dengan neoplasm
primer. Ini termasuk MRI dan CT-Scan yang dilakukan dengan atau tanpa kontras. Punksi
lumbal diperlukan hanya pada pasien dengan suspek meningitis karsinomatosa dalam pasien
dengan metastase serebral dengan neoplasm primer yang tidak diketahui, pemeriksaan
dilakukan berdasarkan gejala dan tanda klinis. Pada wanita, mammography diindikasikan;
pada lelaki bawah 50 tahun, germ cell origin perlu diketahui karena keduanya memberikan
implikasi terapi.
4
Pada pasien yang hanya mempunyai metastase serebral yang boleh dibedah, dengan
tiada atau gangguan fungsi yang minimal, dapat dilakukan pengangkatan lesi dan kemudian
diobati dengan irradiasi; pada pasien dengan metastase ganda atau penyakit sistemik yang
menyebar, prognosis dapat memburuk; stereotactic radiosurgery, whole-brain radiotherapy
atau keduanya, dapat membantu tetapi terapi lain hanya bersifat paliatif.
4
b. Leptomeningeal metastases
Neoplasma yang bermetastase kepada leptomeninges adalah karsinoma payu dara,
limfoma dan leukimia. Metastase leptomeningeal mengarah kepada defisit neurologis
multifokal, di mana ia dapat berhubungan dengan infiltrasi ke arah kranial dan akar saraf
spinal, invasif direk kepada otak dan medulla spinalis, hidrosefalus obstruktif atau
kombinasinya. Diagnosis ini ditegakkan dengan pemeriksaan daripada cairan serebrospinal.
Penemuan termasuk peningkatan tekanan cairan serebrospinal, pleositosis, peningkatan
Page
10


protein dan penurunan glukosa. Penemuan sitologis dapat menunjukkan kehadiran sel ganas,
jika tidak, punksi lumbal perlu diulang sekurangnya 2 kali untuk mendapatkan sampel lanjut
untuk analisis.
4
CT Scan menunjukkan peningkatan kontras di dalam basal ganglia atau adanya
hidrosefalus tanpa sebarang tanda lesi massa untuk menegakkan diagnosis. Gadolinium-
enhanced MRI sering kali menunjukkan peningkatan fokus di dalam leptomeninges.
Myelografi dapat menunjukkan deposit pada akar saraf multipel. Pengobatan adalah dengan
irradiasi pada area simptomatis, termasuk methotrexate intrathekal. Prognosis jangka lama
adalah buruk hanya sekitar 10% pasien hidup untuk 1 tahun dan tindakan paliatif adalah
penting untuk memperbaiki gaya hidup.
4
C. Lesi Massa Intrakranial Dalam Pasien AIDS
Limfoma serebral primer adalah komlikasi umum pada pasien dengan AIDS. Ini
mengarah kepada gangguan di dalam kognitif atau kesadaran, defisit fokal motorik atau
sensorik, aphasia, kejang dan neuropati kranial. Gangguan klinis yang sama dapat dihasilkan
daripada cerebral toxoplasmosis, yang juga komplikasi yang sering ditemukan pada pasien
dengan AIDS. MRI atau CT-Scan tidak dapat membezakan kedua kelainan ini, dan tes
serologis untuk toksoplasmosis seringkali tidak dapat dipercayai pada pasien AIDS. Secara
susunannya, untuk pasien dengan stabil dalam neurologinya, terapi untuk toksoplasmosis
dengan sulfadiazine (100 mg/kg/d sehingga 8 g/d dalam 4 bagian dosis secara oral per hari)
dan pyrimethamine (75 mg secara oral per hari untuk 3 hari, kemudian 25 mg secara oral per
hari). Penelitian radiologis kemudian diulang, dan sekiranya terjadi pembaikan, regimen ini
akan dilanjutkan. Sekiranya lesi tidak membaik, biopsi otak diperlukan. Limfoma serebral
primer diobati dengan whole brain irradiation.
4

Cryptococcal meningitis adalah infeksi opurtunistik yang sering terjadi pada
pasien AIDS. Secara klinis, ia menyerupai toksoplasmosis serebral atau limfoma, tetapi CT-
Scan kranial seringkali normal. Diagnosis kemudian dibuat dengan dasar pemeriksaan cairan
serebrospinal dengan india ink staining positif dalam 75% - 80% dan antigen kriptokokkal
dalam 95% kasus. Pengobatan adalah dengan amphotericin B dan flucytosine.
4

D. Tumor Spinal Primer dan Metastase
Sekitar 10% daripada tumor spinal bersifat intramedullary. Ependymoma dalah tipe
tumor intrameduler yang paling sering; selebihnya adalah tipe lain glioma. Tumor
Page
11


ekstrameduler dapat bersifat ekstra atau intra dural di dalam lokasinya. Di antara tumor
ekstrameduler primer, neurofibroma dan meningioma secara relatif bersifat sering, jinak dan
dapat bersifat intra atau ekstradural. Metastase karsinomatosa, limfomatosa atau deposit
leukemik dan myeloma sering bersifat ekstradural; dalam kasus metastase, prostat, payudara,
paru, dan ginjal adalah daerah primer yang sering terjadi.
4

Tumor dapat mengarah kepada disfungsi medula spinalis dengan kompresi langsung,
dengan iskemi sekunder akibat obstruksi arterial atau vena dan, dalam kasus lesi
intrameduler, dengan infiltrasi invasif.
4

a. Gejala dan Tanda Klinis
Gejala seringkali berkembang dengan lambat. Nyeri seringkali terjadi pada lesi
ekstradural; diperparah dengan batuk atau mengejan: dapat bersifat radikuler; lokalisir di
belakang atau terasa difus ke arah ekstremitas; dan dapat diiringi dengan defisit motorik,
parestesi atau rasa baal, terutama pada daerah kaki. Kandung kemih, usus dan disfungsi
seksual dapat terjadi. Apabila terjadi gangguan spinkter, dapat terjadi inkontinensia alvi et
uri. Nyeri seringkali mempamerkan gejala neurologis spesifik daripada metastase epidural.
Pemeriksaan dapat menunjukkan rasa nyeri spinal yang terlokalisir. Gangguan segmental
lower motor neuron atau perubahan sensorik dermatomal kadang ditemukan pada tahap lesi
tersebut di medulla spinalis.
4

b. Radiologis
CT myelography atau MRI dengan kontras digunakan untuk mengenalpasti dan
melokalisir lesi tersebut. Gabungan daripada tumor di anggota lain, nyeri punggung dan
samada kelainan foto polos spinal atau tanda neurologis daripada kompresi saraf adalah
indikasi untuk melakukan pemeriksaan ini dalam kadar segera. Beberapa ahli dokter melanjut
ke MRI dan CT myelography berdasarkan hanya nyeri punggung yang baru pada pasien
kanker.
4

c. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan cairan serebrospinal sering bersifat xanthochromic dan mempunyai
konsentrasi protein yang tinggi dengan konsentrasi glukosa dan kandungan sel yang normal.
4

Page
12


d. Tatalaksana
Tumor intrameduler diobati dengan dekompresi dan eksisi bedah (jika
memungkinkan) dan dengan irradiasi. Prognosis tergantung penyebab dan keparahan
kompresi spinal sebelum tindakan dilakukan.
4

Terapi untuk metastase spinal epidural terdiri daripada irradiasi, tidak tergantung tipe
sel. Dexamethasone juga diberikan dalam dosis tinggi (25 mg sebanyak 4 kali per hari untuk
3 hari secara oral atau iv, diikuti tapering dosage, tergantung respons) untuk menurunkan
pembengkakan spinal dan mengurangi nyeri. Dekompresi bedah dilakukan untuk pasien
dengan tumor yang tidak memberikan respons pada terapi radiasi atau yang tidak pasti
dengan diagnosisnya. Prognosis jangka panjang adalah buruk, tetapi terapi radiasi dapat
melambatkan onset disabilitas major.
4

E. Brain Abscess
Abses otak digambarkan dengan lesi space-occupying lesions secara intrakranial dan
timbul sebagai sekuale penyakit daripada telinga atau hidung. Komplikasi daripada infeksi di
bahgaian tubuh lain, atau dapat terjadi daripada infeksi yang didedahkan secara intrakranial
daripada trauma atau prosedur bedah. Infeksi yang sering terjadi adalah streptococci,
staphylococci, dan bakteri anaerob; infeksi bercampur tidak sering terjadi.
5

Walaupun teknologi kedokteran diagnostik dan perkembangan antibiotika saat ini
telah mengalami kemajuan, namun kadar kematian penyakit abses otak tetap masih tinggi
(sekitar 10-60% atau rata-rata 40%). Penyakit ini sudah jarang dijumpai di negara-negara
maju, namun karena resiko kematiannya tinggi, abses otak termasuk golongan penyakit
infeksi yang mengancam kehidupan masyarakat. Penderita abses otak lebih banyak dijumpai
pada laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 3:1 yang umumnya masih usia
produktif yaitu sekita 20-50 tahun.
5

Faktor etiologi dan presdisposisi
Sebagian besar abses otak berasal langsung dari penyebaran infeksi telinga tengah,
sinusitis (paranasal, ethmoidalis, sphenoidalis dan maxillaris). Abses dapat timbul akibat
dari penyebaran secara hematogen dari infeksi paru sistemik (empyema, abses paru,
bronkiektasis, pneumonia), endokarditis bakterial akut dan subakut dan pada penyakit jantung
bawaan Tetralogy of Fallot (abses multiple, lokasi pada substansi putih dan abu dari jaringan
Page
13


otak). Abses otak yang penyebarannya secara hematogen, letak absesnya sesuai dengan
peredaran darah yang terdistribusi oleh arteri cerebri media terutama lobus parietalis, atau
cerebellum dan batang otak.
5

Abses dapat juga dijumpai pada penderita penyakit immunologik seperti AIDS,
penderita penyakit kronis yang mendapat kemoterapi/steroid yang dapat menurunkan sistem
kekebalan tubuh. 20-37% penyebab abses otak tidak diketahui. Penyebab abses yang jarang
dijumpai, osteomyelitis tengkorak, sellulitis, erysipelas wajah, abses tonsil, pustula kulit, luka
tembus pada tengkorak kepala, infeksi gigi luka tembak di kepala, septikemia. Berdasarkan
sumber infeksi dapat ditentukan lokasi timbulnya abses dilobus otak.
5

Infeksi sinus paranasal dapat menyebar secara retrograd thrombophlebitis melalui
klep vena diploika menuju lobus frontalis atau temporal. Bentuk absesnya biasanya tunggal,
terletak superfisial di otak, dekat dengan sumber infeksinya:-
5

Sinusitis frontal dapat menyebabkan abses di bagian anterior dan inferior lobus
frontalis.
Sinusitis sphenoidalis dapat menyebabkan abses pada lobus frontalis atau temporalis.
Sinusitis maxillaris dapat menyebabkan abses pada lobus temporalis
Sinusitis ethmoidalis dapat menyebabkan abses pada lobus frontalis. Infeksi pada
telinga tengah dapat menyebar ke lobus temporalis
Infeksi pada mastoid dan kerusakan tengkorak kepala karena kelainan bawaan seperti
kerusakan tegmentum timpani, atau kerusakan tulang temporal oleh kolesteoma dapat
menyebar ke dalam cerebellum.
Infeksi parasit (schistosomiasis, amoeba, fungus(Actinonmycosis, Candida albicans)
dapat menimbulkan abses, tetapi hal ini jarang terjadi.
Proses pembentukan abses otak oleh bakteri Streptococcus alpha haemolyticus secara
histologis dibagi dalam 4 fase dan waktu 2 minggu untuk terbentuknya kapsul abses.
5

1. Early cerebritis
Terjadi reaksi radang lokal dengan infiltrasi polymorphonuclear leukosit, limfosit dan
plasma sel dengan pergeseran aliran darah tepi yang dimulai pada hari pertama dan
meningkat pada hari ke 3. Sel-sel radang terdapat pada tunika adventisia dari
pembuluh darah dan mengelilingi daerah nekrosis infeksi. Peradangan perivaskular ini
Page
14


disebut cerebritis. Saat ini terjadi edema disekitar otak dan peningkatan efek massa
karena pembesaran abses.
5

Gambaran CT Scan : Pada hari pertama terlihat daerah yang hipodens dengan
sebagian gambaran seperti cincin. Pada hari ketiga gambaran cincin lebih jelas sesuai
diameter serebritisnya. Didapati mengelilingi pusat nekrosis.
5

2. Late Cerebritis
Saat ini terjadi perubahan histologis yang sangat berarti. Daerah pusat nekrosis
membesar oleh karena peningkatan acellular debris dan pembentukan nanah karena
pelepasan enzim-enzim dari sel radang. Ditepi pusat nekrosis didapati daerah sel
radang, makrofag-makrofag besar dan gambaran fibroblast yang terpencar. Fibroblast
mulai menjadi retikulum yang akan membentuk kapsul kolagen. Pada fase ini edema
otak menyebar maksimal sehingga lesi menjadi sangat besar.
5

Gambaran CT Scan : gambaran cincin sempurna, 10 menit setelah pemberian kontras
perinfus. Kontras masuk ke daerah sentral dengan gambaran lesi homogen
(menunjukkan adanya cerebritis)
5

3. Early capsule formation
Pusat nekrosis mulai mengecil, makrofag menelan acellular debris dan fibroblast
meningkat dalam pembentukan kapsul. Lapisan fibroblast membentuk anyaman
retikulum mengelilingi pusat nekrosis. Di daerah ventrikel, pembentukan dinding
sangat lambat oleh karena kurangnya vaskularisasi di daerah substansia putih
dibanding substansia abu. Pembentukan kapsul yang terlambat dipermukaan tengah
memungkinkan abses membesar ke dalam substansia putih. Bila abses cukup besar,
dapat robek ke dalam ventrikel lateralis. Pada pembentukan kapsul, terlihat daerah
anyaman retikulum yang tersebar membentuk kapsul kollagen. Reaksi astrosit
disekitar otak mulai meningkat.
5

Gambaran CT Scan : hampir sama dengan fase cerebritis, tetapi pusat nekrosis lebih
kecil dan kapsul terlihat lebih tebal.
4. Late capsule formation
Terjadi perkembangan lengkap abses dengan gambaran histologis sebagai berikut :
bentuk pusat nekrosis diisi oleh accelular debris dan sel-sel radang. Daerah tepi
dari sel radang, makrofag dan fibroblast. Kapsul kolagen yang tebal. Lapisan
neovaskular sehubungan dengan cerebritis yang berlanjut. Reaksi astrosit, gliosis dan
edema otak diluar kapsul.
5

Page
15


Gambaran CT Scan : Gambaran kapsul dari abses terlihat jelas, sedangkan daerah
nekrosis tidak diisi oleh kontras.

a. Gejala dan tanda klinis
Pusing, sakit kepala, susah konsentrasi, bingung dan kejang adalah gejala awal,
diikuti dengan tanda peningkatan tekanan intrakranial dan kemudian berlanjut kepada
gangguan defisit neurologis fokal. Dapat terjadi gejala sistemik akibat daripada infeksi yang
ada.
4

b. Radiologi dan Pemeriksaan Lainnya
CT-Scan kepala akan menunjukkan daerah peningkatan kontras yang dikelilingi oleh
kantung yang berdensitas rendah. Kelainan yang sama dapat ditemukan pada pasien dengan
neoplasma metastatik. Penemuan MRI seringkali menunjukkan gambaran serebritis fokal
atau suatu abses. Arteriography akan memberikan gambaran space occupying lesions, di
mana akan muncul secagai suatu massa avaskular dengan gangguan letak pembuluh darah
serebral yang normal. Aspirasi jarum stereostatik dapat menentukan etiologi spesifik
organism untuk dikenalpasti. Pemeriksaan pada cairan serebrospinal tidak membantu dalam
menegakkan diagnosis dan dapat mengakibakan sindroma herniasi. Leukositosis perifer
kadang timbul pada pasien sebegini.
4

c. Pengobatan
Pengobatan terdiri daripada antibiotik intravena, termasuk drainase menggunakan
prosedur bedah (aspirasi atau eksisi) sekiranya perlu untuk menurunkan efek massa, atau
kadang untuk menentukan diagnosis. Abses kurang daripada 2 mm kadang dapat diobati
secara medis. Antibiotik spektrum luas, ditentukan berdasarkan faktor resiko dan organism
yang tersangka, diunakan jikan organisme tersebut masih belum diketahui. Regimen
antibiotik empiris yang awal seringkali melibatkan ceftriaxone (2g iv. Setiap 12 jam),
metronidazole (15 mg/kgBB iv bolus, diikuti dengan 7.5 mg/kgBB iv setiap 6 jam) dan
vancomycin (1 g iv setiap 12 jam). Regimen ini diubah setelah kultur dan sensitivitas obat
telah ada. Pengobatan antimikroba seringkali dilanjutkan secara parenteral selama 6-8
minggu, diikuti dengan oral setiap 2-3 bulan. Pasien perlu diobservasi dengan CT-Scan ulan
atau MRI ulang setiap 2 minggu dan pada deteriorasi. Dexamethasone (4-25 mg 4 kali per
hari iv atau oral, tergantung pada keparahan, dilanjutkan dengan tapering off, tergantung pada
Page
16


respons) dapat menurunkan edema yang berhubungan, tetapi mannitol intravena kadang
diperlukan.
4

PENUTUP
Space occupying lesions merupakan suatu penyakit yang sukar untuk ditegakkan
penyebabnya secara dini. Secara klinis, setiap penyebab SOL memberikan gejala yang
hampir sama tergantung kepada tempat lesi, kecepatan lesi yang timbul, saiz lesi dan
kecepatan terjadinya peningkatan tekanan intrakranial sehingga mengasilkan tanda klinis
yang hampir sama. Untuk itu, pemikiran seorang dokter dalam memahami setiap penyebab
SOL adalah penting untuk mencari dan mengenalpasti secara benar selanjutnya memberikan
terapi yang benar untuk mengurangi tekanan intrakranial di samping mengobati secara tuntas
penyebab yang terjadi. Difikirkan timbulnya kejadian space occupying lesions apabila
didapatkan gangguan serebral secara umum yang progresif, adanya gejala tekanan tinggi
intrakranial dan adanya gejala sindroma otak yang spesifik. Pemeriksaan radiologi, dalam hal
ini, CT-Scan dan MRI sangat berperan dalam mendiagnosa SOL di samping menggunakan
punksi lumbal dalam menegakkan diagnosis.










Page
17


DAFTAR PUSTAKA
1. Japardi I. Tumor otak. Diakses pada tanggal 12 Mei 2013. Diunduh dari
http://library.usu.ac.id/download/fk/bedah-iskandar%20japardi11.pdf
2. Facts about brain tumors. Diakses pada tanggal 12 Mei 2013. Diunduh dari
http://www.braintumor.org/
3. Erlina natalia. 2011. Space Occupying Lession. Diunduh dari
http://www.scribd.com/doc/83155983/Space-Occupying-Lession, 20 agustus 2011.
4. Maxine A.P., Stephen J.M, Michael W.R. 2013 Current medical diagnosis and treatment.
McGrawHill. 2013 ;Halaman 979-983
5. Adril arsyad. 2005. Abses otak. Diunduh dari
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/15591/1/mkn-des2005-%20(9).pdf, 21
agustus 2012.