Anda di halaman 1dari 13

JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)

1

A. ASPEK FARMAKOTERAPI

a. Definisi
Hipertensi merupakan suatu penyakit yang didefiniskan sebagai
peningkatan tekanan darah arteri secara persisten. Hipetensi merupakan salah satu
factor resiko yang paling signifikan terhadap penyakit kardiovaskular.Peningkatan
kewaspadaan dan diagnosis hipertensi, serta peningkatan control tekanan darah
dengan terapi yang sesuai, merupakan tindakan yang kritis dalam menurunkan
morbiditas dan mortalitas kardiovaskular.
Tekanan darah normal adalah < 120/80 mmHg.Takanan darah sistolik 120-
139 mmHg atau diastolik 80-89 mmHg diklasifikasikan ke dalam
prehipertensi.Pasien dalam kondisi prehipertensi memiliki resiko mengalami
hipertensi.Hipertensi didefinisikan sebagai kondisi dimana tekanan darah sistolik
140 mmHg atau diastolic 90 mmHg.

(dipiro 8
th
, Chapter 19:Hypertension)
Hipertensi dibagi menjadi 2 tingkat :
a. tingkat 1 pasien dengan tekanan darah sistolik 140-159 mmHg atau diastolic
90-99 mmHg
b. Tingkat 2 pasien dengan tekanan darah sistolik 160 mmHg atau diastolic
100 mmHg

tabel 1.1 klasifikasi tekanan darah pada dewasa Usia 18 tahun menurut JNC 7
Klasifikasi tekanan darah Tek.darah sistol (mmHg) Tek.darah Diastol
(mmHg)
Normal < 120 < 80
Prehipertensi 120-139 80-89
Hipertensi tingkat 1 140-159 90-99
Hipertensi tingkat 2 160 100

b. Etiologi/Penyebab Hipertensi
Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang
beragam.Pada kebanyakan pasien etiologi patofisiologi-nya tidak diketahui
(essensial atau hipertensi primer).Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan
tetapi dapat dikontrol. Kelompok lain dari populasi dengan persentase rendah
mempunyai penyebab yang khusus, dikenal sebagai hipertensi sekunder. Banyak
penyebab hipertensi sekunder; endogen maupun eksogen. Bila penyebab hipertensi
sekunder dapat diidentifikasi, hipertensi pada pasien-pasien ini berpotensi dapat
disembuhkan.
( Dipiro 8
th
, Chapter 19 : Hypertension)

JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)


2

Hipertensi adalah suatu kondisi medis yang heterogen.Pada kebanyakan
pasien itu hasil dari etiologi pathophysiologic tidak diketahui (hipertensi esensial
atau primer).Sementara bentuk hipertensi tidak dapat disembuhkan, dapat
dikendalikan.Sebagian kecil pasien memiliki penyebab spesifik dari hipertensi
mereka (hipertensi sekunder).Ada banyak penyebab sekunder potensi yang baik
kondisi medis bersamaan atau endogen diinduksi.Jika penyebab hipertensi
sekunder dapat diidentifikasi, hipertensi pada pasien berpotensi dapat
disembuhkan.
( Dipiro 8
th
ed Chapter 19 : Hypertension)
c. Patofisiologi / Patogenesis Hipertensi
Beberapa faktor yang mengendalikan BP potensi berkontribusi
komponen dalam perkembangan hipertensi esensial. Ini termasuk
malfungsi baik humoral [yaitu, renin-angiotensin-aldosteron sistem
(RAAS)] atau mekanisme vasodepressor, mekanisme saraf yang
abnormal, cacat pada autoregulation perifer, dan gangguan di natrium,
kalsium, dan hormone natriuretic. Banyak faktor-faktor ini secara
kumulatif dipengaruhi oleh multifaset RAAS, yang pada akhirnya
mengatur BP arteri. Hal ini mungkin salah satu faktor bertanggung
jawab untuk hipertensi esensial. ( Dipiro 8
th
ed Chapter 19 :
Hypertension)
d. Manisfestasi Klinik
Umur ( lebih dari atau sama dengan 55 tahun untuk laki-laki , lebih dari
atau sama dengan 65 tahun untuk perempuan )
diabetes mellitus
dislipidemia
mikroalbuminuria
Riwayat keluarga penyakit CV dini
Obesitas ( indeks massa tubuh lebih besar dari atau sama dengan 30
kg/m2 )
aktivitas fisik
penggunaan tembakau
Gejala : Biasanya tidak ada yang berkaitan dengan peningkatan BP .
Tanda : Sebelumnya nilai BP baik dalam prehipertensi atau hipertensi
kategori .
Tes Laboratorium : BUN / kreatinin serum , puasa panel lipid , glukosa darah puasa
, elektrolit serum ( natrium, kalium ) , tempat urine albumin -kreatinin rasio . Pasien
mungkin memiliki nilai normal dan masih memiliki hipertensi . Namun, beberapa mungkin
memiliki nilai abnormal yang konsisten dengan baik faktor risiko CV tambahan atau
kerusakan akibat hipertensi .
Tes Diagnostik lain: 12-lead elektrokardiogram , perkiraan laju filtrasi glomerular
(menggunakan modifikasi diet pada penyakit ginjal ( MDRD ) persamaan) .
Hipertensi - Terkait Target- Organ Kerusakan : Pasien mungkin memiliki riwayat medis
sebelumnya atau temuan diagnostik yang menunjukkan adanya kerusakan organ target
yang berhubungan dengan hipertensi :
JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)


3

Hipertensi - Terkait Target- Organ Kerusakan : Pasien mungkin memiliki riwayat medis
sebelumnya atau temuan diagnostik yang menunjukkan adanya kerusakan organ target
yang berhubungan dengan hipertensi :
Brain ( stroke, transient ischemic attack , demensia )
Mata ( retinopati )
Jantung ( ventrikel kiri hipertrofi , angina , MI sebelumnya, revaskularisasi koroner
sebelumnya , gagal jantung )
Ginjal ( penyakit ginjal kronis )
Pembuluh darah perifer ( penyakit arteri perifer )
(Dipiro 8
th
,2011. Chapter 32: Hypertension)

































JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)


4

f. Mekanisme Kerja Obat :
1. Amlodipine
Calcium Chanenel Blocker berbagi kemampuan untuk menghambat gerakan ion kalsium
di membran sel. Efek pada sistem kardiovaskular termasuk depresi mekanis kontraksi otot
miokard dan halus dan depresi impuls pembentukan (otomatisitas) dan kecepatan
konduksi. CCB diklasifikasikan berdasarkan struktur sebagai berikut:
Diphenylalkylamines - verapamil; benzothiazepines - diltiazem; dihydropyridines -
amlodipine, felodipine, isradipine, nicardipine, nifedipin, nimodipine, nisoldipine. (Drug
Fact and comparison 2009 Page 299 : Amlodipine)
2. Diazepam
Benzodiazepin muncul untuk memperkuat efek dari gamma-aminobutyrate (GABA)
(yaitu, mereka memfasilitasi penghambatan menindas GABA) dan pemancar lain
penghambatan dengan mengikat reseptor benzodiazepin spesifik situs. Diazepam muncul
untuk bertindak pada bagian-bagian dari sistem limbik, talamus dan hipotalamus, dan
menginduksi efek menenangkan. Diazepam telah dibuktikan tidak perifer otonom
menghalangi aksi, juga memproduksi ekstrapiramidal reaksi yang merugikan. (Drug Fact
and comparison 2009 Page 613 : Diazepam)
3. Paracetamol
mengurangi demam bekerja langsung pada pusat panas-mengatur hipotalamus, yang
meningkatkan disipasi panas tubuh (melalui pengembangan dan berkeringat). APAP
hampir ampuh sebagai aspirin dalam menghambat sintetase prostaglandin dalam SSP, tapi
yang perifer inhibisi dari sintesis prostaglandin minimal.(Drug Fact and comparison
2009 Page 551 : Paracetamol /Acethaminophen)

g. Identifikasi DRP, Penyelesaian dan Pencegahan
Klasifikasi DRPs (Strand,
et al., (1990) )
Ada/ tidak ada Penyelesaian/ pencegahan

Pasien mempunyai kondisi
medis yang membutuhkan
terapi obat tetapi pasien
tidak mendapatkan obat
untuk indikasi tersebut.

Pasien mempunyai kondisi
medis dan menerima obat
yang tidak mempunyai
indikasi medis yang valid.

Pasien mempunyai kondisi
medis tetapi mendapatkan
obat yang tidak aman,
tidak paling efektif, dan
kontraindikasi dengan
pasien tersebut.

Pasien mempunyai kondisi
medis dan mendapatkan obat
yang benar tetapi
dosis obat tersebut kurang.

Pasien mempunyai kondisi
JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)


5

medis dan mendapatkan obat
yang benar tetapi dosis
obat tersebut lebih.
Pasien mempunyai kondisi
medis akibat dari reaksi obat
yang merugikan.

Pasien mempunyai kondisi
medis akibat interaksi obat-
obat, obat-makanan,
obat-hasil laboratorium.

Pasien mempunyai kondisi
medis tetapi tidak
mendapatkan obat yang
diresepkan.
Ada Dilakukan konseling
terhadap pasien tersebut

h. Rekomendasi dan Rencana pengobatan untuk pasien
Rekomendasi
Modification Recommendation Perkiraan
Tekanan Darah
Sistolik menurun
(mm Hg)
Weight loss Menjaga berat badan normal (indeks massa tubuh,
18,5-24,9 kg/m2)
5-20 per 10 kg
berat badan
DASH-type
dietary patterns
Mengkonsumsi makanan yang kaya buah-buahan,
sayuran, dan produk susu rendah lemak dengan
kandungan penurunan jenuh dan lemak total
814
Mengurangi
asupan garam
Mengurangi asupan natrium makanan sehari-hari
sebanyak mungkin, idealnya sampai 65 mmol / hari
(sodium 1,5 g / hari atau 3,8 g / hari natrium
klorida)
28
Aktifitas Fisik Aktivitas fisik aerobik yang teratur (minimal 30
menit / hari, hampir setiap hari dalam seminggu)
49
Moderasi
asupan alcohol
Batasi konsumsi kurang dari atau sama dengan 2
gelas per hari setara pada pria dan kurang dari atau
sama dengan 1 minuman ekuivalen per hari pada
wanita dan lebih ringan personsb berat
24
(Dipiro 8
th
, 2011. Chapter 19 :hypertension)
Rencana Pengobatan
A. Pengobatan dengan kombinasi dua obat
Terapi awal dengan kombinasi dua obat sangat dianjurkan untuk penderita hipertensi
tingkat 2 Menggunakan dosis tetap kombinasi produk adalah pilihan untuk jenis pasien
JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)


6

dan telah terbukti untuk meningkatkan kepatuhan.. Selain itu, kombinasi terapi seringkali
diperlukan untuk mengendalikan TD pada pasien yang sudah pada terapi obat dan
kebanyakan pasien memerlukan agen dua atau lebih. Menurut algoritma menggunakan
kombinasi ACEI dan CCB.
Kombinasi obat Obat Kekuatan sediaan
(mg/mg)
Dosis per hari
ACE inhibitor with
CCB
Amlodipine/benazepril
(Lotrel)

2.5/10, 5/10, 10/20

1
(Dipiro 8
th
, 2011. Chapter 19 :hypertension) table 19-9 fixed doses Combination



















JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)


7


B. ASPEK FARMASETIK DAN DISTRIBUSI
a. Pertimbangan Bentuk Sediaan
Amlodipine berbentuk sediaan tablet karena pertimbangan suatu obat di buat dalam
sediaan tablet yaitu:
1. Tablet merupakan sediaan yang kering sehingga zat aktif lebih stabil.
2. Tablet sangat cocok untuk zat aktif yang sulit larut dalam air.
3. Zat aktif yang rasanya tidak enak (pahit) akan berkurang (tertutupi) dalam
tablet.
4. Pemakaian penderita lebih mudah.
(teori dan praktek farmasi industry, lachman).

b. Hubungan kekuatan sediaan dengan dosis
amlodipine
Hipertensi dosis biasa adalah 5 mg sekali setiap hari. Dosis maksimumnya
adalah 10 mg sekali setiap hari.Kecil, rapuh, atau orang tua pasien atau pasien
dengan gangguan fungsi hati dapat mulai pada 2,5 mg sekali sehari-hari. (drug
facts and comparison 2009 page 300)
Diazepam
gangguan kecemasan dan menghilangkan gejala kecemasan (tergantung pada
keparahan gejala) 2-10 mg 2- 4 kali / hari. (drug facts and comparison 2009
page 616)
Paracetamol
Dewasa - 325-650 mg setiap 4-6 jam, atau 1 g 3 4 kali / hari. Jangan melebihi 4
g/hari. Anak-anak - mungkin mengulangi dosis 4 atau 5 kali / hari; Jangan melebihi
dosis 5 kali dalam 24 jam. Tablet 325 mg, 500 mg, 625 mg (drug facts and
comparison 2009 page 552)
c. Wadah dan penyimpanan
Amlodipine
Dalam wadah kedap udara dilindungi dari cahaya. (British Pharmacopea 2009 )
Diazepam
Terlindung dari cahaya (British Pharmacopea 2009)
Paracetamol
Wadah tertutup rapat, terlindung cahaya (Japanese Pharmacopea 2009 page XIV)
d. Stabilitas
Amlodipine
Disimpan dalam suhu kamar ( 15-30
o)

Diazepam
Disimpan dalam suhu kamar (15-30
o
) (FI IV hal 303)
Paracetamol
Disimpan dalam suhu 25
o
(Japanese Pharmacopea 2009)







JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)


8

C. ASPEK REGULASI
a. Penggolongan obat berdasarkan UU
Amlodipine obat keras
Diazepam obat keras
Obat tersebut hanya boleh diserahkan dengan resep dokter (UU obat keras
no 419, 22 desember 1949)
Paracetamol obat bebas
Obat yang boleh di serahkan tanpa resep dokter (penggolongan obat
menurut Permenkes RI no 949/Menkes/Per/ VI/2000)
b. Penandaan
Amlodipin dan diazepam termasuk ke dalam obat Keraskeputusan
Menteri Kesehatan RI No. 02396/A/SK/VIII/1986 tentang tanda khusus
Obat Keras daftar G adalah Lingkaran bulat berwarna merah dengan garis
tepi berwarna hitam dengan hurup K yang menyentuh garis tepi, (gambar)
Paracetamol
Penandaan obat bebas diatur berdasarkan SK Menkes RI Nomor
2380/A/SK/VI/1983 tentang tanda khusus untuk untuk obat bebas dan
untuk obat bebas terbatas.
Tanda khusus untuk obat bebas yaitu bulatan berwarna hijau dengan garis
tepi warna hitam, (gambar).
c. Peraturan perundang-undangan dan turunannya di bidang produksi,
distribusi dan pelayanan.
UU no 36 tahun 2009 tentang kesehatan
Permenkes 1027 tahun 2004 tentang Standar Pelayanan
Kefarmasian di Apotek
Permenkes 1197 tahun 2004 tentang standar pelayanan farmasi di
rumah sakit
Permenkes 1148 tahun 2009 tentang pedagang besar farmasi
PP 51 tentang pekerjaan kefarmasian
d. No registrasi
Kotak no 1 membedakan nama obat jadi
Kotak No 2 menggolongkan golongan obat
Kotak nomor 3 membedakan jenis produksi
Kotak nomor 4 dan 5 membedakan priode pendaftaran obat jadi
Kotak nomor 6,7 dan 8 menujukkan nomor urut pabrik.
Kotak no 9,10, dan 11 menunjukkan nomor urut obat jadi yang disetujui
untuk masing-masing pabrik.
Kotak no 12 dan 13 menunjukkan kekuatan sediaan obat jadi. Macam
sediaan yang
Kotak nomor 14 menunjukkan kekuatan sediaan obat jadi
Kotak nomor 15 menunjukkan kemasan yang berbeda untuk tiap nama,
kekuatan dan bentuk sediaan obat jadi.

JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)


9

(PERMENKES RI NO. 920/MENKES/PER/X/1995,
TENTANG PENDAFTARAN OBAT JADI IMPOR)
Contoh nomor registrasi
Amlodipine 5 mg : no reg GKL0708513910A1.
Artinya : G= obat generic
K= obat golongan obat keras
L= obat ini diproduksi local
07= obat ini setujui pada waktu tahun
085= nomor pabrik yang ke 85 yang ada di Indonesia
139= obat ke 139 yang disetujui pabrik tersebut
10= macam bentuk sediaan ke 10 dari pabrk tersebut
A= kekuatan sediaan obat jadi yang pertama kali
1= kemasan utama
































JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)


10

D. ASPEK INFORMASI OBAT DAN KLAIM DALAM BROSUR KEMASAN
OBAT
Amlodipine
a. Penandaan (gambar)
b. BENTUK SEDIAAN
Tablet 2,5 mg, 5 mg, 10 mg
c. Indikasi : Amlodipin digunakan untuk pengobatan hypertensi, angina stabil kronik,
angina vasospastik (angina prinzmetal atau variant angina). Amlodipine dapat diberikan
sebagai terapi tunggal ataupun dikombinasikan dengan obat anti hypertensi dan anti angina
lain.
d. Kontra indikasi :
Amlodipine tidak boleh diberikan pada pasien yang hipersensitif terhadap amPenggunaan
dosis diberikan secara individual, bergantung pada toleransi dan respon pasien.
e. Dosis awal yang dianjurkan adalah 5 mg satu kali sehari, dengan dosis maksimum
10 mg satu kali sehari. Untuk melakukan titrasi dosis, diperlukan waktu 7-14 hari.
Pada pasien usia lanjut atau dengan kelainan fungsi hati, dosis yang dianjurkan pada
awal terapi 2,5 mg satu kali sehari. Bila amlodipine diberikan dalam kombinasi dengan
antihipertensi lain, dosis awal yang digunakan adalah 2,5 mg.
Dosis yang direkomendasikan untuk angina stabil kronik ataupun angina vasospastik
adalah 5-10 mg, dengan penyesuaian dosis pada pasien usia lanjut dan kelainan fungsi hati.
Amlodipine dapat diberikan dalam pemberian bersama obat-obat golongan tiazida, ACE
inhibitor, -bloker, nitrat dan nitrogliserin sublingual.lodipine dan golongan
dihidropiridin lainnya.
d. Efek samping :
Pada keadaan hamil dan menyusui : belum ada penelitian pemakaian amlodipine pada
wanita hamil, sehingga penggunaannya selama kehamilan hanya bila keuntungannya lebih
besar dibandingkan risikonya pada ibu dan janin. Belum diketahui apakah amlodipine
diekskresikan ke dalam air susu ibu. Karena keamanan amlodipine pada bayi baru lahir
belum jelas benar, maka sebaiknya amlodipine tidak diberikan pada ibu menyusui.
Secara umum amlodipine dapat ditoleransi dengan baik, dengan derajat efek samping yang
timbul bervariasi dari ringan sampai sedang. Efek samping yang sering timbul dalam uji
klinik antara lain : edema, sakit kepala.
f. Peringatan dan perhatian :
Pasien dengan gangguan fungsi hati , waktu paruh amlodipine menjadi lebih panjang,
sehingga perlu pengawasan.
g. Penyimpanan:
Simpan pada suhu kamar (di bawah 30C)

Diazepam
Komposisi : Tiap tablet mengandung : Diazepam 2 mg
Indikasi : Untuk pengobatan jangka pendek pada gejala ansietas. Sebagai terapi tambahan
untuk meringankan spasme otot rangka karena inflamasi atau trauma; nipertdnisitairotot
(kelaTrian motorik serebral, paraplegia). Digunakan juga untuk meringankan gejala-gejala
pada penghentian alkohol akut dan premidikasi anestesi.
Kontra Indikasi :
Penderia hipersensitif
JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)


11

Bayi dibawah 6 bulan
Wanita hamil dan menyusui
Depress pernapasan
Glaucoma sudut sempit
Gangguan pulmoner akut
Keadaan Phobia
Cara pemberian :
Ansietas 2-10 mg, 2-4 kali sehari
Terapi tambahan pada spasme otot rangka : 2 -10 mg. 3-4 kali sehari dalam
dosis bagi
Penghentian alkohol akut 10 mg. 3-4 kali sehari selama 24 jam pertama,
kemudian dikurangi menjadi 5 mg. 3 4 kali sehari
Premidikasi: dewasa: 10 mg: anak-anak diatas 2 tahun: 0,25 mg/kg
Usia lanjut dan pasien yang lemah : 2 2,5 mg, 1 2 kali sehari dapat
ditingkatkan secara bertahap sesuai kebutuhan.
Pada penderita dengan gangguan pulmoner kronik, penderita hati dan ginjal
kronik dosis dikuTarigT.
Anak-anak 0.12 0.8 mg/kg sehari dibagi dalam 3 atau 4 dosis.
Efek samping:
Mengantuk,ataksia. kelelahan Erupsi pada kulit. edema, mual dan konstipasi, gejala-gejala
ekstra pirimidal. jaundice dan neutropenia. perubahan libido, sakit kepala, amnesia,
hipotensi. gangguan visual dan retensi urin, incontinence.
Peringatan dan perhatian:
Jangan mengemudikan kendaraan bermotor atau menjalankan mesin selama minum
obat ini.
Ansietas atau ketegangan karena stress kehidupan sehari-hari biasanya tidak
memerlukan pengobatan dengan ansiolitik.
Keefektifan dalam pengobatan jangka lama (lebih dari 4 bulan) belum diuji secara
klinis sistematik.
Penggunaan jangka lama dapat menyebabkan ketergantungan pada obat
Pada penderita lemah dan lanjut usia dianjurkan dengan dosis efektif terkecil.
Hati-hati penggunaan pada penderita gangguan pulmoner kronik, penderita fungsi
hati dan ginjal kronik.
Hentikan pengobatan jika terjadi reaksi-reaksi paradoksikal seperti keadaan hiper
eksitasi akut. ansietas. halusinasi dan gangguan tidur.






JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)


12

Paracetamol

Komposisi :
Paracetamol Tablet : Setiap tablet mengandung Parasetamol 500 mg.
Paracetamol Sirup 125 mg/5 ml : Setiap 5 ml (1 sendok takar) mengandung
Parasetamol 125 mg.
Paracetamol Sirup 160 mg/5 ml : Setiap 5 ml (1 sendok takar) mengandung
Parasetamol 160 mg.
Paracetamol Sirup Forte 250 mg/5 ml : Setiap 5 ml (1 sendok takar) mengandung
Parasetamol 250 mg.
Farmakologi :
Paracetamol atau acetaminophen adalah obat yang mempunyai efek mengurangi
nyeri (analgesik) dan menurunkan demam (antipiretik). Parasetamol mengurangi
nyeri dengan cara menghambat impuls/rangsang nyeri di perifer. Parasetamol
menurunkan demam dengan cara menghambat pusat pengatur panas tubuh di
hipotalamus.

Paracetamol (parasetamol) sering digunakan untuk mengobati berbagai penyakit
seperti sakit kepala, nyeri otot, radang sendi, sakit gigi, flu dan demam. Parasetamol
mempunyai efek mengurangi nyeri pada radang sendi (arthritis) tapi tidak
mempunyai efek mengobati penyebab peradangan dan pembengkakan sendi.

Indikasi :
Mengurangi nyeri pada kondisi : sakit kepala, nyeri otot, sakit gigi, nyeri pasca
operasi minor, nyeri trauma ringan.
Menurunkan demam yang disebabkan oleh berbagai penyakit. Pada kondisi demam,
paracetamol hanya bersifat simtomatik yaitu meredakan keluhan demam
(menurunkan suhu tubuh) dan tidak mengobati penyebab demam itu sendiri.
Kontra indikasi :
Parasetamol jangan diberikan kepada penderita hipersensitif/alergi terhadap
Paracetamol.
Penderita gangguan fungsi hati berat.
Peringatan dan perhatian :
Bila setelah 2 hari demam tidak menurun atau setelah 5 hari nyeri tidak menghilang,
segera hubungi Unit Pelayanan Kesehatan.
Gunakan Parasetamol berdasarkan dosis yang dianjurkan oleh dokter. Penggunaan
paracetamol melebihi dosis yang dianjurkan dapat menyebabkan efek samping yang
serius dan overdosis.
Hati-hati penggunaan parasetamol pada penderita penyakit hati/liver, penyakit ginjal
dan alkoholisme. Penggunaan parasetamol pada penderita yang mengkonsumsi
alkohol dapat meningkatkan risiko kerusakan fungsi hati.
Hati-hati penggunaan parasetamol pada penderita G6PD deficiency.
Hati-hati penggunaan parasetamol pada wanita hamil dan ibu menyusui.
Parasetamol bisa diberikan bila manfaatnya lebih besar dari pada risiko janin atau
bayi. Parasetamol dapat dikeluarkan melalui ASI namun efek pada bayi belum
diketahui pasti.
JSS UJIAN PRAKTEK PELAYANAN FARMASI (Tim JSS PF Apt ITB Maret 12/13)


13


Efek samping :
Mual, nyeri perut, dan kehilangan nafsu makan.
Penggunaan jangka panjang dan dosis besar dapat menyebabkan kerusakan hati.
Reaksi hipersensitivitas/alergi seperti ruam, kemerahan kulit, bengkak di wajah (mata,
bibir), sesak napas, dan syok.
Dosis dan aturan pakai :
Paracetamol Tablet
Dewasa dan anak di atas 12 tahun : 1 tablet, 3 4 kali sehari.
Anak-anak 6 12 tahun : 1, tablet 3 4 kali sehari.
Paracetamol Sirup 125 mg/5 ml
Anak usia 0 1 tahun : sendok takar (5 mL), 3 4 kali sehari.
Anak usia 1 2 tahun : 1 sendok takar (5 mL), 3 4 kali sehari.
Anak usia 2 6 tahun : 1 2 sendok takar (5 mL), 3 4 kali sehari.
Anak usia 6 9 tahun : 2 3 sendok takar (5 mL), 3 4 kali sehari.
Anak usia 9 12 tahun : 3 4 sendok takar (5 mL), 3 4 kali sehari.