Anda di halaman 1dari 31

Oleh

Kelompok I

A. Febri Adyaksa
A. Almuhaemin
A. Sulfiana
Haerunnisa
Jauhari Aji Kuncoro
Muhammad Rizal
Nur Insyani Syafar
Ratih Hardikah
Seli Sulfiana
Ekspektoran
Batuk merupakan respon refleks terhadap
benda-benda asing yang menghalangi
saluran sistem pernapasan. Salah satu
benda asing tersebut berupa lendir yang
keluar oleh membran-membran yang
terdapat di sepanjang saluran napas. Lendir
tersebut membantu melindungi saluran
pernapasan dari setiap jenis iritan seperti
partikel asap, bakteri, dan virus.
Pada umumnya refleks batuk timbul karena
adanya rangsangan dari selaput lendir saluran
pernapasan. Selaput lendir tersebut memiliki
reseptor yang peka terhadap zat-zat perangsang
yang dapat mencetus batuk. Sebenarnya batuk
merupakan mekanisme perlindungan pada sistem
pernapasan karena bermanfaat untuk
mengeluarkan dan membersihkan saluran
pernapasan dari dahak,debu, unsur infeksi dan
zat-zat asing lain
Reflek batuk dapat timbul karena radang, infeksi
saluran pernapasan, alergi, perubahan suhu yang
mendadak, rangsangan kimia seperti gas, dan
rangsangan mekanis seperti debu dan asap.
Beberapa virus dapat merusak jaringan mukosa
saluran pernapasan, rusaknya jaringan mukosa
tersebut akan mempermudah terjadinya infeksi
oleh bakteri dan virus lain. Selain itu, batuk dapat
disebabkan oleh peradangan paru-paru, tumor
atau efek samping beberapa obat
Refleks batuk terdiri dari 5 komponen utama:
Reseptor batuk
Serabut saraf aferen
Pusat batuk
Susunan saraf eferen
Efektor

Batuk bermula dari suatu rangsang pada reseptor
batuk. Reseptor ini berupa serabut saraf non
mielin halus yang terletak baik di dalam maupun
di luar rongga toraks. Reseptor yg terletak di
dalam rongga toraks antara lain terdapat di laring,
trakea, bronkus dan di pleura. Jumlah reseptor
akan semakin berkurang pada percabangan
bronkus yang kecil, dan sejumlah besar reseptor
terdapat dilaring, trakea, dan daerah percabangan
bronkus. Reseptor bahkan juga ditemui di saluran
telinga, lambung, sinus paranasalis, perikardial
dan diafragma.


Serabut aferen terpenting ada pada cabang Nervus Vagus,
yang mengalirkan rangsang dari laring, trakea, bronkus,
pleura, lambung dan juga rangsang dari telinga melalui
cabang Arnold dari Nervus vagus.
Nervus trigeminus menyalurkan rangsang dari sinus
paranasalis.
Nervus glosofaringeus menyalurkan rangsang dari faring.
Nervus frenikus menyalurkan rangsang dari perikardium
dan diafragma.
N. Vagus, N. Frenikus, N.Interkostal , N. Trigeminus, N.
Fasialis, N. hipoglosus dan lain-lain menuju ke efektor.

Oleh serabut aferen rangsang ini dibawa ke pusat
batuk yang terletak di medula, di dekat pusat
pemapasan dan pusat muntah. Kemudian dari sini
oleh serabut-serabut eferen meneruskan
rangsangan yang berupa impuls saraf ke Efektor .

Efektor ini terdiri dari otot-otot laring,
trakea, bronkhus, diafragma, otot- otot
interkostal dan lain-lain. Di daerah efektor
inilah akan terjadi mekanisme batuk.

Umumnya disebabkan oleh infeksi di
saluranpernafasan bagian atas yang merupakan
gejala flu.
Infeksi saluran pernafasan bagian atas (ISPA).
Alergi
Asma atau tuberculosis
Benda asing yang masuk kedalam saluran napas
Tersedak akibat minum susu
Menghirup asap rokok dari orang sekitar
Batuk Psikogenik. Batuk ini banyak
diakibatkankarena masalah emosi dan psikologis


Pada dasarnya mekanisme batuk dapat dibagi
menjadi empat fase yaitu :
Fase iritasi
Iritasi dari salah satu saraf sensoris nervus vagus
di laring, trakea, bronkus besar, atau serat afferen
cabang faring dari nervus glosofaringeus dapat
menimbulkan batuk. Batuk juga timbul bila
reseptor batuk di lapisan faring dan esofagus,
rongga pleura dan saluran telinga luar
dirangsang.



Fase inspirasi
Pada fase inspirasi glotis secara refleks terbuka lebar akibat
kontraksi otot abduktor kartilago aritenoidea. Inspirasi
terjadi secara dalam dan cepat, sehingga udara dengan
cepat dan dalam jumlah banyak masuk ke dalam paru. Hal
ini disertai terfiksirnya iga bawah akibat kontraksi otot
toraks, perut dan diafragma, sehingga dimensi lateral dada
membesar mengakibatkan peningkatan volume paru.
Masuknya udara ke dalam paru dengan jumlah banyak
memberikan keuntungan yaitu akan memperkuat fase
ekspirasi sehingga lebih cepat dan kuat serta memperkecil
rongga udara yang tertutup sehingga menghasilkan
mekanisme pembersihan yang potensial.



Fase kompresi
Fase ini dimulai dengan tertutupnya glotis akibat
kontraksi otot adduktor kartilago aritenoidea,
glotis tertutup selama 0,2 detik. Pada fase ini
tekanan intratoraks meninggi sampai 300 cmH2O
agar terjadi batuk yang efektif. Tekanan pleura
tetap meninggi selama 0,5 detik setelah glotis
terbuka . Batuk dapat terjadi tanpa penutupan
glotis karena otot-otot ekspirasi mampu
meningkatkan tekanan intratoraks walaupun
glotis tetap terbuka.

Fase ekspirasi/ ekspulsi
Pada fase ini glotis terbuka secara tiba-tiba akibat
kontraksi aktif otot ekspirasi, sehingga terjadilah
pengeluaran udara dalam jumlah besar dengan kecepatan
yang tinggi disertai dengan pengeluaran benda-benda
asing dan bahan-bahan lain. Gerakan glotis, otot-otot
pernafasan dan cabang-cabang bronkus merupakan hal
yang penting dalam fase mekanisme batuk dan disinilah
terjadi fase batuk yang sebenarnya. Suara batuk sangat
bervariasi akibat getaran sekret yang ada dalam saluran
nafas atau getaran pita suara.

Batuk nonproduktif umumnya disebut batuk
kering karena tidak menghasilkan dahak. Batuk
nonproduktif adalah batuk yang tidak
bermanfaat, sehingga harus dihentikan dengan
obat-obat yang menekan batuk seperti antitusif,
antihistamin, dan anestetika tertentu.
Batuk produktif adalah suatu mekanisme
perlindungan. Jenis batuk ini berfungsi untuk
mengeluarkan dahak dan zat-zat asing dari
batang tenggorokan. Pada dasarnya jenis batuk
seperti ini tidak boleh ditekan tetapi justru
diringankan dengan emolliensia, ekspektoransia,
atau mukolitika.
Ekspektoran adalah obat yang dapat merangsang
pengeluaran dahak dari saluran pernafasan(ekspektorasi)
dengan cara merangsang selaput lendir lambung dan
selanjutnya secara refleks memicu pengeluaran lendir
saluran nafas sehingga menurunkan tingkat kekentalan dan
mempermudah pengeluaran dahak. Obat ini juga
merangsang terjadinya batuk supaya terjadi pengeluaran
dahak Ekspektoran diperkirakan mengiritasi mukosa
lambung, kemudian efek iritasi mukosa lambung tersebut
bekerja secara reflek merangsang kelenjar-kelenjar
sekretori saluran nafas bagian bawah
Mekanisme kerjanya diduga berdasarkan
stimulasi atau merangsang reseptor-reseptor di
mukosa lambung dan selanjutnya meningkatkan
kegiatan kelenjar- sekresi dari salurang lambung-
usus dan sebagai refleks memperbanyak sekresi
dari kelenjar yang berada di saluran
nafas,sehingga menurunkan viskositas dan
mempermudah pengeluaran dahak

Ekspektoran dibagi atas beberapa jenis, yaitu
sekretolitika, mukolitika, dan sekretomotorika.
Sekretolitika meninggikan sekresi bronkus, dan
dengan demikian mengencerkan lendir. Ini terjadi
reflektorik dengan stimulasi serabut aferen
pasasimpatikus atau bekerja langsung pada sel
pembentuk lendir. Mukolitika mengubah sifat
fisikokimia sekret, terutama viskositasnya
diturunkan, sedangkan sektertomotorika
menyebabkan gerakan sekret dan batuk untuk
mengeluarkan sekret tersebut
Kalium iodida
Iodida menstimulasi sekresi mucus di cabang
tenggorok dan mencairkannya. Efek sampingnya
kuat dan berupa gangguan tiroid, struma,
urticaria, dan iod-acne juga hiperkalemia (pada
fungsi ginjal buruk).
Dosis: pada batuk oral 3 dd 0,5-1g maksimal 6g
sehari. Bagi pasien yang tidak boleh diberikan
kalium, obat ini dapat diganti dengan natrium
iodida dengan khasiat yang sama.

Amonium Klorida
Senyawa ini banyak digunakan dalam sediaan
sirop batuk, misalnya OBH
Efek sampingnya hanya terjadi pada dosis tinggi
dan berupa acidocis (khusus pada anak-anak dan
pada pasien ginjal) dan gangguan lambung
(mual,muntah) berhubung sifatnya yang
merangsang mukosa.
Dosis : oral 3-4 dd 100-150 mg,maksimal 3g
seharinya.

Guaifenasin (gliseril guaikolat)
Merupakan derivat guaiakol yang banyak
digunakan sebagai ekspektorans dalam berbagai
jenis sediaan batuk populer. Pada dosis tinggi
bekerja merelaksasi otot, seperti mefenesin.
Efek sampingnya kadang kala berupa iritasi
lambung (mual,muntah) yang dapat dikurangi
bila diminum dengan segelas air.
Dosis : oral 4-6 dd 100-200 mg

Minyak terbang/atsiri
Seperti minyak kayu putih, minyak permen, dan
minyak adas (Oleum foeniculi) berkhasiat
menstimulasi sekresi dahak, bekerja spasmolitis
(melawan kejang), antiradang dan juga bersifat
bakteriostatis lemah. Berdasarkan sifat-sifat ini,
minyak terbang banyak digunakan dalam sirop
batuk atau juga sebagai obat inhalasi uap


Ipecacuanhae radix *Doveri pulvis
Akar tambahan dari tumbuhan psychotria ipecacuanha,
yakni emetin dan sefaelin. Zat-zat ini bersifat emetis
(menimbulkan muntah), spasmolitis terhadap kejang-
kejang saluran nafas dan menstimulasi sekresi bronchi
secara reflektoris. Sebagai ekspektoran digunakan dalam
kombinasi obat-obat batuk lain, misalnya dalam
pulvis/tablet doveri,yakni campuran dengan serbuk candu
dan ipeca juga berfungsi mencegah penyalahgunaannya.
Efek sampingnya pada dosis biasa berupa reaksi
hipersensitasi dan muntah-muntah pada dosis lebih tinggi
Dosis: oral 3dd 50 mg.

Kegunaan Obat : Mengencerkan lendir saluran nafas
Hal yang harus diperhatikan :
Konsultasikan kedokter atau Apoteker untuk penderita tukak
lambun dan wanita hamil 3 bulan pertama
Efek samping :Rasa mual, diare dan perut kembung ringan
Aturan Pemakaian :
Dewasa: 1 tablet (8 mg) diminum 3x sehari (setiap 8 jam)
Anak : diatas10 tahun: 1 tablet (8 mg diminum 3x sehari
(setiap 8 jam)
5-10 tahun: tablet (4 mg ) diminum 2x sehari ( setiap 8 jam)
Cara Kerja Obat:
Succus ini merupakan sediaan galenik dari
radix liquiritiae. Mempunyai efek
ekspektoran dan merupakan salah satu
komponen obat batuk hitam.
MARIKI DI
Terima kasih
atas
perhatiannya