Anda di halaman 1dari 2

Abdul Hafidz Ahmad Dosen Pembina : Ahda Bina A.

, Lc
201110230311355/AIK-IV/Mutaqaddimin
Islam dan Syariat*
Setiap agama datang membawa syariat yang berbeda dengan agama lain. Ibn Aqil mengatakan
Agama yang dihadirkan oleh Allah ini hanyalah satu. Hanya syariatnya saja yang berbeda. Hal ini
sesuai dengan firman Allah Setiap umat memiliki syariat dan haajjahnya sendiri, dan hal tersebut
berbeda dengan satu yang lain. Ini tidak berarti bahwa syariat yang dibawa oleh Islam sekedar baru.
Dalam Ushul Fiqh dikatakan syariat-syariat Islam itu adalah hasil adaptasi dari ajaran-ajaran Nabi
sebelum Nabi Muhammad.
Seperti konsep rajam bagi pezina, hukum ini sudah ada sejak zaman Nabi Musa. Kemudian
konsep ini dimasukkan dalam Islam. Bukan hanya rajam saja, qishash pun juga hasil adaptasi dari syariat
ajaran sebelum Islam. Qishash bisa diartikan sebagai nyawa ganti nyawa, luka ganti luka, potong ganti
potong. Jadi sebenarnya hukum qishash ini bukan hukum baru dalam Islam.
Begitu juga hukum tentang halal atau haramnya makanan serta minuman. Bila di dalam ajaran
Islam mengharamkan tentang babi, di kitab perjanjian lama pun sudah ada beberapa jenis makanan
maupun minuman yang juga diharamkan. Termasuk babi. Jadi kalau begitu, ada beberapa hukum-
hukum di Islam yang memang itu diambil dari syariat ajaran-ajaran lama. Jadi pertanyaannya sekarang,
apakah mungkin ada syariat yang dirubah? Jelas disepakati oleh para Ulama, nilai-nilai inti dari Islam
atau biasa kita sebut sebagai aqidah, itu tidak bisa dirubah, sedangkan menyangkut syariat, ada yang
bisa dirubah dan ada yang tidak bisa kita rubah.
Jadi, syariat itu ada dua. Ada yang bisa dirubah dan ada yang tidak bisa kita rubah. Syariat yang
bisa dirubah adalah syariat yang bersifat universal (maruf) seperti perintah untuk bersikap jujur, adil,
yang termaktub dalam Al-Quran Laa tabuduuna illa Allah, Wa bil al-waalidain ihsan, wa bi li al-
qurbaa, wa al-yataamain, wa al-masaakiin, wa quulu bi an-naasi husna, ini bersifat abadi dan tidak
akan ada perubahan. Inilah yang bersifat universal dan tidak ada perubahan sama sekali.
Tapi kita tahu, ada syariat yang bisa dimodifikasi seiring dengan perkembangan zaman, seiring
dengan perubahan kondisi dan situasi. Itulah yang disebut oleh para Ulama Berubah mengikuti
perubahan zaman. Mengapa terjadi perubahan terhadap prinsip-prinsip ini? Karena kita tahu dalam
kaidah Ushul Fiqh Bahwa perubahan zaman menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan hukum
seiring dengan perubahan situasi dan kondisi yang menyertai hukum itu sendiri. Dengan menyatakan
hal seperti ini, maka seharusnya memungkinkan adanya ijtihad-ijtihad terhadap sejumlah ketentuan-
ketentuan yang ada pada hukum Islam.
Abdul Hafidz Ahmad Dosen Pembina : Ahda Bina A., Lc
201110230311355/AIK-IV/Mutaqaddimin
Apakah hukum potong tangan bisa diterapkan atau tidak? Ada 47 negara-negara Islam yang ada
di dunia, namun tidak seluruhnya menerapkan hukum potong tangan. Di Maroko, Mesir, Malaysia,
Brunei Darussalam, dan negara kita Indonesia juga tidak menerapkan hukum potong tangan sekalipun
ayatnya sudah jelas ada di Al-Quran. Itu berarti, seperti ada konsensus di kalangan umat Islam untuk
tidak menerapkan hukum potong tangan atau memandang hukum potong tangan sebagai hukum
maksimal yang tidak selalu bisa diterapkan oleh umat Islam.
*Disampaikan oleh : Dr. Abdul Moqsith Ghazali
(Intelektual Islam, Penulis buku Argumen Pluralisme Agama)

Beri Nilai