Anda di halaman 1dari 19

PORTOFOLIO

ABORTUS IMMINENS






Pembimbing:
dr. Aisyah Radiallah Sp.OG

Diajukan Oleh:
dr. Putri Lestari


PROGRAM DOKTER INTERNSHIP
RSUD DR AM PARIKESIT
2013
2013
LEMBAR PENGESAHAN

ABORTUS IMMINENS



Diajukan Oleh :
Nama : dr. Putri Lestari

Dipresentasikan
Tanggal : Desember 2013


Pembimbing 1 Pembimbing 2 Pendamping



(dr. Ibnoe Soedjarto, Sp.S) (dr. Nurindah, Sp. KFR) (dr.Aisyah Radiallah, Sp.OG)












BORANG PORTOFOLIO

No.ID dan Nama Peserta : dr. Putri Lestari
No.ID dan Nama Wahana : RSUD AM PARIKESIT
Topik : Abortus Iminens
Tanggal Kasus : 24 November 2013
Tanggal Presentasi : Desember 2013
Pendamping : dr. Aisyah Radiallah Sp.OG
Tempat Presentasi : Komite Medik RSUD AM Parikesit
Objektif Presentasi
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan Pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil

Deskripsi
Perempuan G4P2A1 mengaku hamil 12 minggu berusia 29 tahun datang ke IGD RSUD AM
Parikesit dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir.

Tujuan
Mampu mendiagnosis abortus dan mampu melaksanakan tatalaksana yang tepat.
Bahasan Masalah
Tinjauan Masalah Riset Kasus Audit
Cara Membahas
Diskusi Presentasi dan diskusi Email Pos



STATUS OBSTETRI
I. IDENTITAS PRIBADI
Nama : Ny. SA
Umur : 29 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Loa Ipuh Gang. Nusa Indah no.75
Pekerjaan : PNS
Tanggal Masuk : 24 November 2013
Tanggal periksa : 25 November 2013
No. RS : RS5431

IDENTITAS SUAMI

Nama : Tn. AW
Umur : 38 tahun
Pekerjaan : PNS

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Pendarahan dari jalan lahir
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien G
4
P
2
A
1
yang merasa hamil 12 minggu datang ke IGD RSUD AM Parikesit
dengan keluhan adanya pendarahan dari jalan lahir sejak 1 hari SMRS. Pendarahan
membasahi 1 kain dan 2 pampers. Pendarahan tidak disertai dengan keluarnya
gumpalan seperti daging dari jalan lahir. Keluhan tidak disertai dengan adanya nyeri
perut. Keluhan tidak disertai dengan keluarnya gumpalan seperti telur ikan dari jalan
lahir. Ini merupakan perdarahan yang kedua di kehamilan ini. Perdarahan sebelumnya
pada tanggal 8 November 2013 dan pasien dirawat di RSUD AM Parikesit sampai
tanggal 11 November 2013. Riwayat keguguran tahun 2012.
Anamesa Tambahan
Menikah : 23 tahun, pendidikan terakhir SMA
32 tahun, pendidikan terakhir SMA
Riwayat obstetric:
1. Anak pertama lahir di RSUD AM Parikesit ditolong bidan, aterm, lahir spontan,
berat 2900 gram, jenis kelamin laki-laki (2007)
2. Anak kedua lahir di RSUD AM Parikesit ditolong bidan, aterm, lahir spontan,
berat 2900 gram, jenis kelamin laki-laki (2010)
3. Keguguran, dilakukan kuret di RSUD AM Parikesit (2012)
4. Hamil ini
HPHT : 20 Agustus 2013
TP : 27 Mei 2014
ANC : Puskesmas, 2 kali
KB : - Suntik 3 bulan (6 bulan)
- Pil (1 bulan)
- Suntik 1 bulan (2 bulan)
- Suami menggunakan kondom sampai hamil kedua dilanjut setelah
melahirkan sampai hamil ketiga.
Imunisasi : Imunisasi TT

III. STATUS PRAESENTS
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Kompos Mentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80 x/m
Respirasi : 20 x/m
Suhu : afebris
Cor : BJ murni reguler
Pulmo: VBS ki = ka-/-
Edema : -/-
Varices : -/-
Refleks : fisiologis +/+

PEMERIKSAAN LUAR
o Abdomen : Datar, lembut
Nyeri tekan (-)
Defence Muscular (-)

PEMERIKSAAN DALAM
o Inspekulo : Fluksus (+) keluar dari OUE, Fluor (-)
o Vulva/ vagina : tidak ada kelainan
o Portio : tebal, lunak
o Ostium : tertutup
o Corpus uteri : membesar
o Kanan/kiri uterus : lemas, massa (-)
o Cavum douglas : tidak menojol

LABORATORIUM
Darah rutin
Hemoglobin : 12,0 gr%
Lekosit : 9.800/mm
3

Hematokrit : 36 %
Trombosit : 234.000/mm
3

Hemostasis
CT/BT : 3/1
Kimia darah
GDS : 168
Ureum : 18
Creatinin : 0,7


Hasil USG 25 November 2013




IV. RESUME
Wanita G
4
P
2
A
1,
berusia 29 tahun, mengaku hamil 12 minggu datang ke RSUD AM
Parikesit dengan keluhan utama pendarahan dari jalan lahir. Dari anamesa didapatkan
pendarahan dari jalan lahir sejak 1 hari SMRS. Keluarnya jaringan seperti gumpalan daging
(-). Nyeri perut bagian bawah disangkal. Dari riwayat obstetri didapatkan HPHT 20 Agustus
2013, ANC ke Puskesmas 2x.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan status generalis dalam batas normal. Dari status
obstetri, dari pemeriksaan luar dalam batas normal, inspekulo tampak fluksus (+),fluor (-).
dari pemeriksaan dalam didapatkan OUE tertutup.

V. DIAGNOSIS KERJA
G
4
P
2
A
1
gravida 13 14 minggu + abortus imminens

VI. TERAPI
- Observasi tanda vital
- Bed rest
- USG
- Inbion 1x1
- Uterogeston 2x100 mg (pervaginam)

VII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia
Quo ad functionam : dubia

Follow UP Ruangan
Tanggal

CATATAN INSTRUKSI
25/11/2013 S : perdarahan (+) sedikit, nyeri perut (-)
O : Mata : ka (-), sik (-)
Thorax : C/P dbn
Abd : supel, BU (+), NT (-)
Uterogeston 2x100 mg
(pervaginam)
USG
Inbion 1x1
Tanggal

CATATAN INSTRUKSI
Ekst : Akral hangat
A : G
4
P
2
A
1
gravida 13 14 minggu +
abortus imminens
bedrest
26/11/2013 S : flek (+), nyeri perut (-)
O : Mata : ka (-), sik (-)
Thorax : C/P dbn
Abd : supel, BU (+), NT (-)
Ekst : Akral hangat
A : G
4
P
2
A
1
gravida 13 14 minggu +
abortus imminens


duphaston 2x1
inbion 1x1
uterogeston2x100mg
(pervaginam)
bedrest
27/11/2013

S : flek (+) sedikit, nyeri perut (-)
O : Mata : ka (-), sik (-)
Thorax : C/P dbn
Abd : supel, BU (+), NT (-)
Ekst : Akral hangat
A : G
4
P
2
A
1
gravida 13 14 minggu +
abortus imminens
Duphaston 2x1
Inbion 1x1
Uterogeston 200 mg (1-0-1)
bedrest
28/11/2013

S : flek (-), nyeri perut (-)
O : Mata : ka (-), sik (-)
Thorax : C/P dbn
Abd : supel, BU (+), NT (-)
Ekst : Akral hangat
A : G
4
P
2
A
1
gravida 13 14 minggu +
abortus imminens
Diet TKTP
Duphaston 2x1
Inbion 1x1
Uterogeston 200 mg (1-0-1)
BLPL


TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar
kandungan. Batasan yang digunakan adalah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin
kurang dari 500 gram. Abortus dapat dibagi menjadi abortus spontan dan abortus provokatus.
Abortus spontan merupakan abortus yang berlangsung tanpa tindakan atau terjadi secara spontan.

Menurut Arthur T. Evans dalam bukunya manual of obstetrics, definisi aborsi adalah
pengakhiran kehamilan dengan pengeluaran janin immature atau nonviable fetus dan usia janin
kurang dari 20 minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir ( HPHT ) atau berat badan janin
kurang dari 500 g.

EPIDEMIOLOGI
Insiden aborsi dipengarui oleh umur ibu dan riwayat obstetriknya seperti kelahiran
normal sebelumnya, riwayat abortus spontan, dan kelahiran dengan anak memiliki kelainan
genetik. Frekuensi abortus diperkirakan sekitar 10-15 % dari semua kehamilan.

Namun,
frekuensi angka kejadian sebenarnya dapat lebih tinggi lagi karena banyak kejadian yang tidak
dilaporkan, kecuali apabila terjadi komplikasi; juga karena abortus spontan hanya disertai gejala
ringan, sehingga tidak memerlukan pertolongan medis dan kejadian ini hanya dianggap sebagai
haid yang terlambat. Delapan puluh persen kejadian abortus terjadi pada usia kehamilan sebelum
12 minggu. Hal ini banyak disebabkan karena kelainan pada kromosom.
Dari 1.000 kejadian abortus spontan, setengahnya merupakan blighted ovum dan 50-60
% dikarenakan abnormalitas kromosom. Disamping kelainan kromosom, abortus spontan juga
disebabkan oleh penggunaan obat dan faktor lingkungan, seperti konsumsi kafein selama
kehamilan.

ETIOLOGI
Abortus spontan meiliki banyak etiologi yang satu dan lainnya saling terkait.
Abnormalitas dari kromosom adalah etiologi yang paling sering menyebabkan abortus, 50%
angka kejadian abortus pada trimester pertama, lalu insiden menurun pada trimester kedua
sekitar 20-30 %, dan 5-10 % pada trimester ketiga. Penyebab yang lain dari aborsi dengan
persentasi yang kecil adalah infeksi, kelainan anatomi, factor endokrin, factor immunologi, dan
penyakit sistemik pada ibu. Dan ada banyak pula penyebab yang belum diketahui hingga
sampai saat ini
a. Abnormalitas kromosom
Kelainan kromosom yang tersering menyebabkan kelainan kromosom seperti aneuploidy
( kelainan jumlah kromosom ) pada Turners syndrome, Monosomy X, trisomi 16, dan
triploidy yang menyebabkan sekitar 20 % dari seluruh abortus. Konsepsi poliploid
menghasilkan yolk sacs yang kosong atau blighted ovum dengan perubahan ke arah mola
hidatidiosa.
b. Maternal infection
Infeksi pada ibu dapat mengakibatkan kematian janin atau abortus. Organisme yang
sering ditemukan pada abortus spontan adalah Treponema Pallidum, Chlamydia
Trachomatis, Nisseria Gonorrhoeae, Streptococcus agalactiae, herpes simplex virus,
Cytomegalovirus, dan Listeria monocytogenes. Walaupun organisme tersebut sering
ditemukan pada wanita hamil yang mengalami abortus, patofisiologi dari infeksi tersebut
hingga menyebabkan abortus belum dapat diketahui sampai saat ini.
c. penyakit lain
Gangguaan pada system endokrin seperti hyperthyroid dan diabetes mellitus yang tidak
terkontrol; penyakit cardiovascular seperti hipertensi; dan penyakit jaringan ikat seperti
sistemik lupus erithematosus, mungkin berhubungan dengan kejadian abortus.
d. Defek pada uterus
Kelainan congenital pada uterus wanita hamil seperti unicornuate, bicornuate, atau uterus
yang bersepta dapat mengurangi ruang dari uterus sehingga menyebabkan abortus. Selain
itu adanya mioma uteri baik yang submukosa maupun intramural juga berhubungan
kejadian abortus. Skar yang terjadi pada uterus akibat adanya tindakan bedah seperti
dilatasi dan kuretasi, myomectomi, dapat menyebabkan inkompeten pada rahim dan
serviks sehingga dapat menyebabkan abortus spontan.
e. Immunologic Disorders
Golongan darah ABO, Rh, Kell, atau lainnya mempunyai antigens yang memiliki
hubungan dengan abortus spontan. Pada kejadian abortus yang disebabkan factor
immunologic dapat ditemukan Human Leukocyte Antigens (HLA) ibu pada janin.
f. Malnutrition
Malnutrisi berat dapat berhubungan dengan abortus spontan
g. Toxic Factors
Radiasi, obat-obatan anti-kanker, gas anastesi, alcohol, nikotin, adalah zat-zat embryotoxic.
Sehingga jika dipakai pada wanita hamil dapat mengakibatkan kelainan pada janin bahkan dapat
menimbulkan abortus spontan.
h. Trauma
Trauma dibagi menjadi dua yaitu trauma langsung dan tidak langsung. Trauma langsung
seperti terkena tembakan senjata api, dan trauma tidak langsung seperti oprasi
pemindahan corpus luteum kehamilan di ovarium, mungkin dapat menyebabkan abortus.

PATOGENESIS
Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau seluruh bagian embrio
akibat adanya perdarahan minimal pada desidua. Kegagalan fungsi plasenta yang terjadi akibat
perdarahan subdesidua tersebut menyebabkan terjadinya kontraksi uterus dan mengawali adanya
proses abortus.
o Pada kehamilan kurang dari 8 minggu :
Embrio rusak atau cacat yang masih terbungkus dengan sebagian desidua dan villi
chorialis cenderung dikeluarkan secara in toto, meskipun sebagian dari hasil konsepsi masih
tertahan dalam cavum uteri atau di canalis servikalis. Perdarahan pervaginam terjadi saat proses
pengeluaran hasil konsepsi.
o Pada kehamilan 8-14 minggu :
Mekanisme di atas juga terjadi dan diawali dengan pecahnya selaput ketuban telebih
dahulu dan diikuti dengan pengeluaran janin yang cacat namun plasenta masih tertinggal dalam
cavum uteri. Jenis ini sering menimbulkan perdarahan pervaginam banyak.
o Pada kehmilan minggu ke 14-22 :
Janin biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta beberapa saat
kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam uterus sehingga menimbulkan
gangguan kontraksi uterus dan terjadi perdarahan pervaginam banyak. Perdarahan pervaginam
umumnya lebih sedikit namun rasa sakit lebih menonjol.

MANIFESTASI KLINIK
o Haid tidak teratur atau amenore kurang dari 20 minggu.
o Pada pemeriksaan fisik keadaan umum tanpak lemah dan kesadaran menurun.
o Perdarahan per vaginam mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsepsi
o Rasa mulas-mulas diatas simphisis, serta nyeri pinggang akibat kontraksi uterus
o Pemeriksaan gynekologi
1. Inspeksi vulva: perdarahan per vaginam. Ada / tidaknya jaringan hasil konsepsi.
Tercium / tidak bau bususk dari vulva
2. Inspeulo: perdarahan dari cavum uteri. Lanjutan osteum uteri terbuka atau sudah
tertutup.ada/ tidak jaringan keluar dari osteum. Ada/ tidak cairan tau jaringan
berbau busuk dari osteum
3. Pemeriksaan dalam: portio masih terbuka atau sudah menutup. Teraba / tidak
jaringan dalam cavum uteri. Besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia
kehamilan. Tidak nyeri saat portio digoyang. Cavum douglas tidak nyeri dan tidak
menonjol.

KLASIFIKASI
a. Abortus Spontan
Abortus spontan adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis
ataupun medialis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah. Biasanya disebabkan
karena kurang baiknya kualitas sel telur dan sel sperma.
1. Abortus Iminens (threaned abortion)
Pengertian abortus imminens adalah perdarahan yang berasal dari intra uterine sebelum
usia kehamilan kurang dari 20 minggu dengan atau tanpa kontraksi, tanpa dilatasi
cerviks, dan tanpa ekspulsi hasil konsepsi.
Perdarahan pada abortus imminens seringkali hanya sedikit, namun hal tersebut
berlangsung beberapa hari atau minggu. Dapat atau tanpa disertai rasa mulas ringan,
sama dengan pada waktu menstruasi atau nyeri pinggang bawah.
Pemeriksaan vagina pada kelainan ini memperlihatkan tidak adanya pembukaan serviks.
Sementara pemeriksaan dengan real time ultrasound pada panggul menunjukkan ukuran
kantong amnion normal, jantung janin berdenyut, dan kantong amnion kosong, servik
tertutup, dan masih terdapat janin utuh. Keluarnya fetus masih dapat dicegah dengan tirah
baring dan memberikan obat-obatan.
Abortus ini baru mengancam dan masih ada harapan untuk mempertahankannya, osteum
uteri tertutup uterus sesuai umur kehamilan. Peradarahan dapat berlanjut beberapa hari
atau dapat berulang, dapat pula disertai sedikit nyeri perut bawah atau nyeri punggung
bawah. Setengah dari abortus iminens akan menjadi abortus komplet atau abortus
inkomplet. Sedangkan pada sisanya kehamilan akan terus berlangsung.
2. Abortus Insipiens (inivitable)
Merupakan suatu abortus yang sedang berlangsung, ditandai dengan perdarahan
pervaginam <20 minggu dengan adanya pembukaan serviks, namun tanpa pengeluaran
hasil konsepsi. Pada keadaan ini didapatkan juga nyeri perut bagian bawah atau nyeri
kolik uterus yang hebat.
Pemeriksaan vagina pada kelainan ini memperlihatkan dilatasi ostium serviks dengan
bagian kantong konsepsi menonjol. Hasil pemeriksaan USG mungkin didapatkan jantung
janin masih berdenyut, kantong gestasi kosong (5-6,5 minggu), uterus kosong (3-5
minggu) atau perdarahan subkhorionik banyak di bagian bawah. Kehamilan biasanya
tidak dapat dipertahankan lagi dan pengeluaran hasil konsepsi dapat dilaksanakan dengan
kuret vakum atau dengan cunam ovum disusul dengan kerokan.
3. Abortus Inkomplet
Sebagian dari buah kehamilan telah dilahirkan, tetapi sebagian (biasanya jaringan
plasenta) masih tertinggal di dalam rahim, Jaringan plasenta yang tertinggal sekedar
menempel di kanalis servikalis. Perdarahan biasanya terus berlangsung banyak dan
membahayakan ibu. Sering serviks tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim
yang dianggap sebagai benda asing . Oleh karena itu, uterus akan berusaha
mengeluarkannya dengan mengadaka kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri, namun
tidak sehebat abortus insipiens.
4. Abortus Komplet
Seluruh buah kehamilan telah dilahirkan dengan lengkap, osteum tertutup uterus lebih
kecil dari umur kehamilan atau osteum terbka cavum uteri kosong. Perdarahan segera
berkurang setelah isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambanya dalam 10 hari perdarahan
berhenti sama sekali karen adalam masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah
selesai. Serviks juga dengan segera menutup kembali.
5. Missed Abortion
Apabila buah kehamilan yang sudah mati tertahan dalam rahim selama 8 minggu atau
lebih. Pada kasus yang tipikal, kehamilan awal berlangsung normal, dengan amenore,
mual dan muntah, perubahan payudara, dan pertumbuhan uterus. Setelah janin meninggal
mungkin terjadi perdarahan per vaginam atau gejala lain. Untuk sewaktu-waktu uterus
tampaknya tidak mengalami perubahan ukuran, tetapi perubahan-perubahan pada
payudara biasanya kembali ke semula.
6. Abortus Habitualis.
Abortus yang telah berulang dan berturut-turut terjadi, sekurang-kurangnya 3 kali
berturut-turut kejadiannya sering terjadi pada primi tua. Etiologi abortus ini adalah
kelainan genetik (kromosomal), kelainan hormonal (imunologi) dan kelainan anatomis.
b. Abortus Provokatus
Abortus provokatus adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan
baik menggunakan alat maupun obat-obatan. Jenis abortus provokatus dibagi berdasarkan alasan
melakukan abortus adalah :
- Abortus terapeutik adalah abortus provokatus yang dilakukan atas indikasi medis
- Abortus kriminalis adalah abortus provokatus yang dilakukan bukan karena indikasi
medis tetapi perbuatan yang tidak legal atau melanggar hukum.


DIAGNOSIS dan PENATALAKSANAAN
Perdarahan Serviks Uterus Gejala/Tanda Diagnosis Tindakan
Bercak
hingga
Sedang
Tertutup Sesuai
dengan
usia
gestasi
Kram perut
bawah uterus
lunak
Abortus
Imminens
Observasi
perdarahan,
istirahat,
hindarkan
coitus
Sedikit
membesar
dari
normal
Limbung /
pingsan
Nyeri perut
bawah
Nyeri
goyang
porsio
Masa
adneksa
Cairan bebas
intra
abdomen
Kehamilan
ektopik
yang
terganggu
Laparotomi
dan parsial
salpingektomi
atau
salpingestomi
Tertutup/terbuka Lebih
kecil dari
usia
gestasi
Sedikit/tanpa
nyeri perut
bawah
Riwayat
ekspulsi
hasil
konsepsi
Abortus
komplit
Tidak perlu
terapi spesifik
kecuali
perdarahan
berlanjut atau
terjadi infeksi
Sedang
hingga
massif/banyak
Terbuka Sesuai
usia
kehamilan
Kram atau
nyeri perut
bawah belum
terjadi
Abortus
insipiens
Evakuasi
ekspulsi
hasil
konsepsi
Kram atau
nyeri perut
bawah
ekspulsi
sebagian
hasil
konsepsi
Abortus
inkomplit
evakuasi
Terbuka Lunak
dan lebih
besar dari
usia
gestasi
Mual/muntah
Kram perut
bawah
Sindroma
mirip
preeklamsia
Tak ada
jenin keluar
jaringan
seperti
anggur
Abortus
mola
Evakuasi
tatalaksana
mola

Penanganan abortus imminen terdiri atas :
1. Istirahat berbaring. Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan, karena
cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan bertambahnya rangsang
mekanik.
2. Pemberian hormon progesterone pada abortus imminens masih menjadi perdebatan.
Hormon progesterone dapat diberikan jika pada pemeriksaan didapatkan adanya
kekurangan hormon progesterone.
3. Pemeriksaan ultrasonografi penting untuk mengetahui apakah janin masih hidup atau
tidak.

PROGNOSIS
Prognosis buruk bila dijumpai pada pemeriksaan USG adanya :
- Kantong kehamilan yang besar dengan dinding tidak beraturan dan tidak adanya kutub
janin
- Perdarahan retrochorionic yang luas ( >25 % ukuran kantung kehamilan )
- DJJ yang perlahan ( < 85 dpm )
















DAFTAR PUSTAKA
1. Prawirohardjo, Sarwono. Kelainan dalam lamanya kehamilan. Ilmu Kebidanan. Jakarta.2007.
2. Cunningham FG, MacDonald PC,Gant NF. Abortion. In Williams Obstetrics 20
th
Ed.
Appleton Lange, 1997, p 579.
3. DeCherney, Alan H. Spontaneous Abortion. In current Diagnosis and Treatment in
Obstetrics and gynecology. McGraw-Hill Companies, 2003.
4. Evans, Artur T. Pregnancy Loss and Spontaneous Abortion. In Manual of Obstetrics 7
th
Ed

.
Lippincott Williams & Wilkins, 2007.

Anda mungkin juga menyukai