Anda di halaman 1dari 11

Ahmad Riyanto Yasin ( 02220120432) Page | 1

Pendahuluan
Liberalisasi Perekonomian semakin terlihat dalam segala bidang baik di dunia
internasional maupun di Indonesia. Mulai dari berdirinya WTO, APEC, G-20, sampai
perjanjian-perjanjian bilateral dan multirateral Indonesia dengan sejumlah negara
merupakan bentuk-bentuk gejala liberalisasi. Bahkan pada tahun 2015 free trade
area ASEAN akan dimulai dengan adanya kesepakatan Asean Economy Community
(AEC). Konsep liberalisasi perekonomian, lebih cenderung pada kebebasan bagi semua
pelaku kegiatan ekonomi untuk menguasai potensi-potensi perekonomian di Indonesia.
Liberalisasi perdagangan yang terjadi saat ini tidak hanya bisa dipandang dari analisa
perekonomian yang akan meningkatkan transaksi perdagangan, namun juga bisa di
analisa melalui aspek-aspek politik yang ada di dalamnya.
Menurut teori, analisis ekonomi politik tidak dapat dicampur karena keduanya
memiliki dasar logika yang berbeda. Namun ekonomi dan politik bisa disandingkan
dengan pertimbangnan keduanya mempunyai proses yang sama. Pendekatan ekonomi
politik mempertemukan antara bidang ekonomi dan politik dalam hal alokasi sumber
daya ekonomi dan politik (yang terbatas) untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat
(Yustika, 2013). Cabang ilmu ekonomi politik merupakan salah satu cabang ilmu yang
berusaha menjelaskan bagaimana sebuah pemerintahan mengatur ekonomi negara, dan
membuat serangkaian kebijakan dan aturan untuk manajemen negara yang lebih efektif
(Unzonwane, 2013).
Dengan demikian ekonomi politik dapat membawa logika perekonomian pada
rahan politik secara bebas sehingga dapat menghasilkan kebijakan yang nantinya
digunakan untuk kesejahteraan masyarakat. ekonomi politik memberikan cara bagi
pemerintah dalam suatu negara untuk membawa arah dan tujuan negara dalam
mencapai tujuan ekonomi tertentu. Oleh sebab itu maka perlu adanya pendekatan dari
segi ekonomi dan politik pada fenomena liberalisasi perekonomian yang terjadi saat ini.
Dalam hal ini ekonomi politik berperan sebagai alat analisis dalam segala aktifitas
perekonomian yang disandingkan dengan peran kebijakan atau keputusan-
keputusan politik.


Ahmad Riyanto Yasin ( 02220120432) Page | 2

Indonesia dan World Trade Organization (WTO)
Perdagangan merupakan salah satu cara bagi negara-negara di dunia dalam
memenuhi kebutuhan dalam negeri atau domestik. Perdagangan internasional antar
negara dapat membuat suatu negara melakukan impor dan ekspor barang dan jasa dari
negara lainnya. Salah satu bentuk liberalisasi perdgangan dunia adalah dibentuknya
organisasi dunia yang bergerak dalam bidang perdagangan disebut dengan World Trade
Organization (WTO). Menurut Hidayah (2012) fungsi utama dari WTO yaitu untuk
memberikan kerangka kelembagaan bagi hubungan perdagangan antar negara anggota
dalam implementasi perjanjian dan berbagai instrument hukum termasuk yang terdapat
dalam annex persetujuan WTO.
Bentuk-bentuk liberalisasi WTO berwujud keterbukaan pasar perdagangan dunia
yang cenderung pada memperkecil hambatan perdagangan seperti tarif dan kuota
ekspor impor. Negara-Negara yang tergabung dalam WTO akan selalu mentaati segala
peraturan perdagangan yang disepakati bersama oleh anggota WTO. Dengan demikian
kegiatan perdagangan oleh anggota-anggota WTO merupakan aktivitas perekonomian,
sedangkan kebijkan dan pertaturan didalamnya merupkaan aspek politik. Banyak sekali
kepentingan-kepentingan kelompok negara tertentu di dunia yang tergabung dalam
WTO yang berpengaruh terhadap pengambilan keputusan dan pengesahan peraturan.
Secara umum unsur ekonomi politik yang terdapat dalam WTO tersirat pada
keputusan pengurangan hambatan perdagangan (Tarif Barriers) bahkan pemotongan
tarrif sampai dengan nol persen (Non Tarrif Barriers), Perdagangan pada produk-produk
hasil pertanian, Standar dan pengamanan perdagangan internasional, kebijakan
antidumping, dan kebijakan-kebijakan perdagangan yang lain. dalam pengambilan
keputusan-keputusan tentang hal-hal tersebut, banyak unsur ekonomi politik yang
berpengaruh pada proses liberalisasi perdagangan dunia. semakin banyaknya anggota
WTO dengan berbagai macam kepentingan, maka semakin banyak pula unsur-unsur
ekonomi politik yang berpengaruh di dalamnya.
Bagi sebagian negara, kebijakan-kebijakan dan peraturan WTO tersebut
menguntungkan, namun disisi lain ada sebagian negara yang tidak merasa diuntungkan
oleh adanya kebijakan tersebut, bahkan merasa dirugikan. Keuntungan dan kerugian
yang didapat oleh negara-negara tersebut tergantung dari posisi politik negara di dunia
international. Menurut Duso dan Seldeslachts (2010), fokus kekuatan politik yang lebih
tinggi akan membawa pada pengambilan keputusan yang lebih cepat, dan proses

Ahmad Riyanto Yasin ( 02220120432) Page | 3

liberalisasi yang lebih cepat. Dengan demikian negara dalam WTO yang memiliki posisi
politik ekonomi tertinggi merupakan negara yang dapat mempengaruhi dalam
pengambilan keputusan bersama dan tingkat liberalisasi yang lebih luas. Disisi lain,
Indonesia yang tidak memliki posisi politik yang tinggi di dunia tidak dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan. Oleh karena itu dalam penentuan Tarif Bea
masuk, besar tarif yang ditentukan Indonesia lebih rendah dengan beberapa negara
seperti Jepang, China, Thailand, dan beberapa negara lainnya.
Kelompok Produk India Vietnam Jepang Thailand China Indonesia
Produk hewan 31,6 20,1 13,9 30,5 14,7 4,4
Produk susu 33,8 21,9 169,3 22,6 12 5,5
Buah, sayur, tanaman 29,7 30,6 12,7 31,5 14,8 5,9
Kopi, the 56,1 37,9 15,6 30,8 14,7 8,3
Sereal & preparat 30,8 27,4 72 21,1 23,9 6,1
Minyak biji, lemak, minyak 26,2 13,4 12,3 19,3 10,6 4
Gula dan permen 34,4 17,7 24,5 32 27,4 11
Katun 17 6 0 0 22 4
Minuman & tembakau 70,8 66,6 14,4 44,6 22,9 51,8
Produk pertanian lain 21,9 7,8 5,7 10,4 11,5 4,3
Rata-rata produk
pertanian
35,23 24,94 34,04 24,28 17,45 10,53
Ikan & produk ikan 29,6 30,9 5,5 13,5 10,7 5,8
Mineral & logam 7,4 10,2 1 6,2 7,5 6,6
Petroleum 9 17,5 0,6 5,4 4,5 0,5
Bahan kimia 7,9 5,2 2,2 3,3 6,6 5,3
Kayu, kertas, dll . 9,1 17,2 0,8 6,9 4,4 5
Textil 14,1 30,4 5,5 8,3 9,6 9,3
Pakaian 19,9 49,3 9,2 30,4 16 14,4
Kulit, alas kaki 10,1 19 12,9 12,1 13,4 9
Mesin non-listrik 7,1 5,4 0 4,4 7,8 2,3
Mesin listrik 6,9 12,8 0,2 7,9 8 5,8
Peralatan transportasi 14,8 22,2 0 21 11,5 11,6

Ahmad Riyanto Yasin ( 02220120432) Page | 4

Tabel 1. Tarif Bea Masuk Beberapa Negara
Sumber: WTO diolah 2013
Menurut Ianchovichina dan Martin (2001) pengurangan tarif yang diberlakukan
di China hanya pada industry manufaktur, pada sektor pertanian liberalisasi sulit untuk
dilakukan karena keterbatasan pengetahuan tentang posisi terkini dari tingkat
persediaan barang-barang pertanian dan adanya proteksi yang kompleks pada beberapa
komoditas pertanian dengan sistem tingkat kuota tarif.

Indonesia dan Free Trade Area (AFTA, CAFTA, Indonesia-Korea, dll)
Arus perdagangan dunia yang semakin tinggi menuntut tingginya biaya transaksi
yang harus dikeluarkan. Salah satu cara pengurangan biaya transaksi perdagangan antar
negara adalah dengan melakukan perjanjian perdagangan. Dengan adanya perjanjian
perdagangan diharapkan tidak ada negara yang merasa dirugikan, karena peraturan
telah disepakati dalam perjanjian. Hal ini merupakan salah satu bentuk liberalisasi
perdagangan antar negara.
Liberalisasi perdagangan dalam bentuk perjanjian perdagangan ini cenderung
memberikan dampak negatif bagi Indonesia pada kenyataannya. Setelah adanya
perjanjian perdagangan neraca perdagangan Indonesia dengan negara patner semakin
mengalami defisit. Contohnya saja Kerjasama Indonesia dan CAFTA, yang dimulai sejak
tahun 2002 ditandatangani di Phnom Penh. Aziza dan Bagas (2011) menyatakahn bahwa
Kerjasama CAFTA ini bertujuan agar: (a) memperkuat dan meningkatkan perdagangan
kedua belah pihak, (b) meliberalisasikan perdagangan barang dan jasa melalalui
pengurangan atau penghapusan tarif, (c) mencari area baru dan mengembangkan
kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan kedua pihak, (d) memfasilitasi integrasi
ekonomi yang lebih efektif dengan negara anggota baru ASEAN dan menjebatani celah
yang ada dikedua belah pihak. Namun dalam kenyataannya, semenjak
diberlakukannya free trade area dengan china, ekspor Indonesia tidak pernah melibihi
impor barang dan jasa dari China. Dengan demikian jelas terlihat bahwa adanya
liberalisasi perdagangan merugikan Indonesia dari sisi neraca perdagangan.
Manufaktur, n,e.s. 8.8 15,2 1,2 10,6 11,9 6,9
Rata-rata Produk non-
pertanian
12,1 19,6 3,3 10,8 9,3 6,9
Total Rata-rata 23,1 22,2 18,0 17,3 13,2 8,6

Ahmad Riyanto Yasin ( 02220120432) Page | 5

Tabel 1. Neraca Perdagangan Indonesia China
Sumber : Litbang Kompas/RSW, diolah dari Kementerian Perdagangan, 2012. Dikutip
dari Kompas, Rabu 21 maret 2012
Perkembangan perdagangan Indonesia dan China semakin mengalami defisit
mulai tahun 2007-2011 (Tabel 1). Adanya CAFTA mendorong produk-produk chna untuk
lebih banyak masuk ke Indonesia. kesepakatan CAFTA menghilangkan tarif dan kuota
ekspor impor anatara negara ASEAN dan China termasuk Indonesia membuat China
bebas untuk melakukan impor barang dan jasa. Dengan demikian maka harga barang-
barang impor dari china di dalam negeri cenderung lebih murah dibandingkan sebelum
adanya CAFTA. Oleh karena itu ketertarikan masyarakat lebih pada barang impor
dibandingkan barang dalam negeri. hal ini merupakan salah satu kerugian yang diterima
oleh Indonesia sehingga neraca perdagangan Indonesia China menjadi semakin defisit
setiap tahunnya. Menurut Amin et. al (2010) liberalisasi perdagangan meliputi kebijakan
yang bertujuan untuk perekonomian terbuka dengan mengurangi hambatan
perdagangan dalam bentuk pengurangan tarif dan peningkatan FDI dengan stimulasi
PDB.

Indonesia dan G-20
Gejala liberalisasi selanjutnya adalah keikutsertaan Indonesia pada G-20.
Perkembangan perekonomian Indonesia yang cukup stabil di tengah ketidakpastian
perekonomian global merupakan salah satu penghargaan yang dibahas dalam
konferensi G-20 pada tahun 2013. Salah satu ukuran keberhasilan Indonesia adalah
pertumbuhan ekonomi yang masih bisa mencapai 6% bahkan realisasi tahun 2012
mencapai 6,23% ditengah krisis global yang melanda dunia beberapa tahun terakhir.
NERACA PERDAGANGAN INDONESIA CHINA
2007 2008 2009 2010 2011
Ekspor ke China 9.675.512,
7
11.636,503,
7
11.499.327,
3
15.692.611,
1
22.941.004,
9
Impor dari
China
8.557,877,
1
15.247.168,
9
14.002.170,
5
20.424.218,
2
26.212.187,
4
Neraca
perdagangan
1.117.635,
6
-3.6106652 -2.5028432 -4.7316071 -3.2711825

Ahmad Riyanto Yasin ( 02220120432) Page | 6

Pertumbuhan ekonomi Indonesia dipandang lebih tinggi dari Amerika Serikat dan
Negara-Negara Eropa.

Tabel 3. Perekonomian Negara G-20
Ekonomi G-20
No Negara Pertumbuhan
Ekonomi
(%,yoy)
PDB per
Kapita
(PPP)
Neraca
Fiskal
Rasio
Utang*
Transaksi
Berjalan
2012 2013
(Q2)
(2012,
US$)
(% PDB) (% PDB) (% PDB)
1 Afsel 2,58 2,0 11.440 -5,33 36 -6,5
2 Arab Saudi 6,81 4,2 24.571 14,30 -53 24,37
3 Argentina 2,0 3,0 12.034 -0,05 42 0,02
4 AS 2,8 1,6 49.965 -7,00 88 -2,7
5 australia 3,7 2,6 44.598 -3,34 12 -3,7
6 Brazil 0,87 3,28 11.909 -2,59 35 -2,43
7 India 5,1 4,4 3.876 -4,72 66 -5,35
8 Indonesia 6,23 5,81 4.956 -1,52 24 -2,8
9 Inggris 0,2 1,5 36.901 -5,96 83 -3,79
10 Italia -2,4 -2,0 33.111 -3,00 103 -0,54
11 Jepang 1,98 0,9 35.178 -9.89 134 1,01
12 Jerman 0,7 0,5 40.901 0,20 57 7,02
13 Kanada 0,2 2,3 30.801 2,14 32 4,21
14 Korsel 2,0 2,3 30.801 2,14 32 4,21
15 Meksiko 3,9 1,5 16.731 0,00 38 -0,77
16 Prancis 0,00 0,3 36.104 -4,80 84 -2,18
17 RRT 7,7 7,5 9.233 0,00 21 2,32
18 Rusia 3,4 1,2 23.501 -0,24 10 3,64
19 Turki 2,2 3,0 18.348 -2,09 28 -6,04
20 EU -0,6 -0,5 34.116 -3,70 91 1,28
Sumber: Bank Dunia, IMF, Eurostat, Bloomberg dikutip dari Investor Daily 6/9/2013
Percepatan Liberalisasi perekonomian melalui G-20 tidak banyak memberikan
manfaat bagi Indonesia. dengan kestbulan perekonomian dan tingkat pertumbuhan

Ahmad Riyanto Yasin ( 02220120432) Page | 7

ekonomi yang dianggap tinggi, Indonesia belum mampu mengambil manfaat dari
konferensi G-20. Unsur politik dari kebijakan perekonomian industri Indonesia yang
belum strategis, menjadi salah satu kendala eksistensi Indonesia pada konferensi G-20
ini. Liberalisasi ekonomi politik di Indonesia lebih mengarah pada sektor pertanian yang
sangat sulit, karena share tenaga kerja di sektor pertanian lebih besar dibandingkan
dengan sektor-sektor yang lain. Menurut Pasadilla (2006) kasus pada negara
berkembang (Indonesia, Filipina, dan Thailand) dimana jumlah tenaga kerja pada sektor
pertanian lebih dominan, lobi-lobi yang intents oleh kelompok-kelompok pertanian
membuat pemerintahlebih berhati-hati. Berbeda dengan negara-negara industri seperti
China dan Amerika yang selalu dapat memperoleh manfaat dari adanya G-20.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak menjamin pada posisi politik suatu
negara di mata internasional. hal tersebut dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang
tinggi belum bisa mengindikasikan bahwa kondisi dan kebijakan perekonomian suatu
negara tepat dan benar. Sebagai misal, Indonesia dengan tingkat pertumbuhan ekonomi
yang relative lebih tinggi dari beberapa negara, disisi lain tingkat daya saing global
Indonesia masih rendah, dengan tingkat daya saing yang rendah, Indonesia belum
mampu bersaing baik secara ekonomi maupun secara politik pada G-20, oleh karena itu,
pengaruh Indonesia dalam pengambilan keputusan masih sangat rendah.

Indonesia dan APEC
Ciri liberalisasi yang terjadi di Indonesia selanjutnya ditunjukan melalui APEC.
Tujuan bersama didirikannya APEC cenderung pada liberalisasi perdagangan dan
investasi, serta pembangunan di antara negara anggota secara berkesinambunngan dan
adil serta upaya mengatasi kemiskinan. Seiring berkembanganya zaman, pendirian APEC
semakin liberalis. Pada konferensi tahun 2013 di Indonesia, kesepakatan-kesepakatan
yang dibuat APEC semakin liberalis.
Tabel 4. Hasil Kesepakatan APEC 2013
Hasil Kesepakatan APEC 2013
Pertama, memperkuat agenda Bogor Goals yaitu untuk memperkuat, mendorong, dan
membuka kesempatan bagi seluruh pemangku kepentingan berpartisipasi dalam
agenda APEC dan saling memberikan keuntungan bagi semua
Kedua, meningkatkan intra-APEC untuk infrastruktur, membangun kapasitas, dan

Ahmad Riyanto Yasin ( 02220120432) Page | 8

memfungsikan perdagangan multilateral.
Ketiga, para pemimpin APEC setuju untuk meningkatkan konektivitas institusi dan
sumber daya manusia di antara anggota APEC. Untuk itulah, dibuat konektivitas yang
menitikberatkan pada investasi dan infrastruktur.
Ketujuh, kerja sama di dunia usaha antarnegara APEC sangat penting untuk
mencapai free and open trade investment. perekonomian Indonesia
Keempat, memastikan pertumbuhan yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan dengan
memfasilitasi dan memperkuat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta
perempuan pegusaha dan muda.
Kelima, memperkuat ketahanan pangan, energi dan sumber daya air
Keenam, meningkatkan sinergi dan melengkapi dengan kerja sama multilateral yang
lain seperti East Asia Summit dan G-20.
Sumber: Kesepakatan APEC 2013 dikutip dari Kompas Edisi Oktober 2013
Dilihat dari analisa ekonomi politik, ketujuh hasil kesepakatan APEC tersebut
cenderung mengarah pada liberalisasi perekonomian. Pada poin ketujuh, free and open
trade investment mengungkapkan secara jelas bahwa tujuan APEC tahun 2013 adalah
untuk liberalisasi perdagangan. Menurut Martin dan Steiner (2013) hipotesis
kompensasi yang terkenal menyatakan bahwa pemerintah harus menyediakan asuransi
terhadap risiko pasar terbuka untuk membuat integrasi ke dalam ekonomi politik
internasional. dengan demikian keran liberalisasi Indonesia dibuka lebih lebar lagi
melalui APEC tahun 2013.

Indonesia dan Asean Economy Community
Free trade tidak terlepas dari penguatan kawasan untuk bersama-sama
menghadapi situasi yang serba kompleks di dunia internasional dalam bentuk
regionalism. Pada tahun 2015 kawasan ASEAN akan membentuk regionalisme ASEAN
Economy Community (AEC) yang memiliki tujuan single market dalam kawasan ASEAN.
Konsep AEC dimulai dari Declaration of ASEAN concord II di Bali pada Oktober 2003 yang
lalu. Dalam hal ini AEC merupakan salah satu perwujudan dari ASEAN Vision bersama-
sama dengan ASEAN Security Community (ASC) dan ASEAN Socio-Cultural
Community (ASCC) dengan tujuan akhir integrasi ekonomi.
Liberalisasi perekonomian negara ASEAN sudah terjadi sejak dibentuknya
ASEAN. Namun, pembentukan AEC merupakan penegasan integrasi perekonomian yang

Ahmad Riyanto Yasin ( 02220120432) Page | 9

sangat kental dengan aspek ekonomi politik. Menurut Winantyo (2008) pada dekade 80-
an dan 90-an, ketika negara-negara di berbagai belahan dunia mulai melakukan upaya-
upaya untuk menghilangkan hambatan-hambatan ekonomi, negara-negara anggota
ASEAN menyadari bahwa cara terbaik untuk bekerjasama adalah dengan saling
membuka perekonomian untuk mencipatakan kawasan integrasi ekonomi.
Dalam pelaksanaan AEC 2015 mendatang terdapat lima pilar perekonomian utama
yaitu:
1. Aliran Bebas Barang
2. Aliran Bebas Jasa
3. Aliran Bebas Investasi
4. Aliran Bebas Tenaga Kerja Terampil
5. Aliran Bebas Moda
Kelima pilar tersebut menunjukan arah liberalisasi perdagangan dan
perekonomian. Indonesia menjadi koridor coordinator dalam bidang otomotif dan
agribisnis. Skoring masing-masing pilar perekonomian ditunjukkan pada gambar berikut
ini.
Berdasarkan data tersebut, Indonesia harus memiliki kekuatan ekonomi politik
untuk mendapatkan bargaining power di wilayah ASEAN sehingga dapat memanfaatkan
AEC sebagai jembatan kemajuan perekonomian dan politik nasional.
Negara 2008 2009 2010 2015
Jumlah Pos
Tarif (Produk)
Rata-rata
Tarif (%)
Jumlah Pos
Tarif (Produk)
Rata-rata
Tarif (%)
Brunei D 9,924 0,73 8,236 0,61 100%
produk
(semua)
tarif 0%
100%
produk tarif
0%
Indonesia 8,620 0,99 8,640 1,05
Malaysia 12,201 0,95 12,205 0,94
Filippina 8,827 0,96 8,952 1,01
Singapura 8,298 0,00 8,200 0,00
Thailand 8,301 1,03 8,200 1,01
ASEAN-6 56,171 0,79 54,633 0,79
Kamboja 10,454 7,13 10,537 5,83 60%
produk

Ahmad Riyanto Yasin ( 02220120432) Page | 10

Tabel 5. Pemberlakuan Tarif ASEAN Economy Community (AEC) 2015
Sumber: Departemen Perdagangan RI, 2011
Salah satu dari pelaksanaan lima pilar AEC dan disebutkan dalam AEC Blue Print
adalah penghapusan tarif pada arus barang. Blue print AEC berupaya untuk mewujudkan
kekuatan pasar tunggal ASEAN yang berbasis produksi. Dengan demikian diharapkan
jaringan produksi regional ASEAN akan terbentuk dengan sendirinya dan liberalisasi
perdagangan lebih bermanfaat dan meaningful dibandingkan dengan kerja sama free
trade yang lain.

tarif 0%
Laos 8,015 1,28 8,214 1,54
Myanmar 10,615 2,83 8,240 1,11
Vietnam 8,099 2,77 8,099 2,72 80%
produk
tarif 0%
CLMV 37,183 3,69 35,090 3,00
ASEAN-10 93,354 1,95 89,723 1,65

Ahmad Riyanto Yasin ( 02220120432) Page | 11

Kesimpulan
Adanya liberalisasi perdagangan dunia menimbulkan banyak dampak bagi
masing-masing negara. dampak-dampak yang diperoleh tergantung dari kekuatan
ekonomi politik yang diterapkan oleh masing-masing pemerintah negara-negara
tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekuatan ekonomi
politik yang lebih rendah di bandingkan dengan beberapa negara maju didunia. Oleh
sebab itu, perlu adanya penguatan ekonomi politik dari pemerintah untuk mendongkrak
posisi Indonesia di mata dunia.
Aspek ekonomi dari liberalisasi perdagangan dunia adalah efisiensi biaya, yang
disandingkan dengan aspek politik penghapusan hambatan-hambatan perdagangan
internasional. dari keseluruhan perjanjian dan organisasi perdagangan internasional
yang diikuti oleh Indonesia, menerapkan non tariff barrires untuk memaksimalkan
keuntungan masing-masing negara.
Hal tersebut menjadi salah satu tantangan bagi Indonesia saat ini. Kebijakan
tegas dari pemerintah Indonesia diperlukan untuk mencegah terjadinya kerugian dari
seluruh kerjasama perdagangan bebas yang dilaksanakan. Salah satu upaya yang harus
dilakukan pemerintah Indonesia adalah mendorong daya saing nasional di kancah
global. Daya saing produk somestik yang tinggi akan membawa keberhasilan dalam era
liberalalisasi perdagangan. Penguatan daya saing domestic perlu dilakuakan mulai dari
aspek modal, sumber daya manusi, dan juga teknologi. Penguatan aspek modal dapat
dilakukan dengan kerjasama dengan pihak-pihak perbankan yang ada di Indonesia.
penguatan daya saing sumber daya manusia dapat dilakukan dengan perbaikan tingkat
pendidikan, dan mendorong penguatan skill tenaga kerja. Sedangkan penguatan
teknologi dapat dilakukan dengan cara mendongkrak inovasi dan kreatifitas masyarakat
Indonesia.
Tujuan kebijakan utama pemerintah adalah mengarahkan aspek politik dan
ekonomi untuk membawa liberalisasi perdagangan dunia lebih bermanfaat bagi
Indonesia. Dengan demikian aspek politik yang berupa kebijakan dari pemerintah dapat
digunakan untuk mentrigger aspek perekonomian Indonesia dengan tujuan
kesejahteraan masyarakat Indonesia.