Anda di halaman 1dari 19

KIMIA

Senyawa Hidrokarbon
Alkana, Alkena, Alkuna





Nama Anggota :
1) Andi Sedana Yasa (04)
2) Ni Putu Dhea Mayvitana Jayanti (11)
3) Nyoman Eva Surya Diana (15)
4) I Made Giri Suyasa (16)
5) I Made Kusuma Jaya (18)
6) Ni Nyoman Rima Partika Sari (22)
7) Ni Made Sri Wahyuni (25)
8) Desak Made Tya Kristina Dewi (31)
9) Ni Wayan Ully Karunia Sari (32)
10) Ni Made Widiantari (35)


TAHUN AJARAN 2013/2014


A. Penggolongan Hidrokarbon

Penggolongan hidrokarbon didasarkan pada dua hal, yaitu bentuk rantai karbon dan jenis ikatan.
1. Berdasarkan Bentuk Rantai Karbon
Hidrokarbon digolongkan sebagai berikut :
a. Hidrokarbon alifatik
1) Hidrokarbon alifatik merupakan hidrokarbon rantai terbuka.
2) Bentuk rantainya adalah :
a. Rantai tunggal b. Rantai rangkap dua c. Rantai rangkap tiga
H H
2
C CH = C CH
3
HC C CH CH
3
H C H CH
3
CH
3
H
b. Hidrokarbon siklik
Yaitu rantai karbon tertutup. Dibedakan atas karbosiklik dan heterosiklik.
1) Karbosiklik adalah senyawa karbon siklik yang rantai lingkarnya hanya terdiri dari
atom C saja. Yang termasuk karbosiklik adalah senyawa aromatis dan alisiklik.
a) Senyawa aromatis adalah senyawa karbon siklik yang terdiri atas 6 atom
karbon atau lebih yang memiliki ikatan rangkap 2 terkonjugasi .
Contoh:

b) Senyawa alisiklik adalah senyawa karbosiklik yang hanya mempunyai
ikatan tunggal.
Contoh:

2) Heterosiklik adalah senyawa karbo siklik yang di dalam rantai lingkarnya terdapat atom
lain selain atom karbon.
Contoh:


2. Berdasarkan Jenis Ikatan Antar-atom Karbon
a. Ikatan jenuh, jika semua ikatan karbonnya merupakan ikatan tunggal ( ).
Contoh :


b. Ikatan tak jenuh, jika mengandung ikatan rangkap 2 ( ) maupun rangkap 3
( ) pada ikatan karbon karbon.
Dikatakan tak jenuh karena ikatan rangkap, baik rangkap 2 maupun rangkap 3 ini masih
dapat mengalami pemutusan ikatan.
Contoh:


B. Alkana ( - C- C - )
Alkana merupakan hidrokarbon alifatik jenuh, yaitu hidrokarbon dengan rantai terbuka dan
semua ikatan karbon karbonnya merupakan ikatan tunggal. Hidrokarbon dengan hanya
atom sp3 (yakni dengan hanya ikatan-ikatan tunggal) disebut alkana (atau sikloalkana jika atom
karbon itu membentuk cincin). Beberapa alkana yang lazim ialah metana, etana, propana dan
butana. Alkana-alkana ini berbentuk gas dan terdapat dalam minyak bumi. Gas-gas ini digunakan
sebagai bahan bakar. Bensin pada hakikatnya adalah campuran alkana. Alkana dan sikloalkana
disebut hidrokarbon jenuh (saturated hydrocarbon), artinya jenuh dengan hidrokarbon.
Senyawa ini tak bereaksi dengan hidrogen
1. Rumus Umum Alkana
Semua alkana mempunyai rumus umum C
n
H
2n+2
Contoh
:
CH
3
CH
2
CH
3 Propana
Dari contoh di atas diketahui bahwa jumlah atom C dan H selalu mengikuti
rumusumumnya meskipun bentuk rantainya berbeda.

2. Deret Homolog Alkana
Deret homolog merupakan deretan senyawa karbon dengan rumus umum sama dan sifat
bermiripan, di mana setiap anggota berikutnya bertambah sebanyak CH
2
.

Sifat deret homolog adalah sebagai berikut :
a. Sifat kimianya hampir sama.
b. Rumus umumnya sama.
c. Suku-suku berurutan berbeda CH
2.

d. Makin panjang rantai karbon, makin tinggi titik didihnya.
Jika alkana kehilangan satu atom H, maka sisa alkana disebut gugus alkil atau R.
Rumus umum gugus alkil adalah C
n
H
2n-1
.
Tata Nama Alkil :
a. Penamaannya sama dengan alkana yang sesuai tetapi akhiran ana diganti dengan
il, misalnya propana menjadi propil .
b. Jika atom C pertama terikat pada rantai utama namanya tetap seperti alkil biasa,
misalnya etil atau pentil.
c. Jika yang terikat pada rantai utama bukan atom C pertama, maka diberi awalan
iso, sekunder, atau tersier.

Tabel Sepuluh Deret Pertama Alkana
Suku ke N rumus molekul nama
titik didih
(C/1 atm)
massa 1 mol dalam g
1 1 CH
4
metana -161 16
2 2 C
2
H
6
etana -89 30
3 3 C
3
H
8
propana -44 44
4 4 C
4
H
10
butana -0.5 58
5 5 C
5
H
12
pentana 36 72
6 6 C
6
H
14
heksana 68 86
7 7 C
7
H
16
heptana 98 100
8 8 C
8
H
18
oktana 125 114
9 9 C
9
H
20
nonana 151 128
10 10 C
10
H
22
dekana 174 142


3. Penulisan Rumus Struktur Alkana
Rumus struktur alkana dapat dituliskan dengan beberapa cara berikut .


H H H H

a. H C C C C H butana

H H H H

b. CH
3
CH
2
CH
2
CH
3
butana

c. CH
3
(CH
2
)
2
CH
3
butana

4. Tata Nama Alkana
Perbedaan rumus struktur alkana dengan jumlah C yang sama akan menyebabkan
berbedaan sifat alkana yang bersangkutan. Banyaknya kemungkinan struktur senyawa
karbon, menyebabkan perlunya pemberian nama yang dapat menunjukkan jumlah atom C
dan rumus strukturnya. Aturan pemberian nama hidrokarbon telah dikeluarkan oleh IUPAC
agar dapat digunakan secara internasional.
Aturan tata nama alkana :
1. Rantai tidak bercabang (lurus) Jika rantai karbon terdiri dari 4 atom karbon atau
lebih, maka nama alkana diberi alawal n- (normal) .
Contoh :
CH
3
CH
2
CH
2
CH
2
CH
2
CH
2
CH
3
= n-heptana
CH
3
-

CH
2
- CH
2
- CH
2
- CH
3
= n-pentana
2. Jika rantai karbon bercabang, maka:
a. Tentukan rantai induk, yaitu rantai karbon terpanjang dari ujung satu ke ujung
yang lain. Rantai induk diberi nama alkana.

Rantai induk terdiri dari 6 atom C, sehingga diberi nama heksana
b. Penomoran, berilah nomor pada rantai induk dari ujung terdekat cabang.

Jika nomor dari bawah, maka cabang ada di nomor 3. tetapi jika dari kanan,
maka cabang ada di nomor 4. Sehingga dipilih penomoran dari ujung bawah.
c. Tentukan cabang, yaitu atom C yang yang terikat pada rantai induk. Cabang
merupakan gugus alkil dan beri nama alkil sesuai struktur alkilnya. Perhatikan
beberapa gugus alkil berikut:



d. Urutan penulisan nama. Urutan penulisan nama untuk alkana bercabang: Nomor
cabang-nama cabang nama rantai induk:
*Nama untuk struktur di atas adalah: 3-metilheksana
-jika terdapat lebih dari satu alkil sejenis, maka tulis nonor-nonor cabang dari alkil
sejenis dan beri awalan alkil dengan di, tri, tetra, penta dan seterusnya sesuai dengan
jumlah alkil sejenis.

-Jika terdapat dua atau lebih jenis alkil, maka nama-mana alkil disusun menurut
abjad.

3. Tambahan untuk penomoran khusus
a. Jika terdapat beberapa pilihan rantai induk yang sama panjang, maka pilih rantai
induk yang mempunyai cabang lebih terbanyak.

Rantai induk = 5 atom C Rantai induk = 5 atom C
Cabang = 2 (metil dan etil) Cabang = 1 (isopropil)
Sehingga yang dipilih adalah struktur yang pertama : 3-etil-2-metilpentana
b. Gugus alkil dengan jumlah atom C lebih banyak diberi nomor yang lebih kecil.

Dari kiri, nomor 3 terdapat cabang etil.
Dari kiri, nomor 3 terdapat cabang metil.
Sehingga yang dipilih adalah penomoran dari kiri : 3-etil-4metilpentana.


5. Isomer Alkana
Alkana yang mempunyai kemampuan membentuk rantai ikatan yang panjang
mengakibatkan kemungkinan besar terjadinya isomer struktur. Isomer yaitu dua atau lebih
senyawa yang mempunyai rumus molekul sama tetapi mempunyai struktur molekul yang
berbeda. Dalam hal ini cara terikatnya atom-atom dalam molekul berbeda. Pada alkana
semakin banyak jumlah atom karbon maka jumlah isomer struktur yang terbentuk akan
makin banyak. Pada 3 suku alkana yang pertama tidak memiliki isomer karena atom karbon
yang dimiliki berjumlah sedikit sehingga atom karbon terikat pada atom karbon yang mana
saja akan tetap memberikan nama yang sama. Tiga suku alkana tersebut yaitu metana, etana,
dan propana.
H
3
C H
2
C H
2
C H
2
C CH
3
: n pentana
CH
3
H
3
C C CH
3
: 2,2 dimetil propana

CH
3
H
3
C CH CH
2
CH
3
: 2 metil butana
CH
3


6. Sifat Alkana
1. Hidrokarbon jenuh (tidak ada ikatan atom C rangkap sehingga jumlah atom H nya
maksimal) .
2. Disebut golongan parafin karena affinitas kecil (sedikit gaya gabung) .
3. Sukar bereaksi .
4. Bentuk Alkana dengan rantai C1 C4 pada suhu kamar adalah gas, C4 C17 pada
suhu adalah cair dan > C18 pada suhu kamar adalah padat .
5. Titik didih makin tinggi bila unsur C nya bertambahdan bila jumlah atom C sama
maka yang bercabang mempunyai titik didih yang lebih rendah .
6. Sifat kelarutan : mudah larut dalam pelarut non polar .
7. Massa jenisnya naik seiring dengan penambahan jumlah unsur C .
8. Merupakan sumber utama gas alam dan petrolium (minyak bumi) .

7. Reaksi Reaksi Sederhana Alkana
1) Reaksi Pembakaran (reaksi oksidasi)
Pembakaran sempurna alkana menghasilkan karbon dioksida (CO2) dan air (H2O)



2) Reaksi Substitusi (Reaksi Pergantian)
Alkana mengalami reaksi substitusi dengan cara mengganti atom H alkana dengan atom
lain seperti atom halogen : Cl, Br, I, ...




8. Kegunaan Alkana
Secara umum, alkana berguna sebagai bahan bakar dan bahan baku dalam industri
petrokimia.
1. Metana; berguna sebagai bahan bakar untuk memasak, dan bahan baku pembuatanzat
kimia seperti H2 dan NH3.
2. Etana; berguna sebagai bahan bakar untuk memasak dan sebagai refrigerant dalam sistem
pendinginan dua tahap untuk suhu rendah.
3. Propana; merupakan komponen utama gas elpiji untuk memasak dan bahan baku
senyawa organik.
4. Butana; berguna sebagai bahan bakar kendaraan dan bahan baku karet sintesis.
5. Oktana; merupakan komponen utama bahan bakar kendaraan bermotor, yaitu bensin.


C. Alkena ( - C = C - )
Alkena adalah hidrokarbon alifatik tak jenuh dengan satu ikatan rangkap dua. Senyawa
yang mempunyai dua ikatan rangkap disebut alkadiena, yang mempunyai tiga ikatan rangkap
disebut alkatriena, dan seterusnya.
1. Rumus Umum Alkena
Rumus umum alkena adalah C
n
H
2n
.
Contoh :
CH
3
CH
2
CH = CH
2
CH
3
CH
2
= CH CH
3

butena 2 butena
Jika dibandingkan dengan rumus umum alkana, yaitu C
n
H
2n+2
, alkena mengandung lebih
sedikit atom hidrogen (H), oleh karena itu alkena disebut hidrokarbon alifatik tidak jenuh .
2. Deret Homolog Alkena
Berikut adalah sepuluh deret pertama alkena.
Jumlah
atom C
Rumus Struktur Rumus
Molekul
Nama Kimia
2 H
2
C = CH
2
C
2
H
4
Etena
3 H
2
C = CH CH
3
C
3
H
6
Propena
4 H
2
C = CH CH
2
CH
3
C
4
H
8
1-butena
5 H
2
C = CH (CH
2
)
2
CH
3
C
5
H
10
1-pentena
6 H
2
C = CH (CH
2
)
3
CH
3
C
6
H
12
1-heksena
7 H
2
C = CH (CH
2
)
4
CH
3
C
7
H
14
1-heptena
8 H
2
C = CH (CH
2
)
5
CH
3
C
8
H
16
1-oktena
9 H
2
C = CH (CH
2
)
6
CH
3
C
9
H
18
1-nonena
10 H
2
C = CH (CH
2
)
7
CH
3
C
10
H
20
1-dekena

Pertambahan ini seperti halnya deret dengan penambahan CH
2
, maka golongan alkena yang
secara teratur penambahan atom C dan atom H disebut deret homolog alkena.

3. Tata Nama Alkena
Nama alkena diturunkan dari nama yang sesuai jumlah atom karbonnya dengan mengganti
akhiran ana menjadi ena .
a) Rantai lurus
1) Berilah nomor rantai induk sehingga ikatan rangkap mendapat nomor terkecil .
2) Posisi ikatan rangkap ditunjukkan dengan angka di depan nama rantai induk .
b) Rantai bercabang
1) Pilihlah rantai terpanjang yang mengandung ikatan rangkap.
2) Tentukan nama dan nomor cabang.
3) Jika pada rantai induk terdapat lebih dari 1 cabang, maka penomoran dimulai dari
atom C yang terdekat dengan ikatan rangkap.
Catatan :
Penomoran dimulai dari ujung kanan sehingga posisi ikatan rangkap mendapat nomor
terkecil.
4) Jika cabang lebih dari satu cabang, maka penamaan diurutkan sesuai abjad.
5) Urutan penamaan

6) Jika pada strukturnya terdapat dua atau tiga ikatan rangkap, maka nama rantai induk
diberi akhiran diena atau triena.
Contoh :
1 2 3 4 1 2 3 4 5 6
CH
2
= C C = CH
2
CH
2
= C C = C = CH CH
3
CH
3
CH
3
CH
3
CH
3
2,3 dimetil -1,3- butadiena 2,3 dimetil-1,3, 4-
heksatriena
4. Isomer Alkena
Isomer pada alkena dimulai dari butena. Isomer pada alkena meliputi isomer struktur dan
isomer geometri.
a. Isomer Struktur
Isomer struktur, yaitu isomer yang disebabkan adanya perbedaan posisi ikatan rangkap,
posisi cabang, atau karena perbedaan kerangka atom karbon.
Contoh :
Pentena memiliki 4 isomer struktur, dua diantaranya adalah sebagai berikut.
1) CH
3
CH CH = CH
2
: 3-metil-1-butena
CH
3

2) CH
3
C = CH CH
3
: 2-metil-2-butena
CH
3
b. Isomer Geometri
Keisomeran geometri adalah keisomeran karena perbedaan penempatan gugus-gugus di
sekitar ikatan rangkap.
Contohnya ialah keisomeran pada 2-butena.
Dikenal 2 jenis 2-butena, yaitu cis--butena t.d C dan trans--butena t.d C) .
Keduanya mempunyai struktur yang sama, tetapi berbeda konfigurasi (orientasi gugus-
gugus dalam ruang). Pada cis-2-butena, kedua gugus metil terletak pada sisi yang sama
dari ikatan rangkap ; sebaliknya pada trans-2-butena, kedua gugus metil itu
berseberangan.





C = C


Nomor cabang nama cabang nomor ikatan rangkap nama rantai
induk
H
3
C CH
3

H H




Keisomeran geometri terjadi karena kelakuan ikatan rangkap. Atom karbon yang
berikatan rangkap tidak dapat berputar satu terhadap yang lainnya. Oleh karena itu,
posisi gugus-gugus yang terikat pada atom karbon yang berikatan rangkap tidak dapat
berubah tanpa memutuskan ikatan. Jika gugus sejenis terletak pada sisi yang sama dari
ikatan rangkap disebut bentuk cis, sebaliknya jika gugus yang sama terletak
berseberangan disebut trans.
Perlu disebutkan bahwa tidak semua senyawa yang berikatan karbon-karbon rangkap (C
= C) mempunyai keisomeran geometri. Kedua atom karbon yang berikatan rangkap itu
masing-masing harus mengikat dua gugus yang berbeda. Sehingga, jika gugus-gugus
yang terikat pada satu atom karbon dipertukarkan tempatnya, bentuknya menjadi
berbeda.
5. Sifat Sifat Alkena
a. Sifat Fisika
Alkena merupakan senyawa nonpolar sehingga tidak larut dalam air dan memiliki massa
jenis lebih kecil dari air. Alkena dapat larut dalam alkena lain, pelarut-pelarut nonpolar dan
etanol. Pada temperatur kamar alkena yang memiliki dua, tiga dan empat atom karbon
berwujud gas. Sedangkan Alkena dengan dengan berat molekul lebih tinggi dapat berupa cair
dan padatan pada suhu kamar.
Nama Rumus
molekul
Titik
leleh
(C)
Titik
didih
(C)
Massa
jenis(g/cm
3
)
EtenaPropena1-
Butena
1-Pentena
1-Heksena
1-Heptena
1-Oktena
1-Nonesa
1-Dekena
C
2
H
4
C
3
H
6
C
4
H
8

C
5
H
10

C
6
H
12

C
7
H
14

C
8
H
16

C
9
H
18

C
10
H
20

-169-
185-
185
-165
-140
-120
-102
-81
-66
-104-
48-6
30
63
94
122
147
171
0,5680,6140,630
0,643
0,675
0,698
0,716
0,731
0,743
Sifat kimia
Ikatan rangkap yang dimiliki alkena merupakan ciri khas dari alkena yang disebut
gugus fungsi. Reaksi terjadi pada alkena dapat terjadi pada ikatan rangkap dapat pula
terjadi diluar ikatan rangkap. Reaksi yang terjadi pada ikatan rangkap disebut reaksi adisi
yang ditandai dengan putusnya ikatan rangkap ikatan membentuk ikatan tunggal
ikatan dengan atom atau gugus tertentu.
Selain sifat-sifat tersebut dapat mengalami reaksi polimerisasi dan alkena juga dapat
bereaksi dengan oksigen membentuk korbondioksida dan uap air apabila jumlah oksigen
melimpah, apabila jumlah oksigen tidak mencukupi maka terbentuk karbonmonooksida
dan uap air.
6. Reaksi Reaksi Alkena
Alkena tergolong reaktif, karena ikatan rangkap C=C kurang stabil, mudah membentuk
ikatan tunggal C-C. Jenis reaksi yang terkenal pada alkena adalah adisi, yaitu reaksi
penambahan atom/gugus atom yang akan menumbuk atom-atom C yang reaktif, yaitu C=C
dan bergabung dengan kedua atom C tersebut, sehingga ikatan rangkap terbuka dan berubah
menjadi ikatan tunggal C-C. Sehingga C=C ini dapat dikatakan sebagai gugus fungsi alkena,
karena C=C inilah yang menentukan sifat alkena.
1. Hidrogenasi
Reaksi adisi alkena dengan hidrogen sering dikenal sebagai hidrogenasi. Ketika
propena direaksikan dengan hidrogen, terbentuklah propana.
CH
2
=CH-CH
3
+ H
2
CH
3
CH
2
CH
3

2. Halogenasi
Halogenasi adalah adisi alkena dengan unsur halogen, X
2
membentuk Halo alkana,
RX
n
. Contoh, propena direaksikan dengan brom, membentuk 1,2-dibromo propana.
CH
2
=CH-CH
3
+ Br
2
CH
2
Br-CHBr-CH
3

3. Adisi HX
Adisi hidrogen halida, HX dengan alkena menghasilkan halo alkana, RX. Adisi ini
mengikuti aturan Markovnikov. Pada adisi ini terjadi 2 hasil campuran; namun karena
jumlahnya tidak sama, Markovnikov membuat suatu aturan. Menurut Markovnikov,
hasil terbanyak yang diperhatikan. Untuk itu dinyatakan bahwa yang kaya makin
kaya. Maksudnya, atom H akan bergabung dengan atom C yang mengikat H
terbanyak. Menurut daya dorong terhadap elektron maka makin panjang rantai C,
makin non polar, sehingga daya dorongnya terhadap elektron makin kuat, sehingga
atom C pada rantai panjang berkutub positif dan atom C pada rantai C pendek
berkutub negatif. Pada saat HX menumbuk C=C, ikatannya putus, membentuk ion-
ion H
+
dan X
-
. H
+
bergabung dengan atom C
-
(berkutub negatif) sedang X
-
bergabung
dengan atom

C
+
(berkutub positif). Ketika propena direaksikan dengan HBr, maka
terbentuklah 2-bromo propana.
CH
2
=CH-CH
3
+ HBr CH
3
-CHBr-CH
3

4. Hidrasi
Pada adisi H
2
O digunakan katalis asam, misal HA. Seperti halnya adisi HX, maka ion
H
+
bergabung dengan atom C yang berkutub negatif, yaitu rantai C pendek,
sedangkan ion OH
-
bergabung dengan atom C berkutub positif, yaitu rantai C
panjang. Contoh, 2-metil-1-butena direaksikan dengan H
2
O menghasilkan 2-metil-2-
butanol.
CH
3
-CH
2
-C(CH
3
)=CH
2
+ H
2
O CH
3
-CH
2
-C(CH
3
)(OH)-CH
3
7. Kegunaan Alkena
Plastik adalah polimer dari alkena atau turunan-turunan alkena. Beberapa jenis plastik yang
populer dalam kehidupan sehari-hari, antara lain sebagai berikut :
a. Polietilena adalah plastik tipis transparan (tembus cahaya) yang sebagai sampul buku
atau pembungkus barang yang ringan seperti kue dan gula.
b. Polipropilena adalah plastik yang agak tebal dan tidak tembus cahaya, yang biasa
digunakan untuk mengemas barang di toko-toko dan berbentuk jinjingan.
c. PVC adalah plastik keras untuk pipa saluran air atau peralatan rumah tangga, seperti
ember dan kursi plastik.
d. Teflon adalah plastik tahan api yang banyak dipakai sebagai pengganti logam.
Dibandingkan dengan logam, plastik memiliki beberapa keunggulan, yaitu murah, ringan,
tahan karat, dan tidak menghantar listrik.





D. Alkuna ( - C = C - )
Alkuna merupakan hidrokarbon alifatik tak jenuh yang memiliki satu ikatan rangkap
tiga. Senyawa yang mempunyai dua ikatan karbon rangkap tiga disebut alkadiuna, sedangkan
senyawa yang mempunyai satu ikatan karbon rangkap dua, dan satu ikatan karbon rangkap
tiga disebut alkenuna.
1. Rumus Umum Alkuna
Rumus umum alkuna adalah C
n
H
2n-2

2. Deret Homolog Alkuna
Berikut adalah sepuluh deret pertama alkuna.



3. Tata Nama Alkuna
a. Alkuna rantai lurus
Tata nama alkuna rantai lurus sama dengan alkana, hanya akhiran ana
diganti dengan una. Posisi ik an rangkap ditunjukkan dengan angka di depan nama
rantai induk.
b. Alkuna rantai bercabang
Urutan penamaan adalah sebgai berikut :
1) Memilih rantai induk, yaitu rantai karbon terpanjang yang mengandung ikatan
rangkap tiga,
Jumlah
Atom C
Rumus Molekul

Nama
1 - -
2 C
2
H
2
Etuna
3 C
3
H
4
Propuna
4 C
4
H
6
Butuna
5 C
5
H
8
Pentuna
6 C
6
H
10
Heksuna
7 C
7
H
12
Heptuna
8 C
8
H
14
Oktuna
9 C
9
H
16
Nonuna
10 C
10
H
18
Dekuna
2) Penomoran alkuna dimulai dari salah satu ujung rantai induk sehingga atom c
yang berikatan rangkap tiga mendapat nomor terkecil.
3) Penamaan, dengan urutan sebagai berikut :
a. Nomor C yang mengikat cabang
b. Nama cabang
c. Nomor C yang berikatan rangkap tiga
d. Nama rantai induk (alkuna)
Contoh :




3-metil-1-butuna 4-metil-2-heksuna
(bukan 2-metil-3-butuna) (bukan 3-metil-4-heksuna)
4. Isomer Alkuna
Keisomeran pada alkuna tergolong keisomeran kerangka atau keisomeran posisi. Pada
alkuna tidak terdapat keisomeran geometri. Keisomeran mulai terdapat pada butuna yang
mempunyai 2 isomer.
Contoh :
CH C CH
2
CH
3
: 1-butuna CH
3
C C CH
3
: 2-butuna

5. Sifat Sifat Alkuna
Sifat fisis
Sifat fisis alkuna, yakni titik didih mirip dengan alkana dan alkena. Semakin tinggi suku
alkena, titik didih semakin besar. Pada suhu kamar, tiga suku pertama berwujud gas, suku
berikutnya berwujud cair sedangkan pada suku yang tinggi berwujud padat.
Tabel 6. Beberapa sifat fisik alkuna


Nama alkena Rumus
molekul
Mr Titik leleh
(oC)
Titik
didih
Kerapatan
(g/Cm3 )
Fase
pada
4 3 2 1
CH
3
CH C CH
CH
3
1 2 3 4 5
CH
3
C C CH CH
3


6
C
2
H
5


(0 C) 250 C
Etuna C2H2 26 -81 -85 - Gas
Propuna C3H4 40 -103 -23 - Gas
1-Butuna C4H6 54 -126 8 - Gas
1-Pentuna C5H8 68 -90 40 0,690 Cair
1-Heksuna C6H10 82 -132 71 0,716 Cair
1-Hepuna C7H12 96 -81 100 0,733 Cair
1-Oktuna C8H14 110 -79 126 0,740 Cair
1-Nonusa C9H16 124 -50 151 0,766 Cair
1-Dekuna C10H18 138 -44 174 0,765 Cair

Sifat kimia
Adanya ikatan rangkap tiga yang dimiliki alkuna memungkinkan terjadinya reaksi adisi,
polimerisasi, substitusi dan pembakaran.
Reaksi adisi pada alkuna.
Reaksi alkuna dengan halogen (halogenisasi)

Perhatikan reaksi di atas, reaksi pada tahap 2 berlaku aturan markonikov.
Reaksi alkuna dengan hidrogen halida
Reaksi di atas mengikuti aturan markonikov, tetapi jika pada reaksi alkena dan alkuna
ditambahkan peroksida maka akan berlaku aturan antimarkonikov. Perhatikan reaksi
berikut:
Reaksi alkuna dengan hidrogen
Polimerisasi alkuna
Substitusi alkuna Substitusi (pengantian) pada alkuna dilakukan dengan menggantikan
satu atom H yang terikat pada C=C di ujung rantai dengan atom lain.
Pembakaran alkuna Pembakaran alkuna (reaksi alkuna dengan oksigen) akan
menghasilkan CO2 dan H2O.
6. Reaksi Alkuna
Reaksi alkuna mirip dengan alkena. Untuk menjenuhkan ikatan rangkapnya, alkuna
membutuhkan pereaksi 2 kali lebih banyak dibandingkan dengan alkena.
a. Reaksi adisi
Alkuna dapat mengalami reaksi adisi dengan hidrogen, halogen, maupun asam halida.
Secara umum maksudnya adalah sebagai berikut .
X Y

R C C R + X Y R C C R

H H H H
Alkuna