Anda di halaman 1dari 4

Uji kandungan Sulfat dalam Urine

Tujuan:
Untuk menganalisis kandungan Sulfat dalam urine.
Dasar teori:
Tubuh mahluk hidup melakukan proses pengeluaran zat sisa-sisa yang dibedakan menjadi:
1. Defekasi (proses pengeluaran zat sisa-sisa hasil pencernaan makanan yang tidak berguna
bagi tubuh berupa feses),
2. Ekskresi (proses pengeluaran zat sisa-sisa hasil metabolisme, misal: CO2, keringat, empedu
dan urine)
3. Sekresi (proses pengeluaran getah oleh kelenjar dan masih digunakan oleh tubuh, misal:
enzim).
Sistem ekresi pada manusia melibatkan alat ekskresi yang terdiri atas ginjal, kulit, hati dan paru-
paru. Setiap alat ekskresi berfungsi mengeluarkan zat sisa-sisa metabolisme yang berbeda, kecuali
air yang dapat diekskresikan melalui semua alat ekskresi.
Telah disebutkan di atas bahwa urine merupakan hasil ekskresi dari ginjal, ginjal menyaring semua
hasil akhir metabolisme dan hasil netralisasi dari zat-zat yang terdapat dalam darah. Berdasarkan
regulasi tekanan osmotik zat-zat yang masih diperlukan oleh tubuh direabsorbsi kembali, diantara air
yang didalamnya tedapat ion-ion yang berguna. Glomerolus pada ginjal menghasilkan urine primer
dari plasma (praurine, ultra filtrat, glomerulum-urine).
Di dalam tubuh dibentuk urine primer. Urine normal terjadi setelah reabsorbsi air dan sebagian
urine primer. Dalam proses reabsorbsi terjadi penyerapan NaCl dan glukosa sampai jumlah tertentu
dan selebihnya diekskresikan melalui urine. Banyaknya urine yang dikeluarkan tiap harinya selama
24 jam sekitar 1,51 dan kadar keringnya 40 50gr warna urine ditentukan oleh urokrom (laktiflafin,
riboflavin dan uroprotein)
Susunan urine normal (dalam gram)
NaCl : 10 15 Ureum : 20 30
K : 2,0 Kreatinin : 1,2
Ca: 0, 2 Asam Ureat : 0,7
Mg : 0,1 Asam Amino : 1,0
S : 0,8 Asam Hirufat : 0,7
P : 1,0 Amonia : 0,7
Selain itu ditemukan juga sulfat, fosfat, aoksalat, vitamin, hormon dan enzim.
Dalam susunan urine normal terdapat sulfat. Sulfat ini terutama berasal dari komposisi asam amino
yang mengandung belerang dari protein yaitu sistem dan metionin. Jadi dengan kata lain banyaknya
sulfat yang terkandung di dalam urine tergantung pada intake protein seseorang. Dimana sulfat ini
terkandung dalam benda padat di dalam urine yang termasuk produk metabolik lain. Dan produk
metabolik lain ini antara lain salah satunya ada yang bernama/disebut Kreatine. Kreatine adalah
hasil buangan kreatin dalam otot. Produk metabolisma lain mencakup benda-benda purine, oxalat,
fosfat, sulfat.

Uji kandungan glukosa dalam urine
Tujuan:
Tujuan dari tes ini adalah untuk mendiagnostik ada atau tidaknya glukosa di dalam urine.
Dasar Teori:
A. Urin
Urin atau air seni adalah cairan yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari
dalam tubuh melalui proses urinasi. Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti
racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-
molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh.
Urin disaring di dalam ginjal, dibawa melalui ureter menuju kandung kemih, dan akhirnya dibuang
keluar tubuh melalui uretra. Urin terdiri dari air dengan bahan terlarut berupa sisa metabolisme
(seperti urea), garam terlarut, dan materi organik. Cairan dan materi pembentuk urin berasal dari
darah atau cairan interstisial (Chernecky and Berger, 2008).
Komposisi urin berubah sepanjang proses reabsorpsi ketika molekul yang penting bagi tubuh, misal
glukosa, diserap kembali ke dalam tubuh melalui molekul pembawa. Cairan yang tersisa
mengandung urea dalam kadar yang tinggi dan berbagai senyawa yang berlebih atau berpotensi
racun yang akan dibuang keluar tubuh. Materi yang terkandung di dalam urin dapat diketahui
melalui urinalisis. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk
tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos Dari urin kita bisa
memantau penyakit melalui perubahan warnanya. (Chernecky and Berger, 2008).
Diabetes adalah suatu penyakit yang dapat dideteksi melalui urin. Urin seorang penderita diabetes
akan mengandung gula yang tidak akan ditemukan dalam urin orang yang sehat. Pemeriksaan
terhadap adanya glukosa dalam urine termasuk pemeriksaan penyaring. Untuk menyatakan
keberadaan suatu glukosa, dapat dilakukan dengan cara yang berbeda- beda. Cara yang tidak
spesifik dapat dilakukan dengan menggunakan suatu zat dalam reagen yang berubah sifat dan
warnanya jika direduksi oleh glukosa. Diantaranya adalah penggunaan reagen fehling yang dapat
dipakai untuk menyatakan adanya reduksi yang mengandung garam cupri. Sedangkan pembuktian
glukosuria secara spesifik dapat dilakukan dengan menggunakan enzim glukosa oxidase (Prasetya,
2011).
B. Glukosa Urin
Darah disaring oleh jutaan nefron, sebuah unit fungsional dalam ginjal. Hasil penyaringan (filtrat)
berisi produk-produk limbah (mis. urea), elektrolit (mis. natrium, kalium, klorida), asam amino, dan
glukosa. Filtrat kemudian dialirkan ke tubulus ginjal untuk direabsorbsi dan diekskresikan; zat-zat
yang diperlukan (termasuk glukosa) diserap kembali dan zat-zat yang tidak diperlukan kembali
diekskresikan ke dalam urin.
Kurang dari 0,1% glukosa yang disaring oleh glomerulus terdapat dalam urin (kurang dari 130 mg/24
jam). Glukosuria (kelebihan gula dalam urin) terjadi karena nilai ambang ginjal terlampaui (kadar
glukosa darah melebihi 160-180 mg/dl atau 8,9-10 mmol/l), atau daya reabsorbsi tubulus yang
menurun.
C. Uji Glukosa Konvensional
Uji glukosa urin konvensional menggunakan pereaksi Benedict atas dasar sifat glukosa sebagai zat
pereduksi. Cara ini tidak spesifik karena beberapa pereduksi lain dapat mengacaukan hasil uji.
Beberapa gula lain bisa menyebabkan hasil uji reduksi positif misalnya fruktosa, sukrosa, galaktosa,
pentose, laktosa, dsb. Beberapa zat bukan gula yang dapat mengadakan reduksi seperti asam
homogentisat, alkapton, formalin, glukoronat. Pengaruh obat : streptomisin, salisilat kadar tinggi,
vitamin C, dsb.
Metode carik celup (dipstick) dinilai lebih bagus karena lebih spesifik untuk glukosa dan waktu
pengujian yang amat singkat. Reagen strip untuk glukosa dilekati dua enzim, yaitu glukosa oksidase
(GOD) dan peroksidase (POD), serta zat warna (kromogen) seperti orto-toluidin yang akan berubah
warna biru jika teroksidasi. Zat warna lain yang digunakan adalah iodide yang akan berubah warna
coklat jika teroksidasi.
Prosedur uji yang akan dijelaskan di sini adalah uji dipstick. Kumpulkan spesimen acak (random)/urin
sewaktu. Celupkan strip reagen (dipstick) ke dalam urin. Tunggu selama 60 detik, amati perubahan
warna yang terjadi dan cocokkan dengan bagan warna. Pembacaan dipstick dengan instrument
otomatis lebih dianjurkan untuk memperkecil kesalahan dalam pembacaan secara visual.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi hasil uji dipstick adalah :
Hasil uji positif palsu dapat disebabkan oleh : bahan pengoksidasi (hidrogen peroksida, hipoklorit,
atau klorin) dalam wadah sampel urin, atau urine yang sangat asam (pH di bawah 4)
Hasil negatif palsu dapat disebabkan oleh : pengaruh obat (vitamin C, asam hogentisat, salisilat
dalam jumlah besar, asam hidroksiindolasetat), berat jenis urine > 1,020 dan terutama bila disertai
dengan pH urine yang tinggi, adanya badan keton dapat mengurangi sensitivitas pemeriksaan,
infeksi bakteri.
D. Tes Glukosa Urin
Tes glukosa urin dapat dilakukan dengan menggunakan reaksi reduksi, dikerjakan dengan
menggunakan fehling, benedict, dan clinitest. Ketiga jenis tes ini dapat digolongkan dalam jenis
pemeriksaan semi-kuantitatif. Sedangkan tes glukosa dengan reaksi enzimatik dilakukan dengan
metode carik celup yang tergolong dalam pemeriksaan semi-kuantitatif dan kuantitatif
(Subawa.2010). Pereaksi fehling terdiri dari dua bagian, yaitu fehling A dan fehling B. Fehling A
adalah larutan CuSO4, sedangkan fehling B merupakan campuran larutan NaOH dan kalium natrium
tartrat. Pereaksi fehling dibuat dengan mencampurkan kedua larutan tersebut, sehingga diperoleh
suatu larutan yang berwarna biru tua. Dalam pereaksi fehling, ion Cu2+ terdapat sebagai ion
kompleks. Pereaksi fehling dapat dianggap sebagai larutan CuO (Anonim, 2010).
Pada praktikum ini diketahui bahwa tabung A dan B menunjukkan hasil positif terkandungnya
glukosa dalam sampel urine. Dalam suasana alkali, glukosa mereduksi kupri menjadi kupro kemudian
membentuk Cu2O yang mengendap dan berwarna merah. Perbedaan intensitas warna merah dari
tiap tabung tersebut secara kasar menunjukkan kadar glukosa dalam urine yang diperiksa.
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa tabung B mengandung glukosa dengan kadar
tertinggi yang ditunjukkan dengan terjadinya perubahan warna dari biru tua (warna fehling A dan B)
menjadi kuning kemerahan dean terdapat endapan kuning merah. Dilanjutkan dengan tabung A
dengan warna kuning kehijauan dengan endapan kuning. Sedangkan tabung C tidak menunjukkan
terjadinya perubahan warna, yakni tetap berwarna biru tua seperti warna larutan fehling A dan B
sebelum dipanaskan.
Hal ini telah sesuai secara teoritis, dimana sampel yang digunakan pada tabung ketiga merupakan
sampel urine normal, sehingga tidak terjadi perubahan warna pada uji fehling yang menunjukkan
tidak adanya glukosa dalam sampel tersebut. Berikut ini adalah reaksi antara aldehid dengan fehling
yang menghasilkan endapan merah bata .
Pada orang normal tidak ditemukan adanya glukosa dalam urin. Glukosuria dapat terjadi karena
peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi kapasitas maksimum tubulus untuk
mereabsorpsi glukosa. Hal ini dapat ditemukan pada kondisi diabetes mellitus, tirotoksikosis,
sindroma Cushing, phaeochromocytoma, peningkatan tekanan intrakranial atau karena ambang
rangsang ginjal yang menurun seperti pada renal glukosuria, kehamilan dan sindroma Fanconi
(Wirawan dkk, tt).
Namun reduksi positif tidak selalu berarti pasien menderita Diabetes Melitus. Hal ini dikarenakan
pada penggunaan cara reduksi dapat terjadi hasil positif palsu pada urin yang disebabkan karena
adanya kandungan bahan reduktor selain glukosa. Bahan reduktor yang dapat menimbulkan reaksi
positif palsu tersebut antara lain : galaktosa, fruktosa, laktosa, pentosa, formalin, glukuronat dan
obat-obatan seperti streptomycin, salisilat, dan vitamin C. Oleh karena itu perlu dilakukan uji lebih
lanjut untuk memastikan jenis gula pereduksi yang terkandung dalam sampel urine. Hal ini
dikarenakan hanya kandungan glukosa yang mengindikasikan keberadaan penyakit diabetes.
Penggunaan cara enzimatik lebih sensitif dibandingkan dengan cara reduksi. Cara enzimatik dapat
mendeteksi kadar glukosa urin sampai 100 mg/dl, sedangkan pada cara reduksi hanya sampai 250
mg/dl. Nilai ambang ginjal untuk glukosa dalam keadaan normal adalah 160-180 mg % (Wirawan
dkk, tt).