Anda di halaman 1dari 3

7/13/2014 HUBUNGAN ILMU DAN MORAL | FILSAFAT ILMU

http://ilmufilsafat.wordpress.com/2012/05/21/hubungan-ilmu-dan-moral/ 1/3
FILSAFAT ILMU
SCIENCE EDUCATION AS A BRANCH OF PHILOSOPHY
HUBUNGAN ILMU DAN MORAL
21 MEI
Hubungan Ilmu dan Moral
Ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secaraterbuka oleh
masyarakat.(Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu, 1990, hal. 237). Jikalau hasil penemuan
perseorangan tersebut memenuhi syarat-syarat keilmuan maka ia akan diterimasebagai bagian dari
kumpulan ilmu pengetahuan dan dapat digunakan dalam masyarakat.
Moral merupakan tekad manusia untuk menemukan kebenaran, sebab untuk menemukan
kebenaran dan terlebih-lebih lagi untuk mempertahankan kebenaran, diperlukankeberanian moral.
Moral berkaitan dengan metafisika keilmuan maka masalah moral berkaitan dengan cara
penggunaan pengetahuan ilmiah. (Jujun S. Suriasumantri, FilsafatIlmu, 1990, hal. 234 235).
Pada kenyataan sekarang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia sangattergantung
kepada ilmu dan teknologi. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan maka pemenuhankebutuhan
hidup manusia dapat dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah. Dengandiciptakannya
peralatan teknologi dibidang kesehatan, transportasi, pendidikan dankomunikasi, maka
mempermudah manusia dalam menyelesaikan pekerjaan untuk pemenuhankebutuhan hidupnya.
Namun dalam kenyataan apak ilmu selalu merupakan berkah, terbebasdari hal-hal negatif yang
membawa malapetaka dan kesengsaraan?
Sejak dalam tahap pertumbuhannya ilmu sudah dikaitkan dengan tujuan perang.Ilmu bukan saja
digunakan untuk mengusai alam melainkan juga untuk memerangi sesamamanusia dan mengusai
mereka. Teknologi tidak lagi berfungsi sebagai sarana yangmemberikan kemudahan bagi
kehidupan manusia melainkan dia berada untuk tujuaneksistensinya sendiri.
Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan yang mempengaruhireproduksi dan
penciptaan manusia itu sendiri. Jadi bukan saja menimbulkan gejaladehumanisasi namun bahkan
kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu bukan
lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapaitujuan hidupnya, namun bahkan
kemungkinan mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri,atau dengan perkataan lain ilmu bukan
lagi merupakan sarana yang membantu manusiamencapai tujuan hidupnya, namun juga
menciptakan tujuan hidup itu sendiri. Jujun S.Suriasumantri, Filsafat Ilmu, 1990, hal. 231).
http://blog.unsri.ac.id/afrizalhasbi/welcome/ilmu-dan-moral-tanggung-jawab-sosial-ilmuwan-
revolusi-genetika/mrdetail/16941/ (http://blog.unsri.ac.id/afrizalhasbi/welcome/ilmu-dan-moral-
tanggung-jawab-sosial-ilmuwan-revolusi-genetika/mrdetail/16941/)
Sejak saat pertumbuhannya ilmu sudah terkait dengan masalah-masalah moralnamun dalam
perspektif. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentangkesemestaan alam dan
menemukan bahwa bumi yang mengelilingi mataharidan bukansebaliknya seperti yang
dinyatakan oleh ajaran agama, maka timbullah interaksi antara ilmudan moral (yang bersumber
pada ajaran agama). Dari hal tersebut timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik
ini yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Pengadilan inkuisisi
7/13/2014 HUBUNGAN ILMU DAN MORAL | FILSAFAT ILMU
http://ilmufilsafat.wordpress.com/2012/05/21/hubungan-ilmu-dan-moral/ 2/3
Galileo ini selama kurang lebih dua setengah abadmempengaruhi proses perkembangan berfikir di
Eropa, pada dasarnya mencerminkan pertarungan antara ilmu yang terbebas dari nilai-nilai diluar
bidang keilmuan dan ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan yang ingin menjadikan nilai-nilainya
sebagai penafsiranmetafisik keilmuan.Dalam kurun ini para ilmuwan berjuang untuk menegakkan
ilmu yang berdasarkan penafsiran alam sebagaimana adanya dengan semboyan: Ilmu yang Bebas
Nilai! Setelah pertarungan kurang lebih dua ratus lima puluh tahun maka para ilmuwan
mendapatkankemenangan. Setelah saat itu ilmu memperoleh otonomi dalam melakukan
penelitiannyadalam rangka mempelajari alam sebagaimana adanya.
Dalam perkembangan selanjutnya ilmu dan teknologi tidak selamanya berjalansesuai dengan yang
diharapkan yaitu dalam rangka mensejahterakan kehidupan manusia.Masalah teknologi telah
mengakibatkan proses dehumanisasi. Dari perkembangan ilmu danteknologi dihadapkan dengan
moral, para ilmuwan terbagi ke dalam dua golongan pendapat.Golongan pertama ingin
melanjutkan tradisi kenetralan ilmu secara total seperti pada eraGalileo sedangkan golongan kedua
mencoba menyesuaikan kenetralan ilmu secara pragmatis berdasarkan perkembangan ilmu dan
masyarakat. Golongan kedua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal yakni: (1) Ilmu secara
faktual telah dipergunakan secara destruktif olehmanusia yang dibuktikan dengan adanya dua
perang dunia yang mempergunakan teknologi-teknologi keilmuan; (2) Ilmu telah berkembang
dengan pesat dan makin esoterik sehinggakaum ilmuwan lebih mengatahui tentang ekses-ekses
yang mungkin terjadi bila terjadi penyalagunaan; dan (3) Ilmu telah berkembang sedemikian rupa
di mana terdapatkemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang
paling hakikiseperti pada kasus revolusi genetika dan teknik perubahan sosial
(sosial engineering).
Berdasarkan ketiga hal ini maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmu secara moral
harusditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah
hakikatkemanusiaan.
You May Like
1.
Tinggalkan komentar
Posted by ilmufilsafat pada Mei 21, 2012 in HUBUNGAN ILMU DAN MORAL
Blog pada WordPress.com. The Choco Theme.
Entri (RSS) dan Komentar (RSS)
About these ads (http://en.wordpress.com/about-
these-ads/)
7/13/2014 HUBUNGAN ILMU DAN MORAL | FILSAFAT ILMU
http://ilmufilsafat.wordpress.com/2012/05/21/hubungan-ilmu-dan-moral/ 3/3
Ikuti
Follow FILSAFAT ILMU
Ditenagai oleh WordPress.com