Anda di halaman 1dari 14

Pendahuluan

Batuk rejan atau pertusis telah diketahui sejak abad ke-16. Organisme pe
nyebab, Bordetella pertussis, telah diisolasi pada tahun 1906 oleh Bordet dan Ge
ngou. Oleh karena batuk rejan merupakan penyakit anak yang berat, pembuatan vaks
in segera dilakukan. Namun, diperlukan beberapa tahun usaha dan banyak uji coba
vaksin sebelum ditemukan vaksin yang efektif. Pada tahun 1944, American Medical
Association mengesahkan pemakaian vaksin pertusis kesuluruhan-sel (whole-cell).
Pada bulan Desember 1991, Food and Drug Administration melisensikan penggunaan s
uatu vaksin pertusis aseluler di Amerika Serikat untuk dosis keempat dan ke lima
DPT.1 Program imunisasi yang luas selama lebih dari 50 tahun terakhir secara dr
amatis menurunkan jumlah pertusis dan kematian di banyak negara. Namun, pertusis
masih merupakan penyakit yang mematikan.
Dalam scenario ini membahas mengenai seorang anak laki-laki berusia 5 tahun yang
dibawa oleh ibunya ke poliklinik karena batuk sejak 2 minggu yang lalu. Anak it
u datang tanpa disertai keluhan lain. Pada pemeriksaan fisik, anak tampak sakit
ringan. Suhu 37,2 0C, frekuensi nafas dan tekanan nadi juga didpat normal. Namun
, pada anak terdapat conjuctive hemorrhage pada kedua mata. Dalam makalah ini ak
an dibahas mengenai penyakit pertusis yang diduga diderita oleh anak tersebut,ba
ik dari segi anamnesis,etiologi (penyebab), sampai pada komplikasi. Pada akhir m
akalah akan diberikan kesimpulan mengenai pembahasan dan scenario yang ada.
Anamnesis
Untuk mengetahui apa yang terjadi pada seorang pasien,langkah anamnesis
sangatlah dibutuhkan sebagai langkah awal untuk dapat membuat perkiraan awal men
genai apa yang sebenarnya terjadi dan yang sedang dialami oleh pasien. Dalam mel
akukan anamnesis, sangat perlu dilakukan dengan baik dan benar karena bagi seora
ng dokter dari anamnesis apabila dilakukan dengan baik dan benar akan dapat mene
gakkan diagnosis hingga mencapai kurang lebih 70% penyakit yang dialami oleh pas
ien tersebut. Dalam melakukan anamnesis perlu dilakukan sesuai dengan gejala yan
g dialami oleh pasien, sehingga dengan kata lain pertanyaan-pertanyaan yang dita
nyakan haruslah berhubungan dengan apa yang dirasakan oleh pasien. Dalam melaku
kan langkah ini, disarankan dokter harus mempunyai kompetensi yang baik dalam me
ngerti gejala-gejala yang timbul dari setiap penyakit.
Yang perlu ditanyakan pada pasien yang mengalami pertusis seperti pada s
cenario ini, contohnya sebagai berikut :
- Keluhan Utama
- Riwayat Penyakit Sekarang
- Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat Penyakit Keluarga
= Keluarga yang tinggal bersama pasien saat ini apakah ada yang menderita penyak
it seperti ini.
- Riwayat Pengobatan
- Riwayat Alergi
- Kebiasaan hidup pasien
- Dll.
Namun beberapa hal yang perlu diutamakan dalam menganamnesis pasien adalah denga
n beberapa hal berikut ini :
1. Riwayat alergi dalam keluarga, gangguan genetic.
2. Riwayat pasien dengan disfungsi pernapasan sebelumnya, bukti terbaru penulara
n terhadap infeksi, allergen/iritan lain, trauma.
3. Adanya kontak dengan penderita pertusis.
4. Riwayat vaksinasi.
Dengan melakukan anamnesis dengan baik, kita dapat kurang lebih 70% menentukan d
iagnosis penyakit apa yang diderita oleh pasien. Namun karena pasien yang datang
masih merupakan anak kecil, maka lebih baik kita melakukan Allo anamnesis denga
n menanyakan kepada ibunya daripada Auto anamnesis.
Pemeriksaan Fisik
Yang lebih diutamakan dalam pemeriksaan fisik pada pasien yang diduga menderita
penyakit pertusi ini, pemeriksaaan fisik dilakukan dengan melakukannya pada bagi
an dada pasien. Sebelum melakukan pemeriksaan dada, hal mutlak perlu diketahui a
dalah gambaran permukaan paru-paru dan titik-titik petunjuk yang diidentifikasi
secara klinis. Sebelum melakukan langkah-langkah konvensional seperti inspeksi,
palpasi, perkusi, dan auskultasi, perlu dilakukan tiga langkah berikut ini.2
- Observasi pola pernafasan
= ekspirasi memanjang, mengi ekspiratorik, stridor, dsb.
- Pemeriksan pot sputum
= sputum berwarna hijau atau kuning menunjukkan ada infeksi (sejumlah besar oesi
nofil pada penyakit paru akibat alergi dapat juga menyebabkan warna sputum). Jum
lah sputum yang banyak menyebabkan ada bronkiektasis atau kavitas paru berhubung
an dengan jalan nafas. Sputum mukoid (encer) dapat ditemukan pada edema paru ber
at, asma, dan pneumonia akibat virus tanpa komplikasi. Sputum yang berbau busuk
menunjukkan adanya infeksioleh bakteri anaerob.
- Batuk yang disengaja
= pasien diminta untuk batuk dan kita perhatikan karakteristik batuknya.
A. Inspeksi
Amati pola sesak nafas dan frekuensi pernafasan , serta warna tubuh pasien.
- Sianosis
Sianosis adalah warna kebiru-biruan yang dapat bersifat sentral atau perifer dal
am hal distribusinya. Sianosis sentral paling baik diidentifikasi dengan mengama
ti lidah dalam keadaan sentral dan hangat, tidak dapat terjadi pada sianosis per
ifer. Sianosis dapat terjadi jika saturasi oksigen darah yang meninggalkan paru
sekitar 75 % atau kurang. Sebaliknya sianosis perifer (tanpa sianosis sentral) m
enunjukkan kegagalan sianosis perifer, yaitu ketika hemoglobin di dalam sel dara
h merah yang bersirkulasi lambat secara bermakna mengalami deoksigenasi lebih be
sar dari keadaan normal sehingga menyebabkan sianosis. Penyebab sianosis perifer
lebih sering ditimbulkan kegagalan sirkulasi ketimbang akibat penyakit pernafas
an. Penyakit sianosis sentral (akibat darah terdesaturasi yang didistribusikan m
elalui system arteri), antara lain asfiksia, hipoventilasi, gangguan hantaran ok
sigen melewati paru atau pirau vena ke arteri.
- Kedalaman, frekuensi, dan karakter pernafasan
Perhatikan apakah pasien menggunakan otot-otot pernafasan tambahan yang tidak la
zim (mis.otot sternomastoid) untuk mempertahankan ventilasi paru yang adekuat, a
tau apakah terdapat ekspansi dinding dada yang abnormal yang menunjukkan bahwa o
tot-otot perut harus digunakan untuk bernafas. Jika pergerakan dada tidak simetr
is atau berkurang pada salah satu sisi, sisi yang mengalami gangguan hampir sela
lu merupakan sisi dengan pergerakan yang berkurang. Adanya penyakit saluran nafa
s obstruktif kronik perlu dicurigai jika dada pasien terlihat berbentuk seperti
tong (barrel chest).
- Tanda yang lain
Tanda lain yang dapat ditemukan antara lain, jari tabuh (clubbing) atau perbesar
an kelenjar getah bening dan sindrom Horner (ptosis unilateral, pupil kecil, bol
a mata agak cekung dan tidak ada keringat).
B. Palpasi
- Posisi mediastinum
Posisi mediastinum harus ditentukan dengan memastikan bahwa trakea dan denyut ap
eks berada dalam posisi yang normal (trakeal agak sedikit ke kanan dari garis te
ngah dan denyut peks berada pada ruang interkostal kelima pada garis midklavikul
a). Jika terdapat obstruksi jalan nafas, trakea akan bergerak kea rah bawah pada
inspirasi.
- Gerakan Pernafasan
Gerakan pernafasan di seluruh daerah dada harus diperiksa, bandingkan sisi kanan
dan sisi kiri. Untuk mengetahui ada tidaknya ketidaksimetrisan gerakan dada, le
takkan kedua tangan secara simetris pada keddua sisi dada pasien, yaitu jari jem
ari berada di atas kedua sisi yang dibandingkan. Kemudian, berkonsentrasilah unt
uk merasakan pergerakan dada.
- Memeriksa bunyi udara
Fremitus vocal taktil merupakan cara pemeriksaan bunyi suara dengan perabaan tan
gan : resonansi vocal (biasanya digunakan stetoskop untuk mendapatkan bunyi suar
a yang sama) memberikan hasil yang sama.
C. Perkusi
Perkusi merupakan suatu metode pemeriksaan keadaan jaringan yang terletak di baw
ahnya melalui kualitas suara yang dihasilkan. Cara yang paling efektif untuk men
ghasilkan suara yang sempurna adalah dengan mengetuk titik tengah jari tengan ta
ngann kiri (tepat di sebelah distal sendi interfalang proksimal) dengan bagian u
jung jari tengah tangan kanan. Hasil perkusi :2
- Nada resonan di atas paru normal
- Nada hiperresonan di atas udara (pada pneumothoraks)
- Nada tumpul berfrekuensi rendah di atas paru yang mengalami konsolidasi
- Frekuensi yang sangat rendah (pekak) di atas cairan
Perkusi paling baik dilakukan dengan jari yang terletak di sepanjang sela iga ka
rena perbedaan akan mudah terdengar antara nada perkusi yang dilakukan di atas i
ga dan nada perkusi yang dilakukan di antara iga. Jangan pernah lupa melakukan p
erkusi pada fossa supraklavikular dan klavikula, yang merupakan tempat predispos
isi terbentuknya kompleks tuberculosis sekunder.
D. Auskultasi
Lokasi auskultasi harus sama dengan lokasi perkusi, dan jangan melupakan daerah
fossa supraklavikular. Resonansi vocal diperoleh dengan meminta pasien untuk men
gatakan 99. Pada keadaan konsolidas, bunyi 99 akan meningkat volumenya dibandingkan
keadaan normal, tetapi akan berkurang pada keadaan dimana terdapat cairan pleur
a, pneumotoraks, atau penebalan pleura. Bunyi bisik pectoriloquy dapat juga dite
mukan.

Secara kesuluruhan pemeriksaan fisik yang diperoleh pada penderita pertusis, ada
lah sebaagi berikut :
a. Aktivitas / istirahat
= Gangguan istirahat tidur, malaise, lesu, pucat, lingkar mata kehitam-hitaman.
b. Sirkulasi
= Tekanan darah normal / sedikit menurun, takikardi, peningkatan suhu.
c. Ekskresi
= BAB dan BAK normal , BB menurun, turgor kulit kurang, membrane mukosa kering.
d. Makanan dan cairan
= Sakit kepala, pusing, gelisah
e. Nyeri / kenyamanan
= Batuk pada malam hari dan memberat pada siang hari, mata tampak menonjol, waja
h memerah / sianosis, lidah terjulur dan pelebaran vena leher saat serangan batu
k.
f. Pernafasan
= - Batuk Pilek
- Bunyi nyaring (whoop) saat inspirasi.
- Penumpukan lender pada trachea dan nasopharing
- Penggunaan otot aksesorus pernafasan.
- Sputum atau lender kental.
Oleh karena pertusis mempunyai gejala-gejala yang mirip dengan penyakit lain, ma
ka kali ini pertusis di diagnosis banding dengan penyakit bronchitis akut kronik
serta tuberculosis paru pada anak.
Sehingga pada penderita bronchitis akut dan kronik yang terdapat pada pemeriksaa
n fisik adalah sebagai berikut :
= ditemukan demam
= bunyi nafas yang memanjang pada ekspirasi dengan mengi yang simetris bilateral
, serta terdengar ronki basah.
= terdapat batuk berulang disertai pengeluaran dahak yang menetap lebih dari 3 b
ulan setiap tahun selama minimum 2 tahun.
= fungsi respiratorik menurun
= terjadinya sianosis, terkadang mengalami hiperventilasi (pink puffers) tapi ad
a juga yang tidak (blue bloaters).
= jika terdapat retensi karbondioksida, dapat ditemukan flapping tremor pada tan
gan yang direntangkan.
= ekstremitas perifer teraba hangat disertai denyut nadi yang kuat akibat vasodi
latasi yang diinduksi oleh karbondioksida.
= Batuk-batuk lama
= Kalau lanjut terdengar ronki kering atau basah.
Ada beberapa bentuk yaitu :2
1.Pink Puffing (PP) = Tipe A = Tipe empisema
- Tampak merah muda
- Orangnya kurus
- Batuk
- Kor pulmonale
- Sesak napas
2.Blue Bloating Bronchitis (BB) = Tipe B = Tipe Bronkitis
- Tampak sianosis
- Orangnya gemuk
- Batuk
- Kelemahan jantung
- Umumnya tidak sesak
Sedangkan pada penderita tuberculosis, yang terdapat pada pemeriksaan fisik adal
ah sebagai berikut :
= demam ringan
= anoreksia
= semuanya bersifat tidak khas, tidak ada gejala lain yang menyertai.
Sehingga untuk mendiagnosis tuberculosis diperlukan pemeriksaan tambahan yaitu b
erupa pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan Penunjang
- Pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk membantu mendiagnosis penyakit pertusis
adalah sebagai berikut :
a) Pembiakan lendir hidung dan mulut.
b) Pembiakan apus tenggorokan.
c) Pembiakan darah lengkap (terjadi peningkatan jumlah sel darah putih yang dita
ndai sejumlah besar limfosit, jumlah leukosit antara 20.000-50.000 sel / mdarah)
d) Pemeriksaan serologis untuk Bordetella pertusis.
e) Tes ELISA (Enzyme Linked Serum Assay) untuk mengukur kadar secret Ig A.
f) Foto roentgen dada memeperlihatkan adanya infiltrate perihilus, atelaktasis a
tau emphysema
Sedangkan pada bronchitis akut dan kronik tidak terdapat pemeriksaan laboratoriu
m yang spesifik. Penigkatan jumlah granulosit polimorfonukleus di sputum sering
memperkuat iritasi bronkus, dimana jumlah eosinofil menunjukkan komponen alergi.
Pemeriksaan khusus adalah rontgen foto dada :
1.Sekitar 50% member gambaran normal
2.Tubular shadows tram lines : Bayangan garis-garis paralel dari hilus ke apeks
paru.
3.Corakan paru bertambah bronkovaskuler yang ramai di basal paru dan pada emfis
ema terdapat bayangan lebih radiolusen.
Pemeriksaan fungsi paru menunjukkan penurunan kapasitas vital (VC) dan volume ek
spirasi kuat (FEV ; jumlah udara yang diekshalasi) dan peningkatan volume residu
al (RV ; udara yang tersisa dalam paru-paru setelah ekshalasi maksimal), dengan
kapasitas paru total (TLC) normal atau sedikit meningkat. Hematokrit dan hemaglo
bin dapat sedikit meningkat. Analisa gas darah dapat menunjukkan hipoksia dengan
hiperkapnia. Rontgen dada mungkin menunjukkan perbesaran jantung dengan diafrag
ma normal atau mendatar. Konsolidasi dalam bidang paru mungkin juga terlihat.
Pada penderita penyakit tuberculosis paru, pemeriksaan laboratorium yang dilakuk
an adalah sebagai berikut :
-Uji mantoux atau Tuberkulin
Ada 2 macam tuberkulin yaitu Old tuberkulin dan Purified Protein Derivat (PPD).
Caranya adalah dengan menyuntikkan 0,1 ml tuberkulin PPD intrakutan di volar len
gan bawah. Hasilnya dapat dilihat 48 72 jam setelah penyuntikan. Berniai positi
f jika indurasi lebih dari 10 mm pada anak dengan gizi baik atau lebih dari 5 mm
pada anak dengan gizi buruk.
-Reaksi cepat BCG
Bila dalam penyuntikan BCG terjadi reaksi cepat (dalam 3-7 hari) berupa kemeraha
n lebih dari 5 mm, maka anak dicurigai terinfeksi Mycobaterium tbc.
-Laju Endap Darah
Pada TB, terdapat kenaikan Laju Endap Darah (LED).
Pemeriksaan mikrobiologis
Pemeriksaan BTA pada anak dilakukan dari bilasan lambung karena sulitnya menggun
akan hasil dahak. Pemeriksaan BTA cara baru seperti: PCR (Polymerase Chain React
ion), Bactec, ELISA, PAP dan Mycodots masih belum banyak dipakai dalam klinis pr
aktis.
Pemeriksaan Radiologis
Gambaran x-foto dada pada TB paru tidak khas
Paling mungkin kalau ditemukan pembesaran kljr hilus dan klj paratrakeal
Foto lain: milier, atelektasis, infiltrat, bronkiektasis, kavitas, kalsifikasi,
efusi pleura, konsolidasi, destroyed lung dan lain-lain.
PERTUSIS
Pertusis adalah suatu infeksi akut saluran nafas yang mengenai setiap pejamu yan
g rentan, tetapi paling sering dan serius pada anak-anak. (Behrman, 1992). Defin
isi Pertusis lainnya adalah penyakit infeksi akut pada saluran pernafasan yang s
angat menular dengan ditandai oleh suatu sindrom yang terdiri dari batuk yang be
rsifat spasmodic dan paroksismal disertai nada yang meninggi. (Rampengan, 1993).
Penyakit ini ditandai dengan demam dan perkembangan batuk semakin berat. Batuk
adalah gejala khas dari batuk rejan atau pertusis. Seranagn batuk terjadi tiba-
tiba dan berlanjut terus tanpa henti hingga seluruh udara di dalam paru-paru ter
buang keluar. Akibatnya saat napas berikutnya pasien pertusis telah kekurangan u
dara shingga bernapas dengan cepat, suara pernapasan berbunyi separti pada bayi
yang baru lahir berumur kurang dari 6 bulan dan pada orang dewasa bunyi ini seri
ng tidak terdengar. Batuk pada pertusis biasanya sangat parah hingga muntah-munt
ah dan penderita sangat kelelahan setelah serangan batuk.
Etiologi
Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis atau Hemopilus pertusis.
Bordetella pertusis adalah suatu kuman yang kecil ukuran 0,5-1 um dengan diamete
r 0,2-0,3 um , ovoid kokobasil, tidak bergerak, gram negative , tidak berspora,
berkapsul dapat dimatikan pada pemanasan 50C tetapi bertahan pada suhu tendah 0-
10C dan bisa didapatkan dengan melakukan swab pada daerah nasofaring penderita p
ertusis yang kemudian ditanam pada media agar Bordet-Gengou.
Adapun ciri-ciri organisme ini antara lain :3
1. Berbentuk batang (coccobacilus)
2. Tidak dapat bergerak
3. Bersifat gram negative.
4. Tidak berspora, mempunyai kapsul
5. Mati pada suhu 55 C selama jam, dan tahan pada suhu rendah (0- 10 C)
6. Dengan pewarnaan Toluidin blue, dapat terlihat granula bipolar metakromatik
7. Tidak sensitive terhadap tetrasiklin, ampicillin, eritomisisn, tetapi resiste
n terhdap penicillin
8. Menghasilkan 2 macam toksin antara lain :
a. Toksin tidak yahan panas (Heat Labile Toxin)
b. Endotoksin (lipopolisakarida)
Epidemiologi
Tersebar diseluruh dunia . ditempat tempat yang padat penduduknya dan dapat beru
pa endemic pada anak. Merupakan penyakit paling menular dengan attack rate 80-10
0 % pada penduduk yang rentan. Bersifat endemic dengan siklus 3-4 tahun antara j
uli sampai oktober sesudah akumulasi kelompok rentan, Menyerang semua golongan
umur yang terbanyak anak umur , 1tahun, perempuan lebih sering dari laki laki, m
akin muda yang terkena pertusis makin berbahaya.3 Insiden puncak antara 1-5 tah
un, dengan persentase kurang dari satu tahun : 44%, 1-4 tahun : 21%, 5-9 tahun :
11%, 12 tahun lebih: 24% ( Amerika tahun 1993).
Patofisiologi
Bordetella pertusis diitularkan melalui sekresi udara pernapasan yang kemudian m
elekat pada silia epitel saluran pernapasan. Basil biasanya bersarang pada sili
a epitel thorak mukosa, menimbulkan eksudasi yang muko purulen, lesi berupa nekr
osis bagian basal dan tengah epitel torak, disertai infiltrate netrofil dan makr
ofag. Mekanisme patogenesis infeksi Bordetella pertusis yaitu perlengketan, perl
awanan, pengerusakan local dan diakhiri dengan penyakit sistemik.
Perlengketan dipengaruhi oleh FHA ( filamentous Hemoglutinin), LPF (lymphositosi
s promoting factor), proten 69 kd yang berperan dalam perlengketan Bordetella p
ertusis pada silia yang menyebabkan Bordetella pertusis dapat bermultipikasi dan
menghasilkan toksin dan menimbulkan whooping cough. Dimana LFD menghambat migra
si limfosit dan magrofag didaerah infeksi. Perlawanan karena sel target da limfo
sist menjadi lemah dan mati oleh karena ADP (toxin mediated adenosine disphospha
te) sehingga meningkatkan pengeluaran histamine dan serotonin, blokir beta adren
ergic, dan meningkatkan aktivitas isulin.
Sedang pengerusakan lokal terjadi karena toksin menyebabkan peradangan ringan di
sertai hyperplasia jaringan limfoid peribronkial sehingga meningkatkan jumlah mu
cus pada permukaan silia yang berakibat fungsi silia sebagai pembersih akan terg
anggu akibatnya akan mudah terjadi infeksi sekunder oleh sterptococos pneumonia,
H influenzae, staphylococos aureus. Penumpukan mucus akan menyebabkan plug yan
g kemudian menjadi obstruksi dan kolaps pada paru, sedang hipoksemia dan sianosi
s dapat terjadi oleh karena gangguan pertukaran oksigen saat ventilasi dan menim
bulkan apneu saat batuk. Lendir yang terbentuk dapat menyumbat bronkus kecil seh
ingga dapat menimbulkan emfisema dan atelektasis. Eksudasi dapat pula sampai ke
alveolus dan menimbulkan infeksi sekunder, kelaina paru itu dapat menimbulkan br
onkiektasis.
Cara penularan:4
Penyakit ini dapat ditularkan penderita kepada orang lain melalui percikan-perci
kan ludah penderita pada saat batuk dan bersin. Dapat pula melalui sapu tangan,
handuk dan alat-alat makan yang dicemari kuman-kuman penyakit tersebut. Tanpa di
lakukan perawatan, orang yang menderita pertusis dapat menularkannya kepada oran
g lain selama sampai 3 minggu setelah batuk dimulai.
Manifestasi Klinis
Masa inkubasi 7-14 hari, penyakit berlangsung 6-8 minggu atau lebih dan berlangs
ung dalam 3 stadium yaitu :4
- Stadium kataralis / stadium prodomal / stadium pro paroksimal
Berlangsung selama 1-2 minggu. Gejala permulaannya yaitu timbulnya gejala infeks
i saluran pernafasan bagian atasyaitu timbulnya rinore dengan lender yang jernih
. Gejala dan tanda-tanda yang lain adalah sebagai berikut :
1) Kemerahan konjungtiva, lakrimasi
2) Batuk dan panas ringan
3) Anoreksia kongesti nasalis
Pada tahap ini kuman paling mudah di isolasi. Selama masa ini penyakit sulit dib
edakan dengan common cold. Batuk yang timbul mula-mula malam hari, siang hari me
njadi semakin hebat, sekret pun banyak dan menjadi kental dan lengket.
- Stadium paroksimal / stadium spasmodic
Berlangsung selama 2-4 minggu. Selama stadium ini batuk menjadi hebat ditandai o
leh whoop (batuk yang bunyinya nyaring) sering terdengar pada saat penderita men
arik nafas pada akhir serangan batuk. Batuk dengan sering 5 10 kali, selama batu
k anak tak dapat bernafas dan pada akhir serangan batuk anak mulai menarik nafas
denagn cepat dan dalam. Sehingga terdengar bunyi melengking (whoop) dan diakhir
i dengan muntah. Batuk ini dapat berlangsung terus menerus, selama beberapa bula
n tanpa adanya infeksi aktif dan dapat menjadi lebih berat.
Selama serangan, wajah merah, sianosis, mata tampak menonjol, lidah terjulur, la
krimasi, salvias dan pelebaran vena leher. Batuk mudah dibangkitkan oleh stress
emosional missal menangis dan aktifitas fisik (makan, minum, bersin dll)
- Stadium konvaresens
Terjadi pada minggu ke 4 6 setelah gejala awal. Gejala yang muncul antara lain :
a. batuk berkurang
b. nafsu makan timbul kembali, muntah berkurang
c. anak merasa lebih baik
d. pada beberapa penderita batuk terjadi selama berbulan-bulan akibat gangguan p
ada saluran pernafasan.
Penatalaksanaan
Non Medika Mentosa
Penatalaksanaan pada penderita pertusis adalah sebagai berikut :3
1) Lingkungan perawatan penderita yang tenang.
2) Pemberian makanan, hindari makanan yang sulit ditelan, sebaiknya makanan cair
, bila muntah diberikan cairan dan elektrolit secara parenteral.
3) Pembersihan jalan nafas.
4) Pemberian Oksigen.
Medika Mentosa
Antibiotika
1. Eritromisin dengan dosis 50 mg/kgbb/hari dibagi dalam 4 dosis.
Obat ini dapat menghilangkan Bordetella pertusis dari nasofaring dalam 2-7 hari
( rata rata 3-4 hari) dengan demikian memperpendek kemungkinan penyebaran infeks
i. Eritromisisn juga menyembuhkan pertusis bila diberikan dalam stadium katarali
s, mencegah dan menyembuhkan pneumonia, oleh karena itu sangat penting untuk pen
gobatan pertusis untuk bayi muda.
2. Ampisilin dengan dosis 100 mg/kgbb/hari, dibagi dalam 4 dosis.
3. lain lain : rovamisin, kotromoksazol, kloramfenikol dan tetrasiklin.
Imunoglobulin
Belum ada penyesuaian faham mengenai pemberian immunoglobulin pada stadium katar
alis.
Ekspektoransia dan mukolitik
Kodein diberikan bila terdapat batuk batuk yang hebat sekali.
Luminal sebagai sedative.
Kortikosteroid
a. Betametason oral dosis 0,075 mg/lb BB/hari
b. Hidrokortison suksinat (sulokortef) I.M dosis 30 mg/kg BB/ hari kemudian ditu
runkan perlahan dan dihentikan pada hari ke-8
c. Prednisone oral 2,5 5 mg/hari
Berguna dalam pengobatan pertusis terutama pada bayi muda dengan seragan proksim
al.
Salbutamol
Efektif terhadap pengobatan pertusis dengan cara kerja menstimulasi beta 2 adren
ergik :
1) Mengurangi paroksimal khas
2) Mengurangi frekuensi dan lamanya whoop
3) Mengurangi frekuensi apneu
Komplikasi
A. Pada saluran pernafasan5
1. Bronkopnemonia
Infeksi saluran nafas atas yang menyebar ke bawah dan menyebabkan timbulnya pus
dan bronki, kental sulit dikeluarkan, berbentuk gumpalan yang menyumbat satu ata
u lebih bronki besar, udara tidak dapat masuk kemudian terinfeksi dengan bakteri
.
Paling sering terjadi dan menyebabkan kematian pada anak dibawah usia 3 tahun te
rutama bayi yang lebih muda dari 1 tahun. Gejala ditandai dengan batuk, sesak na
fas, panas, pada foto thoraks terlihat bercak-bercak infiltrate tersebar.
2. Otitis media / radang rongga gendang telinga
Karena batuk hebat kuman masuk melalui tuba eustaki yang menghubungkan dengan na
sofaring, kemudian masuk telinga tengah sehingga menyebabkan otitis media. Jika
saluran terbuka maka saluran eustaki menjadi tertutup dan jika penyumbat tidak d
ihilangkan pus dapat terbentuk yang dapat dipecah melalui gendang telinga yang a
kan meninggalkan lubang dan menyebabkan infeksi tulang mastoid yang terletak di
belakang telinga.
3. Bronkhitis
Batuk mula-mula kering, setelah beberapa hari timbul lender jernih yang kemudian
berubah menjadi purulen.
4. Atelaktasis
Timbul akibat lender kental yang dapat menyumbat bronkioli.
5. Emphisema Pulmonum
Terjadi karena batuk yang hebat sehingga alveoli pecah dan menyebabkan adanya pu
s pada rongga pleura.
6. Bronkhiektasis
Terjadi pelebaran bronkus akibat tersumbat oleh lender yang kental dan disertai
infeksi sekunder.
7. Aktifitas Tuberkulosa
8. Kolaps alveoli paru akibat batuk proksimal yang lama pada anak-anak sehingga
dapat menebabklan hipoksia berat dan pada bayi dapat menyebabkan kematian mendad
ak.
B. Pada saluran pencernaan6
1. Emasiasi dikarenakan oleh muntah-muntah berat.
2. Prolapsus rectum / hernia dikarenakan tingginya tekanan intra abdomen.
3. Ulkus pada ujung lidah karena tergosok pada gigi atau tergigit pada saat batu
k.
4. Stomatitis.
C. Pada system syaraf pusat
Terjadi karena kejang :
1) Hipoksia dan anoksia akibat apneu yang lama
2) Perdarahan sub arcknoid yang massif
3) Ensefalopat, akibat atrof, kortika yang difus
4) Gangguan elektrolit karena muntah
Komplikasi lain :
1) Hemaptisis akibat batuk yang hebat sehingga menyebabkan tekanan venous mening
kat dan kapiler pecah
2) Epistaksis dan perdarahan sub konjungtiva
3) Malnutrisi karena anoreksia dan infeksi sekunder
Pencegahan
Diberikan vaksin pertusis yang terdiri dari kuman bordetella pertusis yang telah
dimatikan untuk mendapatkan imunitas aktif. Vaksin ini diberikan bersama vaksin
difteri dan tetanus. Dosis yang dianjurkan 12 unit diberikan pada umur 2 bulan.

Kontra indikasi pemberian vaksin pertusis :
1. Panas lebih dari 33C
2. Riwayat kejang
3. Reaksi berlebihan setelah imunisasi DPT sebelumnya misalnya: suhu tinggi deng
an kejang, penurunan kesadaran, syok atau reaksi anafilatik lainnya.
Prognosis
Bergantung kepada ada tidaknya komplikasi, terutama komplikasi paru dan susunan
saraf pusat yang sangat berbahaya khususnya pada bayi dan anak kecil. Dimana fre
kuensi komplikasi terbanyak dilaporkan pada bayi kurang dari 6 bulan mempunyai m
ortalitas morbiditas yang tinggi.
Diagnosis Banding
Pada makalah ini, pertusis yang diduga diderita oleh pasien didiagnosis banding
dengan penyakit tuberculosis paru dan bronchitis akut kronik.
BRONKITIS AKUT
Bronchitis akut merupakan peradangan akut membrane mukosa bronkus yang disebabka
n oleh mikroorganisme. Penyakit ini sering melibatkan trakea sehingga lebih tepa
t jika disebut trakeobronkitis akut.
Etiologi
Penyebab yang peling sering adalah virus seperti virus influenza, parainfluenza,
adenovirus, serta rhinovirus. Bakteri yang sering menjadi penyebab adalah Mycop
lasma pneumonia, tetapi biasanya bukan merupakan infeksi primer.6 Penyakit ini b
iasanya sembuh dengan sendirinya, namun jika dilatarbelakangi oleh penyakit kron
ik seperti emfisema, bronchitis kronik, serta bronkiektasi, infeksi bakteri ini
harus mendapat perhatian serius.
Manifestasi Klinis
Biasanya didahului oleh gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas seperti hi
dungbuntu (stuffy), pilek (runny nose) dan sakit tenggorokan. Batuk yang bervari
asi dari ringan sampai berat, biasanya dimulai dengan batuk yang tidak produktif
. Batuk ini sangat menggangu di waktu malam. Udara dingin, banyak bicara, napas
dalam, serta tertawa akan merangsang terjadinya batuk. Pasien akan mengeluh ada
nyeri retrosternal, dan rasa gatal pada kulit. Setelah beberapa hari akan terdap
at produksi sputum yang banyak, dapat bersifat mucus tetapi juga mukopurulen. Se
sak napas hanya terjadi jika terdapat penyakit kronik kardiopulmonal. Peradangan
bronkus biasanya menyebabkan hiperreaktivitas saluran pernafasan yang memudahka
n terjadinya bronkospasme. Pada penderita asma, penyakit ini dapat menjadi pence
tus serangan asma.
Penatalaksanaan
Biasanya simtomatik, yaitu tirah baring, menghindari udara dingin dan kering. Ka
dang-kadang inhalasi uap air akan sangat membantu. Pada pasien yang menderita ba
tuk yang sangat mengganggu, dapat diberikan obat batuk yang mengandung kodein at
au dekstrometorfan. Antibiotic hanya diberikan jika terdapat infeksi sekunder ba
cterial atau pada PPOK.
BRONKITIS KRONIK
Bronkitis kronik adalah inflamasi luas jalan napas dengan penyempitan/hambatan j
alan napas dan peningkatan produksi sputum mukoid, menyebabkan ketidakcocokan ve
ntilasi-perkusi dan menyebabkan sionasis. Bronkitis didefinisikan sebagai adanya
batuk produktif yang berlangsung 3 bulan dalam satu tahun selama 2 tahun bertur
ut-turut. Sekresi yang menumpuk dalam bronkioles mengganggu pernapasan yang efek
tif. Merokok atau pemajanan terhadap polusi adalah penyebab utama bronkitis kron
ik.7 Pasien dengan bronkitis kronik lebih rentan terhadap kekambuhan infeksi sal
uran pernapasan bawah. Kisaran infeksi virus, bakteri, dan mikoplasma yang luas
dapat menyebabkan episode bronkitis akut. Eksaserbasi bronkitis kronik hampir pa
sti terjadi selama musim dingin. Menghirup udara yang dingin pasti dapat menyeba
bkan bronkospasme bagi mereka yang rentan.
Etiologi
Penyebab bronkitis sampai sekarang masih belum diketahui dengan jelas. Pada keny
ataannya kasus-kasus bronkitis dapat timbul secara kongenital maupun didapat. Ke
lainan kongenital dalam ini bronkitis terjadi sejak dalam kandungan. Faktor gene
tik atau faktor pertumbuhan dan faktor perkembangan fetus memegang peran penting
.
Patofisiologi
Asap mengiritasi jalan napas, mengakibatkan hipersekresi lendir dan inflamasi. K
arena iritasi dyang konstan ini, kelenjar-kelenjar yang mensekresi lendir dan se
l-sel goblet meningkat jumlahnya, fungsi silia menurun dan lebih banyak lendir y
ang dihasilkan. Sebagai akibat, bronkiolus menjadi menyempit dan tersumbat. Alve
oli yang berdekatan dengan bronkiolus dapat menjadi rusak dan membentuk fibrosis
, mengakibatkan perubahan fungsi makrofag alveolar, yang berperan penting dalam
menghancurkan partikel asing termasuk bakteri. Pasien kemudian menjadi lebih ren
tan terhadap infeksi pernapasan. Penyempitan bronkial lebih lanjut terjadi sebag
ai akibat perubahan fibrotik yang terjadi dalam jalan napas. Pada waktunya, mung
kin terjadi perubahan paru yang ireversibel, kemungkinan mengakibatkan emfisime
dan brokiektasis.
Gejala Klinik
Batuk produktif, kronis pada bulan-bulan musim dingin adalah tanda dini bronkiti
s kronis. Batuk mungkin dapat diperburuk oleh cuaca yang dingin, lembab, dan iri
tan paru. Pasien biasanya mempunyai riwayat merokok dan sering mengalami infeksi
pernapasan.
Penatalaksanaan
Objektif utama pengobatan adalah untuk menjaga agar bronkiolus terbuka dan berfu
ngsi untuk memudahkan pembuangan sekresi bronkial untuk mencegah infeksi dan unt
uk mencegah kecacatan. Perubahan dalam pola sputum (sifat, warna, jumlah, keteba
lan) dan dalam batuk adalah tanda yang penting untuk dicatat. Infeksi bakteri ka
mbuhan diobati dengan terapi antibiotik berdasarkan hasil pemeriksaan kultur dan
sensitivitas.
Untuk membantu membuang sekresi bronkial, diresepkan bronkodilator untuk menghi
langkan bronkospasme dan mengurangi obstruksi jalan napas sehingga lebih banyak
oksigen didistribusikan ke seluruh bagian paru dan ventilasi alveolardiperbaiki.
Drainase postural dan perkusi dada setelah pengobatan biasanya sangat membantu,
terutama jika terdapat bronkiektasis. Cairan (yang diberikan per oral atau pare
nteral jika bronkospasme berat) adalah bagian penting dari terapi, karena hidras
i yang baik membantu untuk mengencerkan sekresi sehingga dapat mudah dikeluarkan
dengan membatukannya. Terapi kortikosteroid mungkin digunakan ketika pasientida
k menunjukkan keberhasilan terhadap pengukuran yang lebih konservatif. Pasien ha
rus menghentikan merokok karena menyebabkan brokokonstriksi, melumpuhkan silia,
yang penting dalam menbuang partikel yang mengiritasi dan menginaktivasi surfakt
an, yang memainkan peran penting dalam memudahkan pengembangan paru-paru. Peroko
k juga lebih rentan terhadap infeksi bronkial.
Pencegahan
Karena sifat bronkitis kronik yang menimbulkan ketidakmampuan, setiap upaya diar
ahkan untuk mencegah kekambuhan. Satu tindakan esensial adalah untuk menghindari
iritan pernapasan (terutama asap tembakau). Individu yang rentan terhadap infek
si saluran pernapasan harus diimunisasi terhadap agens virus yang umum dengan va
ksin untuk influenza dan untuk S. pneumoniae. Semua pasien dengan infeksi traktu
s respiratorius atas akut harus mendapat pengobatan yang sesuai, termasuk terapi
antimikroba berdasarkan pemeriksaan kultur dan sensitivitas pada tanda pertama
sputum purulen.
TUBERKULOSIS
Infeksi mycobacterium tuberculosis dimulai dari inhalasi kuman ini melalui udara
pernapasan dari orang yang menderita TB paru. Ini diistilahkan dengan droplet in
fection. Setelah basil mencapai alveolus, ia akan dibawa melalui saluran limfe me
nuju kelenjar limfe pada hillus paru. Kemudian ia bisa mencapai melalui aliran d
arah melalui ductus thorasicus.
Etiologi
Tuberculosis adalah infeksi langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tu
berculosis.
Ciri-ciri dari kuman ini adalah:7
Bentuk batang
Tahan pada pewarnaan asam
Cepat mati pada sinar matahari langsung
Tumbuh di tempat lembab dan gelap
Bisa Dorman bertahun-tahun
Pathogenesis
Pada paru basil yang berkembang biak menimbulkan suatu daerah radang yang disebu
t afek/fokus primer dari Ghon. Basil akan menjalar melalui saluran limfe dan ter
jadi limfangitis dan akan terjadi limfadenitis regional. Pembentukan radang adal
ah melalui Reaksi Hipersensitivitas Tipe IV (Delayed Type Hypersensitivity). Di
mana akan terbentuk tuberkel-tuberkel atau disebut granuloma. Bentuk khas dari g
ranuloma adalah adanya nekrosis caseosa di tengah-tengahnya yang dikelilingi ole
h giant cell.
Perjalanan penyakit TB yang tidak diobati adalah:
50% penderita meninggal
25% penderita sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi
25% menetap menjadi kasus kronik
Sedangkan terjadinya TB sekunder adalah melalui 3 kemungkinan:
Dari TB primer berkembang menjadi TB sekunder
Sembuh dari TB primer kemudian terinfeksi kedua kali
Lesi primer dorman yang menyembuh kemudian aktif lagi
Perbedaan TB pada anak dengan TB dewasa :
TB anak lokasinya pada setiap bagian paru, sedangkan pada dewasa di daerah apeks
dan infra klavikuler
Terjadi pembesaran kelenjar limfe regional sedangkan pada dewasa tanpa pembesara
n kelenjar limfe regional
Penyembuhan dengan perkapuran sedangkan pada dewasa dengan fibrosis
Lebih banyak terjadi penyebaran hematogen, pada dewasa jarang
Manifestasi Klinik TB pada Anak
Penyakit TB pada anak memiliki beberapa manifestasi klinis. Di antaranya:
TB paru
TB paru merupakan manifestasi klinis yang umum dijumpai pada anak. Dari yang pal
ing ringan sampai yang paling berat dapat dijumpai pada anak. Bentuk yang paling
ringan adalah pembesaran kelenjar hilus atau munculnya Ghon kompleks. Sedangkan
salah satu bentuk TB paru berat adalah TB milier.
TB kulit (Scrofuloderma)
TB anak juga memiliki manifestasi TB kulit.
TB kelenjar
Di antara manifestasi ekstrathoracal adalah TB kelenjar.
TB tulang
Di antara manifestasi TB ekstratoracal adalah TB tulang.
Penyakit ini memiliki beberapa gejala.
Gejala umum:7
Berat badan menurun berturut-turut selama 3 bulan tanpa sebab jelas atau tidak n
aik selama 1 bulan meskipun dengan intervensi gizi
Anoreksia dan gagal tumbuh (failure to thrive)
Demam lama/berulang tanpa sebab jelas
Pembesaran KGB superfisial seperti: KGB leher, inguinal dan sebagainya
Gejala saluran napas seperti batuk lama lebih dari 30 hari
Gejala GI tract seperti diare lama/berulang, masa di abdomen dan sebagainya.
Gejala spesifik:
TB kulit (scrofuloderma)
TB tulang seperti: gibbus (spondilitis), coccitis, pincang, bengkak
TB otak dan syaraf: meningitis TB, ensefalitis TB
TB mata: konjungtifitis fliktenuaris, tubercle choroid
Dan lain-lain
Diagnosis TB pada Anak
Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik overdiagn
osis maupun underdiagnosis. Pada anak-anak batuk bukan merupakan gejala utama. P
engambilan dahak pada anak biasanya sulit, maka diagnosis TB anak perlu kriteria
lain dengan menggunakan sistem skor.
Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional Tuberku
losis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system), yaitu pembobotan ter
hadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai. Pedoman tersebut secara resmi digu
nakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis TB anak.
Setelah dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang
, maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. Pasien dengan jumlah skor yang l
ebih atau sama dengan 6 (>6), harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat
OAT (obat anti tuberkulosis). Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecu
rigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai
indikasi, seperti bilasan lambung, patologi anatomi, pungsi lumbal, pungsi pleu
ra, foto tulang dan sendi, funduskopi, CT-Scan, dan lain lainnya.
Catatan :
Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter.
Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya s
eperti Asma, Sinusitis, dan lain-lain.
Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit), pasien dapat langsung
didiagnosis tuberkulosis.
Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname).> lampirkan tabel badan ba
dan.
Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak
Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah penyunt
ikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.
Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6, (skor maksimal 14)
Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanj
ut.
Terapi
Diberikan OAT (Obat Anti TB) dengan ketentuan sebagai berikut:8
Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup adekuat. Setel
ah pemberian obat 6 bulan, lakukan evaluasi baik klinis maupun pemeriksaan penun
jang. Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik untuk menilai keb
erhasilan pengobatan. Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata walaupun gambara
n radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti, OAT tetap dihentikan.
= Kategori Anak (2RHZ/ 4RH)
Artinya:
Tahap intensif selama 2 bulan diberikan INH (H), Rifampicin (R), Pirazinamid (Z)
masing-masing tiap hari.
Tahap lanjutan selama 4 bulan diberikan INH (H) dan Rifampicin (R) masing-masing
tiap hari.
Keterangan:
Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit
Anak dengan BB 15-19 kg dapat diberikan 3 tablet.
Anak dengan BB =33 kg , dirujuk ke rumah sakit.
Obat harus diberikan secara utuh, tidak boleh dibelah
OAT KDT dapat diberikan dengan cara: ditelan secara utuh atau digerus sesaat seb
elum diminum.
Terapi Profilaksis
Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat dengan pe
nderita TB dengan BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan sistem s
koring. Bila hasil evaluasi dengan skoring system didapat skor < 5, kepada anak
tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5-10 mg/kg BB/hari selama 6 bula
n.7 Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG, imunisasi BCG dilaku
kan setelah pengobatan pencegahan selesai.
Pencegahan
BCG diberikan pada usia 0-3 bulan secara intrakutan. Imunisasi BCG tidak bisa me
ncegah dari penyakit TB, akan tetapi bisa mencegah dari penyakit TB berat sepert
i TB milier dan meningitis TB.
Penutup
Pada scenario berikut ini, pasien berumur 5 tahun ini yang dibawa olah ibunya di
duga menderita penyakit pertusis yang disebabkan oleh karena bakteri Brodetella
pertusis. Diagnosis diberikan oleh karena keluhan pasien yaitu batuknya yang ber
langsung lama dan terus menerus. Penatalaksanaan pasien berikan saja obat untuk
menghilangkan penyebab penyakit dan juga perlu diberikan istirahat serta nutrisi
yang cukup.
Daftar Pustaka :
1. Freedberg IM, Eisen AZ., Wolff K., Austen KF., Goldsmith LA., Kazt SI, e
ditor. Dalam : Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. Edisi ke 6. New York
: Mc Graw-Hill, 2003.
2. Welsby PD. Dalam : Dany F, Jaya DP. Pemeriksaan Fisik dan Anamnesis Klin
is. Jakarta : Buku Kedokteran EGC ; 1996. h. 67-75.
3. McPhee SJ, Papadakis MA. Dalam : Tierney LM. Current Medical Diagnosis a
nd Treatment. United States of America : The McGraw-Hill Companies ; 2008. h. 12
93-95.
4. Kumar. Dalam : Sadikin V, Halim A. Buku Saku Dasar Patologi Penyakit. Ed
isi 5. Jakarta : Buku Kedokteran EGC ; 2000. h. 512-31.
5. Price SA, Wilson LM. Dalam : Hartanto H. Patofisiologi : Konsep Lkinis P
roses-Proses Penyakit. Edisi 6. Volume 1. Jakarta : Buku Kedokteran EGC ; 2003.
h. 485-495.
6. Gunawan SG. Dalam : Rianto S, Nafrialdi. Farmakologi dan Terapi. Jakarta
: Gaya Baru ; 2000. h. 556-570.
7. Sudoyo AW. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi IV. Jakarta : Departeme
n Ilmu Penyakit Dalam ; 2006. h. 1732-48.
8. Sjamsuhidajat R, Jong Wd. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed. 2. Jakarta : Buku Ke
dokteran EGC ; 2003. h. 31-35.