Anda di halaman 1dari 2

Tan Malaka Disiapkan untuk Mengganti Bung Karno

Saturday, 28 July 2007

Kisah tentang Tan Malaka tak pernah usai. Misteri kematian Pahlawan Nasional ini baru
terungkap setelah setengah
abad berlalu. Dengan ketekunan luar biasa, Harry A Poeze, sejarawan Belanda, menyusun buku
tentang tokoh ini.

Jika sewaktu-waktu Bung Karno mengalami bahaya dan tidak dapat menunaikan tugas, harus
ada penggantinya. Tokoh
yang dipilih Bung Karno adalah Tan Malaka. Tan Malaka sempat lolos dari tahanan bersama 50
gerilyawan anti-Belanda
yang dipimpinnya. Namun, dia yang berpisah dan bergerak dalam rombongan kecil ditangkap
Letnan Dua Soekotjo di
Desa Selo Panggung, lereng Gunung Wilis yang berakhir dengan eksekusi.

“Dia ditembak atas perintah Letnan Dua Sukotjo dari Batalyon Sikatan bagian Divisi
Brawijaya yang terakhir
berpangkat Brigadir Jenderal dan pernah menjadi Wali Kota Surabaya.

Data tersebut diperoleh dari kesaksian pelbagai pihak seperti rekan gerilya Tan Malaka, anggota
Batalyon Sikatan,
keterangan warga desa dan tokoh-tokoh angkatan 1945,” kata Poeze yang memulai riset
Tan Malaka sejak tahun
1980. Poeze yang ditemui di Jakarta, Jumat (27/7) menjelaskan, Tan Malaka ditembak mati
tanggal 21 Februari 1949.

Tokoh yang perjalanannya ditulis Harry A Poeze, diluncurkan Senin (30/7) di Jakarta, dalam edisi
Bahasa Indonesia.
Buku seberat 3,5 ini akan beredar dalam enam jilid yang terbit selama enam tahun. Tan Malaka
atau Sutan Ibrahim
bergelar Datuk Tan Malaka lahir 2 Juni 1897 di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat.
Saat datang ke
Semarang, dia menjadi akrab dengan Semaun yang sepikiran untuk membentuk generasi baru
lewat pendidikan di
sekolah. Langkah Tan Malaka digagalkan pemerintah Hindia Belanda dengan membuangnya ke
Kupang, 1922, setelah
aktivitasnya di PKI menguat.

Dalam sebuah diskusi tentang sosok ini tujuh tahun lalu, Hadidjojo Nitimihardjo (Ketua Umum
Partai Murba), Alex Paath
(Sekjen Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia '66), dan Burhan Magenda (anggota DPR RI,
saat itu) sepakat
menyebut Tan Malaka sebagai salah satu pemikir dan pejuang besar Indonesia.

Sebagai pejuang angkatan 1920-an, Tan Malaka, Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan lain-lain, adalah
para pemikir yang
mendalami ideologi-ideologi besar dunia, sehingga terlalu sempit untuk mengatakan Tan Malaka
adalah seorang Marxis.
Karya puncak pemikiran Tan Malaka dalam Madilog (materialisme, dialektika, logika), melukiskan
bagaimana dia
menggeluti berbagai agama. Nilai-nilai Marxisme dia ambil secara selektif dan didasari dialektika
dengan pemikiranpemikiran
lainnya, bahkan Tan Malaka pun memperhitungkan faktor-faktor masyarakat di sekitarnya.
Tokoh penuh pemikiran ini ditangkap dan dijebloskan penjara pada 1946. Tetapi setelah tokoh
peristiwa Madiun 1948,
dia dikeluarkan begitu saja. Tak menunggu lama Tan Malaka kemudian merintis pembentukan
Partai Murba, 7
November 1948 di Jogjakarta. Tetapi Februari 1949 dia menghilang.

Berdasarkan Keputusan Presiden RI No 53, yang ditandatangani Presiden Soekarno 28 Maret


1963 menetapkan Tan
Malaka adalah seorang Pahlawan Kemerdekaan Nasional.

Harry Poeze yang juga Direktur KITLV Press (Institut Kerajaan Belanda untuk Studi Karibia dan
Asia Tenggara)
menambahkan, eksekusi yang terjadi selepas Agresi Militer Belanda ke-2 itu didasari surat
perintah Pangdam Brawijaya
Soengkono dan Komandan Brigade-nya Soerahmat. Seruan Tan Malaka yang menilai
penahanan Bung Karno dan Bung
Hatta di Bangka menciptakan kekosongan kepemimpinan serta enggannya elite militer bergerilya
dianggap
membahayakan stabilitas.
Surya Online
http://www.surya.co.id/web Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e2s1e Mrvaerdch, 2008, 23:33
Meskipun fokus utama buku Poeze adalah tokoh Tan Malaka, namun dengan cukup detail Poeze
mengungkap situasi
konkret menjelang dan sekitar Proklamasi Kemerdekaan.

Menurut Poeze, Menteri Sosial Republik Indonesia sudah setuju untuk mengerahkan tim forensik
mencari sisa jenazah
Tan Malaka. Tan Malaka sempat dijuluki Bapak Repoebliek Indonesia selepas pertengahan 1920-
an karena
menerbitkan buku Naar Repoebliek Indonesia (Menuju Repoebliek Indonesia) dalam Bahasa
Belanda dan Melayu tahun
1924 di Kanton (sekarang Guang Zhou), Tiongkok.

Putra pertama almarhum R Soekotjo, Wahyono ketika dikonfirmasi tentang pernyataan sejarawan
Belanda Harry A
Poeze ini mengaku belum bisa berkomentar. Ia masih akan mengumpulkan cerita tentang
perjalanannya orangtuanya
selama menjadi anggota TNI. “Untuk sementara saya belum bisa cerita,” katanya.
jho/kcm
Surya Online
http://www.surya.co.id/web Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source MattersG. Aenll errigahtetsd :r e2s1e Mrvaerdch, 2008, 23:33