Anda di halaman 1dari 53

PRESENTASI KASUS

STROKE HEMORAGIK
Dwi Wicaksono
Hanifah RN
Herliani DPH
Identitas
Nama : Ny.HK
Usia :47 tahun
Alamat : Pasar Rumput
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Suku : Jawa
Agama : Islam
Pernikahan : Janda
Pendidikan : Tamat SD
Tanggal periksa : 8 Des 2012


Keluhan Utama
Penurunan kesadaran mendadak 1,5 jam
SMRS.
Riwayat Penyakit Sekarang
Menurut anak pasien yang tinggal serumah, pasien
mengalami penurunan kesadaran mendadak 1,5 jam
SMRS. Pada saat itu, pasien sedang mandi dan
kemudian berteriak aduh. Ketika ditemukan, pasien
dalam keadaan jatuh terduduk, tampak lemas, dan
tidak sadarkan diri. Lima menit kemudian, pasien mulai
meringis kesakitan, mulut mencong ke kanan,
berbicara tidak jelas, dan tidak merespons ketika
ditanya. Dalam perjalanan menuju ke rumah sakit,
pasien terus-menerus mengeluhkan sakit kepala sambil
memegangi kepala sebelah kanan. Tidak ada mual dan
muntah menyemprot. Riwayat trauma kepala
disangkal. Riwayat demam disangkal. Riwayat
penurunan berat badan disangkal.
Riwayat Penyakit Sekarang
Menurut anak pasien, pasien sering
mengeluhkan sakit kepala sejak 3 tahun
yang lalu. Sakit kepala berkurang dengan
obat warung. Namun, sejak suami pasien
sakit-sakitan pada tahun yang sama, sakit
kepala bertambah sering sehingga pasien
berobat ke puskesmas. Tekanan darah pasien
saat itu 200/100 mmHg sehingga pasien
diresepkan obat tekanan darah tinggi yang
diminum rutin oleh pasien.
Riwayat Penyakit Sekarang
Dengan pertanyaan tertutup, pasien menjelaskan sakit
kepala dirasakan di sebelah kanan (VAS 9/10), berdenyut,
tidak menjalar, yang timbul terus-menerus , dan makin
terasa sakit ketika batuk . Pasien tidak pernah merasakan
sakit kepala seperti ini sebelumnya.

Sebelum penurunan kesadaran, selain sakit kepala hebat,
pasien juga merasa pandangan berkunang-kunang dan
seluruh badan terasa lemas. Pandangan ganda disangkal.
Kelemahan sesisi disangkal. Rasa baal dirasakan oleh
pasien pada lengan , tangan, tungkai, dan kaki kiri.


Riwayat Penyakit Dahulu
Hipertensi (+) yang terkontrol sejak 3
tahun yang lalu.
Diabetes mellitus (-)
Penyakit jantung (-)
Stroke (-)
Pasien tidak pernah dirawat di rumah sakit
disebabkan oleh penyakit lain sebelumya.

Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ada anggota keluarga yang mengalami
keluhan dan penyakit serupa dengan pasien.

Riwayat Sosial
Pasien adalah janda beranak tiga. Suami
pasien meninggal 3 tahun yang lalu. Pasien
bekerja sehari-hari sebagai buruh cuci. Pasien
tidak pernah merokok.

Status Generalis
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Somnolen
Tekanan Darah : 170/90 mmHg
Frekuensi Nadi : 83x/menit
Frekuensi nafas : 20x/menit
Suhu : 36.2
o
C

Kulit : Tidak ada kelainan
Mata : Sklera ikterik (-/-),
konjungtiva anemik (-/-)
Kepala : Tidak ada deformitas
Rambut : Tidak ada kelainan
Wajah : Asimetris
Mulut : Mencong ke kanan, faring
hiperemis (-)
Leher : JVP tidak meningkat, tidak ada
pembesaran KGB, tiroid tidak teraba

Jantung : Iktus kordis teraba,
batas jantung normal, S
1
dan S
2

normal, murmur (-), gallop (-)
Paru : Simetris statis dinamis,fremitus
kanan= kiri, sonor +/+, vesikuler +/+
Abdomen : Datar, supel, lemas, bising usus (+)
normal, nyeri tekan (-)
Punggung : Tidak ada kelainan
Ekstrimitas : Akral hangat, edema -/-

Status Neurologis
Glasgow Coma Scale : E
3
M
6
V
3

Tanda rangsang meningeal:
kaku kuduk (+)
laseque>70/>70
kernig >135/>135
brudzinsky I -/-
brudzinsky II -/-

Nervus Kranialis Tanda Klinis
N .I normal
N. II pupil bulat, isokor, 4mm/4mm,
RCL +/+, RCTL +/+, visus
>6/60,lapang pandang normal,
warna normal.
N. III, IV, VI tidak ada paresis, uji
konvergensi normal
N. VII plica nasolabialis kiri lebih
datar, kerutan dahi kanan dan
kiri simetris paresis N.VII kiri
tipe sentral
N. VIII normal
N. IX, N.X normal
N.XI normal
N.XII normal
Pemeriksaan Motorik
Inspeksi : gerakan involunter (-), atrofi otot
(-), kesan hemiparesis sinistra
Kekuatan :
5555 4444
5555 4444
Tonus : normotoni
Refleks fisiologis: +2 +2
+2 +2
Refleks patologis: tidak ada

Koordinasi
past pointing tidak diperiksa
disdiadokokinesia tidak diperiksa
nose to finger test tidak diperiksa
knee to heel tidak diperiksa

Pemeriksaan Sensorik
Hemihipestesia sesisi kiri.

Fungsi luhur: tidak diperiksa

CT Scan
CT Scan Hasil Pemeriksaan
Radiologis:
Tampak lesi hiperdens
berdensitas perdarahan
di thalamus kanan
disertai dengan
hipodensitas di
sekitarnya (perifokal
edema)
Tampak pula lesi
hiperdens mengisi
sebagian cisterna
ambiens kanan, kortikal
sulci, dan fissura sylvii.

-Perdarahan
thalamus kanan
-Perdarahan SA
sisterna
ambiens kanan

Foto Thorax
Hasil Laboratorium
PT 10 (11,5)
APTT 33,9 (34,9)
Ur 23,9
Cr 0,7
SGOT 21
SGPT 16
GDS 116
Hb 10,1
Ht 30,5
Leukosit 8200
Trombosit 290000
MCV 71,4
MCH 23,7
MCHC 33,2
Ph 7,393
PCO
2
27,9
PO
2
204,2
CK 135
CK MB 28,1
Na 142
K 3,7
Cl 1035
Diagnosis
Diagnosis klinis:
-Paresis N. VII sinistra tipe sentral
-Kesan hemiparesis sinistra
-Hemihipestesia kiri
-Hipertensi grade II
-Riwayat penurunan kesadaran

Diagnosis topis:
-Subkortikal (thalamus) kanan


Diagnosis patologis
-Hemoragik

Diagnosis etiologis
-Ruptur pembuluh darah




Diagnosis kerja:
Stroke hemoragik OH I
Hipertensi grade II

Prognosis
Ad vitam : Bonam
Ad functionam : Dubia ad bonam
Ad sanationam : Bonam

Tatalaksana
Elevasi kepala 300
O
2
3 liter/menit
IVFD NaCl 0,9% 500cc/ 12
jam
Diet cair 6x 250 cc
Ascardia 1x 320 mg (load)
Simvastatin 1x20 mg
Citicholin 2x 500 mg IV
B6 2x tab I
B 12 2x tab I
Asam folat 2x tab I
Paracetamol 3x500 mg
prn nyeri kepala
Tramadol 3x100 mg IV
Nimodipine 4x60 mg po
Observasi tanda vital
Stroke
Stroke adalah suatu sindroma klinis yang
menyebabkan defisit neurologis baik fokal
maupun global yang terjadi mendadak dan
menetap >24 jam yang disebabkan oleh
gangguan serebrovaskular.



Ropper AH, Brown RH. Adams and Victors Principles of Neurology: Cerebrovascular
diseases. 8th ed. 2005. New York: The Mc-Graw-Hill Companies.

Stroke
Hemoragik
Stroke Iskemik Patologi Anatomi
Tanda dan Gejala
Rohkamm. Color atlas of neurology. 2004. Thieme: 166
Skor Siriraj
(2,5xS)+(2xM)+(2xN)x (0,1xD)-(3xA)-12
S kesadaran dimana 0= kompos mentis, 1=somnolen,
2=stupor atau koma
M muntah dimana 0=tidak ada, 1=ada
N nyeri kepala dimana 0=tidak ada, 1=ada
D diastolik
A ateroma dimana 0=tidak ada, 1=salah satu atau lebih
penyebab lainnya: DM, angina, penyakit pembuluh darah.
<-1: infark serebri
-1 s.d. 1 meragukan
>1: perdarahan supratentorial

Soertidewi L, Tiksnadi A. Buku Saku Tentorium Neurologi. Jakarta: Departemen
Neurologi FKUI/RSCM.


Stroke Hemoragik
Stroke yang disebabkan oleh perdarahan
intrakranial ,dapat terjadi spontan (i.e., non-
traumatik) intrakranial, dengan lokasi di epidural,
subdural, intraparenkimal, atau interventrikular.

Perdarahan otak sering didiagnosis dengan
menggunakan CT scan non-kontras saat
mengevaluasi stroke akut.

Berdasarkan anatominya perdarahan otak
dibedakan menjadi perdarahan intraserebral dan
perdarahan subarakhnoid.
Misbach J. Stroke: aspek diagnostic, patofisiologi, dan manajemen.
1999. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.









Perdarahan Intraserebral
Rohkamm. Color atlas of
neurology. 2004. Thieme: 185.
Perdarahan Intraparenkimal Hipertensif
Perdarahan intraserebral tanpa disertai bukti kelainan
vaskular seperti aneurisma atau angioma, biasanya
disebabkan oleh hipertensi.
Lokasi tersering adalah ganglia basal (khususnya
putamen), thalamus, serebelum, dan pons.
Perdarahan arteri kecil hipertensi yang
menyebabkan bekuan darah berukuran kecil maupun
besar herniasi bahkan kematian.


Fauci AS, Brunwald E, Kasper DL, Hauser Sl, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo
J. Harrisons Principles of Internal Medicine. 17
th
edition. USA: The
McGraw-hill Companies, inc; 2008.

Perdarahan Intraparenkimal Hipertensif




Meskipun tidak berkaitan dengan aktivitas
fisik, sebagian besar perdarahan intraserebral
terjadi ketika pasien sadar dan terkadang
ketika stress.

Perdarahan berkembang 30-90
menit
48 jam, makrofag
fagositosis
perdarahan
1-6 bulan,
perdarahan
kavitas oranye
dibatasi jaringan ikat
glial dan makrofah
hemosiderin.
Fauci AS, Brunwald E, Kasper DL, Hauser Sl, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrisons
Principles of Internal Medicine. 17
th
edition. USA: The McGraw-hill Companies, inc; 2008.
Perdarahan Subarakhnoid
Rohkamm. Color atlas of
neurology. 2004. Thieme: 185.
Perdarahan Subarakhnoid
Penyebab 5-10% stroke disebabkan oleh perdarahan
subarakhnoid.
Sering disebabkan oleh ruptur aneurisma atau
malformasi arteriovenosus, tetapi pada 20% kasus
penyebab pastinya tidak ditemukan.
Gejala nyeri kepala hebat dan mendadak saat onset
penyakit yang dapat disertai mual dan muntah.
Dapat disertai penurunan kesadaran dan gangguan
status mental.
Dalam 90% kasus, perdarahan dapat terlihat di CT-
scan dalam waktu 24 jam.

Misbach J. Stroke: aspek diagnostic, patofisiologi, dan manajemen. 1999. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Rohkamm. Color atlas of neurology. 2004. Thieme: 185.



Perdarahan Subarakhnoid
Gejala nyeri kepala hebat dan mendadak saat
onset penyakit yang dapat disertai mual dan
muntah.
Dapat disertai penurunan kesadaran dan
gangguan status mental.
Dalam 90% kasus, perdarahan dapat terlihat di
CT-scan dalam waktu 24 jam.

Misbach J. Stroke: aspek diagnostic, patofisiologi, dan manajemen. 1999. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Rohkamm. Color atlas of neurology. 2004. Thieme: 185.

Komplikasi Perdarahan Subarakhnoid
Edema serebri
Rebleeding timbul pada 50-60% kasus dalam 6
bulan pertama setelah perdarahan awal, menurun 10%
pada hari ke-30, dan berkurang 3% setiap tahun
Vasospasme yang timbul pada hari ke-3 dan
meningkat pada hari ke-7 sangat menentukan
prognosis
Hidrosefalus tersumbatnya aliran likuor serebri
intraventrikular muncul sebagai komplikasi perdarahan
subarakhnoid.
Hiponatremia, edema pulmoner neurogenik,
kejang, dan kardiak aritmia.

Rohkamm. Color atlas of neurology. 2004. Thieme: 184.



Anamnesis Stroke Hemoragik
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam
anamnesis pasien yang diduga mengalami stroke
hemoragik antara lain awitan gejala, gejala awal
dan progresinya, faktor risiko vaskuler,
pemakaian obat-obatan, riwayat trauma atau
pembedahan, demensia, alkohol atau
penyalahgunaan obat lain, riwayat kejang,
penyakit hati , kanker dan gangguan
hematologis.

Hazinsky MF, Leon C, Bob E, Robin H. Adult stroke. Circulation 2005;112;111-120; originally published online Nov
28,2005.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang penting dilakukan dimulai
dari status generalis.
Untuk kesadaran dapat dinilai dengan kualitatif
dan kuantitatif. Penilaian lebih obyektif dengan
Skala Koma Glasgow.
Pada tanda vital, terutama diperhatikan tekanan
darah karena terjadi hipertensi reaktif akut.


Hazinsky MF, Leon C, Bob E, Robin H. Adult stroke. Circulation 2005;112;111-120; originally published online Nov 28,2005.

Perdarahan Talamus
Gejala utama yang ditimbulkan adalah hilangnya
sensasi pada seluruh tubuh kontralateral.
Hemiplegia atau hemiparesis karena kompresi atau
destruksi kapsula interna.
Hilangnya sensasi lebih berat daripada kelumpuhan
yang terjadi.
Dapat terjadi afasia, dapat juga terjadi gangguan
lapang pandang homonim yang reversibel.
Pupil anisokor, ptosis dan miosis ipsilateral, nistagmus
retraksi juga dapat muncul.


Ropper AH, Brown RH. Adam and Victors Principles of Neurology. 8
th
ed. New York: McGrawHill. 2005;711-6.

Pemeriksaan Penunjang
darah perifer lengkap,
kimia darah,
prothrombin time (PT) atau INR,
activated partial thromboplastin time (APTT),
skrining toksik,
urinalisis,
elektrokardiografi,
foto polos dada,
Neuroimaging (CT-Scan, MRI).


Hazinsky MF, Leon C, Bob E, Robin H. Adult stroke. Circulation 2005;112;111-120; originally published online Nov
28,2005.

Tatalaksana Stroke Akut
Stabilisasi pasien dengan tindakan ABCDE
Pasang jalur infuse intravena dengan larutan salin normal 0,9 % dengan
kecepatan 20 ml/jam, jangan memakai cairan hipotonis seperti dekstrosa
5 % dalam air dan salin 0,45%, karena dapat memperhebat edema otak
Berikan oksigen 2-4 liter/menit melalui kanul hidung
Buat rekaman elektrokardiogram (EKG) dan lakukan foto rontgen toraks
Ambil sampel untuk pemeriksaan darah : pemeriksaan darah perifer
lengkap dan trombosit, kimia darah (glukosa, elektrolit, ureum, dan
kreatinin), masa protrombin, dan masa tromboplastin parsial
Jika ada indikasi, lakukan tes-tes berikut : kadar alkohol, fungsi hati, gas
darah arteri, dan skrining toksikologi
Tegakkan diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis
CT-scan atau MRI bila alat tersedia. Bila tidak ada, dengan skor Siriraj
untuk menentukan jenis stroke.
Misbach J. Stroke: aspek diagnostik, patofisiologi, manajemen. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia. 1999.
Hazinsky MF, Leon C, Bob E, Robin H. Adult stroke. Circulation 2005;112;111-120; originally published online Nov 28,
2005.
Tatalaksana Stroke Hemoragik
Pada pasien dengan defisiensi faktor koagulasi dan trombositopenia,
penatalaksaan yang dilakukan meliputi pemberian faktor pembekuan
atau platelet.


Pada pasien dengan riwayat pemakaian antikoagulan oral yang
mengalami perdarahan yang mengancam nyawa, dalam hal ini misalnya
perdarahan intrakranial, direkomendasikan untuk memperbaiki INR
secepat mungkin.
Vitamin K membutuhkan waktu beberapa jam untuk memperbaiki INR,
sedangkan FFP memiliki kekurangan berupa peluang timbulnya reaksi
alergi, risiko transfusi infeksius, waktu produksi yang lama, serta masalah
volume yang diperlukan untuk koreksi.
Kendalikan hipertensi : Tekanan darah sistolik > 180 mmHg harus
diturunkan sampai 150-180 mmHg dengan labetalol (20 mg intravena
dalam 2 menit, ulangi 40-80 mg intravena dalam interval 10 menit sampai
tekanan yang diinginkan, kemudian infuse 2 mg/menit (120 ml/jam) dan
dititrasi atau penghambat ACE (misalnya kaptopril 12,5-25 mg, 2-3 kali
sehari) atau antagonis kalsium (misalnya nifedipin oral 4 kali 10 mg).

Pertimbangkan konsultasi bedah saraf
Pertimbangkan angiografi untuk menyingkirkan aneurisma atau
malformasi arteriovenosa.
Berikan manitol 20 % (1 mg/kgBB, bolus intravena dalam 20-30
menit, dilanjutkan 0,5 mg/kgBB setiap 3-5 jam) untuk pasien
dengan koma dalam atau tanda-tanda tekanan intrakranial yang
meninggi atau ancaman herniasi.
Steroid tidak terbukti efektif pada perdarahan intraserebral.
Pertimbangkan fenitoin (10-20 mg/kgBB intravena, kecepatan
maksimal 50 mg/menit, atau per oral) pada pasien dengan
perdarahan luas dan derajat kesadaran menurun.
Pertimbangkan terapi hipervolemik dan nimodipin untuk
mencegah vasospasme bila secara klinis, pungsi lumbal atau CT-
Scan menunjukkan perdarahan subaraknoid akut primer.

Tatalaksana
Manajemen tekanan darah
Apabila tekanan darah sistolik >200 mmHg atau MAP >150 mmHg,
pertimbangkan penurunan tekanan darah secara agresif dengan infus
intravena kontinyu, dengan pemantauan setiap 5 menit.
Apabila tekanan darah sistolik >180 mmHg atau MAP >140 mmHg dan
terdapat kemungkinan peningkatan tekanan intrakranial, pertimbangkan
pemantauan tekanan intrakranial dan penurunan tekanan darah dengan
pengobatan intravena intermiten atau kontinyu sambil mempertahankan
tekanan perfusi serebral 60 mmHg.
Apabila tekanan darah sistolik >180 mmHg atau MAP >130 mmHg tanpa
bukti peningkatan tekanan intrakranial, pertimbangkan penurunan
tekanan darah secara moderat (misalnya MAP 110 mmHg atau target
tekanan darah 160/90 mmHg) dengan pengobatan intravena intermiten
atau kontinyu untuk mengontrol tekanan darah sambil memantau pasien
setiap 15 menit. (rekomendasi kelas C)



Hazinsky MF, Leon C, Bob E, Robin H. Adult stroke. Circulation 2005;112;111-120; originally published online Nov 28, 2005.
Prognosis
Prognosis dari stroke hemoragik tergantung
pada jumlah perdarahan dan skala koma
Glasgow.
Prognosis untuk clot serebral berukuran
sedang dan berat adalah buruk, dapat
menyebabkan kematian.
Angka kematian tinggi pada perdarahan di
daerah serebelum.
Pembahasan
Anamnesis
Pasien mengalami penurunan kesadaran mendadak 1,5
jam sebelum masuk rumah sakit, timbul gejala neurologis
berupa defisit neurologis sebelah sisi dan nyeri kepala
hebat, hipertensi (+) sejak 3 tahun lalu, trauma (-), demam
(-), penurunan BB (-) stroke akut.
SSS , kesadaran somnolen, terdapat nyeri kepala, tidak
ada muntah, diastolik 90 mmHg 1.5 perdarahan
supratentorial (stroke hemoragik)
Kelemahan sesisi dan hilangnya sensasi sesisi kontralateral
lokasi nyeri perdarahan intraserebral
Nyeri kepala hebat, kaku kuduk positif perdarahan
subarakhnoid
Pemeriksaan
Perdarahan intraparenkimal yang biasa terjadi
pada hipertensif kronik adalah perdarahan
talamus, putamen, serebelar, dan pons.
Hilangnya sensasi sesisi yang lebih dominan dari
kelemahan sesisi khas pada perdarahan talamus
Hasil CT-Scan:
Lesi hiperdens di talamus kanan perdarahan
talamus kanan
Lesi hiperdens mengisi sisterna ambiens kanan
perdarahan subaraknoid

Tatalaksana
Ascardia 1x 320 mg (load)
dan Simvastatin 1x20 mg
untuk mencegah stroke
berulang
Citicholin 2x 500 mg IV
sebagai neuroprotektor
B6, B12, sebagai vitamin
neurotropik
asam folat menurunkan
level homosistein
Parasetamol dan tramadol
dikombinasi untuk sakit
kepala berat
Nimodipine 4x60 mg po
untuk mengendalikan
tekanan darah dan sebagai
neuroprotektor
Observasi tanda vital
Nimodipin
Antagonis kanal kalsium menghambat
pengeluaran tromboksan (vasokonstriktor)
merelaksasi pembuluh darah aliran darah
menjadi lancar vasospasme .
Pemberian 4x60 mg per oral dengan waktu
paruh sekitar 8-9 jam.
Selain itu, nimodipin dianggap dapat
berperan sebagai neuroprotektif.

http://www.medicinenet.com/nimodipine-oral/article.htm
Ascardia
Ascardia adalah aspirin/ asam asetilsalisilat
yang berfungsi sebagai antitrombotik
sehingga dapat menjadi pencegahan
pembekuan darah.
Aspirin (325 mg) dalam 24-48 jam pertama
setelah serangan stroke (rekomendasi A).


Daftar Pustaka
Ropper AH, Brown RH. Adams and Victors Principles of Neurology: Cerebrovascular
diseases. 8th ed. 2005. New York: The Mc-Graw-Hill Companies.
Misbach J. Stroke: aspek diagnostic, patofisiologi, dan manajemen. 1999. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI.
Soertidewi L, Tiksnadi A. Buku Saku Tentorium Neurologi. Jakarta: Departemen Neurologi
FKUI/RSCM.
Fauci AS, Brunwald E, Kasper DL, Hauser Sl, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrisons
Principles of Internal Medicine. 17
th
edition. USA: The McGraw-hill Companies, inc; 2008.
Gonzales R, Zeiger R. Current medical diagnosis & treatment: nervous system disorders.
2010. USA: Lange.
Morgenstem LB, Hemphill JC, Anderson C, Becker K, Broderick JP, Connoly ES, et al.
Guidelines for the management of spontaneous intracerebral hemorrhage: guideline for
healthcare professionals from the american heart association/american stroke association.
Stroke 2010;41;2108-2129; originally published online Jul 22, 2010
Hazinsky MF, Leon C, Bob E, Robin H. Adult stroke. Circulation 2005;112;111-120; originally
published online Nov 28, 2005.
http://emedicine.medscape.com/article/1916662-overview#aw2aab6b2b6aa

Tanya Jawab
Edwin : mengapa yang positif hanya kaku
kuduknya saja?
Cieto : bagaimana menilai apakah hipertensi
karena peningkatan TIK atau memang benar
hipertensi?
Peningkatan TIK: bradikardi relatif, hipertensi,
hiperventilasi (lihat
Wahyu : pada stroke hemoragik akut, kapan
dilakukan penurunannya? Dan bagaimana?
Osmolalitas = 2 (Na+K) + (Glu/18)+(ur/6.4)
=2 (142 + 3.7 )+ (116/18) + (23.9/6.4)
= 291.4+ 6.4 + 3.73 = 301.53

Tekanan darah pada stroke hemoragik
diturunkan apabila ada perdarahan retina,
epistaksis masif, gagal jantung, ekstravasasi
cairan ke alveolus (froathy sputum), gagal
ginjal (kriteria Rifle).
Iskemia pada oksipital atas merupakan silent
area.
Pada kecurigaan peningkatan intrakranial,
lakukan penatalaksanaan elevasi kepala 30
derajat. Selain untuk menyeimbangkan
perfusi dan venous return, elevasi kepala
untuk mencegah aspirasi.
Untuk penatalaksanaan hiperglikemia,
berikan insulin intravena.
Nimodipin diberikan untuk mencegah
vasospasme. Vasospasme terjadi karena
adanya perdarahan dimana ada kontak
antara dinding luar pembuluh darah dengan
darah. Oleh karena itu, muncul mekanisme
pembuluh darah berkontak dengan darah
sehingga terjadi mekanisme vasokonstriksi.
Transamin tidak boleh diberikan karena
transamin akan menstabilkan plasma
sehingga darah tidak diresorpsi.