Anda di halaman 1dari 5

Tazkiyatun Nafs Dalam Aspek Akidah

Tazkiyatun nafs dalam perspektif akidah menurut kalangan penganut Faham Ahlussunnah Wal Jamaah (DDI )
meyakini bahwa rumusan aqidah Abu Hasan Al-Asyari dan Abu Mansyur Al-Maturidi merupakan aqidah yang dibawa
oleh Rasulullah pada awal kedatangan Islam yang terkristalisasi sebagai suatu faham pada abad ketiga hijriah
setelah munculnya beragam firqah aqidah ketika itu.
Titik Awal Tazkiyatun Nafs
Faham Ahlussunnah Wal Jamaah atau yang biasa dikenal dengan sebutan Sunni muncul sebagai modus vivendi (
jalan tengah ) yang mempertemukan paham Qadariyah yang beranggapan bahwa manusia memiliki kebebasan
menentukan kehendaknya dengan faham jabariyah yang berpendapat bahwa segala sesuatu ditentukan oleh Allah.
Manusia hanya menjalani saja dan faham Mutazilah yang menafikan sifat-sifat pada Allah, dan aliran Mujassimah
yang berpendapat Allah memiliki sifat sebagaimana sifat yang terdapat pada diri manusia.
Sinkronisasi paham tersebut didasarkan pada prinsip ( sebaik-baik urusan adalah jalan tengah
). Dengan solusi kekuasaan dan iradat ada pada Allah SWT, tapi manusia memiliki keterlibatan dalam menentukan
takdirnya melalui ihtiyat atau tawakkal dan Allah mempunyai sifat yang melekat pada zatnya, tidak berupa zat yang
ada pada manusia.
Rasulullah SAW memebri gambaran tentang banyaknya aliran aqidah ini sesuai sabdanya :

:
Artinya : Orang Yahudi akan terpecah menjadi 71 atau 72 golongan, dan nasrani demikian pula. Dan akan terpecah
pula ummatku ( Islam ) menjadi tujuh puluh tiga golongan dan kesemuanya masuk neraka kecuali satu golongan.
Sahabat bertanya siapa golongan itu ya Rasulullah ? Rasulullah menjawab golongan menjalankan sebagaimana
yang kujalankan dan sahabat-sahabatku.
Wujud aqidah itu keimanan yang dianut oleh Rasulullah sesuai sabdanya :

Artinya : Beriman itu adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan kesaksian dengan lidah, dan
mengimplementasikan dalam perbuatan nyata.
1. a. Pembagian Pengabdian
Oleh sebab itu penyembahan kepada Allah SWT menurut faham Ahlussunnah Wal jamaah ditempuh melalui dua
cara pengabdian yaitu :
Pengabdian Dzahir
Wujud pengabdian dzahir dalam pelaksanaannya banyak berkaitan dengan faktor jasmaniyah, misalnya sholat,
puasa dan lain-lain.
Pengabdian Bathiniyah
Wujud pengabdian bathin ini, banyak berhubungan dengan kejiwaan, misalnya ingatan, ketekunan dan ketaatan
terhadap Allah SWT dan lain-lain.
Dua bentuk pengabdian ini dalam realisasinya tidak bisa terpisahkan. Tidak ada suatu pengabdian dzahiriyah dalam
realisasinya tanpa berbarengan dengan pengabdian bathiniyah. Seperti sholat termasuk pengabdian dzahir. Akan
tetapi tidak dapat dilaksanakan jika tidak disertai dengan ingatan. Bila ingatan itu tidak ada, maka orangpun terlupa
akan gerakan-gerakan dan bacaan-bacaan sholat.
Sebagian ulama memandang bahwa daya ingatan itulah faktor dasar dalam perwujudan pengabdian dan itulah
sebabnya biasa disebut intinya pengabdian.
Firman Allah dalam Al-Quran Surah Thaha ayat 14 :
(



14. Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah aku dan dirikanlah
shalat untuk mengingat aku.
Dalam Surah Al-Ankabut ayat 45 :

( )
45. bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya
shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat)
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Jalan Menuju Tazkiyatun Nafs
Setiap pengabdian / penyembahan yang tidak disertai dengan daya ingatan dapat dipandang sebagai pengabdian
yang tidak memiliki arti / isi, sebab itulah Allah SWT senantiasa menekankan perlunya manusia mengingat selalu
kepada-Nya
Firman Allah dalam Surah Al-Ahzab ayat 41 :

( )
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-
banyaknya.
1. 1. Pembagian Pengabdian Dzahiriyah
Pengabdian Dzhahiriyah terbagi dalam dua bagian :
1. Pengabdian dzhahir yang langsung kepada Allah.
Corak pengabdian ini adalah pengabdian individual yang dilakukan oleh manusia sebagai perwujudan kewajiban
penyembahan kepada Allah yang lebih dikenal dengan istilah Ibadah . Salah satu contoh pengabdian ini seperti
ibadah sholat. Seseorang dapat dikatakan telah melaksanakan ibadah sholat jika pelaksanaannya dilakukan sendiri
dan tidak dapat digantikan oleh orang lain.
Rasulullah sendiri mendapatkan perintah dari Allah SWT agar mengisi rumahnya dengan menegakkan sholat.
Firman Allah SWT dalam Al-Quran surah Thaha ayat 132 :

( )
Artinya : dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.
Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi
orang yang bertakwa.

1. Pengabdian dzhahiriyah kepada Allah SWT dengan perantaraan suatu unsur.
Pengabdian pada bagian ini adalah segala pengabdian yang mengandung persyarikatan dalam pelaksanaan
diantara sesama manusia, pada pengabdian ini dikenal dengan istilah Muamalah. Salah satu contoh dalam
pengabdian ini adalah dengan menciptakan rasa kesetiakawanan sosial masyarakat baik dalam bentuk tolong
menolong maupun dalam jual-beli ( tijaar ) dan lain sebagainya. Firman Allah SWT dalam Surah Al-Maidah ayat 2 :

( )
Artinya: ..dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong
dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-
Nya.
1. 2. Pembagian Pengabdian Bathiniyah
Pengabdian bathiniyah terbagi kedalam dua bagian yaitu :
1. Pengabdian bathiniyah yang langsung kepada Allah.
Pengertian pengabdian ini adalah pola pengabdian yang tidak terkait dengan manusia seperti dalam hal ketakwaan,
keyakinan, dan daya ingatan terhadap Allah SWT.
Firman Allah SWT dalam sebuah Hadits Qudsi :

Artinya : saya bersama denganmu pada saat engkau mengingat-Ku
1. Pengabdian bathiniyah kepada yang dimediasi suatu unsur.
Bentuk pengabdian ini adalah pengabdian hati yang berkaitan dengan manusia dalam memahami dan mengingat
Allah seperti halnya jika kita berfikir terhadap mahluk-mahluk yang diciptakan oleh Allah sebagai tanda
kekuasaannya, ilmu, serta ketidak-terbatasan kemampuan yang dimiliki-Nya.
Firman Allah SWT dalam Surah Ar-Rad ayat 19 :

( )
19. Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama
dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran
Pengabdian secara bathiniyah ( hati ) dengan mengarahkan ingatan sebagai guidance (pengarah) terhadap sasaran
yang dituju. Salah satu yang perlu diketahui adalah perbedaan antara fikiran dan ingatan. Sebab terkadang
seseorang hanya berfikir lalu mengatakan dirinya mengingat Allah sehingga berpendirian bahwa dirinya telah
berada disisi Allah karena ingatannya, padahal sejatinya keadaan dirinya masih dalam kondisi berfikir, bukan
mengingat Allah.
Perbedaan tersebut nampak jelas apabila didasarkan pada pemahaman dan penghayatan terhadap gagasan (ide)
yaitu :
1. Angan-angan : gerak gerik hati untuk menemukan sesuatu yang wujudnya belum tentu.
2. Anggapan : gerak gerik hati untuk menemukan sesuatu yang dikehendaki setelah difikirkan kemungkinannya.
3. Fikiran : terarahnya hati dalam mengusahakan sesuatu yang secara pasti kemungkinannya dapat dicapai.
Segala sesuatu tersebut adalah selain daripada yang berhubungan dengan Allah.
4. Ingatan : ketetapan ( istiqamahnya ) hati manusia menghadap kehadirat Allah SWT.
Demikian tazkiyatun nafs dalam konteks aqidah