Anda di halaman 1dari 8

Penetapan Kadar Parasetamol dalam SL

I. Tujuan
Untuk mengetahui kadar Parasetamol dalam SL.

II. Metode
Nitrimetri (Titrasi Diazotasi)

III. Teori
Nitrimetri (Titrasi Diazotasi)
Metode nitrimetri adalah metode penetapan kadar secara kuantitatif dengan
menggunakan larutan baku natrium nitrit. Metode ini didasarkan pada reaksi diazotasi
yakni reaksi antara amina aromatik primer dengan asam nitrit dalam suasana asam
membentuk garam diazonium. Karena asam nitrit tidak stabil, maka diganti dengan
natrium nitrit yang merupakan garam dari asam nitrit sedangkan untuk membuat suasana
asam digunakan asam klorida.

Reaksi diazotasi yang mendasari metode ini dapat dituliskan sebagai berikut :

NaNO
2
+ HCL HNO
2
+ NaCl

Dengan persyaratan tertentu, reaksi di atas bersifat kuantitatif sehingga dapat
digunakan sebagai dasar penetapan kadar senyawa-senyawa yang mempunyai gugus
amina aromatis primer bebas atau senyawa-senyawa yang dapat menghasilkan gugus
tersebut.
Persyaratan tersebut antara lain : suhu yang digunakan harus rendah (dibawah
15C), sebab pada suhu yang lebih tinggi garam diazonium yang terbentuk tidak stabil
dan akan terhidrolisis menjadi fenol dan gas nitrogen, disamping itu dikhawatirkan pada
suhu yang lebih tinggi asam nitrit akan lebih cepat terurai. Namun, titrasi dapat dilakukan
pada suhu kamar (sekitar 25C) dan hasilnya tidak berbeda jauh dibandingkan pada suhu
yang lebih rendah (15C) asalkan titrasi dilakukan secara perlahan-lahan.
Dalam nitrimetri, berat ekivalen suatu senyawa sama dengan berat molekulnya
karena 1 mol senyawa bereaksi dengan 1 mol asam nitrit dan menghasilkan 1 mol garam
diazonium.
Dengan alasan ini pula pada nitrimetri konsentrasi larutan baku sering dinyatakan
dengan Molaritas (M) karena molaritasnya sama dengan normalitasnya (Gandjar dan
Rohman, 2007). Reaksi diazotasi merupakan reaksi biomolekuler, karena pada umumnya
reaksinya berjalan lambat dibandingkan dengan reaksi ionik. Oleh sebab itu, selama
titrasi harus dilakukan secara pelan-pelan (sekitar 4 sampai 8 ml tiap menit) terutama
menjelang titik akhir titrasi (Mursyidi dan Rohman, 2007). Pada nitrimetri, penentuan
titik akhir titrasi dapat menggunakan indikator luar, indikator dalam dan secara
potensiometri.

a. Indikator luar
Indikator luar yang digunakan adalah pasta kanji-iodida atau dapat pula menggunakan kertas
kanji-iodida. Ketika larutan digoreskan pada pada pasta atau kertas, adanya kelebihan
asam nitrit akan mengoksidasi iodida menjadi iod dan dengan adanya kanji atau amilum
akan menghasilkan warna biru segar. Indikator kanji-iodida ini peka terhadap kelebihan
0,05-0,0 ml natrium nitrit dalam 200 ml larutan.
Titik akhir titrasi tercapai apabila pada penggoresan larutan yang dititrasi pada
pasta kanji-iodida atau kertas kaji-iodida akan terbentuk warna biru segera sebab warna
biru juga terbentuk beberapa saat setelah dibiarkan di udara (Gandjar dan Rohman, 2007).

b. Indikator Dalam
Indikator dalam terdiri atas campuran tropeolin OO dan metilen biru. Treopilin
OO merupakan indikator asam-basa yang berwarna merah dalam suasana asam dan
berwarna kuning bila dioksidasi oleh adanya kelebihan asam nitrit, sedangkan metilen
biru sebagai pengkontras warna sehingga pada titik akhir titrasi akan terjadi perubahan
dari ungu menjadi biru sampai hijau tergantung senyawa yang dititrasi (Gandjar dan Rohman,
2007).
c. Metode Potensiometri
Metode yang baik untuk penetapan titik akhir nitrimetri adalah
metode potensiometri dengan menggunakan elektroda kolomel platina yang dicelupkan
ke dalam titrat. Pada saat titik akhir titrasi (adanya kelebihan asam nitrit), akan terjadi
depolarisasi elektroda sehingga akan terjadi perubahan arus yang sangat tajam sekitar
+0,80 Volt sampai +0,90 Volt. Metode ini sangat cocok untuk sampel dalam bentuk
sediaan sirup yang berwarna (Mursyidi dan Rohman, 2006).

IV. Monografi

(menurut FI edisi IV halaman 649)
Rumus molekul: C
8
H
9
NO
2

Nama kimia : n-asetil-4-aminofenol
Berat molekul : 151,16
Kandungan : Tidak kurang dari 98,0% dan tidak lebih dari 101,0% C
8
H
9
NO
2
dihitung
terhadap zat anhidrat.
Pemerian : Serbuk hablur, putih; tidak berbau; rasa sedikit pahit.
Kelarutan : Larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1 N; mudah
larutan dalam etanol.

V. Alat dan Bahan
1. Alat
- Buret, statip, klem, lumpang, alu
- Erlenmeyer 100 ml, 250 ml
- Beaker glass 100 ml, 250 ml
- Gelas ukur 5 ml, 10 ml, 25 ml
- Pengaduk kaca, penggores, spatel, thermometer, baskom
2. Bahan
- LBS : NaNO
2
0,1 M
- LBP : Sulfanilamida
- Sampel : Parasetamol dalam SL
- Indikator : pasta kanji
- KBr
- HCl (1:2), HCl p
- Aqua destilasi, es batu

VI. Prosedur Kerja

1. Pembuatan LBS NaNO
2
0,1 M (menurut FI III halaman 749)
Timbang 7,5 gram NaNO
2 (p)
, larutkan dalam air secukupnya ad 1000 ml

2. Pasta Kanji Iod (FI IV halaman 1168)
- Panaskan 100 ml air di dalam gelas piala 250 ml hingga mendidih, tambahkan
larutan 750 mg kalium iodida dpekat dalam 5 ml air.
- Larutkan 2 gram seng klorida dalam 10 ml air.
- Panaskan larutan hingga mendidih, tambahkan sambil diaduk suspensi 5 gram
kanji larut P dalam 30 ml air dingin.
- Lanjutkan hingga mendidih selama 2 menit, dinginkan.

3. Pembakuan NaNO
2
(FI III halaman 749)
- Timbang seksama 500 mg sulfanilamide PK yang sebelumnya telah dikeringkan
pada suhu 105
o
C selama 3 jam.
- Masukkan ke dalam gelas kimia, tambahkan 50 ml air dan 5 ml HCl P aduk
hingga larut dinginkan hingga suhu 15
o
C, tambahkan 25 gram pecahan es.
- Titrasi perlahan-lahan dengan larutan NaNO
2
aduk kuat-kuat hingga pengaduk
kaca yang dicelupkan ke dalam larutan titrasi dan disentuhkan pada kertas kanji
iodide P memberikan warna biru seketika.
- Titrasi akhir dicapai jika larutan titrasi setelah dibiarkan selama 1 menit dan
pengaduk kaca dimasukkan ke dalam larutan kemudian disentuhkan pada kertas
kertas kanji iodide P memberikan warna biru seketika.
1 ml NaNO
2
0,1 M 17,22 mg Sulfanilamid
1 ml NaNO
2
0,1 M 15,116 mg Parasetamol

4. Penetapan Kadar Parasetamol (Acta Pharmaceutical vol IV no 3-4 Sep-Des 1943)
- Timbang 500 mg dengan seksama dimasukkan dalam labu ukur titrasi 300 ml
tambahkan HCl (1:2) 20 ml lalu refluks selama 30 menit,dinginkan.
- Tambahkan KBr 5 gram, Tropeolin oo 5 tetes dan metilen blue 3 tetes.
- Titrasi dengan larutan baku NaNO
2
hingga terjadi perubahan warna dari ungu ke
biru.

VII. Persamaan Reaksi
1. Pembakuan
NaNO
2
+ HCl NaCl + HONO



+ HONO

< 15 oC




Sulfonamida + HONO

< 15 oC
Garam diazonium

2. Penetapan Kadar


O

+ HCl
wb
+ CH3 C Cl


Parasetamol Para-aminofenol




+ HCl

Para-amino fenol klorida




+ HONO


NH N=N
Garam diazonium
HO N

Cl
-


3. Indikator
NaNO
2
+ HCl HNO
2
+ NaCl
KI + HCl KCl + HI
2HI + 2 HONO I
2
+ 2 NO + 2H
2
O
I
2
+ kanji kanji yod (biru)

VIII. Data
1. Pembakuan NaNO
2
0,1 M
Perhitungan BP = 2/3 x vol buret x kesetaraan
= 2/3 x 10,00 ml x 17,22 mg = 114,8 mg
No. Berat Sulfanilamide Volume NaNO
2
0,1 M
1. 114,5 mg 6,6 ml
2. 114,2 mg 6,6 ml
3. 114,9 mg 6,65 ml

2. Penetapan Kadar sampel
Perhitungan sampel = 2/3 x vol buret x kesetaraan
= 2/3 x 10,00 ml x 15,116 mg = 100,77 mg

No. Berat Parasetamol Volume NaNO
2
0,1 M
1. 200,3 mg 3,4 ml
2. 200,1 mg 3,4 ml
3. 200,7 mg 3,4 ml

IX. Perhitungan
1. Pembakuan NaNO
2
0,1 M
Rumus :
Mmol titran = Mmol titrat
V x M titran =



Konsentrasi I 6,6 ml x M NaNO
2
=


M NaNO
2
= 0,1008
Konsentrasi II 6,6 ml x M NaNO
2
=


M NaNO
2
= 0,1005
Konsentrasi III 6,65 ml x M NaNO
2
=


M NaNO
2
= 0,1003

Konsentrasi NaNO
2
rata-rata =

= 0,1005 M

2. Penetapan Kadar Sampel
Rumus :


x


x 100%

Kadar I


x


x 100% = 25,79 %
Kadar II


x


x 100% = 25,81 %
Kadar III


x


x 100% = 25,74 %
Kadar sampel Parasetamol rata-rata =

= 25,78 %

X. Kesimpulan
1. Konsentrasi pembakuan NaNO
2
yang sebenarnya = 0,1005 M
2. Kadar sampel Parasetamol dalam SL yang sebenarnya = 25,78 %