Anda di halaman 1dari 7

Senin, 21 Maret 2011

POLIP NASI / POLIP HIDUNG



Polip Nasi atau biasa disebut Polip Hidung adalah kelainan mukosa hidung dan sinus paranasal
terutama pada kompleks osteomeatal (KOM) di meatus nasi medius berupa massa lunak yang
bertangkai (tonjolan pada jaringan permukaan mukosa), bentuk bulat atau lonjong, berwarna putih
keabu-abuan (bentuknya mirip dengan buah anggur bening lonjong bertangkai). Permukaannya
licin dan agak bening karena banyak mengandung cairan. Sering bilateral dan multipel.


Orang yang menderita Polip hidung merasa terganggu akibat tonjolan di dalam hidungnya sehingga
tidak leluasa untuk bernafas (buntu) dan pilek berkepanjangan. Perlu diingat bahwa jika seseorang
mengalami pilek dan hidung berasa mampet.

JENIS POLIP HIDUNG

Polip Hidung terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :

Polip hidung Tunggal. Jumlah polip hanya sebuah. Berasal dari sel-sel permukaan dinding sinus
tulang pipi (maxilla).
Polip Hidung Multiple. Jumlah polip lebih dari satu. Dapat timbul di kedua sisi rongga hidung. Pada
umumnya berasal dari permukaan dinding rongga tulang hidung bagian atas (etmoid).

PENYEBAB POLIP HIDUNG

Penyebab Polip hidung belum diketahui secara pasti. Namun ada 3 faktor yang berperan dalam
terjadinya polip nasi, yaitu :

1. Peradangan. Peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal yang kronik dan berulang.
2. Vasomotor. Gangguan keseimbangan vasomotor.
3. Edema. Peningkatan tekanan cairan interstitial sehingga timbul edema mukosa hidung.
Terjadinya edema ini dapat dijelaskan oleh fenomena Bernoulli.

Fenomena Bernoulli yang dimaksud yaitu udara yang mengalir melalui tempat yang sempit akan
menimbulkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya sehingga jaringan yang lemah ikatannya akan
terisap oleh tekanan negatif tersebut. Akibatnya timbullah edema mukosa. Keadaan ini terus
berlangsung hingga terjadilah polip hidung. Ada juga bentuk variasi polip hidung yang disebut polip
koana (polip antrum koana).

Polip Hidung Polip hidung biasanya tumbuh di daerah dimana selaput lendir membengkak akibat
penimbunan cairan, seperti daerah di sekitar lubang sinus pada rongga hidung.

PATOFISIOLOGI POLIP HIDUNG


Polip berasal dari pembengkakan mukosa hidung yang terdiri atas cairan interseluler dan kemudian
terdorong ke dalam rongga hidung dan gaya berat. Polip dapat timbul dari bagian mukosa hidung
atau sinus paranasal dan seringkali bilateral. Polip hidung paling sering berasal dari sinus maksila
(antrum) dapat keluar melalui ostium sinus maksilla dan masuk ke ronga hidung dan membesar di
koana dan nasopharing. Polip ini disebut polip koana. Secara makroskopik polip tersehat sebagai
massa yang lunak berwarna putih atau keabu-abuan. Sedangkan secara mikroskopik tampak
submukosa hipertropi dan sembab. Sel tidak bertambah banyak dan terutama terdiri dari sel
eosinofil, limfosit dan sel plasma sedangkan letaknya berjauhan dipisahkan oleh cairan interseluler.
Pembuluh darah, syaraf dan kelenjar sangat sedikit dalam polip dan dilapisi oleh epitel throrak
berlapis semu.
Mekanisme patogenesis yang bertanggungjawab terhadap pertumbuhan polip hidung sulit
ditentukan. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pembentukan polip, antara lain:

Proses inflamasi yang disebabkan penyebab multifaktorial termasuk familiar dan faktor herediter
Aktivasi respon imun lokal
Hiperaktivitas dari persarafan parasimpatis.


Semua jenis imunoglobulin dapat ditemui pada polip nasi, tapi peningkatan IgE merupakan jenis
yang paling tinggi ditemukan bahkan apabila dibandingkan dengan tonsil dan serum sekalipun.
Kadar IgG, IgA, IgM terdapat dalam jumlah bervariasi, dimana peningkatan jumlah memperlihatkan
adanya infeksi pada saluran napas.

Beberapa mediator inflamasi juga dapat ditemukan di dalam polip. Histamin merupakan mediator
terbesar yang konsentrasinya di dalam stroma polip 100-1000 konsentrasi serum. Mediator kimia
lain yang ikut dalam patogenesis dari nasal polip adalah Gamma Interferon (IFN-) dan Tumour
Growth Factor (TGF-). IFN- menyebabkan migrasi dan aktivasi eosinofil yang melalui pelepasan
toksiknya bertanggungjawab atas kerusakan epitel dan sintesis kolagen oleh fibroblas . TGF- yang
umumnya tidak ditemukan dalam mukosa normal merupakan faktor paling kuat dalam menarik
fibroblas dan meransang sintesis matrik ekstraseluler. Peningkatan mediator ini pada akhirnya akan
merusak mukosa rinosinusal yang akan menyebabkan peningkatan permeabilitas terhadap natrium
sehingga mencetuskan terjadinya edema submukosa pada polip nasi.



Fenomena bernouli menyatakan bahwa udara yang mengalir melalui celah yang sempit akan
mengakibatkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya, sehingga jaringan yang lemah akan terhisap
oleh tekanan negatif ini sehingga menyebabkan polip, fenomena ini dapat menjelaskan mengapa
polip banyak terjadi pada area yang sempit di kompleks osteomatal.

Patogenesis polip pada awalnya ditemukan bengkak selaput permukaan yang kebanyakan terdapat
pada meatus medius, kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga selaput
permukaan yang sembab menjadi berbenjol-benjol. Bila proses terus membesar dan kemudian turun
ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai sehingga terjadi Polip

HISTOPATOLOGI POLIP HIDUNG


Epitel normal dari kavum nasi adalah epitel kolumnar bertingkat semu bersilia. Epitel permukaan
dari sinus lebih tipis, memiliki sel goblet dan silia yang lebih sedikit bila dibandingkan dengan
kavum nasi.

Berdasarkan histologisnya terdapat 4 tipe dari polip nasi:

Eosinofilik edematous. Tipe ini merupakan jenis yang paling banyak ditemui yang meliputi kira-
kira 85% kasus. Tipe ini ditandai dengan adanya stroma yang edema, peningkatan sel goblet dalam
jumlah normal, jumlah eosinofil yang meningkat tinggi, sel mast dalam stroma, dan penebalan
membran basement.

Polip inflamasi kronik. Tipe ini hanya terdapat kurang dari 10% kasus polip nasi. Tipe ini
ditandai dengan tidak ditemukannya edema stroma dan penurunan jumlah dari sel goblet.
Penebalan dari membran basement tidak nyata. Tanda dari respon inflamasi mungkin dapat
ditemukan walaupun yang dominan adalah limfosit. Stroma terdiri atas fibroblas.

Polip dengan hiperplasia dari glandula seromusinous. Tipe ini hanya terdapat kurang dari
5% dari seluruh kasus. Gambaran utama dari tipe ini adalah adanya glandula dan duktus dalam
jumlah yang banyak.

Polip dengan atipia stromal.Tipe ini merupakan jenis yang jarang ditemui dan dapat mengalami
misdiagnosis dengan neoplasma. Sel stroma abnormal atau menunjukkan gambaran atipikal, tetapi
tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai suatu neoplasma.

Pada polip nasi, tapi peningkatan IgE merupakan jenis yang paling tinggi ditemukan bahkan apabila
dibandingkan dengan tonsil dan serum sekalipun. Kadar IgG, IgA, IgM terdapat dalam jumlah
bervariasi, dimana peningkatan jumlah memperlihatkan adanya infeksi pada saluran napas.

Beberapa mediator inflamasi juga dapat ditemukan di dalam polip. Histamin merupakan mediator
terbesar yang konsentrasinya di dalam stroma polip 100-1000 konsentrasi serum. Mediator kimia
lain yang ikut dalam patogenesis dari nasal polip adalah Gamma Interferon (IFN-) dan Tumour
Growth Factor (TGF-). IFN- menyebabkan migrasi dan aktivasi eosinofil yang melalui pelepasan
toksiknya bertanggungjawab atas kerusakan epitel dan sintesis kolagen oleh fibroblas . TGF- yang
umumnya tidak ditemukan dalam mukosa normal merupakan faktor paling kuat dalam menarik
fibroblas dan meransang sintesis matrik ekstraseluler. Peningkatan mediator ini pada akhirnya akan
merusak mukosa rinosinusal yang akan menyebabkan peningkatan permeabilitas terhadap natrium
sehingga mencetuskan terjadinya edema submukosa pada polip nasi.


GEJALA POLIP HIDUNG

Gejala Polip Hidung Ketika baru terbentuk, sebuah polip tampak seperti air mata dan jika telah
matang, bentuknya menyerupai buah anggur yang berwarna keabu-abuan. Penderita biasanya
mengeluhkan hidung tersumbat, penurunan indra penciuman, dan gangguan pernafasan. Akibatnya
penderita bersuara sengau.

Polip hidung juga bisa menyebabkan penyumbatan pada drainase lendir dari sinus ke hidung.
Penyumbatan ini menyebabkan tertimbunnya lendir di dalam sinus. Lendir yang terlalu lama berada
di dalam sinus bisa mengalami infeksi dan akhirnya terjadi sinusitis.

Pengobatan Polip Hidung Tujuan utama pengobatan adalah mengatasi polip dan menghindari
penyebab atau faktor pemicu terjadinya polip. Obat semprot hidung yang
mengandungcorticosteroid kadang bisa memperkecil ukuran polip hidung atau bahkan
menghilangkan polip. Operasi dilakukan jika polip mengganggu pernafasan atau berhubungan
dengan tumor.

DIAGNOSIS POLIP HIDUNG

Cara menegakkan diagnosa polip hidung, yaitu dengan :

Anamnesis

Hidung tersumbat.
Terasa ada massa didalam hidung.
Sukar membuang ingus.
Gangguan penciuman : anosmia & hiposmia.
Gejala sekunder. Bila disertai kelainan jaringan & organ di sekitarnya seperti post nasal drip, sakit
kepala, nyeri muka, suara nasal (bindeng), telinga rasa penuh, mendengkur, gangguan tidur dan
penurunan kualitas hidup.

Pemeriksaan fisik. Terlihat deformitas hidung luar.
Rinoskopi anterior. Mudah melihat polip yang sudah masuk ke dalam rongga hidung.
Dengan pemeriksaan rhinoskopi anterior biasanya polip sudah dapat dilihat, polip yang masif
seringkali menciptakan kelainan pada hidung bagian luar. Pemeriksaan Rontgen dan CT scan dapat
dilakukan untuk

Polip biasanya tumbuh di daerah dimana selaput lendir membengkak akibat penimbunan cairan,
seperti daerah di sekitar lubang sinus pada rongga hidung. Ketika baru terbentuk, sebuah polip
tampak seperti air mata dan jika telah matang, bentuknya menyerupai buah anggur yang berwarna
keabu-abuan.

Polip nasi yang masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung tampak mekar
karena pelebaran batang hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior dapat terlihat adanya massa
yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan.1

Pembagian polip nasi polip/ hidung

Grade 0 : Tidak ada polip
Grade 1 : Polip terbatas pada meatus media
Grade 2 : Polip sudah keluar dari meatus media, tampak di rongga hidung tapi belum
menyebabkan obstruksi total
Grade 3 : Polip sudah menyebabkan obstruksi total
Endoskopi. Untuk melihat polip yang masih kecil dan belum keluar dari kompleks osteomeatal.
memberikan gambaran yang baik dari polip, khususnya polip berukuran kecil di meatus media.
Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi
tampak dengan pemeriksan naso-endoskopi. Pada kasus polip koanal juga dapat dilihat tangkai
polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila. Dengan naso-endoskopi dapat juga
dilakukan biopsi pada layanan rawat jalan tanpa harus ke meja operasi.
Foto polos rontgen &CT-scan. Untuk mendeteksi sinusitis.
Foto polos sinus paranasal (posisi water, AP, caldwell, dan lateral) dapat memperlihatkan penebalan
mukosa dan adanya batas udara dan cairan di dalam sinus, tetapi pemeriksaan ini kurang
bermanfaat pada pada kasus polip. Pemeriksaan CT scan sangat bermanfaat untuk melihat dengan
jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada kelainan anatomi, polip, atau sumbatan
pada komplek osteomeatal. CT scan terutama diindikasikan pada kasus polip yang gagal diterapi
dengan medikamentosa.
Biopsi. Kita anjurkan jika terdapat massa unilateral pada pasien berusia lanjut, menyerupai
keganasan pada penampakan makroskopis dan ada gambaran erosi tulang pada foto polos rontgen.

PENATALAKSANAAN POLIP HIDUNG

Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi ialah menghilangkan keluhan-keluhan yang
dirasakan oleh pasien. Selain itu juga diusahakan agar frekuensi infeksi berkurang,
mengurangi/menghilangkan keluhan pernapasan pada pasien yang disertai asma, mencegah
komplikasi dan mencegah rekurensi polip.

Medikamentosa : kortikosteroid, antibiotik &anti alergi.
Operasi : polipektomi & etmoidektomi.
Kombinasi : medikamentosa & operasi.
Berikan kortikosteroid pada polip yang masih kecil dan belum memasuki rongga hidung. Caranya
bisa sistemik, intranasal atau kombinasi keduanya. Gunakan kortikosteroid sistemik dosis tinggi dan
dalam jangka waktu singkat. Berikan antibiotik jika ada tanda infeksi. Berikan anti alergi jika
pemicunya dianggap alergi.

Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi
medikamentosa. Untuk polip stadium 1 dan 2, sebaiknya diberikan kortikosteroid intranasal selama
4-6 minggu. Bila reaksinya baik, pengobatan ini diteruskan sampai polip atau gejalanya hilang. Bila
reaksinya terbatas atau tidak ada perbaikan maka diberikan juga kortikosteroid sistemik. Perlu
diperhatikan bahwa kortikosteroid intranasal mungkin harganya mahal dan tidak terjangkau oleh
sebagian pasien, sehingga dalam keadaan demikian langsung diberikan kortikosteroid oral. Dosis
kortikosteroid saat ini belum ada ketentuan yang baku, pemberian masih secara empirik misalnya
diberikan Prednison 30 mg per hari selama seminggu dilanjutkan dengan 15 mg per hari selama
seminggu.Menurut van Camp dan Clement dikutip dari Mygind dan, Lidholdt untuk polip dapat
diberikan prednisolon dengan dosis total 570 mg yang dibagi dalam beberapa dosis, yaitu 60
mg/hari selama 4 hari, kemudian dilakukan tapering off 5 mg per hari. Menurut Naclerio pemberian
kortikosteroid tidak boleh lebih dari 4 kali dalam setahun. Pemberian suntikan kortikosteroid
intrapolip sekarang tidak dianjurkan lagi mengingat bahayanya dapat menyebabkan kebutaan akibat
emboli. Kalau ada tanda-tanda infeksi harus diberikan juga antibiotik. Pemberian antibiotik pada
kasus polip dengan sinusitis sekurang-kurangnya selama 10-14 hari.

Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat masif
dipertimbangkan untuk terapi bedah. Terapi bedah yang dipilih tergantung dari luasnya penyakit
(besarnya polip dan adanya sinusitis yang menyertainya), fasilitas alat yang tersedia dan
kemampuan dokter yang menangani. Macamnya operasi mulai dari polipektomi intranasal
menggunakan jerat (snare) kawat dan/ polipektomi intranasal dengan cunam (forseps) yang dapat
dilakukan di ruang tindakan unit rawat jalan dengan analgesi lokal; etmoidektomi intranasal atau
etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid; operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. Yang
terbaik ialah bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan endoskopi untuk
polipektomi saja, atau disertai unsinektomi atau lebih luas lagi disertai pengangkatan bula etmoid
sampai Bedah Sinus Endoskopik Fungsional lengkap. Alat mutakhir untuk membantu operasi
polipektomi endoskopik ialah microdebrider (powered instrument) yaitu alat yang dapat
menghancurkan dan mengisap jaringan polip sehingga operasi dapat berlangsung cepat dengan
trauma yang minimal.

Polipektomi merupakan tindakan pengangkatan polip menggunakan senar polip dengan bantuan
anestesi lokal. Kategori polip yang diangkat adalah polip yang besar namun belum memadati rongga
hidung.

Etmoidektomi atau bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF/FESS) merupakan tindakan
pengangkatan polip sekaligus operasi sinus. Kriteria polip yang diangkat adalah polip yang sangat
besar, berulang, dan jelas terdapat kelainan di kompleks osteomeatal.

Antibiotik sebagai terapi kombinasi pada polip hidung bisa kita berikan sebelum dan sesudah
operasi. Berikan antibiotik bila ada tanda infeksi dan untuk langkah profilaksis pasca operasi.
baca lebih lengkap disini
DAFTAR PUSTAKA
Nuty W. Nizar & Endang Mangunkusumo. Polip Hidung dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga,
Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Ed. ke-5. dr. H. Efiaty Arsyad Soepardi, Sp.THT & Prof. dr. H.
Nurbaiti Iskandar, Sp.THT (editor). Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2006.

http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2010/09/05/polip-hidung/
Diposkan oleh indah triayu di 17.20
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook
Label: THT
Reaksi: