Anda di halaman 1dari 7

Lampiran 12

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR



1. Prosedur Pemasangan NGT
1. Persiapan pasien;
a. Pasien dan keluarganya diberi penjelasan tentang hal-hal yang akan
dilaksanakan
b. Pasien disiapkan dalam posisi semi fowler (bila sadar) atau supine dengan
kepala fleksi (tidak sadar)
c. Pasien yang gelisah sebaiknya diikat tangan dan kakinya
2. Cek dan bersihkan lubang hidung
3. Perlak dan alas dipasang di atas dada
4. Dekatkan bengkok.
Selang NGT diukur dari epigastrum sampai hidung kemudian belokan ke
telinga, selanjutnya diberi tanda (ujung pipa pada arah epigastrum)
5. Ujung selang diberi pelicin dengan air atau jelly, bagian pangkal pipa di klem
6. Selang dimasukkan perlahan-lahan sambil pasien disuruh menelan, lalu
menarik nafas panjang bila pasien sadar
7. Ujung slang diberi pelicin dengan air atau jelly, bagian pangkal pipa klem
8. Selang dimasukkan perlahan-lahan sambil pasien disuruh menelan, lalu
menarik nafas panjang bila pasien sadar
9. Memeriksa respon pasien
a. Batuk
b. Kebiru-biruan
10. Bila ada tanda-tanda batuk dan kebiru-biruan cabut selang dengan cepat
11. Periksa apakah selang benar-benar masuk ke lambung dengan cara berikut
a. Masukkan ujung selang sampai terendam dalam mangkuk berisi air. Klem
dibuka dan dilipat. Perhatikan ada atau tidaknya gelembung. Jika tidak ada
gelembung, berarti pipa berhasil masuk ke epigastrum. Setelah itu pipa di
klem dan diangkat kembali.
b. Pada pasien dengan keadaan sangat payah, atau BBLR, tempuh cara
menghisap isi lambung sedikit dengan spuit.
c. Masukkan udara dengan spuit ke dalam lambung, sambil mendengarkan
menggunakan stetoscope. Bila terdengar bunyi, berarti pipa berhasil masuk ke
dalam epigastrum. Kemudian udara tadi dikeluarkan kembali.
12. Setelah yankin selang masuk epigastrum, pasanglah spuit pada pangkal pipa,
masukkan air mayang sekurang-kurangnya 15 cc. Pada tahap awal pemberian,
spuit dimiringkan dan tunagkan makanan melalui pinggirnya
13. Klem dibuka perlahan-lahan
14. Cairan/ makanan sebaiknya dituangkan sebelum isi corong kosong. Tiap
pemberian tidak boleh lebih dari 600 cc
15. Bila cairan tidak mengalir lancar, maka posisi pipa harus agak ditinggikan
16. Bila pasien harus minum obat, obat harus dilarutkan dan diberikan sebelum
makanan habis
17. Setela makanan habis, selang dibilas dengan air masak hingga bersih,
kemudian pangkal selang segera di klem
18. Jika pipa selang harus dipasang secara menetap, maka slang harus dilekatkan
pada pipa dengan plester.

2. Prosedur Pemasangan Kateter
1. Persiapan pasien;
a. Memberi penjelasan pada pasien dan keluarga tentang tindakan yang akan
dilaksanakan
b. Pasien disiapkan dalam posisi dorsal rekumben
c. Meninggikan pakaian bawah pasien
2. Mencuci tangan sebelum memulai
3. Mendesinfektan sekitar alat vital pasien dari arah luar ke dalam
4. Memakai sarung tangan
5. Memasukkan xylocain jelly kurang lebih 10 cc bila pasien laki-laki/ oleskan
jelly pada kateter bila pasien wanita
6. Mulai tindakan pasang kateter dengan penis tegak lurus/ dorsum flexi kurang
lebih 90
o

7. Kemudian posisi penis diarahkan ke lipat paha, sambil kateter terus didorong
sampai sisa kateter di luar 10-15 cm
8. Coba fungsi kateter, bila urine sudah keluar lansung dihubungkan dengan
urine bag
9. Balon diisi dengan air aquades kurang lebih 20-30 cc
10. Kateter ditarik sampai ada tegangan
11. Menghitung urine keluar
12. Membereskan alat-alat
13. Mencuci tangan

3. Prosedur Membersihkan Mulut
1. Pasien diberi tahu tentang tindakan yang akan dilakukan
2. Kain pengalas diletakkan dibawah dagu dan pipi pasien
3. Mulut pasien diibuka memakai tongue spatel yang dibungkus kassa
4. Rongga mulut dibersihkan dengan memakai pinset dan kassa dimulai dari
dinding rongga mulut, gusi, gigi, dan lidah
5. Kain kassa kotor dibuang ke dalam bengkok
6. Tindakan pembersihan mulut diulangi sampai bersih
7. Bila memungkinkan pasien diminta kumur-kumur
8. Peralatan dibersihkan dan dikembalikan ke tempatnya

4. Prosedur Mengganti Balutan
1. Pasien diberi tahu tentang tindakan yang akan dilakukan
2. Kain pengalas diletakkan dibawah dagu dan pipi pasien
3. Mulut pasien diibuka memakai tongue spatel yang dibungkus kassa
4. Rongga mulut dibersihkan dengan memakai pinset dan kassa dimulai dari
dinding rongga mulut, gusi, gigi, dan lidah
5. Kain kassa kotor dibuang ke dalam bengkok
6. Tindakan pembersihan mulut diulangi sampai bersih
7. Bila memungkinkan pasien diminta kumur-kumur
8. Peralatan dibersihkan dan dikembalikan ke tempatnya

5. Prosedur Menghitung Pernapasan
1. Menghitung pernapasan dilakukan bersaman dengan pengukuran suhu dan
denyut nadi
2. Penghitungan dilakukan dalam satu menit dan hasilnya dicatat
3. Bila ada kelainan segera laporkan kepada penanggung jawab ruangan atau
dokter bangsal
4. Hasil perhitungan dicatat di buku

6. Prosedur Menghitung Denyut Nadi
1. Menghitung nadi dilakukan bersamaan dengan perhitungan suhu tubuh
2. Pada waktu menghitung nadi, paseien harus benat-benar istirahat dalam posisi
berbaring atau duduk
3. Perhitungan dilakukan dengan menempelkan jari telunjuk dan jari tangan di
atas arteri selama setengah menit dan hasilnya dikalikan dua
4. Khusus pada anak-anak perhitungan harus dilakukan selama 1 menit
5. Hasil perhitungan dicatat di buku

7. Prosedur Mengukur Tekanan Darah
1. Lengan baju dibuka atau digulung
2. Manset tensimeter dipasang pada lengan atas, pipa karet berada di sisi luar
lengan
3. Manset dipasang tidak terlalu kuat atau longgar
4. Pompa tensimeter dipasang
5. Denyut arteri brachialis diraba, lalu stetoskop ditempatkan di daerah tersebut
6. Sekrup balon karet ditutup, pengunci air raksa dibuka, selanjutnya balon
dipompa sampai denyut arteri tidak terdengar dan air raksa di dalam pipa gelas
naik
7. Sekrup balon dibuka perlahan-lahan, sehingga air raksa turun perlahan-lahan.
Sambil memperhatikan turunnya air raksa dengarkan bunyi denyutan pertama
8. Skala permukaan air pada waktu denyutan pertama disebut systole (misalnya
120 mmHg)
9. Dengarkan terus sampai denyutan yang terakhir disebut dengan tekanan
diastole (misalnya 80 mmHg)
10. Pencatatan dilakukan sebagai berikut, systole diatas dan diastole dibawah
misalnya 120/90 dalam satuan mmHg

8. Prosedur Mengukur Suhu Tubuh
1. Perawat cuci tangan
2. Bantu klien untuk melakukan posisi duduk atau terlentang
3. Lepaskan pakaian dan gaun dari bahu dan lengan klien. Pastikan area aksila
kering
4. Angkat lengan klien menjauhi batang tubuh
5. Termometer diperiksa apakah air raksa tepat pada angka nol. Lalu dijepitkan
tepat di tengah ketiak, dan lengan pasien dilipat di dada
6. Setelah lima sampai sepuluh menit termometer diangkat dan langsung dibaca
dengan baik
7. U ntuk termometer digital, biarkan probe elektronik pada aksila sampai tanda
bunyi terdengar dan suhu tubuh klien tampak pada tampilan digital
8. Baca termometer dan beritahukan hasilnya kepada pasien
9. Bersihkan termometer dengan kassa alkohol dan keringkan dengan tissue,
sebelum digunakan kembali
10. Air raksa diturunkan kembali pada angka nol, sedangkan termometer digital
cukup dengan menekan probe
11. Termometer diletakkan pada tempatnya serta siap dipakai untuk pasien
berikutnya

9. Prosedur Memasang Infus
1. Menggantung cairan infus di standard infus
2. Mengisi kompartemen infus set dengan cara menekan kompartemen tersebut
3. Mengisi selang infus/threeway dengan cairan yang benar
4. Menekan kompartemen tersebut
5. Menutup ujung selang dan tutup dengan mempertahankan kesterilan
6. Mencuci tangan di air mengalir
7. Letakkan perlak dan pengalas dibawah anggota tubuh yang akan dipasang
infus
8. Memasang sarung tangan bersih
9. Memilih posisi yang tepat untuk memasang infus
10. Memilih vena yang tepat dan benar
11. Memasang torniquet
12. Desinfeksi vena dengan tehnik yang benar
13. Buka abocath dan periksa apakah ada kerusakan
14. Menusukkan kateter pada vena dengan arah dari samping
15. Memperbaiki adanya darah dalam kompartemen darah dalam abocath, bila ada
maka mandrin sedikit demi sedikit ditarik, abocath dimasukkan perlahan-lahan
16. Torniquet dilepas
17. Menyambungkan dengan terlebih dahulu mengecek kelancaran aliran infus
18. Memberi plester pada ujung plastik abocath untuk fiksasi tapi tidak mengenai
daerah penusukkan
19. Membalut dengan kassa betadine steril
20. Memberi plester dengan benar dan dengan mempertahankan keamanan
kateter/abocath agar tidak tercabut
21. Mengatur tetesan infus sesuai instruksi dokter
22. Isi dan tempelkan stiker infus pada botol infus (Nama pasien, tanggal
pemasangan, jam pemberian, jenis cairan, jumlah tetesan permenit, tanggal
dan jam berakhirnya)
23. Membereskan alat dan membuang sampah pada tempat sampah medis
24. Mencuci tangan
25. Evaluasi
26. Dokumentasi

10. Prosedur Memberikan Obat melalui Suntikan IM
1. Memberi penjelasan kepada pasien atau keluarga
2. Baca etiket dan dosis obat
3. Atur posisi pasien kemudian tentukan daerah yang akan disuntik, lalu
permukaan kulit didesinfeksi dengan kapas alkohol
4. Kemudian jarum ditusukkan tegak lurus (90derajat) dengan permukaan kulit
5. Penghisap spuit ditarik sedikit (aspirasi) bila ada darah, obat jangan
dimasukkan. Tetapi bila tidak ada darah, obat dimasukkan perlahan-lahan
6. Setelah obat masuk semua, jarum dicabut dengan cepat. Bekas tusukkan jarum
ditekan dengan kapas alkohol
7. Perhatikan teknik septik dan antiseptik
8. Observasi dan perhatikan reaksi obat yang akan terjadi
9. Setelah tindakan selesai, catat dalam status.