Anda di halaman 1dari 18

Refrat

KEJANG DEMAM





oleh :

Yeny Ristaning Belawati G99122111
Dokter Muda Farmasi Periode 26 Agustus- 8 September 2013






KEPANITERAAN KLINIK UPF / LABORATORIUM FARMASI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN

Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
(suhu rectal di atas 38
0
C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium.
Kejang demam merupakan suatu kelainan neurologis yang paling sering dijumpai
pada anak, terutama pada golongan umur 6 bulan - 4 tahun.
Kejang demam ini tidak disertai kelainan organik ataupun infeksi pada
otak atau sistem saraf pusat, namun biasanya ditimbulkan demam akibat infeksi
saluran napas atas, gastrointestinal, infeksi saluran napas bawah akut, infeksi
telinga, atau infeksi saluran kemih.
Kejang biasanya akan sembuh spontan ketika anak usia di atas 5 tahun,
namun ketika kejang tidak ditangani dengan baik, maka risiko untuk terjadi
kerusakan pada sistem saraf pusat dan neurologi akan lebih besar. Hal ini terutama
terkait oleh durasi dan frekuensi kejang, sebab saat kejang terjadi gangguan
peredaran darah yang mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan
permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel
neuron otak.
Inilah pentingnya mengapa calon tenaga medis perlu untuk mengetahui
kejang demam dan penanganannya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Kejang demam berdasarkan definisi dari The International League
Againts Epilepsy (Commision on Epidemiology and Prognosis, 1993)
adalah kejang yang disebabkan kenaikan suhu tubuh lebih dari 38,4
o
C
tanpa adanya infeksi susunan saraf pusat atau gangguan elektrolit akut
pada anak berusia di atas 1 bulan tanpa riwayat kejang sebelumnya
(IDAI, 2009).

B. Faktor Risiko
Beberapa faktor yang berperan menyebabkan kejang demam antara
lain adalah demam, demam setelah imunisasi DPT dan morbili, efek toksin
dari mikroorganisme, respon alergik atau keadaan imun yang abnormal
akibat infeksi, perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit (Dewanto
dkk,2009) .
Faktor risiko berulangnya kejang demam adalah (1) riwayat kejang
demam dalam keluarga; (2) usia kurang dari 18 bulan; (3) temperatur
tubuh saat kejang. Makin rendah temperatur saat kejang makin sering
berulang; dan (4) lamanya demam. Adapun faktor risiko terjadinya
epilepsi di kemudian hari adalah (1) adanya gangguan perkembangan
neurologis; (2) kejang demam kompleks; (3) riwayat epilepsi dalam
keluarga; dan (4) lamanya demam (IDAI,2009)

C. Etiologi
Semua jenis infeksi yang bersumber di luar susunan saraf pusat
yang menimbulkan demam dapat menyebabkan kejang demam. Penyakit
yang paling sering menimbulkan kejang demam adalah infeksi saluran
pernafasan atas, otitis media akut, pneumonia, gastroenteritis akut,
bronchitis, dan infeksi saluran kemih ( Soetomenggolo,2000).
D. Klasifikasi
Umumnya kejang demam dibagi menjadi 2 golongan. Kriteria
untuk penggolongan tersebut dikemukakan oleh berbagai pakar. Dalam hal
ini terdapat perbedaan kecil dalam penggolongan tersebut, menyangkut
jenis kejang, tingginya demam, usia penderita, lamanya kejang
berlangsung, gambaran rekaman otak, dan lainnya (Lumbantobing, 2004).
Studi epidemiologi membagi kejang demam menjadi 3 bagian
yaitu: kejang demam sederhana, kejang demam kompleks, dan kejang
demam berulang ( Baumann, 2001). Kejang demam kompleks ialah kejang
demam yang lebih lama dari 15 menit, fokal atau multiple (lebih dari 1
kali kejang per episode demam). Kejang demam sederhana ialah kejang
demam yang bukan kompleks. Kejang demam berulang adalah kejang
demam yang timbul pada lebih dari satu episode demam. Epilepsi ialah
kejang tanpa demam yang terjadi lebih dari satu kali (Soetomenggolo,
2000).

E. Patofisiologi
Pada keadaan demam kenaikan suhu 1C akan mengakibatkan
kenaikan metabolisme basal 10%-15% dan kebutuhan oksigen akan
meningkat 20%. Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak
mencapai 65% dari seluruh tubuh, dibandingkan dengan orang dewasa
yang hanya 15%. Jadi pada kenaikan suhu tubuh tertentu dapat terjadi
perubahan keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang
singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui
membran tadi, dengan akibat terjadinya lepas muatan listrik. Lepas muatan
listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun
ke membran sel tetangganya dengan bantuan bahan yang disebut
neurotransmitter dan terjadilah kejang. Tiap anak mempunyai ambang
kejang yang berbeda dan tergantung tinggi rendahnya ambang kejang
seeorang anak menderita kejang pada kenaikan suhu tertentu. Pada anak
dengan ambang kejang yang rendah, kejang telah terjadi pada suhu 38C
sedangkan pada anak dengan ambang kejang yang tinggi, kejang baru
terjadi pada suhu 40C atau lebih. Dari kenyataan inilah dapatlah
disimpulkan bahwa terulangnya kejang demam lebih sering terjadi pada
ambang kejang yang rendah sehingga dalam penanggulangannya perlu
diperhatikan pada tingkat suhu berapa penderita kejang.
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak
berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi pada kejang yang
berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya disertai terjadinya apnea,
meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot skelet
yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan
oleh metabolisme anaerobik, hipotensi arterial disertai denyut jantung
yang tidak teratur dan suhu tubuh makin meningkatnya aktifitas otot dan
selanjutnya menyebabkan metabolisme otak meningkat. Rangkaian
kejadian di atas adalah faktor penyebab hingga terjadinya kerusakan
neuron otak selama berlangsungnya kejang lama.
Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang
mengakibatkan hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan
timbul edema otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak.
Kerusakan pada daerah mesial lobus temporalis setelah mendapat serangan
kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang di kemudian hari,
sehingga terjadi serangan epilepsi yang spontan. Jadi kejang demam yang
berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak hingga
terjadi epilepsi (Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2002).

F. Manifestasi Klinis
Umumnya kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan
kejang klonik atau tonik klonik bilateral. Seringkali kejang berhenti
sendiri. Setelah kejang berhenti anak tidak memberi reaksi apapun untuk
sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit anak terbangun dan sadar
kembali tanpa defisit neurologis. Kejang demam diikuti hemiparesis
sementara (Hemeparesis Tood) yang berlangsung beberapa jam sampai
hari. Kejang unilateral yang lama dapat diikuti oleh hemiparesis yang
menetap. Bangkitan kejang yang berlangsung lama lebih sering terjadi
pada kejang demam yang pertama. Kejang berulang dalam 24 jam
ditemukan pada 16% paisen (Soetomenggolo, 2000).
Kejang yang terkait dengan kenaikan suhu yang cepat dan biasanya
berkembang bila suhu tubuh (dalam) mencapai 39C atau lebih. Kejang
khas yang menyeluruh, tonik-klonik beberapa detik sampai 10 menit,
diikuti dengan periode mengantuk singkat pasca-kejang. Kejang demam
yang menetap lebih lama dari 15 menit menunjukkan penyebab organik
seperti proses infeksi atau toksik yang memerlukan pengamatan
menyeluruh (Nelson, 2000).
G. Diagnosis
Dalam menentukan diagnosis ejang demam, dapat menggunakan
kriteria Livingston, antara lain:
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan 4 tahun
2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tidak lebih dari 15 menit.
3. Kejang bersifat umum.
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama, setelah timbulnya demam.
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal.
6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya 1 minggu sesudah suhu
normal tidak menunjukkan kelainan.
7. Frekuensi bangkitan kejang di dalam 1 tahun tidak melebihi 4 kali.
Kejang demam yang tidak memenuhi salah satu atau lebih dari
kriteria tersebut digolongkan pada epilepsi yang diprovokasi oleh demam.
Kejang kelompok kedua ini mempunyai suatu dasar kelainan yang
menyebabkan timbulnya kejang, sedangkan demam hanya merupakan
faktor pencetus saja.
H. Diagnosa Banding
Infeksi susunan saraf pusat, misalnya meningitis, ensefalitis, abses
otak dan lain-lain, dapat disingkirkan dengan pemeriksaan klinis dan
cairan serebrospinal. Kejang demam yang berlangsung lama kadang-
kadang diikuti hemiperesis sehingga sukar dibedakan dengan kejang
karena proses intrakranial. Sinkop juga dapat diprovokasi oleh demam,
dan sukar dibedakan dengan kejang demam. Anak dengan kejang demam
tinggi dapat mengalami delirium, menggigil, pucat, dan sianosis sehingga
menyerupai kejang demam (Soetomenggolo, 2000).

I. Penatalaksanaan
Pada tatalaksana kejang demam ada 3 hal yang perlu dikerjakan,
yaitu:

1. Pengobatan fase akut
Seringkali kejang berhenti sendiri. Pada waktu pasien sedang
kejang semua pakaian yang ketat dibuka, dan pasien dimiringkan
kepalanya apabila muntah untuk mencegah aspirasi. Jalan napas harus
bebas agar oksigenasi terjamin. Pengisapan lendir dilakukan secra teratur,
diberikan oksiegen, kalau perlu dilakukan intubasi. Awasi keadaan vital
sperti kesadaran, suhu, tekanan darah, pernapasan, dan fungsi jantung.
Suhu tubuh yang tinggi diturunkan dengan kompres air dingin dan
pemberian antipiretik. Diazepam adalah pilihan utama dengan pemberian
secara intravena (0,3 mg/kgBB) atau intrarektal (5mg per rectal untuk BB
< 10kg; 10mg per rectal untuk BB > 10 kg) (Soetomenggolo, 2000).
2. Mencari dan Mengobati Penyebab
Pemeriksaan cairan serebrospinal dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan meningitis, terutama pada pasien kejang demam yang
pertama. Walaupun demikian kebanyakan dokter melakukan pungsi
lumbal hanya pada kasus yang dicurigai meningitis atau apabila kejang
demam berlangsung lama. Pada bayi kecil sering mengalami meningitis
tidak jelas, sehingga pungsi lumbal harus dilakukan pada bayi berumur
kurang dari 6 bulan, dan dianjurkan pada pasien berumur kurang dari 18
bulan. Pemeriksaan laboratorium lain perlu dilakukan utuk mencari
penyebab (Soetomenggolo, 2000).
3. Pengobatan Profilaksis
Kambuhnya kejang demam perlu dicegah, kerena serangan kejang
merupakan pengalaman yang menakutkan dan mencemaskan bagi
keluarga. Bila kejang demam berlangsung lama dan mengakibatkan
kerusakan otak yang menetap (cacat).
Ada 3 upaya yang dapat dilakukan:
- Profilaksis intermitten, pada waktu demam.
- Profilaksis terus-menerus, dengan obat antikonvulsan tiap hari
- Mengatasi segera bila terjadi kejang.


Profilaksis intermitten
Antikonvulsan hanya diberikan pada waktu pasien demam dengan
ketentuan orangtua pasien atau pengasuh mengetahui dengan cepat adanya demam
pada pasien. Obat yang diberikan harus cepat diabsorpsi dan cepat masuk ke otak.
Diazepam intermittent memberikan hasil lebih baik kerena penyerapannya lebih
cepat. Dapat digunakan diazepam intrarektal tiap 8 jam sebanyak 5 mg untuk
pasien dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk pasien dengan
berat badan lebih dari 10 kg, setiap pasien menunjukkan suhu 38,5C atau lebih.
Diazepam dapat pula diberikan sacara oral dengan dosis 0,5 mg/kg BB/ hari
dibagi dalam 3 dosis pada waktu pasien demam. Efek samping diazepam adalah
ataksia, mengantuk, dan hipotonia (Soetomenggolo, 2000).

Profilaksis terus- menerus dengan antikonvulsan tiap hari
Pemberian fenobarbital 4-5 mg/kg BB/hari dengan kadar darah sebesar 16
mgug/ml dalam darh menunjukkan hasil yang bermakna untuk mencegah
berulanggnya kejang demam. Obat lain yang dapat digunakan untuk profilaksis
kejang demam adalah asam valproat yang sama atau bahkan lebih baik
dibandingkan efek fenobarbital tetapi kadang-kadang menunjukkan efek samping
hepatotoksik. Dosis asam valproat adalah 15-40 mg/kg BB/hari. Profilaksis terus
menerus berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam berat yang dapat
menyebabkan kerusakan otak tetapi tidak dapat mencegah terjandinya epilepsi di
kemudian hari (Soetomenggolo, 2000).
Consensus Statement di Amerika Serikat mengemukakan kriteria yang
dapat dipakai untuk pemberian terapi rumat. Profilaksis tiap hari dapat diberi pada
keadaan berikut:
1. Bila terdapat kelainan perkembangan neurologi (misalnya cerebral palsy,
retardasi mental, mikrosefali).
2. Bila kejang demam berlangsung lama dari 15 menit, bersifat fokal, atau diikuti
kelainan neurologis sepintas atau menetap.
3. Terdapat riwayat kejang-tanpa-demam yang bersifat genetik pada orang tua
atau saudara kandung.

Beberapa hal yang harus dikerjakan bila kembali kejang
Hindarilah rasa panik dan lakukanlah langkah-langkah pertolongan sebagai
berikut:
1. Telungkupkan dan palingkan wajah ke samping
2. Ganjal perut dengan bantal agar tidak tersedak
3. Lepaskan seluruh pakaian dan basahi tubuhnya dengan air dingin. Langkah ini
diperlukan untuk membantu menurunkan suhu badanya.
4. Bila anak balita muntah, bersihkan mulutnya dengan jari.
5. Walupun anak telah pulih kondisinya, sebaiknya tetap dibawa ke dokter agar
dapat ditangani lebih lanjut (Widjaja, 2001).

BAB III
ILUSTRASI KASUS

I. IDENTITAS.
Nama : An. A
Umur : 10 bulan
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Nama ayah : Tn. H
Alamat : Jebres, Surakarta

II. ANAMNESIS
A. Keluhan Utama
Kejang

B. Riwayat Penyakit Sekarang
Ibu pasien mengeluhkan bahwa anaknya mengalami demam. Demam
dirasakan sejak 2 hari SMRS. Awalnya demam yang dialami ialah demam
sumer-sumer dan terutama timbul pada malam hari. Namun, pada 1 hari
SMRS demam meningkat dan dirasakan demam tinggi. 10 jam SMRS
penderita mengalami kejang selama + 5 menit, sebelum dan sesudah
kejang penderita sadar. Penderita dikompres oleh ibunya namun demam
tidak turun. 1 jam SMRS penderita mengalami kejang lagi lebih lama dari
kejang yang pertama + 10 menit, kaku seluruh tubuh, mata melirik keatas,
gerakan kaki menyentak-nyentak. Setelah kejang penderita tidak mau
makan atau minum. Karena orang tua penderita bingung maka penderita
dibawa ke RSDM.

C. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat penyakit serupa : disangkal
Riwayat mondok dirumah sakit : disangkal
Riwayat demam tinggi : disangkal
Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal
Riwayat kelainan kongenital : disangkal

D. Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat penyakit serupa : disangkal
Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal

E. Riwayat Imunisasi
BCG : 2 bulan
DPT : 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan
Polio : 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, 5 bulan

III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : lemah, letargis, gizi kesan cukup
Tanda vital
Tekanan darah : 95/70 mmHg
Nadi : 110x/menit reguler, isi dan tegangan cukup
Respirasi : 32x/ menit
Suhu : 39,4
0
C peraxilar
Berat badan : 8 kg
Kulit : warna sawo matang, kelembaban cukup
Kepala : dalam batas normal
Mata : dalam batas normal
Hidung : dalam batas normal
Mulut : dalam batas normal
Telinga : dalam batas normal
Tenggorok : uvula di tengah, tonsil T1-T1, faring hiperemis (+)
Leher : dalam batas normal
Thorax : dalam batas normal
Cor : dalam batas normal
Pulmo : dalam batas normal
Abdomen : dalam batas normal
Extremitas : dalam batas normal

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
A. Laboratorium
Hb : 11,9 gr/dl
Hct : 36,5 gr%
AE : 4,39.106/L
AT : 11,4.103/ L
AT : 207.103/ l
Gol. Darah: A
Na : 140
K : 4
Cl : 104
B. Pemeriksaan EEG
Dalam batas normal

V. DIAGNOSIS
Kejang demam kompleks

VI. PENATALAKSANAAN
A. Medikamentosa
1) Antipiretik
Tujuan utama : Menurunkan demam
Obat : Parasetamol 10-15 mg/kgBB tiap 4-6 jam atau
ibuprofen 5-10 mg/kgBB tiap 4-6 jam
2) Anti kejang
Tujuan utama : Menghentikan kejang dan mencegah berulangnya
kejang
Obat : Diazepam injeksi 0,3-0,5 mg/kgbb, diazepam
rectal 0,5 mg/kgbb tiap 12 jam saat demam,
diazepam oral 0,3 mg/kgbb tiap 8 jam saat demam.

3) Pengobatan jangka panjang
Pengobatan jangka panjang selama 1 tahun dapat dipertimbangkan
pada kejang demam kompleks dengan faktor risiko.
Obat : Fenobarbital 3-5 mg/kgbb/hari, Asam Valproat 15-
40 mg/kgbb/hari
B. Suportif
Membebaskan jalan napas
Memberikan zat asam (O2)
Menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit
Mempertahankan tekanan darah

VII. PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad sanam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad cosmeticum : bonam


BAB IV
PEMBAHASAN

Anak dalam kasus ini mengalami demam tinggi hingga mencapai 39,4
o
C,
hal ini dapat memicu timbulnya kejang. Demam seperti yang telah diketahui
bahwa demam mempunyai manfaat melawan infeksi. Namun, demam juga
memberikan dampak negatif diantaranya peningkatan metabolism tubuh,
dehidrasi ringan, dan membuat anak merasa tidak nyaman. Terapi suportif yang
dapat dilakukan orang tua pada anak yang demam dengan meningkatkan asupan
cairan (memperbanyak minum dapat berupa ASI, airm susu, kuah sup, jus buah)
dan mengompres anak dengan air hangat, sebab air hangat dapat menurun, namun
apabila anak menggigil atau semakin tidak nyaman, hindari melakukan kompres.
Pengompresan dengan air dingin hanya dilakukan jika panas pada anak
disebabkan oleh suhu lingkungan yang tinggi.
Pengobatan demam pada anak secara simtomatik dapat dilakukan dengan
antipiretik. Ada beberapa golongan antipiretik di Indonesia, yaitu golongan
antipiretik murni (termasuk dalam golongan ini adalah asetaminofen
(Parasetamol, tempra, Termorex, Panadol, dan lain-lain), asetosal (Bodrexin, dll),
dan ibuprofen (Proris, dll)), golongan chlorpromazine, dan golongan aminopyrin
dan fenacetin. Pada umumnya antipiretik terpilih untuk bayi dan anak adalah
golongan antipiretik murni karena antipiretik golongan ini dapat menurunkan
demam pada saat demam dan tidak menyebabkan suhu yang sangat rendah bila
tidak ada demam. Sedangkan golongan chlorpromazine dan golongan aminopyrin
dan fenacetin bersifat antipiretik pada dosis rendah dan bersifat hipotermik pada
dosis tinggi, serta keduanya dipakai berdasarkan petunjuj dokter dan tidak dijual
secara bebas. Antipiretik yang banyak digunakan dan dianjurkan adalah
parasetamol, ibuprofen, dan aspirin (asetosal).
Obat antipiretik pilihan untuk anak-anak adalah parasetamol
(asetaminofen) dengan dosis 10-15 mg/kgBB tiap 4-6 jam. Pada kasus ini
diberikan parasetamol 80 mg (berat anak 8kg) yaitu + 1/6 dosis dewasa. Efek anti
inflamasi parasetamol hampir tidak ada, dan di Indonesia, parasetamol tersedia
sebagai obat bebas, sehingga obat ini dapat dibeli ketika sang anak mengalami
demam. Parasetamol memiliki sifat analgesik yang menghilangkan atau
mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Parasetamol menurunkan suhu tubuh
dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral. Parasetamol
merupakan penghambat prostaglandin yang lemah. Efek iritasi, erosi, dan
perdarahan lambung tidak terlihat pada obat ini, demikian juga gangguan
pernapasan dan keseimbangan asam basa, namun sebaiknya tidak diberikan terlalu
lama karena kemungkinan menimbulkan nefropati analgesik. Parasetamol terbukti
efektif dan aman apabila diberikan sesuai dosis yang direkomendasikan. Efek
samping yang mungkin timbul adalah reaksi hipersensitivitas berupa eritema atau
urtikaria dengn gejala yang lebih berat berupa demam dan lesi pada mukosa
(sindroma steven johnson).
Obat antipiretik lain yang disarankan untuk anak yaitu ibuprofen.
Ibuprofen merupakan golongan obat antiinflamasi non steroid yang sering
digunakan. Obat ini bersifat analgesik dengan daya anti inflamasi yang tidak
terlalu kuat. Dosis yang dianjurkan 5-10 mg/kgBB/kali setiap 6-8 jam (3-4
kali/hari). Ibuprofen juga terbukti efektif dan aman sebagai antipiretik, namun
tidak dianjurkan pada anak di bawah 6 bulan atau diberikan dalam jangka waktu
lama. Ibuprofen dapat diberikan untuk anak >6 bulan, namun jangan diberikan
pada anak dengan dehidrasi atau sering muntah.
Untuk obat antikejang yang dapat diberikan untuk anak pada kasus ini
yaitu Diazepam injeksi 0,3-0,5 mg/kgbb, diazepam rectal 0,5 mg/kgbb tiap 12 jam
saat demam, diazepam oral 0,3 mg/kgbb tiap 8 jam saat demam. Diazepam
intravena diberikan dengan dosis 0,15-0,4 mg/ kgBB selama 2 menit dan dosis
maksimal 5-10 mg. Diazepam dapat mengendalikan 80-90% pasien dengan
bangkitan rekuren. Pemberian per rektal dengan dosis 0,5 mg atau 1 mg/kgBB
diazepam pada bayi dan anak di bawah 11 tahun dapat menghasilkam kadar
500ug/ml dalam waktu 2-6 menit. Namun, walaupun diazepam telah sering
digunakan untuk konvulsi rekuren, belum dapat dipastikan kelebihan manfaatnya
dibandingkan obat lain, seperti barbiturat atau anesteik umum, untuk itu masih
diperlukan suatu uji terkendali perbandingan efektivitas. Efek samping berat dan
berbahaya menyertai penggunaan diazepam IV ialah obstruksi saluran napas oleh
lidah, akibat relaksasi otot. Di samping ini dapat terjadi depresi napas sampai
henti napas, hipotensi, henti jantung mendadak.
Pengobatan jangka panjang selama 1 tahun dapat dipertimbangkan pada
kejang demam kompleks dengan faktor risiko. Pilihan obat yang dapat digunakan
ialah Fenobarbital 3-5 mg/kgbb/hari atau Asam Valproat 15-40 mg/kgbb/hari.
Fenobarbital merupakan obat pilihan utama untuk terapi kejang dan kejang
demam pada anak. Dosis anak 30-100 mg sehari. Untuk kejang demam yang
berulang pada anak dapat diberikan 6-8 mg/kgBB dan ditambah dosis
pemeliharaan 3-4 mg/kgBB. Penghentian fenobarbital harus secara bertahap guna
mencegah kemungkinaan meningkatnya frekuensi bangkitan. Untuk asam
valproat penggunaan masih terbatas.
Selain terapi medikamentosa untuk penanganan demam dan kejangnya
pada kejang demam, juga perlu diberikan terapi suportif seperti membebaskan
jalan napas, memberikan zat asam (O2), menjaga keseimbangan cairan dan
elektrolit, dan mempertahankan tekanan darah.

BAB V
KESIMPULAN

Kejang demam perlu mendapatkan perhatian serius dari tenaga medis
sebab saat kejang terjadi terjadi gangguan peredaran darah yang mengakibatkan
hipoksia sehingga meninggikan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak yang
mengakibatkan kerusakan sel neuron otak, sehingga penanganan yang tepat
diperlukan untuk dapat menghentikan kejangnya, menurunkan demam, dan
mencegah timbulnya sekuele pada system saraf pusat atau gangguan neurologic
pada pasien. Penanganan terdiri atas medikamentosa dan suportif seperti yang
telah dibahas, dan jika diperlukan pasien dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat
untuk mendapat penatalaksaan lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (2007). Farmakologi dan Terapi.
Jakarta: FK UI.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (2002). Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta: FK UI.

Johnston MV (2007). Seizures in childhood: Nelson textbooks of pediatrics.
Philadelphia: WB Saunders Co.

Widodo, DP (2005). Kejang demam: Apa yang perlu diwaspadai?. Jakarta:
Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak XLVII.