Anda di halaman 1dari 5

PENGANTAR

Pemanfaatan tanaman sebagai obat tradisional sampai sekarang masih


berlangsung dan jenis tanaman yang dapat dipakai sebagai obat tradisional
ternyata amat banyak macamnya, di mana pemanfaatannya secara umum masih
berdasarkan pengalaman yang turun-temurun dari nenek moyang. Dengan
demikian upaya penelitian sangat dibutuhkan untuk memberikan informasi bagi
masyarakat tentang obat tradisional Indonesia dalam rangka pengembangannya
maupun pemanfaatan obat itu sendiri.
Jambu biji (Psidium guajava Linn) telah lama dimanfaatkan sebagai tanaman
obat yang dapat menyembuhkan diare, keputihan, diabetes, sariawan dan luka
berdarah. Tanaman jambu biji terdiri dari beberapa kultivar antara lain tanaman
jambu biji dengan daging buah merah, daging buah putih dan daging buah
kuning (Alisyahbana, 1993).
Bagian tanaman yang sering digunakan sebagai obat tradisional adalah daun
yang mengandung minyak atsiri, lemak, damar, garam-garam mineral,
triterpenoid di samping itu juga tanin dan flavonoid yang diduga berkhasiat
sebagai anti diare, pemakaiannya dengan cara direbus atau diremas-remas halus
dengan air dan garam kemudian disaring, air remasan tersebut langsung
diminum tanpa direbus (Hembing,1992). Pemanfaatan tanaman jambu biji
sebagai obat diare cenderung hanya berasal dari satu
kultivar saja, yaitu kultivar dengan daging buah merah, padahal seperti telah
dijelaskan di atas bahwa jambu biji terdiri dari beberapa kultivar. Walaupun dari
masing- masing kultivar tersebut secara morfologis berbeda tetapi mempunyai
kandungan yang sama, yaitu tanin, flavonoid, minyak atsiri dan lain-lain yang
berarti bahwa setiap kultivar jambu biji dapat pula dimanfaatkan sebagai obat
diare (Thomas, 1992).
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk menguji
aktivitas antibakteri dari ekstrak daun jambu biji dari kultivar dengan daging
buah merah, daging buah putih dan daging buah kuning terhadap bakteri
penyebab diare, yaitu Staphylococcus aureus ATCC 25923 (Jawetz, 1992).
Larutan uji yang dipakai adalah bentuk ekstrak yang diperoleh dengan cara
refluk dengan larutan penyari etanol 96%. Penentuan perbedaan aktivitas
antimikroba ekstrak daun jambu biji dari masing-masing kultivar dilakukan
dengan metode difusi dengan sumuran (hole plate method).



Alisyahbana Moh, Engkun K, Kuncoro F, Tantry WKS, Linda PD, 1993. Studi
Pustaka Tanaman Penyusun Jamu Gendong Pusat Penelitian Obat Tradisional.
Universitas Katolik Widya Mandala. Surabaya.
Hembing W, 1992. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. Jilid 2. Pustaka
Kartini.
Jawetz E, 1986. Mikrobiologi untuk Profesi Kesehatan, Edisi 16, Jakarta.
MacFaddin JF, 1981. Biochemical Test For Identification of Medical Bacteria., 2nd
edition, William & Wilkins, Baltimore.
Sudjana MA, 1992. Desain dan Analisis Eksperimen, edisi ke 3, Penerbit Tarsito,
Bandung.
Thomas ANS, 1992. Tanaman Obat Tradisional, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.








man jambu biji sering disebut jambu batu. Beberapa nama daerah untuk
tanaman tersebut antara lain glima breuen,
glimeu beru, galiman, masiambu, jambu biawas
(Sumatra) dan kayawase, kayawusu, lain
ehatu, lutuhatu dan gayawa (Maluku)
(Wijayakusuma
et al
. 1994).
Tanaman jambu biji (
Psidium guajava
) merupakan tanaman yang berasal dari
Amerika tropis, banyak ditanam sebagai
tanaman buah-buahan yang tumbuh pada
ketinggian 1-1.200 m diatas permukaan laut
dan merupakan tanaman perdu atau pohon
kecil, tinggi tanaman umumnya 3-10 m. Kulit
batangnya licin, terkelupas dalam potongan.
Ruas tangkai teratas segi empa
t tajam. Daun muda berbulu a
bu-abu, daun bertangkai pendek
dan bulat memanjang. Bunga terletak di
ketiak daun. Tabung kelopak bunga berbentuk
lonceng atau bentuk corong, panjang 0,5 cm;pi
nggiran tidak rontok, pa
njang 1cm. Daun
mahkota bulat telur terbalik, panjang 1,5-2 cm
, putih segera rontok. Benang sari pada
5
tonjolan dasar bunga yang berbulu, putih, pi
pih & lebar seperti
halnya tangkai putik
berwarna seperti mentega. Bakal buah tenggelam beruang 4-5. Buah buni
bundar dan
berbentuk pir (Steenis, 2008).
2.2 Kandungan Fitokimia Pada Daun Jambu Biji
(Psidium guajava)
Menurut Taiz dan Zeiger (2002) metabolit sekunder yang dihasilkan tumbuhan
merupakan bagian dari sistem
pertahanan diri. Senyawa terse
but berperan sebagai pelindung
dari serangan infeksi mikroba patogen dan men
cegah pemakanan oleh herbivora. Metabolit
sekunder dibedakan menjadi tiga kelompok be
sar yaitu terpen, fenolik, dan senyawa
mengandung nitrogen terutama alkaloid.
Tanin pada tanaman jambu biji dapat di
temukan pada bagian buah, daun dan kulit
batang, sedangkan pada bunganya tidak ba
nyak mengandung tanin. Daun tanaman jambu
biji selain mengandung tanin, juga mengandung zat lain
seperti asam ursolat, asam lat, asam
guajaverin, minyak atsiri dan vitamin (T
homas, 1989). Daun-daun jambu biji memiliki
kandungan zat-zat penyamak (psiditanin) sekitar
9%, minyak atsiri berw
arna kehijauan yang
mengandung eganol sekitar 0,4%, damar 3%, mi
nyak lemak 6%, dan garam-garam mineral
(Kartasapoetra, 2004).
Menurut Direkbusarakom (1997)
et al. dalam
Sipahutar (2000) Tanaman jambu biji
banyak digunakan sebagai obat. Tanaman terse
but bersifat anti di
are, anti radang
(inflamasi), dan menghentikan pendarahan
(hemostatik). Daun segarnya dapat digunakan
untuk pengobatan luar pada luka
akibat kecelakaan, pendaraha
n akibat benda tajam, dan
borok (ulcus) di sekitar tulang. Pengujian daun jambu biji pada beberapa
patogen yang
menyerang ikan dan udang menunjukan bahwa daun jambu biji dapat digunakan
untuk
pengobatan terhadap virus dan bakteri pada hewa
n yang hidup di air (aku
atis) seperti infeksi
Yellow Head Virus
(YHV) pada udang
black tiger
dan infeksi
A.hydropila
pada jenis ikan
lele. Hasilnya menunjukan bahwa daun jambu biji
lebih efektif untuk
pencegahan infeksi
bakteri pada jenis
catfish
di bandingkan pencegahan infeksi YHV pada udang.
2.3 Ekstraksi Daun Jambu Biji
Ekstraksi adalah kegiatan dalam pembua
tan ekstrak, yaitu kegiatan penarikan
kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat
larut
dengan pelarut yang sesuai (De
pkes RI, 1986). Metode yang dike
nal antara lain
: dengan cara
dingin yaitu maserasi, perkolasi
atau dengan cara panas yaitu refluks, soxlet, digesti, infus,
dekok (Depkes RI, 2000).
Maserasi adalah proses pengekstrak
an simplisia dengan menggunakan pelarut
dengan beberapa kali pengocokan atau penga
dukan pada temperatur ruangan (kamar).
Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode pencapaian
konsentrasi pada
keseimbangan. Maserasi kinetik adalah tekn
ik dengan dilakukan pengadukan yang kontinyu
(terus-menerus). Remaerasi adalah tekni
k dengan dilakukan pengulangan penambahan
pelarut setelah dilakukan penyari
ngan maserat pertama, dan se
terusnya (Depkes RI, 2000).
Menurut Depkes RI (1986) ekst
raksi daun jambu biji bisa
dengan cara perkolasi
menggunakan pelarut etanol en
cer hingga cairan yang menete
s terakhir tidak berasa.
Ekstrak daun jambu biji setelah diujikan
terhadap bakteri Vibr
io cholerae pada
Minimum Inhibitor Consentrate (MIC) menunj
ukan bahwa ekstrak tersebut bersifat
bakterisida dan bukan ba
kteriostatik ( Rahim
et al.,
2010). Menurut Qadan
et al
. (2005)
ekstrak daun jambu biji terdapat senyawa tanin, triterpen, dan flavonoid
glikosida yang
mempunyai aktivitas antimikroba. Menurut Metwally
et al.
(2010), flavonoid yang
terkandung pada ekstrak daun jambu biji meli
puti 5 macam yaitu quercetin, quercetin-

-0-

-
L-arabinofuanoside, quercetin-

-0-

-D-arabinopyranoside, quercetin-

-0-

-D-glucoside, dan
quercetin-

-0-

-D-galactosid




Menurut Taiz dan Zeiger (2002) metabolit sekunder yang dihasilkan tumbuhan
merupakan bagian dari sistem pertahanan diri. Senyawa tersebut berperan
sebagai pelindung dari serangan infeksi mikroba patogen dan mencegah
pemakanan oleh herbivora. Metabolit sekunder dibedakan menjadi tiga
kelompok besar yaitu terpen, fenolik, dan senyawa mengandung nitrogen
terutama alkaloid.

Tanin pada tanaman jambu biji dapat ditemukan pada bagian buah, daun dan
kulit batang, sedangkan pada bunganya tidak banyak mengandung tanin. Daun
tanaman jambu biji selain mengandung tanin, juga mengandung zat lain seperti
asam ursolat, asam lat, asam guajaverin, minyak atsiri dan vitamin (Thomas,
1989). Daun-daun jambu biji memiliki kandungan zat-zat penyamak (psiditanin)
sekitar 9%, minyak atsiri berwarna kehijauan yang mengandung eganol sekitar
0,4%, damar 3%, minyak lemak 6%, dan garam-garam mineral (Kartasapoetra,
2004).

Anda mungkin juga menyukai