Anda di halaman 1dari 14

Arsip untuk AKSARA SIMALUNGUN Kategori

Mengakrabi Surat Sappuluh Siah


Februari 15, 2009

Aspek budaya yang paling jelas memperlihatkan satu suku dari yang lain adalah Bahasa, Adat
dan Kesenian. Terutama bagi suku bangsa Simalungun, tinggal ketiga aspek budaya inilah yang
membuat mereka dapat disebut sebagai sebuah suku bangsa. Kalau kita semakin tak menghargai
Bahasa Simalungun, makin samarlah kehadiran suku bangsa itu.
Pernyataan diatas merupakan pernyataan Seorang Tokoh Simalungun, Mansen Purba SH kepada
Eben Ezer Siadari. Aspek budaya na takkas taridah paleganhon suku na sada humbani na
legannari, ai ma Sahap, Adat pakon Kesenian. Tarlobihbani suku-bangsa Simalungun, aspek
budaya na tolu in mando mambahen targoran ia suku bangsa. Anggo lambin lang be ihargahon
Sahap Simalungun, lambin roh simouni ma suku bangsa in. Anggo lambin lang be taridah
hinalegan ni adat perkawinan ni Simalungun, hira dos mando songon adat ni Simbalog (Toba),
lambin roh langni ma suku bangsa Simalungun. Anggo lambin tading ma inggou Simalungun,
rosuhan bani inggou suku na legan (atap India?), roh sasapni ma suku bangsa Simalungun.
Teranglah dalam buku Kenalkan, Mansen Purba SH Guru Saya Marsimalungun, oleh Eben Ezer
Siadari, terbitan Bina Budaya Simalungun, tahun 2007, Mansen Purba SH menjelaskan salah
satu aspek budaya adalah Bahasa.
Dalam berbagai konteks dan pemaknaan, bahasa merupakan sistem bunyi yang dilisankan
sebagai budaya tutur, sedang tulisan merupakan wahana bahasa.
Budaya tulisan telah melampaui sejarah yang panjang dengan sekian banyak perubahan. Mulai
dari piktogram, yaitu aksara berupa gambar untuk mengungkapkan bahasa tertentu

sampai
tulisan yang kita akrabi dewasa ini. Dari yang memanfaatkan dinding-dinding gua, lempengan
batu-batu, laklak sampai pemanfaatan kertas, hingga SMS.
Menurut Sulastin Sutrisno (1985), awal sejarah sastra tulis Melayu di Nusantara bisa dirunut sejak abad
ke-7 M, berdasarkan penemuan prasasti berhuruf Pallawa peninggalan Sriwijaya di Kedukan Bukit (683
M), Talang Tuo (684 M), Kota Kapur dan Karang Berahi (686 M). Jika merujuk pada sejarah Kutai, tentu
lebih awal lagi pada abad ke-5 M.
Menurut N. Siahan (1964), Aksara Batak (baca: Toba) diduga sejak abad ke-13, yang berasal dari aksara
Jawa Kuno melalui aksara Sumatera Kuno sesudah Singosari mengirimkan tentaranya ke Jambi.
Jika menukil tulisan Pdt. Juandaha Raya Purba Dasuha, STh dalam Asal Usul Suku Bangsa dan
Bahasa Simalungun, yang menerangkan bahwa
dalam sejarah Simalungun kerajaan tertua di Sumatera Timur adalah Kerajaan Parpandanan Na
Bolag (sekitar abad ke-5 M) yang kemudian disebut Nagur.
Jelaslah bahwa Sastra Tulis sudah dikenal lebih awal oleh Simalungun dari pada Komunitas
Batak lainnya karena Pustaha Parpadanan Na Bolag sudah menggunakan aksara Simalungun.
Meskipun tidak selamanya sejarah bahasa ekuivalen dengan tulisan , namun setidaknya bahasa
Simalungun adalah bahasa yang lebih dahulu ada sebelum bahasa Toba dan Angkola-Mandailing
terbentuk (Adelaar,1981).
Surat Sappuluh Siah
Simalungun mengenal aksara sendiri yang disebut Surat Sapuluhsiah. Disebut Sapuluh Siah
karena memiliki 19 jenis huruf, walau dewasa ini Aksara Batak sudah mengalami penyesuaian
jumlah huruf berdasarkan bunyi huruf di luar Dialek Batak.
Pada komunitas Batak lainnya, aksara Batak hanya dipergunakan oleh Datu/Guru (ahli
metafisika) saja dan teramat jarang difahami oleh orang diluar profesi itu. Namun dalam
mobilitas kesimalungunan dahulu, selain datu, masyarakat bangsawan juga diajarkan dan sangat
akrab dalam penggunaannya.
Seperti halnya Aksara Batak lainnya, Surat Sapuluhsiah Simalungun ditulis dari kiri ke kanan
seperti layaknya menulis huruf latin; hanya saja dalam format penulisan Pustaha Laklak, tidak
mengenal penulisan spasi dan alinea serta angka ditulis dalam bentuk huruf.
Berikut adalah 19 buah huruf Simalungun:

Ke-19 huruf diatas, ketika dirangkai menjadi kata ataupun kalimat, membutuhkan tanda baca
atau anak huruf, yang dinamakan:
1. Sihorlu ( x ) dirangkaikan di sebelah kanan huruf untuk menimbulkan bunyi O.
2. Hamisaran ( )
dirangkaikan di sebelah kanan huruf bagian atas untuk menimbulkan bunyi Ng.
3. Hatalingan ( )
dirangkaikan di sebelah kiri huruf untuk menimbulkan bunyi E.
4. Panongonan ( )
dirangkaikan di sebelah kanan huruf untuk menimbulkan bunyi mati.
5.Hajoringan ( = )
dirangkaikan di sebelah kanan huruf bagian atas untuk menimbulkan bunyi H pada huruf yang
dirangkainya.
6. Haluan ( = )
dirangkaikan di sebelah kanan huruf untuk menimbulkan bunyi i
7. Haboritan ( > )
dirangkaikan di sebelah kanan huruf untuk menimbulkan bunyi U
8. Hatulungan ( - )
dirangkaikan di sebelah kanan dan kiri huruf bagian atas untuk menimbulkan bunyi OU
Berikut ini adalah contoh penggunaan tanda baca atau anak surat seperti yang sudah kita
jabarkan diatas:

Selanjutnya, mari belajar membaca aksara dalam surat Simalungun ini:




Naskah kuno Tamaddun Batak
oleh: Muhar Omtatok

Naskah kuno merupakan salah satu peninggalan budaya masa silam yang perlu dilestarikan.
Namun bagi kita anak bangsa, akan sulit menemukan Naskah-Naskah kuno Nusantara secara
utuh di Bumi Nusantara. Hal ini selain minimnya kepedulian untuk mengapresiasikan dan
melestarikannya, juga dikarenakan banyak naskah kuno asal Indonesia bermukim di
mancanegara sejak ratusan tahun lalu. Pada Komunitas Batak yang mempunyai beberapa etnis,
seperti Mandailing, Simalungun, Karo, Pakpak, Angkola serta Batak Toba di Sumatera Utara,
mempunyai naskah kuno yang ditulis pada lembaran kayu ulim yang panjang berlipat-lipat
dengan tinta mangsi yaitu hasil tampungan asap dari pembakaran kayu jeruk purut dengan pena
bulu ayam, atau campuran bahan getah sona, air tebu, dawat, air getah unte hajor, bunga sapa, air
jahe, merica serta minyak; ada juga dari bahan lain seperti bambu sebagai pengganti kertas.
Naskah Kuno inilah yang disebut PUSTAHA LAKLAK dengan memakai aksara batak dengan
tahun penulisannya tidak diketahui.Didalam Pustaha Laklak memuat banyak aturan yang
tentunya bernorma pada kepercayaan Sipelebegu dan sebagainya yang merupakan kepercayaan
asli Orang Batak.

Kepercayaan Orang Batak meyakini adanya Sang Ilahi dengan sebutan Debata (Naibata menurut
Dialek Simalungun, yang mungkin saja sama dengan Dewata) dengan meyakini adanya 3
Dimensi Alam yaitu Banua Ginjang yaitu Dimensi Ilahiah , Banua Tongah yaitu Dimensi
Korelasi Insani & Makhluk Hidup lainnya serta Banua Toru(h) yaitu Dimensi Spiritual.
Ketiganya tersimbol dalam Tondi (tonduy menurut dialek simalungun; merupakan spirit dari
pada seluruh semangat), Sahala (merupakan power dari pada seluruh kekuatan) dan Begu (
merupakan simbol kegaiban). Pustaha Laklak banyak memuat aturan-aturan mengenai mobilitas
orang Batak masa itu; kita ambil contoh saja mengenai Keparanormalan dan Pengobatan Tradisi.

Masyarakat Rumpun Batak, dahulu, menggunakan tulisan hanya untuk:
1. Ilmu Supranatural (Hadatuon)
2. Surat (kebanyakan bentuk surat ancaman)
3. Bagi Orang Karo, simalungun dan Angkola-Mandailing, ada ditemukan karya Sastra
berbentuk Ratapan (Orang Karo menyebutnya Bilang-Bilang, Simalungun: Suman-Suman,
Tangis-tangis, Angkola-Mandailing: Andung), Karya Sastra berbentuk ratapan ini biasa ditulis
pada wadah bambu atau lidi tenun.
Prihal ilmu Supranatural (Hadatuon), dalam Pustaha Laklak bisa kita kelompokkan berbagai
Ilmu-Ilmu Supranatural Batak, sebagai berikut:
1. Pangulubalang
2. Tunggal Panaluan
3. Pamunu Tanduk
4. Pamodilan/Tembak
5. Gadam
6. Pagar
7. Sarang Timah
8. Simbora
9. Songon
10. Piluk-piluk
11. Tamba Tua
12. Dorma
13. Paranggiron
14. Porsili
15. Ambangan
16. Pamapai Ulu-ulu
17. Ramalan Perbintangan , seperti: Pormesa na Sampulu Duwa, Panggorda na Ualu, Pehu na
Pitu, Pormamis na Lima, Tajom Burik, Panei na Bolon, Porhalaan, Ari Rojang, Ari na Pitu,
Sitiga Bulan, Katika Johor, Pangarambui dan lain-lain
18. Ramalan memakai Binatang, seperti: Aji Nangkapiring, Manuk Gantung, Aji Payung,
Porbuhitan, Gorak-gorahan Sibarobat dan lain-lain
19. Ramalan Rambu Siporhas, Panambuhi, Pormunian, Partimusan, Hariara masundung di langit,
Parsopouan, Tondung, Rasiyan, dan sebagainya.
Banyak kita temukan ilmu untuk menyerang musuh dan santet. bisa dalam bentuk racun ataupun
ilmu lainnya. Kita contohkan saja:
PANGULUBALANG,
yaitu washilah yang dijadikan hulubalang Sang Datu (Dukun) untuk menghancurkan musuh dan
mahluk gaib lainnya.
Seorg anak kecil diculik, lalu diasuh oleh si Datu. Segala maunya dituruti asal bisa patuh. Pada
saat yang ditentukan, kemudian sianak dikorbankan, dgn cara dimasukkan kedalam mulutnya
berupa cairan timah yang mendidih. Kemudian mayatnya dipotong-potong dan dicampur dgn
beberapa ramuan dan dibiarkan membusuk. Air fermentasi yang keluar dari mayat anak tadi
disimpan didalam cawan, lalu sisanya dibakar untuk mendapatkan abunya. Untuk memanggil
Sianak yang sudah dikorbankan tadi, disiapkanlah patung. Patung inilah yg disebut
Pangulubalang. Patung ini berfungsi untuk penolak bala, sedang datu bisa memanfaatkannya
untuk disuruh menyerang musuh, berupa santet.
TUNGGAL PANALUAN,
berupa tongkat sakti yang dimiliki Datu-datu Batak, diyakini bahwa tongkat ini hidup dan bisa
disuruh.
PAMUNU/PEMBUNUH TANDUK,
ilmu yg berfungsi untuk menetralkan ilmu kiriman lawan. bisa juga digunakan untuk menyerang
musuh. ini berupa tanduk.
PAMODILAN/TEMBAK,
adalah ilmu yg digunakan untuk menembak musuh baik dengan menggunakan senjata (bodil)
maupun dengan syarat atau tabas-tabas (mantra) tanpa menggunakan senjata.
GADAM,
ilmu racun sehingga kulit musuh akan seperti penderita kusta.
PAGAR (PENOLAK BALA),
Okultisme Batak ini, dibuat dari berbagai bahan dengan waktu dan cara pembuatannya yg sangat
mengikuti prosesi ritual. Biasanya menggunakan ayam, lalu bahan dibawa ke tempat yang
dianggap keramat (sombaon, sinumbah).
Dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk membuat ramuan Pagar ini. Ramuan ditumbuk
halus seperti pasta atau bubuk yg disimpan dalam Naga Morsarang (tanduk kerbau yg berukir).
Pagar hami so hona begu so hona aji ni halak, ini contoh tabas (mantra) yang digunakan.
Penggunaan penolak bala ini, biasanya diberikan pada pasien perorangan ataupun kolektif,
seperti; Pagar Panganon (Ilmu tolak bala berupa makanan yg wajib dimakan pasien), Pagar
Sihuntion (dijunjung atau digantung oleh perempuan hamil), Pagar ni halang ulu modom (
Digantung didekat tempat tidur org yg sakit), Pagar Sada bagas (Tolak bala sekeluarga), Pagar
Sada huta (Ruwatan Kampung).
AZIMAT,
Dulu Orang Batak akan lebih pede jika pakai jimat. Kontribusi Aceh, Melayu Sumatera Timur
dan Minangkabau sangat besar terhadap keberadaan jimat bagi Orang Batak. Simbora adalah
azimat asli Batak yang terbuat dari timah hitam.
Selain itu, kita temukan juga azimat dari gigi binatang; seperti harimau, beruang. Ada juga jimat
agar tidak mempan peluru yg biasa terbuat dari tulang kerbau yg dirajahi; azimat ini disebut
Sarang Bodil atau Sarang Tima.
SONGON/POHUNG/PILUK-PILUK,
Adalah sejenis patung (gana-gana) yang diletakkan di ladang untuk melindungi dari pencuri.
Surung ma ho Batara Pangulubalang ni pohungku, ama ni pungpung jari-jari, ina ni pungpung
jari-jari, Batara si pungpung jari. Surung pamungpung ma jari-jari ni sitangko sinuanku onon,
surung bunu, ini adalah mantra (tabas) Pohung agar pencuri menjadi lumpuh jari-jarinya,
bahkan mati.
Dalam kajian saya mengenai Pustaha Laklak Simalungun, sebagian besar membahas dunia
metafisis ala Simalungun seperti Tabas-tabas (mantera mantera), Takkal ni Bisa ( Penawar
Racun/santet dan tata cara meracun/santet), Pulungan (Jamu-jamuan), Panjahaion Ompak ni Ipon
(Pelajaran Memprediksi dgn serpihan gigi), Panjahaion Parsopoan (Pelajaran Fengshui ala
simalungun), Rajah, hari baik dan sebagainya.
Disini saya menukil hanya sekelumit contoh tentang isi Pustaha Laklak simalungun, misalnya:
1. Tentang Fengshui:
Jaha sopo iholang-holang batang-batang sada, janah abing reben i desa otara Rohma naosuman
bani oppungni sopou, matean oppung ni sopo ale amang datu.
Jaha sopou ipajongjong bani suhi-suhi dalan nabolon topat bani topi dalan, rohma nasosuman
bani oppunganni sopou inon. Buei marsilaosan begu monggop bani sopou inon, matean
oppungni sopou inon.
kira-kira bermakna:
Jika sebuah bangunan didirikan diapit balok besar, satu diantara balok terletak pada kemiringan
disebelah utara bangunan, pemiliknya tidak akan berhoki.
Jika bangunan ditepi jalan raya pada posisi sudut jalan umum, maka pemilik akan ditimpa
musibah karena banyak dilintasi energi negatif.
2. Tentang Santet:
Memakai bahan kulit Harimau, Tanah Kuburan dari Pusara yg baru satu hari, kulit Musang, Tali
Pengikat Senjata Tajam, Buah Enau yg berjatuhan dan Pucuk kain Pangulu Balang.
semua Bahan disatukan dan dimasukkan kedalam Labu Muda sebagian, dan sebagian disatukan
dengan kulit Harimau serta sebagian untuk bahan taburan. Lalu Manterai dan kemudian
disemburkan pada bahan kulit Harimau dan Labu Muda:
surung maho botara ni pangulu balang nina gurunghu, pangulu balang ni pagar pangorom,
amani si porhas manoro, inani si porhas manoro botara porhas manoro, surung porhas manoro
dihosah ni musuhu., surung bunuh ni..surung ma ho botara pangulu balang nina gurunghu
3. Tentang Pelet:
Salah satu cara pelet dengan ramuan yaitu menggunakan bahan yang melekat pada kayu, yang
melekat pada batu, yang melekat di pohon enau, pada lumpang, serta segala sesuatu yang bersifat
lengket. Seluruh bahan digiling halus.

Pustaha Laklak memakai bahasa dan Aksara Batak. Aksara Batak yang mempunyai ciri-ciri
tersendiri antara Batak Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, Mandailing/Angkola (di Simalungun
disebut Puang ni Surat Sapuluh Siah krn berjumlah 19 huruf) seperti gambar diatas tampak 19
huruf Simalungun itu yaitu:
A, Ha, Ba, Pa, Na, Wa, Ga, Ja, Da, Ra, Ma, Ta, Sa, Ya, Nga, La, I, U dan Nya.
Untuk membentuk menjadi satu kata, terkadang dibutuhkan pangolat ( anak huruf sebagai tanda
baca), seperti dlm contoh: kata Ki Sawung, dibutuhkan huruf Ha (bs bermakna Ka), huruf Sa,
Wa dan Nga. Huruf Ha diberi anak huruf agar berbunyi Ki, Sa tetap, huruf Wa dan Nga diberi
anak huruf kemudian di gabungkan karena bersuku kata sama sehingga berbunyi WUNG.
Dalam sebuah Pustaha laklak Simalungun, ada Tabas (mantra) yang menggunakan Bahasa
Huruf, begini bunyi mantranya:
A, Ha, Ba, Pa, Na, Wa, Ga, Ja, Da, Ra, Ma, Ta, Sa, Ya, Nga, La, I, U, Nya, harannya hita
sabapa sainang sanawa, nini pormula jadi ni surat sapulu siyah, samula, sumili yah na ho begu,
sumala sumili, yah ho aji ni halak. Borkat ma hamu Guru Sinalisi, na miyan Naibata diyatas,
borkat mahamu Guru Siniyaman, na miyan Naibata ditongah, borkat ma hamu Guru Mangontang
Dunia, na miyan Naibata ditoruh, harannya ham na mampogang hanami manusiya, pogang begu,
pogang aji ni halak, iya ma tuwanku jungjunganku.
Mantera ini untuk menjauhkan kejahatan dan guna-guna.
Diyakini, Aksara Simalungun ini memiliki pemimpin-pemimpin gaib, dalam pustaha laklak
diterangkan nama nama pemimpin2 gaibnya yaitu:
RAJA I DABIYA, TUAN DIBORAKU, ASAL NABU, SITUNAGORI, TUWAN NABI ALLI,
ALAM SADIYA, ALAM SADIA SAH, ALAM JAHARI, TUWAN MARJANDIHI, RAJA
SIPORAT NANGGAR, RAJA ENDAH DUNIYA, RAJA DI PUSUK SUNGEI, TUWAN
NABI ALI MUHAMMAD, TUWAN SI NAHAR NANGKIR, OMPUNG ANGLAH TAALA,
PUWANG AJI BORAIL.
Bagi murid-murid yang belajar dunia spiritual Simalungun, dianjurkan untuk menghormati
pimpinan-pimpinan gaib dari abjad diatas, dengan ritual khusus yg menyediakan sesaji berupa
Ayam Merah yang disusun diatas daun dan diletakkan di tikar yang masih baru, sira pege yaitu
cocolan garam, lada dan jahe 7 iris, bunga kembang sepatu 7 tangkai. Semua bahan ini dilingkari
dengan benang putih. Masih dalam pustaha laklak, bahan diatas dilengkapi dengan nira, air,
rudang, minyak saloh, beras sangrai yang dibuat tepung, 19 lembar sirih, kue nitak (tepung beras
dicampur gula aren) serta huruf-huruf yang telah disediakan.
Seluruh murid mengelilingi tikar tempat sesaji dan huruf yang diletakkan, lalu sang guru
membacai mantra:
Borkat ma hamu RAJA I DABIYA, Borkat ma hamu TUAN DIBORAKU, Borkat ma hamu
ASAL NABU, Borkat ma hamu SITUNAGORI, Borkat ma hamu TUWAN NABI ALLI, Borkat
ma hamu si ALAM SADIYA, Borkat ma hamu si ALAM SADIA SAH, Borkat ma hamu si
ALAM JAHARI, Borkat ma hamu TUWAN MARJANDIHI, Borkat ma hamu RAJA SIPORAT
NANGGAR, Borkat ma hamu RAJA ENDAH DUNIYA, Borkat ma hamu RAJA DI PUSUK
SUNGEI, Borkat ma hamu TUWAN NABI ALI MUHAMMAD, Borkat ma hamu TUWAN SI
NAHAR NANGKIR, Borkat ma hamu OMPUNG ANGLAH TAALA, Borkat ma hamu
PUWANG AJI BORAIL, harannya ham Puwang ni Surat Sapuluh Siyah, na mannaikhon hosah,
iya Tuwanku Jungjunganku .
Lalu murid disuruh memilih huruf yang disukainya secara intuitif. huruf inilah yang bisa
dijadikannya sebagai washilah berupa jimat dan sebagainya untuk menyatukan diri dengan alam
gaib. huruf yang dipilih bisa di jadikan mantra handalan. Dalam Pustaha Laklak, ada beberapa
mantra yang digunakan dengan membaca huruf yang dipilih tadi, membacanya dengan
mandoding yaitu bersenandung; misalnya untuk Pagar Pertahanan.

Di dalam pustaha laklak juga banyak memuat rajah-rajah untuk kepentingan ritual supranatural.
di gambar atas ada beberapa contoh rajah yang bisa dipergunakan, yaitu: pada gambar (a), (b) &
(c) adalah merupakan rajah pulungan ni bulung-bulung tawar atau ramuan daun-daun tawar yang
saya kutip dari Pustaha Laklak Simalungun. Rajah (a) berfungsi untuk menyerang paranormal
yang membuat seseorang lama berumah tangga, Rajah (b) untuk meminta bantuan gaib Tuan
Sordibanua, Rajah (c) ditulis di daun kincung untuk penghukum dan sekaligus bisa untuk
pengasih, sedang Rajah (d) yang saya kutip dari Pustaha Laklak Simalungun adalah berfungsi
untuk santet.
Rajah-rajah dalam Pustaha Laklak, merupakan ornamen indah bergaya Batak, namun ada juga
pengaruh kebudayaan non-Batak, seperti unsur Melayu-Islam. Coba kita amati beberapa Rajah
Simalungun berikut, yang saya ambil dari sebuah Pustaha Laklak Simalungun:

Disamping memuat hal ikhwal Supranatural dan pengobatan, Pustaha Laklak juga memuat hal
lain; seperti Pustaha simalungun Parpadanan na Bolag yang mengisahkan asal usul marga
Damanik sebagai Penguasa Dinasti Nagur. Pustaha ini mungkin saja ditulis oleh pejabat kerajaan
atau bisa saja ditulis orang luar kerajaan pada masa atau akhir keruntuhan kerajaan pada
penghujung abad XIV, kesemuanya bertujuan Habonaron do Bona yaitu Kebenaranlah yang
mesti ditegakkan.
Demikian selayang pandang tentang Pustaha Laklak. (Tulisan & Photo-Photo oleh: Muhar
Omtatok)