Anda di halaman 1dari 18

I.

Pendahuluan
Diare merupakan peningkatan frekuensi dan penurunan konsistensi dari feses
jika dibandingkan dengan feses individu normal atau dengan perkiraan volume tinja >
200 g/hari. Variasi dan frekuensi bergantung pada masing-masing individu, misalnya
beberapa individu buang air besar sebanyak kali sehari tetapi pada beberapa
individu buang air besar hanya 2 sampai kali seminggu.
Diare adalah ketidakseimbangan dalam absorbsi dan sekresi air dan elektrolit.
Diare dapat berhubungan dengan penyakit tertentu dari saluran !" atau dengan
penyakit lain di luar saluran pen#ernaan. $mpat mekanisme patofisiologi umum
adalah gangguan keseimbangan air dan elektrolit, terdapat % mekanisme yang
menjadi dasar diagnosis dan terapi diantaranya perubahan transportasi ion aktif
&penurunan absorbsi sodium atau peningkatan sekresi klorida', perubahan motilitas
usus, peningkatan osmolaritas luminal dan peningkatan tekanan hidrostatik jaringan.
(ekanisme tersebut dihubungkan dengan % kelompok diare se#ara umum yaitu
sekretori, osmotik, eksudatif dan perubahan transit usus. )ekretori diare mun#ul
ketika ada *at yang menstimulasi &misalnya vasoaktif intestinal peptide &V"+',
laksatif atau toksin bakteri' peningkatan sekresi atau penurunan absorbsi dari
sebagian besar air dan elektrolit. Diare osmotik terjadi bila ada asupan makanan,
penyerapan yang berkurang, solute osmotik aktif dalam lumen yang melampaui
kapasitas resorpsi kolon, kandungan air feses meningkat sebanding dengan jumlah
solut. "nflamasi pada !" tract dapat menyebabkan diare eksudativ yang kemudian
mengeluarkan mukus, protein atau darah ke saluran #erna, diare ini umumnya disertai
1
2
dengan nyeri, demam, perdarahan, atau tanda inflamasi yang lainnya. (otilitas usus
dapat berubah karena berkurangnya contact time di usus halus, pengosongan usus
besar dan oleh pertumbuhan bakteri yang berlebih. Diare dibagi menjadi diare akut
dan diare kronis. )ebagian besar dari diare akut disebabkan oleh infeksi dari virus,
bakteri atau proto*oa, berlangsung kurang dari hari dan umumnya self limited
sedangkan diare kronis merupakan penurunan konsistensi feses yang terjadi selama
lebih dari ,% hari (Pharmacoterapy Handbook, p.256).
-emungkinan penyebab diare kronik sangat beragam, dan tidak selalu
disebabkan kelainan pada usus. Diare kronis dapat terjadi pada kelainan endokrin,
kelainan pankreas dan sebagainya &tabel ,'.
Tabel 1. Penyebab diare kronis
Diare kronis diklasifikasikan sebagai lemak atau malabsorpsi, inflamasi atau
yang paling umum en#er. Diare berdarah kronis mungkin karena penyakit radang
3
usus &".D', yang merupakan kolitis ulserativa atau penyakit /rohn. +enyebab lain
yang kurang umum termasuk iskemia usus, infeksi, terapi radiasi dan kanker usus
besar atau polip. "nfeksi yang menyebabkan diare kronis jarang terjadi, dengan
penge#ualian parasit.
Dua penyebab utama diare lemak atau malabsorpsi adalah gangguan
pen#ernaan lemak karena kadar en*im pankreas rendah dan gangguan penyerapan
lemak akibat penyakit usus ke#il. -ondisi ini mengganggu proses normal lemak
dalam makanan. +enyebab pertama biasanya karena pankreatitis kronis yang
merupakan akibat dari #edera kronis pankreas. -erusakan akibat alkohol pada
pankreas adalah penyebab paling umum dari pankreatitis kronis di 0merika )erikat.
+enyebab lain pankreatitis kronis termasuk #ysti# fibrosis, pankreatitis herediter,
trauma pada pankreas dan kanker pankreas.
"nfeksi usus parasit seperti pada giardiasis dapat menyebabkan diare kronis. Diabetes
mellitus dapat dikaitkan dengan diare akibat kerusakan saraf dan pertumbuhan bakteri
yang berlebihan, ini terjadi terutama pada pasien lama diabetes yang kurang
terkontrol.
"rritable bo1el syndrome &".)' adalah suatu kondisi yang sering dikaitkan
dengan diare, sembelit atau lebih sering bergantian diare dan sembelit. !ejala umum
lainnya adalah kembung, sakit perut yang lega dengan buang air besar dan rasa
pengosongan yang tidak sempurna (merican !olle"e o# $astroenterolo"y).
4
5
II. Pemeriksaaan Penun%an"&
1. 'olonoskopi
-olonoskopi adalah inspeksi usus besar &kolon' menggunakan teropong serat
yang panjang dan fleksibel &kolonoskop'. 0lat ini diinsersikan melalui anus dan terus
menuju rektum, kolon sigmoid dan usus besar sampai ke sekum. 2ji ini berguna
untuk mengevaluasi adanya lesi yang men#urigakan di usus besar &misal3 massa
tumor, polip dan inflamasi jaringan'. -olonoskopi tidak boleh dilakukan pada ibu
hamil hampir #ukup bulan, setelah infark miokardial akut, setelah pembedahan
abdomen yang baru dilakukan, pada diverti#ulitis akut, pada #olitis ulserativa parah
&aktif' atau pada pasien yang mengalami konfusi atau yang tidak kooperatif.
4ujuan 3
a. 2ntuk mendeteksi asal pendarahan intestinal
b. 2ntuk mengidentifikasi adanya polip di dalam usus besar
#. 2ntuk melakukan skrining terhadap adanya benigna atau lesi maligna &tumor'
di dalam kolon
6
Prosedur 'olonoskopi &
,. 5arus ada surat persetujuan yang sudah ditandatangani
2. 2ji laboraturium yang spesifik &kadar hemoglobin, hematokrit, masa
protombin, masa tromboplastin parsial dan hitung trombosit' harus dilakuakn
dalam 2 hari sebelum uji dilakukan.
. 6bat yang mengandung *at besi harus ditunda pemberiannya selama minimal
% hari sebelum prosedur. 6bat yang mempegaruhi proses koagulasi harus
ditunda pemberiannya selama minimal 7 hari sebelum prosedur.
%. 6bat penenang dapat diberikan sebelum uji dilakukan untuk meningkatkan
rasa relaksasi. 6bat analgesik narkotik dan ben*odia*epine dapat dititrasi per
"V selama prosedur.
7. +emberian obat glukagon atau obat kolinergik per "V dapat diberikan untuk
mengurangi spasme usus.
8. .arium sulfat dari pemerikasaan diagnostik lainnya dapat menurunkan
kemampuan visualisasi, pleh karena itu pemeriksaan tersebut tidak boleh
7
dilakukan dalam 1aktu ,0 hari sampai 2 minggu setelah pemeriksaan dengan
menggunakan barium.
9. 5indari penggunaan enema dengan larutan air sabun karena dapat meniritasi
usus.
:. ;adah spe#imen harus di#antumkan label yang bertuliskan nama klien,
tanggal dan jenis jaringan.
<. 6bat dan peralatan kedaruratan harus tersedia untuk berjaga-jaga bila terjadi
reaksi hopersensitivitas terhadap obat dan juga bila terjadi depresi pernapasan
akibat obat narkotik dan atau penenang.
,0. +asien harus ditemani seseorang yang dapat mengantarkan ke rumah setelah
uji dilakukan
,,. +rosedur ini memerlukan 1aktu = sampai , = jam.
Persiapan (Pen""unaan (arutan $olytely)!olyte)
Dua hari sebelum uji dilakukan, anjurkan pasien mengonsumsi magnesium
sitrat pada pukul ,8.00
)ehari )ebelum 2ji
a. +asien harus menyiapkan larutan !olytely atau /olyte, tergantung pesanan
dan menyimpan larutan tersebut dalam lemari pendingin.
b. +asien harus mengonsumsi makan siang yang rutin.
#. +asien harus mengonsumsi makanan #air untuk makan malam &misal, kaldu,
gelatin'
d. +asien harus minum !olytely//olyte sesuai dengan instruksi pada pukul
,<.00 sampai 22.00
+agi 5ari (enjelang 2ji
8
a. +asien boleh minum sekitar 2%0 ml #airan jernih &kopi hitam, teh, air, jus
jernih' sampai , jam sebelum uji dilakukan
+ersiapan . &92 >am /airan >ernih/$nema'
a. +asien harus mempertahankan diet #airan jernih selama hari sebelum uji
dilakukan
b. +asien harus mengikuti petunjuk yang terdapat pada %:-Hour Fleet Prep
Kit No.2
*aktor yan" mempen"aruhi hasil dia"nostik&
,' $nema sabun dpat menyebabkn iritasi usus
2' .arium sulfat dri pemeriksaan diagnosti# lainnya dapat menurunkan
visualisasi, oleh karena itu pemeriksaan ini tidak boleh dilakuka diantara
1aktu ,0 hari sampai 2 minggu setelah pemeriksaan dengan barium
' +ersiapan usus yang tidak adekuat dengan materi feses maih tertinggal di
dalam usus, akan menurunkan visualisasi.
+ada saat uji kolonoskopi dilakukan penjelasan prosdur uji terlebih dahulu.
+asien berbaring pada posisi )im ke kiri. -olonoskop yang berlubrikasi diinsersikan.
2dara dikeluarkan untuk mendapatkan visualisasi yang lebih baik. +emotretan sinar
? dilakukan. /atat tanda vital dasar dan nilai laboraturium yang berkaitan. @aporkan
bila terdapat ansietas dan ketakutan, kepada pemberi layanan kesehatan yang
melakukan prosedur.
9
)aat setelah uji kolonoskopi, pantau tanda vital setiap = jam selama
sedikitnya , jam atau sampai bernilai stabil. -aji untuk menemukan pendarahan anus,
distensi abdomen, nyeri berat, kram abdomen yang parah dan demam dan laporkan
segera tanda atau gejala tersebut kepada pemberi layanan keehatan.
2. +ndoscopic retro"rade cholan"iopancreato"raphy (+,!P)
0dalah teknik penggambilan gambar saat duktus pankreatikus bilier diperiksa
melalui endoskopi, setelah bahan medium kontras diinjeksikan ke dalam papilla
duodenum. 4ujuannya adalah mengidentifikasi penyebab obstruksi bilier, yang
mungkin saja berupa striker, batu atau tumor.
4ujuan 3
1. 2ntuk mendeteksi batu, striktur, kista atau tumor empedu
2. 2ntuk mengidentifikasi obstruksi bilier, seperti batu atau striktur
-. 2ntuk mengonfirmasi gangguan biier atau pankreatik
Prosedur &
a. (akanan dan minuman tidak dibatasi, paling tidak : jam sebelum uji
b. @embar persetujuan tindakan harus ditandatangani sebelum pra medikasi
#. 2kur tanda vital dasar. (inta pasien berkemih dulu.
d. .erikan pramedikasi dengan obat narkotik atau sedatif ringan.
e. 0naestesi lokal disemprotkan dalam tenggorokan untuk mengurangi reflek
batuk sebelum penginsersian endoskop serat opti#.
10
f. )ekretin mungkin diberikan se#ara intravena untuk melumpuhkan duodenum.
.ahan kontras diinjeksikan setelah endoskop berada di papilla duodenum dan
kateter berada di saluran pankreas.
*aktor yan" mempen"aruhi hasil dia"nostik&
-etidakmampuan untuk menginsersikan kanul ke saluran empedu dan/atau pankreas.
+ada saat melakukan uji $A/+ dilakukan kajian ri1ayat alergi pasien
terhadap makanan laut, yodium dan at pe1arna kontras, bila ada alergi laporkan.
4entukan jika tingkat ke#emasan mungkin menggangu kemampuan pasien menerima
informasi mengenai prosedur. +astikan formulir persetujuan tindakan telah
ditandatanggani sebelum pramedikasi diberikan. >elaskan kepada pasien bah1a ketika
bahan kontras diinjeksikan, biasanya akan terasa sensasi pan#aran semetara. (otivasi
pasien sebelum dan selama prosedur. +antau tanda vital selama uji dan bandingkan
11
dengan tanda vital dasar. +eningkatan frekuensi nadi mungkin disebabkan atropine.
Aupturnya saluran gastrointestinal yang disebabkan oleh perforasi endoskop dapat
menyebabkan syok.
+ada saat setelah melakukan uji $A/+ dilakukan pemantauan tanda vital,
yaitu peningkatan suhu tubuh mungkin mengindikasikan infeksi &bakterinemia atau
septi#emia'. +eriksa karakteristik pernapasan bila terdapat ga1at pernafasan karena
pemberian anaestesia semprot dan/atau pemasangan endoskop. +eriksa 1arna kulit,
peningkatan atau penurunan ikterik merupakan indikator proses penyakit atau
merupakan akibat terapi. +eriksa refleks batuk sebelum mena1arkan makanan atau
minuman. +eriksa tanda dan gejala retensi urin yang disebabkan oleh atropine.
+enyuluhan yang diberikan kepada pasien pada saat sebelum melakukan uji 3
a. "nformasikan kepada klien bah1a endoskop tidak akan mengobstruksi
pernapasan
b. "nformasikan kepada pasien bah1a atropin akan membuat mulut kering dan
lidah akan terasa besar dan membengkak
#. "nformasikan kepada pasien bah1a uji memerlukan 1aktu kira-kira , jam dan
penting bagi klien untuk tetap mempertahankan posisi berbaring di atas meja
sinar ?.
+enyuluhan yang diberikan kepada pasien pada saat setelah melakukan uji 3
a. 0njurkan kumur dengan menggunakan air salin hangat dan/atau obat isap
untuk mengurangi ketidaknyamanan tenggorokan
12
b. >elaskan kepada pasien bah1a mungkin akan mengalami sakit tenggorokan
selama beberap hari setelah uji dilakukan. Aasa sakit mungkin akibat dari
pemasangan endoskop.
.. !omputed tomo"raphy (!T) 12ia"
'arakteristik CT 12iag&
13
/4 s#an dapat melakukan s#anning pada kepala & kanal auditorius internal,
orbit mata, sinus, leher', abdomen &lambung, usus halus, usus besar, hati, limfa,
pan#reas, duktus empedu, ginjal dan adrenal', pelvis & kandung kemih, organ
reproduktif, serta usus halus dan usus besar didalam pelvis', dada &paru-paru, jantung,
struktur mediastinum' dan tulang serta sendi.
Prinsip CT 13iag&
0lat /4 s#anner menghasilkan sorotan sinar ? sempit yang memeriksa bagian
tubuh dari berbagai sudut yang berbeda. /4 s#anner dapat berputar mengelilingi
pasien yang berbaring diatas meja. 0lat ini menghasilkan serangkaian gambar, dalam
potongan melintang berurutan, yang membentuk gambar tiga dimensi organ atau
struktur. CT scanner mempunyai daya seratus kali lebih sensitive daripada sinar B,
penggunaan CT 13iag sangat popular karena dapat mendiagnosis penyakit pada tahap
dini. CT 13iag dapat dilakukan dengan atau tanpa penggunaan pada *at media kontras
yodium &*at pe1arna', yang menyebabkan ,iagnos jaringan yang lebih besar dan
disebut sebagai peningkatan kontras karena efek peningkatan ini memungkinkan
terlihatnya tumor yang berukuran ke#il.
CT 13iag abdomen berguna untuk mendiagnosis tumor, obstruksi, kista,
hematoma, abses, pendarahan, perforasi, kalkulus, fibroit dan kondisi patologik
lainnya yang mun#ul pada hati, traktus biliaris, pan#reas, limfa, saluran
gastrointestinal, kandung empedu, ginjal, kelenjar adrenal, uterus dan ovarium, serta
prostas. CT 13iag berguna untuk menentukan stadium tumor dan memantau efek
terapi pengobatan pada tumor tersebut. +ada kasus ini penyakit diare kronis termasuk
14
dalam gangguan saluran gastrointestinal sehingga pemeriksaan penunjang salah
satunya yang digunakan adalah CT 1iag abdomen.
Prosedur CT 14iag abdomen pel/is&
,. )inar ? abdomen &meliputi ginjal, ureter, dan kandungan kemih' dapat
digunakana sebelum CT 1iag dilakukan.
2. )aluran gastrointestinal harus bebas dari barium. 4indakan enema dapat
diren#anakan.
. 5asil pemeriksaan laboratorium terbaru terhadap kadar kreainin serum
dan nitrogen urea darah harus tersedia, untuk menentukan jika terdapat
disfungsi ginjal, dan jika memang ada, bagaimana tingkat keparahannya.
2ji ini harus dilakukan 9 hari sebelum pelaksanaan CT 1iag yang
menggunakan injeksi kontras.
%. 2ntuk s#anning abdomen/ pelvis di pagi hari, berikan media kontras oral
&%70 ml' antara pukul 20.00 dan 22.00 sebelum uji dilakukan. puasa
setelah pukul 22.00. )atu jam sebelum /4, berikan = botol *at kontras per
oral. )etengah jam sebelum /4, berikan lagi = botol *at kontras per oral.
7. 2ntuk s#anning abdomen/ pelvi#, berikan , botol &%70 ml' media kontras
per oral, pada pukul 09.00. )atu jam sebelum /4, diberikan = botol *at
kontras per oral. )etengah jam sebelum /4, berikan lagi = botol *at
kontras per oral.
15
*aktor yan" mempen"aruhi hasil 15ia"nostic&
,. .arium sulfat dapat mengamburkan visualisasi organ abdomen.
+emeriksaan yang menggunakan barium harus dilakukan % hari sebelum
/4 atau setelah /4 dilakukan.
2. Clatus yang berlebihan dapat menyebabkan klien merasa tidak nyaman
dan dapat menyebabkan pemba#aan yang tidak akurat.
. !erakan dapat menyebabkan artefak.
%. .enda logam yang melekat di tengkorak dan jembatan besi.
7. !igi palsu.
5. Pemeriksaan $astrointestinal 0erkala
'arakteristik&
a. 2ntuk mendeteksi ulkus esophagus, lambung, atau duodenum.
b. 2ntuk mengidentifikasi polip, tumor, atau hernia hiatal dalam saluran
gastrointestinal.
#. 2ntuk mmendeteksi benda asing, varises esophagus, atau striktur
esophagus atau usus halus.
Prinsip&
+emeriksaan gastrointestinal bagian atas dan usus halus berkala merupakan
suatu pemeriksaan fluoroskopik dan sinar B dari esophagus, lambung dan usus halus.
(enelan barium peroral &barium sulfat' atau agens kontras larut air, gastrofarin
&meglumin diatri*oat', perlu ditelan. 4ujuan fluoroskopi adalah saat barium mele1ati
saluran pen#ernaan, saat itulah kilasannya diambil melalui #ara kilasan film.
"nflamasi, ulserasi, dan tumor di lambung dan duodenum dapat dideteksi melalui
prosedur ini.
Prosedur&
16
a. -lien harus dipuasakan &makanan dan minuman' dan harus menahan diri dari
merokok selama : sampai ,2 jam sebelum uji. Diet rendah sisa mungkin
dianjurkan selama 2 dan hari sebelum uji dilakukan.
b. (enunda pengobatan : jam sebelum uji dilakukan, ke#uali diindikasikan pada
keadaan seblaiknya. 6bat narkotik dan antikolonergik ditunda selama 2% jam
untuk menghindari imobilitas intestinal.
#. +emberian obat laksativa mungkin dianjurkan pada malam hari sebelum uji
dilakukan.
d. -lien menelan makanan barium berbumbu kapur &#okelat, stra1berry' atau
meglumin diatri*oat &gastrogafin' dalam jumlah yang telah dihitung&%:0 mg
sampai 800 mg'.
e. -ilasan film diambil selama pemeriksaan fluoroskopi. +rosedur ini
memerlukan 1aktu kira-kira , sampai 2 jam, tetapi dapat men#apai % sampai
8 jam jika uji ini disertai dengan uji usus besar bekala. Cilm sinar B 2% jam
&pas#a !" berkala' mungkin diperlukan.
f. +emberian laksatif biasanya dianjurkan setelah uji selesai dilakukan, untuk
mengeluarkan barium dari saluran !".
*aktor yan" mempen"aruhi3
1. .arium dan saluran !" dari pemeriksaan barium sebelumnya.
2. Aetensi makanan dan #airan, yang dapat menurunkan kemampuan visualisasi.
-. 2dara yang berlebih di dalam lambung dan usus halus.
6. 0iopsy !olonoscopy
+nema 0arium
2ji enema barium adalah pemeriksaan sinar ? terhadap usus besar
&kolon'untuk mendeteksi keberadaan polip, massapada intestine, di vertikel. )truktur
atau obstruksi usus atau ul#erasi. .arium sulfat &kontras-tunggal' atau barium sulfat
17
dan udara &merupakan kontras ganda atau kontras udara' diberikan se#ara perlahan
melalui selang re#tum ke dalam usus besar. +roses pengisian dipantau dengan
menggunakan fluoroskopi.
2ji enema barium diindikasikan bagi pasien yang mengeluh nyeri serta rasa kram di
abdomen ba1ah, dan terdapat darah, mu#us, atau pus pada feses, perubahan defekasi
dan perubahan dalam pembentukan feses.
0iopsi
.iopsi adalah pengangkatan dan pemekriksaan jaringan tubuh. .iasanya
biopsy dilakukan untuk mendeteksi keganasan atau untuk mengidentifikasi
keberadaan proses penyakit.
.iopsi dapat dilakukan dengan #ara 3
,. 0spirasi dengan penggunaan alat penghisap
2. (etode penyikatan dengan menggunakan bulu kaku yang mengikis bagian sel
dan jaringan
. $ksisi dengan #ara pemotongan pembedahan pada sisi jaringan.
%. 0spirasi dengan jarum atau jarum halus pada sisi jaringan dengan atau tanpa
bantuan ultrasonografi.
7. "nsersi jarum yang menembus kulit
8. )ertas biopsy pukulan, dengan menggunakan instrument sejenis pukulan.
1. *luoroskopi
18
+emeriksaan fluoroskopi memungkinkan ahli radiologi dan pemberi layanan
kesehatan untuk melihat gerakan fungsi fisiologis organ pada layar fluoresen. )orotan
sinar ? menembus klien, kemudian men#apai layar. 4etapi dapat diatasi dengan
tekhnik ini klien menerima oajanan sinar radiografi (Pedoman Pemeriksaan
(aboratorium dan 2ia"nostik).
2*T, P34T'
Dipiro, >oseph 4., et al., 2007, P!armacoterap!" # $ Pat!op"siologic $pproac!, 8
th
edition, (# !ra1-5ill, De1 Eork, hal ,0.
-ee, @efever >, 200:, Pedoman Pemeriksaan %aboratorium dan &iagnostik, >akarta3
$!/.
4homas +D, Corbes 0, !reen >, et al, 200, 'uidelines For T!e (nvestigation )f
C!ronic &iarr!oea 2
nd
*dition, !ut 200F72&)uppl V'3v,-v,7.
http3//111.meds#ape.#om
http3//patient.gi.org/topi#/diarrhea-a#ute-and-#hroni#