Anda di halaman 1dari 37

BUDIDAYA TERIPANG (HOLOTHURI DEA)

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Budidaya Laut





Disusun Oleh
Nopa Firmansyah 230210110009
Ermansyah 230210110010
Iqbal Anugerah 230210110011
Eli Nurlaeli 230210110012
Andi Wahyu D 230210110013
Bani Kesuma 230210110014
Giri Wibawa 230210110015
Rindy Fatmala 230210110016










UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JATINANGOR


2014


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
budidaya teripang yang merupakan salah satu penilaian dalam mata kuliah
Budidaya Laut.
Dalam pembuatan makalah, penulis banyak mendapat kesulitan. Oleh
karena itu, kami ingin menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak
yang telah memberikan bantuan serta dukungannya dalam pembuatan dan
penyusunan laporan ini.
Dalam penyusunannya, penulis menyadari akan segala kekurangan yang
ada sehubungan dengan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki
oleh kami maka kami mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya apabila baik
dalam penulisan maupun penyajian makalah ini terdapat banyak kesalahan.
Dengan tangan terbuka kami akan menerima segala saran dan kritik yang
membangun dari para pembaca.





Jatinangor, Mei 2014

Penulis







DAFTAR ISI

UJI TOKSISITAS AKUT
Bab Halaman
DAFTAR TABEL ..................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ................................................................................ vi

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Tujuan Budidaya .............................................................................. 2
1.3 Manfaat Budidaya ............................................................................ 2

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Profil Teripang (Holothuridea) ......................................................... 3
2.2 Taksonomi dan Habitat Teripang ..................................................... 5
2.3 Reproduksi Teripang ........................................................................ 8
2.4 Nilai Ekonomi ................................................................................. 9
2.5 Ekspor Teripang .............................................................................. 9

III. PEMBAHASAN
3.1 Pemilihan Lokasi ............................................................................... 11
3.2 Kualitas Perairan .............................................................................. 12
3.3 Teknik Budidaya Teripang ................................................................ 12
3.3.1 Wadah Budidaya Teripang ............................................................... 13
3.3.2 Benih Teripang ................................................................................. 16
3.3.3 Pakan Teripang ................................................................................. 18
3.3.4 Pengelolaan Kualitas Air ................................................................. 19
3.3.5 Pengendalian Penyakit ..................................................................... 19
3.3.6 Panen ................................................................................................ 20
3.4 Pemasaran ........................................................................................ 23
3.5 Analisis Pemasaran .......................................................................... 27

IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan ...................................................................................... 29
4.2 Saran ................................................................................................. 30

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 31


DAFTAR TABEL

Nomor J udul Halaman

1. Beberapa jenis teripang yang ditemukan di perairan Indonesia . 7

DAFTAR GAMBAR

Nomor J udul Halaman

1. Struktur tubuh Holothuroidea ................................... 3
2. Holothuria scabra ..................................................... 5
3. Bentuk kurungan untuk budidaya teripang ............... 14
4. Pengolahan teripang secara dikeringkan ................... 21


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara maritim, dua pertiga bagian dari Indonesia
merupakan lautan yang kaya akan hasil lautnya. Dengan kondisi alam dan iklim
yang hampir yang tropis, maka memungkinkan banyaknya jenis biota ekonomis
penting yang hidup di perairan pantai. Salah satu di antaranya adalah teripang.
Komoditi perikanan ini mempunyai prospek cukup baik dan bernilai ekonomis
tinggi, baik di pasar lokal maupun intemasional. Jenis biota ini dikenal pula
dengan nama ketimun laut, suala, sea cucumber (Inggris), beche de-mer
(Perancis), atau dalam istilah pasaran internasional dikenal dengan nama teat fish.
Komoditi ini mempunyai nilai ekonomis penting karena kandungan atau kadar
nutrisinya yang tinggi. Dari hasil penelitian, kandungan nutrisi teripang dalam
kondisi kering terdiri dari protein 82%, lemak 1,7%, kadar air 8,9%, dan
karbohidrat 4,8%.
Di Indonesia terdapat 3 genus teripang yang terdiri dari 23 spesies dimana
baru 5 spesies yang sudah dieksplorasi dan dimanfaatkn serta mempunyai nilai
ekonomis penting. Teripang-teripang tersebuta adalah teripang putih atau teripang
pasir ( Holothuria scaba), H. nobilis, dan H. fuscogilva, kategori kedua bernilai
ekonomis sedang, seperti Actinopyga echinites, A. miliaris, dan Thelenota ananas.
Kategori ketiga bernilai ekonomis rendah, misalnya H. atra, H. fuscopunnclata
dan A. maritiana.
Perkembangan ekspor teripang Indonesia dari tahun ke tahun terus
meningkat. Berdasarkan data ekspor dari Direktorat Jenderal Perikanan tahun
1990, ekspor teripang pada tahun 1984 berjumlah 1.318,1 ton dan pada tahun
1988 meningkat hampir tiga kali lipatnya, yaitu menjadi 3.408,1 ton. Sedangkan
nilainya naik hampir delapan kali lipat, yaitu dari US$ 1.547.945 pada tahun 1984
menjadi US$ 8.266.262 pada tahun 1988. Sampai saat ini, ekspor teripang yang
terus meningkat dari tahun ke tahun tersebut sebagian besar masih berasal atau
diambil dari alam.Jika mengandalkan stok alami yang jumlahnya terbatas dan
tergantung dari musim, maka ekspor teripang tersebut, belum dapat dijamin
kontinuitasnya. Untuk mengatasi kendala tersebut maka budi daya teripang cukup
prospektif di masa mendatang.

1.2 Tujuan Budidaya
Tujuan dari pembudidayaan teripang di Indonesia adalah diharapkan dapat
menjadi sebuat potensi di bidang perikanan dan kelautan serta menjadi mata
pencarian masyarakat pesisir yang bernilai ekonomis stinggi, baik di pasaran
domestik maupun di pasaran internasional. Selain itu, untuk memanfaatkan
potensi kelautan yang sangat melimpah di Indonesia khususnya teripang.
Memberikan informasi mengenai teripang dan tata cara pembudidayaannya.

1.3 Manfaat Budidaya
Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat menambah
wawasan untuk melakukan budidaya laut khususnya biota Teripang. Budidaya
sendiri bermanfaat untuk melestarikan suatu biota yang bernilai ekonomis
sehingga tidak terjadi kelangkaan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Profil Teripang (Holothuridea)
Teripang atau Holothuroidea berasal dari bahasa yunani,Holothurion
yang berarti hewan air dan eidos yang berarti wujud. Holothuroidea biasannya
hidup di dasar laut dengan cara bersembunyi di batu karang atau di pasir.
Tubuhnya lunak, berbentuk seperti kantung memanjang, kulitnnya tersusun dari
zat kapur. Di bawah kulit terdapat dermis yang mengandung osikula, selapis otot
melingkar, dan lima otot ganda yang memanjang. Dengan adanya lengan berotot
ini, teripang atau mentimun laut dapat bergerak memanjang memendek seperti
cacing (Jasin 1992).
Holothuroidea merupakan hewan bersimetris bilateral saat larva dan
bersimetris radial saat dewasa. Tubuhnya seperti timun dengan bagian ventral-
dorsal dan anterior-posterior. Kaki tabung di bagian ventral berfungsi untuk
pergerakan dan di bagian dorsal terdapat papilla sebagai alat sensor. Tubuh
Holothuroidea memiliki otot melingkar dan otot memanjang. Saluran pencernaan
memanjang dalam rongga tubuh dan terdapat saluran respirasi (respiratory tree)
(Jasin, 1992).


Gambar 1. Struktur tubuh Holothuroidea
(Sumber : Isharmanto, 2010)
Bagian tubuh teripang dan fungsinya
1) Tentakel, berfungsi sebagai alat gerak ,merasa, memeriksa dan alat
penagkap mangsa.
2) Stomach/perut, sebagai alat pencernaan.
3) Gonad, kelenjar kelamin yang berfungsi sebagai penghasil hormon
kelamin.
4) Saluran kelamin, berfungsi sebagai saluran menuju gonad.
5) Madreporit, lempeng tali lapisan pada ujung saluran air.
6) Esofagus, saluran di belakang rongga mulut berfungsi menghubungkan
rngga mulut dan lambung.
7) Dorsal mesentery, berfungsi sebagai pembungkus usus dan
menggantungnya ke dinding tubuh pinggang.
8) Anus, mengeluarkan sisa metabolisme pada teripang.
9) Cloaca, sebagai alat pencernaan.
10) Intestin, sebagai alat pencernaan yang letaknya di antara pilorus hingga
usus.
Tentakel merupakan modifikasi kaki tabung (tube feet) di sekitar mulut
dan berfungsi untuk memasukkan makanan ke mulut. Jumlah dan bentuk tentakel
merupakan bagian tubuh penting dalam identifikasi Holothuroidea (Samyn dkk,
2006:53). Jumlah tentakel Holothuroidea bervariasi antara 8-30, tergantung
bangsanya. Bentuk tentakel Holothuroidea bermacam-macam, yaitu perisai
(peltate), dendrik (dendritic), menyirip (pinnate), dan menjari (digitate).
Bagian posterior beberapa marga Holothuroidea memiliki gigi anal. Gigi
anal merupakan papilla berkapur yang mengelilingi anus, umumnya terlihat jelas
pada anggota marga Actinopyga (Clark & Rowe 1971:172)






2.2 Taksonomi dan Habitat Teripang
Salah satu contoh teripang yang memiliki nilai komoditi yang tinggi
adalah teripang putih atau Holothuria scabra.
Klasifikasi menurut Barnes 1963 dalam Martoyo et al(1994) adalah
sebagai berikut :
Filum : Echinodermata
Sub filum : Echinozoa
Ordo : Aspidochirota
Family : Aspidochiroidae
Genus : Holothuria
Spesies :Holothuria scabra
Gambar 2. Holothuria scabra
(Sumber : Chris M, 2010)

Tahun 1965, Pawson & Fell membagi kelas Holothuroidea menjadi tiga
subkelas yaitu Dendrochirotacea, Aspidochiritacea, dan Apodacea. Pembagian
subkelas tersebut berdasarkan ada atau tidaknya kaki tabung. Apodacea
merupakan satu-satunya subkelas yang anggotanya tidak memiliki kaki tabung (
Arnold & Birtles 1989:225). Pergerakannya menggunakan tentakel yang juga
digunakan untuk memasukkan makanan ke mulut (Buchsbaum dkk 1987:487).
Bentuk tentakelnya menjari (digitate) atau menyirip (pinnate) (Arnold & Birtles
1989:225).
Subkelas Apodacea memiliki dua bangsa yaitu Apodida, dan Molpadiida.
Keduanya dibedakan berdasarkan jumlah tentakel. Anggota bangsa Apodida tidak
memiliki kaki tabung kecuali yang termodifikasi menjadi tentakel dan berjumlah
antara 10-15. Ukuran tubuhnya panjang dan terlihat seperti cacing dengan dinding
tubuh yang tipis. Komposisi spikulanya terdiri atas spikula bentuk jangkar dan
lempengan jangkar. Bangsa Apodida memiliki tiga suku, 32 marga, dan jumlah
jenisnya diperkirakan mencapai 269 jenis ( Kerr, 2000).
Anggota bangsa Molpadiida memiliki tubuh silindris dengan ujung tubuh
meruncing seperti ekor sehingga tubuhnya terlihar seperti sosis. Tentakel
berbentuk menjari berjumlah 15. Bangsa Molpadiida terdiri dari empat suku, 35
marga, dan jumlah jenisnya diperkirakan mencapai 95 jenis (Kerr, 2000).
Sebagian besar jenis dari Molpadiida hidup di laut dalam. Kombinasi spikulanya
terdiri atas spikula bnetuk meja, batang, lempeng berlubang, dan terkadang juga
muncul spikula bentuk jangkar (Pawson, 1963).
Subkelas Dendrochirotacea merupakan subkelas yang anggotanya
memiliki kaki tabung. Subkelas Dendrochirotacea terbagia atas dua bangsa
berdasarkan perbedaan bentuk tentakelnya, yaitu Dendrochirotida, dan
Dactylochirotida. Bangsa Dendrochirotida memiliki tentakel berbentuk dendritik
berjumlah 10-30. Bangsa Dendrochirotida terbagi menjadi tujuh suku, 90 marga,
dan jumlah jenisnya sekitar 550 jenis (Kerr, 2000). Spikula Dendrochirotida
terdiri atas spikula bentuk keranjang, lempengan berbentuk palang, batang,
lempeng berlubang, meja dan kancing (Arnold & Birtles 1989).
Bangsa Dactylochirotida memiliki tentakel menjari berjumlah 8-30.
Bangsa Dactylochirotida memiliki jumlah suku yang lebih sedikit dibandingkan
dengan bangsa Dendrochirotida, yaitu tiga suku, tujuh marga, dan jumlah
jenisnya sekitar 35 jenis.
Anggota subkelas Aspidochirotacea juga memiliki kaki tabung. Subkelas
Aspidochirotacea terbagi atas dua bangsa yaitu Aspidochirotida, dan Elasipodida.
Pembagian tersebut didasarkan atas ada tidaknya respiratory tree. Bangsa
Aspidochirotida memiliki respiratory tree. Spikula Aspidochirotida umumnya
merupakan kombinasi dari spikula bentuk meja, batang, lempeng berlubang,
kancing, dan roset. Bangsa Aspidochirotida memiliki tiga suku dan jumlah
jenisnya sekitar 300 jenis. Beberapa jenis diantaranya dijadikan komoditas
perdagangan (Arnold & Biretles, 1989).
Bangsa Elasipodida tidak memiliki respiratory tree. Dinding tubuhnya
seperti gelatin dan rapuh. Bangsa Elasipodida memiliki lima suku dengan jumlah
jenis diperkirakan lebih dari 100 jenis yang banyak tersebar di laut dalam.
Anggota bangsa Elasipodida memiliki spikula bentuk palang, namun ada juga
yang tidak memiliki spikula.
Di Indonesia sedikitnya ada 26 jenis timun laut yang pernah atau masih
tercatat diolah untuk diperdagangkan sebagai teripang (Tabel 1). Semuanya
termasuk ordo Aspidochirotida atau Dendrochirotida.

Tabel 1. Beberapa jenis teripang yang ditemukan di perairan Indonesia
No Nama Jenis Nama Daerah
1 Actinopyga echinites Kunyit, Ladu, Kapok/kapuk, Bilalo
2 A. lecanora Batu, Balibi
3 A. mauritania Buntal
4 A. miliaris Lotong, Gamet, Sepatu
5 Bohadschia argus Cempedak, Ular mata
6 B. marmorata Benang, Getah putih, Olok-olok
7 A. tenuissima Karet
8 Holothuria atra Teripang hitam
9 H. coluber Taikokong
10 H. edulis Dada merah, Perut merah
11 H. fuscopunctata ?
12 H. fuscogilva Susu putih
13 H. hilla ?
14 H. impatiens Donga, Babi, Ular-ular
15 H. leucospilota Getah, Salengko
16 H. nobilis Susu hitam
17 H. ocelata Kacang Goreng
18 H. pervicax ?
19 H. scabra Pasir
20 A. similis Krido, Krido bintik
21 Pearsonothuria graeffei Bintik merah
22 Stichopus chloronotus Jepun
23 S. horrens Kacang
24 S. variegatus Gamet, kasur
25 Thelenota ananas Nanas
26 T. anax Duyung
(Sumber: Purwati, 2005)

Secara alami, teripang umumnya menyukai hidup secara bergerombol.
Kebanyakan teripang jenis ini hidup dengan berkelompok dengan anggota antara
3 5 ekor. Teripang yang banyak dijumpai di daerah pasang surut hingga laut
dalam lebih menyukai hidup pada habitat-habitat tertentu. Beberapa kelompok
diantara hidup di daerah berbatu yang dapat digunakan untuk bersembunyi.
Sedangkan lain yang hidup pada rumput atau ganggang laut dan ada juga yang
membuat lubang dan lumpur atau pasir. Khususnya pada jenis A. mauritiana,
banyak ditemukan pada perairan yang dasarnya mengandung pasir halus,
walaupun lebih menyukai perairan yang masih hidup atau mati (Sutaman, 1993).

2.3 Reproduksi Teripang
Saputra (2001) mengemukakan bahwa secara umum teripang adalah
dioceus, yaitu alat kelamin jantan dan betina terdapat pada individu yang berbeda
namun adapula beberapa spesies hermaprodit, seperti : Cucumaria laevigata, dari
ordo Dendrochirotida, dan Mesothuria intestinalis dari ordo Aspidochirotida.
Secara visual kedua jenis kelamin tidak dapat dibedakan, kecuali pada jenis
teripang tertentu yang kelamin betina mengeluarkan telurnya.
Kehidupan teripang di alam mulai dari larva sampai teripang dewasa hidup
sebagai planktonis dan sebagai bintik. Pada fase larva yakni pada stadia
auricularia hingga doliolaria hidup sebagai planktonis, kemudian pada stadia
penctactula hidup sebagai bintik yang mempunyai kebiasaan berada di bawah
permukaan air hingga akhirnnya menjadi dewasa (Darsono 1999). Teripang
terdapat di daerah pasang surut sampai pada tempat yang dalam. Teripang hidup
melekat pada batu atau diantara tumbuhan laut. Di alam teripang selalu dalam
keadaan diam atau bersifat kurang bergerak, kebiasaan teripang berada di tempat-
tempat dimana airnya tenang.(Saputra 2001).
2.4 Nilai Ekonomi
Teripang (sea cucumber) merupakan jenis bahan makanan tradisional di
beberapa negara Asia, khususnya Cina. Teripang olahan kering dalam
perdagangan dikenal sebagai beche-de-mer atau trepang atau hai-sum (CONAND
& SLOAN, 1989). Teripang disukai karena mengandung zat-zat obat (medicinal
properties), makanan ini berkhasiat obat (cura- tive), dan mempunyai daya
aphrodisiac (PRESTON, 1993; AKAMINE, 2000). Dari hasil analisa proksimat
daging teripang diperoleh komposisi protein 43 %, lemak 2 %, kadar air 17 %,
mineral 21 % dan kadar abu 7% (JAMES, 1989). Kandungan lemak yang rendah
menyebabkan teripang direkomendasikan untuk orang-orang yang bermasalah
dengan kholesterol.
Di Jepang, Korea dan beberapa negara Pasifik Selatan, daging dan organ
dalam (viscera) teripang dimakan mentah (segar), dimasak, diasin dan atau dalam
bentuk kering. Teripang juga digunakan sebagai pakan ternak, dan untuk dibuat
tuba ikan maupun sebagai agen anti jamur (PRESTON, 1993). Sejak akhir 1990
pasar teripang bertambah dengan berkembangnya riset produk alam (natural
products) dan penggunaannya sebagai biota akuarium. Sejarah perikanan
(eksploitasi) teripang di Indonesia sudah berlangsung lebih dari tiga abad
(CAMBELL & WILSON, 1993; STACEY, 2000). Perikanan teripang
berlangsung diseluruh Indonesia, namun Indonesia Timur adalah daerah perikanan
teripang yang utama (KONINGSBERGER, 1904; SURJODINOTO, 1954). Tidak
banyak catatan tentang kegiatan perburuan teripang di Indonesia. Namun hal ini
tidak berarti kegiatan perikanan teripang terhenti, kegiatan ini berlangsung terus
bahkan cenderung meningkat aktifitasnya (AZIZ, 1987; CONAND & TUWO,
1996).

2.5 Ekspor Teripang
Permintaan akan hewan laut bernama teripang tergolong tinggi. Pasalnya,
selain lezat, hewan ini juga berkhasiat menyembuhkan aneka penyakit seperti
asma, darah tinggi dan diabetes Teripang dipasarkan dalam beberapa bentuk
produk, diantaranya yaitu teripang kering (beche-der-mer), usus asin (konowata),
gonad kering (konoko), otot kering, teripang kaleng, kerupuk teripang, serta
beragam produk lainnya. Pasaran utama dari teripang tersebut di beberapa negara
Eropa, Jepang, Singapura, Malasyia, dan Amerika Serikat. Sementara negara
pemasok utama teripang di pasaran internasional antara lain Indonesia, Singapura,
Hongkong, Filipina, Kaledonia Baru, Maldives, India dan Srilanka.
Perkembangan produksi dan ekspor teripang dari hasil tangkapan di
Indonesia dari tahun ke tahun cenderung naik-turun. Berdasarkan data produksi
dari Direktorat Jendral Perikanan Budidaya, produksi teripang tahun 2000 sebesar
1.325 ton, tahun 2001 633 ton, dan tahun 2005 hanya sekitar 42 ton. Penurunan
yang terus terjadi tersebut lebih diakibatkan karena sebagian besar produksi masih
berasal dari alam. Bila mengandalkan stok alami yang jumlahnya terbatas dan
tergantung dari musim, ekspor teripang belum dapat dijamin kontinuitanya. Untuk
mengatasi kendala tersebut, budi daya teripang cukup prospektif untuk dilakukan
guna menjamin kontinuitas pasokan teripang di masa mendatang. Sampai saat ini,
hasil budi daya teripang belum banyak memberikan konstribusi devisa negara
walaupun budi daya teripang ini telah mulai banyak dilakukan oleh masyarakat di
daerah Sulawesi Tenggara, Riau, Lampung, dan beberapa daerah lainnya.
Pasaran teripang di dalam negeri juga cukup potensial. Namun, konsumen
komoditas ini masih terbatas di kalangan menengah ke atas. Teripang kering
banyak dijumpai di pasar swalayan di kota-kota besar. Sementara dalam bentuk
masakan, teripang banyak dijumpai di restoran yang menyajikan hidangan laut.
Harga beberapa spesies teripang tampak meningkat sepuluh kali lipat selama 10
tahun terakhir. Peningkatan nilai tersebut didorong oleh persediaan teripang di
seluruh dunia makin sedikit, sementara ada permintaan besar dari China. Ada
beberapa spesies teripang yang dijual dalam bentung dikeringkan di pasar China
dengan harga hingga 2.950 dollar Amerika (Rp 34 juta) per kilogram. (Republika
news, 2014)

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pemilihan Lokasi
Pemilihan lokasi budidaya, merupayan salah satu syarat yang cukup
menentukan untuk mencapai keberhasilan suatu usaha budidaya teripang. Hal ini
disebabkah lokasi atau tempat pemeliharaan teripang adalah tempat yang secara
langsung mempengaruhi kehidupannya.
Kriteria pemilihan lokasi yang cocok bagi budidaya teripang adalah
sebagai berikut:
1) Tempat Terlindung
Bagi budidaya teripang diperlukan tempat yang cukup terlindung dari
guncangan angin dan ombak.
2) Kondisi dasar perairan
Dasar perairan hendaknya berpasir, atau pasir berlumpur bercampur dengan
pecahan-pecahan karang dan banyak terdapat tanaman air semacam rumput
laut atau alang-alang laut.
3) Salinitas
Dengan kemampuan yang terbatas dalam pengaturan esmatik, teripang tidak
dapat bertahan terhadap perubahah drastis atas salinitas (kadar garam).
Salinitas yang cocok adalah antara 30 33 ppt.
4) Kedalaman air
Di alam bebas teripang hidup pada kedalaman yang berbeda-beda menurut
besarnya. Teripang muda tersebar di daerah pasang surut, setelah tambah
besar pindah ke perairan yang dalam. Lokasi yang cocok bagi budidaya
sebalknya pada kedalaman air laut 0,40 sampai 1,50 m pada air surut
terendah.
5) Ketersediaan Benih
Lokasi budidaya sebaiknya tidak jauh dari tempat hidup benih secara
alamiah. Terdapatnya benih alamiah adalah indikator yang baik bagi lokasi
budidaya teripang
3.2 Kualitas Perairan
Perairan sebaiknya harus memenuhi standard kualitas air laut yang baik
bagi kehidupan teripang seperti
a) pH 6,5 8,5
b) Kecerahan air laut 50 cm
c) Kadar oksigen terlarut 4 8 ppm
d) Suhu air laut 20 25 C
e) Lokasi harus bebas dari pencemaran seperti bahan organik, logam, minyak
dan bahan-bahan beracun lainnya
f) Mempunyai gerakan air cukup (kecepatan arus 0,3 - 0,5 m/detik).

3.3 Teknik Budidaya Teripang
Metode yang digunakan untuk membudidayakan teripang (ketimun laut)
yaitu dengan menggunakan metode penculture. Metode penculture adalah suatu
usaha memelihara jenis hewan laut yang bersifat melata dengan cara memagari
suatu areal perairan pantai seluas kemampuan atau seluas yang diinginkan
sehingga seolah-olah terisolasi dari wilayah pantai lainnya.
Pada umumnya budi daya teripang dilakukan di laut atau di kolam atau
tambak air laut. Dalam melakukan budi daya teripang, terdapat beberapa faktor
yang perlu diperhatikan. Faktor tersebut meliputi pemilihan lokasi, pembuatan
sarana budi daya, pengadaan benih, pengangkutan benih, hingga pembesaran
teripang.
Secara teknis teripang dapat dibudidayakan di antaranya dengan cara :
1) Benih teripang dengan berat awal 40-60 g ditebar ke dalam kurung tancap
dengan kepadatan 5-6 ekor/m
2
.
2) Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari atau pada suhu rendah.
3) Sebelum benih ditebar ke dalalm kurung tancap, adaptasikan terlebih
dahulu agar dapat diketahui vitalitas maupun jumlah benih.
4) Selama pemeliharaan diberikan kotoran ayam atau kotoran ayam yang
dicampur dedak halus sebanyak 0,1 kg/m
2
setiap minggu sekali. Kotoran
ayam atau dedak halus sebelum ditebar dicampur dengan air bersih dan
diaduk merata agar tidak hanyut atau terapung dan lakukan pada air sururt.
5) Pada sistem ini teripang yang dipelihara tidak tergantung dari pakan
buatan karena teripang tersebut berada pada habitat aslinya. Pemberian
kotoran ayam berfungsi sebagai pupuk untuk merangsang pertumbuan
diatom yang merupakan makanan utama bagi teripang.
6) Masa pemeliharaan selama 4-5 bulan.

3.3.1 Wadah Budidaya Teripang
Di Indonesia, pembudidayaan teripang dilakukan dengan metode pen
culture. Bahan yang digunakan ialah jaring (super-net) dengan mata jaring sebesar
0,5 1 inci atau dapat juga dengan bahan bambu (kisi-kisi). Dengan metode ini
maka lokasi/areal yang dipagari tersebut akan terhindar dari hewan-hewan
pemangsa (predator) dan sebaliknya hewan laut yang dipelihara tidak dapat keluar
dari areal yang telah dipagari tersebut.
Pemasangan pagar untuk memelihara teripang, baik pagar bambu (kisi-
kisi) ataupun jaring super net cukup setinggi 50 cm sampai 100 cm dari dasar
perairan. Luas lokasi yang ideal penculture ini antara 500 1.000 m
2
.

Gambar 3. Bentuk kurungan untuk budidaya teripang
(Sumber : marineresources)


Desain dan konstruksi kurungan pagar umumnya dibedakan menjadi dua
berdasarkan bahan kurungan pagar yang dipergunakan yaitu kurungan pagar dari
bambu dan kurungan pagar dari jaring. Kurung tancap yang akan dijadikan
sebagai media budidaya teripang memiliki bahan kontruksi berupa:
a) Bahan
1) Balok berukuran (5x7x200) cm
2) Waring nilon ukuran mata 0,2 cm
3) Tali ris dari nilon
4) Tali pengikat atau paku anti karat
5) Papan yang tahan air

b) Cara Pemasangan
1) Tiang dipancang pada dasar perairan sedalam 0,5 m
2) Bagian tiang yang berada di atas permukaan sebagai tempat
melekatkan waring
3) Waring yang telah dilengkapi dengan tali ris disambung dengan papan
4) Papan yang telah disambung dengan waring dibalut lalu ditanam ke
dalam lumpur (30 cm)
5) Bila tidak ada papan bagian ujung waring ditanam ke dalam lumpur
sedalam 30 cm kemudian bagian ujungnya dibelokkan ke dalam
sepanjang 15 cm
6) Ukuran kurung tancap disesuaikan dengan kebutuhan.
Sementara itu, secara terperinci mekanisme budidaya teripang dengan
menggunakan teknik jaraing kurungan adalah sebagai berikut:
1) Teknis Budidaya Teripang menggunakan jaring kurungan. Keramba jaring
kurung yang digunakan untuk budidaya teripang biasanya berukuran
3x3x1 meter berbentuk bujur sangkar yang dipasang pada kedalaman laut
berpasir karang secukupnya antara 75 cm sampai 1 meter. Keramba dibuat
menggunakan jaring dan patok kayu. Hal yang harus diperhatikan adalah
Kecepatan arus 20-50 km/detik. Tinggi gelombang kurang dari 1 m.
2) Pemilihan dan waktu penangkapan Benih. Benih teripang dapat diperoleh
dengan cara menangkap dilaut dan biasanya dilakukan pada musim
kemarau yaitu antara bulan April sampai Oktober karena pada musim
tersebut teripang dewasa memijah (bertelur) sehingga dalam waktu 4-5
bulan benih teripang mencapai ukuran 4-7 cm dan siap untuk
dibudidayakan.
3) Pembesaran dalam jaring kurungan, dengan memperhatikan beberapa hal
antara lain bila benih teripang berukuran 4-7 cm dengan berat 25-49
gram/ekor maka setiap 1 meter bujur sangkar ditebari 15-20 ekor dan
semakin besar teripang harus dipindahkan ke wadah lain. Saat proses
budidaya teripang dapat diberi makanan tambahan berupa campuran
pupuk organik atau kotoran hewan dan dedak halus yang diisi dalam
karung dibuat lubang kecil dan ditempatkan dalam keramba, Teripang
dapat dipanen bila ukuran teripang telah mencapai panjang 15-20 cm dan
beratnya 300-500 gram/ekor (RL)

3.3.2 Benih Teripang
Waktu yang tepat untuk memulai usaha budidaya teripang disuatu lokasi
tertentu ialah 2-3 bulan setelah waktu pemijahan teripang di alam (apabila
menggunakan benih dari alam). Benih alam yang berumur 2 sampai 3 bulan
diperkirakan sudah mencapai berat 20 50 gram per eko. Untuk ukuran benih
teripang sebesar 20 30 gram per ekor, padat penebaran berkisar antara 15 20
ekor per meter persegi, sedangkan untuk benih teripang sebesar 40 50 gram per
ekor, padat penebarannya berkisar antara 10 15 ekor per meter persegi. (Imelda,
2010)
Benih teripang dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu melakukan
pemungutan dari alam dengan berat 30-50 gr dan panjang badan 5-7 cm serta
memelihara induk-induk teripang yang sudah dewasa dengan ukuran 20-25 cm
pada petak-petak di dalam area penculture. Terdapat 4 tahapan yang hars dilalui
yaitu :
1) Pemijahan alami : Pada pemijahan tipe ini, teripang akan memijah secara
alami tanpa adanya rangsang buatan. Teripang jantan biasanya akan
mengelurakan sperma terlebih dulu lalu merangsang betina untuk memijah
dengan selang waktu sekitar 30 menit.
2) Induk teripang biasanya dipelihara di bak pemijahan. Faktor yang
menyebabkan teripang memijah antara lain perubahan suhu yang
mencolok akibat pengangkutan dari alam ke tempat pemijahan, perbedaan
tekanan air dan oksigen saat transportasi dari alam ke tempat pemijahan,
atau memamg sudah waktunya memijah.
3) Pemijahan dengan pembedahan : Metode ini dilakukan dengan cara
membelah teripang pada bagian bawah tubuhnya, dari anus menuju ke
atas. Setelah dibelah, gonad dikeluarkan dan diletakkan pada wadah
kering. Pada teripang betina, akan ditemukan kantung telur yang kemudian
ditoreh dan telur dimasukkan ke tempat pemijahan yang berisi air laut
bersih. Sementara pada teripang jantan, akan ditemukan testis yang
kemudian dipotong menjadi beberapa bagian. Dengan demikian sperma
dapat keluar dan ditampung di wadah lain yang berisi air laut. Setelah itu,
sperma dan telur dicamput menjadi satu kemudian diaduk lalu didiamkan.
Telur yang diabuahi dipanen dan dipindahkan ke tempat pemeliharaan
larva.
4) Metode ini jarang digunakan (hanya terbatas pada penelitian), karena
memiliki beberapa kelemahan. Beberapa diantaranya adalah angka
fertilitasnya rendah yaitu di bawah 20%, dan membutuhkan banyak induk.
5) Pemijahan dengan perangsang kejut suhu : Prinsip yang digunakan pada
metode ini adalah dengan cara meningkatkan suhu air. Peningkatan suhu
air dapat dilakukan dengan cara menjemur bak pemijahan di bawah terik
matahari, merebus air, atau pemanasan dengan menggunakan pemanas
elektrik sehingga suhu air menjadi 5-7
o
C lebih tinggi dari suhu
sebelumnya.
6) Setelah teripang memijah, teripang tersebut dipindahkan ke wadah lain
yang berisi air laut bersih untuk melanjutkan pemijahan. Pemijahan ini
akan berlangsung sekitar 15-20 menit. Adanya sperma akan merangsang
teripang betina untuk mengelurkan sel telurnya dengan cara :
a) Desikasi dan penyemprotan : Pada metode ini, induk teripang yang
akan dipijahkan dikeluarkan dari dalam bak dan kemudian
ditempatkan pada tempat kering selama 1/2 sampai dengan 1 jam.
Setelah itu, induk teripang tersebut disemprot air laut bertekanan tinggi
selama 5-10 menit. Pada tahapan berikutnya, induk dimasukkan
kembali ke dalam bak pemijahan. Setelah 1,5-2 jam kemudian induk
teripang akan mulai bergerak aktif, induk jantan mulai memijah dan
kemudian diikuti dengan induk betina.
b) Tahapan penting setelah pemijahan adalah perawatan benih. Telur
teripang yang telah dibuahi akan mengendap di dasar bak pemijahan
atau perairan yang menjadi habitatnya. Sebaliknya, telur yang tidak
dibuahi akan melayang di daerah permukaan air.
c) Setelah lebih dari 32 jam, telur akan berubah menjadi larva dan
membentuk stadium auricularia (yang terdiri atas stadium awal,
tengah, dan akhir) dengan ukuran 812,50-987,10 mikron. Pada stadium
ini larva diberi pakan berupa plankton jenis Dunaliella sp.,
Phaeodactylum sp., Isochrysis galbana, Nannochlorosis sp.,
Skeletonema spp., dan Chaetoceros spp.
d) Sepuluh hari kemudian, larva berkembang memasuki stadium
doliolaria berukuran 614,78-645,70 mikron. Sama seperti larva
stadium auricularia, larva stadium doliolaria hidup melayang di air
seperti plankton.
e) Selang tiga belas hari kemudian, ddoliodaria memasuki stadium
pentactula. Pada stadium ini larva berwarna cokelat kekuningan
dengan panjang ukuran antara 1.000- 1.200 mikron. Larva pada
stadium ini biasanya hidup di pinggiran bak bagian bawah. Selanjutnya
proses pemijahan memasuki tahap pemeliharaan juvenile. (Pustaka
dunia, 2009)

3.3.3 Pakan Teripang
Teripang binatang pemakan detritus berupa plankton, sisa-sisa bahan
organik yang mengendap kedasar perairan. Untuk menambah ketersediaan pakan
alami yang ada maka ditambahkan pakan tambahan yang berupa campuran antara
kotoran hewan dan dedak hakis dengan perbandingan 1:1. Pemberian pakan
tambahan juga sekaligus dapat memperbaiki kesuburan perairan. Jumlah pakan
yang diberikan sebanyak 0,2-0,5 Kg/m
2
/ 2 minggu. Pakan yang diberikan
ditempatkan pada karung goni yang diberi lubang-ubang, dengan tujuan untuk
menghindarkan kemungkinan pakan akan hanyut karena arus atau gelombang.

Gambar 3. Pemberian Pakan Tambahan
(Sumber : elisa.ugm.ac.id)


3.3.4 Pengelolaan Kualitas Air
Pengelolaan kualitas air merupakan salah satu syarat yang cukup
menentukan keberhasilan usaha budidaya (Rustam, 2006). Pengelolaan kualitas
air yang baik pada teripang secara langsung mempengaruhi kehidupan (laju
pertumbuhan dan sintasan) dari organisme yang dipelihara. Kriteria kualitas air
yang cocok untuk budidaya teripang adalah dasar perairan terdiri dari pasir, pasir
berlumpur, berkarang, dan ditumbuhi tanaman lamun (rumput lindung).
1) Terlindung dari angin kencang dan arus/gelombang yang kuat.
2) Tidak tercemar dan bukan daerah konflik serta mudah dijangkau.
3) Kedalaman perairan lokasi antara 50-150 cm pada saat surut terendah dan
sirkulasi air terjadi secara sempurna.
4) Mutu air: salinitas 24-33 ppt, kecerahan 50-150 cm, suhu 25-30 C.
5) Kadar oksigen terlarut 4 8 ppm.
6) Intensitas cahaya matahari sampai dasar perairan.
3.3.5 Pengendalian Penyakit
Beberapa jenis hama maupun hewan penyaing seperti kepiting, bulu babi,
dan bintang laut harus disingkirkan dari kurungan pagar. Hama dapat
mengakibatkan kerusakan fisik pada tubuh teripang, misalnya terluka atau bahkan
akan memangsanya. Sedangkan hewan penyaing merugikan karena berkompetisi
dalam hal perolehan pakan, ruang gerak, dan sebagainya. Kerusakan fisik pada
tubuh teripang karena serangan hama dapat menimbulkan penyakit. Luka yang
tidak segera diobati menjadi bertambah besar. Akibatnya, makin lama fisik
teripang semakin lemah. Untuk itu, pengobatan teripang yang terluka harus segera
dilakukan dengan merendamnya dalam larutan acriflauin 4 ppm atau methylen
blue 4 ppm selama 0,5-1 jam. Setelah diobati, teripang ditempatkan dalam bak
penampungan selama 1-2 hari.
3.3.6 Panen
Pemungutan hasil atau panen dapat dilakukan setelah teripang mencapai
ukuran pasar (marketing size), yaitu berkisar antara 4 - 6 ekor per kg (berat
basah). Untuk mendapat kan ukuran ini biasanya teripang dipelihara selama 6 7
bulan dengan sint asan yang dicapai kurang lebih 80 % dari total penebaran
awal. Panen dilakukan pada pagi hari sewaktu air sedang surut dan sebelum
teripang membenamkan diri. Panen dapat dilakukan secara :
1) Panen selektif ialah dengan memilih teripang yang telah mencapai ukuran
pasar dengan berat rata-rata sekitar 200 g/ekor.
2) Panen total ialah dengan memungut semua teripang dari areal budidaya,
kemudian dilakukan seleksi menurut ukuran.
Sebelum dipasarkan, teripang terlebih dahulu diproses (diolah) agar
diperoleh kualitas produk yang memenuhi standar pasar. Beberapa tahapan yang
dilakukan dalam pengolahan teripang hingga siap untuk dipasarkan adalah sebagai
berikut :
1) Teripang hasil panen dicuci terlebih dahulu dengan air bersih, kemudian
direndam dengan air campuran daun pepaya selama kurang lebih 15 menit.
Perendaman ini dimaksudkan untuk melarutkan zat kapur pada bagian
kulit luar teripang.
2) Teripang yang sudah direndam dengan air campuran daun pepaya
dibersihkan dengan cara mengelupas kulit bagian luarnya (zat kapur).
3) Selanjutnya teripang di rebus sampai mendidih selama 1 jam, lalu
didinginkansambil ditiriskan airnya.
4) Setelah dingin, teripang di belah pada bagian abdomennya untuk
mengeluarkan isi perutnya. Pada saat pembedahan diusahakan agar tidak
banyak melukai otot-otot bagian tubuh teripang.
5) Setelah isi perut dikeluarkan, maka teripang siap untuk dipanggang dengan
cara pengapasapan hingga kering.
6) Lama pengasapan berkisar antara 3 5 jam, setelah itu teripang diikat
agar bekas pembedahan pada bagian abdomen tertutup kembali.
7) Teripang yang sudah diikat siap untuk di packing dan dalam proses
pengemasannya perlu diperhatikan beberapa hal seperti, bahan
pembungkus harus bersih, kering dan tidak mudah sobek.


Gambar 4. Pengolahan teripang secara dikeringkan
(Sumber : Indonetwork.co.id)


Selain teripang asap, beberapa jenis olahan teripang lainnya adalah sebagai
berikut :
1) Teripang Kaleng
Salah satu bentuk pengolahan teripang yang dapat dilakukan adalah
teripang kaleng. Pada prinsipnya, proses yang digunakan sama dengan
proses pengalengan ikan. Hanya dalam pengalengan teripang ini tetap
dibedakan dalam penyediaan bahan baku teripang yang akan dikalengkan
yaitu berbeda berdasarkan jenis teripang.
2) Kerupuk teripang
Usaha diversifikasi pengolahan suatu komoditi diperlukan untuk
memberikan pilihan lebih banyak pada konsumen. Untuk mengolah
teripang menjadi kerupuk digunakan teripang pasir dengan bahan bantu
pasir pantai, minyak kelapa dan air tawar.
3) Konoko (gonad kering)
Konoko berharga paling mahal diantara beberapa produk olahan yang
berasal dari teripang. Produk olahan ini memang belum dikenal karena
sulit untuk mendapatkannya. Akan tetapi kalau dilihat harganya yang
dapat mencapai US$200/kg, maka sangat menarik untuk diusahakan.
Kenyataan menunjukkan bahwa berat gonad hanya sekitar 2,5% dari berat
badan teripang pada saat matang gonad dan hanya sekitar 2% pada saat
tidak matang gonad.
4) Konowata (usus kering)
Kegemaran masyarakat Jepang terhadap produk ini kiranya cukup
beralasan. Jenis makanan ini mempunyai kandungan yang cukup tinggi ;
air 76,5%, protein 9,3%, lemak 1,3%, karbohidrat 0,5% dan abu 12,4%.
Oleh karena itu harganyapun tinggi. Di Tokyo, 1988 harga konowata rata-
rata dalam partai besar US$ 50/kg.
5) Otot Kering
Produk ini banyak disukai oleh masyarakat Cina, Jepang, Eropa dan
Amerika. Produk ini diambil dari otot yang memanjang pada tubuh
teripang. Otot ini empuk/lunak, berasa seperti daging kerang dan
berkualitas tinggi.
6) Makanan Jadi Teripang
Beberapa bentuk makanan jadi yang terbuat dari teripang diantaranya
adalah bakso da capcay teripang. Untuk membuat makanan jadi tersebut,
teripang yang telah diasap kering harus dikembangkan terlebih dahulu agar
berbentuk seperti semula.
Penyimpanan produk hasil olahan teripang sebaiknya ditempatkan pada
tempat yang betul-betul kering dan tidak lembab. Hal ini dimaksudkan untuk
menghidari rusaknya atau penurunan mutu dari teripang olahan tersebut. Kualitas
produk olahan teripang yang kurang baik akan mempengaruhi harga pada tingk at
kolektor atau eksportir.

3.4 Pemasaran
Indonesia merupakan penghasil teripang (sea cucumber) terbesar di dunia.
Semua tangkapan teripang di tanah air langsung diekspor. Di Hongkong menu
berbahan baku teripang termasuk makanan mahal nan eksklusif. Menu ini hanya
dihidangkan pada saat tertentu saja.
Permintaan ekspor teripang terus meningkat. Sayangnya hingga kini
permintan itu belum sepenuhnya dapat dipenuhi. Penyebabnya adalah, karena
produksi teripang Indonesia masih terbatas. Selain ke Hongkong, teripang juga
dilego ke China, Korea, Malaysia, dan Singapura. Permintaan untuk pasar ekspor
diperkirakan berkisar 20.000 ton hingga 30.000 ton setahun.
Teripang adalah binatang laut berkulit duri (berbulu-bulu hitam) sebesar
mentimun muda. Sebelum diperdagangkan komoditi yang sering juga disebut
dengan sea cucumber (ketimun laut) dikeringkan terlebih dahulu. Hewan ini hidup
sampai pada kedalaman lebih dari 30 meter. Di pasar lokal, harga teripang Rp
30.000 Rp 150.000 per kg. Karena harganya yang amat menggiurkan itu,
banyak pihak yang mencoba mencari teripang dimana pun berada. Perburuan
teripang oleh nelayan Madura dan Bugis bahkan sampai kawasan terumbu
Ashmore di perairan utara Australia.
Eksploitasi untuk tujuan komersil terhadap teripang telah berlangsung
paling tidak sejak seribu tahun yang lalu. Sekitar tahun 1987 1989 produk
teripang dunia mencapai 90.000 ton, dimana 78.000 ton suplai berasal dari Pasifik
Selatan dan Asia Tenggara. Perdagangan teripang global pada saat ini telah
mencapai sekitar 12.000 ton teripang kering atau setara dengan 120.000 ton
teripang hidup. Sejak akhir tahun 1990-an eksploitasi teripang bertambah dengan
adanya kegiatan riset produk alam dan penggunaan teripang sebagai hewan
akuarium.
Kekayaan jenis teripang secara keseluruhan mungkin belum terungkap.
Sementara itu beberapa jenis teripang yang komersil telah mengalami tekanan
eksploitasi. Beberapa jenis teripang merupakan komoditi perikanan yang
diperdagangkan secara internasional.
Namun karena teripang dianggap sebagai produk perikanan yang kurang
penting, maka aktifitas perdagangannya nyaris tidak terkontrol (dikontrol) oleh
instansi formal terkait. Kondisi demikian menyebabkan sulit memperoleh data
produksi maupun ekspor yang reliable. Keadaan ini lebih disebabkan oleh tidak
baiknya penanganan pasca panen produk teripang di Indonesia. Belum ada
peraturan yang spesifik terhadap perdagangan teripang di tanah air.
Tahun 1994 produksi teripang Indonesia adalah sekitar 1.318.000 kg. Data
terbaru tentang teripang berasal dari statistik situs www.perikananbudidaya.go.id
dimana budidaya jaring apung teripang menghasilkan 42 ton selama tahun 2004.
Teripang itu dihasilkan propinsi Nusa Tenggara Barat 23 ton, Kaltim 17 ton, dan
Papua 2 ton.
Sudah pasti, produksi teripang nasional pada masa mendatang akan jauh
lebih besar lagi. Mengingat saat ini, masyarakat sudah banyak yang
membudidayakannya. Budidaya teripang telah lama dilakukan oleh masyarakat
kita khususnya di daerah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara (Kolaka); Papua,
Lampung dan Riau. Benih yang dibudidayakan sebagian besar masih berasal dari
alam. Dengan semakin banyaknya permintaan akan teripang, maka benih sebagai
sumber produksi akan sulit dipenuhi dari alam serta penyediaannya tidak dapat
kontinyu.
Upaya dalam mengatasi penyediaan benih adalah dengan usaha
memijahkannya sehingga kebutuhan akan benih dapat tercukupi. Teripang putih
sudah mulai dicoba dibudidayakan oleh nelayan di Desa Sopura, Kabupaten
Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Teripang putih yang dipelihara oleh nelayan di Desa Sopura dapat
mencapai berat 600 700 g (berat basah) dalam waktu enam bulan pemeliharaan
dari benih ukuran 100 -150 g (berat basah). Bahkan teripang putih dapat mencapai
ukuran 1500 g apabila dipelihara pada kedalaman 5 6 meter selama enam bulan.
Pada tahun 1992 Balai Budidaya Laut Lampung telah berhasil
melaksanakan pemijahan teripang putih (holothuria scabra). Untuk budidaya atau
penangkaran tidak memerlukan biaya yang besar. Yang dibutuhkan hanya
kandang atau tempat yang terbuat dari kawat anti karat yang dapat direndam di
dasar laut di daerah karang.
Beberapa jenis teripang yang bertubuh lunak dan silindris memanjang
seperti mentimun. Itu sebabnya teripang disebut mentimun laut, sea cucumber
atau teatfsh. Di Jepang anggota famili holothuriidae itu disebut namako, di
Thailand pling kao, dan di Perancis, beche de mer.
Teripang adalah kelompok hewan invertebrata laut dari kelas
Holothuroidea (Filum Echinodermata); tersebar luas di lingkungan laut seluruh
dunia, mulai dari zona pasang surut sampai laut dalam terutama di lautan India
dan lautan Pasifik Barat. Tidak kurang sekitar 1.250 jenis teripang telah
dideskripsikan, dibedakan dalam enam bangsa (ordo) yaitu dendrochiwtida,
aspidochiwtida, dacty-hchirotida, apodida, molpadida, dan elasipoda.
Beberapa jenisnya hidup membenamkan diri dalam pasir dan hanya
menampakan tentakelnya. Sedang jenis-jenis teripang komersil biasanya hidup
pada substrat pasir, substrat keras, substrat kricak karang dan substrat lumpur.
Produk teripang umumnya berasal dari jenis-jenis teripang yang hidup di
perairan dangkal, sampai kedalaman 50 meter. Teripang yang hidup di perairan
dangkal inilah yang dapat ditangkap nelayan. Semua jenis teripang komersil,
khususnya dari daerah tropika, termasuk dalam bangsa (ordo) aspidochiwtida dari
suku (family) holothuriidae dan stichopodidae, yang meliputi marga (genus)
holothuria, actinopyga, bohadschia, thelenota dan stichopus. Sekitar 25 jenis
teripang berpotensi komersil diidentifikasikan berasal dari perairan karang di
Indonesia. Sepuluh jenis diantaranya mempunyai nilai komersil.
Tidak kurang ada 29 jenis teripang yang saat ini menjadi komoditas
perdagangan global. Jenis teripang yang termasuk dalam kategori utama, relatif
mahal, yaitu teripang pasir atau teripang putih, holothuria scabra, teripang susuan
h. nobilis dan h. fuscogilva, teripang nenas thelenota ananas.
Jenis yang termasuk kedalam kategori sedang yaitu teripang dari marga
actinopyga, antara lain teripang lotong (a. miliaris); teripang batu (a. echinites);
teripang bilalo (a. lecanora dan a. mauritiana). Pada saat ini perburuan teripang
tidak saja pada jenis-jenis yang berharga mahal, tapi juga terhadap jenis-jenis
yang murah yang pada awalnya tidak menjadi perhatian.
Menurut Prapto Dharsono MSc, peneliti di Pusat Penelitian dan
Pengembangan Oseanologi, Jakarta, teripang tidak hanya untuk makanan. Tapi
sejak zaman purba teripang stichopus hermanii memang dikenal berkhasiat obat.
Itu tak hanya kepercayaan masyarakat Korea dan Cina, tetapi juga berbagai
bangsa. Nelayan Malaysia, misalnya, lazim meminum saripati teripang sebelum
melaut. Efek toniknya menguatkan badan.
Di Pulau Langkawi, Kedah, gamat teripang dalam Bahasa Malaysia
digunakan sebagai obat luka ringan, sakit sendi, radang, asma, paru-paru, tekanan
darah tinggi, dan kencing manis. Sebagai sumber protein teripang mempercepat
penyembuhan luka dalam setelah pembedahan, bersalin normal, dan caesar.
Teripang atau ketimun emas juga bisa dibuat dalam bentuk jeli gamat. Salah satu
jeli gamat bermerek Healin Master yang dibuat Malaysia dan kini beredar di
Indonesia.
Suplemen ini menyediakan tiga pilihan rasa, yakni rasa anggur, jeruk dan
natural. Di negeri asalnya khususnya di Langkawi Tripang dipercaya memiliki
khasiat luar biasa dan telah digunakan sejak ratusan tahun silam. Maklum secara
alami kandungan terbesar gamat adalah protein, collagen, dan serabut elastin.
Hadirnya sirup gamat dan aneka produk lainnya tidak lepas dari penelitian
Prof. Dr. Hassan Yaakob, Phd dari Universitas Malaysia. Secara klinis, gamat
dapat meningkat daya tahan tubuh, mengurangi rasa sakit dan gatal pada
permukaan kulit, menurunkan kadar gula, menurunkan kolesterol, merontokkan
racun dalam hati, menurunkan tekanan darah, melancarkan peredaran darah,
menyembuhkan penyakit maag, dan dapat menyembuhkan penyakit asma kronis.
Selain itu gamat juga dapat digunakan sebagai perawatan kecantikan dan
penyembuh luka oleh ibu-ibu usai bersalin karena kandungan protein dan
collagen.
Teripang mengandung 86% protein. Proteinnya mudah diuraikan oleh
enzim pepsin. Dari jumlah itu sekitar 80% berupa kolagen. Itu sebagai pengikat
jaringan dalam pertumbuhan tulang dan kulit Dalam pertumbuhan tulang,
suplemen kalsium saja tidak cukup, lantaran tulang terdiri dari kalsium fosfat dan
kolagen sebagai pengisi. Tanpa kolagen tulang menjadi rapuh dan mudah pecah
bak kaca. Sebaliknya bila tanpa kalsium, tulang akan kenyal seperti karet.
Kandungan lain adalah mucopolusacharida populer sebagai
glycosaminoglycans (GAGs). Dalam bentuk kondritin sulfat memulihkan
penyakit-penyakit sendi dan membangun kembali tulang rawan. Zat itu
menghilangkan linu sendi akibat duduk terlalu lama. Cara kerjanya dengan
merangsang tubuh mensekresikan cairan synovial.

3.5 Analisis Pemasaran
Teripang adalah salah satu komoditi ekspor sub sektor perikanan yang
cukup potensial. Di Indonesia, pemanfaatan teripang sebagai bahan pangan
dibanding produk perikanan lainnya tergolong kurang populer karena nilai
estetika yang rendah dilihat dari bentuk fisik teripang yang terkesan menjijikan.
Namun demikian teripang sesungguhnya mengandung protein cukup tinggi.
Dimancanegara khususnya di Hongkong, Taiwan, Singapura, dan Amerika Serikat
telah memiliki reknik pengolahan yang lebih maju sehingga teripang telah
menjadi salah satu komponen pangan yang sangat digemari. Saat ini Indonesia
menjadi salah satu negara pengekspor teripang kering terkemuka selain Filipina
dan Kaledonia baru. Pada tahun 1988 ekspor teripang Indonesia mencapai 3.804,1
ton dengan nilai US$ 8.266.700 dalam bentuk daging kering, usus asin dan gonad
kering. Mutu teripang kering dari Indonesia masih dibawah standar perdagangan
sehingga nilai jual produk teripang lebih rendah dari produk negara-negara
pesaingnya. Potensi teripang cukup besar karena Indonesia memiliki perairan
pantai dengan habitat teripang yang cukup luas. Dari sekitar 650 jenis teripang
yang ada di dunia 10% berada di Indonesia dan dari jumlah tersebut dipastikan
ada 7 jenis yang tergolong mempunyai nilai jual tinggi yakni teripang pasir,
teripang hitam, teripang coklat, teripang merah, teripang koro, teripang nanas, dan
teripang gama.
Ekspor teripang Indonesia dilakukan oleh beberapa pengusaha atau
distributor yang membeli teripang langsung dari para pengrajin teripang di
beberapa daerah di Indonesia Khususnya dari kawasan Indonesia Timur seperti
NTT, NTB, Sulsel, Sulut, Maluku dan Irian Jaya. Umumnya para pengusaha
melakukan seleksi jenis dan kualitas terhadap produk masyarakat
nelayan/pengrajin teripang. Kondisi ini sering menyebabkan perbedaan harga
yang sangat mencolok ditingkat nelayan dan ditingkat distributor. Para pengrajin
sering menjadi korban penipuan karena alasan mutu teripang. Sebagaimana yang
sering terjadi pada pengrajin komoditi agroindustri lainnya, pengrajin teripang
saat ini masih belum dapat meningkatkan taraf kehidupan yang lebih layak.
Keadaan ini mengharuskan adanya kegiatan alih teknologi untuk membantu para
pengrajin teripang memperbaiki mutu olahannya serta membantu memperluas
jaringan pemasarannya melalui lembaga profesi dibeberapa daerah yang memiliki
potensi teripang yang pada umumnya merupakan sentra-sentra desa tertinggal.
Program Peningkatan Iptek di Daerah (IPTEKDA)BPPT adalah wujud partisipasi
BPPT dalam membantu meningkatkan tingkat kesejahteraan masyarakat melalui
pemanfaatan teknologi tepat guna. Kabupaten Selayar Provinsi Sulawesi Selatan
merupakan daerah terpilih sebagai penerima bantuan kegiatan IPTEKDA,
Khususnya dalam kegiatan pengolahan teripang karena memiliki habitat teripang
potensial sementara para pengrajin masih relatif sedikit jumlahnya dengan
kemampuan olah sangat terbatas. Pada umumnya mereka mengolah teripang
secara tradisional (M. Yusuf Samad).

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Teripang (ketimun laut) merukan salah satu anggota Echinodermata.
Tubuh teripang bertekstur lunak, berbentuk silindris memanjang seperti ketimun.
Ukuran tubuh teripang berbeda-beda untuk setiap jenisnya. secara umum teripang
adalah dioceus, yaitu alat kelamin jantan dan betina terdapat pada individu yang
berbeda namun adapula beberapa spesies hermaprodit.
Teripang (sea cucumber) merupakan jenis bahan makanan tradisional di
beberapa negara Asia, khususnya Cina. Teripang olahan kering dalam
perdagangan dikenal sebagai beche-de-mer atau trepang atau hai-sum. Teripang
disukai karena mengandung zat-zat obat (medicinal properties), makanan ini
berkhasiat sebagai obat. Dari hasil analisa proksimat daging teripang diperoleh
komposisi protein 43 %, lemak 2 %, kadar air 17 %, mineral 21 %.Kandungan
lemak yang rendah menyebabkan teripang direkomendasikan untuk orang-orang
yang bermasalah dengan kolesterol.
Di Indonesia ditemukan tiga genus teripang, yaitu Holothuria, Mulleria
dan Stchopus. Dari ketiga genus tersebut, yang banyak dieksploitasi dan bernilai
ekonomis adalah H. scabra, H. edulis, H. agrus, H. marmorata, H. vacabunda, M.
lecanora, S. ananas, S.chloromatus, dan S. variegates. Dari semua jenis teripang
yang bernilai ekonomis ini, jenis yang berprospek untuk dibudidayakan adalah H.
scabra atau lebih dikenal dengan nama teripang pasir.
Pembudidayaan teripang dilakukan dengan metode pen culture. Bahan
yang digunakan ialah jaring (super-net) dengan mata jaring sebesar 0,5 1 inci
atau dapat juga dengan bahan bambu (kisi-kisi). Hasil dari olahan teripang dapat
berupa teripang kering (beche-der-mer), usus asin (konowata), gonad kering
(konoko), otot kering, teripang kaleng, kerupuk teripang, serta beragam produk
lainnya. Pasaran utama dari teripang tersebut di beberapa negara Eropa, Jepang,
Singapura, Malasyia, dan Amerika Serikat. Sementara negara pemasok utama
teripang di pasaran internasional antara lain Indonesia, Singapura, Hongkong,
Filipina, Kaledonia Baru, Maldives, India dan Srilanka.

4.2 Saran
Kurangnya pengetahuan dan juga sarana serta prasarana untuk
pembudidayaan teripang, maka disarankan supaya adanya penyuluhan tentang
potensi teripang sebagai sumber mata pencarian bagi nelayan yang ada di
Indonesia. Selain dari pihak pemerintah, pihak masyarakat ataupun dari pelajar
diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam pemanfaatan sumberdaya alam
khususnya di bidang perikanan dan kelautan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Teknik Budidaya Teripang. http://www.pustakadunia.com/artikel-
pustaka-umum/teknik-budidaya-teripang/. Di akses tanggal 15 Mei 2014
Elisa. 2009. Pokok Bahasan VI Teknik Budidaya Teripang.
lisa.ugm.ac.id/.../07295bdecc500ec1192a640062bd8. Diakses tanggal 15
mei 2014
http://www.indonetwork.co.id/naturalresources/buy/4.html (Diakses pada tanggal
13 Mei 2014)
Ir. Rustam, M.Si. 2006. Pelatihan Budidaya Laut (COREMAP FASE II Kab.
Selayar) Budidaya Teripang. Yayasan Mattirotasi. Makassar
Isharmanto, 2010. Holothuroidea-Teripang. http//biologigonz.blogspot.com/
(diakses pada tanggal 14 Mei 2014)
Jasin, M. 1992. Zoologi Invertebrata untuk Perguruan Tinggi. Surabaya . Sinar
Wijaya Martoyo. l.. Nugroho Aji 8; T. Winanto, 1994. Budidaya teripang.
Cetakan 1. Penebar Swadaya. Jakarta. 69 pp
M, Chris. 2010. The Ecology of Holothuria scabra! The CUKE-SEA GRASS
Connection. http://echinoblog.blogspot.com/2010/06/the-ecology-of-
holothuria-scabra-cuke.html
Sangihe, Imelda. 2010. Budidaya Teripang.
http://epetani.deptan.go.id/budidaya/budidaya-teripang-1443. Diakses
tanggal 15 Mei 2014.
Setyawati, Sri. 2013. Teripang. http://marineresourcesdatabase.wordpress.com
(Diakses pada tanggal 14 Mei 2014)
Sutaman, 1993. Petunjuk Praktis Budidaya Teripang. Kanisius. Yogyakarta.
Tri, Iman. 2008. Potensi Pasar Teripang. http://imantri.wordpress.com (Diakses
pada tanggal 14 Mei 2014)