Anda di halaman 1dari 32

x

Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit


y
i
;
;
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
ii
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
iii
;
;
Dari Koleksi Risalah Nur
AL-LAMAAT
Menikmati Hidangan
LANGIT
BEDIUZZAMAN SAID NURSI
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
iv
Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Nursi, Bediuzzaman Said Nursi
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit/Bediuzzaman Said Nursi, Penj.: Fauzy
Bahreisy, Joko Prayitno., Peny.: Zaprulkhan, M.S.I, Cet. 1 Jakar ta: Robbani Press,
2010.
xxxii, 769 hlm.; 23,5 cm
ISBN : 979-3304-97-9
1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan
atau memberi izin untuk itu, dipidana dengan penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).
2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada
umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun penjara dan/atau denda
paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
UU RI No. 7 tahun 1987 tentang Hak Cipta
Judul Asli
Al-Lama at
Penulis
Bediuzzaman Said Nursi
Penerbit
Sozler Publications
Istanbul, Turki 1993 M.
Judul Terjemahan
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
Penerjemah
Fauzy Bahreisy
Joko Prayitno
Penyunting
Zaprulkhan, M.S.I
Perwajahan Isi
Rasyid
Desain Sampul
Robbani Adv. (Sugeng)
Penerbit
ROBBANI PRESS
Jl. Raya Condet No. 27B
Batuampar, Jakarta 13520
Telp. (021) 87780250, 98238998
Fax. (021) 87780251
E-mail: pemasaran@robbanipress.co.id
Cetakan Pertama, Rabi ul Awwal 1431 H/Maret 2010 M
' All Rights Reser ved (Hak Terjemahan Dilindungi)
ANGGOTA IKAPI
website: www.risalahnur.com | email: info@risalahnur.com
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
v
;
;
KATA PENGANTAR
Prof. Dr. Andi Faisal Bakti
(Guru Besar Ilmu Komunikasi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
PERTAMA-TAMA saya ingin mengucapkan terima kasih
kepada Robbani Press yang mempercayakan saya menulis kata
pengantar ini. Hal ini merupakan kehormatan bagi saya. Saya pun
senang melakukannya, kendati bacaan saya atas karya-karya Said
Nursi baru mulai pada tahun 2007, di salah satu seminar yang
digagas oleh STAIN Kediri. Waktu itu, Prof. Dr. Fauzan Saleh, MA.,
yang bertindak sebagai convener symposium itu, mengajak saya
untuk membawakan makalah dengan topik Said Nursi dan
Multikulturalisme dalam Islam. Sebagai yang berlatar belakang
IAIN, studi Islam sudah menjadi perhatian utama dalam kajian yang
saya lakukan. Begitu pun soal multikulturalisme, yang memang
menjadi diskursus penting dalam studi ilmu komunikasi, suatu ilmu
yang menjadi interest saya sejak 1991 di Montreal, Kanada, saat saya
mengambil Studi Islam dengan konsentrasi Pembangunan Dunia
Islam dengan pendekatan komunikasi antarbudaya pada tingkat
Master di McGill University. Saya pun menulis tesis Master yang
berjudul Islam and Nation-Formation in Indonesia yang kemudian
diterbitkan oleh Logos, 2000, dengan judul: Islam and Nation
Formation in Indonesia: From Communitarian to Organizational Approach
to Communication. Buku tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam
Bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Churia Press (2007) dengan
judul: Nation Building: Kontribusi Komunikasi Lintas Agama dan Budaya
dalam Penyatuan Indonesia. Buku ini memang menuntut saya untuk
menelusuri bagaimana negeri yang sangat berbilang kaum ini (421
suku, bahasa, dan budaya) berhasil menjadi satu Negara yang
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
vi
kemudian disebut dengan Republik Indonesia (RI), yang belakangan
menjadi NKRI. Cukup mencengangkan bagi banyak kalangan,
termasuk Benedict Anderson, yang kemudian menjadikannya
sebuah contoh komunitas yang terbayangkan (Imagined Communities,
1992). Berbeda dari Anderson, saya mencoba menggunakan
pendekatan komunikasi lintas agama dan budaya (Inter- atau Cross-
cultural and religious communications), khususnya konsep komuni-
tarianisme dan multikulturalisme, yang dilihat oleh Ferdinand de
Tonnies, sebagai sesuatu yang antagonistik dengan konsep organi-
sasional. Yang pertama mengarah kepada Gemeinschaft (komunitas
atau paguyuban), dan kedua adalah Gesellschaft (sosiatas atau
patembayan). Ternyata, penelitian itu membuktikan bahwa awalnya
memang masyarakat Muslim Indonesia, bahkan Malaysia yang
waktu itu, masih secara umum termasuk bagian dari Masyarakat
Nusantara Melayu Raya. Tetapi kemudian masyarakat itu sebelum
mendapatkan sentuhan modernitas, menggunakan model komu-
nikasi lintas budaya dan agama dengan tokohnya adalah ulama
pengembara yang merantau kemana-mana, dari kota ke kota, ke
pelosok desa-desa, ke pulau besar dan terpencil. Karya-karya mereka
pun ikut tersebar ke seluruh wilayah Nusantara, baik bentuk aslinya
maupun terjemahan ke dalam bahasa lokal masing-masing. Ulasan
lokalitas atas karya-karya itu pun tak terhindarkan. Pintu-pintu dan
jendela-jendela komunitas kemudian terbuka lebar menerima suku-
suku lain, ide lain, ajaran lain, termasuk dalam hal ini Islam, yang
kemudian, menjadi High Culture yang dominan di Nusantara.
Masyarakat Islam Dunia Melayu pun terbentuk seiring dengan
menyebarnya Islam di seantero Nusantara ini. Tak ada keraguan
bahwa komunikasi antarbudaya dan agama berjalan damai dan
mulus.
Dengan demikian, ketika nilai-nilai modern ikut diper-
kenalkan di wilayah ini, seperti pembentukan organisasi, percetakan,
surat kabar, Latinisasi huruf Arab Melayu (Jawi), dan lain-lain segera
mendapat tempat yang baik. Maka lahirlah organiasi Islam seperti
Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian menjadi Sarekat Islam
(SI), dan akhirnya Persatuan Syarikat Islam Indonesia (PSSI). Juga
lahirlah Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), al-Irsyad al-
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
vii
;
;
Islamiyah, Joung Islamieen Bond (JIB), Persatuan Tarbiyah Islamiah
(PERTI), Persatuan Muslim Indonesia (PERMI), Majelis Islam Ala
Indonesia (MIAI), dan MAJELIS Syura Muslimin Indonesia
(MASYUMI). Ini semua bersifat nasional, tetapi juga organisasi yang
bersifat lokal cukup banyak yang berdiri pada waktu itu. Apakah
itu pesantren atau madrasah, maupun asosiasi kemasyarakatan,
semuanya dijiwai oleh semangat keislaman. Semuanya ini ikut mem-
perkuat lahirnya Indonesia baru; bukan lagi imagined (dihayalkan),
tetap sudah riil.
Pengenalan saya pada kondisi riil masyarakat Islam Nusan-
tara ini, membuat saya merasa enak dan mudah memasuki diskursus
komunitarianisme dan Said Nursi. Saya pun mulai membaca karya
Said Nursi, yang kebetulan sering juga diminta ikut symposium
tentang Said Nursi akhir-akhir ini, seperti di Turki, Jepang, Filipina,
dan tentunya Indonesia dan di Negara-negara Dunia Melayu Islam,
lainnya.
Karena itu, ketika saya diminta menulis kata pengantar untuk
karya lain Said Nursi: Al-Matsnawi, saya pun senang melakukannya.
Al-Matsnawi ini merupakan summarial atas semua karyanya, karena
itu saya jelaskan pada kata pengantar itu tentang asal usul lahirnya
karya-karya monumental penulisnya, yang pada umumnya
terekspresi ketika ustadz ini sedang berada dalam berbagai buih,
yang kurang lebih 25 tahun lamanya. Di sana, saya pun menjelaskan
mengapa pemikiran ustadz ini kurang populer di kalangan pembaca
di Nusantara.
Salah satu alasan lain karena karyanya belum diterjemahkan
ke dalam Bahasa Indonesia/Malaysia. Besar kemungkinan dengan
bertambahnya terjemahan Bahasa Indonesia atas karya-karya Said
Nursi, maka jaringan komunitarian dan organsasional Islam yang
sudah terbangun di Nusantara atau Dunia Islam Melayu yang
meliputi Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand Selatan,
Filipina Selatan, Kamboja, Vietnam, bahkan Timor Leste dan
Myanmar, yang dikenal dengan sepuluh negara ASEAN, dapat
segera terakses oleh anggota masyarakatnya. Bukankah bahasa
Indonesia dapat dimengerti oleh hampir 300 juta penduduk yang
mendiami wilayah ini. Ulama, madrasah, santri, dan mobilitas kitab
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
viii
yang tak pernah putus sejak Hamzah Fansuri, akan semakin mem-
perkaya ketersambungan jaringannya dengan bertambahnya
khazanah literatur karya Said Nursi.
Untuk kesempatan kali ini, saya tentunya tak perlu meng-
ulangi atau mengelaborasi lebih jauh soal ini lagi, apalagi biografi
intelektual Said Nursi dapat dilihat pada karya Sukran Vahide, tetapi
saya akan mencoba melihat pertama mengapa Said Nursi ini
menamai buku koleksinya dengan Risalah Nur, dan kenapa beberapa
buku kecilnya atau bab-babnya banyak menggunakan kata cahaya
dengan segala derivasinya: an-Nur, al-Lamaat, asy-Syuaat. Sekali pun
tak ada judul adh-Dhau (kemilau), Said Nursi banyak menyinggung
soal kemilau ini dalam berbagai penjelasannya, terutama pada al-
Matsnawi.
Memang Said Nursi telah menjelaskan kenapa beliau
menggunakan judul bukunya dengan Risalah Nur. Menurutnya:
Beberapa kalangan mempertanyakan satu hal perihal
penamaan kitabnya dengan Risalah Nur. Mereka mengatakan bahwa
mereka hanya melihat tak ada seorang pun yg bernama Nur di antara
murid-muridnya. Padahal, katanya, dalam salah satu footnotenya
atas jawaban suratnya itu disebutkan nama Nuri Benli dan Kureli
Nuri si pembuat jam yang menjadi orang yang sangat berjasa dalam
penulisan Risalah Nur ini. Jadi mereka tak bisa mengkritisi soal
penamaan ini dengan alasan dan dugaan serta hal-hal yang tak
berlandasan kuat itu.
Lebih jauh Said Nursi menjelaskan alasan penamaan ini.
Sepanjang hidup saya nama Nur (Cahaya) tidak pernah lepas dari
diri saya. Umpamanya, kampung tempat kelahiran saya bernama
Nurs; almarhumah Ibu saya bernama Nuriye; guru tasawuf Naqsy
saya bernama Sayyid Nur Muhammad; salah seorang guru tasawuf
Qadiri saya bernama Nuruddin; salah seorang guru mengaji saya
bernama Nuri; dan murid-murid saya yang paling dekat dengan
saya banyak memiliki nama Nur. Dan siapa yang paling banyak
membantu saya keluar dari kesulitan dalam memperjuangkan
kebenaran keilahian adalah juga nama Nur, yang berasal dari nama
Tuhan Yang Paling Indah. Dan pemimpin khusus saya, yang penuh
entusiasme dan tak pernah mengenal lelah demi al-Quran, meng-
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
ix
;
;
arahkan saya, padahal pengabdian saya kepadanya sangat terbatas,
adalah Uthman Dhil Nurayn (semoga Allah memberkatinya).
Namun penjelasan di atas kiranya bersifat luaran saja yang
mungkin terpantul dari sifat kerendahhatian Said Nursi. Karena
boleh jadi malah yang dimaksudkan adalah makna dalaman yang
lebih berhikmah dan lebih dari sekedar cahaya itu, serta jauh lebih
filosofis. Tidak mustahil makna Nur itu adalah Pencerahan bagi
umat manusia, terutama bagi umat Islam yang sudah dianggapnya
hidup dalam suasana gelap gulita, tidur lelap, linglung dan bingung.
Seakan berfungsi sebagaimana firman Allah: Yukhrijuhu min al-
zulumat ila al-nur. Karena itu, kata-kata yang sepadan dengan al-
Nur digunakan juga, seperti al-Lamaat (Penerangan), al-Syuaat
(Sinar). Kata-kata seperti al-Maktubat, Muhakamat, al-Kalimat, al-
Isyarat, al-Matsnawi, Malahik, Saikal Islam, dll., sekalipun tidak
langsung berkaitan dengan cahaya atau sinar atau kemilau; namun,
hukum, kalimat, petunjuk/tanda, petuah, tambahan, saika, dll.,
sangat mampu membuat pencerahan kepada manusia bila mereka
memahami dan melaksanakan sebuah ungkapan yang penuh
kearifan dan kefilsafatan.
Buku yang ada di tangan pembaca ini disebut dengan al-
Lamaat (Penerangan) ternyata memang penuh dengan hal-hal yang
menerangkan makna cerita pendek tentang karakter/tokoh yang
disebutkan dalam Al-Quran, yang sempat menjadi penerang soal
ajaran ketauhidan, keshalehan, ketauladanan, pada masanya. Buku
ini juga memuat jawaban-jawaban Said Nursi atas pertanyaan
murid-muridnya yang waktu memerlukan penjalasan yang men-
cerahkan. Namun, beberapa bagian yang tidak dielaborasi, karena
ditempatkan pada buku Said Nursi lainnya, seperti Cahaya ke-5, 6,
8, 15, 18, 27, 31, 32, dan 33 tidak termasuk dalam al-Lamaat ini.
Penerangan atau Cahaya pertama adalah cerpen tentang Nabi
Yunus AS yang digambarkan sebagi tokoh yang sangat tangguh
keimanan dan ketauhidannya. Beliau ditantang dengan kondisi alam
yang amat mencekam. Beliau tak gentar mencabar kesulitan hidup
saat ditelan ikan yang perutnya gelap gulita. Kondisinya jauh lebih
sulit dari penjara, karena tentu sirkulasi udara dan baunya sangat
menyengat. Bahkan Yunus a.s. menerima cobaan itu dengan tenang,
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
x
sembari berdoa dengan penuh kesadaran betapa tak berdayanya
manusia tanpa pertolongan Tuhan: La ilaha illa Anta, subhanaka inni
kuntu min al-dzalimin, sehingga ikan yang menelannya pun dengan
izin-Nya berubah menjadi bagaikan kapal selam, bulan menjadi
penerang, ombak menjadi pendorong untuk sampai ke pantai. Yunus
a.s. pun tercerahkan dan mencerahkan kita semua.
Cerpen ke 2, yang sekaligus menjadi Cahaya ke 2, adalah
mengenai Nabi Ayub AS. Beliau diserang penyakit, sehingga sekujur
tubuhnya bengkak dan busuk, serta dikerumuni lalat dan ulat. Tetapi
beliau tetap sabar menerima nikmat musibah ini. Bahkan lalat dan
ulat itu dianggapnya sebagai binatang yang melakukan ibadah
kepada Tuhan, bersama dengan dirinya. Nabi Allah ini tegar meng-
hadapi tantangan ini, karena sadar betul kemahakuasaan dan kasih
sayang Allah SWT: Anni massani al-dhurru wa anta arhamu al-rahimin.
Beliau pun lulus dari nikmat musibah ini, dan semakin tercerahkan
setelah berakhirnya penderitaan itu. Para pembaca pun semoga
dapat memperoleh pencerahan dengan cerita ini.
Cahaya ke 3, bukan tentang cerpen lagi, tetap sebuah konsep
akidah mengenai eksistensi Tuhan. Salah satu sifat Tuhan adalah
Baqa. Said Nursi terutama menjelaskan tentang makna Ya Baqi Anta
al-Baqi dan ayat Kullu syaiin halikun, illa wajh Allah. Ini barangkali
dimaksudkan untuk menolak sekaligus untuk menjelaskan tentang
pendapat sebagian ahli filsafat bahwa alam itu tak berpermulaan
dan tak perpengakhiran sebagaimana halnya dengan Tuhan. Dalam
hal ini, Said Nursi sependapat dengan Hujjatu al-Islam Imam al-
Gahazali, yang menolak pendapat filosof sebelumnya yang meng-
anut faham bahwa alam juga baqa dan qadim. Bagi Said Nursi, tak
ada yang kekal kecuali Allah SWT. Semua yang lainnya akan hancur.
Setelah berbicara tentang ketuhanan, Cahaya berikutnya (ke-
4) adalah mengenai imamah dan khilafah. Said Nursi berusaha
mempertemukan kedua sekte Islam yang berbeda agar tidak
terjerumus kepada permusuhan. Di satu sisi, Said Nursi memuji
Imam Ali ra., tetapi di sisi lain mengkritisi keyakinan Syiah dengan
argumentasi berimbang. Salah satu ungkapannya: Kecintaan kepada
Ali ra. janganlah menjadi kebencian terhadap Abu Bakar, Umar, dan
Usman. Ali ra. adalah sosok sahabat yang memang luar biasa
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
xi
;
;
kepandaian dan keshalehannya yang patut menjadi panutan, yang
sering mendapat pujian Nabi SAW. Namun, tiga khalifah sebelum-
nya juga masing-masing mempunyai kelebihan-kelebihan.
Pencerahan yang ingin disampaikan oleh Said Nursi di sini adalah:
umat Islam hendaklah bersatu padu membangun diri dalam rangka
berkompetisi secara sehat dengan umat lainnya.
Setelah bicara tentang hubungan kemanusiaan, Said Nursi
kembali lagi bicara soal ketuhanan yang berkaitan dengan kemanu-
siaan. Cahaya ke-7 ini, dijelaskan tentang ayat laqad shadaqa rasulahu
bi al-ruya yang mana ada tujuh prediksi yang digambarkan Allah
kepada Nabi SAW dan sahabatnya yang akan dialami umat Islam
di masa yang akan datang. Antara lain adalah: 1. Umat Islam akan
masuk kota Mekah dengan damai; 2. Susunan khalifah (Abu Bakar,
Umar, Uthman, Ali); 3. Karakteristik sahabat; 4. Maghfirah dan
ganjaran bagi sahabat; 5. Gambaran bahwa akan ada perselisihan
antara sahabat Nabi SAW, yang menurut Said Nursi, kedua kelom-
pok yang berselisih itu karena akibat ijtihad; 6. Kedua kelompok
sahabat yang berselisih itu sama-sama ada benarnya; dan 7. Kedua
golongan yang meninggal semuanya adalah syuhada. Pencerahan
yang agaknya diinginkan oleh Said Nursi di sini adalah bahwa kita
tak usah mempermasalahkan apa yang sudah terjadi antara sahabat
itu, karena yang utama adalah menghidupkan ijtihadnya, bukan
perselisihannya. Dengan melupakan perselisihan ini, maka umat
Islam hendaknya bersatu.
Pada cahaya berikutnya (ke-9) adalah penjelasan tentang
ajaran wahdatul wujud Ibn Arabi. Bagi Said Nursi, ungkapan-
ungkapan Ibn Arabi saat beliau dalam keadaan kasyaf harus
dibedakan dari ungkapannya saat beliau sadar. Ungkapan kasyafnya
yang tidak sesuai dengan akidah Islam mestinya dimaafkan. Karena
bagi Said Nursi, wujud alam semesta ini memang tidak bisa ditolak,
karena kedudukannya sebagai alat untuk mengingat Tuhan. Pence-
rahan yang disampaikan Said Nursi dalam hal ini adalah kesatuan
alam dengan Tuhan dapat dijelaskan secara akidah dan rasionalitas.
Ungkapan kasyafnya Ibn Arabi jangan menjadi pedoman, karena
tidak rasional, dan tidak sesuai dengan akidah Islam; namun, alam
semesta dan Tuhan bukan entitas yang bertentangan. Lagi-lagi
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
xii
persatuan umatlah yang diutamakan.
Demi persatuan itu, maka Said Nursi pada Cahaya ke-10
menekankan pentingnya rasa kasih sayang antara manusia. Beliau
memberikan contoh-contoh dalam kehidupannya sendiri, di mana
saat beliau kurang memperhatikan hal ini, dia sering mendapat
peringatan, berupa kesulitan dalam hidup ini. Pencerahan yang
disampaikan di sini adalah manusia mesti selalu menebarkan kasih
sayang, kepada siapa pun.
Setelah membahas soal kasih sayang antara manusia, kembali
lagi Said Nursi menekankan pentingnya Sunnah Nabi SAW, pada
Cahaya yang ke-11 ini. Ada 11 poin mengapa sunnah rasul itu
penting, yaitu untuk: melawan bidah, menjadi sarana kekasih Tuhan
yang sebenarnya, melakukan perjalanan rohani, melaksanakan
perenungan terhadap kematian, mencapai kecintaan kepada Allah,
mengetahui dan mengamalkan jenis-jenis sunnah, beradab yang
agung, mencapai kebahagiaan, melakukan pencaharian cahaya,
menjalin kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya, dan memaknai
pesoalan fondasi, akhlak, dan kemoderatan.
Pada Cahaya yang ke-12, Said Nursi mencoba menjelaskan
kepada pembaca betapa kemahakuasaan Allah Sang Pencipta alam
ini. Ada tujuh lapis langit, dan ada tujuh lapis bumi, yang semuanya
berkaitan dengan rizki Allah dan kemahakuasaan-Nya kepada
manusia.
Namun di balik kemahakuasaan Allah itu, ada makhluk-Nya
yang mempunyai wewenang untuk menggoda manusia, yang
dijelaskan pada Cahaya ke-13. Makhluk itu bernama Iblis atau
syaitan, yang diberikan kepiawaian dan keahlian mempengaruhi
sikap mental dan prilaku manusia agar terjerumus pada perbuatan
yang melanggar aturan Tuhan. Namun bila berhasil melawannya,
maka manusia berhasil juga meningkatkan derajat keimanan dan
ketakwaannya kepada Allah SWT. Dengan demikian ada peran
syaitan dalam peningkatan kualitas iman dan amal manusia. Pen-
dapat ini memperkuat pendapat ahli tafsir lainnya seperti Ibn Katsir,
bahwa Iblis itu awalnya adalah malaikat, namun berubah menjadi
syaitan yang bertugas memengaruhi dan menggoda manusia.
Kalau pada buku Said Nursi yang ke-8 (Saika al- Islam) terdapat
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
xiii
;
;
penjelasan tentang Al-Muhakamat (risalah Tuhan yang bersifat
hukum pasti), maka pada Cahaya ke-14 dari kitab al-Lamaat ini
membahas soal al-Mutasyabihat (risalah yang memerlukan penje-
lasan), khususnya dalam hadits. Beliau tidak menerima ramalan-
ramalan zodiac atau perbintangan; namun, beliau juga menjelaskan
bahwa dia menerima penjelasan soal bentuk bumi yang bisa seperti
ikan dan bisa seperti sapi. Said Nursi juga menjelaskan makna
Bismillah al-rahman al-rahim.
Setelah soal bumi, Said Nursi melanjutkan penjelasannya,
pada Cahaya ke-16, mengenai ciptaan Tuhan seperti hujan, jenis
kelamin, yang masuk kategori al-mughayyabat al-khamsah (lima
peristiwa gaib, yang belum diketahui secara pasti). Namun, Said
Nursi juga mengaitkannya dengan cerita tentang Zulkarnain. Apa
prestasinya? Said Nursi mengatakan bahwa ada kemungkinan
tembok Cina itu adalah karya atau bangunan Zulkarnain. Sebagai-
mana umum dipahami bahwa Zulkarnain adalah seorang tokoh
yang mempunyai kekuasaan di Timur dan di Barat. Dan bila jejaknya
di Timur terlihat dengan tembok ini, maka seakan Said Nursi ingin
menjelaskan, bahwa jejaknya di Barat juga ada, karena pada Cahaya
berikutnya (ke-17) Said Nursi menjelaskan panjang lebar tentang
Barat (Eropa).
Cerita tentang Eropa ini dikaitkannya dengan kesuksesan
materil, karena mereka berhasil melakukan penghematan. Oleh
karena itu, pada Cahaya ke-19, Said Nursi menjelaskan betapa
pentingnya umat manusia memiliki sifat hemat dan sederhana.
Makanlah dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Selain sifat
hemat, Said Nursi juga menekankan pentingnya sifat ikhlas dalam
berbuat dan bekerja. Mencari keridhaan Allah SWT adalah kunci
sukses. Bukanlah karena banyaknya pengikut seorang pemimpin
dikatakan sukses, tetapi justru kualitas umat pengikutnyalah yang
menjadi ukuran. Mereka mampu bersatu padu, karena sifat Ikhlas
yang dimiliki pemimpinnya sehingga mampu meredam perselisihan
antarumat. Sifat ikhlas adalah salah satu kunci untuk mencapai
kualitas kepemimpinan ini. Namun ikhlas harus disertai dengan
ketekunan. Said Nursi menjelaskan bahwa kenapa kaum sesat ada
yang sukses, karena mereka fokus dalam bekerja untuk dunia, ada
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
xiv
pembagian tugas yang cermat, serta mereka tekun bekerja.
Lebih jauh lagi, cahaya ke-21, Said Nursi masih tentang
pentingnya ikhlas ini, dengan mengemukakan aspek-aspek yang
menjadi penghalang utama berbuat ikhlas: tidak fokus pada
keridhaan Allah SWT, bangga dengan pengabdiannya, meleburkan
diri pada saudara sehingga cenderung bersifat nepotistik.
Said Nursi juga dalam al-Lamaat ini kerap mengajukan
pertanyaan kepada muridnya, lalu beliau sendiri menjawabnya. Ini
mirip dengan metode dakwah Rasulullah SAW juga yang sering
bertanya kepada sahabatnya. Kemuadian beliau sendiri menjawab-
nya. Jadi bertanya hanyalah untuk menarik perhatian pendengar.
Atau sering juga Said Nursi menjawab pertanyaan muridnya,
kendati murid tersebut tidak ada lagi ketika Said Nursi menulis
risalah ini.
Kembali Said Nursi pada Cahaya ke-23 ini menjelaskan
tentang makhluk besar seperti alam, lebih khusus tentang tabiatnya.
Ada 3 kritikannya tentang pemahaman sarjana lain tentang ini: Said
Nursi menolak pandangan bahwa segala sesuatu yang terjadi atau
tercipta di alam ini karena sebab akibat: benda atau peristiwa ini
ada karena ada yang lain memengaruhinya; 2. Beliau juga menolak
pandangan bahwa semuanya terjadi karena tuntunan alam itu
sendiri; 3. Terakhir penolakannya adalah keyakinan bahwa semua
yang terjadi di alam ini tercipta dengan sendirinya. Baginya, semua
yang tiga ini salah. Yang benar adalah bahwa semua yang terjadi
dan wujud di alam ini karena ciptaan Allah SWT. Bagi Said Nursi,
Creatio ex nihilo (Menciptakan sesuatu dari yang tiada) itu bagi
Tuhan tak ada masalah. Hanya dengan perintah: Kun Fayakun maka
jadilah dan terciptalah dengan segala perangkat dan hukum
alamnya. Bahkan penciptaan itu wujudnya tak pernah berhenti,
sehingga setiap tahun muncul ratusan spesies baru di alam mini.
Setelah soal makro ini, pada cahaya ke-24, Said Nursi kembali
lagi ke soal mikro: soal pakaian, soal hikmah dan manfaat hijab bagi
wanita Muslimah, dan soal hubungan suami istri. Pentingnya
membangun kepercaan antara pasangan suami istri, demi menjalin
hubungan keharmonisan dan kestabilan hidup keluarga yang pada
gilirannya menjadi inti pembentukan masyarakat berkeadaban
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
xv
;
;
sangat ditekankan oleh Said Nursi.
Masih tentang hal mikro, Said Nursi menjelaskan tentang
risalah sakit dan penyakit pada Cahaya ke-25. Hikmah dan manfaat
sakit, serta menjelaskan mengenai 25 macam obat penyakit. Namun,
katanya, ketuaan (al-syuyukh) tidak bisa dihindari, seperti yg
dijelaskan pada Cahaya ke-26.
Pada Cahaya ke-28, Said Nursi kembali lagi berbicara soal
makro, seperti penciptaan Allah atas isi alam, seperti besi, ternak,
dll. Kata anzala digunakan dalam al-Quran untuk menjelaskan
kedua hal ini, karena selain hikmah keduanya diturunkan oleh sang
Khalik yang Maha Kuasa, tetapi juga menjelaskan bahwa benda-
benda berat seperti ini memang turun karena grafitas, ketimbang
benda gas yang selalu menguap ke atas. Said Nursi mendorong
muridnya dan pembacanya untuk selalu bertafakkur atas kebesaran
Allah swt, yang disebutnya sebagai tafakkur ilmiah dan imani,
seperti pada Cahaya ke-29. Ciptaan Tuhan yang demikian kaya raya
dan terhampar luas itu, seharusnya diinternalisasi oleh manusia ke
dalam kesadaran ilmiah dan imaniahnya, yang pada gilirannya
dapat melahirkan pencerahan hidup.
Said Nursi menutup risalah al-Lamaat ini dengan penjelasan
tentang nama-nama Tuhan yang paling mulia di antara al-Asma al-
Husna itu. Baginya, ada enam nama-Nya yg masuk ketegori ini:
Quddus, Adl, Hakim, Fard, Hayy dan Qayyum. Nampaknya, Said
Nursi ingin mengatakan, bahwa bila manusia ingin mendapatkan
pencerahan, maka pada hakikatnya cukup dengan enam sifat ini
seseorang perlu miliki terlebih dahulu. Quddus berkaitan dengan
keikhlasan, karena itu seseorang hendaklah selalu ikhlas dalam
perbuatannya. Selain itu, seseorang juga harus selalu adil dan jujur
(Hakim), karena Allah SWT adalah satu-satunya (Fard) yang memoni-
tor segala tindak tanduk kita, yang maha tegas (Qayyum).
Dapat juga dijelaskan, bahwa pergantian dari penjelasan soal
mikro ke soal makro dan vice versa, atau dari isu iman ke isu amal
dan vice versa, semuanya berkisar pada lima sifat Tuhan ini. Bicara
soal perbuatan atau amal, maka soal keiklasan, keadilan, ketegasan,
dan keyakinan akan adanya kekuatan Tuhan yang selalu memonitor
kita menjadi sangat penting. Begitu pula soal iman, semuanya tak
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
xvi
lepas dari lima sifat Tuhan yang paling mulia ini, yang menjelaskan
tentang kemahakuasaan Tuhan dalam menciptaan alam raya yang
super makro nan luas ini, tetapi juga alam nurani, jiwa, dan roh
manusia yang super mikro nan rinci ini.
Pendekatan inilah yang nampaknya digunakan oleh Said
Nursi dalam bukunya ini, dalam rangka membantu para pembaca
mencapai pencerahan jasmani dan rohani, serta rasa dan rasio.
Semoga para pembaca yang budiman dapat tercerahkan dengan
buku al-Lamaat ini. Amin.
Subhanaka la ilma lana illa ma allamtana, innaka anta al-alim al-
hakim.
Jakarta 14 Februari 2010
Andi Faisal Bakti
Referensi:
Anderson, B. 1992. Imagined Communities: Reflections on the Origin
and Spread of Nationalism. London: Verso, second Edition
Bakti, A.F. 2000. Islam and Nation Formation in Indonesia: from
Communitarian to Organizational Communications. Jakarta:
Logos Wacana Ilmu
Bakti, A.F. 2006. Nation Building: Kontribusi Komunikasi Lintas Agama
dan Budaya terhadap Kebangkitan Bangsa Indonesia. Jakarta:
Churia Press
Tonnies, F. 1994. Community and Society (Gemeinschaft und Gesellschaft).
Translated by Charles P. Loomis. Michigan: The Michigan State
University Press.
Vahide, Sukran. 2007. Biografi Intelektual Bediuzzaman Said Nursi:
Transformasi Dinasti Usmani menjadi Republik Turki. Diterjemah-
kan oleh Sugeng Hariyanto dan Sukono. Jakarta: Anatolia.
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
xvii
;
;
DAFTAR ISI
CAHAYA PERTAMA (3-9)
O Munajat Yunus a.s. dan penjelasan betapa dibutuhkannya
munajat tersebut oleh setiap manusia
CAHAYA KEDUA (11-25)
O Munajat Ayub a.s. dan 5 penjelasan betapa dibutuhkannya
munajat tersebut bagi kita:
a. Dalam setiap dosa terdapat jalan menuju kekafiran
b. Tidak ada hak manusia untuk mengeluh atas bala yang
menimpanya
c. Memikirkan pahala bagi orang yang tertimpa musibah
dapat mencapai derajat syukur
d. Penjelasan mengenai kekuatan sabar dalam diri
manusia
e. Terdapat 3 permasalahan:
1. Musibah hakiki yang menyerang agama dan
penjelasan solusinya
2. Semakin dibesar-besarkan, semakin besar musibah
tersebut solusinya
3. Sakit bagi seorang pemuda pada zaman ini adalah
kenikmatan
Penutup
CAHAYA KETIGA (27-37)
O Penjelasan mengenai hakikat kalimat, ya baaqi anta baaqi
(Wahai Yang Maha Kekal, Engkaulah Yang Maha Kekal).
a. Mensucikan hati dari segala sesuatu selain Allah
b. Rindu akan keabadian yang tertanam dalam fitrah
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
xviii
manusia
c. Perbedaan waktu terhadap kehancuran sesuatu dan
proses perubahan umur yang fana kepada yang abadi.
CAHAYA KEEMPAT (39-56)
O Risalah Minhaj As-Sunnah (Konsep Sunnah)
Catatan Pertama: Kebaikan dan kasih sayang Rasulullah
SAW. terhadap umatnya
Catatan Kedua: Keharmonisan antara tugas kerasulan
SAW. dengan persoalan-persoalan sekunder
Catatan Ketiga: Tafsir Firman Allah, kecuali kasih sayang
terhadap keluarga
Catatan Keempat: Kekhalifahan, antara Ahlu Sunnah Wa
al-Jamaah dan Syiah
CAHAYA KELIMA (57)
CAHAYA KEENAM (61)
CAHAYA KETUJUH (65)
O Dikhususkan untuk menjelaskan 7 macam kabar ghaib yang
terdapat pada akhir surat Al-Fath
O Lanjutan: Informasi ghaib yang terdapat dalam firman
Allah, Dan pasti kami tunjuki mereka ke jalan yang lurus (QS
An-Nisa: 68-69)
CAHAYA KEDELAPAN (81)
CAHAYA KESEMBILAN (83-100)
O Pertanyaan Pertama: Sekitar penisbatan Hulusi kepada
Ahlu Bait
O Pertanyaan Kedua: Studi kritis atas paham Wahdatul Wujud
O Pertanyaan Ketiga: Jawaban terhadap klaim adanya ayah
bagi Isa a.s. Serta penjelasan seputar yang boleh dan tidak
boleh dalam syariat
O Lanjutan pertanyaan seputar Ibnu Arabi
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
xix
;
;
CAHAYA KESEPULUH (101-120)
Risalah Tamparan Kasih Sayang
O Penjelasan mengenai tamparan yang diterima oleh para
pengabdi al-Quran karena kesalahan mereka pada saat
pengabdian mereka kepada al-Quran
CAHAYA KESEBELAS (121-145)
Risalah Derajat Sunnah dan Obat Penyakit Bidah
1. Urgensi mengikuti as-Sunnah terutama di saat tersebarnya
Bidah
2. Siapa yang berpegang pada as-Sunnah layak unutk
digolongkan sebagai kekasih-Nya
3. Penjelasan mengenai urgensi berpegang pada as-Sunnah
dalam meniti perjalanan rohani
4. Kondisi rohani yang bersumber dari perenungan terhadap
mati
5. Kecintaan kepada Allah harus diikuti oleh sikap mengikuti
as-Sunnah yang suci
6. Penjelasan mengenai jenis-jenis Sunnah
7. as-sunnah merupakan adab yang agung
8. Kebahagiaan didapat dengan mengikuti as-Sunnah Nabi
SAW.
9. Sunnah Nabi SAW. sudah mencukupi bagi mereka yang
sedang mencari cahaya
10. Kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya
11. Berisi tiga persoalan
a. Pondasi Sunnah
b. Akhlak beliau adalah Al-Quran (Al-Hadits)
c. Kemoderatan Rasulullah dalam segala hal
CAHAYA KEDUA BELAS (147-162)
O Jawaban atas 2 persoalan:
Persoalan Pertama (Mengandung 2 hal)
1. Dua jenis rizki
2. Tiga jenis kemungkinan
Persoalan Kedua (Mengandung 2 masalah penting)
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
xx
Masalah Pertama: Berkaitan dengan bumi yang
memiliki 7 tingkatan seperti langit
Masalah Kedua: Berkaitan dengan 7 lapis langit
CAHAYA KETIGA BELAS (163-198)
Risalah Hikmah Al-Istiadzah
O Isyarat Pertama: Rahasia ber-istiadzah dari setan
O Isyarah Kedua: Hikmah penciptaan setan
O Isyarat Ketiga: Mengapa kekafiran dianggap melanggar hak
para makhluk?
O Isyarat Keempat: Eksistensi (Al-Wujud) merupakan
kebaikan murni dan ketiadaan (Al-Adam) merupakan
kejelekan murni
O Isyarat Kelima: Mengapa orang yang beriman dapat
dikalahkan oleh setan yang lemah?
O Isyarat Keenam: Mengobati was-was
O Isyarat Ketujuh: Bagaimana seorang mukmin menghindari
dosa besar
O Isyarat Kedelapan: 2 jenis kekafiran-perbedaan antara
keduanya- Mengapa banyak orang yang memilih jalan
kekafiran- Sisi kasih sayang al-Quran terhadap orang kafir
O Isyarat Kesembilan: Kekalahan ahlu Hidayah terhadap ahl
Dhalalah (Kesesatan)-Perjalanan alam menuju
kesempurnaan sesuai dengan hukum transformasi dan
perubahan-Mengapa Rasulullah tidak mengandalkan
mukjizat dalam setiap perbuatan dan perkataannya
O Isyarat Kesepuluh: Pembuktian eksistensi setan
O Isyarat Kesebelas: Penjelasan mengenai esensi kekafiran dan
kemarahan alam terhadap mereka
O Isyarat Kedua Belas: 4 pertanyaan dan jawabannya
O Isyarat Ketiga Belas: 3 poin mengenai tipu daya syetan
CAHAYA KEEMPAT BELAS (199-222)
O Penjelasan Mengenai Dua Persoalan
Persoalan Pertama: jawaban atas permasalahan sapi
jantan dan ikan serta landasannya
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
xxi
;
;
Landasan Pertama: Kesalahan para tokoh bani Israil
kembali kepada mereka, bukan kepada Islam
Landasan Kedua: Setia kali permisalan dan majaz
ditransfer kepada orang awam, hal tersebut menjadi
sesuatu yang nyata
Landasan Ketiga: Memahami hadis-hadis mutasyabbihat
Aspek Pertama: Para malaikat bertugas mengawasi
kekuatan rububiyyah-Nya
Aspek Kedua: Hakikat majaz dalam jawaban
terhadap Rasulullah SAW.
Aspek Ketiga: Penjelasan mengenai masalah tersebut
dalam perspektif ilmu astronomi modern
Permasalah Kedua: Terkait dengan Ahlu Aba (Mereka
yang berada dalam naungan surban nabi SAW)
Persoalan Kedua: Bagian ini berisi enam rahasia dari
ribuan rahasia Bismillahirrahmaanirrahiim
CAHAYA KELIMA BELAS (223)
O Daftar isi seluruh Risalah Nur: al-Kalimat, al-Maktubat, dan
al-Lamaat yaitu sampai ke lamah (cahaya) empat belas
CAHAYA KEENAM BELAS (225-245)
O Pertanyaan Pertama: Bagaimana mungkin para wali
memberikan informasi yang bertentangan dengan realita?
O Pertanyaan kedua: Mengapa anda tidak mengarang siasat
kaum mubtadi?
O Pertanyaan Ketiga: Mengapa anda sangat menolak
peperangan?
O Pertanyaan Keempat: Yang ada di tangan anda adalah
cahaya mengapa anda masih memerintahkan para
sahabat anda untuk waspada?
O Penutup: Seputar janggut rasullah SAW
O Pertanyaan pertama: Makna firman Allah, Hingga apabila
dia (dzulqarnain) telah sampai ke tempat terbenamnya matahari,
ia mendapati matahari tersebut terbenam pada air yang keruh
(QS al-Kahfi: 86)
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
xxii
O Pertanyaan Kedua: Di mana letak dinding dzulkarnain?
O Siapakah Yajuj dan Majuj?
O Pertanyaan seputar 5 persoalan ghaib
O Pertanyaan seputas 10 lathifah
CAHAYA KETUJUH BELAS (247-295)
Mengenal Tuhan: Kumpulan memoar
O Memoar Pertama : Bisikan kepada diri
O Memoar Kedua : Jangan menganggap segala sesuatu lebih
besar dari Allah atau dirimu lebih besar dari segala sesuatu
O Memoar Ketiga : Dunia itu fana
O Memoar Keempat : Setiap manusia dikembalikan ke
bentuknya semula pada hari kiamat
O Memoar Kelima : Dialog imajiner dengan seorang Eropa- 2
Eropa- Pandangan Eropa dan Qurani terhadap hidup-
Argumentasi lemah dan keliru yang menjadi rujukan Eropa.
Studi komperatif antara murid Eropa dan murid al-Quran
O Memoar Keenam : Kuantitas kaum kafir tidak bernilai
O Memoar Ketujuh : Pernyataan bagi mereka yang
mendorong kaum muslim untuk mengikuti Eropa
O Memoar Kedelapan : Bekerja berarti kesejahteraan dan
kebahagiaan, malas berarti kesenangan dan penderitaan-
Balasan dalam beramal, semuanya menunjukkan kepada
Keesaan Allah.
O Memoar Kesembilan : Kenabian: puncak kesempurnaan
O Memoar Kesepuluh : 3 Macam cahaya marifah Ilahi
O Memoar Kesebelas : Keluasan rahmat al-Quran tercermin
dalam perhatiannya terhadap pemahaman awam
O Memoar Kedua Belas : Sebuah Munajat
O Memoar Ketiga Belas : 5 permasalahan yang kurang
dipahami
Pertama : Menimpa para penyeru kebenaran: Tidak
membedakan antara yang merupakan kewajiban seorang
hamba dengan yang merupakan urusan Allah
Kedua : Menimpa para ahli wirid: tidak mereka
dapatkan keuntungan duniawi seperti yang didapat oleh
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
xxiii
;
;
para shalaf as-Shalih.
Ketiga : Menimpa para salik (para pengamal tasawuf):
ketidaktahuan akan kapasitas dirinya
Keempat : Menimpa orang banyak: Menganggap sesuatu
sebagai sebab bagi yang lain ketika keduanya muncul
secara berbarengan- Penjelasan perbedaan antara sebab
dan keterkaitan dan standar untuk mengetahui syirk
khafi.
Kelima : Menimpa jamaah: menyandarkan keberhasilan
amal kepada para mursyid mereka dan hanya melihat
kepadanya seakan-akan dia sumber (perbuatan)
O Memoar Keempat belas: 4 petunjuk tauhid
Petunjuk pertama : Hanya Yang memerintah langit dan
bumi yang layak disembah oleh manusia
Petunjuk Kedua : Kecenderungan terhadap keabadian
yang ada fitrah merupakan manifestasi nama Allah Baqa
Petunjuk Ketiga : Waspadai tenggelamnya perangkat
halus karena makanan dan ucapan
Petunjuk Keempat : Dunia adalah kuburan, tinggalkan
dan pindahan ke kehidupan yang lebih luas.
O Memoar Kelima Belas: Permasalahan pertama: Manifestasi
nama Allah Al-Hafidz.
CAHAYA KEDELAPAN BELAS (297)
CAHAYA KESEMBILAN BELAS (299-316)
Risalah Iqtishad (Hemat dan sederhana)
O Catatan Pertama : Hemat berarti syukur nikmat, boros
berarti mengecilkan nikmat
O Catatan Pertama : Hemat sesuai dengan hikmah Ilahi,
boros bertentangan dengannya
O Catatan Ketiga : Mengecap kenikmatan sebagai manifestasi
syukur
O Catatan Keempat : Hemat pangkal kejayaan
O Catatan Kelima : Hemat pangkal berkah dan kesajahteraan
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
xxiv
O Catatan Keenam : Tidak ada hubungan antara hemat dan
pelit
O Catatan Ketujuh : Qanaah merupakan harta karun abadi
dan kekikiran merupakan sebab terhalangnya nikmat.
CAHAYA KEDUA PULUH
O Risalah Ikhlas (1)
O Pertanyaan: Mengapa ahlu Haq saling berselisih pendapat
sedangkan orang-orang sesat selalu sepakat?
O Faktor Pertama : Luasnya tugas ulama dan tidak jelasnya
upah mereka-Obatnya: keikhlasan
O Faktor Kedua : Para ahl haq tidak menemukan adanya
tuntunan untuk bersatu- 9 hal untuk mengobati semua itu.
O Faktor Ketiga : Persaingan yang mengarah kepada
perpecahan-Obatnya: pengetahuan bahwa ridho Allah
diraih dengan bukan dengan banyaknya pengikut
O Faktor Keempat : Ketidakmampuan istiqamah-Obatnya :
mengikat cinta kepada para salik dan membuang keinginan
untuk memimpin mereka
O Faktor Kelima : Tidak adanya perasaan kuat untuk bersatu-
Obatnya berativitas berdasarkan konsep tolong-menolong,
pengetahuan akan bahaya perpecahan
O Faktor Keenam : Selalu berpolemik dalam masalah-masalah
yang penting-obatnya: toleransi terhadap pendapat orang
lain. Ajakan untuk meninggalkan polemik.
O Faktor Ketujuh : Tidak menjaga keutamaan berbagai konsep
al-haq dan ketidakmampuan mengimplementasikan apa
yang terdapat dalam berbagai dialog
CAHAYA KEDUA PULUH SATU (337-354)
Risalah Ikhlas (II)
O Pentingnya Keikhlasan
O Prinsip Keikhlasan:
Prinsip pertama : Mencari ridho Allah dalam beramal
Prinsip kedua : Tidak mengkritik saudara-saudaramu
yang mendakwahkan al-Quran
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
xxv
;
;
Prinsip Ketiga : Kekuatan pada Keiklasan dan Kebenaran
Prinsip Keempat :Bangga dengan keistimewaan para
saudara seagama
O Sarana mencapai keikhlasan:
Pertama : Rabithatul maut (selalu mengingat mati)
Kedua : Merenungi makhluk
O Penghalang Keihklasan:
Pertama : Rasa dengki yang muncul dari keuntungan
yang bersifat materi
Kedua : Cinta kedudukan
Ketiga : Takut dan Tamak
CAHAYA KEDUA PULUH DUA (355-368)
Risalah Isyarah Ats-Tsalatsah (Tiga petunjuk)
O Petunjuk pertama : Mengapa ahli dunia selalu mencampuri
urusan akhiratmu?
O Petunjuk kedua : Mengapa engkau tidak memprotes kami
dan mengeluh?
O Petunjuk ketiga : Engkau harus mengikuti undang-undang
republik
O Penutup : Serangan mengherankan yang harus disyukuri
CAHAYA KEDUA PULUH TIGA (369-403)
Risalah Thabiah (Risalah Tentang Alam)
O Peringatan : Penjelasan mengenai hakikat pemahaman
kaum naturalis
O Pendahuluan : 3 kalimat menghamburkan bau busuk
kekafiran yang diucapkan oleh manusia
O Pertama : Pendapat mereka mengenai sesuatu,sebab-sebab
alam yang menyebabkan terbentuknya segala sesuatu.
Kemustahilan pertama : Obat yang ada di apotik
merupakan suatu kebetulan
Kemustahilan kedua: Berkumpulnya sebab-sebab yang
saling bertentangan secara sangat teratur dengan ukuran
yang sangat akurat
Kemustahilan ketiga: Menisbatkan entitas kepada sebab
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
xxvi
O Kedua : Pernyataan mereka, segala sesuatu terbentuk
dengan sendirinya
Kemustahilan pertama: Keharusan menerima pernyataan
bahwa segala sesuatu terdapat dalam atom
Kemustahilan kedua: Atom-atom berfungsi sebagai
penguasa dan yang dikuasai pada waktu yang sama.
Kemustahilan ketiga: Keharusan adanya cetakan alam
sebanyak ribuan konstruksi yang sedang bekerja di
tubuhmu
O Ketiga : Pernyataan segala sesuatu merupakan tuntutan
alam.
Kemustahilan pertama: Alam harus menghadirkan cetakan
dengan jumlah tak terbatas dalam selaga sesuatu
Kemustahilan kedua: Alam harus menyediakan pabrik
dengan jumlah tak terbatas dalam segenggam tanah
Kemustahilan ketiga: Dijelaskan dengan 2 contoh:
1. Badui masuk istana
2. Orang primitif yang masuk ke dalam kemah militer
atau masjid Aya Shofia
O Kesimpulan : Alam merupakan kumpulan konsep bukan
yang menentukan konsep
O Penutup :
Pertanyaan pertama : Apa yang Allah butuhkan dari
ibadah kita?
Pertanyaan kedua : Dimana rahasia hikmah dari
kemudahan penciptaan?
Pertanyaan ketiga : Apa yang dimaksud dengan
pernyataan para filosof, creation ex nihilo (Segala
sesuatu tidak berasal dari ketiadaan)
CAHAYA KEDUA PULUH EMPAT (405-422)
Risalah Hijab
O Hikmah pertama : Hijab adalah fitrah wanita sedangkan
Tabarruj (berlebih-lebihan dalam berhias) bertentangan
dengan fitrah
O Hikmah kedua : Wanita merupakan pendamping suaminya
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
xxvii
;
;
di kehidupan akhirat
O Hikmah ketiga : Keharmonisan rumah tangga didapat
dengan saling mempercayai antara suami-istri dan tabarruj
menghancurkan itu semua
O Hikmah keempat : Fitnah wanita di akhir zaman
O Persoalan penting yang tiba-tiba terlintas di benak
O Dialog dengan para perempuan beriman, para saudaraku di
akhirat
Catatan pertama : Wanita adalah pahlawan kasih sayang
Catatan kedua : Peran beberapa lembaga dalam
menyesatkan wanita dan obatnya
Catatan ketiga : Berkaitan dengan kenikmatan yang
keluar dari batasan syariah
CAHAYA KEDUA PULUH LIMA (423-456)
O Obat pertama : Sakit mendatangkan keuntungan yang
banyak
O Obat kedua : Sakit mentransformasikan setiap menit dari
umur menjadi berjam-jam
O Obat ketiga : Sakit merupakan petunjuk yang bijak
O Obat keempat : Sakit mengenalkanmu kepada nama Allah
O Obat kelima : Sakit merupakan kebaikan Ilahi
O Obat keenam : Sakit merupakan peringatan akan
ketidakkekalan anda di dunia
O Obat ketujuh : Sakit menjadikan anda dapat merasakan
kenikmatan
O Obat kedelapan : Sakit menghapus dosa
O Obat kesembilan : Maut bukanlah sesuatu yang harus
ditaati
O Obat kesepuluh : Memikirkan pahala menghilangkan
keraguan
O Obat kesebelas : Sakit memberikan kenikmatan maknawi
O Obat kedua belas : Sakit menyebabkan doa yang tulus
O Obat ketiga belas : Yang didapat seorang hamba ketika sakit
melebihi amalnya ketika sehat
O Obat keempat belas : Mata Maknawi
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
xxviii
O Obat kelima belas : Orang-orang yang mendapatkan bala
paling berat
O Obat keenam belas : Sakit menyelamatkan si sakit dari
ketergantungannya kepada orang lain
O Obat ketujuh belas : Menjenguk orang sakit merupakan
sunnah nabi
O Obat kedelapan belas : Lihatlah kepada orang yang
mendapatkan musibah lebih berat darimu
O Obat kesembilan belas : Sakit menjernihkan hidup
O Obat kedua puluh : Obat sakit yang hakiki dan imajiner
O Obat kedua puluh satu: Kelezatan maknawi mengelilingi
sakit
O Obat kedua puluh dua : Mengapa kelumpuhan akibat
sesuatu penyakit dapat dianggap sebagai berkah
O Obat kedua puluh tiga: Pandangan kasih sayang Ilahi
kepada si sakit
O Obat kedua puluh empat: Sakit anak-anak dan perawatan
manula
O Obat kedua puluh lima: Penyembuhan Ilahi
CAHAYA KEDUA PULUH ENAM (457-540)
Risalah untuk Para Lansia
O Perhatian
O Harapan pertama : Harapan bersumber dari iman
O Harapan kedua : Manifestasi rahmat Allah mentransformasi
penderitaan penuh rasa sakit dalam masa tua menjadi
sebuah kebahagiaan
O Harapan ketiga : Tersingkapnya cahaya Rasulullah SAW,
dan syafaatnya merupakan obat mujarab
O Harapan keempat : Pertolongan al-Quran menghilangkan
keputusan
O Harapan kelima : Iman kepada hari akhir memberikan
cahaya dan harapan abadi
O Harapan keenam : Iman kepada Allah dan malaikat
memberikan kenikmatan
O Harapan ketujuh : Cahaya keimanan menyingkap
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
xxix
;
;
kegelapan dari segala arah
O Harapan kedelapan : Kabar gembira dari al-Quran
menggiring untuk mendapatkan obat dalam rasa sakit
sendiri
O Harapan kesembilan : kelemahan dan ketidakmampuan
dalam ketuaan merupakan 2 syafaat bagi pintu rahmat Ilahi
O Harapan kesepuluh : Cahaya al-Quran mengubah
kesedihan menjadi kegembiraan
O Harapan kesebelas : Dengan bantuan hikmah al-Quran,
hati dapat mengalahkan filsafat
O Harapan kedua belas : Cahaya yang muncul dari firman
Allah, Segala sesuatu akan binasa kecuali Dzat-Nya
O Harapan ketiga belas : Peristiwa menyakitkian di kota Wan
dan manifestasi dari firman Allah, Semua makhluk di langit
dan di bumi telah bertasbih mengagungkan nama-Nya
O Harapan keempat belas: Dari firman Allah, Cukuplah Allah
bagi kami. Dialah sebaik-baik Pelindung
CAHAYA KEDUA PULUH TUJUH (541)
CAHAYA KEDUA PULUH DELAPAN (543-595)
Sebuah dialog singkat
O Huruf-huruf al-Quran
O Kalimat-kalimat Ilahi
O Penurunan Besi
O Penurunan binatang ternak
O Sebuah catatan yang ditulis di penjara Eskisyehir
O Dua cerita ringan
O Dua persoalan:
Persoalan pertama: Balasan kontan terhadap kebaikan-
kebaikan dan keburukan-keburukan
Persoalan kedua: Penjelasan sisi mukjizat dari firman
Allah, Aku tidak menuntut rizki dari mereka
O Pertanyaan seputar firman Allah, Atau saat mereka tidur di
siang hari
O Sebuah lintasan pikiran yang indah
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
xxx
O Seputar wahdatul wujud dan bahayanya pada zaman ini
O Jawaban atas sebuah pertanyaan
O Renungkan dibalik jendela penjara
O Musuh yang paling hebat adalah nafsumu
O Bagaimana mungkin kekekalan dalam neraka merupakan
keadilan?
O Kesesuaian yang lembut dan bermakna
O Dilontarkan para jin yang memata-matai langit
CAHAYA KEDUA PULUH SEMBILAN (597-659)
Risalah Tafakkur Imani
O Bab pertama mengenai Subhanallah
O Bab kedua mengenai Alhamdulillah
O Bab ketiga mengenai Allahu Akbar
O Bab keempat:
Pertama : Derajat mengetahui Allah dan meng-Esakan-
Nya
Kedua : Tahmid dan Tadzim
Berkenaan dengan syahadah Laa ilaha illallah
Muhammad Rasulullah
O Bab kelima mengenai kedudukan kalimat Hasbunallah wa
nimal wakiil
O Bab keenam mengenai dengan kalimat, Laa haula wala
quwata ila billah
CAHAYA KETIGA PULUH (661-756)
O Pertama : Berkenaan dengan nama Allah, Al-Quddus
O Kedua : Berkenaan dengan nama Allah, Al-Adl
O Ketiga : Berkenaan dengan nama Allah, Al-Hakim
Poin pertama : Kitab alam semesta
Poin kedua : Dua masalah:
- Pertama : Keindahan dan kesempurnaan
mengundangkan pandangan
- Kedua : Tidak ada tempat bagi kemusyrikan
Poin ketiga : Pengetahuan yang diperlukan untuk
mengenal nama Allah Al-Hakiim
x
Al-Lama at: Menikmati Hidangan Langit
y
xxxi
;
;
Poin keempat : Hikmah-hikmah yang ada
mengindikasikan adanya akhirat
Poin kelima : Terdapat 2 masalah
- Pertama : Boros bukanlah bagian dari fitrah
- Kedua : Nama Allah al-Hakam mengindikasikan
kenabian Muhammad SAW.
O Keempat : Berkenaan dengan nama Allah, Al-Fard (Tunggal)
Petunjuk pertama : Tanda Tauhid
- Stempel pertama : Keharmonisan kosmos
- Stempel kedua : Siklus kehidupan di bumi
- Stempel ketiga : Ekspresi manusia
Petunjuk kedua : Ketunggalan hukum
Petunjuk ketiga : Risalah Shamdaniah
Petunjuk keempat : Tauhid merupakan sesuatu yang fitri
dan syirik merupakan kemustahilan
- Poin pertama : Kekuatan tempat bersandar dan
meminta pertolongan
- Poin kedua : Tauhid menyebabkan kemudahan
penciptaan
- Poin ketiga : Menyandarkan penciptaan kepada Yang
Satu menjadikannya sesuatu yang mudah
Petunjuk kelima : Independen dan sendiri
Petunjuk keenam : Obat mujarab
Petunjuk ketujuh : Sirajun Munir (lentera bercahaya)
O Kelima : Berkenaan dengan nama Allah, Al-Hay (yang Maha
Hidup)
Rumus pertama : Hakikat dan derajat kehidupan
Rumus kedua : Peran para malaikat dalam kehidupan
Rumus ketiga : Produksi kehidupan syukur dan ibadah
Rumus keempat : Hidup mengokohkan sendi-sendi
keimanan
Rumus kelima : Hidup merupakan manifestasi nama-
nama Allah
O Keenam : Berkenaan dengan nama Allah Al-Qayyum (Yang
Berdiri Sendiri)
Perhatikan dan permohonan maaf
x
Bediuzzaman Said Nursi
y
;
;
xxxii
Kilau Cahaya Pertama : Sang Pencipta yang Maha
Independen dan Abadi
Kilau Cahaya Kedua : 2 masalah
- Masalah pertama : Pengetahuan tentang
keindependenan Allah SWT.
- Masalah kedua : Hikmah dan rahasia segala sesuatu
berkaitan dengan ke Maha Independenan Allah
Kilau Cahaya Ketiga : Rahasia keindependenan dan
rahasia keabadian aktivitas-Nya
Kilau Cahaya Keempat : Cabang ketiga dari rahasia
keabadian aktivitas Allah
Kilau Cahaya Kelima : 2 masalah
- Masalah pertama : Merenungi kosmos merupakan
menifestasi terbesar dari Ismul Adzam (Nama Agung)
- Masalah kedua : Manusia dan rahasia ke-Maha
Independen Allah
CAHAYA KETIGA PULUH SATU (757)
CAHAYA KETIGA PULUH DUA (759)
CAHAYA KETIGA PULUH TIGA (761)

Anda mungkin juga menyukai