Anda di halaman 1dari 23

K A K

(KERANGKA ACUAN KERJA)





UP DATING DAN PENDATAAN
















DINAS PENDAPATAN DAN PENGELOLAAN KEUANGAN
KOTA SURABAYA
2014
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

1
1. LATAR BELAKANG
Undang-Undang 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
mengamanatkan pada Pasal 2 ayat (2) huruf j bahwa Pajak Bumi dan Bangunan
Perdesaan dan Perkotaan merupakan jenis pajak kabupaten/kota. Berdasarkan
pada Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 10 Tahun 2010 tentang Pajak
Bumi dan Bangunan Perkotaan, pemerintah Kota Surabaya sejak 1 Januari 2011
telah mengelola Pajak Bumi dan Bangunan.
PBB ini merupakan salah satu sumber pajak daerah yang mempunyai potensi
untuk dikembangkan. Upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam upaya
meningkatkan pajak adalah mendorong para wajib pajak untuk mendaftarkan
obyek pajaknya dan meningkatkan pendataan obyek pajak, penilaian dan
penagihan pajak kepada para wajib pajak.
Berdasarkan pada Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 10 Tahun 2010
tentang Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan bahwa asas Pajak Bumi dan
Bangunan daerah adalah official assessment, yaitu pajak dibayarkan oleh wajib
pajak setelah adanya surat ketetapan dalam hal ini Surat Pemberitahuan Pajak
Terhutang (SPPT) dari Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan Kota
Surabaya
Salah satu pemberian kepercayaan kepada wajib pajak adalah memberikan
kesempatan kepada wajib pajak untuk mendaftarkan sendiri objek pajak yang
dikuasai/dimiliki/dimanfaatkan dengan mengisi Surat Pendaftaran Obyek Pajak
(SPOP/LSPOP).
Mengingat besarnya jumlah objek pajak dan beragamnya tingkat pendidikan dan
pengetahuan wajib pajak, maka tidak seluruhnya wajib pajak dapat
melaksanakan kewajiban untuk mendaftarkan objek pajak yang
dikuasai/dimiliki/dimanfaatkannya. Oleh karena itu dalam rangka tertib
administrasi dan meningkatkan pemungutan serta memberikan pelayanan yang
lebih baik, maka Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan mengadakan up
dating wajib pajak yang mempunyai tunggakan dan pendataan objek pajak baru
dengan menyelenggarakan kegiatan Up Dating dan Pendataan UPTD 4

2. TUJUAN DAN SASARAN
a. Tujuan :
Up dating dan Pendataan UPTD 4 adalah mengupdate data obyek yang
mempunyai tunggakan dan tidak melakukan pembayaran PBB sebagai
upaya pemeliharaan basis data dan mendata obyek PBB yang belum
terdaftar dalam rangka pemutakhiran data obyek PBB.

b. Sasaran :
Obyek pajak yang mempunyai tunggakan PBB dan mendata obyek PBB
yang belum terdaftar sebagai obyek baru dalam rangka meningkatkan
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

2
tertib administrasi PBB guna meningkatkan pendapatan dan pelayanan
Pajak Bumi dan Bangunan.


3. LINGKUP KEGIATAN
a. Up dating dan Pendataan Obyek Pajak Bumi dan Bangunan
dilaksanakan oleh Pihak Ketiga yang ditunjuk oleh Dinas Pendapatan
dan Pengelolaan Keuangan.

b. Up dating data PBB merupakan kegiatan Pemeliharaan basis data
tunggakan PBB, yang dilakukan dengan mencocokan dan
menverifikasi data obyek PBB dengan keadaan obyek pajak yang
sebenarnya dilapangan, melalui kegiatan verifikasi daftar nominatif
tunggakan PBB dan melakukan identifikasi, verifikasi dan pengukuran
obyek pajak.

c. Pendataan obyek baru PBB dilakukan, melalui kegiatan :
1) Pendataan dengan Identifikasi Obyek Pajak
Pendataan dilaksanakan pada wilayah yang sudah memiliki peta
garis/peta foto yang dapat menentukan posisi relatif obyek pajak
tetapi belum mempunyai data administrasi pembukuan PBB.
2) Pendataan dengan Verifikasi Data Obyek Pajak
Pendataan dilaksanakan pada wilayah yang sudah memiliki peta
garis/peta foto dan sudah mempunyai data administrasi pembukuan
PBB hasil pendataan secara lengkap tiga tahun terakhir.
3) Pendataan dengan Pengukuran Bidang Obyek Pajak
Pendataan dilaksanakan pada wilayah yang hanya mempunyai sket
peta kelurahan dan /atau peta garis/peta foto tetapi belum dapat
digunakan untuk menentukan posisi relatif obyek pajak.

d. Jumlah obyek pajak yang dilakukan up dating lebih kurang sebanyak
21.318 obyek pajak dan pendataan obyek baru pada lokasi kecamatan
atau kelurahan terpilih lebih kurang sebanyak 700 obyek pajak.

e. Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) sebagai dasar pengenaan pajak
ditentukan melalui kegiatan penilaian atas obyek pajak.
Dalam kegiatan penilaian dapat digunakan pendekatan dasar pasar,
pendekatan biaya dan pendekatan kapitalisasi pendapatan, sedangkan
teknik yang digunakan adalah secara individu atau secara massal.


4. KONDISI DAN KARAKTERISTIK WILAYAH
a. UPTD 4 merupakan unit pelayanan pemungutan pajak daerah yang
meliputi 4 wilayah Kecamatan (Dukuh Pakis, Sukomanunggal, Sawahan,
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

3
Asemrowo ) dan 23 Kelurahan, 154 RW, 1.094 RT, dengan jumlah
penduduk 417.311 jiwa.

b. Jumlah obyek Pajak Bumi dan Bangunan yang terdaftar sebanyak
84.522 obyek pajak.

5. METODOLOGI
A. Up Dating
a. Pekerjaan Persiapan
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyusun daftar nominatif wajib pajak
dan obyek pajak yang mempunyai data tunggakan pajak.
Data yang diperoleh adalah daftar tunggakan pajak yang meliputi data
obyek pajak dan wajib pajak per kelurahan dan per kecamatan

b. Pekerjaan Lapangan
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meneliti dilapangan data tunggakan
berdasarkan daftar nominatif yang meliputi kondisi wajib pajak,
pembayaran pajak dan kondisi fisik obyek pajak yang mempunyai
tunggakan tersebut
Data yang diperoleh adalah bukti pembayaran dari wajib pajak, data
obyek pajak dan wajib pajak yang meliputi letak obyek pajak, nama wajib
pajak, luasan bumi dan bangunan dari setiap Nomor Obyek Pajak PBB
per kelurahan dan per kecamatan.

c. Pekerjaan Tindak Lanjut
Kegiatan ini dimaksudkan untuk meneliti Daftar Nominatif dan melakukan
perekaman terhadap data obyek dan wajib pajak, kategori obyek dan
wajib pajak, status pembayaran dari obyek dan wajib pajak serta data
letak, luasan obyek pajak.

d. Pekerjaan Pelaporan
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyusun up dating obyek dan wajib
pajak sebagai kegiatan pemutahiran data tunggakan pajak yang meliputi
data obyek dan wajib pajak, kategori obyek dan wajib pajak, status
pembayaran dari obyek dan wajib pajak serta data letak, luasan obyek
pajak.


B. Pendataan
a. Pekerjaan Persiapan
(a) Pendahuluan
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menentukan data dan informasi
yang diperlukan, dalam rangka penyusunan rencana kerja
pendataan dengan memperhatikan potensi pajak dan
perkembangan wilayah.
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

4
Data dan informasi yang dikumpulkan dalam pendahuluan antara
lain adalah :
1. Luas wilayah
2. Perkiraan luas tanah yang dapat dikenakan Pajak Bumi dan
Bangunan
3. Luas tanah yang sudah dikenakan Pajak Bumi dan Bangunan
4. Luas bangunan yang sudah dikenakan Pajak Bumi dan
Bangunan
5. Jumlah penduduk
6. Jumlah wajib pajak yang sudah terdaftar
7. Jumlah objek pajak yang belum terdaftar
8. Jumlah pokok ketetapan pajak tahun sebelumnya
9. Perkiraan harga jual tanah tertinggi dan terendah per m2
dalam satu kelurahan
10. Harga bahan bangunan dan standar upah yang berlaku
11. Peta dan pembukuan PBB, antara lain :
a. Peta kelurahan,
b. Peta garis/peta foto berkoordinat yang dimiliki DPPK Kota
Surabaya,
c. Buku Induk atau Buku Himpunan Data Objek/Subjek PBB
yang lama
d. Buku rincikan yang lama (kalau ada)
e. Peraturan Walikota Surabaya tentang kalasifikasi NJOP
Bumi, Peraturan PBB, buku-buku aministrasi PBB lainnya
(b) Penyusunan Rencana Kerja
Data yang berhasil dikumpulkan dalam kegiatan pendahuluan
terlebih dahulu dianalisis dan selanjutnya dijadikan bahan untuk
menyusun rencana kerja. Materi yang perlu dituangkan dalam
rencana kerja tersebut antara lain adalah :
1. Sasaran dan volume pekerjaan
2. Alternatif kegiatan
3. Standar prestasi petugas
4. Jadwal pelaksanaan pekerjaan
5. Organisasi dan jumlah pelaksana
6. Perkiraan peningkatan pokok ketetapan pajak
7. Hasil akhir
Dalam penyusunan rencana kerja perlu diperhatikan dua hal berikut :
1. Fleksibilitas, artinya rencana kerja tersebut mampu menampung
perubahan-perubahan pelaksanaan di lapangan tanpa harus
mengubah rencana kerja.
2. Konsisten, artinya hal-hal yang telah ditentukan dalam rencana
kerja tersebut harus dapat dipenuhi secara konsisten, seperti
halnya standar prestasi kerja, jumlah personil, waktu yang
diperlukan, biaya, dan lain-lain.
(c) Pengadaan Sket/Peta Kelurahan dan sarana Pendukung lainnya
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

5
Jenis sket/peta kelurahan disesuaikan dengan alternatif kegiatan
pendataan sebagai berikut :
1. Pendataan dengan identifikasi objek pajak
Peta garis/peta foto dari kelurahan yang akan didata dapat
diperoleh dari instansi yang berkompeten dalam bidang
pembuatan peta, seperti Bakosurtanal, Badan Pertanahan
Nasional, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, BAPPEKO, atau
instansi lainnya. Skala peta disesuaikan dengan kondisi wilayah
dan dapat ditentukan sebagai berikut :
a. Daerah padat (pusat kota) : 1 : 1.000
b. Daerah sedang (pinggiran kota) : 1 : 2.000 atau 1 : 2.500
c. Daerah jarang (lahan kosong) : 1 : 5.000
Dengan catatan : skala peta dalam satu kelurahan harus sama
2. Pendataan dengan verifikasi data objek pajak
Pengadaan peta dilaksanakan dengan menggandakan peta
kelurahan dan peta rincik yang sudah ada sebagai hasil dari
kegiatan pedataan 3 (tiga) tahun terakhir.
3. Pendataan dengan pengukuran bidang objek pajak.
Pengadaan peta dapat diperoleh dari instansi yang berkompeten
dalam pembuatan peta atau membuat sendiri dengan peralatan
yang ada sesuai peraturan dalam Pemetaan. Untuk pembuatan
kerangka peta dan pengukuran OP dengan menggunakan alat
GPS.
Sarana pendukung lainnya untuk melaksanakan pembentukan
basis data
(d) Pembuatan Konsep Sket/Peta Kelurahan
Tahapan pekerjaan dalam pembuatan konsep sket/peta kelurahan
adalah sebagai berikut :
1. Orientasi lapangan
Kegiatan ini bertujuan untuk mencocokkan keadaan yang
tergambar pada konsep sket peta kelurahan dengan keadaan
yang sebenarnya di lapangan. Dalam hal terjadi perubahan
detail di lapangan terutama detail lapangan yang akan dijadikan
batas blok, maka perubahan tersebut agar digambarkan pada
konsep sket/peta kelurahan. Orientasi lapangan harus benar-
benar dilaksanakan secara teliti guna mengurangi kemungkinan
adanya perubahan batas blok pada saat pengukuran bidang
atau identifikasi objek pajak.
2. Penentuan batas blok
Penentuan batas blok harus memperhatikan karakteristik fisik
yang tidak berubah dalam kurun waktu yang lama.
Batas-batas blok yang telah ditentukan tersebut digambarkan
pada konsep sket/peta kerja, dengan menggunakan legenda
yang telah ditentukan dan berbeda dengan legenda yang
digunakan sebagai batas ZNT. Idealnya satu blok menampung
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

6
lebih kurang 200 OP atau luas sekitar 15 hektar. Hal ini untuk
memudahkan pengawasan baik dalam pelaksanaan pekerjaan
pengumpulan data di lapangan maupun dalam pemeliharaan
basis data. Jumlah objek pajak atau luas blok lebih kecil atau
lebih besar dari angka tersebut di atas diperbolehkan apabila
kondisi setempat tidak memungkinkan untuk diterapkan
pembatasan tersebut.
3. Pemberian Nomor Blok
Nomor Blok yang terdiri dari 3 (tiga) digit dimulai dari kiri atas
(barat laut) peta dengan menggunakan angka arah, dan disusun
secara spiral sesuai dengan arah jarum jam.
(e) Pembuatan Konsep Sket/Peta ZNT
b. ZNT dibuat per kelurahan
c. Pengisian NIR tanah (dalam ribuan)
d. Garis batas setiap ZNT diberi warna yang berbeda sehingga
jelas batas antara ZNT
(f) Penyusunan DBKB
Untuk menyusun/membuat DBKB digunakan metode survei
kuantitas terhadap model bangunan yang dianggap dapat mewakili
kelompok bangunan tersebut dan dinilai dengan dasar perhitungan
analisis BOW.
Untuk kebutuhan program komputer maka biaya komponen
bangunan perlu dikelompokan kedalam biaya komponen utama,
komponen material dan komponen fasilitas bangunan
(g) Koordinasi dengan Instansi Terkait
Koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan instansi lainnya
(misalnya Bappeda, Kantor Pertanahan, Departemen Pekerjaan
Umum, Real Estate Indonesia, dan lain-lain yang diperlukan)
dimaksudkan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan kegiatan
pembentukan basis data SIMIOP antara lain :
1. Penyuluhan kepada masyarakat dan instansi lainnya mengenai
maksud dan tujuan diadakannya kegiatan pembentukan basis
data SISMIOP;
2. Mengadakan keseimbangan penggolongan Nilai Jual Objek
Pajak yang akan dijadikan sebagai dasar pengenaan Pajak
Bumi dan Bangunan, antar wilayah yang berbatasan mulai dari
tingkat kelurahan sampai dengan tingkat propinsi;
3. Pelatihan petugas lapangan/perangkat desa;
4. Pembagian tugas dan tanggung jawab pelaksanaan pendataan.
(h) Sosialisasi kepada masyarakat
Pihak ketiga dibantu DPPK/UPTD Pelayanan Pajak Daerah
memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang rencana
kegiatan up dating dan pendataan pajak.

b) Pekerjaan Lapangan
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

7
(a) Pengumpulan Data Obyek dan Subyek Pajak dan Pemberian NOP
1. Pendataan dengan Identifikasi Objek Pajak
a. Dengan menggunakan konsep peta blok, petugas lapangan
mengadakan identifikasi batas-batas objek pajak. Terhadap
objek pajak yang tidak dapat diidentifikasikan batasnya,
petugas lapangan melakukan pengukuran sisi objek pajak.
Kegiatan tersebut dilakukan pada setiap bidang objek pajak.
Setelah selesai mengidentifikasikan bidang objek pajak,
langsung diberi NOP atas bidang objek pajak tersebut.
Selanjutnya petugas lapangan mengisikan data objek dan
subjek pajak pada SPOP.
b. Setelah SPOP diisi, maka petugas lapangan
mengkonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan
atau kuasanya.
Dalam hal pada saat itu, SPOP belum dapat dikonfirmasikan
kepada subjek pajak yang bersangkutan atau kuasanya,
maka dibuatkan salinan SPOP dan diserahkan kepada
aparat kelurahan atau pihak lain yang berkompeten untuk
diteruskan kepada subjek pajak yang bersangkutan.
Penyerahan SPOP dimaksud disertai denan tanda terima
SPOP.
c. Setiap hari petugas lapangan mengumpulkan SPOP yang
telah dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang
bersangkutan atau kuasanya.
2. Pendataan dengan Verifikasi Data Objek Pajak
a. Peta blok yang telah diisi dengan batas-batas bidang objek
pajak hasil plotting/foto copy dari peta rincik, pada masing-
masing bidang objek pajaknya diberi nama subjek pajak
sesuai yang terdapat dalam buku rincik.
b. Dengan menggunakan peta blok sebagaimana dimaksud
pada butir a, petugas lapangan mengadakan penelitian
apakah ada perubahan data.
c. Dalam hal terjadi Perubahan data, maka petugas melakukan
kegiatan mulai dari identifikasi dan pengukuran objek pajak
sampai dengan mengisi SPOP sesuai dengan data yang
sebenarnya dan mengkonfirmasikan kepada subjek pajak
yang bersangkutan atau kuasanya. Dalam hal SPOP belum
dapat dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang
bersangkutan atau kuasanya, maka dibuatkan salinan SPOP
dan diserahkan kepada aparat kelurahan atau pihak lain
yang berkompeten untuk diteruskan kepada subjek pajak
yang bersangkutan disertai dengan tanda terima SPOP.
Dalam hal tidak terjadi perubahan data, maka petugas
lapangan mengisi SPOP dengan menyalin data yang sudah
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

8
ada pada DPPK Kota Surabaya serta mengkonfirmasikan
kepada subjek pajak yang bersangkutan atau kuasanya.
d. Setiap hari petugas lapangan mengumpulkan SPOP yang
telah dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang
bersangkutan atau kuasanya.
3. Pendataan dengan Pengukuran Bidang Objek Pajak
a. Dengan menggunakan konsep sket/peta blok, petugas
lapangan mengadakan pengukuran batas-batas objek pajak
sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Kegiatan tersebut dilakukan pada setiap bidang objek pajak.
Setelah selesai mengukur satu bidang objek pajak, langsung
diberi NOP atas bidang objek pajak tersebut. Selanjutnya
petugas lapangan mengisikan data objek dan subjek pajak
pada SPOP.
b. Setelah SPOP diisi, maka petugas lapangan
mengkonfirmasikan kepada subjek pajak yang bersangkutan
atau kuasanya.
Dalam hal SPOP belum dapat dikonfirmasikan kepada
subjek pajak yang bersangkutan atau kuasanya, maka
dibuatkan salinan SPOP dan diserahkan kepada aparat
kelurahan atau pihak lain yang berkompeten untuk
diteruskan kepada subjek pajak yang bersangkutan.
Penyerahan SPOP, dimaksud disertai dengan tanda terima
SPOP.
c. Setiap hari petugas lapangan mengumpulkan SPOP yang
telah dikonfirmasikan kepada subjek pajak yang
bersangkutan atau kuasanya.
(b) Penyerahan Hasil Pekerjaan Lapangan
1. Petugas lapangan mengadakan penelitian terhadap SPOP hasil
pendataan, dan selanjutnya diberi kode ZNT sesuai dengan
letaknya.
2. Penyerahan hasil pekerjaan lapangan berupa SPOP dan net
konsep sket/peta blok kepada Petugas Pengawas Lapangan,
harus dibuatkan tanda terima. Selanjutnya Pengawas meneliti
hasil pekerjaan lapangan dan menandatanganinya.
4. Untuk SPOP Kolektif, sebelum diserahkan kepada pengawas
petugas lapangan, data hasil pendataan terlebih dahulu
dikonfirmasikan kepada Kepala Kelurahan. Penyerahan tersebut
disertai dengan tanda terima penyerahan.
5. Secara hirarki, Pengawasan Petugas Lapangan meneruskan
hasil pekerjaan lapangan yang diterimanya dari petugas
Lapangan kepada pejabat yang ditunjuk untuk diproses lebih
lanjut.
(c) Penelitian Hasil Pekerjaan Lapangan
1. Penelitian SPOP
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

9
a. Penelitian ini dimaksud agar butir yang ada dalam SPOP diisi
dengan jelas, benar, lengkap, serta ditandatangani oleh
pihak-pihak yang bersangkutan.
b. Dalam hal pengisian tersebut belum memenuhi syarat
sebagaimana yang telah ditentukan, agar dikembalikan
kepada petugas lapangan untuk dilengkapi.
c. Selain itu SPOP dicocokkan dengan sket/peta blok/ZNT agar
data atributik yang telah dicatat pada SPOP sesuai dengan
data grafisnya (posisi relatifnya pada sket/peta blok)
d. Untuk SPOP Kolektif setelah selesai pelaksanaan
pengumpulan data perlu diadakan verifikasi hasil pekerjaan
Lapangan oleh petugas dengan didampingi Kepala
Kelurahan.
Kegiatan verifikasi lapangan meliputi :
(i) Mencocokkan nama wajib pajak, data objek dan subjek
pajak termasuk rincian data dalam LSPOP Kolektif;
(ii) Mencocokkan letak relatif objek pajak pada konsep
sket/peta blok dan batas ZNT;
Apabila terjadi perubahan/kesalahan data, petugas verifikasi
lapangan segera melakukan perbaikan data dan
menandatanganinya dengan sepengetahuan Kepala
Kelurahan.
2. Penelitian Net Konsep Sket/peta Blok dan Net Konsep Sket/Peta
ZNT
a. Penelitian ini dimaksudkan agar net konsep sket/peta blok
yang dibuat telah memenuhi spesifikasi teknis yang
ditentukan, seperti halnya penulisan NOP, penentuan batas
blok, ukuran peta, skala peta, legenda, dan keterangan-
keterangan lain yang diperlukan untuk pembuatan sket/peta
blok.
b. Selanjutnya penelitian ini juga dimaksudkan agar net konsep
sket/peta ZNT tersebut telah dibuat sesuai dengan
spesifikasi teknis yang ditentukan, seperti halnya penentuan
batas ZNT, pencantuman kode ZNT, penulisan NIR, dan
keterangan-keterangan lain yang diperlukan untuk
pembuatan sket/peta ZNT.
3. Penyempurnaan NIR dan ZNT
Jika berdasarkan hasil pekerjaan lapangan diperoleh data pasar
baru serta diketahui bahwa batas ZNT yang terdapat dalam
sket/konsep peta ZNT mengalami perubahan, maka NIR beserta
sket/konsep peta ZNT dapat diubah berdasarkan data baru
tersebut. Pekerjaan penyempurnaan NIR dan ZNT
sebagaimana dimaksud di atas, selain dilaksanakan dalam satu
paket dengan kegiatan pembentukan basis data SISMIOP,
dapat juga dilaksanakan secara tersendiri serta merupakan
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

10
kegiatan rutin setiap tahun dalam upaya penyempurnaan
ZNT/NIP untuk menentukan penggolongan NJOP bumi.

c) Pekerjaan Kantor
(a) Penelitian Data Masukan
Penelitian ini dimaksudkan agar pengisian SPOP dan formulir data
harga jual diisi dengan benar, jelas, dan lengkap serta
ditandatangani oleh pihak-pihak yang bersangkutan. Sedangkan
net konsep/peta blok digambar sesuai dengan petunjuk teknis
pengukuran dan identifikasi objek pajak bumi dan bangunan. Dalam
hal pengisian/penggambaran tersebut belum memenuhi syarat,
maka data masukan tersebut harus dikembalikan kepada petugas
yang bersangkutan

(b) Pembendelan SPOP dan Formulir-Formulir data Pasar
1. SPOP
a. Pembendelan SPOP dan data pendukungnya penting sekali
untuk memudahkan penyimpanan dan pencarian kembali
apabila diperlukan.
b. Pembendelan SPOP tidak harus dikelompokkan berdasarkan
kriteria tertentu (misalnya per blok) tetapi dapat dibendel
secara acak karena karena pengenalan dan lokasi setiap
formulir SPOP secara mudah dapat dicari dengan
menggunakan komputer.
c. Setiap bendel SPOP diberi nomor yang unik, terdiri atas
enam digit dengan sistematika sebagai berikut :
(i) Dua digit pertama menyatakan tahun pendataan
(ii) Empat digit selanjutnya merupakan nomor bendel
Contoh : 14.0001, 14.0125, 14.1450, dst.
Nomor bendel ini dapat ditulis atau dicetak, kemudian
ditempatkan pada sudut kanan atas halaman muka dan
samping kiri ketebalan bendel.
d. Setiap formulir SPOP yang ada pada setiap bendel diberi
nomor berurutan pada sudut kanan atas yang terdiri atas
sembilan digit. Enam digit pertama menyatakan nomor
bendel sebagaimana dimaksud pada huruf c, sedangkan tiga
digit terakhir menyatakan nomor lembar SPOP dan
lampirannya.
Contoh : 14.0125.001, 14.0125.002, 14.0125.003, dst.
: 14.0126.001, 14.0126.002, 14.0126.003, dst.

2. Formulir-formulir data pasar
Formulir data pasar terdiri dari Formulir Data Harga Jual,
Formulir Pengumpulan Data Tanah, Formulir Pengumpulan Data
Transaksi, dan Daftar Upah Pekerja, Harga Bahan Bangunan,
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

11
dan Sewa Alat. Untuk memudahkan menemukan kembali
apabila diperlukan, pembendelan formulir data pasar
disesuaikan dengan kelompoknya masing-masing.

(c) Perekaman Data
1. Perekaman ZNT dan DBKB
Perekaman ZNT dilakukan dengan memasukkan kode masing-
masing ZNT beserta NIR-nya ke dalam komputer.
Perekaman DBKB dilakukan dengan memasukkan harga bahan
bangunan dan upah pekerja dari setiap wilayah ke dalam
komputer. Perekaman ZNT dan DBKB harus dilakukan terlebih
dahulu sebelum dilakukan perekaman SPOP.
2. Perekaman SPOP
SPOP yang sudah dibendel untuk direkam ke dalam komputer.

(d) Pengawasan Kualitas Data
1. Validasi DHR
a. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memeriksa kebenaran
perekaman data dari SPOP ke dalam komputer.
b. Petugas Pemeriksa memberi tanda dengan warna tertentu,
misalnya merah, atas setiap kesalahan yang ditemui dalam
DHR.
c. Petugas pemeriksa membuat Daftar Hasil Pemeriksaan DHR
yang memuat nomor urut, NOP, jenis kesalahan, dan
keterangan lainnya Daftar tersebut ditandatangani oleh
petugas pemeriksa.
d. Hasil Pemeriksaan tersebut dijadikan bahan untuk
membetulkan kesalahan yang terjadi dalam perekaman data.
e. Bahan yang dijadikan acuan dalam pemeriksaan DHR
adalah SPOP, peta blok, dan peta ZNT yang bersangkutan.
2. Penggunaan Hasil Validasi
a. Mencocokkan Peraturan Walikota dengan peta ZNT, untuk
mengetahui kebenaran dan kesamaan kode ZNT dan NIR
yang ada pada Lampiran Peraturan Walikota tersebut yang
tidak tercatat pada peta ZNT.
b. Mencocokkan jumlah objek pajak yang telah direkam dengan
objek pajak yang terdapat di lapangan/peta blok.
c. Mengetahui objek-objek, pajak yang tidak
dikenakan/dikecualikan dan pengenaan pajak, agar tidak
diterbitkan SPPT atas objek dimaksud.
d. Mengetahui objek-objek janggal untuk diteliti ulang.

(e) Penyimpanan Bendel
Bendel-bendel SPOP dan formulir-formulir data pasar yang telah
direkam ke dalam komputer, selanjutnya disimpan.
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

12
Penatausahaan bendel-bendel SPOP dan Bendel formulir-formulir
data pasar dilakukan DPPK Kota Surabaya.

(f) Pembuatan dan Penyimpanan Sket/Peta
1. Pembuatan Sket/Peta Blok
Petugas lapangan setiap hari menggambar hasil ukuran di
lapangan pada net sket/peta blok yang meliputi batas
penguasaan/pemilikan tanah (dengan garis tegas), juga batas
bidang bangunan (dengan garis putus-putus).
2. Pembuatan Sket/Peta Kelurahan
Sket/peta kelurahan dibuat berdasarkan sket/peta blok yang ada
dan yang digambar pada peta kelurahan adalah jaringan jalan,
sungai, batas wilayah administrasi pemerintahan, dan batas
blok.
3. Pembuatan Sket/peta ZNT
Tata cara pembuatan konsep sket/peta ZNT dijelaskan dalam
Bab II butir 2.3.3 huruf A angka 1 tentang Pembuatan Konsep
Sket/Peta ZNT dan Penentuan NIR.

(g) Pemutakhiran Data
Selama dalam proses pembentukan basis data dimungkinkan
terjadi perubahan objek pajak, subjek pajak, atau zona nilai tanah.
Dalam hal terjadi perubahan sebagaimana dimaksud di atas, maka
pemutakhiran datanya dapat dilaksanakan sebagai berikut :
1. Perubahan Data Objek Pajak
a. Perubahan data objek pajak dapat terjadi antara lain karena
perubahan nama subjek pajak, kesalahan dalam pengukuran
objek pajak, pemecahan atau penggabungan bidang objek
pajak.
b. Setiap terjadi perubahan data objek pajak khususnya
perubahan yang berhubungan dengan karakteristik objek
pajak, agar dibuatkan SPOP. Untuk membedakan dengan
SPOP yang telah dibuat terdahulu atas objek pajak yang
berubah, maka pada SPOP tersebut diberi tanda
PERBAIKAN. Pemberian tanda dimaksud dapat ditulis
tangan atau dicap.
c. Khususnya perubahan data objek pajak karena adanya
pemecahan bidang harus disertakan informasi grafisnya.
Dalam hal tidak disertai dengan informasi grafisnya, maka
perlu diadakan peninjauan ke lapangan. Hal ini sangat
diperlukan guna menentukan NOP bagi pecahan bidang
objek pajak dimaksud.
d. Setelah diteliti seperlunya, maka SPOP yang diberi tanda
PERBAIKAN tersebut dibendel secara khusus dan
selanjutnya diadakan pemutakhiran datanya pada komputer.
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

13
e. Pemutakhiran data yang menyangkut data karakteristik objek
pajak dilakukan per bidang objek pajak.
2. Perubahan NIR dan/atau kode ZNT
a. Setiap perubahan NIR agar dibuatkan daftar perubahannya
dan dalam daftar perubahan tersebut dicatat kode ZNT-nya,
NIR lama, dan NIR yang baru.
b. Apabila terjadi perubahan NIR yang mengakibatkan
perubahan batas ZNT, maka disamping dibuat daftar
perubahan sebagaimana dimaksud dalam butir (a), juga
dibuatkan daftar perubahannya dalam Formulir
Pemutakhiran Kode Zona Nilai Tanah. Dalam daftar
tersebut, dicatat NOP-NOP yang termasuk dalam ZNT lama
maupun yang baru.
c. Daftar-daftar sebagaimana dimaksud huruf (a) dan (b) di atas
di bendel, dan selanjutnya diadakan pemutakhiran data pada
komputer.
Setiap terjadi perubahan khususnya yang menyangkut
perubahan NOP dan ZNT, selain diadakan pemutakhiran
datanya pada komputer, juga diadakan perubahan pada peta-
peta yang berkaitan dengan perubahan-perubahan dimaksud.


(2) Penilaian
(a) Jenis Obyek Pajak
A. Obyek Pajak Umum
Objek Pajak Umum adalah objek pajak yang memiliki konstruksi
umum dengan keluasan tanah berdasarkan kriteria-kriteria
tertentu. Objek pajak umum terdiri atas :
1. Objek Pajak Standar
Objek Pajak Standar adalah objek-objek pajak yang
memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :
Tanah : < 10.000 m2
Bangunan : Jumlah lantai < 4
Luas Bangunan : < 1.000 m2
2. Objek Pajak Non Standar
Objek Pajak Non Standar adalah objek-objek pajak yang
memenuhi salah satu dari kriteria-kriteria sebagai berikut :
Tanah : > 10.000 m2
Bangunan : Jumlah lantai > 4
Luas Bangunan : > 1.000 m2
B. Obyek Pajak Khusus
Objek Pajak Khusus adalah objek pajak yang memiliki
konstruksi khusus atau keberadaannya memiliki arti yang
khusus seperti : lapangan golf, pelabuhan laut, pelabuhan
udara, jalan tol, pompa bensin dan lain-lain.
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

14

(b) Pendekatan dan cara penilaian
A. Pendekatan Penilaian
Sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 6 Peraturan Daerah
Kota Surabaya Nomor 10 Tahun 2010, maka dalam penentuan
NJOP dikenal tiga pendekatan penilaian, yaitu :
1. Pendekatan Data Pasar (Market Data Approach)
Pendekatan data pasar dilakukan dengan cara
membandingkan objek pajak yang akan dinilai dengan objek
pajak lain yang sejenis yang nilai jualnya sudah diketahui
dengan melakukan penyesuaian yang dipandang perlu.
Persyaratan utama yang harus dipenuhi dalam penetapan,
pendekatan ini adalah tersedianya data jual-beli atau harga
sewa yang wajar. Pendekatan data pasar terutama
diterapkan untuk penentuan NJOP bumi, dan untuk objek
tertentu dapat juga dipergunakan untuk penentuan NJOP
bangunan.
2. Pendekatan Biaya (Cost Approach)
Pendekatan biaya digunakan untuk penilaian bangunan yaitu
dengan cara memperhitungkan biaya-biaya yang dikeluarkan
untuk membuat bangunan baru objek yang dinilai, dikurangi
penyusutan. Perkiraan biaya dilakukan dengan cara
menghitung biaya setiap komponen utama bangunan,
material dan fasilitas lainnya.
3. Pendekatan kapitalisasi pendapatan (Income Approach)
Pendekatan kapitalisasi pendapatan dilakukan dengan cara
menghitung atau memproyeksikan seluruh pendapatan
sewa/penjualan dalam satu tahun dari objek pajak yang
dinilai dikurangi dengan kekosongan, biaya operasi dan/atau
hak pengusaha. Selanjutnya dikapitalisasikan dengan suatu
tingkat kapitalisasi tertentu. Pendekatan ini pada umumnya
diterapkan untuk objek-objek komersial, yang dibangun untuk
usaha/menghasilkan pendapatan seperti hotel, apartemen,
gedung perkantoran yang disewakan, pelabuhan udara,
pelabuhan laut, tempat rekreasi dan lain sebagainya. Dalam
penentuan NJOP, penilaian berdasarkan pendekatan
kapitalisasi pendapatan dipakai juga sebagai alat penguji
terhadap nilai yang dihasilkan dengan pendekatan lainnya.

4) SUMBER DAYA
a) Dana
Up dating dan pendataan UPTD 4 adalah menggunakan dana dari
anggaran Pendapatan Belanja Daerah Kota Surabaya Tahun Anggaran
2014.

Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

15
b) Tenaga Ahli
i) Team Leader (Tenaga Ahli), berlatar belakang pendidikan minimal
Teknik Sipil S1 pengalaman 8 tahun atau S2/S3 pengalaman
4 tahun; memiliki Sertifikat Keahlian (SKA) dibidang Konstruksi.
ii) Tenaga Ahli Penilai (Apraisal), berlatar belakang pendidikan Sarjana
S1 Teknik Sipil atau Sarjana lainnya pengalaman 5 tahun atau S2
pengalaman 1 tahun (sebanyak 1 orang); memiliki sertifikat Penilai
(P2)
iii) Tenaga Ahli Sistem Aplikasi, berlatar belakang pendidikan Teknik
Informatika minimal S1 3 tahun atau S2 pengalaman 0 tahun
(sebanyak 1 orang) memiliki kemampuan dan menguasai Sistem
Manajemen Informasi Obyek Pajak (SISMIOP);
Setiap tenaga ahli yang terlibat dalam kegiatan ini harus benar-benar
memahami tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan bidang
keahliannya dengan memperhatikan berbagai aspek kehidupan di Kota
Surabaya baik sosial, ekonomi dan budaya.
Setiap Tenaga Ahli, dapat menunjukan bukti pengalaman kerja
dibuktikan dengan Curriculum Vitae dan surat referensi, serta
menyampaikan NPWP pribadi dan bukti setor pajak (SPT) terakhir.

Adapun tugas dan tanggung jawab tenaga ahli adalah:
a. Team Leader (Teknik Sipil)
Menyiapkan rencana kerja dan jadwal pelaksanaan pekerjaan
Mengkoordinasi kedalam dan keluar setiap personil yang terlibat
dalam kegiatan;
Memonitor pelaksanaan pekerjaan masing-masing tenaga ahli;
Melakukan kajian, evaluasi dan analisa terhadap seluruk aspek
pekerjaan;
Merumuskan dan menyusun laporan pekerjaan

b. Ahli Penilai (Apraisal)
Membantu Leader dalam menyusun rencana kerja dan jadwal
pelaksanaan pekerjaan penilaian
Mengkoordinasikan pelaksanaan penilaian (massal maupun
individual)
Bertanggungjawab terhadap kemampuan personil, meningkatkan
kemampuan penilaian yang diperlukan dalam pelaksanaan
penilaian (massal maupun individu);
Merumuskan dan menyusun laporan pekerjaan penilaian
c) Tenaga Ahli Sistem Aplikasi
Membantu Leader dalam menyusun rencana kerja dan jadwal
pelaksanaan pekerjaan Sistem Manajemen Informasi Obyek Pajak;
Menyiapkan sistem pendataan obyek pajak;
Menyiapkan sket/peta obyek pajak;
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

16
Melakukan up dating data dengan menggunakan titik kordinat
(GPS);
Melakukan up dating Peta Digital (Map Info)
Mengkoordinasikan pelaksanaan aplikasi Sistem Manajemen
Informasi Obyek Pajak;
Bertanggungjawab terhadap kemampuan personil dan aplikasi
Sistem Manajemen Informasi Obyek Pajak;
Merumuskan dan menyusun laporan pekerjaan sistem aplikasi

Selain tugas-tugas terkait dengan bidang keahlianya, setiap tenaga ahli
juga berperan aktif dalam proses penyusunan dan pembahasan Up
dating dan pendataan.
Dalam melaksanakan pekerjaan para tersebut dibantu oleh Asisten Ahli
Muda, sebagai tenaga penunjang untuk verifikator, surveyor, dan
operator Komputer dengan latar belakang pendidikan
S1/D2/D1/STM/SMA yang mempunyai pengalaman minimal 1 tahun
(sebanyak 40 orang).


5) OUTPUT
a. Laporan Pendahuluan
Berisikan narasi latar belakang, dasar hukum, pengertian dan batasan
Up Dating dan Pendataan PBB, maksud dan tujuan, sasaran dan
manfaat, ruang lingkup perencanaan, metodologi pendataan dan analisa
serta sistematikan penulisan laporan.
Laporan Pendahuluan dicetak sebanyak 6 Examplar, kertas HVS ukuran
Folio dengan sampul warna Hijau Muda dengan pengetikan 1 1,5
spasi.

b. Laporan Bulanan
Berisikan kemajuan fisik up dating dan pendataan dari kegiatan
persiapan lapangan, perkerjaan lapangan, pekerjaan kantor berupa
produk obyek pajak/subyek pajak, peta blok, peta kelurahan, peta ZNT
dan DHR yang telah divalidasi.
Laporan bulanan dibuat sebanyak 3 examplar dan soft Copy berupa CD
masing-masing 3 Examplar dan lampiran bendel dan peta.

c. Laporan Akhir
Hasil seluruh kegiatan Updating dan Pendataan UPTD 4 yang meliputi
persiapan lapangan, perkerjaan lapangan, pekerjaan kantor berupa
produk obyek pajak/subyek pajak per - NOP, peta blok, peta kelurahan,
peta ZNT dan DHR yang telah divalidasi.
Laporan Akhir dibuat sebanyak 3 examplar dan soft Copy berupa CD
masing-masing 3 Examplar dan lampiran bendel dan peta.

Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

17

8. POLA PELAKSANAAN PEKERJAAN
a. Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Keuangan
Up dating dan pendataan UPTD 4 dilakukan oleh Tim Konsultan yang
ditunjuk oleh Pemerintah Kota Surabaya.
Tim Konsultan yang terdiri Leader dan Tenaga Ahli serta Tenaga
Penunjang akan bertugas sebagai tim pelaksana mulai dari kegiatan
persiapan, pelaksanaan dan penyusunan laporan pendahuluan dan
penyusunan laporan akhir.
Untuk pelaksanaan kegiatan Up dating dan pendataan ini, DPPK akan
menunjuk Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan yang bertanggung jawab
secara teknis dan administrasi dalam kegiatan.
Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan akan dibantu oleh Panitia
Penerima Hasil Pekerjaan beranggotakan beberapa personil dari
DPPK serta tim teknis yang akan membantu melakukan pengawasan
terhadap kemajuan pekerjaan dan hasil-hasil pekerjaan pada setiap
tahapan pekerjaan sesuai dengan ketentuan dan persyaratan teknis
yang telah ditentukan. Secara umum pola pelaksanaan Up dating dan
pendataan digambarkan pada bagan alur 1.

b. Kewajiban Konsultan
Konsultan berkewajiban dan bertanggung jawab sepenuhnya
terhadap pelaksanaan Up dating dan pendataan dengan
berdasarkan ketentuan perjanjian kerjasama yang telah ditetapkan.
Konsultan berkewajiban menyusun pelaksanaan Up dating dan
pendataan berdasarkan ketentuan teknis yang telah ditetapkan
dalam Kerangka Acuan Kerja.
Konsultan dalam melaksanakan pekerjaan dinyatakan berakhir
setelah Up dating dan pendataan, selesai secara keseluruhan dan
dapat diterima oleh pemberi tugas.
Konsultan dalam melaksanakan pekerjaan agar meminta bantuan
PPTK dan Tim Tekis Pekerjaan yang akan memberikan petunjuk
dan pengarahan kepada konsultan untuk mencapai hasil yang
optimal.
Konsultan wajib melakukan konsultasi, koordinasi, dan diskusi
secara rutin dan berkala (mingguan / bulanan) dengan PPTK dan
Tim Tekis Pekerjaan dan/atau Pemberi Tugas.
Konsultan wajib mengadakan diskusi terbatas dengan Panitia
Penerima Hasil Pekerjaan pada setiap tahap pekerjaan penyusunan
Laporan Akhir serta Album Peta.
Dalam pelaksanaan diskusi terbatas, konsultan wajib menyediakan
waktu untuk hadir dalam forum diskusi tersebut dan menyajikan
hasil pekerjaannya kepada peserta diskusi.

Bagan 1. Alur Pola Up dating dan pendataan
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

18



















KETERANGAN :

KOMANDO
SUPERVISI
KOORDINASI





c. Alih Pengetahuan / Ketrampilan
Konsultan wajib melaksanakan alih pengetahuan dan ketrampilan di
bidang teknologi Up dating dan pendataan dibidang penguasaan
program SISMIOP, Penilaian dll kepada staf DPPK Kota Surabaya.

d. Mekanisme dan Pengawasan Pekerjaan
Dalam rangka pelaksanaan pekerjaan kegiatan Up dating dan
pendataan, konsultan harus berkonsultasi dan berkoordinasi dengan
Panitia Penerima Hasil Pekerjaan. Perkembangan kemajuan pekerjaan
konsultan akan dituangkan dalam laporan kemajuan pekerjaan dan
akan diperiksa secara rutin dan berkala oleh Panitia Penerima Hasil
Pekerjaan.

e. Waktu Penyelesaian Pekerjaan
Pekerjaan sebagaimana yang diuraikan diatas harus diselesaikan
seluruhnya dalam waktu 5 (lima) bulan, atau waktu yang ditetapkan
DPPK

Pejabat
Pelaksana Teknis
Kegiatan
KONSULTAN
Pejabat Pembuat Komitmen

Panitia
Penerima Hasil
Pekerjaan
Tim Teknis
Pekerjaan
Up dating dan pendataan obyek Pajak Bumi dan Bangunan pada UPTD 4

19
sesuai dengan hasil rapat penjelasan umum terhitung sejak
penandatanganan kontrak kerjasama.



9. Referensi
a. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi daerah
b. Peraturan Daerah Kota Surabaya No. 10 Tahun 2010 tentang Pajak
Bumi dan Bangunan Perkotaan.
c. Peraturan Walikota Surabaya Nomor 52 Tahun 2012 tentang
Pendataan dan Pendaftaran Obyek Pajak Bumi dan Bangunan
Perkotaan.
d. Peraturan Walikota Surabaya Nomor Tahun 2012 tentang
Pemeliharaan Basis Data Pajak Bumi dan Bangunan dalam rangka
Pemutahiran Data Piutang Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan.





Bagan 2. Alur Proses Up Dating dan Pendataan UPTD 4



















PENELITIAN PENDAHULUAN
PEKERJAAN TINDAK LANJUT (Kantor)
PENGUMPULAN DATA
OBYEK DAN SUBYEK
PAJAK
OBYEK/SUBYEK
(Up Date dan Obyek Baru)

PEKERJAAN LAPANGAN PELAPORAN/OUTPUT
PENYUSUNAN RENCANA
KERJA
PENYUSUNAN ORGANISASI
PELAKSANA
PENGADAAN SKET DAN
PENYUSUNAN DAFTAR
NOMINATIF
PEMBUATAN KONSEP
SKET/PETA KELURAHAN
PEMBUATAN KONSEP
SKET/PETA ZNT
PENYUSUNAN DBKB
KOORDINASI DENGAN
INSTANSI LAINNYA
PENYULUHAN KEPADA
MASYARAKAT
PENYERAHAN HASIL
PEKERJAAN LAPANGAN
PENELITIAN HASIL
PEKERJAAN LAPANGAN
PENELITIAN DATA
MASUKAN
PEMBENDELAN SPOP DAN
FORMULIR-FORMULIR
DATA PASAR
PEREKAMAN DATA
PENGAWASAN KUALITAS
DATA
PEMBUATAN SKET/PETA
DAN PENYIMPANAN
BENDEL,
PEMBUATAN SKET/PETA
DAN PENYIMPANAN
BENDEL,
PETA BLOK

PETA KELURAHAN

PETA ZNT

DHR YANG TELAH
DIVALIDASI
PERSIAPAN
UP DATING OBYEK BARU