Anda di halaman 1dari 14

1

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENANGGULANGAN HURU HARA


DILINGKUNGAN SATUAN BRIMOB POLDA BANTEN

BAB I

I. PENDAHULUAN
1. umum.
a. bahwa Satbrimob bertugas melaksanakan kegiatan penanggulangan
gangguan keamanan berkadar tinggi antara lain terorisme, huru-hara,
kerusuhan massa, kejahatan terorganisir bersenjata api atau bahan
peledak, penanganan senjata Kimia, Biologi dan Radioaktif (KBR) serta
pelaksanaan kegiatan SAR;;
b. Penanggulangan Huru-Hara adalah rangkaian kegiatan atau proses
atau cara dalam mengantisipasi atau menghadapi terjadinya
kerusuhan massa atau huru-hara guna melindungi warga masyarakat
dari ekseskerusuhan massa.

c. bahwa Satbrimob bertugas melaksanakan kegiatan penanggulangan
gangguan keamanan berintentitas tinggi antara lain terorisme, huru-
hara, kerusuhan massa, kejahatan terorganisir bersenjata api atau
bahan peledak, penanganan senjata Kimia, Biologi dan Radioaktif
(KBR) serta pelaksanaan kegiatan SAR;

2. Dasar.

a. UndangUndang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang
Kepolisian Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2002 Nomor 2. Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4168);
b. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 14 tahun 2008 tentang
keterbukaan informasi publik;
2

c. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia No. Pol. :
16 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengendalian Massa;
d. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 22
Tahun 2010 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Tingkat
Kepolisian Daerah;

3. Pengertian.

a. Kepolisian Negara Republik Indonesia yang selanjutnya disingkat Polri
adalah alat Negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan
ketertiban masyarakat, menegakan hukum, serta memberikan
perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat dalam
rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.
b. Kepolisian Daerah yang selanjutnya disebut Polda adalah pelaksana
tugas dan wewenang Polri di wilayah provinsi yang berada di bawah
Kapolri.
c. Kepala Kepolisian Daerah yang selanjutnya disingkat Kapolda adalah
pimpinan Polri di daerah dan bertanggung jawab kepada Kapolri.
d. Korps Brimob Polri selanjutnya disingkat Korbrimob Polri adalah
pelaksana tugas Pokok dibawah Kapolri yang bertugas Melaksanakan
dan menggerakkan kekuatan Brimob Polri guna menanggulangi
gangguan kamtibmas berkadar tinggi, utamanya kerusuhan massa,
kejahatan terorganisir bersenjata api, bom, bahan kimia, biologi dan
radio aktif bersama unsur pelaksana operasional kepolisian lainnya
guna mewujudkan tertib hukum serta ketentraman masyarakat
diseluruh wilayah yuridis NKRI dan tugas tugas lain yang dibebankan.
e. Satuan Brimob Polda yang selanjutnya disingkat Satbrimobda adalah
unsur pelaksana tugas pokok pada tingkat Polda yang berada di bawah
Kapolda.
f. Kepala Satuan Brimob Polda Banten disingkat Kasatbrimobda adalah
unsur pengawas dan pembantu pimpinan/pelayanan pada tingkat Polda
yang berada di bawah Kapolda.
g. Penanggulangan adalah rangkaian kegiatan atau proses atau cara
dalam mengantisipasi atau menghadapi suatu kejadian.
h. Huru-hara adalah suatu kejadian yang dilakukan oleh sekelompok
orang atau lebih dalam unjuk rasa yang telah berubah menjadi tindakan
kekacauan, kerusuhan dan melawan hukum.
i. Penanggulangan Huru-Hara yang selanjutnya disingkat PHH adalah
rangkaian kegiatan atau proses atau cara dalam mengantisipasi atau
menghadapi terjadinya kerusuhan massa atau huru-hara guna
melindungi warga masyarakat dari ekses kerusuhan massa.

3

4. Maksud dan tujuan :

a. Agar dapat diperoleh kesamaan persepsi dan kesatuan tindak dalam
melaksanakan tugas Penanggulangan Huru-Hara yang terjadi di
wilayah hukum Polda Banten.
b. terselenggaranya tugas pokok dan fungsi Satuan Brimob Polda Banten
dalam melaksanakan tugas Penanggulangan Huru-Hara, secara cepat
dan profesional.

5. Prinsip-prinsip :

a. legalitas, merupakan tindakan yang dilaksanakan mendasari hukum
dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum;
b. proporsional, merupakan tindakan yang dilaksanakan sesuai dengan
kadar ancaman yang dihadapi;
c. nesesitas, merupakan tindakan yang memang sungguh-sungguh
dibutuhkan berdasarkan pertimbangan yang cermat dan layak sesuai
dengan situasi dan kondisi dihadapi di lapangan;
d. humanis, merupakan tindakan yang dilakukan senantiasa
memperhatikan aspek penghormatan, perlindungan, dan penghargaan
hak asasi manusia;
e. keterpaduan, merupakan memelihara koordinasi, kebersamaan,
keterpaduan dan sinergi segenap unsur atau komponen bangsa yang
dilibatkan dalam penindakan


6. Tata urut

a. BAB I PENDAHULUAN
b. BAB II PERSIAPAN
c. BAB III PELAKSANAAN
d. BAB IV PERINTAH DAN PENGENDALIAN
e. BAB V SUSUNAN KEKUATAN DAN PERALATAN
f. BAB VI PENUTUP





4

BAB II

II. PERSIAPAN

7. Persiapan PHH.
a. Kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap persiapan sebagai berikut:
1). setelah menerima perintah Kapolda, segera menyiapkan surat
perintah tugas;
2). menyiapkan kekuatan PHH yang memadai untuk dihadapkan
dengan jumlah dan karakteristik massa;
3). melakukan pengecekan personel, perlengkapan atau peralatan
PHH, konsumsi, dan kesehatan;
4). menentukan rute PHH menuju objek dan rute penyelamatan
(escape) bagi pejabat VVIP atau VIP dan pejabat penting lainnya;
5). menentukan pos komando lapangan atau Pos Aju yang dekat dan
terlindung dengan objek unjuk rasa; dan
6). menyiapkan sistem komunikasi ke seluruh unit satuan Polri yang
dilibatkan.

b. Sebelum melaksanakan kegiatan PHH, Kepala Detasemen atau Kompi
PHH memberikan Acara Pimpinan Pasukan kepada seluruh anggota
satuan PHH yang terlibat dengan menyampaikan tentang:

1). gambaran massa yang akan dihadapi oleh satuan PHH antara lain
mengenai jumlah, karakteristik, tuntutan, dan alat yang di bawa
serta kemungkinan yang akan terjadi selama huru-hara;
2). gambaran situasi objek tempat terjadinya huru-hara;
3). rencana urutan langkah dan tindakan yang akan dilakukan oleh
satuan PHH; dan
4). larangan dan kewajiban yang dilakukan oleh satuan PHH.

c. Larangan-larangan:

1). bersikap arogan dan terpancing oleh perilaku massa;
2). melakukan tindakan kekerasan yang tidak sesuai prosedur;
3). membawa peralatan di luar peralatan PHH;
4). keluar dari ikatan satuan atau formasi;
5). mengucapkan kata-kata kotor, memaki-maki, dan melakukan
gerakan-gerakan tubuh yang bersifat pelecehan seksual atau
perbuatan asusila, dan atau memancing emosi massa;
6). melakukan perbuatan lainnya yang melanggar peraturan
perundangundangan; dan
7). melakukan tindakan tanpa perintah Kepala Detasemen atau
Komandan Kompi PHH.

5

d. Kewajiban:

1). menghormati hak asasi manusia dari setiap orang yang
melakukan huru-hara;
2). melayani dan mengamankan pengunjuk rasa sesuai ketentuan;
3). setiap pergerakan pasukan PHH selalu dalam ikatan satuan dan
membentuk formasi sesuai ketentuan;
4). melindungi jiwa dan harta benda;
5). tetap menjaga dan mempertahankan situasi sampai huru-hara
selesai;
6). bergerak dan bertindak berdasarkan perintah; dan
7). patuh dan taat kepada perintah Kepala Detasemen PHH secara
berjenjang sesuai lingkup tanggung jawab masing-masing.

e. Setelah melakukan persiapan Detasemen atau Kompi PHH bergeser
dari titik kumpul di Mako Satbrimob Polda Banten ke kesatuan
kewilayahan pengguna atau langsung ke daerah sasaran yang telah
ditentukan


BAB III

III. PELAKSANAAN

8. Pelaksanaan lintas ganti.
a. lintas ganti satuan PHH dengan satuan Dalmas dilaksanakan dengan
cara:

1). satuan PHH melaksanakan lintas ganti dengan satuan Dalmas,
bila massa sudah mengarah pada tindakan melawan hukum;
2). lintas ganti dapat dilaksanakan dari samping dan dari belakang
sesuai situasi dan kondisi di lapangan; dan
3). aba-aba dari Komandan Kompi atau Kepala Detasemen KOMPI
atau DETASEMEN. FORMASI BERSAF. LINTAS GANTI
LARI MAJU.JALAN.

4). Detasemen PHH membentuk formasi sesuai perintah Kepala
Detasemen PHH secara berjenjang sesuai lingkup tanggung
jawab masing-masing, berdasarkan situasi dan kondisi di
lapangan.

b. menyampaikan himbauan Kepolisian.

Penyampaian himbauan Kepolisian sebagaimana dilaksanakan dengan
cara KEPADA SAUDARA SAUDARA PENGUNJUKRASA KAMI
INGATKAN AGAR :
6


1). JANGAN MELAKUKAN KEGIATAN KEGIATAN YANG
MENGARAH KEPADA PELANGGARAN HUKUM;
2). TINDAKAN SAUDARASAUDARA KAMI NILAI TELAH
MELAKUKAN PELANGGARAN HUKUM;
3). UNTUK ITU SAUDARA SAUDARA SEMUA HARUS KEMBALI
TERTIB, SAMPAIKAN ASPIRASI SAUDARA SECARA BAIK DAN
SOPAN;
4). JAGA KEAMANAN DAN KETERTIBAN;
5). KAMI MEMOHON UNTUK SAUDARA SAUDARA SEMUA
SEGERA MEMBUBARKAN DIRI DAN KEMBALI KE TEMPAT
SAUDARA MASING -MASING;
6). KAMI AKAN MELAKUKAN TINDAKAN HUKUM KEPADA
SAUDARA -SAUDARA YANG TIDAK MENAATINYA.
7). Penyampaian himbauan Kepolisian dilaksanakan sesuai dengan
situasi dan kondisi di lapangan.


c. melakukan tindakan tegas.

Tindakan tegas sebagaimana dilaksanakan dengan cara:
1) posisi peleton atau kompi penindak pada pelaksanaan lintas ganti
merupakan satu kesatuan yang utuh dari Detasemen PHH dan
selalu berada di belakang satuan PHH;
2) pelaksanaan PHH dengan tindakan tegas berdasarkan perintah
Kepala Detasemen PHH secara berjenjang sesuai lingkup
tanggung jawab masing-masing dan berpedoman pada taktik dan
teknik PHH sesuai situasi dan kondisi di lapangan;
3) dalam hal terjadi bentrokan fisik antara satuan PHH dengan
massa, formasi satuan PHH berdasarkan perintah Kepala
Detasemen PHH secara berjenjang sesuai lingkup tanggung
jawab masing-masing, untuk bertahan atau mundur;
4) peleton penindak sebagai satu kesatuan yang utuh dari
Detasemen PHH bertindak atas perintah Kepala Detasemen PHH
secara berjenjang sesuai lingkup tanggung jawab masing-masing
terhadap massa yang melakukan tindakan melawan hukum;
5) tindakan tegas dilaksanakan berdasarkan urutan tindakan:
(a). Detasemen PHH maju untuk mendorong massa
dilaksanakan dengan cara Kepala Detasemen PHH memberi
aba-aba DETASEMEN....DORONG... JALAN... (Pasukan
maju tiga langkah) dan DORONG MAJU.... JALAN....
(Pasukan maju sepuluh langkah);
(b). penyemprotan air, untuk mengurai massa dilaksanakan
dengan cara Kepala Detasemen PHH memberi aba-aba
AWAS SEMPROT; dan
7

(c). penembakan gas air mata untuk mengurai massa
dilaksanakan dengan cara Kepala Detasemen PHH memberi
aba-aba AWASTEMBAK !!!.

6) Guna efektivitas pelaksanaan tindakan tegas formasi PHH dan
tindakan yang dilakukan sebagai berikut:
(a). unit pelindung dilengkapi dengan tameng pelindung dan
pepper ball serta unit pemadam api ringan (APAR),
persiapan dengan aba - aba..... LARI MAJUJALAN
menuju ke titik api, setelah melaksanakan pemadaman api,
unit pelindung dan unit pemadam kemudian kembali ke
formasi awal dengan aba -aba LARI MAJU JALAN;
(b). unit pelindung dilengkapi dengan tameng pelindung dan
pepper ball serta unit penangkap, persiapan dengan aba-aba
LARI MAJU JALAN menuju ke massa huru-hara guna
menangkap provokator dan pelaku kerusuhan lainnya yang
menyebabkan kerusakan, korban jiwa, merusak kehormatan
warga masyarakat dan negara, setelah melaksanakan
penangkapan kemudian di bawa ke mobil tahanan, unit
pelindung dan unit penangkap kemudian kembali ke formasi
awal dengan aba-aba LARI MAJU JALAN
(penangkapan dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi di
lapangan);
(c). unit pelindung dilengkapi dengan tameng pelindung dan
pepper ball serta unit kesehatan persiapan LARI
MAJU...JALAN...., unit pelindung dan Unit kesehatan
persiapan dengan aba-aba LARI MAJU JALAN menuju
ke massa huru-hara guna memberikan penyelamatan
terhadap korban huru-hara;
(d). setelah melaksanakan penyelamatan bagi korban huru-hara
kemudian di bawa ke mobil ambulance, unit pelindung dan
unit kesehatan kemudian kembali ke formasi awal dengan
aba-aba LARI MAJU JALAN (penyelamatan dilakukan
sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan);
(e). kendaraan pengurai massa setelah menerima aba-aba
PERSIAPAN, kemudian kendaraan pengurai massa
mendekat di belakang Kompi atau Detasemen PHH sambil
membunyikan sirine sebagai tanda agar Kompi atau
Detasemen PHH memberikan tempat atau ruang untuk
kendaraan pengurai massa guna melakukan penyemprotan,
kemudian diberikan aba aba AWAS SEMPROT;
(f). setelah dilaksanakan penyemprotan oleh kendaraan
pengurai massa, komandan Kompi atau Kepala Detasemen
PHH Brimob Polri memerintah kepada Kompi atau
Detasemen PHH Brimob Polri KOMPI ATAU DETASEMEN
... DORONG MAJU .. JALAN (pasukan maju merapat ke
8

tengah dan menutupi kendaraan pengurai massa ); dan
(g). setelah berhasil membubarkan massa perusuh, Kompi atau
Detasemen PHH kembali ke formasi banjar berbanjar atau
banjar kolone dengan aba-aba dari Komandan Kompi atau
Kepala Detasemen PHH KOMPI ATAU DETASEMEN...
FORMASI BANJAR KOLONE... LARI MAJU... JALAN.


7) Tindakan tegas dilaksanakan sesuai dengan situasi dan kondisi di
lapangan.



d. Setiap Detasemen atau Kompi PHH, wajib memperhatikan ketentuan
sebagai berikut:

1) setiap anggota harus tetap dalam formasi Detasemen atau Kompi
PHH;
2) setiap anggota tidak diperkenankan bergerak ke luar dari formasi;
3) setiap anggota tidak boleh melakukan tindakan sendiri-sendiri
tanpa perintah;
4) setiap anggota tidak boleh melakukan tindakan kekerasan
terhadap massa, pelaku tindak pidana maupun provokator yang
ditangkap;
5) setiap anggota wajib memberikan perlindungan, pengayoman dan
pelayanan kepada massa dan warga masyarakat;
6) setiap anggota tidak boleh membawa peralatan lain seperti senjata
api dan senjata tajam, kecuali alat-alat yang telah ditentukan;
7) peleton penindak dan peleton atau kompi bantuan bergerak atas
perintah komandan kompi atau kepala detasemen PHH;
8) tidak dibenarkan melemparkan gas air mata dan penyemprotan air
tanpa perintah dari komandan kompi atau kepala detasemen
PHH; dan

e. pengakhiran.
setelah massa dapat dibubarkan, pasukan segera konsolidasi,
komandan kompi atau kepala datasemen pasukan melapor kepada
pimpinan lapangan (kepala satuan kewilayahan) untuk menunggu
perintah

f. Ciri ciri kerusuhan masa yang memerlukan penanggulangan huru
hara, antara lain :
1) massa pelaku huru-hara dalam jumlah besar;
2) massa sulit dikendalikan;
9

3) massa berhasil dipengaruhi oleh provokator atau agitator;
4) tuntutan massa dalam penyampaian aspirasi telah menyimpang
dari tujuan unjuk rasa semula dan memaksakan kehendak;
5) massa tidak lagi menghormati hak dan kehormatan orang lain,
bahkan bertindak melanggar hukum; dan
6) tindakan para pelaku huru-hara menimbulkan dampak kerugian
jiwa dan harta benda serta menimbulkan keresahan masyarakat.

g. Pasukan penangulangan huru hara adalah anggota Detasemen
Pelopor Satuan Brimob Polda Banten yang ditugaskan sebagai Pasukan
penangulangan huru hara.


BAB IV
IV. PERINTAH DAN PENGENDALIAN

9. Perintah.
Perintah dan pengendalian PHH terdiri dari perintah dan pengendalian:

a. teknis
1) Perintah dan pengendalian teknis mencakup penyiapan,
pengerahan, dan penarikan kekuatan Detasemen PHH, yang
dilaksanakan oleh Kepala Satuan Brimob Polda ( Kasatbrimob
Polda ) pada tingkat Polda.
2) Penyiapan, pengerahan, dan penarikan kekuatan Detasemen PHH
oleh Kasatbrimob Polda dilaksanakan dengan cara memberi kan
perintah kepada Kepala Detasemen PHH.
3) Kepala Detasemen PHH melaksanakan lintas ganti

b. taktis.
Perintah dan pengendalian taktis disesuaikan dengan tempat dan
hakikat ancaman.


BAB V

V. SUSUNAN KEKUATAN DAN PERALATAN

10. Susunan kekuatan Satuan PHH terdiri dari satuan:

a. Kompi.
10

Tingkat Kompi 165 Orang terdiri dari :
1) Kelompok Komandan Kompi terdiri dari :
(a) Komandan Kompi : 1 orang
(b) caraka / radioman : 1 orang
(c) pengemudi : 1 orang
(d) Juru kamera : 2 orang
(e) Pelindung Juru kamera : 2 orang
(f) Provos : 4 orang
2) Satu Kompi PHH terdiri dari 4 peleton :

(a) Tiga peleton pendesak berjumlah 96 orang, satu peleton
terdiri dari 32 orang.

(1)) Satu peleton tameng sekat .
(a)) Komandan peleton : 1 orang
(b)) Caraka : 1 orang
) Komandan regu : 3 orang
(d)) Tiga regu : 27 orang

(2)) Satu peleton tongkat panjang hitam.
(a)) Komandan peleton : 1 orang
(b)) Caraka : 1 orang
) Komandan regu : 3 orang
(d)) Tiga regu : 27 orang

(3) Satu peleton tameng fiberglas.
(a)) Komandan peleton : 1 orang
(b)) Caraka : 1 orang
) Komandan regu : 3 orang
(d) Tiga regu : 27 orang


(b) Satu peleton tindak berjumlah 30 orang terdiri dari :
(1)) Kamdan peleton : 1 orang
(2)) Caraka : 1 orang
(3)) Pelempar gas air mata : 6 orang
(4)) Unit penangkap : 8 orang
(5)) Pemadam api : 4 orang
(6)) Pembawa ifex : 4 orang
(7)) Kesehatan lapangan : 6 orang

(c) Unsur bantuan berjumlah 28 orang terdiri dari:
(1)) 1 unit pengurai massa : 4 orang
(2)) 1 unit kawat penghalang massa : 10 orang
(3)) 1 unit mobil penyelamat : 2 orang
(4)) 1 unit mobil tahanan : 2 orang
11

(5)) 1 unit mobil ambulance : 2 orang
(6)) 5 unit Bus AC ukuran sedang : 5 orang
(7)) 2 unit Truck box sedang : 2 orang
(8)) 1 unit mobil penarik barrier : 2 orang


b. Detasemen.

Tingkat Detasemen berjumlah 521 Orang terdiri dari :

1) Kelompok Komandan Detasemen berjumlah 9 terdiri dari :
a) Komandan Detasemen : 1 orang
b) Caraka : 1 orang
c) Provos : 4 orang
2) Satu PHH tingkat Detasemen terdiri dari:

a) Tiga Kompi Satuan PHH Pendesak dan kelompok Kompi
berjumlah 321 orang.
b) Tiga Ton penindak, tiap peleton melekat pada masing-
masing Kompi ( 1 Ton = 30 orang ) berjumlah 90 terdiri dari:

(1) Komandan peleton penindak : 3 orang
(2) Caraka : 3 orang
(3) Pelempar/penembak gas air mata : 18 orang
(4) penangkap : 24 orang
(5) Pembawa ifex ( 9 unit ifex ) : 12 orang
(6) Pemadam api : 12 orang
(7) Kesehatan lapangan : 18 orang

c) Personel Unsur bantuan berjumlah 101 orang terdiri dari:

(1) 3 unit Rantis pengurai massa : 12 orang
(2) 3 unit kawat penghalang massa : 30 orang
(3) 3 unit Rantis penyelamat : 6 orang
(4) 3 unit mobil tahanan : 6 orang
(5) 3 unit mobil ambulance : 6 orang
(6) 1 unit mobil public address : 2 orang
(7) 1 unit mobil bulldozer : 2 orang
(8) 3 unit pembawa gergaji mesin : 6 orang
(9) 20 unit Bus AC ukuran sedang : 20 orang
(10) 8 unit Truck box sedang : 8 orang
(11) 3 unit mobil penarik barrier : 3 orang




12

11. Peralatan dan Perlengkapan.

Selain susunan kekuatan satuan PHH dilengkapi dengan peralatan dan
perlengkapan. Susunan peralatan dan perlengkapan Satuan PHH terdiri dari:

a. Tingkat Kompi.
1) Peralatan PHH.
a). Tameng sekat : 30 Buah
b). Tameng fiberglass : 30 Buah
c). Helm/pelindung kepala warna hitam : 151 Buah
d). Kedok gas ( gas masker ) : 151 Buah
e) Satu set pelindng tubuh : 151 Buah
f) Tongkat panjang hitam : 30 Buah
g) Tongkat lecut hitam : 30 Buah
h) Laras licin : 6 pucuk
i) Kamera video digital : 2 unit
j) Tabung pemadam api isi 3 Kilogram : 6 unit
k) Borgol : 8 Buah
l) Alat komunikasi Handy Talky : 13 unit

2) Peralatan Unsur bantuan terdiri dari:

a) Rantis pengurai massa : 1 unit
b) Kawat penghalang massa : 1 unit
c) Rantis penyelamat : 1 unit
d) Mobil tahanan : 1 unit
e) Ambulance : 1 unit
f) Bus AC ukuran sedang : 5 unit
g) Truck box sedang : 2 unit
h) Mobil penarik kawat penghalang massa : 1 unit

b. Tingkat Detasemen.

1) Peralatan PHH.
a) Tameng sekat : 90 Buah
b) Tameng fiberglass : 90 Buah
c) Helm/pelindung kepala warna hitam : 455 Buah
d) Kedok gas ( gas masker ) : 455 Buah
e) pelindng tubuh : 455 Buah
f) Tongkat panjang hitam : 90 Buah
g) Tongkat lecut hitam : 90 Buah
h) Laras licin : 18 pucuk
i) Kamera video digital : 6 unit
j) Tabung pemadam api : 12 unit
k) Borgol : 24 Buah
l) Alat komunikasi Handy Talky : 52 unit
13

2) Peralatan Unsur bantuan terdiri dari:

a) Rantis pengurai massa : 3 unit
b) Kawat penghalang massa : 3 unit
c) Rantis penyelamat : 3 unit
d) Mobil tahanan : 3 unit
e) Ambulance : 3 unit
f) Mobil penerangan PHH : 1 unit
g) mobil bulldozer : 2 unit
h) Gergaji mesin : 3 buah
i) Bus AC ukuran sedang : 20 unit
j) Truck box sedang : 8 unit
k) Mobil penarik kawat penghalang massa : 3 unit
l) Mobil Komandan Kompi : 3 unit


BAB VI
VI. PENUTUP
Standar Operasinal Prosedur Kasatbrimob Polda Banten ini mulai berlaku pada
tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Serang
pada tanggal Maret 2012
KEPALA SATUAN BRIMOB POLDA BANTEN


Ir. BAMBANG SUWARDI, S. STMK
KOMISARIS BESAR POLISI NRP 63040976





14

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA
DAERAH BANTEN
SATUAN BRIMOB






STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENANGGULANGAN HURU HARA
DILINGKUNGAN SATUAN BRIMOB POLDA BANTEN












PERATURAN KEPALA SATUAN BRIMOB POLDA BANTEN
NOMOR TAHUN 2011