Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Dilewati oleh khatulistiwa membuat Indonesia menjadi Negara beriklim tropis dengan
curah hujan tinggi sehingga tekstur tanah yang gembur hampir diseluruh wiayah. Dari sekitar
2 juta spesies flora di dunia 60% capable dan berada di Indonesia, mulai dari tanaman hias,
pangan, hingga komoditi yang dapat diolah dan sangat laris di dunia. Keberadaan Kelapa
Sawit (Elaesis) di Indonesia, kini sudah tidak asing lagi. Tanaman yang pada awalnya hanya
menjadi pohon penghias dari Afrika ini, mulai populer semenjak Revolusi industri abad ke
19 karena naiknya permintaan minyak nabati untuk bahan pangan dan industri sabun. Pohon
Kelapa Sawit spesies Arecaceae atau famili palma yang digunakan untuk pertanian komersil
dalam pengeluaran minyak kelapa sawit, berhasil membawa perubahan dalam sektor
perekonomian Indonesia. Mengapa Indonesia? Karena Indonesia memenuhi syarat tumbuh
Kelapa Sawit, dengan curah hujan hampir sepanjang tahun rerata 1250-3000mm, suhu rerata
28
0
C dan lokasinya yang berada pada iklim tropis, sehingga potensi hasil pertanian Kelapa
Sawit maksimal dibanding dengan negara-negara lain. Hampir semua bagian dari Kelapa
Sawit dapat dimanfaatkan, buah sebagai bahan minyak, tempurung buah untuk arang aktif,
batang dan tandan untuk pulp kertas, perabot, hingga limbah pelepah sebagai pakan ternak.
Hal itulah yang menjadikan prospek pasar minyak sawit sangat cerah, tingginya permintaan
dunia rata-rata tumbuh 8 persen per tahun, bahkan beberapa tahun terakhir jauh diatas
kemampuan produksi sehingga dipastikan harga akan terus meningkat.
Luas Areal perkebunan sawit di Indonesia terus bertumbuh tanpa pernah mengalami
stagnasi, demikian pula produksi ekspor minyak sawitnya. Luas areal tanaman Kelapa Sawit
meningkat dari 290 ribu Ha pada tahun 1980 menjadi 5,9 juta Ha pada tahun 2006 atay
meningkat 20 kali lipat. Dalam kurun waktu yang sama, produksinya berupa CPO (Crude -
Palm Oil/ Minyak Kelapa Sawit Mentah) dan CPKO (Crude Palm Krenel Oil/ Minyak Inti
Sawit Metah), meningkat 17 kali lipat dari 0,85 juta ton menjadi 144,4 juta ton. Karena
potensi akan pengembangan industri ini sangat besar dengan keuntungan yang dijanjikan,
pemerintah pun turun serta memasukan program pengembangan Kelapa Sawit menjadi salah
satu bentuk revitalisasi sektor pertanian. Dengan tingkat produksi CPO 22 juta ton pada tahun
2006, dan dengan harga CPO sebesar US$ 400/ton, Indonesia bisa menghasilkan devisa
US$ 8 miliar.
Kondisi agribisnis sektor ini dipegang oleh perusahaan negara (12,3%), rakyat (34,9%)
dan swasta (52,8%), dan terus berupaya menjadikan Indonesia sebagai negara pengekspor
Kelapa Sawit terbesar di dunia mengalahkan Malaysia. Pangsa produksi minyak sawit
Indonesia saat ini kurang lebih sebesar 36% dari total produksi dunia, sedangkan Malaysia
mencapai kontribusi sebesar 47%. Sehingga secara bersama-sama, Indonesia dan Malaysia
praktis menguasai 83% produksi dunia. Dalam rangka mencapai target produsen Kelapa
Sawit terbesar di dunia, Indonesia memanfaatkan keunggulanya dibanding Malaysia, yaitu
potensi lahan.
Dengan melakukan ekspansi lahan perkebunan kelapa sawit, beberapa perusahaan
memanfaatkan lahan gambut dan pelepasan kawasan hutan menjadi perkebunan Kelapa Sawit.
Data dari Dephutbun (1999) memperlihatkan banyaknya permohonan yang telah
mendapatkan SK pelepasan kawasan hutan dan izin prinsip pelepasan kawasan hutan,
ternyata tidak/ belum dimanfaatkan/ tidak ditindaklanjuti dengan baik. Hingga Maret 1998
disebutkan SK pelepasan kawasan hutan seluas 4.012.946 Ha, izin yang diberikan 3.999.654
Ha dan realisasi penanaman hanya 1.751.319 Ha. Dalam proses perawatan, satu pokok
Kelapa Sawit dapat menyerap 200 liter air perhari karena tanaman juga mengalami
evapotranspirasi. 1 hektar kebun kelapa sawit yang ditanam selama 25 tahun menyerap CO
2

130 ton sampai 180 ton ekuivalen. Akan tetapi, kelapa sawit itu menghasilkan CO
2
sebanyak
927,9 ton ekuivalen per hektar. Bahkan, kelapa sawit yang ditanam di lahan gambut bisa
menghasilkan CO
2
sebanyak 1.375 ton per hektar. Artinya, konversi lahan gambut dan hutan
menjadi kebun Kelapa Sawit seperti yang selama ini terjadi, itu mempercepat proses
pemanasan global.
Ini merupakan sebuah paradoks alam, dimana kepentingan untuk membangun suatu
bangsa dari potensi Kelapa Sawit yang berprospek raksasa dapat menjadi bumerang dan bom
waktu bagi negara Indonesia yang terkenal akan keindahan alamnya.
Disamping itu, lahan gambut (Peat Land) global termasuk lahan gambut yang ada di
Indonesia merupakan tempat penanaman Kelapa Sawit yang sangat tepat. Menurut data
Wetland International International (Joosten 2009) luas lahan gambut global mencapai 385
juta hektar tahun 1990 dan sekitar 381 juta hektar tahun 2008

Lahan Gambut global di Indonesia lebih terkonsentrasi pada daerah Kalimantan dan
Sumatera. Di Kalimantan Barat, 60% dari total lahan sudah beralih fungsi menjadi
perkebunan Kelapa Sawit, yaitu daerah kabupaten Sanggau dengan luas lahan 63.238 Ha,
untuk peringkat kedua yaitu di kabupaten Ketapang dengan luas lahan 49.936 Ha, dan untuk
terluas ketiga yaitu kabupaten Sekadau dengan luas lahan 24.634 Ha.
Pembukaan lahan akan kelapa sawit membuat berbagai konflik di masyarakat sekitar,
dari sengketa lahan hingga eksternalitas negatif yang timbul akibat pembukaan lahan.
Berdasarkan data Kasdam XII Tanjungpura bahwa konflik lahan yang ada di Kalimantan
Barat cukup kencang saat ini sudah ada 84 kasus yang menyangkut lahan perkebunan.Dari 84
kasus tersebut, biasanya yang paling sering terjadi yaitu masyarakat adat dengan perkebunan,
pemilik lahan dengan pemerintah, perusahaan dengan pemerintah, masyarakat dengan
masyarakat dan karyawan dengan perusahaan. Salah satu contoh kasus yaitu persoalan di
Kawasan Hutan adat Seruat Dua Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan
Barat mengenai konflik antara masyarakat dan perusahaan kelapa sawit. Karena masyarakat
resah akan lahan yang telah dirambah untuk perkebunan sawit, hal ini menjadikan mereka
akan kesulitan mendapatkan air tawar pada saat kemarau datang setelah hutan itu gundul
dikarenakan hutan itu adalah sumber air tawar bagi masyarakat.Makalah ini akan membahas
kasus yang terjadi akibat perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia, khususnya Kalimantan dan
Sumatera.
1.2.Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan dibahas adalah
1.2.1. Tinjauan Hukum mengenai pembukaan lahan Kelapa Sawit di Indonesia
1.2.2. Konflik yang terjadi akibat perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia

1.3.Kegunaan Penulisan
Hasil penulisan dari makalah ini diharapkan berguna untuk,
a. Kegunaan Praktis:
i. Bahan pertimbangan bagi para pengusaha yang ingin berinvestasi dibidang
perkebunan Kelapa Sawit
ii. Bahan studi lanjutan terutama ulasan yang bersifat evaluatif
iii. Upaya penyadaran akan bahaya dari pembukaan lahan perkebunan Kelapa Sawit
yang tidak mengikuti prosedural hukum yang benar.























BAB II
KAJIAN TEORI


2.1. Kelapa Sawit
Kelapa sawit (Elaeis) termasuk golongan tumbuhan palma. Pohon Kelapa Sawit terdiri
dari pada dua spesies Arecaceae atau famili palma yang digunakan untuk pertanian komersil
dalam pengeluaran minyak kelapa sawit. Pohon kelapa sawit Afrika, Elaeis
Guineensis,berasal dari Afrika Barat di antara Angola dan Gambia, manakala Pohon kelapa
sawit Amerika, Elaeis oleifera,berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Kelapa
sawit termasuk tumbuhan pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter.
Bunga dan buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak. Buahnya kecil dan apabila
masak, berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya
mengandung minyak. Minyaknya digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin.
Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak, khususnya sebagai salah satu bahan
pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada suhu 27
0
C dengan suhu
maksimum 33
0
C dan suhu minimum 22
0
C sepanjang tahun. Curah hujan yang cocok untuk
pertumbuhan kelapa sawit berkisar 1 250 3 000 mm dengan penyebaran merata sepanjang
tahun (dengan jumlah bulan kering kurang dari tiga bulan) dan curah hujan optimal berkisar 1
750 2 500 mm. Curah hujan kurang dari 1 250 mm dan jumlah bulan kering lebih dari 3
bulan merupakan faktor pembatas yang berat. Lama penyinaran matahari yang optimal adalah
enam jam per hari dan kelembaban nisbi untuk kelapa sawit berkisar 50 90% (Sugiyono et
al., 2003).
Sinar matahari dapat mendorong pertumbuhan vegetatif, pembentukan bunga, dan
produksi buah. Berkurangnya penyinaran matahari akan mengurangi proses asimilasi untuk
memproduksi karbohidrat dan pembentukan bunga (sex ratio) yang berakibat berkurangnya
jumlah bunga betina. Selain itu, kelapa sawit yang kurang mendapatkan sinar matahari,
pertumbuhannya akan tinggi, kurus, dan lemah, serta produksi daunnya sedikit (Risza, 2010).

Bagian daging buah sawit menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah
menjadi bahan baku minyak goreng. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang
murah, mengurangi kolesterol jahat, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit
juga diolah menjadi bahan baku margarin. Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol
dan industri kosmetik. Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran
makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.
2.2. Prosedural Pembukaan Lahan Kelapa Sawit

Bedasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/ Permentaan/PL.110/2/2009 tentang
Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut Untuk Budaya Kelapa Sawit pasal 4 bahwa
perusahaan perkebunan kelapa sawit harus memperoleh Izin Usaha Perkebunan (IUP) atau
Surat Pendaftaran Usaha Perkebunan (SPUP) dan dinyatakan berlaku sampe Hak Guna
Usaha (HGU) atau hak laiinya berakhir dan harus menunggu hingga diberikan izin mengolah
lahan.
2.2.1. Pembukaan Lahan
Pembukaan lahan dilakukan tanpa bakar dan menerapkan kaidah tata air (hidrologi) yang
baik. Pengelolaan air secara khusus bertujuan untuk menghindari kerusakan lahan.
Pengeringan lahan gambut yang terlalu intensif dan cepat dapat mengakibatkan tanah
gambut mengering dan mengkerut tidak balik (irreversible shrinkage). Pada keadaan
tersebut tanah gambut mudah terbakar dan sulit menyerap air. Tahapan pembukaan lahan
gambut dilakukan sebagai berikut:
Pembangunan Saluran Batas
a. Pembangunan saluran keliling (periphere drain) sebagai saluran batas areal;
b. Saluran batas berfungsi untuk mengatur permukaan air tanah dan juga
merupakan saluran utama. Saluran tersebut mempunyai lebar atas +4 (empat) meter,
lebar bawah +3 (tiga) m dengan kedalaman 2 (dua) sampai dengan 3 (tiga) meter

Pembukaan lahan yang masih memiliki semak belukar dan/atau pohon kecil kecil (under
brushing) dengan diameter kurang dari 2,5 cm dilakukan secara manual atau ca
ra mekanis. Apabila pembukaan dilakukan secara mekanis, pemotongan kayu dilakukan
menggunakan chainsaw, sebagai berikut:
a. arah penumbangan pohon mengikuti arah yang sudah ditentukan serta tidak
melintang sungai dan jalan;
b. tinggi tunggul pohon yang ditumbang disesuaikan dengan diameter
batang sebagai berikut: - diameter 10 (sepuluh) sentimetersampai dengan 20 (dua puluh)
sentimeter, setinggi 40 (empat puluh) sentimeter; - diameter 21 (dua puluh satu) sentimeter
sampai dengan 30 (tiga puluh) sentimeter, setinggi 60 (enam puluh) sentimeter;

2.3. Perizinan mendirikan Perkebunan
Untuk melakukan usaha budidaya tanaman perkebunan diperlukan Izin Usaha
Perkebunan untuk Budidaya (IP-B), yaitu izin tertulis dari Pejabat yang berwenang yang
wajib dimiliki oleh perusahaan yang melakukan usaha budidaya tanaman perkebunan.
Untuk memperoleh IUP-B, perusahaan perkebunan mengajukan permohonan secara
tertulis kepada Bupati/ Walikota atau Gubernur. Permohonan itu harus dilengkapi dengan
persyaratan berikut:
a. Akte pendirian perusahaan dan perubahannya yang terakhir
b. Nomor Pokok Wajib Pajak
c. Surat Keterangan Domisili
d. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana tata ruang wilayah Kabupaten/Kota
dari Bupati/ Walikota atau Gubernur
e. Rekomendasi kesesuaian dengan rencana makro pembangunan perkebunan
Provinsi dari Gubernur.
f. Izin lokasi dari Bupati/ Walikota yang dilengkapi dengan peta calon lokasi
dengan skala 1;100.000 atau 1:50.000
g. Pertimbangan teknis ketersediaan lahan dari instansi Kehutanan (apabila areal
berasal dari Kawasan Hutan
h. Rencana kerja pembangunan perkebunan
i. Hasil Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Atau upaya
Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan
Hidup (UPL)
j. Pernyataan kesanggupan memiliki sarana, prasara, dan sistem untuk
melakukan pembakaran serta pengendalian kebakaran.
k. Pernyataan ketersediaan membangun kebun untuk masyarakat dilengkapi
dengan rencana kerjanya
l. Pernyataan ketersediaan untuk melakukan kemitraan

BAB III
ANALISIS

3.1 Contoh Kasus

A. Dikutip dari Tempo.co, Pontianak (Ada Ratusan Konflik Sawit di Kalimantan
Barat)

Wahana Lingkungan Hidup Kalimantan Barat mencatat ada 88 kasus di provinsi itu pada
sepanjang 2011, yang menunjukkan konflik perkebunan kelapa sawit dan masyarakat.
Kasus ini sekaligus mengindikasikan potensi kerugian atau bencana dari kebijakan
pembangunan perkebunan sawit, kata Direktur Walhi Kalimantan Barat Anton P. Wijaya,
Kamis, 21 November 2013.

Menurut Anton, selama tiga tahun sejak 2008, konflik antara investor pengembangan
perkebunan sawit dan masyarakat mencapai 280 kasus. Dari ratusan kasus itu, kata dia,
ada 20 kasus kriminalisasi masyarakat oleh pihak perkebunan sawit. Angka tersebut terus
meningkat seiring masifnya pemberian izin ekspansi sawit.

"Masyarakat pedalaman Kalbar terbiasa mengandalkan sumber daya alam, seperti hutan,
tanah, air, sebagai sumber hidup," ia menambahkan.

Perkebunan monokultur dalam skala besar dapat memberikan dampak yang signifikan,
seperti satwa langka yang kehilangan habitatnya, sumber air yang tercemar, dan daerah
resapan air yang hilang. "Sawit memang memberikan sumber ekonomi baru bagi warga,
tapi hanya berlangsung dalam jangka pendek," katanya.

B. Dikutip dari bbc.co.uk (Orangutan di Indonesia terancam)
Orangutan dianggap hama
Ascheta Tabuni, Manajer Pusat Perlindungan Orangutan Samboja Lestari, Kaltim.
Sejumlah laporan dalam beberapa bulan terakhir menyebutkan banyak orangutan yang diburu
di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur.
Paling tidak 750 ekor diperkirakan mati dibunuh selama 2008-2009.Orangutan, salah satu
binatang yang paling dilindungi, semakin terancam karena habitatnya terganggu.Dalam
beberapa minggu terakhir, polisi menahan sejumlah pekerja perkebunan karena dicurigai
membunuh orangutan.
Saya bertolak ke Kalimantan Timur, ke kawasan yang diduga terjadi pembunuhan orangutan.
Dalam perjalanan, saya terkejut melihat begitu banyak lahan yang diubah menjadi
perkebunan kelapa sawit.
"Sekitar 10 tahun lalu, kawasan ini adalah hutan," kata Rudi, pengemudi yang membawa
kami ke kawasan ini.
Sepanjang perjalanan, kondisi di kawasan ini cukup memprihatinkan karena kawasan hutan
yang tampak hanya sedikit.Perluasan perkebunan sawit dan tambang batu bara di kawasan
hutan Kalimantan Timur menyebabkan konsekuensi tragis bagi orangutan. Saya sempat
bertemu dengan sejumlah pekerja di perkebunan sawit. Pada awalnya mereka ragu-ragu
untuk berbicara.Namun, seorang di antara mereka, Ronal mengatakan ia mengetahui tentang
kematian orangutan itu.
"Sejumlah pekerja melihat ada orangutan di perkebunan, dan perusahaan membayar US$100
untuk satu ekor. Saya tidak tahu apa yang dilakukan perusahaan terhadap binatang itu, namun
mereka menganggap orangutan sebagai hama," kata Ronal. Perusahaan-perusahaan sawit
mengatakan mereka tidak bersalah
C. Dikutip dari medanbisnisdaily.com (Ratusan Batang Pohon Warga Rusak Akibat
Polusi)
MedanBisnis - Medan. Ratusan batang pohon pisang dan tanaman lainnya milik warga di
Lingkungan II Kelurahan Martubung Kecamatan Medan Labuhan rusak akibat terkena
limbah dan polusi industri pengolahan minyak kelapa sawit (CPO - crude palm oil) dan
turunannya yang berlokasi di jalan KL Yos Sudarso Km 15 Medan Labuhan.
Rusli warga Lingkungan II Kelurahan Martubung saat berlangsung sosialisasi Amdal (analisa
mengenai dampak lingkungan) yang diselenggarakan PT Agro Jaya Perdana (AJP), Jumat
(3/1), mengatakan tanaman pohon pisang yang diselimuti limbah pabrik itu sudah sangat
meresahkan warga. "Saat ini ratusan pohon pisang dan tanaman lainnya mengalami
kerusakan. Sebagian pohon pisang kalaupun berbuah menghasilkan buah 'bantut', sedangkan
daunnya menguning," kata pengurus Kontak Tani Nelayan Kota Medan tersebut.

Sosislisasi Amdal yang dilakukan PT AJP melibatkan konsultan dari CV Bawana Eka
Pertama. Puluhan warga yang bermukim di sekitar berdirinya industri pengolahan CPO itu
menolak pemerintah memberikan rekomendasi Amdal terhadap perusahaan tersebut.
Sosislisasi Amdal yang dilakukan PT AJP melibatkan konsultan dari CV Bawana Eka
Pertama. Puluhan warga yang bermukim di sekitar berdirinya industri pengolahan CPO itu
menolak pemerintah memberikan rekomendasi Amdal terhadap perusahaan tersebut.

Dahsyat Tarigan kepada MedanBisnis mengatakan, keberadaan perusahaan yang berbahan
bakar batubara dan cangkang sawit tersebut tidak pantas mendapat rekomendasi Amdal dari
Kementerian Lingkungan Hidup, mengingat keberadaan perusahaan sudah merusak
lingkungan.

"Ada tiga mesin yang mereka operasikan, yakni boiler sebagai mesin pemanas, refinery
sebagai mesin pengering dan exan pemeras bungkil. Bila ketiga mesin ini beroperasi
menimbulkan suara bising dan menerbangkan sisa-sisa bungkil menempel di rumah dan
tanaman warga," ujarnya.

Dikatakan Dahsyat, keberadaan PT AJP tidak layak berada di kawasan pemukiman warga.
Apalagi di kawasan Lingkungan II Martubung tempat berdirinya perusahaan tersebut juga
terdapat sekolah dasar, mushala dan perkuburan.
Sejak beroperasinya PT AJP tahun 1987, katanya, tak ada kepedulian perusahaan pada
masyarakat. Malah warga sekitar terus dihantui polusi debu maupun suara bising dari suara
mesin.

Secara terpisah, ketua tim penyusun Amdal PT AJP, Ahmalian yang dikonfirmasi
MedanBisnis, mengatakan sosialisasi Amdal yang mereka lakukan untuk mengumpulkan
pendapat, uneg-uneg dan saran warga terkait keberadaan perusahaan yang ada di sekitar
pemukiman warga tersebut.

Dikatakan Ahmalian, proses studi Amdal yang mereka lakukan pada tahap awal adalah
sosialisasi kepada warga, selanjutnya akan ada sejumlah tim yang melakukan penelitian, di
antaranya tim kimia, tim biologi dan tim yang memeriksa kualitas air dan udara. "Meskipun
kami diminta melakukan studi amdal oleh PT AJP, namun kami tetap independen dengan
melakukan penelitian secara ilmiah," ujar alumnus UGM tersebut.

Terkait dengan keberatan warga terhadap keberadaan PT AJP berdiri di lokasi pemukiman
warga, Ahmalian mengatakan bahwa berdirinya sebuah perusahaan harus mengetahui
keberadaan tata ruang yang dikeluarkan oleh Pemko.
Keberadaan berdirinya PT AJP, kata Ahmalian. sesuai dengan Tata Ruang Kota Medan yang
menetapkan kawasan Medan Utara, di antaranya Kecamatan Medan Deli dan Medan
Labuhan sebagai kawasan industri.( cw 01)
3.2. Analisis Kasus
Kelapa sawit merupakan industri paling menjanjikan, setidaknya satu dari 10 orang
terkaya di Indonesia mempunyai perusahaan pengelolaan Kelapa Sawit. Seperti yang sudah
diulas sebelumnya, tanah gambut merupakan tanah yang sangat sesuai dengan Kelapa Swit
dan banyak ditemui di Kalimantan dan Sumatera. Walaupun Pendapatan Asli Daerah (PAD)
dari daerah tersebut tergolong tinggi, berbanding lurus dengan perimintaan pasar akan kelapa
sawit. Forum Komunikasi Produsen Benih Sawit Indonesia (FKPBSI) memperkirakan
penjualan benih sawit tahun 2014 ini hingga 120 juta butir.
Pembukaan lahan untuk kelapa sawit melakukan teknik pembakaran hutan, yang sangat
menyimpang dari prosedural pembukaan lahan perkebunan. Selain polusi asap yang terjadi,
pada awal pembakaran hutan, juga mengganggu habitat dari hewan yang berada di sekitar,
sumber air yang menipis dsb. Hal tersebut jelas melanggar Undang-Undang No.18 Tahun
2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan pengganti Undang-Undang
No. 41 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Perusakan Hutan yang dirancang untuk menjerat
pelaku kejahatan korporasi dan otak pelaku kejahatan termasuk juga aparatur negara yang
melakukan kelalaian dan pengabaian terjadi kerusakan hutan. keberadaan masyarakat adat di
hutan juga tak akan disingkirkan dan tidak pula mereka disebut merusak hutan. Masyarakat
sekitar hutan boleh menebang kayu untuk hidup sehari-hari, kegiatan sosial dan bukan untuk
kepentingan komersial. Kalau untuk kepentingan pribadi, harus meminta izin kepada pejabat
berwenang agar lebih terkontrol. Dalam Undang-undang ini diamanatkan dibentuk badan
pengawas seperti satgas dalam 2 tahun kedepan harus terbentuk yang terdiri dari gabungan
kejaksaan, Kepolisian, Pemerintah dan masyarakat sipil.
Selaim itu, pengusaha kelapa sawit seringkali tidak melakukan persyaratan pembukaan
lahan perkebunan dan perkebunan kelapa sawit dengan benar, sengketa lahan sering terjadi ,
setidaknya 88 kasus sudah terekam selama 2011. Beberapa perusahaan juga melanggar
Permentan No.98 Tahun 2013 Tentang Pedoman Perizinan Usaha perkebunan revisi
dari permentan No. 26 tahun 2007 yang banyak dikritisi oleh para aktivis lingkungan, sosial
dan HAM karena merugikan petani dan masyarakat. Dan sudah mendapat penolakan dari
beberapa organisasi sosial yang ada di Kalteng. Permentan 98 ini ternyata malah lebih
berpihak kepada investor masih tetap menjadi pelindung dari para investor dan sangat
merugikan masyarakat.
Dampak Negatif terjadi bukan hanya polusi akan air, tanah dan udara. Orangutan di
Kawasan Kalimantan juga terusik, karena habitat yang dirusak dan kekurangan makanan
sehingga memakan Kelapa Sawit itu sendiri. Banyak warga sekitar disayembarai oleh pihak
perusahaan dan dianugerahi sekitar 1juta per kepala orangutan. Menurut Centre for
Orangutan Protection, Bumitama Agri dinilai telah melanggar UU No.5 Tahun 1990 Pasal 21
ayat 2, bahwa setiap orang dilarang untuk mengambil, merusak, memusnahkan,
memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur atau sarang satwa yang dilindungi. Serta
Pasal 40 ayat 2, Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketenteuan
sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 21 ayat 1 dan ayat 2 serta Pasal 33 ayat 3,
dipidanakan dengan pidana paling lama 5 tahun dan denda paling banyak 100.000.000 juta
rupiah.






BAB IV
Simpulan dan Saran
4.1. Simpulan
Kelapa sawit merupakan bom waktu bagi Indonesia, disatu sisi akan menghasilkan
pendapatan asli daerah dari investasi yang sangat tinggi. Namun, disisi lain akan
menumbulkan dampak negatif, pembukaan lahan lkelapa sawit dengan melakukan proses
pembakaran, polusi yang dirasakan oleh warga sekitar baik air, tanah dan udara. Satwa
langka, yaitu orang utan yang kehilangan habitat. Dan hal itu semua tidak diiringi dengan
administrasi Perusahaan perkebunan Kelapa Sawit yang benar. Banyak yang tidak sesuai
dengan tata ruang daerah, hingga berkoalisi dengan pejabat setempat yang juga ikut
berinvestasi di perusahaan tersebut.
4.2. Saran
Bagi pemerintah, untuk lebih mendeskripsikan, menyebarluaskan dan memperinci
peraturan mengenai Kelapa Sawit. Dibutuhkan sebuah lembaga yang Independen untuk
mengawasi perihal peraturan terutama kehutanan, karena Indonesia merupaka zamrud
khatulistiwa dengan berbagai flora dan faunanya.










DAFTAR PUSTAKA

http://www.gapki.or.id/assets/upload/Buku%20Indonesia%20dan%20Perkebunan%20Kelapa%20Sawit%2
0Dalam%20Isu%20Lingkungan%20Global.pdf

http://ppvt.setjen.pertanian.go.id/ppvtpp/files/83permentan20pedum20lahan20gambut.pdf

http://www.legalakses.com/syarat-dan-tata-cara-permohonan-izin-usaha-perkebunan/

http://politik.kompasiana.com/2014/02/12/konflik-lahan-pembebasan-sawit-di-kalimantan-tengah-
631385.html

http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2011/12/111226_orangutan.shtml

http://medanbisnisdaily.com/news/read/2014/01/04/71168/ratusan_batang_pohon_warga_rusak_akibat_pol
usi/#.U4vwp3ZBF0c