Anda di halaman 1dari 5

Genesa Endapan Nikel Laterit

Proses Terbentuknya Endapan


Endapan nikel yang ada di daerah penelitian adalah jenis nikel laterit, yang merupakan hasil
pelapukan dari batuan ultrabasa. Menurut Vinogradov, batuan ultrabasa pada awalnya
mempunyai kandungan nikel rata-rata sebesar 0.2%. Tabel 3.1 adalah unsur-unsur yang
terkandung dalam batuan beku (Boldt, 1967).
Unsur yang terkandung dalam batuan beku
Batuan Persentase Kadar (%)
Ni FeO + Mg Al + Si
Peridotit 0,2000 43,5 45,9
Gabro 0,0160 16,6 66,1
Diorit 0,0040 11,7 73,4
Granit 0,0020 4,4 78,7
Proses terbentuknya nikel laterit dimulai dari peridotit sebagai batuan induk. Batuan induk ini
akan berubah menjadi serpentin akibat pengaruh larutan hidrotermal atau larutan residual
pada waktu proses pembentukan magma (proses serpentinisasi) dan akan merubah batuan
peridotit menjadi batuan Serpentinit atau batuan Serpentinit Peridotit
Selanjutnya terjadi proses pelapukan dan laterit yang menghasilkan serpentin dan peridotit
lapuk. Adanya proses kimia dan fisika dari udara, air, serta pergantian panas dan dingin yang
kontinu, akan menyebabkan disintegrasi dan dekomposisi pada batuan induk. Batuan asal
yang mengandung unsur-unsur Ca, Mg, Si, Cr, Mn, Ni, dan Co akan mengalami dekomposisi.
Air tanah yang mengandung CO
2
dari udara meresap ke bawah sampai ke permukaan air
tanah sambil melindi mineral primer yang tidak stabil seperti olivin, serpentin, dan piroksen.
Air tanah meresap secara perlahan dari atas ke bawah sampai ke batas antara zone limonit
dan zone saprolit, kemudian mengalir secara lateral dan selanjutnya lebih banyak didominasi
oleh transportasi larutan secara horizontal. Proses ini menghasilkan Ca dan Mg yang larut
disusul dengan Si yang cenderung membentuk koloid dari partikel-partikel silika yang sangat
halus sehingga memungkinkan terbentuknya mineral baru melalui pengendapan kembali
unsur-unsur tersebut. Semua hasil pelarutan ini terbawa turun ke bagian bawah mengisi
celah-celah dan pori-pori batuan.
Ca dan Mg yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa ke bawah sampai batas pelapukan
dan diendapkan sebagai Dolomit dan Magnesit yang mengisi celah-celah atau rekahan-
rekahan pada batuan induk. Di lapangan, urat-urat ini dikenal sebagai batas petunjuk antara
zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan akar pelapukan (root of
weathering).
Fluktuasi muka air tanah yang berlangsung secara kontinu akan melarutkan unsur-unsur Mg
dan Si yang terdapat pada bongkah-bongkah batuan asal di zone saprolit, sehingga
memungkinkan penetrasi air tanah yang lebih dalam. Dalam hal ini, zone saprolit akan
bertambah ke dalam, demikian juga dengan ikatan yang mengandung oksida MgO sekitar 30
50%-berat dan SiO
2
antara 35 40%-berat. Oksida yang masih terkandung pada bongkah-
bongkah di zone saprolit ini akan terlindi dan ikut bersama-sama dengan aliran air tanah,
sehingga sedikit demi sedikit zone saprolit atas akan berubah porositasnya dan akhirnya
menjadi zone limonit. Sedangkan bahan-bahan yang sukar atau tidak mudah larut akan
tinggal pada tempatnya dan sebagian turun ke bawah bersama larutan sebagai larutan koloid.
Bahan-bahan seperti Fe, Ni, dan Co akan membentuk konsentrasi residu dan konsentrasi
celah pada zona yang disebut dengan zona saprolit, berwarna coklat kuning kemerahan.
Batuan asal ultramafik pada zone ini selanjutnya diimpregnasi oleh Ni melalui larutan yang
mengandung Ni, sehingga kadar Ni dapat naik hingga 7%-berat. Dalam hal ini, Ni dapat
mensubstitusi Mg dalam Serpentin atau juga mengendap pada rekahan bersama dengan
larutan yang mengandung Mg dan Si sebagai Garnierit dan Krisopras.
Sementara Fe di dalam larutan akan teroksidasi dan mengendap sebagai Ferri-Hidroksida,
membentuk mineral-mineral seperti Goethit, Limonit, dan Hematit yang dekat permukaan.
Bersama mineral-mineral ini selalu ikut serta unsur Co dalam jumlah kecil. Semakin ke
bawah, menuju bed rock maka Fe dan Co akan mengalami penurunan kadar. Pada zona
saprolit Ni akan terakumulasi di dalam mineral Garnierit. Akumulasi Ni ini terjadi akibat sifat
Ni yang berupa larutan pada kondisi oksidasi dan berupa padatan pada kondisi silika.
Endapan laterit biasanya terbentuk melalui proses pelapukan kimia yang intensif, yaitu di
daerah dengan iklim tropis-subtropis. Proses pelindian batuan lapuk merupakan proses yang
terjadi pada pembentukan endapan laterit, dimana proses ini memiliki penyebaran unsur-
unsur yang tidak merata dan menghasilkan konsentrasi bijih yang sangat bergantung pada
migrasi air tanah.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Endapan
Proses dan kondisi yang mengendalikan proses lateritisasi batuan ultramafik sangat beragam
dengan ukuran yang berbeda sehingga membentuk sifat profil yang beragam antara satu
tempat ke tempat lain, dalam komposisi kimia dan mineral, dan dalam perkembangan relatif
tiap zona profil. Faktor yang mempengaruhi efisiensi dan tingkat pelapukan kimia yang pada
akhirnya mempengaruhi pembentukan endapan adalah:
1. Iklim
Iklim yang sesuai untuk pembentukan endapan laterit adalah iklim tropis dan sub tropis, di
mana curah hujan dan sinar matahari memegang peranan penting dalam proses pelapukan dan
pelarutan unsur-unsur yang terdapat pada batuan asal. Sinar matahari yang intensif dan curah
hujan yang tinggi menimbulkan perubahan besar yang menyebabkan batuan akan terpecah-
pecah, disebut pelapukan mekanis, terutama dialami oleh batuan yang dekat permukaan
bumi.
Secara spesifik, curah hujan akan mempengaruhi jumlah air yang melewati tanah, yang
mempengaruhi intensitas pelarutan dan perpindahan komponen yang dapat dilarutkan.
Sebagai tambahan, keefektifan curah hujan juga penting. Suhu tanah (suhu permukaan udara)
yang lebih tinggi menambah energi kinetik proses pelapukan.
2. Topografi
Geometri relief dan lereng akan mempengaruhi proses pengaliran dan sirkulasi air serta
reagen-reagen lain. Secara teoritis, relief yang baik untuk pengendapan bijih nikel adalah
punggung-punggung bukit yang landai dengan kemiringan antara 10 30. Pada daerah yang
curam, air hujan yang jatuh ke permukaan lebih banyak yang mengalir (run-off) dari pada
yang meresap kedalam tanah, sehingga yang terjadi adalah pelapukan yang kurang intensif.
Pada daerah ini sedikit terjadi pelapukan kimia sehingga menghasilkan endapan nikel yang
tipis. Sedangkan pada daerah yang landai, air hujan bergerak perlahan-lahan sehingga
mempunyai kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan
atau pori-pori batuan dan mengakibatkan terjadinya pelapukan kimiawi secara intensif.
Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan
sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk topografi.
3. Tipe batuan asal
Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan nikel laterit. Batuan
asalnya adalah jenis batuan ultrabasa dengan kadar Ni 0.2-0.3%, merupakan batuan dengan
elemen Ni yang paling banyak di antara batuan lainnya, mempunyai mineral-mineral yang
paling mudah lapuk atau tidak stabil (seperti Olivin dan Piroksen), mempunyai komponen-
komponen yang mudah larut, serta akan memberikan lingkungan pengendapan yang baik
untuk nikel. Mineralogi batuan asal akan menentukan tingkat kerapuhan batuan terhadap
pelapukan dan elemen yang tersedia untuk penyusunan ulang mineral baru.
4. Struktur
Struktur geologi yang penting dalam pembentukan endapan laterit adalah rekahan (joint) dan
patahan (fault). Adanya rekahan dan patahan ini akan mempermudah rembesan air ke dalam
tanah dan mempercepat proses pelapukan terhadap batuan induk. Selain itu rekahan dan
patahan akan dapat pula berfungsi sebagai tempat pengendapan larutan-larutan yang
mengandung Ni sebagai vein-vein. Seperti diketahui bahwa jenis batuan beku mempunyai
porositas dan permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan
adanya rekahan-rekahan tersebut lebih memudahkan masuknya air dan proses pelapukan
yang terjadi akan lebih intensif.
5. Reagen-reagen Kimia dan Vegetasi
Reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan senyawa-senyawa yang membantu
mempercepat proses pelapukan. Air tanah yang mengandung CO
2
memegang peranan paling
penting di dalam proses pelapukan secara kimia. Asam-asam humus (asam organik) yang
berasal dari pembusukan sisa-sisa tumbuhan akan menyebabkan dekomposisi batuan,
merubah pH larutan, serta membantu proses pelarutan beberapa unsur dari batuan induk.
Asam-asam humus ini erat kaitannya dengan kondisi vegetasi daerah. Dalam hal ini, vegetasi
akan mengakibatkan penetrasi air lebih dalam dan lebih mudah dengan mengikuti jalur akar
pohon-pohonan, meningkatkan akumulasi air hujan, serta menebalkan lapisan humus.
Keadaan ini merupakan suatu petunjuk, dimana kondisi hutan yang lebat pada lingkungan
yang baik akan membentuk endapan nikel yang lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi.
Selain itu, vegetasi juga dapat berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap erosi.
6. Waktu
Waktu merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pelapukan, transportasi, dan
konsentrasi endapan pada suatu tempat. Untuk terbentuknya endapan nikel laterit
membutuhkan waktu yang lama, mungkin ribuan atau jutaan tahun. Bila waktu pelapukan
terlalu muda maka terbentuk endapan yang tipis. Waktu yang cukup lama akan
mengakibatkan pelapukan yang cukup intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.
Banyak dari faktor tersebut yang saling berhubungan dan karakteristik profil di satu tempat
dapat digambarkan sebagai efek gabungan dari semua faktor terpisah yang terjadi melewati
waktu, ketimbang didominasi oleh satu faktor saja.
Ketebalan profil laterit ditentukan oleh keseimbangan kadar pelapukan kimia di dasar profil
dan pemindahan fisik ujung profil karena erosi. Tingkat pelapukan kimia bervariasi antara 10
50 m per juta tahun, biasanya sesuai dengan jumlah air yang melalui profil, dan 2 3 kali
lebih cepat dalam batuan ultrabasa daripada batuan asam. Disamping jenis batuan asal,
intensitas pelapukan, dan struktur batuan yang sangat mempengaruhi potensi endapan nikel
lateritik, maka informasi perilaku mobilitas unsur selama pelapukan akan sangat membantu
dalam menentukan zonasi bijih di lapangan (Totok Darijanto, 1986).
Profil Endapan Nikel Laterit
Profil endapan nikel laterit yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan ultrabasa secara umum
terdiri dari 4 (empat) lapisan, yaitu lapisan tanah penutup atau top soil, lapisan limonit,
lapisan saprolit, dan bedrock.
1. Lapisan tanah penutup
Lapisan tanah penutup biasa disebut iron capping. Material lapisan berukuran lempung,
berwarna coklat kemerahan, dan biasanya terdapat juga sisa-sisa tumbuhan. Pengkayaan Fe
terjadi pada zona ini karena terdiri dari konkresi Fe-Oksida (mineral Hematite dan Goethite),
dan Chromiferous dengan kandungan nikel relatif rendah. Tebal lapisan bervariasi antara 0
2 m. Tekstur batuan asal sudah tidak dapat dikenali lagi.
2. Lapisan Limonit
Merupakan lapisan berwarna coklat muda, ukuran butir lempung sampai pasir, tekstur batuan
asal mulai dapat diamati walaupun masih sangat sulit, dengan tebal lapisan berkisar antara 1
10 m. Lapisan ini tipis pada daerah yang terjal, dan sempat hilang karena erosi. Pada zone
limonit hampir seluruh unsur yang mudah larut hilang terlindi, kadar MgO hanya tinggal
kurang dari 2% berat dan kadar SiO
2
berkisar 2 5% berat. Sebaliknya kadar Fe
2
O
3
menjadi
sekitar 60 80% berat dan kadar Al
2
O
3
maksimum 7% berat. Zone ini didominasi oleh
mineral Goethit, disamping juga terdapat Magnetit, Hematit, Kromit, serta Kuarsa sekunder.
Pada Goethit terikat Nikel, Chrom, Cobalt, Vanadium, dan Aluminium.
1. Lapisan Saprolit
Merupakan lapisan dari batuan dasar yang sudah lapuk, berupa bongkah-bongkah lunak
berwarna coklat kekuningan sampai kehijauan. Struktur dan tekstur batuan asal masih
terlihat. Perubahan geokimia zone saprolit yang terletak di atas batuan asal ini tidak banyak,
H
2
O dan Nikel bertambah, dengan kadar Ni keseluruhan lapisan antara 2 4%, sedangkan
Magnesium dan Silikon hanya sedikit yang hilang terlindi. Zona ini terdiri dari vein-vein
Garnierite, Mangan, Serpentin, Kuarsa sekunder bertekstur boxwork, Ni-Kalsedon, dan di
beberapa tempat sudah terbentuk limonit yang mengandung Fe-hidroksida.
1. Bedrock (Batuan Dasar)
Merupakan bagian terbawah dari profil nikel laterit, berwarna hitam kehijauan, terdiri dari
bongkah bongkah batuan dasar dengan ukuran > 75 cm, dan secara umum sudah tidak
mengandung mineral ekonomis. Kadar mineral mendekati atau sama dengan batuan asal,
yaitu dengan kadar Fe 5% serta Ni dan Co antara 0.01 0.30%.
Supardi, 2013, Genesa Endapan Nikel laterit,
http://supardibarmawimie08.wordpress.com/2013/03/16/genesa-endapan-nikel-laterit/