Anda di halaman 1dari 7

Tes pauli kraepelin koran adalah bentuk tes berisi berbagai tahap penyelesaian kombinasi bilangan yang

intinya akan menilai aspek kepribadian seseorang, kompetensi, daya tahan dan lainnya, Yang nantinya
hasilnya dalam bentuk grafik maupun scoring tes akan disesuaikan dengan kebutuhan pengada tes /
rekruiter. Tes ini sebenarnya mengukur tingkat kreativitas individu dalam mengembangkan bakat dan
keterampilan dasar yang sudah didapat disekolah maupun kuliah. Mohon untuk luangkan waktu anda
sejenak, Fokus cermat dan teliti tanpa tegang. Karena hanya dengan cara ini anda akan mendaptkan
manfaat maksimal.
Tes pauli dan kraepelin ini identik dan banyak yang menyebutnya sebagai tes koran, dan
memang begitu,Karena angka yang akan dikerjakan sangat banyak dan dalam lembaran yang
besar, sehingga meyerupai majalah koran, hingga akhirnya disebut tes koran, Jika anda akan
menghadapi tes koran, sebenarnya anda akan menghadapi tes pauli dan kraepelin. intinya satu
layer.
Tes ini biasa disajikan dalam bentuk tabel berjejer dengan perbedaan pola perhitungan dan angka setiap
kolom, baris, maupun matriknya, sekali lagi ingat ini sesuai dengan kebutuhan recruiter. Konsep utama
tes ini secara umum dan standar bisa diinterpretasikan dalam tabel berikut ini :
Reference : Kolom-
1
Kolom-2 Kolom-
3
Kolom-4
Instruksi Tes Logika-
1
Logika-2 Logika-
3
Logika-4

Score-
1
Score-2 Score-
3
Score-4
Fluktuasi grafik berdasarkan scoring. Graph-
1
Graph-2 Graph-
3
Graph-4
Untuk lebih jelas dan realistis, jika anda serius ingin berlatih intensif, anda bisa download
aplikasinya langsung,bisa anda pilih yang full map atau midle map. Dalam tes yang sebenarnya,
tabel itu berisi beragam angka sesuai dengan konsep diatas, kecepatan anda mengerjakan
dengan jawaban "tepat" tergantung apa yang anda pahami dengan "intruksi tes" serta
kemampuan anda untuk fokus pada sub yang sedang anda kerjakan tanpa mengerlingkan mata
ke kanan dan kekiri, sekali mata anda bergeser dan melihat pemahaman pola yang berbeda
maka anda bisa kena trapping dan mempengaruhi fluktuasi scoring anda dan grafiknya. Jika
anda belum lolos pada bagian ini, Jangan khawatir! dan jangan menganggap anda belum bisa,
tapi berpikirlah positif, karena mungkin bahkan anda memiliki kemampuan lebih dari yang
distandarkan. Maksudnya tetap semangat namun yang realistis dan sewajarnya saja (Do Its
Gently!). Intinya jangan sampai kreativitas dan bakat yang anda punya tersabotase hanya
karena pikiran negatif, karena affirmasi positif dalam diri anda adalah sumber naluri anda yang
kreatif. Mencoba berkali-kali dengan berbagai metode itu lebih baik, daripada tidak tahu-menahu
tanpa proses tiba-tiba berhasil. Sukses selalu untuk anda!
Berikut ini : TUJUAN UTAMA dari Tes Pauli, Kraepelin, koran ini adalah untuk mengukur karakter
seseorang pada beberapa aspek tertentu, sesuai visi dan kebutuhan institusi perusahaan recruiter
maupun menurut standar yang ditentukan yang telah diintepretasikan dan dibaca tester hanya
berdasarkan intrument testool ini melalui score dan grafik, yaitu :
Aspek keuletan (daya tahan) - Pada saat tes ini akan di uji seberapa ulet seseorang
menyelesaikan masalah rumit dan ambigu, dalam tempo yang terbatas, dan bagaimana tingkat
kestabilannya. (Konsistensi)
Aspek kemauan atau kehendak individu - Tes ini akan mengukur kemauan dan motivasi
seseorang saat mengerjakan hal-hal yang pelik yang biasanya khusus untuk tes ini diilustrasikan
dalam bentuk angka-angka dan pola perhitungan bilangan, baik operasi bilangan dasar, midle,
sampai advance. (Daya Juang)
Aspek Emosi - Tes ini mengukur kemampuan seseorang dalam meredam dan mengendalikan
diri pada saat sedang di press dengan pekerjaan pada fase dan tahap tahap yang cukup pelik.
(Stabilitas Emosi)
Aspek penyesuaian diri - Tes ini bisa digunakan untuk mengukur kecepatan seseorang dalam
menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan sesuatu yang mungkin benar-benar baru. (Adaptasi)
Aspek stabilitas diri - Mengukur tingkat kestabilan dari tingkat ke tingkat tes, karena tes pauli dan
kraepelin memiliki beberapa map dan jenis, biasanya dalam beberapa tahap tes. (Mental
Practice Stability)
Dalam Tes ini, sebenarnya anda hanya diminta untuk mengerjakan hitungan sederhana. Yaitu
menjumlahkan deretan angka-angka. Namun yang menjadi masalah adalah jumlah deretan angka yang
diberikan sangat banyak. Yaitu sebesar lembaran koran. Sehingga Tes yang juga dikenal dengan istilah
"Tes koran", Tes ini menuntut konsentrasi, ketelitian, stabilitas emosi dan daya tahan yang prima dan
menuntut kejelian anda agar tidak terpancing dengan bagian-bagian lain yang sama sekali tidak
disarankan. Semakin banyak kesalahan yang anda buat, menunjukkan anda orang yang tidak teliti, tidak
cermat, tidak hati-hati dan kurang memiliki daya tahan yang cukup terhadap stres atau tekanan
pekerjaan. Begitu "Intepretasinya".
Kok sepertinya serumit itu? Lebih baik menjelaskan pada anda yang sebenarnya cukup kompeks dan
rumit, namun jika anda tekun mempelajarinya secara alami dan ilmiah, serta bisa memahami dan
mungkin mengembangkan bakat anda sendiri, maka akan dapat kemudahan dalam berbagai bentuk
peluang. (Logis dan rasional) - Psikotes maupun bagian-bagiannya sebenarnya sangat universal dan
bermanfaat dalam banyak bidang, hanya jika anda memahaminya secara multiperspektif dan fleksibel.
TIPE - Aspek Score Nilai dan Grafik : Apakah lebih baik memiliki nilai dan score tinggi atau
memiliki grafik yang stabil dari tes pauli kraepelin koran ini?
Jawaban rasional dan realistis yang pertama adalah lebih baik memiliki score yang menengah
(meskipun nilai dan score tinggi itu lebih baik) dengan grafik yang stabil, dan yang paling utama
adalah sesuai dan pas dengan apa yang benar-benar sedang dibutuhkan rekruiter atau pengada
tes. Dengan jawaban ini saja, sebenarnya anda sudah bisa tahu dan menangkap, Bagaimana
merelevansikan antara apa yang benar-benar bisa anda lakukan dalam tes ini dan tingkat
kesesuainnya dengan apa yang dibutuhkan perusahaan rekruiter. (Sangat Logis)
Bagaimana cara teknis memaksimalkan hasil dari tes pauli kraepelin koran ini?
Jawaban realistis yang pertama, Jika anda mengikuti tes apapun dan dimanapun, yang pertama
adalah lihatlah perusahaan atau tempat dimana anda akan mengikuti tes, Coba anda pikirkan
dahulu : Jika anda masuk pada perusahaan tersebut, kira-kira anda akan ditempatkan dibagian
apa? Apa saja tugas-tugas anda? dan yang terpenting, apa kontribusi teknis yang bisa anda
berikan ke perusahaan tersebut? Pikirkan ini dahulu, sebelum anda belajar yang sifatnya tes
akademik lainnya. Kenapa? karena ini penting untuk stimulus anda belajar lebih luas lagi.
Jawaban yang kedua adalah tentunya berlatih secara akademik berbagai bentuk latihan tes,
Tujuannya adalah agar anda familiar dengan bentuk-bentuk dan pola tes apa saja yang menjadi
standar dunia kerja, karena tes-tes yang didapatkan selama anda mengenyam pendidikan
formal, sangat jauh berbeda dengan tes dalam memasuki dunia kerja. Tujuan dari berlatih ini
adalah agar tidak kaget dengan pola-pola soal ini, terutama untuk anda yang mungkin belum
pernah mengikutinya.
Kedua cara diatas adalah cara yang telah diringkas poin pentingnya, karena sebenarnya anda sendirilah
yang paling paham dengan potensi diri anda sendiri, dan cara belajar seperti apa saja yang paling pas
dengan anda, ini adalah penjelasan universal poin. Cara berikutnya adalah sabar, tidak berhenti
berusaha dan mau belajar lebih baik lagi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi saat anda mengerjakan tes pauli, kraepelin, koran, aritmetika,
dll.
Kondisi psikis yang tidak stabil, persiapkan diri anda hingga anda merasa tenang, anda tak perlu
khawatir meskipun belum pernah mengikuti seleksi apapun, buatlah suasana nyaman dalam diri
anda, untuk lebih lengkap baca tips sebelum mengikuti tes ini maupun psikotes.
Kondisi fisik yang kurang fit, istirahat yang cukup.
Positif thinking.
Berusaha learning by doing.
Faktor utama yang mempengaruhi kegagalan dalam mengikuti tes ini :
Kurang confident, kurang percaya diri. Percayalah dengan diri sendiri, meskipun anda belum
perdan ikut tes ini sekalipun, mengalir saja, tanpa khawatir berlebihan. Percayalah dengan
potensi anda, meskipun mungkin anda pernah mengikuti tes ini dan masih gagal belum tembus
juga, itu bukan berarti anda kurang memiliki kompetens/kompetitif, Tapi lebih karena jawaban
anda mungkin sudah benar secara akademik, tapi ada jawaban yang belum pas dan relevans
dengan kebutuhan rekruiter, itu saja.
Belum pernah mengikuti tes ini. Ada realita unik akan hal ini, ada yang ber IQ tinggi tapi karena
kurang familiar dengan bentuk soal tes ini yang kadang tampak aneh dan ambigu, maka otak
butuh waktu merespon dan menerjemahkan jawaban dalam tempo cepat dan dalam waktu yang
dibatasi.
Terburu-buru mengerjakan. Jangan terburu buru mengerjakan soal tes ini meskipun anda
memiliki asumsi jawaban yang paling benar, karena ini tes kerja, bukan tes semesteran, apa
yang anda jawab paling benar, belum tentu pas dan sesuai dengan kebutuhan perusahaan
institusi rekruiter, Perhatikan dengan cermat arahan tester dan kerjakan dengan penuh
ketelitian, jangan terburu-buru dan terlalu cepat.
Kondisi yang kurang nyaman. Jangan anda meremehkan kondisi ini, jika saat tes. Misalkan
posisi duduk yang kurang nyaman, Mudah berkeringat, alat tulis yang kurang lengkap, mengapa
kondisi kecil seperti ini bisa berpengaruh besar? karena kondisi ini akan mempengaruhi fokus
dan konsentrasi anda.
Contoh Sederhana Tes koran Pauli Kraepelin : Jumlahkan deret angka-angka berikut (diatas dan
dibawahnya) dan tulislah jawabannya diantara kedua angka yang anda jumlahkan.
1 7
3 6
2 9
2 2
0 3
9 5
9 2
3 3
4 1
1 1
7 0
9 8
2 8
0 1
8 3
7 8
9 5
Keterangan : Pada contoh diatas, angka yang dicetak tebal adalah jawaban penjumlahan dari dua
bilangan yang berdekatan (yang diatas dan dibawahnya). 1+2 = 3 ; 2+0= 2 dan seterusnya. Jika hasil
penjumlahan lebih dari dua digit, maka ditulis digit terakhirnya saja. Misal 8+9= 17 (ditulis angka 7 saja)
Analitic Logic Papikostik.
Pasikotes papikostik sebenarnya identik dengan MAPP Test, yang intinya adalah mengukur dan
mengetahui kepribadian seseorang dari beberapa aspek yang paling utama adalah berkaitan dengan
situasi dalam lingkungan kerja, dan lebih internal. Aspek yang paling dinilai dan diteliti antara lain
Visionary dan arah kerja, kemampuan kepemimpinan dan manajerial, kemampuan membangun relasi
sosial (Humas), Style dan gaya bekerja, sifat tempramental pada posisi atasan dan bawahan.
Psikotes papikostik dimanfaatkan rekruiter maupun pihak HRD untuk mempermudah
mengevaluasi kompetensi calon karyawan dengan indikator utama adalah pada kemampuan
dalam mengambil keputusan, motivasi dan kemauan dalam meningkatkan prestasi kerja,
kemampuan menyelesaikan tugas-tugas pekerjaan yang kompleks, ketelitian, dan kemampuan
mengendalikan emosi diri serta kepatuhan terhadap aturan infrastruktur perusahaan/institusi
rekruiter.
Untuk mengerjakan psikotes jenis ini peserta biasanya akan diminta menjawab pertanyaan sesuai
dengan kecepatan dan kemampuan menjawabnya. tetapi tidak diberikan batas waktu yang absolute.
Tipe psikotes papikostik berisi rentetan pertanyaan yang berhubungan dengan sifat dan kepribadian diri
sendiri. Untuk menjawab soal tes ini kunci utama adalah kejujuran menjawab apa yang menjadi
kompetensi anda sendiri dan relevansinya dengan struktur perusahaan/institusi rekruiter.
Psikotes papikostik menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang setara dan linear, sehingga akan
sangat sulit dimanipulasi jawabannya oleh para kandidat atau pesertanya. Kenapa demikian? Karena
sekali anda sebagai peserta memanipulasi jawaban yang tidak sesuai dengan kepribadian dan
kompetensi anda, maka soal-soal berikutnya tidak akan mengintepretasikan anda yang sebenarnya,
dampaknya adalah ketika nanti benar-benar menjadi kandidat terpilih akan terjadi miss match antara
justifikasi kerja dengan apa yang telah diselesaikan dalam tes papikostik ini. Secara umum soal ini terdiri
pertanyaan sangat ringkas, sekitar 85 - 110 pertanyaan, tetapi tergantung juga dari pihak rekruiter atau
HRD pengada rekruitasi dan kesesuaiannya dengan visi dan misi institusi atau perusahaan pengada
rekruitasi, karena tes papikostik ini sifatnya lebih internal dan berhubungan langsung dengan
infrastruktur perusahaan terkait, dan identik dengan psikometri.
Sejarah Tes Pauli dan Kraepelin
Emil Kraepelin seorang psikiater akhir abad 19 menciptakan alat Tes Kraepelin yang digunakan sebagai
alat bantu untuk mendiagnosa gangguan otak yaitu alzheimer dan dementia. Tes ini sangat sederhana,
siapapun yang bisa menghitung dapat mengikuti Tes ini. Pada periode tidak lama selanjutnya pada
tahun 1938 Prof. Dr. Richard Pauli bersama Dr. Wilhelm Arnold serta Prof. Dr. Vanmethod
memperbaharui Tes Kraeplin tadi sehingga dapat meningkatkan suatu "check method" yang sangat
menguntungkan dan dapat dipercaya. Metode ini disempurnakan sedemikian rupa oleh Prof. Dr. Pauli
sehingga memungkinkan untuk mendapatkan data tentang kepribadian. Richard Pauli membuat Tes
Kraeplin tersebut sebagai Tes yang distandarisasikan, dan setelah Pauli meninggal pada tahun 1951,
Tes yang di standarisasikan tersebut dinamakan Tes Pauli. Berdasar atas cara yang diajukan oleh Pauli,
Tes ini juga mempunnyai corak eksperimental. Pauli juga menghubungkan metode eksperimental
tersebut dengan karakterologi modern, sehingga Tes Pauli dapat dibandingkan dengan Tes kepribadian.
Tujuan dan kegunaan dari Tes pauli ini adalah mengumpulkan berbagai data berupa:
Daya tahan atau keuletan
Kemauan atau kehendak individu
Emosionalitas
Daya tahan untuk menyesuaikan diri
Stabilitas
Hal-hal tersebut sangat mempengaruhi prestasi yang dicapai seseorang individu. Selain itu ada faktor-
faktor lain yang mempengaruhi achievement peserta, diantaranya:
Faktor fisik, yaitu kondisi badan kita pada pada saat Tes
Faktor psikis, yaitu keadaan jiwa kita pada saat Tes
Pengaruh faktor-faktor tersebut berkaitan erat dengan fase perkembangan yang sedang dilalui
seseorang, sebab keterkaitan dan dominasi faktor-faktor itu mempunyai kondisi yang tidak sama pada
fase perkembangan yang berbeda. Tes PauIi mempunyai makna yang penting karena :
1. Merupakan alat diagnostik yang dapat dipercaya untuk memeriksa batas-batas perbedaan
individu.
2. Dapat untuk mendiagnosis perbedaan kostitutif. Hal itu antara lain didapat dari hasil
pemeriksaan yang menggunakan Tes Pauli. Hasil itu antara lain menunjukkan bahwa daya
tahan wanita lebih besar dari pria, keajegan prestasi orang desa lebih tinggi dari orang kota, dan
sebagainya. Hal-hal tersebut juga menunjukkan bahwa Tes Pauli bisa dimamfaatkan untuk
pemahaman psikologi sosial.
3. Merupakan usaha pemeriksaan prestasi yang cukup baik.
4. Dapat digunakan untuk orang yang menderita luka/gangguan diotak, misal terkena tembakan
dikepala. Hasilnya menunjukkan bahwa luka pada "parietal" dan "frontal" menunjukkan
kurangnya prestasi yang besar, sedang luka pada "occipital" menunjukkan kurangnya prestasi
yang tak terlalu besar (paling minimal).
5. Dapat digunakan sebagai metode untuk mengetahui pengaruh peransangan dari luar (misal
narkotika).
6. Dapat digunakan sebagai diagnostik untuk mendeteksi anak-anak yang sukar dididik. Pada Tes
itu terdapat kurve dengan bentuk-bentuk tertentu untuk mereka yang terhambat
perkembangannya. Untuk mereka yang tidak mempunyai pendirian (Hatloso) dan mereka yang
lemah diri.
7. Sebagai metode pemeriksaan untuk orang yang buta meskipun prestasinya bila dibandingkan
dengan orang yang normal berkurang, akan tetapi prestasi individuil masih terlihat didalam Tes
sebagai prestasi orang yang normal.
8. Sebagai dasar tipologi kepribadian.
9. Suatu metode experimental untuk mendapat pengaruh sikap kerja terhadap prestasi kerja.
10. Merupakan alat pembantu experimental yang menjadi dasar untuk diagnostik karakterologi.
Salah satu segi keuntungan dari Tes Pauli adalah menghilangkan variabel penting yang biasanya dapat
disembunyikan atau pura-pura (faking) dari subjek misal : sifat malu-malu, yang biasanya sukar
dihindari, pada Tes ini tidak begitu berpengaruh pada percobaan-percobaan yang telah dilakukan.
Faktor-faktor yang mendukung reliabitas tinggi adalah :
Ketidaksadaran Pribadi Dalam waktu satu jam lamanya, subjek diberikan waktu yang cukup
untuk dapat menyesuaikan diri dan memindahkan dirinya, sampai pada kemampuan sebenarnya
ditampilkan sejelas-jelasnya. Pengalaman menunjukkan bahwa waktu sepuluh menit sampai
dua puluh menit pertama belum mendapat sesuatu gambaran yang sebenarnya atau bukan
representasi sesungguhnya dari subjek.Dengan waktu yang lama menjadikan representasi
subjek sesungguhnya dapat terlihat profil kepribadian yang sesungguhnya. Menjadi hal umum
bahwa keadaan sadar bahwa "saya sedang diTes" ini memegang peran yang besar pada tiap
eksperimen atau Tes termasuk juga pada Tes Pauli ini.
Memunculkan Situasi Kebersamaan (togethnerness situation) Perasaan-perasaan yang
menghambat/merugikan dalam pelaksanaan Tes biasanya dihinggapi subjek, misalkan rasa
malu atau takut, yang timbul ketika mengerjakan sesuatu dan diamati. Hal ini akan hilang, atau
setidak-tidaknya berkurang pada pelaksanaan Tes ini apabila diberikan secara klasikal.
Menimbulkan persaingan (competitiveness) Karena pelaksanaannya bentuk klasikal, maka
dengan sendirinya akan timbul persaingan dalam menyelesaikan masalah yang
dihadapi.Apabila seseorang individu telah menyelesaikan satu halaman, dan individu lain belum
selesai maka individu yang belum selesai akan berusaha menyamai atau mengejar individu
yang sudah selesai tadi.
Rendahnya pembelajaran Peserta dapat saja belajar menghitung, mendapatkan saran atau
sugesti dari orang lain sebelum Tes. Namun apabila Tes sudah berlangsung, kesadaran akan
pembelajaran dan saran dari orang lain akan terlupakan ketika sudah mencapai pada menit ke-
15 sampai 20, karena situasi psikis akan banyak difokuskan pada penjumlahan yang harus
dikerjakan.
Batasan usia Sejak usia tujuh tahun bagi mereka yang telah dapat berhitung, dapat
mengerjakan Tes ini dengan tidak memandang jenis kelamin,pendidikan, bakat, kemampuan
umum dan atribut lain. Tes Pauli dengan kekuatannya maka dengan jelas dapat dikatakan
bahwa Tes ini penting dan memuat banyak potensi dari segi kepribadian. Aspek kepribadian
yang dapat dilihat adalah:
1. Kekuatan kehendak/kemauan
2. Daya tahan/keuletan
3. Ketekunan/kosentrasi
4. Daya penyesuaian diri
5. Vitalitas
Selain itu juga bisa dilihatnya:
1. Kecermatan
2. Ketelitian
3. Stabilitas dan labilitas
Keseluruhan ini mempunnyai pengaruh prestasi yang dicapai oleh seseorang dalam menjalankan
Tes Pauli ini: Untuk mendapat suatu prestasi yang setinggi-tingginya diperlukan berbagai faktor
atau syarat yang harus dipenuhi, diantaranya adalah:
Faktor-faktor yang bersifat umum:
1. Potensi intelegensi yang cukup
2. Stabilitas emosi
3. Pengalaman
4. Daya tahan
Faktor-faktor khusus sesuai dengan tugasnya
1. Bakat
2. Sikap seseorang terhadap tugasnya
3. Kemahiran tertentu
Faktor-faktor diatas dapat merupakan faktor yang mempengaruhi, baik menghambat maupun
mendorong untuk mempertinggi prestasi seseorang. Faktor-faktor tadi dapat dilihat dalam kurva grafik
kerja hasil kerja seseorang. Dalam pelaksanaan Tes Pauli, untuk mencapai prestasi yang maksimal,
individu diharapkan untuk dengan cepat menguasai suatu keadaan atau tugas yang senada (menonton).
Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa faktor stabilitas dari seseorang memegang peranan, apakah irama
kerja dari Tes ini dapat dikuasai atau tidak, stabilitas ini tampak jelas pada grafik Tes Pauli. Mengenai
kecermatan dan ketelitian dalan Tes Pauli erat sekali hubungannya dengan prestasi baik secara
kualitatif maupun kuantitatif. oleh karena itu bisa dimengerti bahwa bagi mereka yang kurang teliti atau
kurang cermat, hasil kualitatif menjadi lebih kecil, sekalipun hasil kuantitatifnya besar. Dapat dikatakan
bahwa bila individu yang secara kuantitas berprestasi tinggi tidaklah selalu berprestasi tinggi pula secara
kualitatif. Yang dimaksud kualitatif disini adalah prestasi yang dicapai oleh seseorang individu tanpa
memperhatikan jumlah kesalahan yang diperbuatnya.
Tes Pauli bersifat universal, artinya Tes ini dapat digunakan tanpa melihat latar belakang
subjek,yang penting adalah subjek dapat berhitung. Adanya pendapat yang menolak adanya Tes
Pauli adalah kurang beralasan. Dari Tes Pauli dapat diambil beberapa faktor, baik untuk
diagnosis maupun keperluan lain pada dasarnya sebagai berikut:
Stabilitas
Daya tahan
Vitalitas
Ketelitian
Emosionalitas
Daya penyesuaian
Ketekunan dan kosentrasi
Selain itu dalam pemeriksaan Tes, harus diperhatikan faktor-faktor yang cenderung konstan
yaitu:
Material Tes Pauli
Prosedur pelaksanaan
Experimental
Waktu pelaksanaan Tes, misalnya bila subjeknya banyak, pagi tak selesai, maka hendaknya
dilanjutkan besok pagi berikutnya untuk sisanya, jadi yang dilanjutkan pada sore hari.
Situasi sekeliling
Faktor lain yaitu :
Sikap subjek terhadap Tes
Faktor individu yang harus diperhatikan:
Kebudayaan
Keadaan sosial
Keadaan fisik
Pandangan hidup
Dorongan-dorongan
Usia
Pendidikan
Pengalaman-pengalaman
Latihan tes mencari angka hilang merupakan salah satu bentuk psikotes untuk mengukur
penalaran kritis selain logika yang berhubungan langsung dengan operasi bilangan matematika.
Dalam dunia kerja aplikasi tes ini bisa digunakan untuk mendapatkan indikator kreativitas kandidat
dalam bidang kerja tertentu dalam menemukan solusi atas sebuah permasalahahan dengan cepat dan
tepat serta dalam pressure dan tempo tinggi. Untuk berlatih tes mencari angka hilang silahkan boleh
masuk disini/pada menu bagian bawah pada psikotes online maupun pada tes mencari susunan angka
hilang pada deret huruf, Persiapkan dari sekarang, agar lebih ready kapan saja anda menghadapi
berbagai peluang kerja sesuai bidang dan kompetensi anda. Atau anda bisa tambah belajar sekalian
semua jenis psikotes dalam satu program psikotes lengkap dengan user guide.