Anda di halaman 1dari 62

PERILAKU PERSONAL HYGIENE ORGAN REPRODUKSI WANITA PADA

ANAK SEKOLAH DASAR YANG TELAH MENGALAMI MENSTRUASI DI


KECAMATAN KAPONGAN KABUPATEN SITUBONDO





PROPOSAL SKRIPSI




Oleh
Sumiyati Andayaning Tias
NIM 092110101046



BAGIAN PROMOSI KESEHATAN DAN ILMU PERILAKU
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS JEMBER
2014

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak mengatakan
bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun dan termasuk anak
yang masih dalam kandungan. Sedangkan menurut Undang-Undang RI Nomor 4
tahun 1979 tentang kesejahteraan anak yang dimaksud dengan anak adalah
seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin. Dalam
tumbuh kembangnya anak akan mengalami masa remaja. Batasan remaja menurut
WHO adalah 12-24 tahun. Menurut Departemen kesehatan RI antara 10-19 tahun
dan belum kawin. Menurut BKKBN adalah 10-19 tahun (Widyastuti, 2009). Masa
remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan
psikis. Masa remaja yakni antara usia 10-19 tahun, adalah suatu periode masa
pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa pubertas
(Widyastuti, 2009).
Masa pubertas merupakan tahapan penting dalam perkembangan
seksualitasnya, tidak ada batasan waktu yang tegas mengenai masa peralihan
antara masa kanak-kanak menjadi dewasa, tetapi pada wanita umumnya masa
pubertas dimulai pada saat usia 8-14 tahun dan berlangsung kurang lebih selama 4
tahun (Proverawati, 2009). Pada masa globalisasi teknologi dan informasi
sekarang sebagian anak umur 10-11 tahun cepat mengalami kematangan seksual
yaitu pada anak perempuan ditandai dengan adanya menarche pada usia dini. Usia
10-11 tahun termasuk dalam pembagian tahap remaja awal, dimana mereka
mengalami perubahan fisik dan psikis sehingga mereka membutuhkan informasi
yang benar untuk mempersiapkan mental dalam menghadapi menarche
(Widyastuti, 2009).
Usia menarche dalam 100 tahun terakhir ini telah bergeser ke usia yang
lebih muda. Weiss dalam Derina (2011) menyatakan bahwa 100 tahun yang lalu
usia gadis-gadis Vienna pada waktu menarche berkisar antara 15-19 tahun.
2



Sekarang usia gadis remaja pada waktu menarche bervariasi lebar, yaitu antara
10-16 tahun tetapi rata-rata 12,5 tahun. Sesuai dengan penelitian Dwiriani dan
Lusiana (2007) yang dilakukan pada anak perempuan sekolah dasar di Bogor
menunjukkan bahwa sebesar 86,7% mengalami menarche pada umur 10-11 tahun
dan sebesar 13.3% mengalami menarche pada umur kurang dari 10 tahun. Hasil
Riskesdas 2010 menunjukkan bahwa rata-rata usia menarche 13-14 tahun terjadi
pada 37,5% anak Indonesia. Rata-rata usia menarche 11-12 tahun terjadi pada
30,3% pada anak-anak di DKI J akarta, dan 12,1% di Nusa Tenggara Barat. Rata-
rata usia menarche 17-18 tahun terjadi pada 8,9% anak-anak di Nusa Tenggara
Timur, dan 2,0% di Bengkulu. 2,6% anak-anak di DKI J akarta sudah
mendapatkan haid pertama pada usia 9-10 tahun, dan terdapat 1,3% anak-anak di
Maluku dan Papua Barat yang baru mendapatkan haid pertama pada usia 19-20
tahun. Umur menarche 6-8 tahun sudah terjadi pada sebagian kecil (<0,5%) anak-
anak di 17 provinsi, sebaliknya umur menarche 19-20 tahun merata terdapat di
seluruh provinsi (Departemen kesehatan RI, 2010).
Masalah kesehatan reproduksi mendapat perhatian khusus secara global
sejak diangkatnya isu tersebut dalam Konferensi Internasional tentag
Kependudukan dan Pembangunan (Internasional Conference on Population and
Development, ICPD), di Kairo, Mesir pada tahun 1994. Sejak saat itu masyarakat
internasional secara konsisten mengukuhkan hak-hak remaja akan informasi
tentang kesehatan reproduksi dan pelayanan kesehatan reproduksi dan pelayanan
kesehatan (BKKBN, 2012). Pemerintah Indonesia pada tahun 2000 telah
mengangkat kesehatan reproduksi remaja menjadi program nasional. Program
kesehatan reproduksi merupakan upaya pelayanan untuk membantu remaja
memiliki status kesehatan reproduksi yang baik terhindar dari risiko penyakit
seksualitas, HIV/AIDS, dan NAPZA dan memiliki status kesehatan reproduksi
yang sehat (BKKBN, 2008).
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)
mengusulkan adanya kurikulum kesehatan reproduksi mulai dari Sekolah Dasar
sampai Perguruan Tinggi pada tahun 2013 lalu. Namun sampai saat ini hal
tersebut belum bisa diwujudkan karena Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
3



belum menanggapi pendidikan kesehatan reproduksi masuk ke dalam kurikulum
pendidikan (Kusmiyati, 2013). BKKBN juga menyebutkan di dalam rencana aksi
program kesehatan reproduksi bahwa pada akhir tahun 2010 seluruh sekolah SMP
dan SMA serta pesantren telah menyelenggarakan pembekalan kesehatan
reproduksi kepada para siswa/santrinya, tetapi Sekolah Dasar tidak termasuk
didalamnya.
Pada era globalisasi dan modernisasi ini telah terjadi perubahan dan
kemajuan disegala aspek dalam menghadapi perkembangan lingkungan,
kesehatan dan kebersihan, dimana masyarakat dituntut untuk selalu menjaga
kebersihan fisik dan organ atau alat tubuh. Salah satu organ tubuh yang penting
serta sensitif dan memerlukan perawatan khusus adalah alat reproduksi. Letak alat
reproduksi pada daerah yang tertutup dan berlipat ditambah lagi bila berkeringat,
akan menjadi lembab sehingga memudahkan bakteri berkembang biak dan dapat
menimbulkan gangguan pada alat reproduksi. Oleh karena itu, kita harus
menjaganya dengan melakukan perawatan alat reproduksi bagian luar (Salmah,
2008). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Puspitaningrum (2012) terhadap anak
sekolah dasar usia 10-11 tahun di kota Semarang menunjukkan bahwa dari 100
responden mempunyai praktik kurang dalam perawatan organ genitalia bagian
luar sebanyak 66% dan yang memiliki praktik baik dalam perawatan organ
genitalia bagian luar sebanyak 34%.
Kebersihan daerah organ reproduksi penting untuk dijaga karena kuman
mudah sekali masuk dan dapat menimbulkan penyakit pada saluran reproduksi.
Menjaga kebersihan daerah kewanitaan bukan sesuatu yang mudah untuk
dilakukan, terutama untuk anak-anak usia sekolah yang belum mengerti tentang
kesehatan reproduksi. Oleh sebab itu pemberian informasi mengenai perilaku
personal higiene organ reproduksi saat menstruasi sangat penting diberikan pada
anak sekolah dasar. Informasi mengenai kebersihan organ reproduksi terutama
saat menstruasi dapat berasal dari berbagai sumber misalnya orang tua, teman
sebaya, guru, dan media massa (BKKBN, 2005b). Hal ini sesuai dengan
penelitian Mudey et all., (2010) di India yang menyatakan bahwa anak perempuan
mendapat informasi kebersihan organ reproduksi saat menstruasi dari ibu sebesar
4



41%, dari media sebesar 24%, dan dari teman sebaya sebesar 19%. Penelitian lain
yang dilakukan terhadap anak sekolah dasar di kota Semarang menunjukkan
bahwa orang tua tidak pernah menyampaikan mengenai perawatan alat kelamin
ketika menstruasi sebanyak 59%, responden tidak pernah mengakses informasi
tentang perawatan alat kelamin pada perempuan sebanyak 53%, dan responden
tidak pernah berdiskusi dengan teman sebayanya tentang perawatan alat kelamin
sebanayak 66% (Puspitaningrum, 2012).
Kebiasaan menjaga kebersihan, termasuk kebersihan organ-organ seksual
atau reproduksi merupakan awal dari usaha menjaga kesehatan. Pada saat
menstruasi organ reproduksi sangat mudah terkena infeksi. Salah satu keluhan
yang dirasakan pada saat menstruasi adalah rasa gatal yang disebabkan oleh
jamur. Infeksi yang ditimbulkan akibat higiene saat menstruasi yang buruk yaitu
trikomonas vaginalis yang disebabkan oleh bakteri Trikomonas Vaginalis. Infeksi
lain adalah kandidiasis, infeksi ini disebabkan oleh jamur Candida albicans
(Gandahusada, et al. 2004). Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Situbondo
pada tahun 2012 ditemukan kasus penyakit kelamin di Kecamatan Kapongan yang
dikategorikan ke dalam penyakit non gonorrhea pada anak usia 10-14 tahun
sebanyak 1 anak (2,02%) dari 202 kasus. Program yang telah dilakukan oleh
pemerintah Kabupaten Situbondo terkait kesehatan reproduksi yaitu adanya
penyuluhan di sekolah kecuali di Sekolah Dasar.
Kabupaten Situbondo salah satu kota tertinggal di daerah J awa Timur. Hal
ini diperkuat dengan pernyataan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal
tahun 2012 bahwa Situbondo termasuk dalam kategori 5 daerah tertinggal di
Propinsi J awa Timur yang didasarkan 6 kriteria utama, yakni perekonomian
masyarakat, sumber daya manusia (SDM), infrastruktur berupa prasarana
kemampuan keuangan lokal, aksesibilitas, dan karakteristik daerah (Taufiq, 2012).
Kabupaten Situbondo merupakan daerah yang kental dengan etnis tertentu.
Masalah perilaku kesehatan reproduksi yang berkaitan dengan kebersihan diri saat
menstruasi tidak dapat hanya sekedar dari aspek medis melainkan juga harus
melibatkan aspek kultural dan keagamaan yang mendominan pola pikir
masyarakat Situbondo. Adanya anggapan bahwa menstruasi merupakan hal yang
5



tabu untuk diperbincangkan dan menganggap anak akan tahu dengan sendirinya,
hal ini menambah permasalahan tentang kesehatan reproduksi khususnya
kebersihan diri saat menstruasi pada anak sekolah dasar. Oleh sebab itu, peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian mengenai perilaku personal higiene organ
reproduksi wanita pada anak Sekolah Dasar yang telah mengalami menstruasi.


1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang, maka rumusan pertanyaan
penelitian ini adalah Apa sajakah faktor yang berhubungan dengan perilaku
personal higiene organ reproduksi wanita pada anak sekolah dasar yang
mengalami menstruasi di Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo?


1.3 Tujuan Penelitian
13.1 Tujuan Umum
Menganlisis faktor yang berhubungan dengan perilaku personal higiene
organ reproduksi wanita pada anak sekolah dasar yang mengalami menstruasi di
Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo.

1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan faktor pribadi seperti faktor demografi (usia, pendidikan
orang tua, pekerjaan orang tua, lama menstruasi, awal menstruasi, dan
gangguan saat menstruasi), pengetahuan, dan sikap responden.
b. Mendeskripsikan faktor lingkungan seperti peran orang tua, media, guru
dan teman sebaya.
c. Mendeskripsikan perilaku personal higiene organ reproduksi wanita anak
sekolah dasar yang mengalami menstruasi.
6



d. Menganalisis hubungan antara faktor pribadi faktor demografi (usia,
pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, lama menstruasi, awal
menstruasi, dan gangguan saat menstruasi), pengetahuan, dan sikap
responden dengan perilaku personal higiene organ reproduksi wanita pada
anak sekolah dasar yang telah mengalami menstruasi.
e. Menganalisis hubungan antara faktor lingkungan seperti peran orang tua,
media, guru dan teman sebaya dengan perilaku personal higiene organ
reproduksi wanita pada anak sekolah dasar yang telah mengalami
menstruasi.

1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menambah dan
mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan di bidang promosi kesehatan dan
ilmu perilaku khususnya yang berkaitan dengan perilaku personal higiene organ
reproduksi anak sekolah dasar yang menstruasi sehingga dapat dijadikan bahan
diskusi serta penelitian lanjutan dalam bidang tersebut.


14.2 Manfaat Praktis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengembangkan upaya promotif
terkait perilaku personal higiene organ reproduksi anak sekolah dasar yang
menstruasi.
b. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan dan informasi bagi
anak sekolah dasar khususnya yang mengalami menstruasi.
c. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan dan informasi bagi
pihak-pihak terkait seperti Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, BP2KB,
Dinas Sosial, dan LSM.
d. Sebagai acuan dan data dasar bagi peneliti selanjutnya mengenai perilaku
personal higiene organ reproduksi anak sekolah dasar yang menstruasi.
7
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Perilaku
2.1.1 Pengertian Perilaku
Perilaku dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang
bersangkutan, baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung.
Perilaku manusia pada hakikatnya adalah suatu aktivitas dari manusia itu sendiri,
yang mempunyai bentangan sangat luas mencakup berjalan, berbicara, bereaksi,
berpakaian, berpikir, persepsi dan emosi. Perilaku dan gejala perilaku yang tampak
pada kegiatan organisme tersebut dipengaruhi oleh faktor keturunan (genetik) dan
lingkungan ini merupakan penentu dari perilaku makhluk hidup termasuk perilaku
manusia. Hereditas atau faktor keturunan merupakan konsepsi dasar atau modal untuk
perkembangan perilaku makhluk hidup itu untuk selanjutnya. Sedangkan lingkungan
merupakan kondisi atau lahan untuk perkembangan perilaku tersebut (Notoatmodjo,
2007).
Skinner (1938) dalam (Notoadmodjo, 2007), seorang ahli psikologi
merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap
stimulus (rangsangan dari luar). Oleh karena itu terjadi melalui proses adanya
stimulus terhadap organism dan kemudian organism tersebut merespon, maka teori
ini disebut teori S-O-R atau Stimulus-Organisme-Response. Dalam hal ini ada 2 (
dua) respon, yaitu :
a. Informant respons atau reflextive
Respon yang ditimbulkan oleh rangsangan-rangsangan (stimulus) tertentu.
Stimulus semacam ini disebut eliciting stimulation karena menimbulkan
respon-respon yang relatif tetap.
b. Operant respons atau instrumental respons
Respon yang timbul dan berkembang kemudian diikuti oleh stimulus atau
perangsang tertentu.
8

Berdasarkan rumus teori Skinner tersebut maka perilaku manusia dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu (Notoadmodjo, 2007):
a. Perilaku tertutup (covert behavior)
Perilaku tertutup terjadi bila respon terhadap stimulus tersebut masih belum
dapat diamati orang lain (dari luar) secara jelas. Respon terhadap stimulus
masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, pengetahuan dan
sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus tersebut dan belum
dapat diamati secara jelas oleh orang lain. Oleh sebab itu, disebut covert
behaviour atau unobservable behaviour.
b. Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka.
Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau
praktek, yang mudah diamati atau dilihat orang lain. Oleh sebab itu disebut
overt behaviour, tindakan nyata atau praktik (practice).
Perilaku seseorang adalah sangat kompleks, dan mempunyai ruang lingkup
yang sangat luas. Menurut Benyamin Bloom (1908) dalam Notoatmodjo (2010)
bahwa perilaku dibagi dalam 3 domain yakni kognitif (cognitive), afektif (affective),
dan psikomotor (psychomotor). Dalam perkembangan selanjutnya, berdasarkan
pembagian domain oleh Bloom ini, dan untuk kepentingan pendidikan praktis,
dikembangkan menjadi 3 tingkat ranah perilaku, yaitu pengetahuan (knowledge),
sikap (attitude), dan tindakan atau praktik (practice).
a. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseorang
terhadap objek melalui indera yang dimilikinya (mata, hidung, telinga, dan
sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sehingga menghasilkan
pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi
terhadap objek. Pengetahuan seseorang terhadap objek mempunyai intensitas atau
tingkat yang berbeda-beda. Sebagian besar pengetahuan seseorang diperoleh melalui
indera pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata).
9

Pengetahuan seksualitas merupakan pengetahuan yang menyangkut cara
seseorang bersikap atau bertingkah laku yang sehat, bertanggung jawab serta tahu apa
yang dilakukannya, dan apa akibat bagi dirinya, pasangannya dan masyarakat
sehingga dapat membahagiakan dirinya juga dapat memenuhi kebutuhan seksualnya
(Wildan dalam Amrillah, 2006).
Secara garis besarnya Notoatmodjo (2010) membagi dalam 6 tingkat
pengetahuan, yaitu:
1) Tahu (know)
Tahu diartikan hanya sebagai recall (memanggil) memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu. Untuk mengukur bahwa seseorang
tahu, dapat diukur dari kemampuan seseorang dalam menyebutkan,
menguraikan, mendefinisikan, dan sebagainya.
2) Memahami (comprehension)
Memahami suatu objek bukan sekadar tahu terhadap objek tersebut, tidak
sekadar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus dapat
menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui tersebut.
3) Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang dimaksud,
dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang diketahui tersebut pada
situasi yang lain.
4) Analisis (analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan/atau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen yang
terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi bahwa
pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis adalah apabila
orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan, mengelompokkan,
membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan atas objek tersebut.


10

5) Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjukkan suatu kemampuan seseorang untuk merangkum atau
meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-komponen
pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan
untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada.
Menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan justifikasi
atau penilaian terhadap suatu objek tertentu. Penilaian ini dengan sendirinya
didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau norma-norma yang
berlaku dimasyarakat.
b. Sikap (Attitude)
Sikap adalah juga respons tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek
tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan
(senang-tidak senang, setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya). Fungsi
sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas, akan tetapi
merupakan predisposisi perilaku (tindakan), atau reaksi tertutup. Dalam menentukan
sikap yang utuh, pengetahuan, pikiran, keyakinan, dan emosi memegang peranan
penting (Notoatmodjo, 2010).
Dalam Notoatmodjo (2010), seperti halnya pengetahuan, sikap juga mempunyai
tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut:
1) Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang atau subjek mau menerima stimulus yang
diberikan (objek).
2) Menanggapi (responding)
Menanggapi disini diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap
pertanyaan atau objek yang dihadapi.


11

3) Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai yang positif
terhadap objek atau stimulus, dalam arti membahasnya dengan orang lain,
bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain
merespons.
4) Bertanggung jawab (Responsible)
Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa
yang telah diyakininya. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu
berdasarkan keyakinannya, dia harus berani mengambil risiko bila ada orang
lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain.
c. Tindakan (Practice)
Secara logis, sikap akan dicerminkan dalam bentuk tindakan namun tidak dapat
dikatakan bahwa sikap dan tindakan memiliki hubungan yang sistematis. Suatu sikap
belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behavior). Untuk terwujudnya
sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi
yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas dan faktor dukungan (support) dari
pihak lain (Notoatmodjo, 2010).
Selanjutnya Notoatmodjo (2010) membagi praktik atau tindakan ini menjadi 3
tingkatan menurut kualitasnya, yakni:
1) Praktik terpimpin (guided response)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan sesuatu tetapi masih tergantung
pada tuntunan atau menggunakan panduan. Misalnya, seorang ibu
memeriksakan kehamilannya tetapi masih menunggu diingatkan oleh bidan
atau tetangganya, adalah masih disebut praktik atau tindakan terpimpin.
2) Praktik secara mekanisme (mechanism)
Apabila subjek atau seseorang telah melakukan atau mempraktikkan sesuatu hal
secara otomatis maka disebut praktik atau tindakan mekanis. Misalnya seorang
ibu selalu membawa anaknya ke Posyandu untuk ditimbang, tanpa harus
menunggu perintah dari kader atau petugas kesehatan.
12

3) Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu tindakan atau praktik yang sudah berkembang. Artinya,
apa yang dilakukan tidak sekadar rutinitas atau mekanisme saja, tetapi sudah
dilakukan modifikasi, atau tindakan atau perilaku yang berkualitas. Misalnya
menggosok gigi, bukan sekadar gosok gigi, melainkan dengan teknik-teknik
yang benar.


2.2 Personal Higiene
2.2.1 Pengertian Personal Higiene
Personal hygiene berasal dari bahasa Yunani yaitu Personal artinya
perorangandan Hygiene berarti sehat. Kebersihan perorangan adalah suatu tindakan
untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan
psikis (Wartonah, 2006). Menurut Perry dan Potter (2005) personal hygiene adalah
cara perawatan diri manusia untuk memelihara kesehatan mereka. Pemeliharaan
higiene perorangan diperlukan untuk kenyamanan individu, keamanaan, dan
kesehatan. Praktek hygiene sama dengan meningkatkan kesehatan. Tujuan melakukan
personal hygiene yaitu meningkatkan derajat kesehatan seseorang, memelihara
kebersihan diri seseorang, mencegah penyakit, menciptakan keindahan serta
meningkatkan rasa percaya diri.

2.2.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Personal Hygiene
Faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan personal hygiene
(Perry dan Potter, 2005), yaitu :
a. Citra tubuh
Penampilan umum pasien dapat menggambarkan pentingnya higiene pada orang
tersebut. Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan
fisiknya. Citra tubuh ini dapat sering berubah. Citra tubuh mempengaruhi cara
mempertahankan hygiene. Citra tubuh dapat berubah akibat adanya pembedahan
13

atau penyakit fisik maka harus membuat suatu usaha ekstra untuk meningkatkan
higiene.
b. Praktik Sosial
Kelompok-kelompok sosial wadah seseorang pasien berhubungan dapat
mempengaruhi praktik higiene pribadi. Selama masa kanak-kanak, kanak-kanak
mendapatkan praktik hygiene dari orang tua mereka. Kebiasaan keluarga, jumlah
orang dirumah, dan ketersediaan air panas dan atau air mengalir hanya
merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi perawatan kebersihan.
c. Status Sosio Ekonomi
Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik
kebersihan yang dilakukan. Apakah dapat menyediakan bahan-bahan yang
penting seperti deodoran, sampo, pasta gigi, dan kosmestik (alat-alat yang
membantu dalam memelihara higiene dalam lingkungan rumah).
d. Pengetahuan
Pengetahuan tentang pentingnya higiene dan implikasinya bagi kesehatan
mempengaruhi praktik higiene. Kendati demikian, pengetahuan itu sendiri tidak
cukup, harus termotivasi untuk memelihara perawatan diri.
e. Kebudayaan
Kepercayaan kebudayaan pasien dan nilai pribadi mempengaruhi perawatan
higiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengikuti praktek perawatan
diri yang berbeda.
f. Pilihan Pribadi
Kebebasan individu untuk memilih waktu untuk perawatan diri, memilih produk
yang ingin digunakan, dan memilih bagaimana cara melakukan higiene.
g. Kondisi Fisik
Pada keadaan sakit tertentu kemampuan untuk merawat diri berkurang sehingga
perlu bantuan untuk melakukan perawatan diri.


14

2.3 Organ Reproduksi Wanita
2.3.1 Anatomi
Perempuan mempunyai organ reproduksi yang berfungsi sebagai jalan masuk
sperma ke dalam tubuh perempuan dan sebagai pelindung organ kelamin dalam dari
berbagai organisme penyebab infeksi. Organisme penyebab infeksi dapat masuk ke
organ dalam perempuan karena saluran reproduksi perempuan memiliki lubang yang
berhubungan dengan dunia luar, sehingga mikroorganisme penyebab penyakit bisa
masuk dan menyebakan infeksi. Anatomi organ reproduksi perempuan terdiri atas
vulva, vagina, serviks, rahim, saluran telur, dan indung telur (Wiknjosastro, 2005).
1) Vulva
Vulva merupakan suatu daerah yang menyelubungi vagina. Vulva terdiri atas
mons pubis, labia (labia mayora dan labia minora), klitoris, daerah ujung luar vagina
dan saluran kemih (Sloane, 2005).
2) Vagina
Vagina merupakan saluran elastis, panjangnya sekitar 8-10 cm, dan berakhir
pada rahim. Vagina dilalui oleh darah pada sat menstruasi dan merupakan jalan lahir.
Karena terbentuk dari otot, vagina bisa melebar dan menyempit. Ujung yang terbuka,
vagina ditutupi oleh selaput tipis yang disebut selaput dara (Wiknjosastro, 2005).
3) Serviks
Serviks dikenal juga sebagai mulut rahim. Serviks merupakan bagian terdepan
dari rahim yang menonjol ke dalam vagina sehingga berhubungan dengan vagina
(Wiknjosastro, 2005).
4) Rahim (uterus)
Uterus merupakan organ yang memiliki peranan besar dalam reproduksi
perempuan, yakni saat menstruasi hingga melahirkan. Uterus terdiri dari 3 lapisan,
yaitu lapisan perimetrium, lapisan myometrium dan lapisan endometrium (Sloane,
2005).


15

5) Saluran telur (tuba fallopi)
Tuba fallopi membentang sepanjang 5-7 cm, 6 cm dari tepi atas rahim kearah
ovarium. Ujung dari tuba kiri dan kanan membentuk corong sehingga memiliki
lubang yang lebih besar agar sel telur jatuh kedalamnya ketika dilepaskan dari
ovarium (Sloane, 2005).
6) Indung telur (ovarium)
Ovarium atau indung telur tidak menggantung pada tuba falllopi tetapi
menggantung dengan bantuan sebuah ligamen. Sel telur bergerak di sepanjang tuba
fallopi dengan bantuan silia (rambut getar) dan otot pada dinding tuba. Sejak pubertas
setiap bulan secara bergantian ovarium melepas satu ovum dari folikel de graaf
(folikel yang telah matang) (Wiknjosastro, 2005).

2.3.2 Cara Menjaga Kebersihan Organ Reproduksi
Menurut Kissanti (2008) organ reproduksi perempuan mudah terkena bakteri
yang dapat menimbulkan bau tak sedap di daerah kelamin dan infeksi. Maka
perempuan perlu menjaga kebersihan organ reproduksi seperti:
1) Mencuci vagina setiap hari dengan cara membasuh dari arah depan (vagina)
ke belakang (anus) secara hati-hati menggunakan air bersih dan sabun yang
lembut setiap habis buang air kecil, buang air besar dan mandi.
2) Sering ganti pakaian dalam, paling tidak sehari dua kali di saat mandi.
3) Pada saat menstruasi, gunakan pembalut berbahan lembut, menyerap dengan
baik, tidak mengandung bahan yang membuat alergi (misalnya parfum atau
gel) dan merekat dengan baik pada celana dalam. Pembalut perlu diganti
sekitar 4-5 kali dalam sehari untuk menghindari pertumbuhan bakteri yang
dapat masuk ke dalam vagina.
4) Selalu mencuci tangan sebelum menyentuh vagina.
5) Selalu gunakan celana dalam yang bersih, kering dan terbuat dari bahan katun.
6) Hindari menggunakan handuk atau waslap milik orang lain untuk
mengeringkan vagina.
16

7) Mencukur sebagian dari rambut kemaluan untuk menghindari kelembaban
yang berlebihan di daerah vagina.


2.4 Anak
2.4.1 Pengertian Anak
Menurut Undang-Undang No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, anak
adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun dan termasuk anak yang masih dalam
kandungan. Sedangkan menurut Undang-Undang RI Nomor 4 tahun 1979 tentang
kesejahteraan anak yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum
mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin. Dalam tumbuh kembangnya anak
akan mengalami masa remaja. Batasan remaja menurut WHO adalah 12-24 tahun.
Menurut Departemen kesehatan RI antara 10-19 tahun dan belum kawin. Menurut
BKKBN adalah 10-19 tahun (Widyastuti, 2009).
Menurut John locke (dalam Winarno, 2012) anak adalah pribadi yang masih
bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan. Sobur
(dalam Winarno, 2012) mengartikan anak sebagai orang yang mempunyai pikiran,
perasaan, sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa dengan segala keterbatasan
(Winarno, 2012).
Dalam proses perkembangan manusia, dijumpai beberapa tahapan atau fase
dalam perkembangan, antara fase yang satu dengan fase yang lain selalu berhubungan
dan mempengaruhi serta memiliki ciri-ciri yang relatif sama pada setiap anak.
Disamping itu juga perkembangan manusia tersebut tidak terlepas dari proses
pertumbuhan, keduanya akan selalu berkaitan. Apabila pertumbuhan sel-sel otak anak
semakin bertambah, maka kemampuan intelektualnya juga akan berkembang. Proses
perkembangan tersebut tidak hanya terbatas pada perkembangan fisik, melainkan
juga perkembangan psikis (Winarno, 2012).
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa anak merupakan makhluk
sosial yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi
17

perkembangannya. Anak juga mempunyai perasaan, pikiran, kehendak tersendiri
yang kesemuanya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat serta struktur yang
berlainan pada tiap-tiap fase perkembangan pada masa kanak-kanak (anak).
Perkembangan pada suatu fase merupakan dasar bagi fase selanjutnya (Winarno,
2012).

2.4.2 Tumbuh Kembang Anak
Istilah tumbuh kembang sebenarnya mencakup 2 peristiwa yang sifatnya berbeda,
tetapi saling berkaitan dan sulit dipisahkan, yaitu pertumbuhan dan perkembanga.
Sedangkan pengertian mengenai apa yang dimaksud pertumbuhan dan perkembangan
per definisi adalah sebagai berikut:
a. Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah,
ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu yang bisa diukur dengan
ukuran berat (gram, pound, kilogram), ukuran panjang (cm, meter), umur tulang
dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh).
b. Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemapuan (skill) dalam
struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat
diramalkan sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya
proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ
yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing-masing dapat memenuhi
fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku
sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan mempunyai
dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan
fungsi organ atau individu. Walaupun demikian, kedua peristian itu terjadi secara
sinkron pada setiap individu. Sedangkan untuk tercapainya tumbuh kembang yang
optimal tergantung pada potensi biologiknya. Tingkat tercapainya potensi biologik
seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang salling berkaitan, yaitu
faktor genetik, lingkungan bio-fisiko-psiko-sosial dan perilaku. Proses yang unik dan
18

hasil akhir yang berbeda-beda yang memberikan ciri tersendiri pada setiap anak
(Soetjiningsih, 2005).


2.5 Menstruasi
2.5.1 Pengertian Menstruasi
Menstruasi merupakan proses siklus pada reproduksi wanita yang ditandai
dengan pengeluaran sel telur setiap bulan secara alami, hal ini terjadi jika ovum tidak
dibuahi kira-kira 2 hari sebelum akhir seklus bulanan, korpus luteum di ovarium akan
berinvolusi dan hormon-hormon ovarium seperti estrogen dan progesteron
mengalami penurunan tajam sampai kadar sekresi yang rendah. Produksi estrogen
dan progesteron yang berulang oleh ovarium memiliki kaitan dengan siklus
endometrium pada lapisanuterus yang bekerja melalui beberapa tahapan yaitu
proliferasi endometrium uterus, perubahan sekretoris pada endometrium dan
deskuamasi endometrium (Yanuar, 2007).

2.5.2 Siklus Menstruasi
Siklus menstruasi menandakan fluktuasi irama hormon hipotalamus, hipofisis,
dan ovarium serta perubahan morfogis yang dihasilkan pada ovarium dan
endometrium uterus. Menstruasi adalah pendarahan bulanan yang terjadi jika bagian
endometrium luruh dan dikeluarkan melalui vagina. Rentang siklus menstruasi
biasanya berkisar selama 28 hari, walaupun sangat beragam. Siklus terpendek 18 hari
atau terpanjang 40 hari masih dianggap normal (Sloane, 2005).
Siklus menstruasi dipengaruhi oleh serangkaian hormon yang diproduksi oleh
tubuh yaitu luteinizing hormon, follicle stimulating hormone dan estrogen. Selain itu
siklus ini juga dipengaruhi oleh kondisi psikis wanita sehingga bisa maju dan
mundur. Rata-rata siklus wanita menstruasi setiap bulannya cenderung untuk
berubah, karena produksi hormon yang tidak selalu memiliki kadar yang sama (Aulia,
2009).
19

2.5.3 Lamanya Menstruasi
Proses menstruasi akan membuang keluar darah, mukus dan sel-sel yang sudah
mati. Proses ini berlaku dalam tempo yang agak tetap daripada masa akil baligh
sampai masa menopause akan putus haid, kecuali semasa mengandung dan menyusui.
Proses menstruasi bermula sekitar umur 12 atau 13 tahun walaupun ada yang lebih
cepat atau lebih lama umur 9 tahun dan selambat-lambatnya umur 16 tahun. biasanya
menstruasi keluar selama tiga hingga tujuh hari. Ada juga yang sebagian wanita
haidnya hanya sehari saja, ada juga yang mengalami menstruasi selama 15 hari.
Waktu paling lama bagi sebagian wanita kedatangan menstruasi selama 15 hari,
walaupun ada kalanya menstruasi itu datang secara terputus-putus, akan tetapi pada
kondisi lain sebagian wanita juga mengalami menstruasi 2-3 bulan sekali. Hal ini
tergantung dari kesehatan tubuh dan hormon masing-masing wanita (Aulia, 2009).

2.5.4 Gangguan Menstruasi
Gangguan saat menstruasi dinilai masih normal jika terjadi selama dua tahun
pertama setelah haid pertama kali (menarche). Bila seorang wanita telah
mendapatkan haid pertama saat berusia 11 tahun, maka diperkirakan hingga usia 13
tahun haidnya masih tidak teratur. Umumnya ketidakteraturan siklus menstruasi
terjadi pada waktu remaja dan menjelang menopause. Gangguan serta keluhan yang
menyertai menstruasi pada kebanyakan wanita, seringkali menimbulkan pengaruh
secara fisik maupun emosional ataupun kedua-duanya. Gangguan atau kelainan
dalam siklus menstruasi meliputi : (Wiknjosastro, 2005)
a. Metroragia
Proses perdarahan lain yang terjadi di luar proses perdarahan menstruasi.
b. Polimenorea
Adalah panjang siklus menstruasi yang memendek dari panjang siklus
menstruasi klasik, yaitu kurang dari 21 hari per siklusnya, sementara volume
perdarahannya kurang lebih sama atau lebih banyak dari volume perdarahan
menstruasi biasanya.
20

c. Oligomenorea
Adalah panjang siklus menstruasi yang memanjang dari panjang siklus
menstruasi klasik, yaitu lebih dari 35 hari per siklusnya.
d. Amenorea
Adalah panjang siklus menstruasi yang memanjang dari panjang siklus
menstruasi klasik dan tidak terjadinya perdarahan menstruasi, minimal 3 bulan
berturut-turut.
e. Hipermenorea (Menoragia)
Yaitu terjadinya perdarahan menstruasi yang terlalu banyak dari normalnya dan
lebih lama dari normalnya (lebih dari 8 hari).
f. Hipomenorea
Yaitu perdarahan menstruasi yang lebih sedikit dari biasanya, tetapi tidak
mengganggu fertilitas (Wiknjosastro, 2005).

2.5.5 Higiene Menstruasi
Higiene menstruasi adalah komponen higiene perorangan yang memegang
peranan penting dalam perilaku kesehatan seorang perempuan khususnya kebersihan
alat reproduksinya saat menstruasi, perawatan pada alat reproduksi sangat penting
karena beresiko terhadap infeksi (Ester, 2005). Resiko infeksi dapat dihubungkan
dengan situasi personal dan lingkungan yang salah satunya disebabkan karena higiene
pribadi tidak baik (Ester, 2006).


2.6 Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Personal Higiene Organ
Reproduksi Saat Menstruasi
a. Umur
Menstruasi dimulai saat pubertas dan berhenti sesaat waktu hamil atau
menyusui. Mmenstruasi mulai terjadi kira-kira pada umur 9 tahun (paling lambat
21

kira-kira 16 tahun). menstruasi akan berakhir pada saat menopause, ketika seorang
perempuan berusia sekitar 40 sampai 50-an (BKKBN, 2005b).
Anak perempuan yang mengalami menarche lebih awal dianggap suatu beban
baru yang tidak menyenangkan, sehingga mereka malas untuk membersihkan diri dan
menjaga kesehatan jika sedang mengalami menstruasi. Bahkan kadang mereka
enggan untuk mencuci atau mengganti pembalut yang sudah kotor (BKKBN, 2001).
Padahal jika sedang mengalami puncak menstruasi maka volume darah yang
dikeluarkan akan lebih banyak, dan kondisi seperti ini memungkinkan tumbuhnya
bakteri yang dapat menyebabkan penyakit infeksi pada alat kelamin (BKKBN,
2005b).
b. Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu seseeorang
terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata, hidung, telinga dan
sebagainya). Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan
pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi
terhadap objek. Sebagian besar penginderaan seseorang diperoleh melalui indera
pendengaran (telinga), dan indera penglihatan (mata) (Notoatmodjo, 2007). Menurut
Bloom dalam Notoatmodjo (2007) mengidentifikasi beberapa tingkatan pengetahuan
seseorang tentang suatu objek yang meliputi tahu, memahami, aplikasi, analisis,
sentesis, dan evaluasi yaitu tahu (know) merupakan kemampuan mengingat seseorang
terhadap suatu objek yang telah dipelajari sebelumnya contohnya anak sekolah dasar
yang menstruasi dapat mendefinisikan menstruasi, siklus menstruasi, lamanya
menstruasi, permasalahan yang sering terjadi selama periode menstruasi, dan dapat
menyebutkan organ reproduksi wanita. Memahami (comprehension) merupakan
kemampuan untuk menjelaskan dan menginterpretasikanatau menerapkan materi
yang telah diprolehnyake dalam kondisi nyata serta menganalisisnya, anak sekolah
dasar yang menstruasi dapat menjelaskan bagaimana menjaga higienitas menstruasi
dengan dengan menjaga kebersihan saat menstruasi, menyebutkan contoh cara
menjaga kebersihan saat menstrasi. Analisis merupakan kemapuan untuk
22

menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen tertentu,misalanya anak sekolah
dasar yang menstruasi dapat menyusun kegiatan dalam rangka menjaga higienitas
menstruasi dengan menjaga higienitas menstruasi dan menjaga kebersihan diri saat
menstruasi seperti kapan harus mengganti pembalut. Dari penjabaran tersebut,
individu akan mengevaluasi dengan memberikan justifikasi atau penilaian terhadap
materi yang diperolehnya (Notoatmodjo, 2007).
c. Sikap
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap
suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata menunjukkan persamaan adanya
kesesuaian reaksi tterhadap stimulus tertentu dalam kehidupan sehari-hari merupakan
reaksi emosional terhadap stimulus sosial. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan
untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksaan motif tertentu. Sikap belum
merupakan suatu tindakan atau aktifitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu
perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan
tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek. Seperti halnya dengan
pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan meliputi menerima,
menanggapi, menghargai, dan bertanggung jawab. Menerima (receiving) diartikan
bahwa orang (subjek) mau dan memeperhatikan stimulus yang diberikan (objek),
misalnya bagaimana sikap anak sekolah dasar yang menstruasi dapat dilihat dari
kesediaan dan perhatian terhadap informasi tentang menstruasi dan higiene
menstruasi. Menanggapi (responding), memberikan jawaban apabila ditanya,
mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari
sikap. Menghargai (valuting), mengajak orang lain untuk mengerjakan atau
mendiskusikan suuatu masalaha adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga, dimana anak
perempuan mengajak orang lain atau mendiskusikan masalah menstruasi dan
kebersihan diri saat menstruasi adalah suatu bukti bahwa anak perempuan tersebut
telah mempunyai sikap positif terhadap menstruasi dan higiene menstruasi.
Bertanggung jawab (responsible), atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan
segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi (Notoatmodjo, 2007).
23

d. Media Informasi
Wanita perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang
benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya.
Sumber informasi mengenai higiene organ reproduksi dapat berasal dari berbagai
sumber misalnya orang tua, keluarga, teman sebaya, guru, tenaga kesehatan, dan
media massa. Dengan informasi yang benar, diharapkan anak perempuan memiliki
sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi
(BKKBN, 2005b).
e. Guru
Guru berperan untuk memberikan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
kepada siswinya terkait dengan perilaku personal higiene organ reproduksi saat
menstruasi. Informasi dari orang tua yang sebagai lingkungan primer dan adanya
guru di sekolah sebagai lingkungan sekunder tentang kesehatan reproduksi dapat
menunjang pengetahuan dan sikap bagi anak dalam menghadapi perubahan yang
mereka alami agar mereka siap dan tidak mendapatkan informasi yang salah tentang
kesehatan reproduksi (Margawati, 2008).
f. Orang tua
Anak perempuan akan mengalami kesulitan menghadapi menstruasi jika
sebelumnya ia belum mengetahuinya atau membicarakannya dengan ibu atau
keluarga. Idealnya seorang anak perempuan belajar atau mengetahui tentang
kebersihan organ reproduksi dan menstruasi dari ibunya. Peran orang tua sangat
penting dalam hal memberikan informasi tentang proses menstruasi dan kebersihan
organ reproduksi sehingga nantinya menjadi panutan bagi anaknya, karena orang tua
adalah pendidik yang pertama dan utama. Pengetahuan dan sikap orang tua mengenai
menstruasi dan kebersihan organ reproduksi sangat berpengaruh terhadap
pengetahuaan dan sikap anak perempuan terhadap masalah menstruasi. Semakin baik
pengetahuan dan semakin terbuka sikap orang tua, maka semakin besar peluang anak
perempuan terlingdungi dari bahaya atau risiko-risiko kesehatan reproduksi. Anak
perempuan sendiri menginginkan orang tua mereka mempunyai pengetahuan yang
24

cukup untuk membantu mereka memahami dirinya dan perubahan-perubahan yang
terjadi pada dirinya. Cara penyampaian yang bijak dan tidak menakuti-nakuti akan
membuat anak perempuan merasa nyaman untuk berdiskusi tentang masalah
kesehatan reproduksi dengan orang tua (BKKBN, 2005b).
g. Peer Group
Faktor lain diluar keluarga yang menjadi referensi bagi anak perempuan adalah
lingkungan kelompok sebaya (peer group) dan lingkungan sekolah. Berbagai hasil
studi memperlihatkan bahwa para anak perempuan lebih merasa terbuka jika
berdiskusi tentang kesehatan reproduksi dengan orang yang dianggap sebaya dan
mengerti keadaan kehidupan mereka. Karena itulah anak perempuan atau mereka
yang perduli dan paham mengenai kehidupan anak perempuan dapat dijadikan
sebagai tenaga penyuluh, pendidik, pembimbing, dan konselor tentang kesehatan
reproduksi melalui latihan, fasilitasi, bimbingan serta bantuan teknis secara sestematis
(BKKBN, 2005b).


2.7 Teori Belajar Sosial (Sosial Learning Theory)
Asal mulanya teori ini disebut observational learning, yaitu belajar dengan
jalan mengamati perilaku orang lain. Teori ini beranggapan, bahwa masalah proses
psikologi terlalu dianggap penting atau sebaliknya hanya ditelaah sebagian saja.
Menurut teori belajar sosial, yang terpenting ialah kemampuan seseorang untuk
mengabstraksikan informasi dari perilaku orang lain, mengambil keputusan mengenai
perilaku mana yang akan ditiru dan kemudian melakukan perilaku-perilaku yang
dipilih (Shaleh, 2008).
Teori belajar sosial (social learning theory) dari Bandura didasarkan pada:
a. Determinis Resiprokal (reciprocal determinism)
Pendekatan yang menjelaskan tingkah laku manusia dalam bentuk interaksi
timbal balik yang terus menerus antara determinan kognitif, behavioral dan
lingkungan. Orang menentukan atau mempengaruhi tingkah lakunya dengan
25

mengontrol lingkungan, tetapi orang itu juga dikontrol oleh kekuatan lingkungan itu.
Determinis resiprokal adalah konsep yang penting dalam teori belajar sosial Bandura,
menjadi pijakan Bandura dalam memahami tingkah laku. Teori belajar sosial
memakai saling determinis sebagai prinsip dasar untuk menganalisis fenomena psiko-
sosial di berbagai tingkat kompleksitas dari perkembangan intrapersonal sampai
tingkah laku interpersonal serta fungsi interaktif dari organisasi dan sistem sosial.
b. Lebih dari Reinforsemen (beyond reinforcement)
Bandura memandang teori Skiner dan Hull terlalu bergantung pada
reinforsemen. J ika setiap unit respon sosial yang kompleks harus dipilah-pilah untuk
direforse satu persatu, bisa jadi orang malah tidak belajar apapun. Menurutnya,
reinforsemen penting dalam menentukan apakah suatu tingkah laku akan terus terjadi
atau tidak, tetapi itu bukan satu-satunya pembentuk tingkah laku. Orang dapat belajar
melakukan sesuatu hanya dengan mengamati dan kemudian mengulang apa yang
dilihatnya. Belajar melalui observasi tanpa ada renforsemen yang terlibat, berarti
tingkah laku ditentukan oleh antisipasi konsekuensi, itu merupakan pokok teori
belajar sosial.
c. Kognisi dan Regulasi diri (Self-regulation/cognition)
Teori belajar tradisional sering terhalang oleh ketidaksenangan atau
ketidakmampuan mereka untuk menjelaskan proses kognitif. Konsep bandura
menempatkan manusia sebagai pribadi yang dapat mengatur diri sendiri (self
regulation), menpengaruhi tingkah laku dengan cara mengatur lingkungan,
menciptakan dukungan kognitif, mengadakan konsekuensi bagi tingkah lakunya
sendiri.

Konsep-konsep yang digaris bawahi dalam teori pemahaman sosial
digambarkan dalam skema berikut:



Tingkah Laku
26




Gambar 2.1 Skema Teori Belajar Sosial (Sosial Learning Theory) menurut Bandura
Teori belajar sosial dari Bandura berusaha menjelaskan tingkah laku manusia
dari segi interaksi timbal balik yang berkesinambungan antara faktor kognitif, tingkah
laku dan faktor lingkungan. Dalam proses determinisme timbal balik itulah terletak
kesempatan bagi manusia untuk mempengaruhi nasibnya maupun batas-batas
kemampuannya untuk memimpin diri sendiri (self-direction). Konsepsi tentang cara
manusia berfungsi semacam ini tidak menempatkan orang semata-mata sebagai objek
tak berdaya yang dikontrol oleh pengaruh-pengaruh lingkungan ataupun sebagai
pelaku-pelaku bebas yang dapat menjadi apa yang dipilihnya. Manusia dan
lingkungannya merupakan faktor-faktor yang saling menetukan secara timbal balik
(Notoatmodjo, 2003).
a. Faktor Pribadi yang terdiri dari faktor demografi, pengetahuan, dan sikap
b. Faktor lingkungan yang terdiri dari:
1) Peran Media
a) Pengertian Komunikasi Massa
Komunikasi Massa adalah bentuk komunikasi yang menggunakan
saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan
secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh
(terpencar), sangat heterogen dan menimbulkan efek tertentu.
Sedangkan Bittner menjelaskan pengertian komunikasi massa sebagai
pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah
besar orang. Definisi yang lebih mudah dimengerti dikemukakan oleh
Jalaludin Rakhmat, yang mengartikan komunikasi massa sebagai jenis
komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah besar khalayak yang
tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak atau elektronik
Pribadi Lingkungan
27

sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.
(Zainal, 2012).
b) Media Cetak
Media cetak merupakan media yang tertua dalam sejarah peradaban
manusia. Media cetak yang sering disebut juga dengan pers, yang
memenuhi kritera sebagai media massa adalah surat kabar dan
majalah. Beberapa karakteristik dari media cetak yang masuk ke dalam
kategori media massa cetak dikemukakan oleh Zainal (2012), yaitu
mempunyai sifat-sifat berikut :
(1) Periodisitas, bahwa media cetak memiliki jadwal terbit yang pasti
atau bersifat periodik. Oleh sebab itu, kita mengenal istilah harian,
mingguan, bulanan, atau triwulanan.
(2) Publisitas, bahwa media tersebut bisa diakses siapa pun karena
memang ditujukan untuk semua orang dari berbagai lapisan
masyarakat.
(3) Aktualitas, bahwa isi media massa sangat menekankan aspek
aktualitas informasinya. Karena informasi yang tidak aktual atau
biasa disebut informasi basi tidak menarik dan tidak dibutuhkan
khalayak media.
(4) Universalitas, berkaitan dengan keragaman isi media cetak. Isi
berita di media cetak, misalnya news (pemberitaan), views (opini)
dan iklan.
(5) Objektivitas, berkaitan dengan isi media yang bersifat objektif atau
sesuai dengan kenyataan.
2) Orang Tua
Orangtua dalam kelurga sebagai pimpinan keluarga sangat berperan
dalam meletakkan dasar-dasar kepribadian anak, karena orangtua
merupakan pendidik, pembimbing, dan pelindung bagi anak-anaknya.
28

Keberhasilan remaja dalam membentuk tingkah laku secara tepat di
masyarakat adalah ditentukan oleh peranan lingkungan. keluarga
khususnya orang tua dalam mengarahkan serta mengembangkan
kemampuan anak membentuk tingkah lakunya. Mengenai hal ini
Hurlock (2008) mengemukakan bahwa pengertian mengenai nilai-nilai
tingkah laku serta kemampuan anak untuk membentuk tingkah laku
yang dikembangkan di dalam lingkungan. Keluarga akan menentukan
sejauh mana keberhasilan anak dalam membentuk penyesuaian di
masyarakat pada masa-masa selanjutnya.
Menurut Hurlock (2008) orangtua adalah orang dewasa yang
membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan.
Tugas orangtua melengkapi dan mempersiapkan anak menuju ke
kedewasaan dengan memberikan bimbingan dan pengarahan yang
dapat membantu anak dalam menjalani kehidupan. Dalam
memberikan bimbingan dan pengarahan pada anak akan berbeda pada
masing-masing orangtua kerena setiap keluarga memiliki kondisi-
kondisi tertentu yang berbeda corak dan sifatnya antara keluarga yang
satu dengan keluarga yang lain.
3) Guru
Dalam proses pendidikan, guru tidak hanya menjalankan fungsi alih
ilmu pngetahuan (transfer of knowledge) tapi juga berfungsi untuk
menanamkan nilai (value) serta membangun karakter (Character
Building) peserta didik secara berkelanjutan dan berkesinambungan.
Guru berperan sebagai pendidik (nurturer) yang berperan dan
berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan
(supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta
tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu
menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam
keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan
29

meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk
memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan
kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain,
moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan
keterampilan dasar, persiapan untuk perkawinan dan hidup
berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan
spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan
pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan
anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku
anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada (Sunarti,
2010).
4) Teman Sebaya
Pada hakekatnya manusia disamping sebagai makhluk individu juga
sebagai makhluk sosial yang dituntut adanya saling berhubungan
antara sesama dalam kehidupannya. Individu dalam kelompok sebaya
(peer group) merasakan adanya kesamaan satu dengan yang lainnya
seperti dibidang usia, kebutuhan dan tujuan yang dapat memperkuat
kelompok itu. Menurut Andi Mappiare (1982) dalam Wulan (2007),
kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama
dimana anak belajar untuk hidup bersama orang lain yang bukan
anggota keluarganya. Peranan peer group merupakan peranan teman
sebaya atau seumur dimana mereka berada dan merupakan suatu
suasana sosial yang memberikan pengaruh terhadap tindakan dan
pandangannya agar dapat diterima oleh lingkungan dimana mereka
berada.




30

2.8 Kerangka Konseptual
S













Keterangan: : variabel yang diteliti

: variabel yang tidak diteliti
Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

Karangka konseptual dalam penelitian ini menggunakan teori Social Learning
Theory yang terdiri dari variabel-variabel yang diteliti. Variabel dalam penelitian ini
adalah faktor pribadi yang terdiri dari karakteristik responden, pengetahuan, sikap,
dan tindakan responden, faktor lingkungan yang terdiri dari peran orang tua, media,
guru, dan teman sebaya.

1. Faktor demografi
Responden yaitu Umur,
Pekerjaan orang tua,
Pendidikan orang tua, lama
menstruasi, awal menstruasi
dan gangguan saat
menstruasi
2. Pengetahuan dan sikap
responden terhadap personal
higiene organ reproduksi

Perilaku personal hygiene organ
reproduksi wanita anak sekolah dasar
yang telah mengalami menstruasi
Faktor Pribadi
a. Media
b. Orang tua
c. Guru
d. Teman sebaya

Faktor Lingkungan
Variabel Bebas Variabel Terikat
31

2.9 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan tujuan khusus penelitian, maka dapat dirumuskan hipotesis
penelitian sebagai berikut:
a. Ada Hubungan Antara faktor pribadi faktor demografi (usia, pendidikan orang
tua, pekerjaan orang tua, lama menstruasi, awal menstruasi, dan gangguan
saat menstruasi), pengetahuan, dan sikap dengan Perilaku Personal Hygiene
Organ Reproduksi Pada Anak Sekolah Dasar Di Kabupaten Situbondo
b. Ada Hubungan Antara faktor lingkungan seperti peran orang tua, media, guru
dan teman sebaya dengan Perilaku Personal Hygiene Organ Reproduksi Pada
Anak Sekolah Dasar Di Kabupaten Situbondo










32
BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian
observasional analitik. Penelitian observasional yaitu melakukan pengamatan atau
pengukuran terhadap barbagai variabel subyek penelitian menurut keadaan alamiah,
tanpa melakukan manipulasi atau intervensi (Sastroasmoro, 2011). Penelitian bersifat
analitik yaitu berupaya mencari hubungan antar variabel yaitu faktor pribadi (umur,
pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, lama menstruasi, awal menstruasi,
gangguan saat menstruasi, pengetahuan, dan sikap), faktor lingkungan (peran orang
tua, media, guru, dan teman sebaya) , dan menganalisis dengan perilaku personal
hygiene organ reproduksi wanita pada anak sekolah yang mengalami menstruasi
dasar di Kecamatan Kapongan Kabupaten situbondo.
Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross
sectional, yakni untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko
dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau kuesioner pengumpulan data
sekaligus pada satu saat (point time approach). Artinya, setiap subjek penelitian
hanya diberi kuesioner sekali saja dan pengukuran dilakukan terhadap status karakter
atau variabel subjek pada penelitian (Notoatmodjo, 2005). Subjek penelitian tidak
harus diperiksa pada hari atau pada saat yang sama, tetapi variabel risiko dan efek
dinilai satu kali, yakni pada saat pembagian kuesioner dilakukan.







33



3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
3.2.1 Tempat Penelitian
Penellitian ini dilakukan di 27 Sekolah Dasar Negeri yang berada di
Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo. Pemilihan lokasi penelitian atas
pertimbangan bahwa Kecamatan Kapongan merupakan kecamatan yang mempunyai
kasus penyakit kelamin pada anak usia 10-14 tahun di Kabupaten Situbondo.

3.2.1 Waktu Penelitian
Tabel 3.1 Uraian Kegiatan Penyusunan Skripsi
No Uraian Kegiatan Bulan
Januari Februari Maret April Mei
1. Survei Pendahuluan
2. Penyusunan Proposal Skripsi
3. Seminar Proposal
4. Validitas dan reliabilitas
5. Penelitian
6. Penyusunan hasil penelitian


3.3 Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek dan subjek yang
mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2009). Menurut Arikunto
(2010), subjek penelitian adalah subjek yang dituju untuk diteliti oleh peneliti. Subjek
penelitian dapat berupa benda dan manusia. Subjek penelitian juga dapat berupa
sekolah, desa, bahkan mungkin negara. Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah
anak sekolah dasar yang telah mengalami menstruasi. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh jumlah siswi kelas 4, 5,dan 6 Sekolah Dasar Negeri yang telah
mengalami menstruasi di Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo yaitu sebanyak
170 anak.

34



3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel adalah bagian (subset) dari populasi yang dipilih dengan cara tertentu
hingga dianggap dapat mewakili populasinya (Sastroasmoro, 2011). Sampel dalam
penelitian ini yaitu siswi kelas 4, 5, dan 6 yang telah mengalami menstruasi. Selain
itu, sampel pada penelitian ini harus memenuhi kriteria inklusi. Kriteria inklusi
adalah kriteria dimana subjek penelitian dapat mewakili dalam sampel peneliti yang
memenuhi syarat sebagai sampel atau persyaratan umum yang harus dipenuhi oleh
subjek agar dapat dilakukan penelitian (Alimul, 2008). Penentuan kriteria inklusi
pada penelitian ini adalah:
a. Siswi Sekolah Dasar yang sekolah di Kecamatan Kapongan Kabupaten
Situbondo
b. Siswi Sekolah Dasar yang ada dikelas 4-6.
c. Siswi Sekolah Dasar yang telah menstruasi.
Dalam menentukan besar atau ukuran sampel, pada penelitian ini menggunakan
rumus yang dikembangkan oleh Supranto (1998) yaitu sebagai berikut.
n =
N.p.q
(N-1) D+p.q

n =
170 x 0,5 x 0,5
(170-1) x 0,0025 +0,5 x 0,5
n =
42,5
O,4225 +0,25
n =
42,5
0,6725

n =63,19 64

Keterangan:
n =besar sampel
35



N =besar populasi
P =proporsi variabel yang dikehendaki yaitu 50% (0,5), q =(1-p) =(1-0,5) =0,5
D =kesalahan sampling yang masih dapat ditoleransi, yaitu 5%
Berdasarkan perhitungan diatas, jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 64
responden.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa besar sampel dalam penelitian ini
adalah 64 anak sekolah dasar yang telah mengalami menstruasi di Kecamatan
Kabuapten Situbondo.

3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik
Proportional Random Sampling yaitu pengambilan sampel dengan
mempertimbangkan besarnya populasi yang ada di tiap lingkungan, kemudian
dilakukan pemilihan sampel secara acak dengan undian. Teknik ini digunakan untuk
menghindari pengambilan sampel yang terkonsentrasi pada salah satu lingkungan saja
dan digunakan rumus (Budiarto, 2003) sebagai berikut.
Nh
nh = n
N

Keterangan:
nh : Besarnya sampel untuk sub populasi
Nh : Total masing-masing sub populasi
N : Total populasi secara keseluruhan
n : Besar sampel
Setelah pengambilan sampel dilakukan berdasarkan proporsi besarnya
populasi dimasing-masing sekolah dasar, maka didapatkan besar sampel untuk
masing-masing sekolah dasar yang ditunjukkan pada Tabel 3.1. Pengambilan sampel
36



per sekolah dasar dilakukan secara acak sederhana (simple random sampling) atau
dengan cara pengundian kepada anak yang telah mengalami menstruasi.
Tabel 3.2 Besar Sampel di Tiap Kelompok Bina Keluarga Balita
No Sekolah Dasar Negeri Nh N n nh
1. SDN 1 Kapongan 16 170 64 6
2. SDN 2 Kapongan 21 170 64 8
3. SDN 3 Kapongan 5 170 64 2
4. SDN 2 Kesambi Rampak 8 170 64 3
5. SDN 1 Gebangan 6 170 64 2
6. SDN 2 Gebangan 4 170 64 2
7. SDN 1 Pokaan 0 170 64 0
8. SDN 2 Pokaan 10 170 64 3
9. SDN 1 Landangan 12 170 64 4
10. SDN 2 Landangan 7 170 64 2
11. SDN 1 Seletreng 9 170 64 3
12. SDN 2 Seletreng 5 170 64 2
13. SDN 3 Seletreng 4 170 64 2
14. SDN 4 Seletreng 4 170 64 2
15. SDN 5 Seletreng 0 170 64 3
16. SDN 1 Wonokoyo 9 170 64 3
17. SDN 2 Wonokoyo 5 170 64 2
18. SDN 3 Wonokoyo 2 170 64 1
19. SDN 1 Peleyan 3 170 64 1
20. SDN 2 Peleyan 2 170 64 1
21. SDN 4 Peleyan 3 170 64 1
22. SDN 1 Curah Cottok 4 170 64 2
23. SDN 2 Curah Cottok 2 170 64 1
24. SDN 3 Curah Cottok 1 170 64 0
25. SDN 1 Kandang 4 170 64 2
26. SDN 2 Kandang 13 170 64 4
27. SDN 3 Kandang 11 170 64 4
Total 64

3.4 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
Secara teoritis variabel dapat didefinisikan sebagai atribut seseorang atau objek
yang mempunyai variasi antara satu orang dengan yang lain atau satu objek dengan
objek lain. Variabel dapat juga didefinisikan sebagai suatu atribut atau sifat atau nilai
37



dari seseorang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan
oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010).
Definisi operasional adalah uraian yang membatasi setiap istilah atau frasa
kunci yang dipergunakan dalam penelitian dengan makna tunggal dan terukur. Alat
ukur data adalah media yang digunakan untuk mengetahui tingkat variabel. Variabel
penelitian, definisi operasional dan cara pengukuran disajikan dalam tabel 3.2.

Tabel 3.3 Variabel penelitian, Definisi Operasional, Cara pengumpulan Data, dan Skala Data
No Variabel Definisi Operasional Cara
Pengumpulan
Data
Skala
Data
Cara Pengukuran
1. Faktor Pribadi
a. Umur
responden
Lama waktu hidup
responden atau sejak
responden dilahirkan
terhitung sampai saat
dilakukan wawancara
kuesioner Rasio
b. Tingkat
pendidikan
orang tua
Jenjang pendidikan
formal terakhir yang
pernah ditempuh
orang tua responden
kuesioner

Ordinal Dikategorikan menjadi:
1. Pendidikan tingkat
dsar
a. Tidak sekolah
b. Tidak tamat
S/sederajat
c. Tamat SD/sederajat
d. Tidak tamat
SMP/sederajat
e. Tamat SMP/sederajar
2. Pendidikan tingkat
menengah
a. Tidak tamat
SMA/sederajat
b. Tamat
SMA/sederajat
3. Pendidikan tingkat
tinggi
a. Tamat/tidak tamat
Diploma
b. Tama/tidak tamat
Sarjana (S1)
c. Tamat/tidak tamat
Magister (S2)
d. Tamat/tidak tamat
Doktor (S3)
(Depdiknas RI, 2003)

38



No Variabel Definisi Operasional Cara
Pengumpulan
Data
Skala
Data
Cara Pengukuran

c. Pekerjaan
orang tua
Jenis mata
pencaharian utama
orang tua responden
baik terkait jam kerja
maupun yang tidak
terkait, untuk
mendapat sumber
penghasilan
Kuesioner

Nominal Dikategorikan menjadi:
1. Petani
2. Wiraswasta
3. PNS
4. TNI/POLRI
5. Lain-lain, sebutkan

d. Lama
menstruasi
Rentang waktu
menstruasi responden
Kuesioner

Rasio
e. Awal
menstruasi
Usia pada saat
menstruasi pertama
kali datang
Kuesioner Rasio
f. Gangguan saat
menstruasi
Gangguan yang
muncul ketika
responden menstruasi
Kuesioner

Nominal Diukur dengan 10
pertanyaan.
Skor setiap jawaban:
a. Ya =1
b. Tidak =0
Jumlah skor yaitu:
Maksimal =10
Minimal =0
Rentang =maksimal
minimal
=10-0
=10
Banyak kelas =2
Panjang kelas =
rentang/kelas
= 10/2
= 5
Berdasarkan pembagian
tersebut, pemberian skor
peran orang tua ditetapkan
sebagai berikut
a. Ada gangguan =6-10
b. Tidak ada gangguan =
0-5
(Sudjana, 2005).

g. Pengetahuan Segala sesuatu yang
diketahui responden
tentang perilaku
personal hygiene
organ reproduksi saat
menstruasi yang
meliputi cara
membersihkan alat
Kuesioner

Nominal Diukur dengan 10
pertanyaan.
Skor setiap jawaban:
a. Ya =1
b. Tidak =0
Jumlah skor yaitu:
Maksimal =10
Minimal =0
39



No Variabel Definisi Operasional Cara
Pengumpulan
Data
Skala
Data
Cara Pengukuran
kelamin dan
penggunaan pembalut
Rentang =maksimal
minimal
=10-0
=10
Banyak kelas =2
Panjang kelas =
rentang/kelas
= 10/2
= 5
Berdasarkan pembagian
tersebut, pemberian skor
peran orang tua ditetapkan
sebagai berikut
a. Tinggi =6-10
b. Rendah =0-5
(Sudjana, 2005).
h. Sikap Reaksi atau respon
yang masih tertutup
dari responden atau
tanggapan responden
terhadap perilaku
personal hygiene
organ reproduksi saat
menstruasi
Kuesioner

Nominal Diukur dengan 10
pertanyaan dengan kriteria
penentuan skor pada setiap
pertanyaan sebagai
berikut:
Pertanyaan nomor 1-5
adalah pertanyaan negatif
dengan penentuan skor:
1=setuju
0=tidak setuju

Pertanyaan nomor 6-10
adalah pertanyaan positif
dengan penentuan skor:
0=setuju
1=tidak setuju

Skor tertinggi untuk
variabel ini adalah 10 dan
di kategorikan:
a. Negatif, jika skor yang
diperoleh 0-5
b. Positif, jika skor yang
diperoleh 6-10
2 Faktor
Lingkungan

a.

Peran orang
tua
Aktivitas yang
dilakukan orang tua
terhadap anaknya
terkait dengan
informasi mengenai
personal hygiene
Kuesioner

Nominal Diukur dengan 10
pertanyaan.
Skor setiap jawaban:
a. Ya =1
b. Tidak =0
Jumlah skor yaitu:
40



No Variabel Definisi Operasional Cara
Pengumpulan
Data
Skala
Data
Cara Pengukuran
organ reproduksi saat
menstruasi berupa
penjelasan tentang
menstruasi,
penggunaan
pembalut, dan cara
membersihkan alat
kelamin
Maksimal =10
Minimal =0
Rentang =maksimal
minimal
=10-0
=10
Banyak kelas =2
Panjang kelas =
rentang/kelas
= 10/2
= 5
Berdasarkan pembagian
tersebut, pemberian skor
peran orang tua ditetapkan
sebagai berikut
a. Berperan =6-10
b. Tidak berperan =0-5
(Sudjana, 2005).
b. Peran Media keterkaitan individu
dengan alat atau
sarana komunikasi
yang dapat
mempengaruhi
perilaku personal
hygiene organ
reproduksi seperti
media cetak(koran,
majalah, brosur)
maupun media
elektronik (televisi,
radio, handphone,
komputer/laptop).
Kuesioner

Nominal Diukur dengan 10
pertanyaan.
Skor setiap jawaban:
a. Ya =1
b. Tidak =0
Jumlah skor yaitu:
Maksimal =10
Minimal =0
Rentang =maksimal
minimal
=10-0
=10
Banyak kelas =2
Panjang kelas =
rentang/kelas
= 10/2
= 5
Berdasarkan pembagian
tersebut, pemberian skor
peran orang tua ditetapkan
sebagai berikut
a. Berperan =6-10
b. Tidak berperan =0-5
(Sudjana, 2005).
c. Teman sebaya keterkaitan individu
dengan teman
sebayanya yang dapat
mempengaruhi
perilaku personal
hygiene organ
Kuesioner


Nominal Diukur dengan 10
pertanyaan.
Skor setiap jawaban:
a. Ya =1
b. Tidak =0
Jumlah skor yaitu:
41



No Variabel Definisi Operasional Cara
Pengumpulan
Data
Skala
Data
Cara Pengukuran
reproduksi saat
menstruasi seperti
berdiskusi tentang
menstruasi, jenis
penyakit alat
kelamin, penggunaan
pembalut, dan cara
membersihkan alat
kelamin
Maksimal =10
Minimal =0
Rentang =maksimal
minimal
=10-0
=10
Banyak kelas =2
Panjang kelas =
rentang/kelas
= 10/2
= 5
Berdasarkan pembagian
tersebut, pemberian skor
peran orang tua ditetapkan
sebagai berikut
a. Berperan =6-10
b. Tidak berperan =0-5
(Sudjana, 2005).

d. Peran guru Aktivitas yang
dilakukan guru
terhadap siswanya
terkait dengan
informasi mengenai
personal hygiene
organ reproduksi saat
menstruasi yang
meliputi penjelasan
tentang organ
reproduksi manusia,
cara membersihkan
alat kelamin,
penggunaan pakaian
dalam, dan
penggunaan pembalut
Kuesioner

Nominal Diukur dengan 10
pertanyaan.
Skor setiap jawaban:
a. Ya =1
b. Tidak =0
Jumlah skor yaitu:
Maksimal =10
Minimal =0
Rentang =maksimal
minimal
=10-0
=10
Banyak kelas =2
Panjang kelas =
rentang/kelas
= 10/2
= 5
Berdasarkan pembagian
tersebut, pemberian skor
peran orang tua ditetapkan
sebagai berikut
a. Berperan =6-10
b. Tidak berperan =0-5
(Sudjana, 2005).
3. Perilaku Aktivitas yang
dilakukan responden
dalam menjaga
kebersihan organ
reproduksi saat
Kuesioner

Nominal Diukur dengan 10
pertanyaan.
Skor setiap jawaban:
a. Ya =1
b. Tidak =0
42



No Variabel Definisi Operasional Cara
Pengumpulan
Data
Skala
Data
Cara Pengukuran
menstruasi seperti
membasuh alat
kelamin, mengganti
celana dalam, dan
mengganti pembalut
Jumlah skor yaitu:
Maksimal =10
Minimal =0
Rentang =maksimal
minimal
=10-0
=10
Banyak kelas =2
Panjang kelas =
rentang/kelas
= 10/2
= 5
Berdasarkan pembagian
tersebut, pemberian skor
peran orang tua ditetapkan
sebagai berikut
a. Baik =6-10
b. Tidak baik =0-5
(Sudjana, 2005).

3.5 Data dan Sumber Data
3.5.1 Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulakan melalui pihak pertama, biasanya
melalui angket, wawancara, jejak pendapat, dan lain-lain (Sugiyono, 2010). Dalam
penelitian ini data primer diperoleh dari kuisioner yang dilakukan oleh penliti pada
kelompok sampel terpilih yaitu siswi Sekolah Dasar Negeri yang berada di kelas 4, 5,
dan 6 di Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo.

3.5.1 Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini adalah data jumlah Sekolah Dasar Negeri
dan tingkatan kelas di Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo. Data jumlah
Sekolah Dasar Negeri dan tingkatan kelas di Kabupaten Situbondo diperoleh dari
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Situbondo.

43




3.6 Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data
3.6.1 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode
wawancara dengan kuesioner. Wawancara adalah proses memperoleh keterangan
untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara si
penanya dengan si penjawab atau responden (Nazir, 2005). Secara teknis, responden
akan menjawab pertanyaan yang ada pada kuesioner yang peneliti berikan dan
responden juga akan diberikan informed consent sebagai persetujuan responden untuk
dijadikan subyek dalam penelitian.

3.6.2 Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen adalah alat pada waktu peneliti menggunakan suatu metode atau
teknik pengumpulan data (Arikunto, 2006). Pada penelitian ini, instrumen
pengumpulan data penelitian yang digunakan berupa kuesioner agar kegiatan menjadi
sistematis dan mudah. Lembar kuesioner adalah alat pengumpul data yang dipakai
dalam wawancara berisi daftar pertanyaan yan sudah tersusun dengan baik, sudah
matang, dimana pewawancara tinggal menuliskan jawaban dengan memberikan
tanda-tanda (Notoatmodjo, 2005).
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer
merupakan data yang didapat dari sumber pertama seperti hasil wawancara atau hasil
pengisian kuesioner yang bisa dilakukan oleh peneliti (Sugiart dkk., 2003). Data
primer dalam penelitian ini didapatkan melalui kuesioner dengan berkunjung ke 27
Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Kapongan Kabupaten Situbondo.


3.7 Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif, kualitas
pengumpulan data sangat ditentukan oleh kualitas instrumen atau alat pengumpul
44



data yang digunakan. Suatu instrumen penelitian dikatakan berkualitas dan dapat
dipertanggungjawabkan jika sudah terbukti validitas dan reliabilitasnya. Pengujian
validitas dan reliabilitas instrumen harus disesuaikan dengan bentuk instrumen yang
akan digunakan dalam penelitian (Arikunto, 2006). Selanjutnya menurut
Notoatmodjo (2005) jumlah minimal responden untuk uji validitas dan reliabilitas
instrumen penelitian adalah 30. Uji validitas dan reliabilitas dalam penelitian ini
dilakukan pada 30 siswi Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Arjasa Kabupaten
Situbondo. Pemilihan populasi untuk uji validitas dan reliabilitas ini didasarkan pada
persamaan geografis dan homogenitas karakteristik.


3.8 Teknik Pengolahan dan Penyajian Data
3.8.1 Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolaan data yang dilakukan dalam penelitian ini meliputi:
a. Pemeriksaan Data (Editing)
Editing adalah kegiatan yang dilaksanakan setelah peneliti selesai menghimpun
data di lapangan (Bungin, 2005). Editing dilakukan dengan memeriksa kembali
semua data yang dikumpulkan dengan tujuan untuk mengecek kembali apakah
hasilnya sudah sesuai dengan rencana/tujuan yang hendak dicapai. Apabila ada
data yang kurang sebaiknya diperbaiki dengan jalan menanyakan kembali kepada
responden.
b. Pemberian Skor (Scoring)
Scoring merupakan langkah selanjutnya setelah responden memberikan jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan yang terdapat dalam lembar kuesioner. Scoring
dilakukan dengan memberikan skor atas jawaban dari setiap pertanyaan sesuai
dengan penetapan skor yang telah didefinisi-operasionalkan.
c. Tabulasi (Tabulating)
Tabulasi adalah memasukkan data pada tabel tertentu dan mengatur angka-angka
serta menghitungnya (Bungin, 2005). Tabulasi data merupakan proses penyusunan
45



data kedalam bentuk tabel sehingga akan mudah dibaca dan dipahami dan
selanjutnya data siap untuk dianalisis. Tabel tersebut menyajikan variabel-variabel
yang telah didefinisi-operasionalkan.

3.8.2 Teknik Penyajian Data
Penyajian data dalam penelitian ini bertujuan untuk mempermudah peneliti
dalam menginformasikan hasil penelitian yang sudah dilakukan. Penyajian data
merupakan kegiatan yang dilakukan dalam pembuatan laporan hasil penelitian yang
dilakukan agar laporan dapat dipahami, dianalisis sesuai dengan tujuan yang
diinginkan kemudian ditarik kesimpulan sehingga menggambarkan hasil penelitian
(Suyanto, 2005). Data yang diperoleh dari hasil kuesioner akan disajikan dalam
bentuk teks dan tabel.


3.9 Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau
sumber data lain terkumpul (Sugiyono, 2010). Teknik analisis data dalam penelitian
ini menggunakan software (perangkat lunak) program pengelola data. Analisis data
dilakukan dengan cara analisis univariabel, dan bivariabel.
a. Analisis Univariabel
Analisis univariabel digunakan untuk menjabarkan secara deskriptif distribusi
frekuensi, proporsi, nilai rata-rata, skor minimum, skor maksimum, dan simpangan
baku masing-masing variabel yang diteliti, baik variabel bebas maupun variabel
terikat.
b. Analisis Bivariabel
Analisis Bivariabel dilakukan untuk menjawab tujuan khusus keempat dan
kelima dalam penelitian ini. Dasar pengambilan keputusan hipotesis yaitu H
0
diterima
jika p-value > (0,05), dan H
0
ditolak jika p-value < (0,05). Hasil p-value uji Chi-
square (baik p-value > (0,05) maupun p-value < (0,05) bermakna dengan
46



syarat memiliki expected value <5 (<20%). J ika terdapat variabel yang memiliki
expected value kurang dari 5 lebih dari 20%, maka dilakukan penggabungan kategori
bahkan jika perlu dilakukan uji Fisher Exact, penggabungan kategori dilakukan
hingga menjadi tabel 2x2 (syarat uji Fisher Exact).

























47



3.10 Alur Penelitian


















Gambar 3.1 Bagan alur penelitian
Validitas dan reliabilitas instrumen penelitian
Pengumpulan data

Penyusunan Intrumen
Instrumen Penelitian
Pengolahan dan Analisis Data

Merumuskan masalah dan tujuan
Pengambilan data awal siswi Sekolah Dasar
Negeri di Kabupaten Situbondo
Menentukan populasi dan sampel

Hasil dan Pembahasan
Kesimpulan dan Saran
43


DAFTAR PUSTAKA



Alimul, A.H. 2008. Metode Penelitian Keperawatandan Teknik Analisis data.
Jakarta: Salemba Medika

Arikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Bumi
Aksara

Aulia. 2009. Kupas Tuntas menstruasi dari A sampai Z. Yogyakarta: Millestone

BKKBN. 2001. Tumbuh Kembang Remaja. J akarta Badan Koordinasi Keluarga
Berencana Nasional

_______ 2005b. Remaja Memerlukan Informasi Kesehatan Reproduksi. Jakarta:
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional

_______ 2008. Fakta Utama Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta: Badan
Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional

_______ 2012. Rencana Aksi keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Tahun
2012-2014. [serial online] http://www.bkkbn.go.id/ (28 Januari 2014)

Bungin, B.M. 2005. Metodologi Penelitian Kuantiatatif. Jakarta: Kencana

Departemen Kesehatan RI. 2010. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2010.

Derina, K.A. 2011. Faktor-faktor yang berhubungan dengan usia menarche pada
remaja putri di smp 155 jakarta tahun 2011. [serial online]
http://perpus.fkik.uinjkt.ac.id/ (17 januari 2014)

Ester, M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Ester, M., Yuliati, D., Parulian, I. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan:
Konsep, Proses dan Praktik Edisi 4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
44



Gandahusada, S., Herry, D., Pribadi , W. 2004. Parasitologi Kedokteran. Jakarta:
Gaya Baru
Hurlock, E.B. 2008. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang
kehidupan. Jakarta: Erlangga

Kissanti, A. 2008. Buku Pintar Wanita, Kesehatan & Kecantikan. Jakarta: Araska

Kusmiyati. 2013. BKKBN: Maunya Kesehatan Reproduksi Masuk Kurikulum Di
Sekolah. [serial online] http://health.liputan6.com/ (28 januari 2014)

Lusiana dan Dwiriani. 2007. Usia Menarche, Konsumsi Pangan, dan Status Gizi
Anak Perempuan Sekolah Dasar di Bogor. [serial online]
http://journal.ipb.ac.id/ (20 januari 2014)

Margawati, A., Kurniawan, T., Cayo, K. 2008. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Praktik kesehatan Reproduksi Remaja di SMA negeri 1 Purbalingga Kabupaten
Purbalingga. [serial online] http://ejournal.undip.ac.id/ (10 Maret 2014)

Mudey, B.A., Kesharwani, N., Gyal, Ramchandra C. 2010. A Cross-sectional Study
on Awareness Regarding safe and Hygienic Practices amongst School Goung
Adolescenst Girls in Rural Area of Wardha District, India. [serial online]
http://ccsenet.org/ (20 Maret 2014)
Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia
Notoatmodjo, S. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

____________ 2007. Pendidikan Dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

____________ 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Nugroho, S. 2007. Dasar-Dasar Metode Statistik. Bengkulu: Grasindo

Potter, P.A dan Perry, A.G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep,
Proses, dan Praktik. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

45

Proverawati dan Misaroh. 2009. Menarche Menstruasi Pertama Penuh Makna.
Yogyakarta: Nuha Medika

Puspitaningrum, D. 2012. Praktik Perawatan Organ Genitalia Eksternal pada Anak
Usia 10-11 Tahun yang Mengalami Menarche Dini di Sekolah Dasar Kota
Semarang. [serial online] http://ejournal.undip.ac.id/ (8 januari 2014)
Salmah, U., Sarake, M., Jong, V. 2012. Faktor yang Berhubungan Dengan Tindakan
Menjaga Kebersihan Alat Reproduksi Bagian Luar pada Siswi di SMAN 2
Ambon Tahun 2012. [serial online] http://repository.unhas.ac.id/ (28 April
2014)

Sastroasmoro, S dan Ismail, S. 2011. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta: Binapura Aksara

Shaleh, B. 2008. Psikologi: Suatu Pengantar dalam Perspektif Islam. Jakarta:
Kencana

Sloane, E. 2005. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Raja Grafindo
Persada

Soetjiningsih, 2005. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: Penerbit Buku kedokteran
EGC

Sudjana. 2005. Metode Statistika. Bandung: Tarsito

Sugiarto, S.D., Sunaryanto, T.L., Oetomo. 2003. Teknik Sampling. Jakarta: Gramedia

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Bandung:
ALFABETA

Sunarti, S. 2010. Peran Guru Sebagai Model Dalam Pembelajaran Karakter dan
Budaya Bangsa [serial online] http://sumsel.kemenag.go.id/ ( 28 April 2014)

Suyanto, B. 2005. Metode Penelitian Sosial: Berbagai Alternatif Pendekatan.
Jakarta: Prenada media

Taufi, R. 2012. Lima Kabupaten di Jatim Kategori Daerah Tertinggal [serial online]
http://www.tempo.com/ (24 April 2014)
Wartonah, T. 2006. Kebutuhan Dasar Manusi dan proses Keperawatan. J akarta:
Salemba Medika
46


Widyastuti, Y., Rachmawati, A., Purnamaningrum, Y. 2009. Kesehatan Reproduksi,
Yogyakarta : Fitrimaya

Wiknjosastro, H., Saifuddin, Abdul, B., Rachmhadhi, T. 2005. Ilmu Kebidanan.
Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Winarno. 2012. Psikologi Perkembangan Anak. Jakarta: Platinum

Wulan, D. 2007. Hubungan Antara Peranan Kelompok Teman Sebaya (Peer Group)
dan Interaksi Siswa dalam Keluarga dengan Kedisiplinan Belajar Siswa
Kelas XI MAN 1 Sragen Tahun Ajaran 2006/2007. Surakarta: Universitas
Sebelas Maret. [Serial Online]. http://eprints.uns.ac.id/ (26 September 2013).

Yanuar R.L. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC

Zainal, D. 2012. Peran dan Fungsi Media Massa. Palembang: Universitas Bina
Darma Palembang
Lampiran A. Lembar Pengantar Kuesioner


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS J EMBER
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
J l. Kalimantan 1/ 93 Kampus Tegal Boto. Telp (0331) 322995, 322996.
Fax (0331) 337878 J ember (68121)

PENGANTAR KUESIONER


Dengan hormat,
Dalam rangka menyelesaikan perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Jember dan mencapai gelar Sarjana kesehatan Masyarakat (S.KM) pada
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember, penulis melaksanakan penelitian
sebagai salah satu bentuk tugas akhir dan kewajiban yang harus diselesaikan.
Penelitian yang dilakukan penulis ini bertujuan untuk mengalisis Faktor yang
Berhubungan dengan Perilaku Personal Higiene Organ Reproduksi Wanita pada
Anak Sekolah Dasar di Kabupaten Situbondo.
Penulis dengan hormat meminta kesediaan anda untuk membantu dalam
pengisisan kuesioner yang peneliti ajukan sesuai dengan keadaan sebenarnya.
Kerahasiaan jawaban serta identitas anda akan dijamin oleh kode etik dalam
penelitian ini. Perlu diketahui, bahwa penelitian ini hanya semata-mata sebagai bahan
penyusunan skripsi. Penulis mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kesediaan
anda untuk mengisis kuesioner yang penulis ajukan.
Atas perhatian dan kerjasamanya, penulis mengucapkan terima kasih.

Jember, April 2014
Peneliti,

(Sumiyati Andayaning Tias)
Lampiran B. Lembar Persetujuan Responden

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS J EMBER
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
J l. Kalimantan 1/ 93 Kampus Tegal Boto. Telp (0331) 322995, 322996.
Fax (0331) 337878 J ember (68121)

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN
(INFORMED CONSENT)


Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama :..
Alamat :...
No. tlp/HP :..
Menyatakan persetujuan saya untuk membantu dengan menjadi subyek dalam
penelitian yang dilakukan oleh:
Nama : Sumiyati Andayaning Tias
Judul : Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Personal Higiene
Organ Reproduksi Wanita pada Anak Sekolah Dasar di Kabupaten
Situbondo
Prosedur penelitian ini tidak akan menimbulkan risiko dan dampak apapun terhadap
responden. Saya telah diberi penjelasan mengenai hal tersebut. Dengan ini saya
menyatakan dengan sukarela bersedia menjadi responden dalam penelitian ini.


Jember, April 2014
Responden,


()
Lampiran C. Kuesioner Penelitian

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS J EMBER
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
J l. Kalimantan 1/ 93 Kampus Tegal Boto. Telp (0331) 322995, 322996.
Fax (0331) 337878 J ember (68121)

Judul : Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Personal Higiene
Organ Reproduksi Wanita pada Anak Sekolah Dasar di Kabupaten
Situbondo


PETUNJUK PENGISIAN
1. Mohon dengan hormat bantuan dan kesediaan saudara untuk menjawab seluruh
pertanyaan yang ada.
2. Mohon menjawab pertanyaan dengan jujur dan sesuai hati nurani
3. Kerahasiaan identitas akan dijamin sepenuhnya oleh peneliti dan pengisian
kuesioner ini hanya untuk kepentingan penelitian.

A. Data Demografi Responden
1. Umur : tahun
2. Lama menstruasi :.. hari
3. Awal menstruasi :.. tahun
4. Tingkat pendidikan orang tua:
a. Tidak sekolah tamat SD
b. Tidak tamat SMP tamat SMA
c. Tidak tamat PT tamat PT (PT =Perguruan Tinggi)
5. Pekerjaan orang tua :
a. Petani
b. Wiraswasta
c. PNS
d. TNI/POLRI
e. Lain lain, sebutkan.
6. Gangguan saat menstruasi
No. Pernyataan Ya Tidak
1. Merasa nyeri/sakit di perut bagian bawah
(Dismenore)

2. Tidak menstruasi selama 3 bulan berturut-turut
(Amenore)

3. Menstruasi lebih dari 8 hari (Menoragia)
4. Darah menstruasi lebih sedikit dari biasanya
(Hipomenorea)

5. Merasa pusing saat menstruasi
6. Perasaan sensitif (mudah marah dan
tersinggung)

7. Sakit pinggang saat menstruasi
8. Payudara membengkak dan sakit
9. Cepat merasa lelah saat mentruasi
10. Perubahan nafsu makan


B. Pengetahuan
1. Apakah yang dimaksud dengan menstruasi (haid)?
a. pengeluaran darah secara berulang setiap bulan dari alat kelamin (vagina)
b. pengeluaran darah yang diakibatkan karena suatu penyakit
2. Apa yang dimaksud dengan kebersihan alat kelamin saat menstruasi?
a. Menjaga kebersihan pembalut
b. Tindakan menjaga kebersihan dan kesehatan alat kelamin seseorang pada
saat menstruasi
3. Apakah tujuan dari menjaga kebersihan alat kelamin pada saat menstruasi?
a. Untuk pemeliharaan kesehatan seseorang
b. Untuk menghambat pengeluaran darah haid yang akan keluar
4. Apa yang sebaiknya dilakukan pertama kali sebelum membasuh alat kelamin?
a. Mencuci tangan
b. Langsung membasuh alat kelamin
5. Bagaimana cara membersihkan alat kelamin dengan benar?
a. Dari arah depan (vagina) ke belakang (anus)
b. Dari arah belakang (anus) ke depan (vagina)
6. Apa yang digunakan untuk membersihkan alat kelamin pada saat menstruasi?
a. Air bersih
b. Air bersih dan sabun mandi
7. Bagaimana sebaiknya celana yang tepat digunakan pada saat menstruasi?
a. Ketat
b. Longgar
8. Apakah pembalut wanita itu?
a. Benda yang digunakan oleh seorang wanita di saat menstruasi
b. Benda yang digunakan oleh balita dan lanjut usia
9. Apa yang terjadi jika tidak sering mengganti pembalut pada saat menstruasi?
a. Bakteri tidak dapat berkembang biak di alat kelamin (vagina)
b. Bakteri mudah berkembang biak ke dalam alat kelamin (vagina) dan
menyebabkan infeksi
10. Berapa kali harus mengganti pembalut dalam sehari?
a. Satu kali dalam sehari
b. Dua kali atau lebih dalam sehari






C. Sikap
No Pernyataan Setuju Tidak Setuju
1. Menjaga kebersihan alat kelamin saat
menstruasi itu tidak penting.

2. Sebelum membasuh alat kelamin tidak perlu
mencuci tangan terlebih dahulu.

3. Cara membersihkan/membasuh alat kelamin
wanita adalah dari arah belakang ke depan
(vagina).

4. Membersihkan alat kelamin harus menggunakan
sabun mandi

5. Dilarang membicarakan masalah menstruasi
dengan orang tua

6. Saat mengalami menstruasi yang pertama kali
sebaiknya bertanya kepada orang tua

7. Menggunakan pembalut sangat penting pada
saat menstruasi

8. Saya merasa tidak nyaman jika jarang
mengganti pembalut

9. Saya tidak malu untuk berbagi pengalaman
tentang menstruasi dengan teman-teman

10. Saya lebih nyaman menggunakan celana yang
longgar daripada yang ketat



D. Tindakan
No Pernyataan Ya Tidak
1. Saya berusaha menjaga kebersihan alat kelamin
saat menstruasi

2. Saya membasuh alat kelamin dari arah depan
(vagina) ke belakang (anus)

3. Saya menggunakan air bersih untuk
membersihkan alat kelamin pada saat menstruasi

4. Saya mencuci tangan sebelummembersihkan
alat kelamin

5. Saya mengganti celana dalamsetelah mandi
6. Saya mengganti celana dalamminimal dua kali
dalamsehari

7. Saya menggunakan pembalut saat menstruasi
8. Saya mengganti pembalut minimal dua kali
dalamsehari

9. Saya membuang pembalut ke tempat sampah
tanpa membersihkannya dahulu

10. Saya membawa pembalut cadangan ke sekolah
saat menstruasi


E. Peran Orang Tua
No. Pernyataan Ya Tidak
1. Orang tua pernah menjelaskan tentang
menstruasi

2. Orang tua pernah menjelaskan tentang
kebersihan alat kelamin saat menstruasi

3. Orang tua pernah menjelaskan saat
menstruasi mengganti pembalut minimal 2
kali dalam sehari

4. Orang tua menjelaskan untuk menggunakan
air bersih ketika membersihkan alat kelamin

5. Orang tua menjelaskan untuk memakai pakaian
dalamyang mudah menyerap

6. Orang tua menjelaskan penggunaan pembalut
yang anti bocor

7. Orang tua menjelaskan bila menstruasi tetap
menjaga kebersihan untuk memelihara
kesehatan

8. Orang tua memberikan informasi, gunakan
handuk atau tissu untuk mengeringkan alat
kelamin

9. Orang tua memberikan informasi jangan pernah
menggunakan handuk orang lain saat
membersihkan alat kelamin

10. Orang tua menjelaskan bila menstruasi, bekas
pembalut yang digunakan dicuci/dibilas terlebih
dahulu sebelumdibuang ke tempat sampah


F. Peran Media

No. Pernyataan Ya Tidak
1. Saya pernah mendapatkan informasi tentang
menstruasi dari media cetak (koran, majalah,
brosur) dan media elektronik (televisi, radio,
handphone, komputer/laptop)

2. Saya pernah mendapatkan informasi dari media
elektronik (televisi, radio, handphone,
komputer/laptop) tentang kebersihan alat kelamin
saat menstruasi

3. Saya pernah mendapatkan informasi dari media
elektronik (televisi, radio, handphone,
komputer/laptop) mengenai cara menjaga
kebersihan alat kelamin
4. Saya pernah mendapatkan informasi dari media
cetak (koran, majalah, brosur) mengenai cara
membersihkan alat kelamin

5. Saya pernah mendapatkan informasi dari media
cetak (koran, majalah, brosur) tentang jenis
penyakit pada alat kelamin

6. Saya pernah mendapatkan informasi dari media
cetak (koran, majalah, brosur) tentang penyakit
yang ditimbulkan oleh kebersihan alat kelamin
yang buruk

7. Saya pernah mendapatkan informasi dari media
elektronik (televisi, radio handphone,
komputer/laptop) tentang pembalut

8. Saya pernah mendapatkan informasi dari media
cetak (koran, majalah, brosur) tentang berapa kali
mengganti pembalut dalamsehari

9. Saya ernah mendapatkan informasi dari media
cetak (koran, majalah, brosur) tentang cara
membersihkan dan membuang pembalut yang benar

10. Saya pernah mendapatkan informasi dari media
cetak (koran, majalah, brosur) tentang mengganti
pakaian dalamminimal 2 kali sehari



G. Peran Guru
No. Pernyataan Ya Tidak
1.
Guru penah menjelaskan tentang organ
reproduksi manusia

2. Guru pernah menjelaskan tentang menstruasi
3.
Guru pernah menjelaskan tentang cara
membersihkan alat kelamin saat menstruasi

4. Guru menjelaskan tentang pentingnya kesehatan
reproduksi

5.
Guru pernah menjelaskan tentang cara menjaga
kebersihan alat kelamin saat menstruasi

6.
Guru menjelaskan untuk menggunakan air
bersih ketika membersihkan alat kelamin

7. Guru menjelaskan mengganti pakaian dalam
minimal 2 kali sehari

8. Guru menjelaskan bila menstruasi perlu
menggunakan pembalut

9. Guru menjelaskan mengganti pembalut minimal
2 kali sehari

10. Guru menjelaskan tentang penyakit yang
ditimbulkan oleh kebersihan alat kelamin yang
buruk



H. Peran Teman Sebaya
No. Pernyataan Ya Tidak
1. Teman pernah mengajak diskusi tentang
pentingnya kesehatan reproduksi

2. Teman pernah berdiskusi dengan saya
tentang menstruasi

3. Teman pernah mengajak diskusi tentang
kebersihan alat kelamin saat menstruasi

4. Teman pernah mengajak diskusi tentang
manfaat kebersihan alat kelamin saat
menstruasi

5. Teman pernah mengajak diskusi tentang
cara menjaga kebersihan alat kelamin saat
menstruasi

6. Teman pernah mengajak diskusi cara
membersihkan alat kelamin

7. Teman pernah mengajak diskusi tentang cara
membersihkan dan membuang pembalut

8. Teman pernah mengajak diskusi tentang
mengganti pembalut dalamsehari

9. Teman pernah mengajak diskusi tentang
jenis penyakit alat kelamin

10. Teman pernah mengajak diskusi tentang
penyakit yang ditimbulkan oleh kebersihan
alat kelamin yang buruk



Lampiran D. Jumlah Siswi Kelas 4, 5, dan 6 Sekolah Dasar Negeri yang Telah
Mengalami menstruasi di Kecamatan Kapongan Kabupaten
Situbondo

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS J EMBER
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
J l. Kalimantan 1/ 93 Kampus Tegal Boto. Telp (0331) 322995, 322996.
Fax (0331) 337878 J ember (68121)

No Sekolah Dasar Negeri Jumlah anak yang telah
mengalami menstruasi
(Populasi Penelitian)
Jumlah anak yang telah
mengalami menstruasi
(Sampel Penelitian)
1. SDN 1 Kapongan 16 6
2. SDN 2 Kapongan 21 8
3. SDN 3 Kapongan 5 2
4. SDN 2 Kesambi Rampak 8 3
5. SDN 1 Gebangan 6 2
6. SDN 2 Gebangan 4 2
7. SDN 1 Pokaan 0 0
8. SDN 2 Pokaan 10 3
9. SDN 1 Landangan 12 4
10. SDN 2 Landangan 7 2
11. SDN 1 Seletreng 9 3
12. SDN 2 Seletreng 5 2
13. SDN 3 Seletreng 4 2
14. SDN 4 Seletreng 4 2
15. SDN 5 Seletreng 0 3
16. SDN 1 Wonokoyo 9 3
17. SDN 2 Wonokoyo 5 2
18. SDN 3 Wonokoyo 2 1
19. SDN 1 Peleyan 3 1
20. SDN 2 Peleyan 2 1
21. SDN 4 Peleyan 3 1
22. SDN 1 Curah Cottok 4 2
23. SDN 2 Curah Cottok 2 1
24. SDN 3 Curah Cottok 1 0
25. SDN 1 Kandang 4 2
26. SDN 2 Kandang 13 4
27. SDN 3 Kandang 11 4
JUMLAH 170 64