Anda di halaman 1dari 25

1

1. Latar belakang
Periode janin akhir sampai neonatus awal adalah waktu kehidupan dengan angka
mortalitas tertinggi dibandingkan setiap interval usia (Behrman, 2010). Kehidupan pada
masa neonatus sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologis agar bayi
diluar kandungan dapat hidup dengan sebaik-baiknya. Salah satu masalah yang sering
terjadi pada masa neonatus adalah terjadinya hyperbilirubinemia yaitu suatu keadaan
dimana kadar bilirubin serum lebih dari 2.0 mg/dl yang ditandai adanya jaundice atau
ikterus (Wong, 2009). Menurut Depkes RI (2008) prevalensi ikterus pada bayi baru lahir
meningkat dan mencapai lebih dari 50%. Bayi terlihat kuning pada kulit dan organ tubuh
lainnya, keadaan ini sebagai akibat dari penumpukan bilirubin dalam tubuh.
Hyperbilirubinemia ini pada sebagian neonatus dapat berbentuk fisiologis dan pada
sebagian neonatus lainnya bersifat non fisiologis.
Hyperbilirubinemia fisiologis, yaitu peningkatan kadar bilirubin tidak terkonjugasi
dan diperkirakan jinak. Dijumpai pada sekitar 60% bayi aterm dan lebih dari 80% bayi
prematur. Bilirubin serum mencapai kadar maksimum sebesar 6 mg/dl antara hari ke-2
dan 4 pada bayi aterm, dan 10 mg/dl pada hari ke-5 sampai 7 pada bayi prematur.
Konsentrasi pigmen menurun secara bertahap, mencapai kadar normal dalam 2 minggu
pada bayi aterm dan 2 bulan pada bayi prematur (Rudolph, 2007).
Hyperbilirubinemia dikatakan non fisiologis apabila bilirubin serum terjadi
peningkatan selama 24 jam pertama kadarnya meningkat lebih cepat dari 5 mg/dl/hari
(Wong, 2009); kadar bilirubin direk lebih dari 1.5 mg/dl (34 mol/L) atau lebih dari
10% bilirubin total; kadar bilirubin pada bayi cukup bulan lebih dari 13 mg/dl (222
mol/L) atau 15 mg/dl (257 mol/L) pada bayi prematur; pada bayi cukup bulan,
hyperbilirubinemia memanjang hingga melebihi minggu pertama kehidupan atau lebih
dari 2 minggu pada bayi prematur (Schwarts, 2005).
2

Komplikasi terberat apabila bilirubin mengalami peningkatan adalah enselopati
bilirubin atau kernikterus, yang merupakan salah satu penyebab kematian bayi baru lahir
pada usia 0-6 hari sebanyak 6% menurut riset kesehatan dasar (RISKESDAS, 2007).
Kadar bilirubin yang tinggi mengakibatkan adanya molekul yang berkompetisi dengan
bilirubin untuk mengikat albumin. Dengan demikian lebih banyak albumin yang
berikatan dengan bilirubin yang menyebabkan hipoalbuminemia. Hal ini dapat
menurunkan ambang toksisitas bilirubin dengan cara membuka sawar darah otak dan
terjadinya cedera sawar otak (Schwarts, 2005). Maka dari itu diperlukan penatalaksanaan
yang tepat dan efektif untuk mencegah terjadi komplikasi yang lebih lanjut.
Pada hyperbilirubinemia fisiologis biasanya tidak memerlukan pengobatan.
Berbeda pada hyperbilirubinemia patologis (nonfisiologis), penanganannya bergantung
pada penyebab dan tingkat kadar bilirubin serta derajat anemia yang menyertainya.
Penatalaksanaan bertujuan untuk mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak
mencapai nilai yang menimbulkan kernikterus/enselopati biliaris. Fototerapi merupakan
cara yang lebih efektif dibanding penatalaksanaan yang lain (Schwarts, 2005).
Fototerapi (terapi sinar) merupakan tindakan pemberian sinar (penghangat) yang
bertujuan untuk memperbaiki kadar bilirubin (Hidayat, 2009). Fototerapi dilakukan
apabila telah ditegakkan hiperbiirubin patologis dan berfungsi untuk menurunkan
bilirubin dalam kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto pada bilirubin dan
biliverdin (Suriadi, 2010).
Keuntungan fototerapi adalah tidak invasif, efektif, biaya terjangkau, komplikasi
yang tidak terlalu tinggi, dan mudah digunakan (Facchini, 2000). Fototerapi mengurangi
hyperbillirubinemia melalui tiga proses yaitu fotoisomerisasi, isomerisasi struktural dan
fotooksidasi (Deorari, 2002).
3

Efek samping fototerapi adalah dehidrasi akibat peningkatan insensible water loss
dan diare. Selain itu juga bisa terjadi fotosensitisasi, suhu tubuh yang tidak stabil,
hiperpigmentasi, kemungkinan cidera retina, dan obstruksi hidung akibat adanya
penutup mata yang bergeser menurut Wong (2009) dan Schwarts (2005).
Fototerapi secara klinis tidak bekerja secara efektif apabila terjadi gangguan saluran
cerna/obstraksi usus yang mengakibatkan gangguan peristaltik usus (Wong, 2009).
Waktu mulainya fototerapi tergantung pada konsentrasi bilirubin dengan memperhatikan
apakah bayi lahir aterm atau imatur (Merenstein, Kaplan, dan Rosenberg, 2001) dan juga
tergantung pada umur dan berat badan (Sukadi, 2002). Fototerapi harus dilakukan
sebelum bilirubin mencapai konsentrasi kritis, penurunan konsentrasi serum mungkin
belum tampak selama 12-24 jam, fototerapi harus dilanjutkan sampai konsentrasi
bilirubin serum tetap dibawah 10 mg/dl. Pada bayi imatur dan berat badan lahir rendah
(BBLR) fototerapi dapat diberikan lebih awal pada konsentrasi bilirubin yang lebih
rendah daripada bayi aterm dan bayi dengan berat badan yang normal. Demikian pula
pada keadaan asidosis, hypoksia, hypoglikemia, dan hypoalbuminemia pemberian
fototerapi harus disertai dengan perbaikan kelainan yang menyertai.
Menurut Sukadi (2002) dan Wong (2009) fototerapi bergantung pada faktor
neonatus itu sendiri, diihat berdasarkan faktor fisiologis yang meliputi usia kehamilan
ibu serta berat badan lahir bayi, inkompatibilitas golongan darah, perawatan bayi baru
lahir yang meliputi pemberian ASI pada neonatus dan perawatan tali pusat, serta
pemberian obat-obatan pada ibu.
Pada faktor peralatan, efektifitas fototerapi tergantung pada kualitas cahaya yang di
pancarkan lampu (panjang gelombang) yang menurut penelitian Winra Pratita (2010)
fototerapi dengan sumber sinar berjarak 20 cm dari neonatus lebih efektif dalam
menurunkan kejadian hyperbilirubinemia berat dengan panjang filter 420-475
4

nanometer; intensitas cahaya, pemakaian lampu kurang dari 2000 jam, luas permukaan
tubuh, ketebalan kulit dan pigmentasi, lama paparan cahaya, kadar bilirubin total saat
awal fototerapi yang dijelaskan oleh Wong, Vreman, dan Stevenson dan AAP (2004).
Efektifitas fototerapi juga bergantung proses perawatan yang diberikan oleh
petugas dengan urutan tertentu, secara sistematis, berfokus pada respon manusia, serta
dilandasi oleh langkah-langkah dan alasan ilmiah, serta keterampilan dan interpersonal
untuk membantu menyelesaikan masalah klien. Langkah-langkah dalam proses
keperawatan tersebut meliputi tahap pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
menurut Sukadi (2002), Wong (2009) dan Potter & Perry (2006).
Oleh karena itu keefektifitasan fototerapi sangat bergantung pada beberapa faktor,
diantaranya adalah faktor neonatus, faktor alat, serta faktor perawatan yang diberikan
oleh petugas (Wong, 2009). Faktor-faktor dalam pelaksanaan fototerapi tersebut harus
dilakukan secara komprehensif dan berkesinambungan sehingga pelayanan yang
diberikan menjadi efektif dan efisien. Dengan demikian fototerapi dapat dilakukan
secara optimal sehingga dapat menurunkan konsentrasi bilirubin serum pada neonatus
hyperbilirubinemia.
Rumah sakit umum daerah kabupaten Sumedang merupakan satu-satunya rumah
sakit umum daerah di Sumedang sehingga menjadi pusat rujukan di wilayahnya.
Berdasarkan studi pendahuluan di RSUD kabupaten Sumedang ditemukan data bahwa
angka kejadian neonatus dengan hyperbilirubinemia cukup tinggi seperti terlihat dalam
tabel berikut ini:
Tabel 1.1 Sepuluh Besar Penyakit Rawat Inap di R.Tanjung dan R.Bougenville
RSUD Sumedang Bulan Juli-September 2012.
No Bulan Juli % Bulan Agustus % Bulan September %
Penyakit Penyakit Penyakit
1 Febris 19 Diare Acute 18.3 Hyperbiliribinemia 20.1
5

Convulsion
2 Hyperbiliribin
eia
17 Febris
Convulsion
12.7 Typhoid Fever 13.4
3 GEA 16 Hyperbiliribine
mia
12.7 Febris Convulsion 11.9
4 Typhoid Fever 12 GEA 11.9 GEA 11.9
5 Bronchiolitis 9 Typhoid Fever 10.3 Bronchiolitis 10.4
6 Bronchopneu
monia
8 Bronchopneumo
nia
8.7 Diare Acute 10.4
7 Meningitis 5 Sepsis 7.9 Sepsis 8.2
8 Neonatal
Infection
5 Bronchopneumo
nia (BRPN)
7.1 Bronchopneumonia
(BRPN)
6
9 Sepsis 5 BBLR 5.6 Asthma Bronchiale 3.7
10 Encephalitis 4 DHF 4.8 DHF 3.7
Sumber: Catatan Rekam Medik RSUD Sumedang Tahun 2012
Di RSUD Sumedang fototerapi diberikan pada neonatus dengan kadar billirubin
total lebih dari 10 mg/dl. Dan periode pemberian fototerapi diberikan sesuai dengan
penyebab serta protokoler terapi yang telah ditetapkan.
Pada bulan September 2012 jumlah neonatus dengan hyperbilirubinemia yang
mendapat fototerapi sebanyak 14 kasus, dengan konsentrasi bilirubin awal sebelum
fototerapi paling rendah 10.9 mg/dl dan paling tinggi 19.75 mg/dl dengan rentang
pemberian fototerapi antara 2-9 hari. Dengan fototerapi tejadi penurunan konsentrasi
bilirubin rata-rata sebesar 2.03 mg/dl perhari dengan periode fototerapi 24 jam per hari.
Merujuk pada pendapat Wong (2009) bahwa fototerapi dapat menurunkan konsentrasi
bilirubin sebesar 3-8 mg/dl/hari.
Hasil penulurusan sementara didapatkan data bahwa pelaksanaan fototerapi sudah
sesuai dengan standar operasional, yang dilihat dari faktor alat di rumah sakit, serta
faktor pengetahuan dan keterampilan perawatan yang diberikan oleh petugas. Oleh
karena itu peneliti ingin menggali lebih dalam mengenai faktor nenatus mana yang lebih
dominan dalam efektifitas fototerapi pada hyperbilirubinemia neonatus.
6

Berdasarkan fenomena yang telah diuraikan, penulis merasa tertarik untuk
melakukan studi kasus tentang Hubungan Faktor Neonatus terhadap Efektifitas
Fototerapi pada Neonatus dengan Hyperbilirubinemia di Ruang Tanjung dan
Ruang Bougenvill Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang.

2. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah pada penelitian ini adalah bagaimana hubungan faktor
neonatus terhadap efektifitas fototerapi pada neonatus dengan hyperbilirubinemia di
ruang tanjung dan ruang bougenvil rumah sakit umum daerah kabupaten Sumedang.

3. Tujuan Penelitian
3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui dan mengidentifikasi adakah hubungan faktor neonatus terhadap
efektifitas fototerapi pada neonatus dengan hyperbilirubinemia di ruang tanjung dan
ruang bougenvil rumah sakit umum daerah kabupaten Sumedang.

3.2 Tujuan Khusus
3.2.1 Mengidentifikasi faktor fisiologis pada hyperbilirubinemia neonatus yang
menjalani fototerapi.
3.2.2 Mengidentifikasi perawatan bayi baru lahir pada hyperbilirubinemia neonatus
yang menjalani fototerapi.
3.2.3 Mengidentifikasi faktor inkompatibilitas golongan darah pada hyperbilirubinemia
neonatus yang menjalani fototerapi.
3.2.4 Mengidentifikasi pemberian obat-obatan pada hyperbilirubinemia neonatus yang
menjalani fototerapi.
7


4. Kegunaan Penelitian
4.1 Bagi Rumah Sakit
Memberikan informasi kepada rumah sakit khususnya bidang keperawatan tentang
hubungan faktor neonatus terhadap efektifitas fototerapi pada neonatus dengan
hyperbilirubinemia, sebagai bahan evaluasi dan dapat dipertimbangkan sebagai dasar
untuk meningkatkan asuhan keperawatan.
4.2 Bagi Perawat Pelaksana
Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai informasi dan bahan telaahan untuk
penyempurnaan standar atau keberhasilan prosedur kerja yang berhubungan dengan
efektifitas fototerapi pada hyperbilirubinemia neonatus.
4.3 Bagi Peneliti Selanjutnya
Penelitian ini dapat berguna sebagai dasar penelitian lebih lanjut, dengan meneliti
lebih mendalam mengenai hubungan faktor neonatus terhadap efektifitas fototerapi pada
klien hyperbilirubinemia neonatus.

5. Kerangka Pemikiran
Pada hyperbilirubinemia fisiologis biasanya tidak memerlukan pengobatan.
Berbeda pada hyperbilirubinemia patologis, penanganannya bergantung pada penyebab
dan beratnya gejala serta derajat anemia yang menyertainya. Penatalaksanaan bertujuan
untuk mengendalikan agar kadar bilirubin serum tidak mencapai nilai yang
menimbulkan kernikterus/enselopati biliaris. Fototerapi merupakan cara yang lebih
efektif dibanding penatalaksanaan yang lain (Schwarts, 2005).
8

Keefektifitasan fototerapi sangat bergantung pada beberapa faktor, diantaranya
adalah faktor neonatus, faktor alat di rumah sakit, serta faktor pengetahuan dan
keterampilan perawatan yang diberikan oleh petugas (Wong, 2009).
Faktor pertama adalah faktor alat, efektifitas fototerapi tergantung pada kualitas
cahaya yang di pancarkan lampu (panjang gelombang) yang menurut penelitian Winra
Pratita (2010) fototerapi dengan sumber sinar berjarak 20 cm dari neonatus lebih efektif
dalam menurunkan kejadian hyperbilirubinemia berat dengan panjang filter 420-475
nanometer; intensitas cahaya, pemakaian lampu kurang dari 2000 jam, luas permukaan
tubuh, ketebalan kulit dan pigmentasi, lama paparan cahaya, kadar bilirubin total saat
awal fototerapi yang dijelaskan oleh Wong (2009), Vreman, dan Stevenson dan AAP
(2004).
Faktor kedua yaitu faktor pengetahuan dan keterampilan perawatan yang diberikan
oleh perawat dengan urutan tertentu, dilakukan secara sistematis, berfokus pada respon
manusia, serta dilandasi oleh langkah-langkah dan alasan ilmiah, serta keterampilan dan
interpersonal untuk membantu menyelesaikan masalah klien. Langkah-langkah dalam
proses keperawatan tersebut meliputi tahap pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi (Potter & Perry, 2006).
Dan faktor ketiga yaitu faktor neonatus, yang terdiri dari (1) faktor fisiologis yang
meliputi usia kehamilan ibu serta berat badan lahir bayi karena pada bayi dengan berat
badan lahir rendah dan pada prematur maka kerja hepar belum optimal yang
mengakibatkan proses fototerapi berjalan kurang efektif; (2) inkompatibilitas golongan
darah ABO diakibatkan oleh destruksi sel darah merah neonatus oleh igG maternal yang
melalui plasenta masuk ke sirkulasi fetal (ibu O, bayi A atau B) sehingga mengakibatkan
hemolisis. Apabila hemolisis maka ; (3) perawatan bayi baru lahir yang meliputi (a)
kondisi tali pusat, apabila pada melahirkan pemotongan tali pusat berjalan lambat maka
9

akan banyak darah ibu yang mengalir kepada neonatus. Apabila golongan darah dan
pemberian ASI pada neonatus berhubungan dengan munculnya peristaltik usus agar
bilirubin dapat di sekresikan; serta (4) pemberian obat-obatan pada ibu, albumin
mempunyai dua ikatan yaitu ikatan primer dan ikan sekunder (ikatan yang lebih lemah).
Obat-obatan tertentu seperti sulfonamid, salisilat, dieuretik dan FFA (free faty acid)
berkompetititp dengan bilirubin dalam ikatannya dengan albumin. Obat novobiosin dan
asam flavasidat juga mengganggu dalam uptake bilirubin ke hepar akibat berkurangnya
ligandin sebagai pengikat aseptor Y dan Z protein oleh anion lain, hal ini dikemukakan
oleh Wong (2009) dan Sukadi (2002).
















10

Bagan 1.1 Kerangka Pemikikiran Hubungan Faktor Neonatus terhadap Efektifitas Fototerapi pada
Neonatus dengan Hyperbilirubinemia di Ruang Tanjung dan Ruang Bougenvill Rumah Sakit Umum
Daerah Sumedang.



















Modifikasi teori berdasarkan teori Wong (2009), Sukadi (2002), dan Notoatmodjo (2012)

Keterangan: : Di teliti
: Tidak diteliti








Hyperbilirubinemia
Neonatus
Efektifitas
fototerapi

Faktor Neonatus:
- Faktor fisiologis
- inkompatibilitas
golongan darah
- perawatan bayi baru
lahir
- pemberian obat-
obatan

Faktor Alat
Faktor Keterampilan
Perawat
11

6. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional
dengan tujuan untuk memaparkan masalah yang ada berdasarkan data, kemudian
menyajikan data, menganalisis, dan menginterpretasikan data (Setiadi, 2007). Penelitian
korelasional mengkaji hubungan antara variabel dan bertujuan mengungkapkan
hubungan korelatif antarvariabel.
Penelitian ini menggunakan pendekatan studi Cross Sectional, dimana variabel
independen (faktor neonatus) dan variabel dependen (efektifitas fototerapi) dilakukan
pengukuran sekaligus dalam waktu yang bersamaan (Arikunto, 2010)

7. Variabel penelitian
Variabel adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek, atau kegiatan
yang kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2010).
7.1 Variabel Independen
Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi
sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Dalam hal ini yang
menjadi variabel independen adalah faktor neonatus dengan subvariabelnya adalah C1
(faktor fisiologis), C2 (perawatan bayi baru lahir), C3 (inkompatibilitas golongan darah),
dan C4 (pemberian obat-obatan) terhadap efektifitas fototerapi pada neonatus dengan
hyperbilirubinemia di RSUD Sumedang.
7.2 Variabel Dependen
Variabel dependen atau variabel terikat adalah faktor yang di amati dan diukur
untuk menentukan ada tidaknya hubungan atau pengaruh dari variabel independen atau
variabel bebas (Nursalam, 2008). Dalam hal ini yang menjadi variabel independen
12

adalah efektifitas fototerapi pada neonatus dengan hyperbilirubinemia di RSUD
Sumedang.

8. Definisi Konseptual dan Operasional
8.1 Definisi Konseptual
Neonatus adalah bayi berusia 0 sampai dengan 28 hari (Rudolph, 2006).
Hyperbilirubinemia adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin serum
lebih dari 2mg/dl yang ditandai dengan adanya jaundice atau ikterus. Bayi kelihatan
kuning pada kulit atau organ tubuh lainnya dan keadaan ini sebagai akibat dari
penumpukan bilirubin pada tubuh (Wong, 2009).
Fototerapi adalah terapi sinar yang efektif untuk menurunkan konsentrasi bilirubin
dengan cara mempertinggi kelarutannya dalam air melalui proses fotoisomerisasi atau
fotooksidasi, dengan menggunakan spektrum pancaran atau aliran yang terus menerus
dari sumber cahaya dengan interval 420-470 nanometer (Poland dan Ostrea dalam Klaus
dan Fanaroff,
Efektifitas adalah pengukuran keberhasilan dalam pencapaian tujuan-tujuan yang
telah ditentukan.

8.2 Definisi Operasional
Tabel 2.1 Definisi Operasional
Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil
Pengukuran
Skala
Independen
1. Faktor
Fisiologis:
a. Usia



Usia kehamilan ibu yang



Kuesioner



2: Aterm



Ordinal
13

kehamilan
ibu




b. Berat badan
lahir
memiliki neonatus
hyperbilirubinemia dan
melaksanakan fototerapi
di RSUD Sumedang


Berat badan
hyperbilirubinemia
neonatus yang menjalani
fototerapi di RSUD
Sumedang






Kuesioner
1: Prematur





2: Berat
badan lahir
normal
1: BBLR
(Berat badan
lahir rendah)







Ordinal
2. Golongan
darah
Golongan darah ibu dan
bayi dengan
hyperbilirubinemia
neonatus yang menjalani
fototerapi di RSUD
Sumedang
Kuesioner 2: sesuai
dengan ibu
1: Tidak
sesuai
dengan ibu
Ordinal
3. Perawatan
bayi baru
lahir
a. Kondisi tali
pusat





b. Pemberian
ASI



Bagaimana kondisi tali
pusat pada bayi dengan
hyperbilirubinemia
neonatus yang menjalani
fototerapi di RSUD
Sumedang

Waktu pemberian ASI
setelah melahirkan bayi
dengan
hyperbilirubinemia



Kuesioner






Kuesioner



2: Tidak
infeksi
1: Infeksi




2: Ya
1: Tidak




Ordinal







Ordinal
14

neonatus yang menjalani
fototerapi di RSUD
Sumedang
4. Pemberian
obat-obatan
Jenis pemberian obat
yang di konsumsi oleh
ibu saat kelahiran
neonatus dengan
hyperbilirubinemia dan
sedang menjalani
fototerapi di RSUD
Sumedang
Kuesioner 2: Tidak
1: Ya
Ordinal
Dependen
Efektifitas
fototerapi

Efektifitas fototerapi
pada hyperbilirubinemia
neonatus di RSUD
Sumedang

Rekam
arsip

2: Efektif
1: Tidak
efektif


Ordinal

9. Hipotesis Penelitian
9.1 Mayor
Ha : Ada hubungan antara fungsi neonatus terhadap efektifitas fototerapi pada neonatus
dengan hyperbilirubinemia di ruang tanjung dan bougenvile RSUD Sumedang.
9.2 Minor
a. Ada hubungan antara faktor fisiologis dengan efektifitas fototerapi pada neonatus
dengan hyperbilirubinemia di ruang tanjung dan bougenvile RSUD Sumedang.
b. Ada hubungan antara perawatan bayi baru lahir pada hyperbilirubinemia
neonatus yang menjalani fototerapi.
c. Ada hubungan antara faktor inkompatibilitas golongan darah pada
hyperbilirubinemia neonatus yang menjalani fototerapi.
15

d. Ada hubungan antara pemberian obat-obatan pada hyperbilirubinemia neonatus
yang menjalani fototerapi.

10. Populasi dan Sampel Penelitian
10.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek atau subjek penelitian yang mempunyai kualitas
dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti (Sugiyono, 2010). Populasi dalam
penelitian ini adalah seluruh klien yang menjalani fototerapi pada hyperbilirubinemia
neonatus di ruang tanjung dan ruang bougenvile Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang.
Total populasi dalam penelitian ini dalam waktu 3 bulan sejumlah 60 hyperbilirubinemia
neonatus, jadi rata-rata populasi per bulan sejumlah 20 hyperbilirubinemia neonatus.
10.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
tersebut (Sugiyono, 2010). Dalam penelitian ini menggunakan accidental sampling yaitu
teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara
kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sampel, bila dipandang
orang yang ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono,2010). Dalam penelitian
ini sampel nya adalah seluruh klien yang menjalani fototerapi pada hyperbilirubinemia
neonatus di ruang tanjung dan ruang bougenvile Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang.
10.3 Teknik Pengambilan Sampel
Teknik sampling merupakan teknik pengambilan sampel untuk menentukan sampel
yang akan digunakan dalam penelitian. Teknik sampling dalam penelitian ini
menggunakan nonprobability sampling dimana teknik pengambilan sampel yang tidak
memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk
dipilih menjadi sampel (Sugiyono, 2010).
16

11. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan peneliti untuk
mengumpulkan data (Arikunto, 2010). Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu
sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang
langsung memberikan data kepada pengumpul data, sedangkan sumber data sekunder
adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data
(Sugiyono, 2010).
Dalam penelitian ini menggunakan teknik data dokumentasi atau rekaman arsip dan
kuesioner. Sebelum mengisi kuesioner, peneliti meminta kesediaan responden penelitian
dengan lembar informed concent yang tersedia pada halaman awal kuesioner. Setelah
responden menyetujui, maka peneliti memberi penjelasan tentang penelitian yang akan
dilakukan. Waktu pengisian yang diberikan kepada responden 20-30 menit untuk
mengisi seluruh pertanyaan yang tercantum dalam kuesioner dan ditunggu oleh peneliti.
Pembagian angket dilakukan oleh peneliti dengan bantuan kepala ruangan. Disamping
itu juga dilakukan studi dokumentasi dari catatan rekam medik klien tentang catatan
keperawatan yang berhubungan dengan faktor neonatus terhadap efektofitas fototerapi
dan data lain yang menunjang.

12. Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, instrumen penelitianya adalah dokumentasi atau rekaman
arsip dan kuesioner. Dalam penyusunan pedoman dokumentasi atau rekaman arsip dan
kuesioner ini penulis menjabarkan berdasarkan variabel penelitian yaitu hubungan faktor
neonatus terhadap efektifitas fototerapi pada neonatus dengan hyperbilirubinemia,
selanjutnya variabel tersebut dijabarkan berdasarkan subvariabel penelitian yaitu adalah
17

faktor fisiologis, perawatan bayi baru lahir, inkompatibilitas golongan darah, dan
pemberian obat-obatan.
penelitian ini dibuat oleh penulis berdasarkan teori asuhan keperawatan pada
neonatus dengan hyperbilirubinemia dan pedoman fototerapi dari beberapa literatur,
selanjutnya disesuaikan dengan kemungkinan yang terjadi di lapangan.
12.1 Uji Validitas
Prinsip dari pengujian validitas adalah pengukuran atau pengamatan berarti prinsip
keandalan instrumen dalam mengumpulkan data. Instrumen penelitian harus dapat
mengukur apa yang seharusnya diukur (Sugiyono, 2010). Dalam penelitian ini uji
validitas bertujuan untuk mengukur setiap item pertanyaan kuesioner setiap variabel
yang diteliti. Dengan uji validitas maka apabila hasil ujinya bermakna valid, maka hasil
perhitungan dan analisis data juga akan dimaknai valid atau diakui dapat diterima.
Validitas alat ukur merupakan taraf kesesuaian dan ketepatan dalam melakukan suatu
penelitian, atau dengan kata lain apakah alat ukur tersebut sudah benar atau belum. Pada
penelitian ini menggunakan validitas isi atau content validity dengan mengkonsultasikan
setiap item pertanyaan yang dibuat kepada salah seorang dosen Fakultas Keperawatan
Universitas Padjadjaran yang ahli dalam bidangnya.
Pada penelitian ini untuk pengujian validitas pada instrumen digunakan rumus
korelasi product moment, dengan rumus sebagai berikut:



Keterangan:
xy
r = Korelasi
N = Jumlah responden

18

X = Skor per item dalam variabel
Y= Skor total item dalam variabel (Arikunto, 2010)

Jika r positif, serta r > 0.576 maka item pertanyaan tersebut valid. Jika r negatif,
serta r < 0.576 maka item pertanyaan tersebut tidak valid. Untuk memperoleh alat ukur
yang baik, maka pertanyaan (item) yang tidak valid harus diperbaiki atau dibuang
(Hastono, 2006).
Tabel interpretasi Nilai r*)
Besarnya nilai r Interpretasi
Antara 0,800 sampai dengan 1,00
Antara 0,600 sampai dengan 0,800
Antara 0,400 sampai dengan 0,600
Antara 0,300 sampai dengan 0,400
Antara 0,000 sampai dengan 0,200
Tinggi
Cukup
Agak rendah
Rendah
Sangat rendah (tak berkorelasi)
Apabila diperoleh angka negatif, berarti korelasinya negatif (Arikunto, 2010).

12.2 Uji Reabilitas
Reabilitas adalah kesamaan dari hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau
kenyataan diukur atau diamati berkali-kali dalam waktu yang berlainan (Sugiyono,
2010). Instrumen pada penelitian ini menggunakan koefisien reabilitas Alpha Cronbach
yang digunakan untuk mencari reabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0
(Arikunto, 2010). Rumus Alpha Cronbach yaitu:


dimana
19


dan

Keterangan:
R : reabilitas instrumen
k : banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal
jumlah varians butir
varians total
jumlah responden
skor tiap butir
skor total
Sedangkan untuk instrumen yang memiliki skor 1 dan 0, maka digunakan koefisien
reabilitas Kuder Richardson 20 (KR-20) untuk uji reabilitas. Rumus Kuder Richardson
20 yaitu:

(Arikunto, 2010)

Keterangan:
Reabilitas instrumen
Banyaknya butir pertanyaan
Varians total
Proporsi subjek yang menjawab betul pada sesuatu butir (proporsi subjek yang mendapat
skor 1)
Banyaknya subjek yang skornya 1 dibagi N
Proporsi subjek yang mendapat skor 0 dibagi (q=1-p)
20


Sekumpulan pernyataan dikatan reliabel jika koefisien reabilitasnya lebih dari atau
sama dengan 0.700 (Arikunto, 2010). Dasar pengambilan keputusan:
- Jika r Alpha positif, serta r > 0.700 maka faktor atau variabel tersebut reliabel.
- Jika r Alpha tidak positif, serta r < 0.700 maka faktor atau variabel tersebut tidak
reliabel.

13. Pengolahan dan Analisis Data
Analisa data yaitu pengolahan data dengan menggunakan rumus-rumus atau aturan-
aturan sesuai dengan pendekatan penelitian atau desain yang dioergunakan sehingga
diperoleh suatu kesimpulan (Setiadi, 2007). Analisa data yang digunakan untuk
mengidentifikasi hubungan faktor neonatus terhadap efektifitas fototerapi pada
neonatus dengan hyperbilirubinemia adalah metode deskriptif korelasional.
13.1 Editing
Pada tahao ini peneliti melakukan pengecekan terhadap data-data yang ada
terutama kelengkapan data yang dikumpulkan melalui kuesioner.
13.2 Koding
Koding atau tanda kode merupakan suatu model untuk mengkonversikan
(menerjemahkan) data yang dikumpulkan selama penelitian ke dalam kode atau angka
yang sesuai untuk keperluan analisis. Pemberian koding dilakukan dengan menggunakan
skala guttman yaitu dengan jawaban
13.3 Entry data
Peneliti melakukan proses tabulasi dengan membuat tabel. Item-item yang sudah
diberi kode jawaban kemudian dimasukkan ke dalam tabel. Data kemudian diolah
21

dengan menggunakan komputer yang dibantu dengan menggunakan program software di
komputer.
13.4 Cleaning
Pembersihan data dengan melihat variabel apakah sudah benar atau belum
13.5 Teknik Analisa Data
13.5.1 Analisa Data Faktor Neonatus
Analisa data yaitu pengolahan data dengan menggunakan rumus-rumus atau aturan-
aturan sesuai dengan pendekatan penelitian atau desain yang dipergunakan sehingga
diperoleh suatu kesimpulan (Setiadi, 2007). Hasil kuesioner yang telah ada selanjutnya
diolah secara tabulasi dan kemudian dianalisa yang biasa digunakan dalam skala
Guttman adalah median, dengan rumus berikut:

(Hastono, 2006)
Keterangan:
Me = nilai tengah
n = jumlah responden keseluruhan
Pengkategorian dari masing-masing responden dilakukan berdasarkan kriteria
sebagai berikut:
- Jika skor nilai Me, maka cederung baik
- Jika skor nilai < Me, maka cenderung tidak baik

13.5.2 Analisa Data untuk Mengukur Hubungan Faktor Neonatus terhadap
Efektifitas Fototerapi pada Hyperbilirubinemia Neonatus
Untuk mengetahui hubungan antara faktor neonatus terhadap efektifitas fototerapi
pada klien hyperbilirubinemia neonatus di ruang tanjung dan ruang bougenvile RSUD
Me =
1
2
[data ke (

2
) + data ke (
+2
2
)]
22

Sumedang, maka digunakan teknik analisis koefisien kontingensi mengingat semua
variabel berbentuk kategori (Arikunto, 2010). Koefisiensi kontingensi sangat erat
kaitanya dengan chi kuadrat. Chi kuadrat diberi simbol
2
yang digunakan untuk
menghitung signifikansi hubungan frekuensi yang aspek yang ditanyakan dengan
frekuensi harapan. Dengan rumus sebagai berikut:




Keterangan:
O = banyaknya frekuensi yang diobservasi baris ke-i kolom ke-j
E = banyaknya frekuensi yang diharapkan dibawah Ho dalam baris ke-i dan kolom ke-j
Hasil statustik uji
2
dibandingkan dengan
2
tabel dengan taraf signifikan 0.005.
Bila didapatkan
2
hitung > dari
2
tabel, maka didapatkan hubungan yang signifikan
atau terdapat hubungan antara faktor neonatus dengan efektifitas fototerapi pada klien
hyperbilirubinemia neonatus di ruang tanjung dan ruang bougenvile RSUD Sumedang.
Selanjutnya untuk mengetahui derajat keeratan hubungan antara faktor neonatus dengan
efektifitas fototerapi pada klien hyperbilirubinemia neonatus digunakan analisa
kontingensi dengan rumus:
C =
Keterangan :
C = koefisien kontingensi

2
= chi kuadrat
= jumlah sampel

=0

2
=
23

Setelah didapat nilai koefisien kontingensi maka hasilnya diinterpretasikan berupa
suatu rentang yang terdiri dari 5 kategori yaitu
1. Jika antara 0.00 0.199 korelasi sangat rendah
2. Jika antara 0.20 0.399 korelasi rendah
3. Jika antara 0.40 0.599 korelasi sedang
4. Jika antara 0.60 0.799 korelasi kuat
5. Jika antara 0.80 0.900 korelasi sangat kuat (Sugiyono, 2010)

14. Tahap Penelitian
14.1 Tahap Persiapan
Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan tahap persiapan sebagai berikut;
(1) menentukan ruang lingkup permasalahan, (2) memilih lahan penelitian, (3)
mendapatkan ijin studi pendahuluan, (4) melakukan studi kepustakaan, (5) melakukan
studi pendahuluan, (6) menyusun instrumen penelitian, (7) menyusun proposal
penelitian, (8) melakukan seminar proposal, (9) perbaikan seminar proposal, dan (9)
mendapatkan ijin penelitian.
14.2 Tahap Pelaksanaan
Tahap ini peneliti melakukan penelitian dengan cara; (1) Mempersiapkan
kelengkapan data, (2) melakukan pengumpulan data, (3) mengolah dan menganalisa
data.
14.3 Tahap Akhir
Pada tahap ini, peneliti melakukan; (1) menyusun laporan hasil penelitian, (2)
melaksanakan sidang dan pertanggungjawaban hasil penelitian, (3) perbaikan sidang,
dan (4) pendokumentasian hasil penelitian.

24

15. Etika Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti akan menjamin hak-hak responden selama penelitian
ini berlangsung, yaitu:
a. Informed Concent
Informed Concent merupakan bentuk persetujuan antara peneliti dengan responden
penelitian dengan memberikan lembar persetujuan. Tujuan Informed Concent adalah
agar subjek mengerti maksud dan tujuan penelitian, mengetahui dampaknya. Informed
Concent akan diberikan sebelum penelitian dilakukan dengan memberikan lembar
informasi dan persetujuan untuk menjadi responden.
b. Confidentiality (kerahasiaan)
Confidentiality (kerahasiaan) merupakan jaminan kerahasiaan hasil penelitian, baik
informasi maupun masalah-masalah lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan
dijamin kerahasiaannya oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan
dilaporkan pada hasil penelitian.
c. Berkeadilan
Dalam melakukan penelitian, perlakuannya sama, setiap orang diberlakukan sama
berdasar moral, martabat, dan hal asasi manusia. Hak dan kewajiban peneliti dan
subjek penelitian seimbang.
d. Anonim
Dalam melakukan penelitian, seluruh responden tanpa terkecuali tidak
mencantumkan nama, hanya diberikan kode oleh peneliti.

16. Lokasi dan Waktu Penelitian
25

Pengumpulan data dilakukan di ruang tanjung dan ruang bougenvile Rumah Sakit
Umum Daerah Sumedang selama 4 (empat) minggu, yaitu minggu ke 1 sampai ke IV
bulan maret 2013.