Anda di halaman 1dari 103

Materi Kuliah PENGANTAR PSIKOLOGI

Materi Kuliah PENGANTAR PSIKOLOGI Oleh : Firman Taqur, S.Sos STISIP WIDYAPURI MANDIRI SUKABUMI PROGRAM STUDI ILMU

Oleh :

Firman Taqur, S.Sos

STISIP WIDYAPURI MANDIRI SUKABUMI PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

TAHUN AKADEMIK 2009/2010

ApA Itu PsiKoL0gI?

Pertanyaan ini mungkin pernah muncul dibenak anda semua. Jawabannya

pastilah bervariasi, ada yang menjawab psikologi itu ilmu tentang KEJIWAAN, ada

yang menganggap ilmu tentang PERILAKU, ada pula yang menjawab itu ilmu

KEBATINAN.

Atau, anda mempunyai definisi yang lain tentang psikologi? Anda punya pendapat sendiri? Silahkan kemukakan jangan takut salah, toh PSIKOLOGI sebenarnya mempunyai banyak definisi. Seperti sebuah kata CINTA yang punya banyak definisi. Jadi, belum ada satu kesepakatan yang pasti bahwa definisi dari psikologi adalah ini atau itu yang tok . Namun, daripada anda dibuat pusing untuk mencari definisi tentang psikologi versi sendiri, ada baiknya kita tengok (baca : telaah) dulu arti dari psikologi secara harpiah dan pengertian psikologi berdasarkan pendapat para ahli atau pakar psikologi.

Psikologi adalah perkataan yang berasal dari tamadun Greek purba, yakni berasal dari dua suku kata, Psyche dan Logos .

Psyche = Jiwa + Logos = Kata

Dalam arti bebas, psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang jiwa atau mental.

Karenanya ia dapat didefinisikan sebagai berikut :

The scientific study of the way the human mind works and how it influences behaviour, or the influence of a particular person s character

on their behaviour . [Cambridge International Dictionary of English, p.383]

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

1
1

Atau :

1. Kajian tentang proses mental dan pemikiran, terutamanya berhubung dengan

perlakuan manusia dan hewan

2. Pola pemikiran dan perlakuan seseorang atau sesuatu kumpulan tertentu

3. Kebijaksanaan memahami sifat manusia

(Kamus Dewan, edisi Ketiga. 1060)

Notes :

Psikologi tidak mempelajari jiwa/mental itu secara langsung karena sifatnya yang abstrak, tetapi psikologi membatasi pada manifestasi dan ekspresi dari jiwa/mental tersebut yakni berupa tingkah laku dan proses atau kegiatannya, sehingga Psikologi dapat didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku dan proses mental

Pendapat Ahli/Pakar :

The science of mental life, both of its phenomena, and of their condition .

James,W. (dlm Harriman,P.L.,1963 ,Handbook of Psychological Terms)

The scientific study of the behavior and mental processes of humans and other animals .

Crooks,R.L., Stein,J. 1988,(dlm Psychology. Science,Behavior and Life)

THE SCIENTIFIC STUDY OF BEHAVIOR, BOTH EXTERNAL OBSERVABLE ACTION AND INTERNAL THOUGHT,

Wortman, C., Loftus, E., Weaver, Ch, 2004 (dlm Psychology. 5th.ed)

The scientific investigation of mental processes and

behavior. Westen, Drew, 1959 (dalam buku Psychology : mind, brain & culture)

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

2
2

[Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkahlaku manusia dalam hubungannya dengan lingkungan sekitarnya. aspek yang dipelajari dalam tingkahlaku manusia tersebut meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik]

Di banyak buku tentang perkenalan atau pengantar psikologi Anda akan banyak menemukan definisi dari psikologi. Ini membuktikan kalau psikologi belum mempunyai satu artian. Tapi pada umumnya psikologi adalah ilmu yang mempelajari proses mental atau kejiwaan dan yang mempelajari tentang tingkah laku (behavior) baik manusia maupun hewan.

KARAktEr

Ilmu Psikologi sendiri bersifat abstrak, karena tidak mempelajari secara langsung dari tingkah laku dan jiwa seseorang. Psikologi kontemporer diawali Psikologi adalah ilmu yang mempunyai banyak kajian dan melakukan banyak pendekatan. Setelah membaca buku-buku dan mendapatkan banyak informasi, saya jadi mengetahui jika ilmu psikologi itu kompleks dan terbagi-bagi ke beberapa bagian.

Ilmu ini ternyata mempunyai ciri khas tersendiri karena penelitiannya dapat dilakukan di mana saja dimana masih ada proses mental serta tingkah laku pada objek kajiannya dan melakukan observasi secara langsung terhadap objek tersebut sehingga bisa menimbulkan pengetahuan baru dan keunikan dari kejiwaan serta proses tingkah laku objek kajiannya.

Inilah yang menjadikan sisi yang MENARIK dari Ilmu Psikologi karena kita

dapat mengetahui sisi unik kepribadian dan kejiwaan dari diri seseorang. Melalui

Ilmu Psikologi, misalnya kita dapat belajar untuk bersikap empati, yaitu dapat

memahami perasaan orang lain dengan baik. Bahkan, kita

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

3
3

dapat memberikan solusi atau pemecahan konflik masalah pribadi sesorang melalui empati dan tentunya dengan metode-metode psikologi yang sudah teruji. Pengembangan empati menjadi amat relevan guna membangun aspek-aspek manusiawi individu itu. Empati membantu kita mengetahui dan memahami emosi orang lain dan berbagi perasaan dengan orang lain.

Dengan empati, kita dituntut untuk mengubah pola pikir yang rigid menjadi

fleksibel, pola pikir yang egois menjadi toleran. Kita juga menjadi

mengerti, tidak semua keinginan kita terhadap orang lain itu dapat terpenuhi, dan memiliki inisiatif membantu orang lain yang berada dalam kesulitan.

Kemampuan kita untuk membayangkan perasaan seseorang dan berpikir dalam keseluruhan sikap mental emosional orang lain menjadi dasar pengembangan empati. Kita memerlukan kesadaran diri, keterbukaan pada emosi diri, dan keterampilan membaca perasaan sehingga dapat melihat dirinya pada peran yang dimainkan orang lain.

Dengan kemampuan itu, kita memahami, mengenali, dan memberi nama (label) secara tepat terhadap emosi-emosi yang dirasakan. Dengan demikian, tak ada kebingungan pada anak dalam mendefinisikan apa yang sedang bergolak dalam

perasaannya dan kesalahan penggunaan coping behaviour tak akan terjadi.

Daniel Goleman, dalam buku Emotional Intelligence, mengemukakan,

empati memungkinkan seseorang untuk menghayati masalah atau kebutuhan yang tersirat di balik perasaan orang lain, yang tidak hanya diungkapkan melalui kata- kata. Melalui empati, kita tidak hanya keluar diri dalam usaha memahami orang lain, tetapi juga melakukan pemahaman internal terhadap self.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

4
4

PERTAMA,

Kesadaran bahwa tiap orang memiliki sudut pandang berbeda akan

mendorong kita mampu menyesuaikan diri sesuai dengan lingkungan sosialnya. Dengan menggunakan mobilitas pikirannya, kita dapat menempatkan diri pada posisi perannya sendiri maupun peran orang lain sehingga akan membantu melakukan komunikasi efektif.

Kedua,

Mampu berempati mendorong kita melakukan tindak altruistis,

yang tidak hanya mengurangi atau menghilangkan penderitaan orang lain, tetapi juga ketidaknyamanan perasaan kita melihat penderitaan orang lain. Merasakan apa yang dirasakan individu lain akan menghambat kecenderungan perilaku agresif terhadap individu itu.

Ketiga,

Kemampuan untuk memahami perspektif orang lain membuat kita

menyadari bahwa orang lain dapat membuat penilaian berdasarkan perilakunya. Kemampuan ini membuat individu lebih melihat ke dalam diri dan lebih menyadari serta memerhatikan pendapat orang lain mengenai dirinya.

Proses itu akan membentuk kesadaran diri yang baik, dimanifestasikan

dalam sifat optimistis, fleksibel, dan emosi yang matang. Jadi, konsep diri yang kuat, melalui proses perbandingan sosial yang terjadi dari pengamatan dan pembandingan diri dengan orang lain, akan berkembang dengan baik.

Kemampuan mengambil perspektif orang lain merupakan kunci untuk menciptakan

hubungan sosial yang hangat. Hubungan sosial yang berkualitas inilah

yang memungkinkan seseorang dapat mengekspresikan perasaannya secara terbuka dengan mengembangkan emosinya dengan sehat.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

5
5

seJaRAH

Psikologi merupakan ilmu baru yang berkembang pada akhir abad 19 atau sekitar

akhir tahun 1800 an. Kendati demikian, orang di sepanjang sejarah telah

memerhatikan masalah psikologi, contohnya seorang filsuf Yunani, PLATO dan

Aristoteles. Setelah era keduanya, ST. AUGUSTINE (354-430)

dianggap sebagai tokoh besar dalam psikologi modern karena perhatiannya pada

intropeksi dan keingintahuannya tentang fenomena psikologi.

DESCRATES (1596-1650) mengajukan teori bahwa hewan adalah mesin yang

dapat dipelajari sebagaimana mesin lainnya. Ia juga memperkenalkan konsep kerja

refleks. Banyak ahli filsafat terkenal lain dalam abad tujuh belas dan delapan belas,

sebut saja Leibnits, Hobbes, Locke, Kant, dan Hume, memberikan sumbangan dalam

bidang psikologi.

Tokoh

Mempelajari ilmu psikologi tentu belum terasa lengkap tanpa mengenal para tokoh

yang

Selain itu demi memenuhi banyak permintaan dari para

pembaca, maka kami mencoba untuk menguraikan riwayat singkat para tokoh

digunakan saat ini.

mempelopori berbagai teori psikologi yang

menjadi

pendiri

atau

yang

psikologi dan hasil karya mereka, sebagai berikut :

1. Wilhelm Wundt

10.

Henry Murray

2. Ivan Pavlov

11.

Jean Piaget

3. Emil Kraepelin

12.

Carl Rogers

4. Sigmund Freud

13.

Burrhus Frederic Skinner

5. Alfred Binet

14.

Abraham Maslow

6. Alfred Adler

15.

Hans Eysenck

7. Carl Jung

16.

Albert Bandura

8. John Watson

17.

Wilhe

9. Max Wertheimer

18.

Erik Erikson

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

6
6

INGAT :

Pada waktu itu psikologi masih berbentuk wacana belum menjadi ilmu pengetahuan.

Psikologi Sebagai Ilmu Pengetahuan

Walaupun sejak dulu telah ada pemikiran tentang ilmu yang mempelajari manusiad alam kurun waktu bersamaan dengan adanya pemikiran tentang ilmu yang mempelajari alam, akan tetapi karena kompleksitas dan kedinamisan manusia untuk dipahami, maka psikologi baru tercipta sebagai ilmu sejak akhir 1800-an, sewaktu Wilhem Wundt mendirikan laboratorium psikologi pertama di dunia.

Laboratorium Wundt

Tahun 1879 Wilhem Wundt mendirikan laboratorium Psikologi pertama di University of Leipzig, Jerman. Dengan Berdirinya laboratorium ini, metode ilmiah untuk lebih mamahami manusia telah ditemukan walau tidak terlalu memadai.

Dengan berdirinya laboratorium ini pula, lengkaplah syarat psikologi untuk menjadi ilmu pengetahuan, sehingga tahun berdirinya laboratorium Wundt diakui pula sebagai tanggal berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan.

Fungsi Psikologi Sebagai Ilmu

Psikologi memiliki tiga fungsi sebagai ilmu, yaitu :

Menjelaskan

Yaitu mampu menjelaskan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasilnya penjelasan berupa deskripsi atau bahasan yang bersifat deskriptif.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

7
7

Memprediksikan

Yaitu mampu meramalkan atau memprediksikan apa, bagaimana, dan mengapa tingkah laku itu terjadi. Hasil prediksi berupa prognosa, prediksi atau estimasi.

Pengendalian

Yaitu mengendalikan tingkah laku sesuai dengan yang diharapkan. Perwujudannya berupa tindakan atau treatment.

Pendekatan Psikologi

dapat

psikologi sedikitnya ada 5 cara pendekatan, yaitu :

Tingkah

laku

dijelaskan

dengan

cara

yang

Pendekatan Neurobiological

berbeda-beda,

dalam

Tingkah laku manusia pada dasarnya dikendalikan oleh aktivitas otak

dan sistem syaraf. Pendekatan neurobiological berupaya mengaitkan

prilaku yang terlihat dengan implus listrik dan kimia yang terjadi didalam tubuh serta menentukan proses neurobiologi yang mendasari prilaku dan proses mental.

Pendekatan Prilaku

Menurut pendekatan ini tingkah laku pada dasarnya adalah respon

Secara sederhana dapat digambarkan

dalam model S R atau suatu kaitan Stimulus Respon. Ini berarti tingkah laku itu seperti reflek tanpa kerja mental sama sekali. Pendekatan ini dipelopori oleh J.B. Watson kemudian dikembangkan oleh banyak ahli, seperti Skinner, dan melahirkan banyak sub-aliran.

atas stimulus yang datang.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

8
8

Pendekatan Kognitif

Pendekatan

ini

menekankan

bahwa

tingkah

laku

adalah

proses

mental, dimana individu (organisme) aktif dalam menangkap,

menilai, membandingkan, dan menanggapi stimulus sebelum melakukan reaksi. Jika dibuatkan model adalah sebagai berikut S O R.

Individu menerima stimulus lalu melakukan proses mental sebelum memberikan reaksi atas stimulus yang datang.

Pendekatan Psikoanalisa

Pendekatan ini dikembangkan oleh Sigmund Freud. Ia meyakini bahwa

kehidupan

individu

sebagian

besar

dikuasai

oleh

alam

bawah

sadar. Sehingga tingkah laku banyak didasari oleh hal-hal yang tidak

disadari, seperti keinginan, implus, atau dorongan.

Keinginan atau dorongan yang ditekan akan tetap hidup dalam alam bawah sadar dan sewaktu-waktu akan menuntut untuk dipuaskan.

Pendekatan Fenomenologi

Pendekatan ini lebih memperhatikan pada pengalaman subyektif

dipengaruhi oleh

individu karena itu tingkah

laku

sangat

pandangan individu

terhadap

diri

dan

dunianya,

konsep

tentang dirinya, harga dirinya dan segala hal yang menyangkut kesadaran atau aktualisasi dirinya.

Ini berarti melihat tingkah laku seseorang selalu dikaitkan dengan fenomena tentang dirinya.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

9
9

Kajian Psikologi

Psikologi adalah ilmu yang luas dan ambisius, dilengkapi oleh biologi pada

perbatasannya

antropologi

dengan

ilmu

alam

dan

dilengkapi

oleh

sosiologi

dan

pada perbatasannya dengan ilmu sosial. beberapa kajian ilmu

psikologi di antaranya adalah :

1. Psikologi Perkembangan

Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari perkembangan manusia dan

faktor-faktor yang membentuk perilaku seseorang sejak lahir sampai lanjut usia.

Psikologi perkembangan berkaitan erat dengan psikologi sosial, karena sebagian besar perkembangan terjadi dalam konteks adanya interaksi sosial serta berkaitan erat dengan psikologi kepribadian, karena perkembangan individu dapat membentuk kepribadian khas dari individu tersebut. Psikologi perkembangan juga mempelajari perkembangan dan perubahan

aspek kejiwaan manusia sejak dilahirkan sampai dengan mati. Terapan dari

ilmu psikologi perkembangan digunakan di bidang berbagai bidang seperti pendidikan dan pengasuhan, pengoptimalan kualitas hidup dewasa tua serta penanganan remaja.

Psikologi Perkembangan merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari proses perkembangan individu, baik sebelum maupun setelah kelahiran berikut kematangan perilaku,

(J.P. Chaplin, 1979)

Psikologi perkembangan merupakan cabang psikologi yang mempelajari perubahan tingkah laku dan kemampuan sepanjang proses perkembangan individu dari mulai masa konsepsi sampai mati,

(Ross Vasta. dkk, 1992)

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

10
10

Tiga Fase Perubahan

Nativisme

Pandangan nativisme (Shopenhouer) menitikberatkan peran bawaan individu

yang menjadi faktor penentu perubahan pada diri manusia.

Empirisme

Pandangan empirisme (John Locke) menyatakan bahwa individu lahir bagaikan

lilin putih bersih sehingga perubahan yang terjadi pada diri manusia amat

diperngaruhi oleh lingkungan.

Konvergensi

Pandangan konvergensi (William Sterm) berupaya menggabungkan kedua

pandangan itu. Perubahan yang dimaksud adalah pertumbuhan dan perkembangan

yang terjadi pada diri manusia sepanjang hayat.

1.A

Periode Perkembangan

Aristoteles membagi periode perkembangan menjadi 21 tahun pertama kehidupan dalam tujuh tahunan. Tujuh tahunan itu memiliki pola sikap yang

menonjol yaitu : (0-7 tahun) masa anak-anak yang egosentris dan tidak riil, (7-14 tahun) masa anak sekolah/realistis dan (14-21 tahun) masa remaja yang idialistis.

Sementara Hurlock (1974) membaginya menjadi : (0-2 tahun) masa bayi/infancy, (2-6 tahun) masa anak awal/ early childhood, (6-12 tahun) masa anak akhir/late childhood, (12-16 tahun) masa remaja awal/early adolesence dan (16-21) masa remaja akhir/late adolesence.

1. Periode Pra-Natal (sejak konsepsi sampai kelahiran).

Sebelum kelahiran, perkembangan berlangsung dengan sangat pesat,

khususnya dalam perkembangan physiologi dan meliputi pertumbuhan seluruh struktur tubuh.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

11
11

2.

Periode Infasi (0 s/d 14 hari).

Periode bayi yang baru dilahirkan disebut new born atau neo-natus. Dalam periode ini bayi secara menyeluruh harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang benar-benar diluar tubuh ibunya. Pada periode ini untuk sementara pertumbuhan tidak bertambah.

3. Masa bayi (2 minggu s/d 2 tahun).

Pada awalnya bayi benar-benar tidak berdaya. Sedikit demi sedikit ia belajar untuk mengendalikan otot-ototnya sehingga dengan demikian ia dapat bergerak sendiri. Perubahan ini disertai dengan meningkatnya penolakan untuk diperlakukan seperti bayi dan keinginan yang makin meningkat untuk tidak bergantung pada orang lain.

4. Masa Anak-Anak (02 s/d 13 tahun).

Periode ini biasanya dibagi menjadi dua bagian yaitu:

a) Masa anak-anak awal (sejak 2 tahun sampai 6 tahun). Periode ini merupakan masa pra sekolah atau masa kehidupan berkelompok. Anak

pada masa ini berusaha untuk menguasai lingkungannya dan mulai belajar untuk mengadakan penyesuaian sosial.

b) Masa kanak-anak akhir (sejak usia 6 tahun sampai usia 13 tahun untuk anak perempuan dan 14 tahun untuk anak laki-laki). Dalam periode ini

terjadi kematangan seksual dan anak mulai memasuki masa remaja. Perkembangan utama dalam masa ini adalah sosialisasi, anak berada pada usia sekolah dasar atau kehidupan kehidupan berkelompok.

5. Masa Remaja (13 s/d 21 tahun)

a) Remaja awal (13 tahun sampai 16/ 17 tahun) yang ditandai dengan

kematangan fungsi seksual (menstruasi dan ejakulasi).

b) Remaja (16-19 tahun) yang ditandai dengan perilaku melawan

otoritas, sebagai tanda keinginan melepaskan ketergantungan menuju kearah kedewasaan.

c) Remaja akhir (19-21 tahun) secara fisik telah menunjukkan kedewasaan tetapi secara psikis masih kadang-kadang berperilaku seperti anak-anak.

6. Masa Dewasa (20 s/d 55 tahun)

a) Dewasa

awal

(20/21-24

tahun):

berupaya

untuk

berkarya

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

untuk

12
12

melepaskan diri dari orang tua.

b) Dewasa ( 25-40 tahun): sikap mantap untuk membangun keluarga dan

pasangan hidup.

c) Dewasa akhir (41-55 tahun): sukses dan prestasi kerja pada puncak karir.

7. Masa Lansia (55 tahun s/d )

a) Lansia awal (56-60 tahun): fungsi organ reproduksi mulai menurun, arif dan bijaksana.

b) Lansia (61-65 tahun): puncak kearifan berkarya bagi yang berprestasi

optimal dan sehat mentalnya. Memasuki masa pensiun atau mundur dari pekerjaan. c)Lansia akhir (66 tahun): kemunduran dari segala aspek kepribadian dan fungsi fisik.

Perkembangan Fisik

Perkembangan biologis manusia terjadi sejak konsepsi dalam kandungan yang

terbagi dalam tiga tahap yaitu tahap germinal (2 minggu pertama), embrional

(6-8 minggu pertama) dan fetal (minggu ke 8 sampai melahirkan). Penyimpangan

perkembangan pada masa ini dapat disebabkan oleh kelainan genetic, penyakit/

virus, penggunaan obat-obatan, Ibu perokok, narkotis, radiasi, kecelakaan.

Kelainan genetic lebih disebabkan karena factor kromosom dimana setiap

individu memiliki 23 pasang kromosom yang berasal dari 23 kromosom ayah dan 23

kromosom ibu. Kelebihan kromosom pada nomor 13 anak akan lahir tanpa bola

mata, sumbing, ada celah di langit-langit, rhinenchepalon.

Kelebihan satu kromosom pada nomor 17 anak akan mengalami kelainan

jantung, daun telinga besar. Kelebihan satu kromosom nomor 18 anak akan

memiliki rahang yang kecil, sedangkan kelebihan kromosom nomor 21 anak akan

lahir down syndrome atau mongoloid.

Perkembangan fisik bayi dalam dua tahun pertama kehidupan sangat

ekstenstif. Ketika lahir bayi memiliki kepala yang amat besar bila dibanding dengan

bagian tubuh lain. Kepala bayi bergerak karena reflek. Selain reflek pada kepala

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

13
13

bayi memiliki reflek mencari (rooting reflex), menghisap (sucking reflex), reflek

peluk (moro reflex), reflek menggenggam pada tangan (grasping reflex), reflek

genggam pada kaki (babinski reflex). Reflek ini digunakan bayi untuk mekanisme

pertahankan diri. Reflek akan menghilang ketika bayi berusia antara 3-4 bulan. Gigi

tumbuh pada umur kl 7 bulan, dan pada umur 12 bulan telah tumbuh 6 gigi.

Sejak lahir anak dapat melihat, yang dimulai dengan perbedaan

gelap dan terang kemudian mengikuti gerakan suatu benda. Akomodasi mata

secara efektif jika anak telah berumur 2 bulan. Pendengaran berfungsi beberapa

saat setelah lahir. Hal ini terbukti anak mampu memalingkan kepala merespon

suara 10 menit setelah dilahirkan.

Anak belajar duduk rata-rata umur 2-3 bulan (dengan bantuan), sedang umur 7 bulan anak dapat duduk tanpa bantuan. Anak belajar merangkak k.l umur 8 bulan dan merangkak sempurna sekitar umur 45 minggu. Anak belajar berdiri sekitar umur 1 tahun (9-15 bulan), kemudian bebera saat mampu berdiri akan segera belajar berjalan. Ketika usia 18 bulan anak sudah dapat berlari sekalipun masih seperti orang berjalan cepat. Kamampuan lari akan sempurna ketika anak berusia 2-3 tahun. Pada usia 4-5 tahun anak telah memiliki kemampuan lari sekaligus berputar, berbalik dengan baik. Koordinasi mata dengan tangan, mata dengan kaki akan sempurna setelah usia 4 tahun. Pada usia 5 tahun koordinasi motorik dan keseimbangan badan sudah bagus, sudah pandai berjalan, lari, dan naik turun tangga. Setelah usia 6 tahun dengan semakin baiknya keseimbangan badan, maka anak suka berjalan di atas dinding, pagar, dll. Pada umur 5-6 tahun pertumbuhan fisik bagian atas lebih lambat jika dibanding dengan badan bagian bawah, sehingga kepala relatif lebih besar, anggota badan masih terlihat pendek., tetapi setelah 6 tahun kaki dan tangan anak justru terlihat lebih panjang, dada dan panggul lebih besar. Setelah 6 tahun pertumbuhan badan tidak secepat perteumbuhan sebelumnya. Sampai dengan umur 12 tahun anak tiap tahun rata-rata tambah 6 cm. Pada usia 10 tahun anak laki-laki lebih besar daripada anak perempuan, tetapi setelah itu anak perempuan mengejarnya lebih unggul pertumbuhannya. Ketika usia 14-16 tahun anak leki-laki kembali mengejar dan pertumbuhannya lebih unggul jika dibanding dengan anak perempuan.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

14
14

Perkembangan Kognitif

Membahas tentang perkembangan kognitif berarti membahas tentang perkembangan individu dalam berfikir atau proses kognisi atau proses mengetahui. Dalam psikologi, proses mengetahui dipelajari dalam bidang psikologi kognitif.

Bidang ini dipelopori oleh J.J. Piaget, yang terkenal dengan teori pentahapan

kognitifnyanya yang disebut perkembangan kognitif. Menurut Monks, Knoers & Haditono (1992), teori Piaget tentang perkembangan kognitif banyak dipengaruhi oleh bidang ilmu biologi dan epistemologi (ilmu mengenai pengenalan, asal-muasal). Sementara itu, Miller (1993) berpendapat bahwa teori Piaget merupakan teori pentahapan yang paling berpengaruh dalam psikologi perkembangan, di mana dalam setiap tahapannya Piaget menggambarkan bagaimana manusia mendapatkan pengetahuan tentang dunianya (genetic epistemology).

- Definisi Kognisi

Berdasarkan akar teoritis yang dibangun oleh Piaget, beberapa penulis mendefinisikan kognisi dengan redaksi yang berbeda-beda, namun pada dasarnya

sama, yaitu aktivitas mental dalam mengenal dan mengetahui tentang dunia. Kognisi sebagai proses berpikir dimana informasi dari pancaindera ditransformasi, direduksi, dielaborasi, diperbaiki, dan digunakan,

Neisser (1967) dalam Morgan, et al. (1986) :

Kognisi mengacu kepada aktivitas mental tentang bagaimana informasi masuk ke dalam pikiran, disimpan dan ditransformasi, serta dipanggil kembali dan digunakan dalam aktivitas kompleks seperti berpikir, Santrock (1986) :

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

15
15

Kognisi sebagai pemrosesan informasi tentang lingkungan yang

dipersepsikan melalui pancaindera, Morgan, dkk

(1986) :

- Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kognisi

Secara ringkas, Piaget berteori bahwa selama perkembangannya, manusia

mengalami perubahan-perubahan dalam struktur berfikir, yaitu semakin

terorganisasi, dan suatu struktur berpikir yang dicapai selalu dibangun pada struktur dari tahap sebelumnya.

1.B

Proses Perkembangan

Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan.

Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema

berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut.

Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru

didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau

mengganti skema yang sebelumnya ada. Sebagai contoh, seorang anak

mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

16
16

Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam

skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.

Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan

pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.

Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan

berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan

equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan

selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.

Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya. Perkembangan yang terjadi melalui tahap-tahap tersebut disebabkan oleh empat faktor :

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

17
17

Kematangan fisik; Pengalaman dengan objek-objek fisik; Pengalaman sosial; Ekuilibrasi.

Pengalaman membawa kemajuan kognitif melalui proses asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi dan akomodasi membantu anak-anak beradaptasi terhadap lingkungannya. Karena melalui proses-proses tersebut pemahaman mereka

mengenai dunia semakin dalam dan luas. Anak-anak adalah organisme aktif

dan self-regulating yang berubah melalui interaksi antara pembawaan lahir

(innate) dengan faktor-faktor lingkungan. Lingkungan adalah suatu hal yang terus menerus mendorong organisme untuk menyesuaikan diri terhadap situasi realitas dan demikian pula secara timbal balik organisme secara konstan menghadapi lingkungannya sebagai suatu struktur yang merupakan bagian dari dirinya. Secara kualitatif perkembangan perilaku kognitif terdiri :

1. Tahap Sensori-Motor (0-2)

Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical

intelligence) yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif, namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fundasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak.

Sebelum usia 18 bulan, anak belum mengenal object permanence.

Artinya, benda apapun yang tidak ia lihat, tidak ia sentuh, atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. Dalam rentang 18 - 24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

18
18

2.

Tahap Pra Operasional (2 7)

Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang

object permanence. Artinya, anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat, didengar atau disentuh lagi. Jadi, pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor, yakni tidak bergantung lagi pada

pengamatannya belaka. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta

pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-

imitation, insight learning dan kemampuan berbahasa, dengan

menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.

3. Tahap konkret-operasional (7-11)

Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut

system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk

mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Pada periode ini

anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-

peristiwa yang konkret.

4. Tahap formal-operasional (11-dewasa)

Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan

mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam

kemampuan kognitif yaitu :

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

19
19

Kapasitas menggunakan hipotesis; kemampuan berfikir mengenai sesuatu

khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan

dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas

menggunakan prinsip-prinsip abstrak.

Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak; kemampuan untuk

mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan

mendalam.

Dengan menggunakan hasil pengukuran tes inteligensi yang mencakup General

Information and Verbal Analogies, Jones dan Conrad menunjukkan bahwa laju

perkembangan inteligensi berlangsung sangat pesat sampai masa remaja, setelah

itu kepesatannya berangsur menurun.

Puncak perkembangan pada umumnya tercapai di penghujung masa

remaja akhir. Perubahan-perubahan amat tipis sampai usia 50 tahun, dan

setelah itu terjadi plateau (mapan) sampai dengan usia 60 tahun selanjutnya

berangsur menurun.

Kemampuan intelektual atau kognitif merupakan kemampuan jiwa dalam

proses berfikir untuk membuat hubungan-hubungan tanggapan, dan penilaian.

Keadaan ini biasa disebut dengan Intelligence Quotient (IQ).

Binet-Simon mendefinisikan IQ sebagai indek kecerdasan relatif yang

dinyatakan :

MA (mental age) IQ = --------------------------------------- x 100 CA (chronological age)

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

20
20

2.

Psikologi Sosial

Adalah bidang studi psikologi yang mempunyai tiga ruang lingkup, yaitu : 1)

Studi tentang pengaruh sosial terhadap proses individu, misalnya : studi tentang

persepsi, motivasi proses belajar, atribusi (sifat); 2) Studi tentang proses-proses

individual bersama, seperti bahasa, sikap sosial, perilaku meniru dan lain-lain;

3) Studi tentang interaksi kelompok, misalnya : kepemimpinan, komunikasi

hubungan kekuasaan, kerjasama, persaingan, konflik.

Notes :

Psikologi sosial sempat dianggap tidak memiliki peranan penting, tapi kini hal itu mulai berubah. Dalam psikologi modern, psikologi sosial mendapat posisi yang penting. psikologi sosial telah memberikan pencerahan bagaimana pikiran manusia berfungsi dan memperkaya jiwa dari masyarakat kita. Melalui berbagai penelitian laboratorium dan lapangan yang dilakukan secara sistematis, para psikolog sosial telah menunjukkan bahwa untuk dapat memahami perilaku manusia, kita harus mengenali bagaimana peranan situasi, permasalahan, dan budaya.

Apa Itu Psi-Sosial?

Hilgard Arkitson : Adalah cara berinteraksi dengan orang lain yang

mempengaruhi sikap-sikap perilakunya.

Morgan : Memahami bagaimana individu dipengaruhi individu lain.

Costanzo : Ilmu yang mempelajari tingkah laku individu sebagai fungsi dari

rangsang-rangsang sosial.

David D. Sears : Usaha-usaha yang sistematis untuk mempelajari perilaku sosial

(social behaviour) membahas perilaku berdasarkan pada situasi (interpersonal) yang

terjadi.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

21
21

Bagaimana individu

Sosial

Situasi Sosial

:

Bagaimana individu Sosial Situasi Sosial : Mengamati Bereaksi Bersikap Dipengaruhi Situasi - Orang lain di

Mengamati

Bereaksi

Bersikap

Dipengaruhi

Situasi Sosial : Mengamati Bereaksi Bersikap Dipengaruhi Situasi - Orang lain di lingkungan - Sifat-sifat perilaku

Situasi

- Orang lain di lingkungan

- Sifat-sifat perilaku orang lain

- Keadaan dimana perilaku terjadi

Sasaran Psi-Sosial adalah tingkah laku manusia sebagai individu bukan sebagai masyarakat atau kebudayaan

Pada dasarnya, Psi-Sosial adalah ilmu tentang interaksi manusia atau kejadian

tingkah laku interpersonal.

INTERAKSI : Hubungan timbal balik antara :

- Individu dengan individu

- Individu dengan kelompok

- Kelompok dengan kelompok

Kelompok, Sekumpulan orang yang saling berhubungan dan berinteraksi sebagai satu kesatuan (unity),

Ciri-Ciri Kelompok :

1. Antar anggota saling berhubungan dan bergantung satu sama lain.

2. Memiliki nilai dan norma yang mengatur perilaku anggota.

Fungsi Kelompok :

Memenuhi keinginan dan tujuan anggota

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

22
22

Terbentuknya Kelompok :

1. Adanya berbagai persamaan dalam hal tertentu (motif, tujuan, )

2. Adanya struktur kelompok (pembagian tugas)

3. Adanya norma-norma kelompok sebagai pedoman untuk mengatur

tingkah laku (ganjaran dan hukuman).

Keanggotaan dalam Kelompok

1. Riil [Membership Group]

2. Norma-norma kelompok [Reference Group]

Idealnya, membership dan reference menyatu sehingga tidak terjadi konflik dalam diri . Bila tiap-tiap anggota kelompok telah menyatu, maka akan menumbuhkan sikap sense of belonging (rasa memiliki). Dari sikap inilah akan melahirkan dikotomis in group dan out group

Macam-Macam Kelompok

1. Kedekatan

Primer

- Interaksi antar anggota intensif

- Hubungan kedekatan

Sekunder

- Hubungan formal

- Logis

- Rasional

- Aturan-aturan tertulis

2. Aturan/Norma

Resmi (kelompok formal)

Norma-norma aturan tertulis/organisasi

Tidak resma (non formal)

Aturan tidak tertulis

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

23
23

Norma kelompok :

Cara melihat, merasa, berfikir, bertindak, yang membatasi (mengatur) tingkah laku individu dalam kelompok yang bersangkutan.

Notes :

Masalah yang pokok dalam psi-sosial adalah masalah SIKAP, yang menyangkut

pembentukan dan perubahannya. Menurut W.J Thomas (dalam Ahmadi, 1999)

bahwa batasan sikap sebagai tingkatan kecenderungan yang bersifat

positif maupun negatif, yang berhubungan dengan obyek psikologi, di

antaranya simbol, kata-kata, slogan, orang, lembaga, ide dan sebagainya.

Sikap

Sarnoff : Kesediaan untuk bereaksi (disposition to react) secara positif (ravorably)

atau secara negatif (untavorably) terhadap obyek - obyek tertentu.

D.Krech dan R.S Crutchfield : Sebagai organisasi yang bersifat menetap dari

proses motivasional, emosional, persepsitual, dan kognitif mengenai aspek dunia individu.

La Pierre : Sebagai suatu pola perilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif,

predisposisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respon terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan.

Soetarno : Pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk

bertindak terhadap obyek tertentu. Sikap senantiasa diarahkan kepada sesuatu artinya tidak ada sikap tanpa obyek. Sikap diarahkan kepada benda-benda, orang, peritiwa, pandangan, lembaga, norma dan lain-lain.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

24
24

Mar at : Kesiapan untuk berinteraksi terhadap obyek lingkungan tertentu sebagai

penghayatan terhadap objek tersebut.

Azwar : Keteraturan dalam perasaan (afeksi), pemikiran (kognisi) dan predisposisi

tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di lingkungan.

Meskipun ada beberapa perbedaan pengertian tentang sikap, tetapi berdasarkan pendapat-pendapat tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa sikap adalah :

Keadaan diri dalam manusia yang menggerakkan untuk bertindak atau berbuat dalam kegiatan sosial dengan perasaan tertentu di dalam menanggapi obyek situasi atau kondisi di lingkungan sekitarnya. Selain itu sikap juga memberikan kesiapan untuk merespon yang sifatnya positif atau negatif terhadap obyek atau situasi.

Ciri-Ciri Sikap

1. Tidak dibawa sejas lahir

2. Dapat dipelajari dan dibentuk menjadi interaksi dengan obyek sosial

3. Tertuju pada satu obyek atau sekumpulan obyek (abstrak/nyata, langsung/tidak langsung)

4. Mengandung segi motivasi dan perasaan

5. Bersifat (+) dan negatif (-)

6. Mengandung unsur penilaian dan reaksi afeksi untuk bertingkah laku

7. Bersifat menetap, atau perlu waktu lama apabla akan berubah.

Komponen Sikap

Kognitif

: Pemikiran, ide dan keyakinan yang dimiliki

Konasi

: Kesiapan untuk bertingkah laku.

Afeksi : Hubungan emosional dengan obyek sikap

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

25
25

~ Ketiga komponen tersebut harus menyatu dan konsisten serta berinteraksi. Bila tidak menyatu akan menimbulkan mekanisme perubahan sikap ~

Perubahan Sikap

1. Intern

Individu yang bersangkutan dengan faktor-faktor :

- Persepsi [Selectivitas]

- Kepribadian :

-

Intelegensi [rendah, mudah berubah]

 

-

Self defensiveness/Konservatif [sulit berubah]

-

Cognitive Needs & Style

 

2. Ekstern

- Obyek sikap berubah atau informasi tentang obyek itu yang berubah

- Berubahnya norma kelompok

- Perubahan membership group

Sifat Sikap

Indvidual Sosial [dianut oleh banyak orang]

Cara Mengubah Sikap

1). Langsung Komunikasi Melalui komunikasn berbagai hal dapat diperoleh seperti membentuk dan merubah sikap dalam komunikasi ada ineraksi

~

o Macam Komunikasi

1. Komuniasi antar persona

2. Komunikasi Kelompok

3. Komunikasi Massa

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

26
26

o Unsur Komunikasi

Komunikator ~ Orang yang menyampaikan pesan Pesan ~ Materi atau informasi yang disampaikan Media/Saluran ~ Tempat atau alat yang dipilih untuk lewatnya suatu pesan Komunikan ~ Orang yang menerima pesan Feed Back ~ Reaksi komunikan setelah pesan disampaikan

2). Tidak langsung Situasi yang menguntungkan untuk merubah sikap.

Notes :

Komunikasi adalah adanya kesamaan makna antara komunikator dengan komunikan sehingga terjadi perhatian terhadap pesan yang disampaikan.

Prasangka/Sikap Negatif/Predisposisi

~ Prasangka terjadi sebagai akibat dari pendapat masyarakat yang tidak berdasarkan pengalaman, terburu-buru dan subyektif ~

Sumber Prasangka

Latar belakang sejarah ~ Pribumi vs non pribumi Etnologi ~ Cultural, regional, rasis Social Learning ~ Prasangka yang dipelajari

Prasangka akan bertambah, jika :

~ Terjadi konflik antar kelompok --permusuhan secara terbuka, diskriminasi--

Prasangka akan berkurang, jika :

~ Yang disangkakan tidak benar

~ Adanya komunikasi dari kedua belah pihak

~ Dipengaruhi oleh keadaan sosial

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

27
27

3.

Psikologi Kepribadian

Adalah bidang studi psikologi yang mempelajari tingkah laku manusia

dalam menyesuaikan

diri

dengan

lingkungannya,

psikologi

kepribadian

berkaitan erat dengan psikologi perkembangan dan psikologi sosial, karena kepribadian adalah hasil dari perkembangan individu sejak masih kecil dan bagaimana cara individu itu sendiri dalam berinteraksi sosial dengan lingkungannya.

Apa Itu Kepribadian?

Kepribadian adalah ciri, karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang memang

khas dari diri manusia. Kepribadian bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya bentukan dari keluarga pada masa kecil serta bawaan-bawaan yang dibawa sejak lahir.

Kepribadian memiliki banyak arti, namun dari sekian banyak definisi kepribadian yang dikemukakan oleh para ahli, arti kepribadian setidaknya dapat dibedakan atas

dua

paradigma,

yakni

psikologis.

pengertian

Paradigma Umum

kepribadian

secara

umum

dan

secara

Arti kepribadian dalam paradigma umum menyebutkan bahwa kepribadian berasal

dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan

para pemain sandiwara di Zaman Romawi.

Secara umum kepribadian menunjuk

pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu- individu lainnya.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

28
28

Pada dasarnya definisi dari sudut pandang ini (umum) mengandung kelemahan

makna karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan

tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri tersebut bisa berubah tergantung

pada situasi sekitarnya.

Selain itu, definisi kepribadian ini disebut lemah karena

sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai). Padahal, bagaimanapun juga pada

dasarnya kepribadian tidak dapat dinilai baik atau buruk karena sifatnya yang

netral.

Paradigma Psikologi

George Kelly, seorang psikolog memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang

unik

dari

individu

dalam

mengartikan

pengalaman-pengalaman

hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai sesuatu

yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah

kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan.

Gordon W. Allport mengatakan bahwa personality (kepribadian) adalah

Suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.

Sistem Psikofisik :

Adalah untuk menunjukkan bahwa jiwa dan raga manusia adalah suatu sistem yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta diantara keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarahkan tingkah laku.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

29
29

Organisasi Dinamis :

Adalah suatu integrasi atau saling keterkaitan dari berbagai aspek kepribadian.

Kepribadian merupakan sesuatu yang terorganisasi dan terpola.

Bagaimanapun, kepribadian bukan suatu organisasi yang statis, melainkan secara

Dengan demikian, maka kepribadian

adalah perilaku yang dapat berubah-ubah melalui proses pembelajaran atau melalui pengalaman-pengalaman, penghargaan (reward), hukuman (punishment), pendidikan, dan sebagainya.

teratur tumbuh dan mengalami perubahan.

Notes :

Setiap individu memiliki kepribadiannya sendiri-sendiri. Tidak ada dua orang yang memiliki pribadi yang sama, karena itu tidak ada dua orang yang berperilaku sama,

Sigmund Freud mengatakan :

Struktur Kepribadian terdiri atas Id, Ego dan Superego.

Id adalah komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan libinal, dimana sistem kerjanya dengan prinsip kesenangan pleasure principle .

Ego adalah bagian kepribadian yang bertugas sebagai pelaksana, dimana sistem kerjanya pada dunia luar untuk menilai realita dan berhubungan dengan dunia dalam untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego.

Superego adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan filter dari sensor baik- buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan ego.

Id

Fungsi satu-satunya dari id adalah untuk mengusahakan segera tersalurkannya

kumpulan-kumpulan energi atau ketegangan yang dicurahkan dalam jasad oleh

rangsangan-rangsangan, baik dari dalam maupun dari luar.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

30
30

Fungsi id ini menunaikan prinsip kehidupan yang asli atau yang pertama yang

dinamakan prinsip

kesenangan (pleasure principle).

Tujuan dari prinsip

kesenangan ini adalah untuk mengurangi ketegangan. Ketegangan dirasakan

sebagai penderitaan. Tujuan dari prinsip kesenangan ini dapat dikatakan terdiri dari usaha mencegah dan menemukan kesenangan.

Dalam bentuk awalnya, id adalah suatu alat refleksi, sama halnya seperti

ketika cahaya sampai ke mata lantas menyilaukan, maka mata secara reflek akan menutup. Jika ketegangan yang terjadi dalam jasad dapat dihilangkan oleh tindakan refleksi, maka tidak perlu perkembangan rohaniah yang lebih tinggi. Namun nyatanya ada banyak ketegangan yang tidak dapat ditampung oleh alat refleksi untuk meghilangkannya, mislanya jika terjadi kontraksi lapar dalam perut bayi, kontraksi itu tidak secara otomatis menimbulkan makanan. Setiap bayi lapar, ia akan diberi makanan. Selama diberi makanan tersebut, maka bayi ini melihat, mencicipi, mencium, dan merasakan makanan itu, dan pengamatan-pengamatannya itu kemudian disimpan dalam ingatannya. Melalui ulangan-ulangan, makanan menjadi terhubung dengan peredaan ketegangan. Proses yang menimbulkan suatu kenangan dari suatu ketegangan

disebut proses primer (primary process).

Proses primer ini mencoba meredakan ketegangan dengan mendirikan apa

yang oleh Freud disebut suatu identitas pengamatan (an identity of perception).

Dengan identitas pengamatan ini Freud maksudkan, bahwa id menganggap suatu kenangan itu identik dengan pengamatan sendiri.

Menurut Freud, id adalah sumber primer dari energi rohaniah

dan tempat berkumpul naluri-naluri.

Id lebih dekat hubungannya

dengan tubuh dan proses-prosesnya daripada dengan dunia luar. Energinya berada dalam keadaan bergerak (mobil) sehingga energi itu dapat diredakan dengan segera

atau dipindahkan dari suatu benda ke benda lain.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

Id tidak berubah oleh

31
31

masa, ia tidak dapat diubah oleh pengalaman, karena ia tidak ada hubungan

dengan dunia luar. Namun, id dapat dikontrol dan diawasi oleh ego. Id merupakan suatu kenyataan rohaniah yang sebenarnya. Yang dimaksudkan

ialah, bahwa id adalah kenyataan subyektif yang primer, dunia batin yang

ada sebelum seorang individu mempunyai suatu pengalaman tentang dunia luar. Dan pengalaman-pengalaman yang diulangi secara berkali-kali dan secara intensif

dalam banyak individu dari generasi turun temurun menjadi simpanan-simpaan

yang tetap dalam id.

Karenanya, Id merupakan dunia nyata yang subyektif dimana pengejaran kesenangan dan pencegahan penderitaan merupakan satu-satunya perbuatan yang berarti.

Freud mengakui bahwa id adalah bagian kepribadian yang tersembunyi

dan tidak dapat dimasuki, dan sebagian kecil yang diketahui mengenai hal itu didapat sebagai hasil penyelidikan tentang impian dan gejala-gejala penyakit syaraf. Seseorang misalnya yang bertindak secara impulsif untuk melempar batu ke jendela rumah tetangga yang dibencinya, ia sedang berada di bawah pengaruh id. Bersamaan dengan itu, seseorang yang membuang banyak waktu untuk berkhayal, melamun dan atau bergerak dalam awang-awang cita-cita, ia sedang dikuasai oleh

id-nya, karena Id pada hakekatnya

sesuatu atau bertindak sesuatu.

Ego

tidak berpikir, ia hanya mengangankan

Kedua proses yang dilalui id untuk meredakan ketegangan, yaitu gerak-gerik impulsif dan pembentukan gambaran (pemuasan keinginan) tidak cukup untuk mencapai tujuan evolusi yang besar menuju kelangsungan dan perbiakan. Hubungan timbal balik antara seseorang dengan dunia memerlukan pembentukan suatu sistem rohaniah baru, yaitu ego.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

32
32

Berlainan dengan id yang dikuasai oleh prinsip kesenangan, ego dikuasai oleh

prinsip kenyataan (reality principle). Tujuan prinsip kenyataan adalah untuk

menangguhkan peredaan energi sampai benda nyata yang akan memuaskan telah diketemukan atau dihasilkan. Penangguhan suatu tindakan berarti bahwa ego harus dapat menahan

ketegangan sampai ketegangan itu dapat diredakan dengan suatu

bentuk kelakuan yang wajar. Prinsip kenyataan diladeni oleh suatu proses

yang disebut Freud sebagai proses sekunder (secondary process). Oleh karena proses ini berkembang sesudah dan melingkupi proses primer dari id. Proses sekunder terdiri dari usaha menemukan atau menghasilkan kenyataan dengan jalan suatu rencana tindakan yang telah berkembang melalui pikiran dan

akal (pengenalan).

Proses sekunder biasa disebut sebagai suatu pemecahan

soal atau pemikiran.

Proses sekunder menunaikan apa yang tidak dapat dilakukan oleh proses primer, yaitu untuk memisahkan dunia pikiran yang subyektif dari dunia kenyataan wujud yang obyektif. Proses sekunder tidak melakukan kesalahan seperti proses primer, ialah menganggap gambaran suatu benda dan itu sendiri. Setiap orang memiliki potensi-potensi pembawaan untuk berpikir dan menggunakan akalnya.

Pelaksanaan

potensi

pendidikan.

ini

dicapai

Superego

melalui

pengalaman,

latihan

dan

Superego adalah cabang moril atau cabang keadilan dari kepribadian. Superego lebih mewakili alam ideal daripada alam nyata. Superego terdiri dari dua

anak sistem, ego ideal dan hati nurani. Ego ideal sesuai dengan pengertian-

pengertian anak tentang apa yang secara moril dianggap baik oleh orang tuanya.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

33
33

Agar superego itu mempunyai pengawasan terhadap anak seperti yang dmiliki orang tuanya, adalah penting bagi superego untuk mempunyai kekuatan untuk

mendesakkan

ukuran-ukuran

morilnya,

dengan

jalan

hukuman (reward and punishment).

penghargaan

dan

Penghargaan dan hukuman ini diberikan kepada ego, karena ego, disebabkan pengawasannya atas tindakan seseorang, dianggap bertanggung jawab untuk terjadinya tindakan-tindakan yang moril dan immoral. Penghargaan dan hukuman rohaniah yang dipergunakan oleh super ego masing-masing adalah perasaan bangga dan perasaan bersalah atau perasaan kurang harga diri.

Ego merasa bangga jika ia telah berkelakuan baik atau telah mengandung pikiran-pikiran yang baik, dan ia merasa malu tentang dirinya sendiri kalau ia telah mengalah pada godaan.

Superego adalah wakil dalam kepribadian dari ukuran-ukuran dan cita-cita tradisional masyarakat sebagai yang disampaikan oleh orang tua kepada anak-anak. Dalam hubungan ini harus diingat, bahwa superego anak itu bukanlah pencerminan dari kalakuan orang tua, tetapi pencerminan dari superego orang tua. Disamping orang tua, alat-alat masyarakat lainnya memberi bantuan dalam pembentukan superego anak, di antaranya, guru, ustadz, polisi, dan siapa saja yang mempunyai kedudukan berkuasa atas anak. Adapun tujuan utama dari superego ini adalah terutama meladeni tujuan untuk mengontrol dan mengatur gerak hati yang kalau dinyatakan secara sewenang-wenang akan membahayakan kemantapan masyarakat. Gerak hati itu

adalah seks dan agresi.

Jika id dianggap sebagai hasil dari evolusi dan sebagai wakil rohaniah dari pembawaan biologis, dan ego sebagai hasil hubungan timbal balik dengan kenyataan yang obyektif dan lingkungan proses rohaniah yang lebih tinggi, maka

superego

dapat

dianggap

hasil

sosialisasi

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

dan

adaptasi

tradisi

34
34

kebudayaan. Ego dibentuk dari id dan super ego dibentuk dari ego. Ketiganya

saling mempengaruhi. Id berkata, saya mau itu ; superego berkata alangkah buruknya , dan ego berkata, saya takut .

Notes :

Hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kerpibadian tersebut.

Dan tingkat laku adalah

Tipe Kepribadian

Adalah

hal

kepribadiannya.

yang

sulit

untuk

mengklasifikasikan

manusia

berdasarkan

Kendalanya, terletak pada heterogenitas serta keunikan

dari sifat manusia itu sendiri. Pasalnya, tidak ada satu pun dari manusia yang dapat dianggap memiliki sifat yang sama kemudian dikelompokkan berdasarkan sifat itu.

Seorang yang kembar secara genetis pun sangatlah sulit untuk

menganggap satu kelompok kepribadian. Ilmu pengetahuan hanya bisa melakukan

pendekatan agar beberapa ciri yang agak mirip dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kepribadian.

Kendati demikian, setidaknya untuk mengklasiifkasikan atau menggolongkan manusia berdasarkan kepribadiannya tersebut setidaknya dalam dipandang dari

sudut pandang atau aspek biologis dan psikologis.

Aspek Biologis

Berdasarkan aspek biologis, Hipocrates membagi kepribadian menjadi 4

(empat) kelompok besar dengan fokus pada cairan tubuh yang mendominasi

dan memberikan pengaruh kepada individu tersebut, di antaranya meliputi, 1) empedu kuning (choleris); 2) empedu hitam (melankolis); 3) cairan lendir (flegmatis); dan 4) darah (sanguinis).

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

35
35

1.

Sanguin

Orang sanguin dikenal sangat ramah dan sangat suka berbicara kepada siapa

saja dengan topik apa saja. Mereka penuh inspirasi, sangat aktif, dapat

mempengaruhi orang lain untuk percaya pada apa yang dikatakannya.

Ia juga bisa menjadi motivator yang menyenangkan, dan sikapnya cenderung optimis.

Orang sanguin juga mudah dipengaruhi, cenderung menjadi pengikut,

dan mau melakukan apa saja untuk menyenangkan hati orang lain. Mereka pintar membuat kesan, mempunyai banyak kawan, mengenal banyak orang penting, menyukai kehidupan sosial, mempunyai rasa humor yang tinggi, serta mempunyai antuasisme dan sikap ekspresif. Hal ini membuat mereka disukai oleh setiap orang yang mereka ajak bicara.

Orang sanguin sangat suka menjadi pusat perhatian, sangat menyukai

pujian, dan perhatian, mempunyai impian-impian besar, kreatif dalam

merencanakan sesuatu. Namun, mereka kurang terdorong untuk mewujudkan

impian dan rencananya, sering tidak disiplin dan pelupa. Mereka sangat

takut kehilangan popularitas atau kehilangan kawan. Seorang sanguin akan membuat rumah menjadi tempat tinggal yang sangat menyenangkan, tidak suka pekerjaan yang rutin dan monoton, menyukai kegiatan

yang bersifat spontan, tidak keberatan menjadi sukarelawan, kreatif dan

inovatif serta selalu memikirkan kegiatan baru yang menyenangkan dan pintar

mendorong serta memotivasi orang lain untuk turut bekerja. Orang sanguin dapat bersahabat dengan siapa saja, sangat perduli dengan orang lain, tidak memiliki beban, selalu terlihat gembira dan bahagia serta sangat

menyenangkan untuk dijadikan kawan.

Namun ada kalanya orang sanguin sering tidak disiplin, tidak menepati janji, sulit bertahan dalam suatu proyek yang rumit dan memakan waktu lama, selalu

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

36
36

tidak puas pada jalur karir yang dipilih, dan terlalu menikmati perubahan. Mereka

mengalami kesulitan untuk mendengarkan orang lain, selau bercerita

dengan penuh semangat dan lupa memberi kesempatan orang lain berbicara, sangat impulsif dalam pola perilakunya. Karena mereka sangat rileks, tanpa beban, jadinya mereka mempunyai kecenderungan untuk membesar-besarkan sesuatu, kurang bisa menyimpan

rahasia, cenderung bertindak sebelum berfikir, dan terkadang kurang tegas

sehingga sering diperalat oleh orang lain. Sanguin adalah orang yang gembira, yang senang hatinya, mudah untuk membuat orang tertawa, dan bisa memberi semangat pada orang lain. Tapi kelemahannya adalah dia cenderung impulsif, yaitu orang yang bertindak sesuai emosi atau keinginannya.

2.

Plegmatik

Tipe plegmatik adalah orang yang cenderung tenang, dari luar cenderung tidak

beremosi, tidak menampakkan perasaan sedih atau senang. Naik

turun emosinya itu tidak nampak dengan jelas. Orang ini memang cenderung bisa

menguasai dirinya dengan cukup baik, ia intorspektif sekali, memikirkan ke

dalam, bisa melihat, menatap dan memikirkan masalah-masalah yang terjadi di

sekitarnya. Kelemahan orang plegmatik adalah ia cenderung mau ambil

mudahnya, tidak mau susah, sehingga suka mengambil jalan pintas yang paling

mudah dan gampang. Orang phlegmatis adalah tipe orang yang paling menyenangkan untuk dijadikan kawan. Orang plegmatis adalah orang yang manis, tidak mendesak, tidak

suka memerintah. Mereka pemalu, tidak suka menonjolkan diri, menyukai

keramaian, sopan dan mempunyai aturan yang baik dalam pergaulan, tidak suka dengan konflik, senang memberi dukungan dan setuju dengan pendapat orang lain, sangat tertutup dan menjadi pendengar yang baik dan tidak mudah tersinggung.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

37
37

Mereka hanya bisa mengerjakan satu hal dalam satu waktu tertentu, tidak bisa mengerjakan banyak hal secara bersamaan, senang pekerjaan yang bersifat

monoton dan berulang. Orang plegmatis adalah pirbadi yang dapat

menyimpan rahasia, baik dalam menerima perintah, sulit untuk berkata

tidak , memiliki sifat menyerah, suka menyenangkan orang lain, tidak tegas, mudah dibujuk untuk melakukan hal yang tidak disenanginya.

Mereka bersifat sentimental, mempunyai kebutuhan mendasar berupa

penghargaan dan penerimaan, tidak banyak menuntut, apa adanya, tenang dan bahagia dalam hidupnya. Sifatnya rendah hati, sabar, simpatik, teratur, efisien, dan sangat praktis. Mereka selalu mencari solusi yang paling sederhana dari setiap

masalah yang dihadapi, selalu bersikap konservatif (berhati-hati), tapi kadang-

kadang bisa menjadi penakut, dan selalu ingin mengetahui hasilnya sebelum mereka memulainya. Orang plegmatis bisa sangat plin-plan, tidak senang membuat kesalahan, tipe

penonton, kurang aktif, kurang berinisiatif, suka berada di belakang layar,

tidak senang menjadi pusat perhatian, cenderung mencari selamat, takut mendapat malu, kurang bersemangat, kurang motivasi.

Seorang plegmatis lebih suka diam dan menunggu untuk mengerjakan

sesuatu. Bila mereka tidak diberi penghargaan dan pengarahan, maka mereka akan menjadi frustasi dan menyerah, tidak mau mengerjakan apa-apa lagi. Sebaliknya, bila mereka mendapatkan pengarahan dan bimbingan, mereka akan mau mengerjakan lebih banyak daripada yang diharapkan.

3.

Melankolik

Tipe melankolik adalah orang yang terobsesi dengan karya yang paling bagus,

yang paling sempurna dan dia memang adalah seseorang yang mengerti estetika

keindahan hidup ini. Perasaannya sangat kuat, sangat sensitif maka kita bias

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

38
38

menyimpulkan bahwa cukup banyak seniman yang memang berdarah melankolik.

Kelemahan orang melankolik, ia mudah sekali dikuasai oleh perasaan

dan cukup sering perasaan yang mendasari hidupnya sehari-hari adalah perasaan murung. Orang melankolis adalah orang yang serius dan tertutup, namun cerdas dan sangat kritis dalam berpikir. Mereka mengerjakan suatu hal lebih tekun, memahami

sesuatu setahap demi setahap, menjalani sebagian hidupnya dengan sangat

serius. Mereka mampu menganalisis suatu keadaan dengan jauh lebih baik,

memiliki kemampuan luar biasa dalam melihat di balik layar , tingkat ketelitian dan ketajaman analisisnya tinggi. Mereka mengikuti perencanaan dan mengikutinya dengan sangat hati-hati. Orang melankolis sangat hati-hati, teliti, suka curiga, tidak senang membuat kesalahan, senang dengan detail, menyukai data, fakta, angka-angka dan grafik.

Mereka taat mengikuti instruksi dengan seksama, tidak suka mendesak, tidak

perlu menjadi pemimpin, senang berada di sekeliling orang yang ramah dan

terbuka. Orang melankolis senang menjadi benar bukan karena mereka merasa lebih baik daripada orang lain, tetapi mereka hanya ingin menjadi benar, dan hasil kerjanya harus benar dan baik. Mereka sangat konsisten, tidak pernah salah dalam

menyampaikan detail suatu cerita, cenderung conformist (orang yang suka

mengikuti apa yang dilakukan oleh banyak orang), dan selalu ingin meningkatkan kinerjanya. Orang melankolis mempunyai perasaan yang sangat halus, tidak mau menyinggung perasaan orang lain, menyimpan kemarahan dan dendam mereka untuk waktu yang sangat lama. Mereka selalu berorientasi pada jadwal,

menentukan standar yang sangat tinggi, bersifat perfeksionis, sangat

terorganisir dan tertib.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

39
39

Mereka sangat analitis tapi sering buruk dalam melakukan sintesis, jarang salah dan selalu melakukan pemeriksaan ulang, sangat sensitif, sangat idealis, ingin mnjadi yang terbaik, mencari yang terbaik, berusaha mendapatkan yang terbaik. Orang melankolis sangat kuat memegang prinsip dan keyakinannya, tekun dalam mengejar cita-cita yang ingin mereka capai, rela berkorban, bekerja tak kenal lelah untuk menghasilkan suatu pekerjaan yang baik, lebih mementingkan tugas daripada diri mereka sendiri, dan juga sangat rapi. Orang melankolis sangat terpusat pada diri mereka sendiri, kurang memiliki fleksibilitas dalam membangun suatu hubungan interpersonal yang hangat. Mereka sering sekali murung, cenderung melihat hal-hal yang salah daripada hal-hal yang

benar, sering keliru membaca orang, sikap mereka cenderung kaku, suka berteori,

tidak suka bersosialisasi, suka melindungi dirinya sendiri, dan sangat segan

mencoba hal-hal baru. Karenanya, sangat sulit bagi orang melankolis untuk melakukan konsultasi atau terapi bagi persoalan pribadinya, dan tidak mudah untuk memaafkan orang yang pernah melakukan kesalahan pada mereka.

4.

Kolerik

Orang koleris dikenal sebagai orang yang keras, tegas, dan sangat menuntut. Mereka memiliki energi besar untuk melakukan hal-hal sulit, memiliki dorongan dan

keyakinan yang kuat akan kemampuan diri mereka. Mereka pantang

menyerah, tidak ada yang namanya kegagalan dalam kamus mereka. Bila

mereka gagal, meraka akan terus mencoba dan mencoba lagi. Dan siapa pun yang berusaha menghalangi niatnya untuk mencapai tujuan akan dianggap sebagai musuhnya.

Orang koleris percaya bahwa dirinya dilahirkan menjadi pemimpin dan

selalu tampil di depan menjadi pemimpin kelompok dalam kegiatan. Mereka adalah orang yang suka dan sangat tertantang untuk melaksanakan suatu tugas besar, suka mendapat peran penting dan memegang wewenang.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

40
40

Mereka juga berfikir dengan cepat, cepat dalam mengambil keputusan,

tidak biasa diam, selalu saja mencari suatu pekerjaan atau kegiatan, mampu mengerjakan beberapa tugas sekaligus dengan hasil yang sama baiknya. Orang koleris sangat dinamis dan aktif serta sangat membutuhkan perubahan. Mereka mempunyai kebutuhan mendasar barupa tantangan, pilihan, dan pengendalian. Mereka akan sangat termotivasi untuk melakukan sesuatu bila ketiga komponen ini terpenuhi. Mereka selau berorientasi pada target yang harus dicapai, mementingkan hasil akhir, tidak suka pada orang yang kerjanya lamban.

Kemampuan alami orang koleris membuat mereka mampu menyelesaikan

sendiri hampir semua masalah, sehingga mereka jarang membutuhkan

orang lain.

Orang koleris juga jarang menangis, jarang memberikan perhatian yang

hangat, dan menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya dalam bentuk memberi atau menghasilkan sesuatu bagi orang yang mereka cintai. Orang koleris selain memiliki keinginan yang sangat kuat, juga cenderung sangat yakin pada kemampuan diri mereka sendiri serta sangat mandiri. Mereka

tidak suka diperintah oleh orang lain, tetapi suka memberikan perintah.

Tidak suka orang yang plin-plan, banyak bicara, tetapi tidak produktif.

Orang koleris memang tekadang kurang bijaksana. Dalam bertindak,

mereka sering kali bisa menjadi sangat marah terhadap hal-hal kecil atau tindakan yang mereka anggap bodoh. Kalau sudah marah, mereka bisa sangat kasar dalam berbicara (sarkatis). Namun, mereka juga mudah memaafkan orang lain, mudah melupakan kemarahannya walau pun mereka penuh temperamen dan mudah marah. Seseorang yang kolerik adalah seseorang yang dikatakan berorientasi pada pekerjaan dan tugas, dia adalah seseorang yang mempunyai disiplin kerja yang

sangat tinggi. Kelebihannya adalah dia bisa melaksanakan tugas dengan setia

dan akan bertanggung jawab dengan tugas yang diembannya.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

41
41

Sedangkan kelemahan dari orang kolerik adalah kurangnya kemampuan

untuk bisa merasakan perasaan orang lain (empati), kurang belas kasihan

terhadap penderitaan orang lain mengingat sense atau aspek perasaannya kurang memberi peranan.

Aspek Psikologis

Menurut Jung, kepribadian dikategorikan 1) Introvert dan 2) Ekstrovert Sedangkan Heymans membaginya, 1) Emosialitet; 2) Aktivitet; dan 3) Sekunder.

Tipe Kepribadian Ekstrovert dan Introvert

Hall dan Lindzey membedakan dua orientasi utama kepribadian, yakni

ekstravert dan introvert. Kedua sikap yang berlawanan ini ada dalam

kepribadian tetapi biasanya salah satu diantaranya dominan dalam sadar, sedangkan yang lain kurang dominan dan tak sadar. Apabila ego lebih bersifat ekstravert dalam relasinya dengan dunia, maka ketidaksadaran pribadinya akan bersifat introvert. Individu ekstravert dipengaruhi oleh dunia obyektif, yaitu dunia di luar dirinya. Orientasinya ke luar, fikiran, perasaan, dan tindakannya ditentukan oleh lingkungan, baik lingkungan sosial maupun non sosial. Individu introvert adalah kebalikannya,

yaitu dipengaruhi oleh dunia subyektif, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri.

Orientasinya ke dalam, fikiran, perasaan, serta tindakan-tindakan ditentukan oleh faktor subyektif. Kedua tipe kepribadian individu yang diuraikan Jung seakan-akan

bertentangan satu sama lain. Tipe kepribadian ekstravert biasanya

memandang tipe introvert sakit jiwa, sebaliknya tipe kepribadian introvert melihat individu ekstravert itu membosankan, kasar, dan tidak rasional. Kedua sikap ini merupakan arah berlawanan eksternal versus internal dan Jung berpendapat bahwa setiap individu dapat ditempatkan pada salah satu dari dua kategori tersebut.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

42
42

Biasanya dalam kehidupan individu tersebut, salah satu dari sikap-sikap ini

menjadi dominan dan menguasai tingkah laku dan kesadaran. Ini tidak berarti

bahwa sikap yang lain sama sekali ditiadakan. Sikap tersebut masih ada, tetapi bukan sebagai bagian dari kesadaran. Sikap tersebut menjadi bagian dari ketidak sadaran pribadi di mana dia tetap mampu mempengaruhi tingkah laku. Menurut Hall dan Lindzey, apabila ekstraversi merupakan sikap ego sadar yang dominan atau superior, maka ketidaksaadaran akan melakukan kompensasi dengan mengembangkan sikap introversi inferior yang tak sadar akan memegang kendali kepribadian dan menampilkan diri. Suatu periode tingkah laku ekstraversi yang kuat biasanya diikuti oleh suatu periode tingkah laku introversi. Mimpi-mimpi juga bersifat kompensasi sehingga mimpi-mimpi individu yang lebih dominan ekstravert akan memiliki kualitas introvert, sebaliknya mimpi-mimpi individu yang introvert akan cenderung bersifat ekstravert. Dengan demikian, maka individu yang dikategorikan pada tipe ekstravert

berorientasi pada dunia kenyataan obyektif luar, dimana individu tersebut

bersifat terbuka dan suka bergaul dengan individu-individu lain, serta tampak sungguh-sungguh senang bersahabat dengan individu-individu yang lain.

Sebaliknya, individu yang introvert berorientasi pada kehidupan batin yang

subyektif dan mungkin menjadi introspektif, suka meyendiri dan pemalu.

Ekstravert Pasaribu menyatakan bahwa individu dengan pribadi ekstravert yaitu

individu yang melihat pada kenyataan dan keharusan, tidak lekas

merasakan kritik, ekspresi emosinya spontan, dan dirinya tidak dituruti dalam alasannya, tidak begitu merasakan kegagalannya, tidak banyak mengadakan analisa dan kritik sendiri.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

43
43

Individu dengan tipe kepribadian ekstravert memiliki kendali diri yang

kuat. Ketika dihadapkan pada rangsangan-rangsangan traumatik, individu bertipe

kepribadian ekstravert akan menahan diri, artinya dia tidak akan mengacuhkan

trauma yang dialami dan karenanya tidak akan terlalu teringat akan apa yang

terjadi.

Individu-individu yang memiliki kepribadian ekstravert bersikap positif

terhadap masyarakatnya, hatinya terbuka, mudah bergaul, hubungan dengan

individu lain lancar. Namun, bahaya bagi tipe kepribadian ekstravert ialah apabila

ikatan terhadap dunia luar terlampau kuat, sehingga akan menyebabkan ia

tenggelam di dalam dunia obyektif, kehilangan diri atau asing terhadap dunia

subyektifnya sendiri. Lebih jelasnya mengenai ciri-ciri atau sifat-sifat dari tipe

kepribadian ekstravert, yakni sebagai berikut :

a) Cenderung menyukai pertisipasi dalam realita sosial, dalam dunia obyektif dan dalam peristiwa-peristiwa praktis lancar dalam pergaulan.

b) Bersikap realitas, aktif dalam bekerja dan komunikasi sosialnya baik (positif), serta ramah tamah.

c) Gembira dalam hidup, bersikap spontan dan wajar dalam ekspresi serta menguasai perasaan.

d) Bersikap optimis, tidak putus asa dalam menghadapi kegagalan atau dalam menghadapi konflik-konflik pekerjaan selalu tenang, bersikap suka mengabdi.

e) Tidak begitu banyak pertimbangan, ceroboh dan kadang-kadang tidak terlalu banyak melakukan analisa serta kurang kritik diri, berpikir kurang mendalam.

f) Relatif bersikap bebas dalam berpendapat, mempunyai cita-cita yang bebas.

g) Meskipun ulet dalam berpikir namun mempunyai pandangan yang pragmatis, di samping punya sifat keras hati.

Introvert

Individu dengan tipe kepribadian introvert mengacu pada individu yang

tertutup, ragu-ragu, pemikir, suka merunung, kurang spontan, tujuannya

tersembunyi, agak defensif, tidak mudah percaya dan hati-hati.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

Individu dengan

44
44

tipe kepribadian introvert ialah individu yang suka memikirkan tentang diri

sendiri, banyak fantasi, lekas merasakan kritik, menahan ekspresi emosinya, lekas

tersinggung dalam latihan, suka membesarkan kesalahan kecil, analisa dan kritik sendiri menjadi buah pikirannya. Individu introvert memiliki kendali diri yang buruk. Ketika mengalami trauma

yang sama seperti orang ekstravert tadi, otaknya tidak terlalu sigap

melindungi diri dan berdiam diri , akan tetapi malah membesar-besarkan

persoalan dan mempelajari detail-detail kejadian sehingga individu ini dapat mengingat apa yang terjadi dengan sangat jelas.

Gambaran tipe kepribadian introvert menurut Pervin merupakan individu

yang tenang, mawas diri, bersikap hati-hati, pemikir, kurang percaya pada

keputusan yang impulsif, lebih suka hidup teratur, pemurung, kuatir, kaku,

sederhana, pesimis, suka menyendiri, kurang suka bergaul, pendiam, pasif,

berhati-hati, tenggang rasa, damai, terkendali, dapat diandalkan, mampu menguasai diri, dan tenang.

Individu-individu yang mempunyai kepribadian introvert penyesuaiannya

dengan dunia luar kurang baik, jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar

berhubungan dengan individu lain, kurang dapat menarik individu lain.

Penyesuaian dengan batinnya sendiri baik.

dengan dunia obyektif terlalu jauh, maka individu dengan tipe kepribadian ini dapat

lepas dari dunia obyektifnya. Lebih jelasnya mengenai ciri-ciri atau sifat-sifat dari tipe kepribadian introvert, yakni sebagai berikut :

Bahaya tipe introvert ialah jika jarak

Cenderung lebih suka memasuki dunia imaginer, biasa melakukan perenungan yang kreatif. Produksi dan ekspresi-ekspresinya diwarnai oleh perasaan-perasaan yang subyektif, pusat kesadaran dirinya adalah kepada egonya sendiri dan sedikit perhatian pada dunia luar.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

45
45

Perasaan halus dan cenderung untuk tidak melahirkan emosi secara menyolok; biasanya melahirkan ekspresinya dengan cara-cara yang halus yang jarang ditemukan pada individu-individu yang lain. Sikapnya tertutup , sehingga jika ada konflik-konflik disimpannya dalam hati dan ia berusaha menyelesaikannya sendiri. Banyak pertimbangan, sering suka mengadakan analisis dan kritik diri. Sensitif terhadap kritik, pengalaman-pengalaman pribadi bersikap mengendap dalam kenangan yang kuat, apalagi hal-hal yang bersifat pujian atau celaan tentang dirinya. Pemurung, dan cenderung selalu bersikap menyendiri, bergaya hidup soliter serta kurang bergaul. Lemah lembut tindak dan sikapnya, serta punya pandangan idealistis.

Aspek-Aspek Kepribadian

Pertumbuhan kepribadian dipengaruhi oleh faktor eksternal dan

internal. Berdasarkan faktor eksternal diantaranya adalah keanggotaan

individu di dalam budaya, kelas sosial ekonomi tertentu dan latar belakang

keluarga yang unik, sedangkan faktor internal antara lain berupa kekuatan

genetik, biologis dan fisiologis.

Menurut Hurlock bahwa pengaruh faktor sosial terhadap perkembangan pola

kepribadian bersifat dominan.

Dalam teori kontinuitas dan diskontinuitas,

Benedict menjelaskan bahwa pola kepribadian yang normal dan sehat berkembang

ketika pelatihan bagi seseorang anak bersifat kontinyu, dan jika anak

tersebut tidak dipaksa berperilaku dan berfikir dengan cara lain. Masalah kepribadian seperti kecemasan, neurosis, dan psikofisis menurut Benedict merupakan bagian dari hasil diskontinuitas selama pelatihan pada anak. Keanggotaan dalam budaya tertentu akan membawa individu pada suatu bentuk sosialisasi dengan pola pemikiran, perasaan, dan perilaku tertentu. Kekuatan

budaya akan membentuk self image individu, membentuk hubungannya

dengan individu-individu yang lain dalam lingkungan, membentuk kebutuhan dan memuaskannya serta merupakan tujuan yang berusaha dicapai individu.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

46
46

Berkaitan dengan faktor biologis para ahli menyebutkan efek tidak langsung

dari faktor biologis terhadap perkembangan kepribadian. Faktor biologis

berpengaruh terhadap konsep dari individu terutama jika individu membandingkan

keadaan fisik dari individu tersebut.

Selain faktor internal dan eksternal atau faktor genetis dan lingkungan,

berdasarkan penelitian yang dilakukan akhir 2007, yang dilakukan oleh Kazuo

Murakami, Ph.D dari Jepang dalam bukunya The Divine message of the DNA

menyimpulkan bahwa kepribadian sepenuhnya dikendalikan oleh gen yang

ada di dalam sel tubuh manusia.

Gen tersebut ada yang bersifat Dorman (tidur) atau tidak aktif dan yang

bersifat aktif. Bila kita sering menyalakan gen yang tidur dengan cara positif

thinking maka kepribadian dan nasib kita akan lebih baik.

Jadi genetik

bukan sesuatu yang kaku, permanen dan tidak dapat dirubah.

Setiap orang yang diciptakan Tuhan sudah dilengkapi dengan kepribadian.

Karenanya kepribadian merupakan sumbangsih atau pemberian Tuhan

ditambah dengan pengaruh lingkungan yang diterima atau dialami pada masa

pertumbuhan. Ada pihak yang beranggapan bahwa segalanya telah diprogram

dalam genetik, dan di pihak lain ada yang berkesimpulan bahwa faktor belajar dan

lingkungan atau pengalaman memegang peranan yang sangat menentukan

terhadap terbentuknya suatu kepribadian. Perpaduan kedua faktor tersebut itulah

yang populer dinamakan Anna Anastasia, dimana keduanya membentuk

kepribadian manusia.

Sementara itu, John L Holland, seorang praktisi yang mempelajari hubungan

antara kepribadian dan minat pekerjaan, mengemukakan bahwa ada 6 (enam) tipe

atau orientasi kepribadian pada manusia, di antaranya :

1. TIPE REALISTIK Menyukai pekerjaan yang sifatnya konkret, yang melibatkan kegiatan sistematis, seperti mengoperasikan mesin, peralatan. Tipe seperti ini tidak

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

47
47

hanya membutuhkan keterampilan, komunikasi, atau hubungan dengan orang lain, tetapi dia memiliki fisik yang kuat. Bidang karier yang cocok, yaitu perburuhan, pertanian, barbershop, dan konstruski.

2. TIPE INTELEKTUAL/INVESTIGATIVE Menyukai hal-hal yang teoritis dan konseptual, cenderung pemikir daripada pelaku tindakan, senang menganalis, dan memahami sesuatu. Biasanya menghindari hubungan sosial yang akrab. Tipe ini cocok bekerja di laboratorium penelitian, seperti peneliti, ilmuwan, ahli matematika.

3. TIPE SOSIAL Senang membantu atau bekerja dengan orang lain. Dia menyenangi kegiatan yang melibatkan kemampuan berkomunikasi dan ketrampilan berhubungan dengan orang lain, tetapi umumnya kurang dalam kemampuan mekanikal dan sains. Pekerjaan yang sesuai, yaitu guru, konselor, pekerja sosial, guide, dan bartender.

4. TIPE KONVENSIONAL Menyukai pekerjaan yang terstruktur atau jelas urutannya, mengolah data dengan aturan tertentu. Pekerjaan yang sesuai, yaitu sekretaris, teller, filing, serta akuntan.

5. TIPE USAHA/ENTERPRISING Cenderung mempunyai kemampuan verbal atau komunikasi yang baik dan menggunakannya untuk memimpin orang lain, mengatur, mengarahkan, dan mempromosikan produk atau gagasan. Tipe ini sesuai bekerja sebagai sales, politikus, manajer, pengacara atau agensi iklan.

6. TIPE ARTISTIK Cenderung ingin mengekspresikan dirinya, tidak menyukai struktur atau aturan, lebih menyukai tugas-tugas yang memungkinkan dia mengekspresikan diri. Karier yang sesuai, yaitu sebagai musisi, seniman, dekorator, penari, dan penulis.

Pembagian Kepribadian

Allport membagi Psikologi Kepribadian dalam 2 (dua) bagian, yakni,

Nomothetic dan Idiographic.

Nomothetic : Suatu kajian yang memahami kepribadian dalam differential psychology, yakni yang membedakan karakter dan kepribadian masing-masing individu/orang.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

48
48

Idiographic

:

Adalah kajian yang mencoba memahami keunikan tiap individu berdasarkan karakternya.

Notes :

# GELANUS membagi kepribadian berdasarkan cairan dalam tubuh sebagai

penanda temperamen seseorang, yakni : Phlegmatic, Sanguinic, Melancholic, dan

Choleric.

Menurut Feist, kepribadian individu terdiri atas : Trait dan Type

Trait : Adalah konstruk teoritis yang menggambarkan unit atau dimensi dasar dari

kepribadian. Trait menggambarkan konsistensi respon individu dalam situasi

yang berbeda-beda.

Type : Adalah pengelompokan bermacam-macam trait. Dibandingkan dengan

konsep trait, tipe memiliki tingkat regularity dan generality yang lebih besar

daripada trait.

Trait merupakan disposisi untuk berperilaku dalam cara tertentu, seperti yang

tercermin dalam perilaku seseorang pada berbagai situasi.

teori kepribadian yang didasari oleh beberapa asumsi, yaitu :

Teori trait merupakan

Trait merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau

tindakan yang membedakan seseorang dari yang lain sehingga, 1) Trait

relatif stabil dari waktu ke waktu; dan 2) Trait konsisten dari situasi ke

situasi.

Trait merupakan kecenderungan dasar yang menetap selama

kehidupan, namun karakteristik tingkah laku dapat berubah karena, 1) ada

proses adaptif; 2) adanya perbedaan kekuatan, dan 3) kombinasi dari trait

yang ada.

49
49

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

# McCrae dan Costa :

Selama periode dari usia 18 sampai 30 tahun atau masa remaja akhir hingga masa

dewasa tingkat trait kepribadian dasar mengalami perubahan. Setiap individu sedang berada dalam proses mengadopsi konfigurasi trait yang stabil, konfigurasi yang tetap stabil setelah usia 30 tahun.

Faktor Penentu Kepribadian

Menurut Allport, kepribadian individu ditentukan oleh faktor genetik dan

lingkungan sebagai penentu perilaku.

Kedua faktor tersebut itulah yang

memunculkan karakteristik kepribadian.

# Sehubungan dengan adanya peran genetik dalam pembentukan kepribadian,

terdapat 4 (empat) pemahaman penting yang perlu diperhatikan :

1. Meskipun faktor genetik mempunyai peran penting terhadap perkembangan

kepribadian, faktor non-genetik tetap mempunyai peranan bagi variasi

kepribadian.

2. Meskipun faktor genetik merupakan hal yang penting dalam mempengaruhi

lingkungan, faktor non-genetik adalah faktor yang paling bertanggungjawab

akan perbedaan lingkungan pada orang-orang.

3. Pengalaman-pengalaman dalam keluarga adalah hal yang penting meskipun

lingkungan keluarga berbeda bagi setiap anak sehubungan dengan jenis

kelamin anak, urutan kelahiran, atau kejadian unik dalam kehidupan

keluarga pada tiap anak.

4. Meski terdapat kontribusi genetik yang kuat terhadap trait kepribadian,

tidak berarti bahwa trait itu tetap atau tidak dapat dipengaruhi oleh

lingkungan.

Dimensi Kepribadian

Gordon W. Allport membagi psikologi kepribadian ke dalam beberapa

dimensi, antara lain :

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

50
50

Conscious | Unconscious

Merupakan dimensi dari kepribadian yang sejak lama ada dalam teori kepribadian. Para pendukung Psikoanalisis (Freud, Jung, Horney) adalah orang-

orang yang menekankan bahwa kepribadian senantiasai dikontrol oleh proses

yang tidak disadari.

Sedangkan para tokoh Humanisme, seperti Allport, Rogers,

Maslow lebih menekankan pada faktor kesadaran sebagai dasar pembentuk

kepribadian.

Heredity | Environment

Pada dasarnya hampir semua teori kepribadian mengakui bahwa

faktor

Namun para pemikir

aliran Behaviorisme percaya, kepribadian dapat dipahami tanpa harus mempertimbangkan faktor genetis dan biologis. Sedangkan tokoh Rogers dan Bandura lebih menekankan pada aspek lingkungan sosial, dimana kepribadian

keturunan sebagai penentu kepribadian sseorang.

adalah suatu proses belajar sosial seseorang.

Acquisition | Process Of Learning

Teori Behaviorisme lebih menekankan pada proses belajar yang membentuk suatu kerpibadian, yaitu cara bagaimana suatu tingkah laku dimodifikasi. Sementara teori-teori kepribadian lainnya mengakui bahwa peran proses belajar dalam pembentukan suatu kepribadian seseorang. Sedangkan cattel dan Murray lebih menekankan pada acquisition of behavior.

Past | Present

Sigmund

Freud

adalah

pendiri

Psikoanalisis

yang

mengatakan

bahwa

kepribadian

adalah

hasil

dari

bentukan

masa

lalu,

yaitu

masa 5

tahun

pertama

kehidupan.

Setelah

masa

itu,

kepribadian

hanyalah

ulangan

atau

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

51
51

fiksasi dari apa yang didapat dulu.

Sementara Lewin dan Alport mengatakan

bahwa yang terpenting dari kepribadian bukanlah masa lalu tetapi masa kini.

Person | Situation

Dimensi ini menekankan pada proses dimana kepribadian itu terbentuk.

Penekanan pada Person berarti kepribadian adalah bentukan dari inner process

yang terjadi dalam diri individu.

Sedangkan penekanan pada Situasion berarti

bahwa kepribadian adalah bentukan dari faktor lingkungan sosial dimana

individu itu berada. Sementara Fromm dan Skinner berpendapat bahwa Person dan Situasion sebagai dasar pembentukan suatu kepribadian. Mereka menekankan

pada

faktor

sosiokultural

dalam

kepribadian,

sedangkan

Sheldon

dan

Binswanger

lebih

menekankan

pada

faktor

biologis

internal

dalam

diri

individu.

 

Holistic | Analitic

Dimensi

holistik

menyaratkan

bahwa

suatu

tingkah

laku

hanya

dapat

dimengerti berdasarkan konteksnya, dan juga segala sesuatu yang dilakukan

oleh

individu

berhubungan

dengan

fungsi-fungsi

fisiologis

dan

biologisnya. Sementara dimensi analitik yang diprakarsai oleh adalah Lewin dan

Binswanger berpendapat bahwa suatu tingkah laku bisa saja dipelajari dan didapat secara terpisah dari tingkah laku yang lainnya.

Normal | Abnormal

Banyak juga teori kepribadian yang menekankan pada abnormalitas suatu

kepribadian.

Dengan

mempelajari

abnormalitas

itu

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

maka

52
52

pemahaman tentang orang normal dapat diperoleh.

Perbedaan

normal/abnormal dapat dilihat secara kualitatif, yaitu melihat seberapa jauh

hal-hal patologis dalam kepribadian itu berbeda dari yang normal.

Notes :

Kepribadian bukan sebagai bakat kodrati, melainkan terbentuk oleh proses

sosialisasi. Kepribadian merupakan kecenderungan psikologis seseorang untuk melakukan tingkah laku sosial tertentu, baik berupa perasaan, berpikir,

bersikap, dan berkehendak maupun perbuatan.

4. Psikologi Kognitif

Adalah kajian studi ilmiah mengenai proses-proses mental atau

pikiran. Proses ini meliputi bagaimana informasi diperoleh, dipresentasikan dan

ditransformasikan sebagai pengetahuan. Pengetahuan itu dimunculkan kembali

sebagai petunjuk dalam sikap dan perilaku manusia. Oleh karena itu, psikologi

kognitif juga disebut psikologi pemrosesan informasi, yakni mempelajari tentang

cara manusia menerima, mempersepsi, mempelajari, menalar, mengingat dan

berpikir tentang suatu informasi.

Sejarah Psikologi Kognitif

Pada awal 1960-an, banyak psikolog kognitif mulai memberontak terhadap

pandangan behavioral yang kuno. Psikologi kognitif adalah pendekatan yang sangat

berhasil terhadap psikologi dan telah mendominasi psikologi dalam beberapa

waktu.

Psikologi

kognitif

menekankan

proses-proses

mental

dan

pengaruhnya pada perilaku. Ia merupakan suatu bidang studi yang berdiri sendiri,

sekaligus sebuah pendekatan untuk semua bidang psikologi. Ingatan (memori)

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

53
53

merupakan bidang studi yang penting dalam psikologi kognitif itu sendiri. Pendekatan kognitif telah banyak diterapkan pada bidang psikologi seperti untuk

memahami depresi dan atribusi.

Fase Yunani kuno s.d abad 18

Sejarah dari psikologi kognitif berawal pada saat Plato (428-348SM) dan

muridnya Aristoteles (384-322SM) memperdebatkan mengenai cara manusia

memahami pengetahuan maupun dunia serta alamnya. Plato berpendapat bahwa manusia memperoleh pengetahuan dengan cara

menalar secara logis, aliran ini disebut sebagai rasionalis. Lain halnya

dengan Aristoteles yang menganut paham empiris dan mempercayai manusia

memeroleh pengetahuannya melalui bukti-bukti empiris.

Perdebatan ini terus berlangsung seperti pertentangan Rasionalis Rene Descartes dari Prancis (1596-1650) dengan dan Empiris John Locke (1632-1704) dari Inggris. Karenanya, Filsuf Jerman, Immanuel Kant, pada abad 18 berpendapat,

rasionalisme

dan

empirisme

harus

bersinergi

dalam

membuktikan

pengetahuan. Perdebatan ini meletakkan landasan dan memengaruhi cara berpikir di bidang

Sejatinya, ilmu pengetahuan

harus berdasarkan pada paham empiris untuk pencarian data dan analisis data dengan memakai kerangka pikir rasionalis.

ilmu psikologi maupun cabang ilmu lainnya.

Fase Abad 19 s.d Abad 20

Wilhelm Wundt (1832-1920) seorang psikolog dari Jerman mengajukan ide

untuk mempelajari pengalaman

mempelajari proses perpindahan informasi atau berpikir, maka informasi tersebut

Dalam

sensori

melalui

introspeksi.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

54
54

harus dibagi dalam struktur berpikir yang lebih kecil.

Aliran strukturisme

Wundt berfokus pada proses berpikir, namun aliran fungsionalisme berpendapat

bahwa penting bagi manusia untuk mengetahui apa dan mengapa mereka melakukan sesuatu.

pragmatisme-

fungsionalisme melontarkan gagasan mengenai atensi, kesadaran serta persepsi.

Sementara

itu,

William

James

(1842-1910)seorang

Setelah itu muncul aliran assosiasi yang digagas Edward Lee Thorndike (1874-

1949). Ia menggunakan stimulus dan diikuti dengan aliran behaviorisme yang memasangkan antara stimulus dan respon dalam proses belajar. Pendekatan behaviorisme radikal yang dibawakan oleh B.F. Skinner (1904-

1990) menyatakan bahwa semua tingkah laku manusia untuk

belajar,

perolehan bahasa bahkan penyelesaian masalah dapat dijelaskan dengan penguatan antara stimulus dan respon melalui hadiah dan hukuman. Namun pendekatan behaviorisme belum dapat menjawab alasan perilaku manusia yang berbeda misalnya melakukan perencanaan, pilihan dan sebagainya.

Edward Tolman (1886-1959) percaya bahwa semua tingkah laku ditujukan

pada suatu tujuan. Menggunakan eksperimen dengan tikus yang mencari

makanan dalam maze. Percobaan ini membuktikan bahwa terdapat skema atau peta dalam kognisi

tikus. Hal ini membuktikan bahwa tingkah laku melibatkan proses kognisi.

Oleh karena itu, Tolman pun dinobatkan sebagai

Modern.

Bapak Psikologi

Kognitif

Selain Tolman, Albert Bandura (1925) juga mengkritik behaviorisme dengan

menyatakan bahwa belajar pun dapat diperoleh melalui lingkungan sosial dari

individu. Dalam perolehan bahasa, Noam Chomsky (1928), seorang linguis

mengkritik behaviorisme dengan menyatakan bahwa otak manusia dibekali

dengan kemampuan untuk mengenali dan memproduksi bahasa.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

55
55

Kognitif Adalah

Teori atau konsep mengenai kognitif didasarkan pada asumsi bahwa kemampuan kognitif merupakan sesuatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku seseorang. Dengan kemampuan kognitif ini maka seseorang dipandang sebagai individu yang secara aktif mampu membangun sendiri pengetahuan mereka tentang dunia. Perkembangan kognitif merupakan salah satu perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengetahuan, yakni semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individeu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Berdasarkan akar teoritis yang dibangun oleh Piaget, beberapa penulis mendefinisikan kognisi dengan redaksi yang berbeda-beda, namun pada dasarnya sama, yakni sebagai aktivitas mental dalam mengenal dan mengetahui tentang dunia. Berikut sejumlah definisi kognitif yang dikemukakan oleh para ahli :

Adalah istilah umum yang mencakup segenap model pemahaman, yakni persepsi, imajinasi, penangkapan makna, penialain, dan penalaran

Drever (Kuper & Kuper, 2000)

Adalah bagaimana anak beradaptasi dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian di sekitarnya,

Piaget (Hetherington & Parke, 1975)

Adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk mengenal, termasuk di dalamnya mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, menduga, dan menilai,

Chaplin (2002)

Sebagai proses berpikir dimana informasi dari pancaindera ditransformasi, direduksi, dielaborasi, diperbaiki, dan digunakan.

Neisser (1967)

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

56
56

Dari berbagai pengertian yang telah disebutkan di atas dapat dipahami bahwa kognitif adalah :

Sebuah istilah yang digunakan oleh psikolog untuk menjelaskan semua aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan, memperkirakan, menlai, dan memikirkan lingkungannya,

Aspek kognitif

Aspek kognitif merupakan faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan kognitif pada diri seseorang, menurut Piaget, aspek tersebut meliputi :

Kematangan Suatu kondisi atau keadaan yang menunjukkan bahwa semakin bertambah usia, maka semakin bijaksana seseorang. Pengalaman Merupakan hasil interaksi dengan orang lain. Pengalaman membawa kemajuan kognitif melalui proses asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi dan akomodasi membantu anak-anak beradaptasi terhadap lingkungannya karena melalui proses-proses tersebut pemahaman mereka mengenai dunia semakin dalam dan luas. Transmisi Sosial Sekaitan dengan hubungan sosial dan komunikasi yang sesuai dengan lingkungan. Equilibrasi Berupa keadaan seimbang antara struktur kognisi dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.

57
57

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif merupakan salah satu perkembangan manusia yang

berkaitan

erat

dengan

pengetahuan, yakni semua proses psikologis

yang

berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Dengan demikian, maka perkembangan kognitif membahas tentang perkembangan individu dalam melakukan proses berfikir atau proses kognisi atau proses mengetahui. Dalam psikologi, proses mengetahui dipelajari dalam bidang psikologi kognitif. Bidang ini dipelopori oleh J.J. Piaget, yang terkenal dengan teori pentahapan kognitifnyanya yang disebut dengan perkembangan kognitif. Adapun pentahapan dari perkembangan perilaku kognitif secara kualitatif tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tahap Sensori - Motor (usia 0 s.d 2 tahun)

Dalam tahap ini pemahaman tentang dunia atau pengalaman yang diperoleh seseorang (anak) dengan mengorganisasikan pengalaman sensori koordinasi alat

indera mereka dengan gerakan otot mereka. Pada tahap ini, seseorang belum

mempunyai konsepsi tentang objek yang tetap. Ia hanya dapat mengetahui hal-

hal yang ditangkap dengan indranya.

Ini

membuktikan

bahwa

saat

bayi

lahir

dengan

refleks

bawaan

kemudian seiring dengan pertumbuhannya maka skema dimodifikasi dan digabungkan untuk membentuk tingkah laku yang lebih kompleks.

Ketika bayi, anak-anak tidak dapat membedakan antara dirinya dan

dunianya serta tidak memiliki pemahaman tentang kepermanenan objek.

Menjelang akhir periode sensorimotor, anak mulai bisa membedakan antara dirinya dan dunia sekitarnya dan menyadari bahwa objek tersebut ada dari waktu ke waktu. Dalam tahap sensorimotor ini terbagi atas beberapa sub-tahapan, di antaranya :

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

58
58

Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks. Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan. Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan. Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek). Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan. Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

2. Tahap Pra-Operasional (usia 2 s.d 7 tahun)

Tahap ini merupakan tahap pemikiran yang lebih simbolis tetapi tidak melibatkan pemikiran operasiaonal dan lebih bersifat egosentris dan intuitif ketimbang logis. Tahap ini dibagi atas dua sub-tahapan yaitu sub-tahap fungsi simbolis yang terjadi kira-kira antara usia 2-4 tahun. Dalam tahap ini seorang anak belajar untuk menggunakan dan merepresentasikan objek yang tak hadir dengan gambaran dan kata-kata, akan

tetapi

pemikirannya

masih

bersifat

egosentris

dan animisme.

Hal

ini

memperluas dunia mental mereka hingga mencakup dimensi-dimensi baru. Egosentris sendiri merupakan keadaan dimana anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain, sementara animisme adalah kepercayaan bahwa objek tak bernyawa adalah hidup dan bisa bergerak. Sedangkan sub-tahapan yang selanjutnya adalah sub-tahap pemikiran intuitif yang terjadi antara usia 4-7 tahun. Piaget menyebut tahapan ini sebagai

tahap intuitif karena anak-anak merasa yakin tentang pemahaman mereka

mengenai suatu hal, namun tanpa menggunakan pemikiran rasional.

Seorang anak dapat mengklasifikasikan objek hanya menggunakan satu

ciri seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

59
59

atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda. Pada

tahap ini anak juga mulai banyak mengajukan pertanyaan dan ingin tahu semua

jawaban dari pertanyaan tersebut.

3. Tahap Operasional Konkrit (usia 7 s.d 11 tahun)

Pada umumnya anak-anak pada tahap ini telah memahami operasi logis

dengan bantuan benda konkrit. Penalaran logika menggantikan penalaran intuitif

tetapi hanya dalam situasi konkret. Kemampuan ini terwujud dalam memahami

konsep kekekalan, kemampuan untuk mengklasifikasikan dan serasi serta

kemampuan dalam memandang suatu objek dari sudut pandang yang berbeda

secara objek tetapi belum bisa memecahkan masalah-masalah yang bersifat

abstrak.

Adapun proses-proses penting selama Tahap Operasional Konkrit ini adalah

sebagai berikut :

Pengurutan Adalah kmampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila seorang anak diberi benda yang berbeda ukuran, seorang anak dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke benda yang paling kecil.

Klasifikasi Adalah kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)

Decentering Adalah anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.

Reversibility Adalah anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat

60
60

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.

Konservasi Adalah memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.

Penghilangan Sifat Egosentrisme Adalah kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah).

4. Tahap Operasional Formal (usia 11 s.d dewasa)

Pada tahap ini diperoleh kemampuan untuk berpikir secara abstrak,

menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.

Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas, yakni saat terjadi

berbagai perubahan besar lainnya yang menandai masuknya seorang individu ke

dalam dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan

psikoseksual, dan perkembangan sosial.

Pada

tahap

ini,

seorang

remaja

mampu

bernalar

tanpa

harus

berhadapan dengan dengan objek atau saat peristiwanya berlangsung sehingga

dapat memecahkan permasalahan yang sifatnya verbal. Selain itu, pada proses ini

terdapat

kemampuan

untuk

melakukan

idealisasi

dan

membayangkan

kemungkinan-kemungkinan atau spekulasi tentang kualitas ideal yang mereka

inginkan dalam diri mereka dan orang lain.

Mereka juga mulai berpikir menyerupai ilmuwan. Mereka menyusun

rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis serta munguji

solusi-solusi manakah yang dapat berhasil.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

61
61

Peran Psikologi Kognitif

Di dalam dunia psikologi, mempelajari pendekatan psikologi kognitif sangat diperlukan mengingat urgensitas yang terkandung di dalamnya ,yakni :

Kognisi adalah proses mental atau pikiran yang berperan penting dan mendasar bagi studi-studi psikologi manusia. Pandangan psikologi kognitif banyak mempengarui bidang-bidang psikologi yang lain. Misalnya pendekatan kofnitif banyak digunakan di dalam psikologi konseling, psikologi konsumen dan lain-lain. Melalui prinsiprinsip kognisi, seseorang dapat mengelola informasi secara efisien dan terorganisasikan dengan baik.

Konsep Manusia Dalam Psikologi Kognitif

Manusia dipandang sebagai makhluk yang selalu berusaha memahami

lingkungannya. Rene Descartes menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk

yang selalu berpikir (Homo Sapiens). Sementara Immanuel Kant

menyimpulkan bahwa jiwalah yang menjadi alat utama pengetahuan,

bukan alat indera. Jiwa menafsirkan pengalaman inderawi secara aktif;

mencipta, mengorganisasikan, menafsirkan, mendistorsi dan mencari makna. Tidak semua stimuli kita terima. Para psikologi Gestalt menyatakan bahwa manusia tidak memberikan respons kepada stimuli secara otomatis. Manusia adalah organisme aktif yang menafsirkan dan bahkan mendistorsi lingkungan. Sebelum memberikan respons, manusia menangkap dulu pola stimuli secara keseluruhan dalam satuan-satuan yang bermakna. Menurut Lewin, perilaku manusia harus dilihat dari konteksnya. Dari fisika, Lewin meminjam konsep medan (field) untuk menunjukan totalitas gaya yang mempengaruhi seseorang pada saat tertentu. Perilaku manusia bukan sekedar respons pada stimuli, tetapi produk berbagai gaya yang mempengaruhi manusia

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

62
62

sebagai ruang hayat (life space). Ruang hayat tersebut terdiri dari tujuan

kebutuhan individu, semua faktor yang disadarinya, dan kesadaran diri.

Dari Lewin juga lahir konsep dinamika kelompok. Dalam kelompok, individu

menjadi bagian yang saling berkaitan dengan anggota kelompok yang lain.

Kelompok memiliki sifat-sifat yang tidak dimiliki individu. Lewin juga berbicara

tentang tension (tegangan) yang menunjukkan suasana kejiawaan yang terjadi

ketika kebutuhan psikologis belum terpenuhi.

Sejak pertengahan tahun 1950-an berkembang penelitian mengenai

perubahan sikap dengan kerangka teoritis manusia sebagai pencari konsistensi

kognitif (The Person as Consistency Seeker). Di sini, manusia dipandang sebagai

makhluk yang selalu berusaha menjaga keajegan dalam sistem kepercayaannya

dengan perilaku.

Awal tahun 1970-an, teori disonansi dikritik, dan muncul konsepsi manusia

sebagai pengolah informasi (The Person as Information Processor). Dalam konsepsi

ini, manusia bergeser dari orang yang suka mencari justifikasi atau membela diri

menjadi orang yang secara sadar memecahkan persoalan. Perilaku manusia

dipandang sebagai produk strategi pengolahan informasi yang rasional, yang

mengarahkan penyandian, penyimpanan, dan pemanggilan informasi.

BerfIKir (Komunikasi Intra Personal)

Salah satu perbedaan yang signifikan antara makhluk manusia dengan hewan

adalah kemampuannya dalam berfikir. Bahkan eksistensi manusia sangat ditentukan oleh sejauhmana otaknya digunakan untuk befikir. Seorang filsuf Yunani, Rene Descartes pun menegaskan, Cogito ergo sum (Aku berfikir maka aku ada), .

Secara sederhana, berfikir dapat diartikan sebagai kegiatan membuat

kalimat, menyusun kata-kata yang dipahami untuk menghasilkan sebuah

makna baru.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

Karena berpikir adalah proses menyusun kalimat, maka kualitas

63
63

berpikir ditentukan oleh seberapa banyak kata atau istilah yang dipahami tersebut.

Semakin banyak kata dan istilah yang dikuasai tentunya maka akan semakin luas proses berpikir yang dapat dilakukan.

Setiap kata mewakili sebuah konsep, yang juga berarti pengetahuan. Memperkaya pengetahuan berarti menambahkan kosa kata baru ke dalam pikiran, atau membuat proposisi baru dari kata-kata yang sudah dipahami. Menyatakan hubungan-hubungan dari setiap konsep sehingga jelas maknanya.

Dengan demikian, proses berfikir manusia pertama kali ditentukan oleh proses mencermati stimuli-stimuli yang ada. Proses berfikir dalam kajian Ilmu komunikasi

merupakan proses komunikasi intrapersonal. Adapun tahan-tahap yang dilakukan oleh manusia untuk mencapai tahap berfikir atau memeroleh informasi tersebut, di antaranya :

1)

Sensasi

Sejak manusia dilahirkan dan berhubungan dengan dunia luar maka saat itu

pulalah ia menerima rangsangan atau stimulus dari luar, selain tentunya rangsangan

dari dalam dirinya. Untuk mengenal dunia luar atau stimulus-stimulus tersebut

maka manusia melakukan proses penginderaan melalui alat inderanya.

Dengan demikian, maka tahap paling awal penerimaan informasi adalah sensasi.

Secara definitif, sensasi mempunya dua arti. Makna yang sederhana adalah

perasaan, dan pengertian lainnya adalah sesuatu yang menggemparkan. Namun,

yang dimaksud sensasi di sini adalah yang berkaitan dengan perasaan atau alat

indera.

Sensasi berasal dari kata sense , artinya alat penginderaan, yang

menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Melalui alat alat indra (indra

perasa, indra peraba, indra pencium, indra pengecap, dan indra pendengar), makna

pesan yang dikirimkan ke otak harus dipelajari. Semua indra itu mempunyai andil

bagi berlangsungnya komunikasi manusia.

Penglihatan menyampaikan pesan nonverbal ke otak untuk

diinterprestasikan. Pendengaran juga menyampaikan pesan verbal ke otak untuk

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

64
64

ditafsirkan. Penciuman, sentuhan dan pengecapan, terkadang memainkan peranan

penting dalam komunikasi, seperti bau parfum yang menyengat, jabatan tangan

yang kuat, dan rasa air garam dipantai.

Bila alat-alat indera mengubah informasi menjadi impuls- impuls saraf dengan bahasa yang dipahami oleh otak, maka

terjadilah sensasi. Dengan demikian, maka sensasi adalah penerimaan dari segala

sesuatu yang menerpa organisme (stimulus/rangsangan) melalui alat indera. Pada

sensasi, unsur-unsur stimulus belum terurai namun masih dalam satu kesatuan.

Sementara menurut Dennis Coon, Sensasi adalah pengalaman

elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal. Simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indera.

Fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangatlah

penting. Melalui alat indera manusia dapat memahami kualitas

lingkungannya. Lebih dari itu, melalui alat indera manusia memeroleh

pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya.

There is nothing in the mind except what was first in the

sense, (Tidak ada apa-apa dalam diri kita kecuali harus lebih dahulu lewat alat indera) -- John Locke,

Syarat-Syarat Terjadinya Sensasi

Objek menimbulkan stimulus yang mengenai indera (reseptor) sehingga

terjadi sensasi. Untuk bisa diterima oleh indera diperlukan kekuatan

Adanya objek yang diamati atau kekuatan stimulus.

stimulus yang disebut sebagai ambang mutlak (absolute threshold).

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

65
65

Kepastian alat indera (reseptor) yang cukup baik serta syaraf (sensoris) yang baik sebagai penerus kepada pusat otak (kesadaran) untuk menghasilkan respon. Pengalaman dan lingkungan budaya. Pengalaman dan budaya mempengaruhi kapasitas alat indera yang mempengaruhi sensasi.

Ambang Mutlak (Absolute Threshold)

Apa saja yang menyentuh alat indera dari dalam maupun dari luar

disebut stimuli.

Alat penerima (indera) akan segera mengubah stimuli menjadi

energi syaraf untuk disampaikan ke otak melalui proses transduksi.

Agar stimuli

dapat diterima oleh indera maka stimuli tersebut harus kuat.

Namun, indera memiliki batasan.

Batasan minimal intensitas stimuli dari

alat indera itulah yang dinamakan ambang mutlak, misalnya alat indera Mata

hanya dapat menangkap stimuli yang mempunyai panjang gelombang cahaya

antara 380 - 780 nanometer.

frekuensi

gelombang

suara

yang

Sementara telinga hanya dapat mendeteksi

berkisar

antara

20

20.000

herzt.

Sedangkan manusia akan sanggup menerima temperatur 10 o C sampai 45oC. Di bawah 10 o C akan menggigil dengan perasaan dingin yang mencekam, dan di atas 48oC akan mengalami kepanasan yang menyengat. Jadi dapat dikatakan bahwa sensasi adalah proses manusia dalam menerima

informasi sensoris [energi fisik dari lingkungan] melalui penginderaan dan

menerjemahkan informasi tersebut menjadi sinyal-sinyal

neural yang

bermakna. Misalnya, ketika seseorang melihat (menggunakan indera visual,

yaitu mata) sebuah benda berwarna merah, maka ada gelombang cahaya dari benda itu yang ditangkap organ mata, lalu diproses dan ditransformasikan menjadi sinyal-sinyal di otak, yang kemudian diinterpretasikan sebagai warna merah .

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

66
66

2)

Persepsi

Persepsi atau pengamatan merupakan proses internal untuk memilih,

mengevaluasi dan mengorganisasikan rangsangan dari lingkungan eksternal.

Karenanya, persepsi menurut Drever merupakan suatu proses pengenalan atau

identifikasi sesuatu

dengan

menggunakan

panca

indera

(Sasanti,

2003).

Kesan yang diterima individu sangat tergantung pada seluruh pengalaman yang

telah diperoleh melalui proses berpikir dan belajar, serta dipengaruhi oleh faktor

yang berasal dari dalam diri individu.

Dengan kata lain persepsi adalah cara kita mengubah energi energi

fisik

lingkungan

kita

menjadi

pengalaman

yang

bermakna.

Persepsi juga merupakan inti dari komunikasi karena persepsilah yang menentukan

untuk memilih pesan.

Semakin tinggi derajat kesamaan persepsi individu, semakin mudah dan semakin sering mereka berkomunikasi, dan sebagai konsekuensinya

semakin cenderung membentuk kelompok budaya atau kelompok identitas.

jelasnya tentang pengertian persepsi, berikut sejumlah definisi yang dikemukakan

oleh para ahli :

Lebih

Persepsi sebagai aktivitas yang memungkinkan manusia mengendalikan rangsangan-rangsangan yang sampai kepadanya melalui alat inderanya, menjadikannya kemampuan itulah dimungkinkan individu mengenali milleu (lingkungan pergaulan) hidupnya.

Sabri (1993)

Persepsi adalah suatu proses pengamatan seseorang yang berasal dari suatu kognisi secara terus menerus dan dipengaruhi oleh informasi baru dari lingkungannya. Riggio (1990) juga mendefinisikan persepsi sebagai proses kognitif baik lewat penginderaan, pandangan, penciuman dan perasaan yang kemudian ditafsirkan.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

Mar at (1981)

67
67

Persepsi ialah interpretasi tentang apa yang diinderakan atau dirasakan individu (Bower). Persepsi merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan diterimanya rangsang, sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh individu sehingga individu dapat mengenali dirinya sendiri dan keadaan di sekitarnya,

(Bimo Walgito)

Persepsi merupakan proses pengorganisasian dan penginterpretasian terhadap stimulus oleh organisme atau individu sehingga didapat sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang terintegrasi dalam diri individu,

(Davidoff)

Diferensiasi Persepsi & Sensasi

Persepsi merupakan proses organisme menginterpretasikan dan

mengorganisir sensasi untuk menghasilkan suatu pengalaman yang penuh arti. Bila

sensasi pada umumnya bersifat segera, relatif tidak memproses rangsangan yang

berhubungan dengan indera mata, telinga, hidung, lidah, atau kulit, maka persepsi

lebih menguraikan pengalaman seseorang dan secara khas melibatkan pengolahan

lebih lanjut dari masukan yang berhubungan dengan perasaan.

Dalam prakteknya, sensasi dan persepsi tidak terpisahkan, sebab

mereka menjadi bagian dari satu proses yang berlanjut. Organ indera manusia

menerjemahkan energi fisik dari lingkungan ke dalam gerakan elektrik yang diproses

oleh otak. Sebagai contoh, cahaya elektromagnetik yang menyorot mata

menyebabkan sel sel yang peka rangsangan dalam mata mengaktifkan dan

mengirimkan isyarat ke otak. Tetapi manusia tidak pernah memahami isyarat ini.

Proses dari persepsi menjadikan manusia menginterpretasikan semua objek,

peristiwa, orang-orang, dan situasi. Tanpa kemampuan untuk mengorganisir dan

menginterpretasikan sensasi, hidup akan kacau dan tidak bermakna. Manusia tidak

pernah bertemu dengan apa yang disebut sebagai warna, bentuk, dan bunyi.

Seseorang tanpa memiliki kemampuan perseptual maka tidak akan bisa mengenali

wajah, memahami bahasa, atau menghindari ancaman.

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

68
68

Persepsi merupakan konsep yang sangat penting dalam psikologi, karena melalui persepsilah manusia dapat memandang dunianya. Apakah dunia terlihat berwarna cerah, pucat, atau hitam, semuanya adalah persepsi manusia yang

bersangkutan. Namun terkadang Istilah persepsi sering dikacaukan dengan

istilah sensasi. Sensasi hanya berupa kesan sesaat, saat stimulus baru diterima

otak dan belum diorganisasikan dengan stimulus lainnya dan ingatan-ingatan yang

berhubungan dengan stimulus tersebut. Sensasi merupakan fungsi fisiologis,

dan lebih banyak tergantung pada kematangan dan berfungsinya organ-organ sensoris. Jadi dapat dikatakan bahwa sensasi adalah proses manusia dalam dalam menerima informasi sensoris melalui penginderaan dan menerjemahkan informasi

tersebut

menjadi

sinyal-sinyal

neural

yang

bermakna.

Misalnya,

ketika

seseorang melihat sebuah benda berwarna biru, maka ada gelombang cahaya dari benda itu yang ditangkap oleh organ mata, lalu diproses dan ditransformasikan menjadi sinyal-sinyal di otak, yang kemudian diinterpretasikan sebagai warna biru .

Berbeda dengan sensasi, persepsi merupakan sebuah proses yang aktif dari manusia dalam memilah, mengelompokkan, serta memberikan makna pada informasi yang diterimanya. Benda berwarna biru akan memberikan sensasi warna

biru, tapi orang tertentu akan merasa bersemangat ketika melihat warna biru

tersebut itu.

Prinsip-Prinsip Persepsi

Sebagian besar dari prinsip-prinsip persepsi merupakan prinsip pengorganisasian berdasarkan teori Gestalt. Teori Gestalt percaya bahwa persepsi bukanlah hasil penjumlahan bagian-bagian yang diindera seseorang, tetapi lebih

dari itu merupakan keseluruhan (the whole). Teori Gestalt menjabarkan

Firman Taqur, S.Sos Modul Pengantar Ilmu Psikologi Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

69
69

beberapa prinsip yang dapat menjelaskan bagaimana seseorang menata sensasi menjadi suatu bentuk persepsi.

Prinsip persepsi yang utama adalah prinsip figure and