Anda di halaman 1dari 16

ASUHAN KEPERAWATAN

POLIO

Tugas Untuk Memenuhi Mata Kuliah
Tropical Disease



1. FAHMI ARIS 8. ROSMINY
2. FITRI AYU SANTRI 9. SAMSINAR
3. IRMAN 10. SARLINCE
4. IRNAYANTI 11. SITI AMINAH
5. JUNIATIN LESTARI 12. SRI WAHYUNINGSIH
6. JUSAK S. PURNAMA 13. SULSIANA KIDO
7. PETRUS R. RAMBA


E5 KEPERAWATAN


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MANDALA WALUYA
KENDARI
2014


KATA PENGANTAR
Puji syukur Tim Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga Tim Penulis dapat menyelesaikan makalah Asuhan
Keperawatan ini tepat pada waktunya. Makalah Asuhan keperaawatan ini merupakan salah
satu tugas mata kuliah Tropical Disease yang diberikan oleh Dosen pengajar Ibu Sri
Wulandari, S.Kep., Ns. Dalam makalah ini Tim Penulis membahas tentang Asuhan
Keperawatan Polio.
Dalam pembuatan makalah ini, Tim Penulis menyadari adanya berbagai kekurangan,
baik dalam isi materi maupun penyusunan kalimat.Namun demikian, perbaikan merupakan
hal yang berlanjut sehingga kritik dan saran untuk penyempurnaan makalah ini sangat Tim
Penulis harapkan.
Akhirnya Tim Penulis menyampaikan terima kasih kepada teman-teman yang telah
membantu dalam menyelesaikan makalah ini, sekalian yang telah membaca dan mempelajari
makalah ini.Tim Penulis tak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Pengajar
yang telah memberikan tugas ini sehingga menjadi khazanah ilmu pengetahuan bagi Tim
Penulis dan pembaca makalah Asuhan Keperawatan ini.


Kendari, Juli 2014

Tim Penulis










DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ................................................................................ i
KATA PENGANTAR .............................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1
A. Latar Belakang Masalah ....................................................... 1
B. Rumusan Masalah ................................................................. 1
C. Tujuan Penulisan .................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................... 3
A. Konsep Medik Polio ............................................................. 3
I. Definisi Polio .................................................................. 3
II. Klasifikasi Polio .............................................................. 3
III. Etiologi Polio .................................................................. 5
IV. Patofisiologi Polio ........................................................... 5
V. Manifestasi Klinis Polio .................................................. 6
VI. Penatalaksanaan Medis Polio .......................................... 8
B. Konsep Asuhan Keperawatan Polio ..................................... 9
I. Pengkajian ...................................................................... 9
II. Diagnosa Keperawatan ................................................... 11
III. Intervensi Keperawatan .................................................. 12
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 19
A. Kesimpulan .......................................................................... 19
B. Saran ........................................................................................... 19
DAFTAR RUJUKAN









BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Polio (kependekan dari poliomyelitis) adalah penyakit yang dapat merusak sistem
saraf dan menyebabkan paralysis. Polio adalah penyakit yang sangat menular yang
disebabkan oleh virus. Polio dapat menyebabkan kelumpuhan total dalam hitungan jam.
Virus ini memasuki tubuh melalui mulut dan berkembang biak dalam usus. Gejala awal
adalah demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan pada leher dan nyeri pada
anggota badan. Satu dari 200 infeksi menyebabkan kelumpuhan ireversibel (biasanya di
kaki). Di antara mereka yang lumpuh, 5% sampai 10% meninggal ketika otot pernapasan
mereka lumpuh.
Di Indonesia banyak dijumpai penyakit polio terlebih pada anak-anak hal ini
disebabkan oleh asupan gizi yang kurang. Disamping asupan gizi juga dapat dipengaruhi
oleh faktor keturunan dari orang tua, apalagi dengan kondisi di negeri ini yang masih
banyak dijumpai keluarga kurang mampu sehingga kebutuhan gizi anaknya kurang
mendapat perhatian.
Peran serta pemerintah disini sangat diharapkan untuk membantu dalam menangi
masalah gizi buruk yang masih banyak ditemui khususnya di daerah terpencil atau yang
jauh dari fasilitas pemerintah, sehingga sulit terjangkau oleh masyarakat pinggiran.Kalau
hal ini tidak mendapat perhatian, maka akan lebih banyak lagi anak-anak Indonesia yang
menderita penyakit polio.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam
makalah ini adalah :
1. Apa etiologi terjadinya Polio ?
2. Ada berapa jenis Polio ?
3. Bagaimana patofisiologi dari Polio ?
4. Apa saja manifestasi klinis bagi penderita Polio ?
5. Pemeriksaan apa saja yang dapat menunjang bagi penentuan diagnosa medis Polio ?
6. Bagaimana tindakan penatalaksanaan medis pada penderita Polio ?
7. Bagaimana proses Asuhan Keperawatan pada penderita Polio ?
C. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui etiologi terjadinya Polio


2. Untuk mengetahui jenis-jenis Polio
3. Untuk mengetahui patofisiologi dari Polio
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis bagi penderita Polio
5. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang bagi penentuan diagnosa medis Polio
6. Untuk mengetahui tindakan penatalaksanaan medis pada penderita Polio
7. Untuk mengetahui proses Asuhan Keperawatan pada penderita Polio






























BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Medik Polio
I. Definisi Polio
Polio, kependekan dari poliomyelitis, adalah penyakit yang dapat merusak
sistem saraf dan menyebabkan paralysis. Penyakit ini paling sering terjadi pada anak-
anak di bawah umur 2 tahun. Infeksi virus ini mulai timbul seperti demam yang
disertai panas, muntah dan sakit otot. Kadang-kadang hanya satu atau beberapa tanda
tersebut, namun sering kali sebagian tubuh menjadi lemah dan lumpuh
(paralisis).Kelumpuhan ini paling sering terjadi pada salah satu atau kedua kaki.
Lambat laun, anggota gerak yang lumpuh ini menjadi kecil dan tidak tumbuh secepat
anggota gerak yang lain.
Polio (Poliomielitis) adalah penyakit menular yang akut disebabkan oleh virus
polio dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu sumsum tulang belakang dan
inti motorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf tersebut akan
terjadi kelumpuhan serta atropi otot.
Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralysis atau lumpuh yang disebabkan
oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV),
masuk ketubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki
aliran darah dan mengalir kesistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan
kadang kelumpuhan (paralysis).
II. Klasifikasi Polio
1. Polio non-paralisis
Polio non-paralisis menyebabkan demam, muntah, sakit perut, lesu, dan sensitif.
Terjadi kram otot pada leher dan punggung. Otot terasa lembek jika disentuh.
2. Polio Paralisis Kurang dari 1% orang yang terinfeksi virus polio berkembang
menjadi polio paralisis atau menderita kelumpuhan. Polio paralisis dimulai dengan
demam. Lima sampai tujuh hari berikutnya akan muncul gejala dan tanda-tanda
lain, seperti : sakit kepala, kram otot leher dan punggung, sembelit/konstipasi,
sensitif terhadap rasa raba.
Polio paralisis dikelompokkan sesuai dengan lokasi terinfeksinya, yaitu:
1) Polio Spinal
Strain poliovirus ini menyerang saraf tulang belakang, menghancurkan sel
tanduk anterior yang mengontrol pergerakan pada batang tubuh dan otot


tungkai. Meskipun strain ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen,
kurang dari satu penderita dari 200 penderita akan mengalami kelumpuhan.
Kelumpuhan paling sering ditemukan terjadi pada kaki. Setelah poliovirus
menyerang usus, virus ini akan diserap oleh kapiler darah pada dinding usus
dan diangkut ke seluruh tubuh. Poliovirus menyerang saraf tulang belakang
dan motorneuron yang mengontrol gerak fisik.Pada periode inilah muncul
gejala seperti flu. Namun, pada penderita yang tidak memiliki kekebalan atau
belum divaksinasi, virus ini biasanya akan menyerang seluruh bagian batang
saraf tulang belakang dan batang otak. Infeksi ini akan mempengaruhi sistem
saraf pusat dan menyebar sepanjang serabut saraf. Seiring dengan
berkembangbiaknya virus dalam sistem saraf pusat, virus akan menghancurkan
motorneuron. Motorneuron tidak memiliki kemampuan regenerasi dan otot
yang berhubungan dengannya tidak akan bereaksi terhadap perintah dari
sistem saraf pusat. Kelumpuhan pada kaki menyebabkan tungkai menjadi
lemas.Kondisi ini disebut acute flaccid paralysis (AFP).Infeksi parah pada
sistem saraf pusat dapat menyebabkan kelumpuhan pada batang tubuh dan otot
pada dada dan perut, disebut quadriplegia. Anak-anak dibawah umur 5 tahun
biasanya akan menderita kelumpuhan 1 tungkai, sedangkan jika terkena orang
dewasa, lebih sering kelumpuhan terjadi pada kedua lengan dan tungkai.
2) Polio Bulbar
Polio jenis ini disebabkan oleh tidak adanya kekebalan alami sehingga batang
otak ikut terserang. Batang otak mengandung motorneuron yang mengatur
pernapasan dan saraf otak, yang mengirim sinyal ke berbagai otot yang
mengontrol pergerakan bola mata; saraf trigeminal dan saraf muka yang
berhubungan dengan pipi, kelenjar air mata, gusi, dan otot muka; saraf auditori
yang mengatur pendengaran; saraf glossofaringeal yang membantu proses
menelan dan berbagai fungsi di kerongkongan; pergerakan lidah dan rasa; dan
saraf yang mengirim sinyal ke jantung, usus, paru-paru, dan saraf tambahan
yang mengatur pergerakan leher. Tanpa alat bantu pernapasan, polio bulbar
dapat menyebabkan kematian. Lima hingga sepuluh persen penderita yang
menderita polio bulbar akan meninggal ketika otot pernapasan mereka tidak
dapat bekerja. Kematian biasanya terjadi setelah terjadi kerusakan pada saraf
otak yang bertugas mengirim perintah bernapas ke paru-paru.Penderita juga
dapat meninggal karena kerusakan pada fungsi penelanan; korban dapat


tenggelam dalam sekresinya sendiri kecuali dilakukan penyedotan atau diberi
perlakuan trakeostomi untuk menyedot cairan yang disekresikan sebelum
masuk ke dalam paru-paru. Namun trakesotomi juga sulit dilakukan apabila
penderita telah menggunakan paru-paru besi (iron lung). Alat ini membantu
paru-paru yang lemah dengan cara menambah dan mengurangi tekanan udara
di dalam tabung. Kalau tekanan udara ditambah, paru-paru akan mengempis,
kalau tekanan udara dikurangi, paru-paru akan mengembang. Dengan
demikian udara terpompa keluar masuk paru-paru.Infeksi yang jauh lebih
parah pada otak dapat menyebabkan koma dan kematian.Tingkat kematian
karena polio bulbar.
III. Etiologi polio
Agen pembawa penyakit polio adalah sebuah virus yang dinamakan poliovirus
(PV), masuk ke tubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus dan menyebar ke
sistem saraf yang dibawa melalui aliran darah.
IV. Patofisiologi polio
Virus hanya menyerang sel-sel dan daerah susunan syaraf tertentu. Tidak semua
neuron yang terkena mengalami kerusakan yang sama dan bila ringan sekali dapat
terjadi penyembuhan fungsi neuron dalam 3-4 minggu sesudah timbul gejala. Daerah
yang biasanya terkena polio ialah :
1. Medula spinalis terutama kornu anterior
2. Batang otak pada nucleus vestibularis dan inti-inti saraf cranial serta formasio
retikularis yang mengandung pusat vital
3. Sereblum terutama inti-inti virmis
4. Otak tengah midbrain terutama masa kelabu substansia nigra dan kadang-
kadang nucleus rubra
5. Talamus dan hipotalamus
6. Palidum, dan
7. Korteks serebri, hanya daerah motoric
Terjadinya wabah polio biasanya adalah akibat :
a. Sanitasi yang jelek
b. Padatnya jumlah penduduk
c. Tingginya pencemaran lingkungan oleh tinja
d. Pengadaan air bersih yang kurang



Penularan polio dapat melalui beberapa cara, yaitu :
a. Inhalasi
b. Makanan dan Minuman
c. Bermacam serangga seperti lipas dan lalat.
Penyebaran dipercepat bila ada wabah atau pada saat yang bersamaan dilakukan
pula tindakan bedah seperti tonsilektomi ,ekstraksi gigi dan penyuntikan. Walaupun
penyakit ini merupakan salah satu penyakit yang harus segera dilaporkan ,Namun data
epidemiologi yang sukar didapat.Dalam salah satu symposium imunisasi
dijakarta(1979) dilaporkan bahwa :
1. Jumlah anak berumur 0-4 tahun yang tripel negative makin bertambah (10%)
2. Insiden polio berkisar 3,5-8/100.000 penduduk.
3. Paralytic rate pada golongan 0-14tahun dan setiap tahun bertambah dengan 9.000
kasus.Namun,10 tahun terakhir terjadi penurunan drastic penyakit ini akibat
gencarnya program imunisasi diseluruh dunia maupun Indonesia.
Mortalitas tinggi terutama pada poliomyelitis tipe paralitik ,disebabkan oleh
komplikasi berupa kegagalan nafas ,sedangkan untuk tipe ringan tidak dilaporkan
adanya kematian.Walaupun kebanyakan poliomyelitis tidak jelas /inapparent (90-
95%);hanya 5-10% yang memberikan gejala poliomyelitis.
V. Manifestasi Klinis Polio
Polio terbagi menjadi empat bagian yaitu :
1. Poliomielitis asimtomatis : Setelah masa inkubasi 7-10 hari, tidak terdapat gejala
karena daya tahan tubuh cukup baik, maka tidak terdapat gejala klinik sama
sekali.
2. Poliomielitis abortif : Timbul mendadak langsung beberapa jam sampai beberapa
hari. Gejala berupa infeksi virus seperti malaise, anoreksia, nausea, muntah, nyeri
kepala, nyeri tenggorokan, konstipasi dan nyeri abdomen.
3. Poliomielitis non paralitik : Gejala klinik hamper sama dengan poliomyelitis
abortif , hanya nyeri kepala, nausea dan muntah lebih hebat. Gejala ini timbul 1-2
hari kadang-kadang diikuti penyembuhan sementara untuk kemudian remisi
demam atau masuk kedalam fase ke2 dengan nyeri otot. Khas untuk penyakit ini
dengan hipertonia, mungkin disebabkan oleh lesi pada batang otak, ganglion
spinal dan kolumna posterior.
4. Poliomielitis paralitik : Gejala sama pada poliomyelitis non paralitik disertai
kelemahan satu atau lebih kumpulan otot skelet atau cranial. Timbul paralysis


akut pada bayi ditemukan paralysis fesika urinaria dan antonia usus. Adapun
bentuk-bentuk gejalanya antara lain :
Bentuk spinal. Gejala kelemahan / paralysis atau paresis otot leher, abdomen,
tubuh, diafragma, thorak dan terbanyak ekstremitas.
Bentuk bulbar. Gangguan motorik satu atau lebih syaraf otak dengan atau
tanpa gangguan pusat vital yakni pernapasan dan sirkulasi.
Bentuk bulbospinal. Didapatkan gejala campuran antara bentuk spinal dan
bentuk bulbar.
Kadang ensepalitik. Dapat disertai gejala delirium, kesadaran menurun,
tremor dan kadang kejang. Berikut fase-fase infeksi virus tersebut:
stadium akut
- Yaitu fase sejak adanya gejala klinis hingga 2 minggu. Ditandai
dengan suhu tubuh yang meningkat. Kadang disertai sakit kepala
dan muntah-muntah. Kelumpuhan terjadi akibat kerusakan sel-sel
motor neuron di bagian tulang belakang (medula spinalis) lantaran
invasi virus. Kelumpuhan ini bersifat asimetris sehingga cenderung
menimbulkan gangguan bentuk tubuh (deformitas) yang menetap
atau bahkan menjadi lebih berat. Kelumpuhan yang terjadi sebagian
besar pada tungkai kaki (78,6%), sedangkan 41,4% pada lengan.
Kelumpuhan ini berlangsung bertahap sampai sekitar 2 bulan sejak
awal sakit.
stadium subakut
- Yaitu fase 2 minggu sampai 2 bulan. Ditandai dengan
menghilangnya demam dalam waktu 24 jam. Kadang disertai
kekakuan otot dan nyeri otot ringan. Terjadi kelumpuhan anggota
gerak yang layuh dan biasanya salah satu sisi saja.
stadium convalescent
- Yaitu fase pada 2 bulan sampai dengan 2 tahun. Ditandai dengan
pulihnya kekuatan otot yang sebelumnya lemah. Sekitar 50-70
persen fungsi otot pulih dalam waktu 6-9 bulan setelah fase akut.
Selanjutnya setelah 2 tahun diperkirakan tidak terjadi lagi pemulihan
kekuatan otot.



stadium kronik
- Yaitu lebih dari 2 tahun. Kelumpuhan otot yang terjadi sudah
bersifat permanen.
VI. Penatalaksanaan Medis Polio
Begitu penyakit mulai timbul, kelumpuhan sering kali tidak tertangani lagi
karena ketidakadaan obat yang dapat menyembuhkannya. Antibiotika yang biasanya
digunakan untuk membunuh virus juga tidak mampu berbuat banyak. Rasa sakit dapat
diatasi dengan memberikan aspirin atau acetaminophen, dan mengompres dengan air
hangat pada otot-otot yang sakit
1. Poliomielitis abortif
Diberikan analgetk dan sedative
Diet adekuat
Istirahat sampai suhu normal untuk beberapa hari,sebaiknya dicegah aktifitas
yang berlebihan selama 2 bulan kemudian diperiksa neurskeletal secara teliti.
2. Poliomielitis non paralitik
Sama seperti abortif
Selain diberi analgetika dan sedative dapat dikombinasikan dengan kompres
hangat selama 15 30 menit,setiap 2 4 jam.
3. Poliomielitis paralitik
Perawatan dirumah sakit
Istirahat total
Selama fase akut kebersihan mulut dijaga
Fisioterafi
Akupuntur
Interferon
Poliomielitis asimtomatis tidak perlu perawatan. Poliomielitis abortif diatasi
dengan istirahat 7 hari jika tidak terdapat gejala kelainan aktifitas dapat dimulai lagi.
Poliomielitis paralitik/non paralitik diatasi dengan istirahat mutlak paling sedikit 2
minggu perlu pemgawasan yang teliti karena setiap saat dapat terjadi paralysis
pernapasan. Fase akut : Analgetik untuk rasa nyeri otot. Lokal diberi pembalut hangat
sebaiknya dipasang footboard (papan penahan pada telapak kaki) agar kaki terletak
pada sudut yang sesuai terhadap tungkai..Pada poliomielitis tipe bulbar kadang-
kadang reflek menelan tergaggu sehingga dapat timbul bahaya pneumonia aspirasi


dalam hal ini kepala anak harus ditekan lebih rendah dan dimiringkan kesalah satu
sisi.
Sesudah fase akut : Kontraktur. Atropi, dan attoni otot dikurangi dengan
fisioterafy. Tindakan ini dilakukan setelah 2 hari demam hilang.
B. Konsep Keperawatan Polio
I. Pengkajian
Identitas Pasien
Nama Pasien :
No. RM :
Tempat Tanggal Lahir :
Umur :
Agama :
Status Perkawinan :
Pendidikan :
Alamat :
Pekerjaan :
Jenis Kelamin :
Suku :
Diagnosa Medis :
Tanggal Masuk RS :
Tanggal Pengkajian :
Penanggung Jawab
Nama :
Tempat Tanggal Lahir :
Umur :
Agama :
Alamat :
Pekerjaan :
Jenis Kelamin :
Hubungan dengan Pasien :
No. Telepon :
Riwayat kesehatan
Riwayat pengobatan penyakit-penyakit dan riwayat imunitas
Pemeriksaan fisik


- Nyeri kepala
- Paralisis
- Refleks tendon berkurang
- Kaku kuduk
- Brudzinky
MENDETEKSI LUMPUH LAYUH
Bayi
- Perhatikan posisi tidur. Bayi normal menunjukkan posisi tungkai menekuk
pada lutut dan pinggul. Bayi yang lumpuh akan menunjukkan tungkai lemas
dan lutut menyentuh tempat tidur.
- Lakukan rangsangan dengan menggelitik atau menekan dengan ujung pensil
pada telapak kaki bayi. Bila kaki ditarik berarti tidak terjadi kelumpuhan.
- Pegang bayi pada ketiak dan ayunkan. Bayi normal akan menunjukkan
gerakan kaki menekuk, pada bayi lumpuh tungkai tergantung lemas.
Anak besar
- Mintalah anak berjalan dan perhatikan apakah pincang atau tidak.
- Mintalah anak berjalan pada ujung jari atau tumit. Anak yang mengalami
kelumpuhan tidak bisa melakukannya.
- Mintalah anak meloncat pada satu kaki. Anak yang lumpuh tak bisa
melakukannya.
- Mintalah anak berjongkok atau duduk di lantai kemudian bangun kembali.
- Anak yang mengalami kelumpuhan akan mencoba berdiri dengan
berpegangan merambat pada tungkainya.
- Tungkai yang mengalami lumpuh pasti lebih kecil.
Pemeriksaan Fisik (B6)
- B1 (breath) : RR normal, Tidak ada penggunaan otot bantupernafasan Suhu
(38,9 C)
- B2 (blood) : normal
- B3(brain) : gelisah (rewel) dan pusing
- B4 (bladder) : normal
- B5 (bowel) : mual muntah, anoreksia, konstipasi
- B6 (bone) : letargi atau kelemahan, tungkai kanan/kiri lumpuh, pasien
tidak mampu berdiri dan berjalan



Pemeriksaan Laboratorium
a. Viral Isolation
Polio virus dapat di deteksi secara biakan jaringan, dari bahan yang di
peroleh pada tenggorokan satu minggu sebelum dan sesudah paralisis dan
tinja pada minggu ke 2-6 bahkan 12 minggu setelah gejala klinis.
b. Uji Serologi
Uji serologi dilakukan dengan mengambil sampel darah dari penderita, jika
pada darah ditemukan zat antibodi polio maka diagnosis orang tersebut
terkena polio benar. Pemeriksaan pada fase akut dapat dilakukan dengan
melakukan pemeriksaan antibodi immunoglobulin M (IgM) apabila terkena
polio akan didapatkan hasil yang positif.
c. Cerebrospinal Fluid (CSF)
Cerebrospinal Fluid pada infeksi poliovirus terdapat peningkatan jumlah sel
darah putih yaitu 10-200 sel/mm
3
terutama sel limfosit, dan terjadi kenaikan
kadar protein sebanyak 40-50 mg/100 ml (Paul, 2004).
Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan ini hanya menunjang diagnosis poliomielitis lanjut. Pada anak yang
sedang tumbuh, di dapati tulang yang pendek, osteoporosis dengan korteks yang
tipis dan rongga medulla yang relative lebar, selain itu terdapat penipisan epifise,
subluksasio dan dislokasi dari sendi.
II. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa keperawatan yang muncul pada Asuhan Keperawatan Polio
adalah sebagai berikut :
1. Ketidakefektifan pola napas
2. Hambatan mobilitas fisik
3. Nyeri Akut
4. Risiko infeksi
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
6. Gangguan citra tubuh
7. Ansietas






BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dalam makalah asuhan keperawatan Polio ini, Tim
Penulis dapat menarik beberapa kesimpulan bahwa :
- Polio (Poliomielitis) adalah penyakit menular yang akut disebabkan oleh virus polio
dengan predileksi pada sel anterior massa kelabu sumsum tulang belakang dan inti
motorik batang otak, dan akibat kerusakan bagian susunan syaraf tersebut akan terjadi
kelumpuhan serta atropi otot.
- Polio terbagi menjadi 2, yaitu polio paralisis dan polio non-paralisis. Polio paralisis
terbagi lagi menjadi 2, yaitu polio paralisis spinal dan polio paralisis bulbar
- Agen pembawa penyakit polio adalah sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV),
masuk ke tubuh melalui mulut, menginfeksi saluran usus dan menyebar ke sistem
saraf yang dibawa melalui aliran darah.
- Penularan polio dapat melalui beberapa cara, yaitu inhalasi, makanan dan minuman,
dan bermacam serangga seperti lipas dan lalat
- Manifestasi klinis dari polio dapat ditinjau berdasarkan klasifikasi pada masing-
masing polio
B. Saran
Melalui kesimpulan diatas, adapun saran yang diajukkan oleh Tim Penulis adalah :
1. Perawat atau calon perawat harus mengetahui secara detil pengkajian asuhan
keperawatan pada pasien Penderita Polio mengingat pemberian tindakan keperawatan
pada pasien harus dilakukan dengan tepat
2. Perawat harus melakukan tindakan asuhan keperawatan dengan baik pada pasien
penderita Polio sehingga kesembuhan pasien dapat tercapai dengan baik
3. Perawat maupun calon perawat harus memahami konsep dasar dari Penyakit Polio
dan ruang lingkupnya sehingga dalam proses memberikan asuhan keperawatan pada
pada Penderita Polio dapat terlaksana dengan baik.






DAFTAR RUJUKAN
Budiansyah, Teungku. 2013. Ask The Master UKDI. Tangerang : BINARUPA AKSARA
Publisher
Ganong, W.F. 2008.Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 22.Jakarta : EGC
Sudoyo W., dkk. 2010. Buku Ajar Ilmu penyakit dalam. Jakarta : internapublishing
PAPDI. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : FKUI
Www. Google.Com/Asuhan Keperawatan Polio.2014
Www. Infokes.Com/Program Studi Keperawatan. 2014