Anda di halaman 1dari 15

Sejarah Sang Revolusioner Misterius, Tan Malaka

Oleh : Exsan Ali Setyonugroho 1

“Idealisme

adalah

kemewahan

terakhir

yang

dimiliki oleh

pemuda”

(Tan Malaka)

Revolusioner muncul akibat dari rasa nasionalisme yang tinggi dalam diri seorang. Rasa nasionalisme untuk berbangsa dan bernegara itu muncul disebabkan berbada-beda latar belakang. Misalnya rasa nasionalisme pada masa pergerakan Indonesia muncul, ini dikarenakan adanya penjajahan yang berlarut-larut dari kolonialisme Belanda. Begitupun ada juga rasa nasionalisme sebelum adanya penjajah yakni pada masa kerajaan-kerajaan semisal Majapahit dan Sriwijaya, mereka telah memilki rasa nasionalisme berupa kesadaran bernegara.

Para pemegang kekuasaan dan rakyat di negara-negara merdeka sudah ada pada waktu itu. Kedalam, pemegang kekuasaan negara berusaha memberikan kesejahteraan kepada rakyat dan menciptakan keamanan dalam masyarakat. Keluar, mereka menanggulangi tiap bahaya yang mengancam kedaulatan rakyatnya 2 .

Kemudian kembali pada rasa nasionalisme saat masa pergerakan Indonesia awal abad ke-20. Indonesia pada saat itu telah bertransformasi kedalam bentuk yang lebih modern untuk bidang pendidikan khususnya. Ini dikarenakan pada saat itu diberlakukan Politik Etis atau politik balas budi oleh pemerintahan Hindia Belanda dengan tokohnya C.Th. Van Deventer. Sebelumnya beliau merasa galau atas keadaan yang dialami oleh rakyat Hindia Belanda(Indonesia) sejak masa tanam paksa (culturstelsel) di tahun 1830 dan pelaksanaan politik liberal tahun 1870. Pada saat itu kekayaan alam Hindia Belanda dikeruk mulai dari batu bara, perak, timah, minyak bumi dan lain-lain dan Van Deventer kemudian menerbitkan karya “Een Eereschuld” atau “Utang Kehormatan” dalam majalah De Gids Nomor 63 Tahun 1899 di Negeri Belanda. Ia merasa pihak Belanda mempunyai hutang negara yang harus dibayar atas apa yang diperbuat, yang membuat rakyat Hindia Belanda sengsara dan membuat para kompeni semakin kaya raya. Maka dari itu usul tersebut direstui oleh ratu Belanda sehingga dari tahun 1901 politik etis mulai diberlakukan.

Politik etis itu sendiri terdiri dari tiga bidang utama yang harus diperbaiki, yakni edukasi, irigasi dan transmigrasi. Yang perlu kita soroti adalah edukasi, dikarenakan ini salah satu faktor yang membuat gerakan nasionalisme Indonesia muncul. Meskipun bidang ini masih adanya sikap diskriminatif bagi orang pribumi yang akan masuk sekolah, tapi Bidang pendidikan berperan penting dalam kebangkitan nasional, para pelajar-pelajar Indonesia yang berada di negeri asing mendapatkan pelajaran-pelajaran tentang arti pentingnya membela negara, sehingga faham-faham nasionalisme modern mulai dibawa masuk ke Indonesia dan dijadikan sebagai landasan gerakan untuk menuntut kemerdekaan. Oleh sebab itu munculah beberapa tokoh pergerakan indonesia mulai dari dr. Wahidin Sudirohusodo, H.O.S. Cokroaminoto, Tirtoadhisoerjo hingga Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka dan lain-lain.

Mereka bersama sama mulai sadar akan kemerdekaan, sehingga di antara mereka menghimpun kekuatan dengan mendirikan organisasi-organisasi yang

1 Mahasiswa, di jurusan sejarah, FIS, Unnes

2 Mulyana, Slamet, Kesadaran Nasional dari Kolonialisme Sampai Kemerdekaan Jilid I

walaupun mereka memilki perbedaan dalam hal cara, tetapi tujuan mereka tetaplah satu, yakni menuju Indonesia yang merdeka dan akan melewati “jembatan emas” seperti apa yang dikatan Prof. Slamet Muljana.

Salah satu tokoh yang bisa dikatakan pertama mencetuskan gagasannya untuk terbentuknya Republik Indoensia adalah Tan Malaka dengan karya berjudul Naar de Republiek Indonesia di tahun 1924, maka dari itu Tan Malaka sering juga disebut sebagai Bapak Republik Indonesia. Karya ini dahulu pernah membuat pihak Belanda merasa tertekan dengan tulisan ini ,Belanda takut akan adanya gerakan-gerakan yang semakin revolusioner.

Sungguh tak ada tokoh yang memiliki jiwa nasionalisme yang menelurkan karya-karya monumentalnya serta menjadi pemikir sekaligus eksekutor bagi gagasan- gagasannya yang se-misterius seperti Tan Malaka. Ia adalah pejuang sekaliber Ho Chi Mihn (Vietnam) dan Jose Rizal (Filipina) tetapi namanya tak pernah disebut-sebut dalam lembar demi lembar buku pelajaran sekolah selama ini 3 . Misterius, ya itulah sebutan bagi penulis untuk mengisahkan sepak terjang perjuangan pria kelahiran tahun 1897 di Desa Pandan Gadang, Suliki, Minangkabau, Sumatera Barat ini 4 . Selain itu Kemisteriusannya dikarenakan Tan Malaka saat ini tak ubahnya hanya seorang manusia yang telah lalu entah dimana kuburnya , dicampakan, dilupakan, bahkan di cap sedemikian rupa pada saaat orde paling lama bahkan sampai panji-panji reformasi di kibarkan sekarang. Baru setelah 60 tahun kematiannya pada tahun 2009, Sejarawan Belanda yang selama hampir separuh hidupnya meneliti tentang Tan Malaka, Harry Poeze berhasil menemukan makamnya setelah ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur. Keadaan demikian Sangat tak sebanding dengan apa yang di perjuangkan olehnya dari Bukittinggi, Semarang, Batavia, Yogya, Bandung, Surabaya Sampai Amsterdam, Moskow, Sanghai, Kanton, Bangkok, Saigon dan tempat antah berantah lainnya. Dengan tujuan hanya satu, yakni untuk kemerdekaaan Indonesia seratus persen.

Awal Hidup Tan Malaka

Awal hidup dari Tan Malaka adalah di Minangkabau dengan menjadi murid yang sangat unggul dari kebanyakan murid sekolah lainnya. Ia sampai-sampai mendapatkan perhatian khusus dari gurunya di Bukittinggi yakni G.H. Horensma untuk melanjutkan sekolah keguruan di Belanda. Sehingga setelah ia kembali dari Belanda ia bisa mengajar. Akhirnya Tan Malaka bisa melanjutkan sekolah di Herlem Belanda mulai pada akhir tahun 1913 sampai 1915 setelah itu pindah ke kota Bussum untuk melanjutkan studi sebagai guru kepala. Disana ia sempat gagal dalam ujian perolehan gelar guru kepala, serta pada saat itu di Eropa terjadi Perang Dunia I sehingga ia tak mungkin untuk pulang dan bertahan hidup disana sampai tahun 1920. Menurut sejarawan A. Herry Poze, Tan Malaka selama masih hidup di tanah kelahirannya telah peka terhadap kehidupan tata masyarakat yang sengsara, sehingga itu mengubah pola pikirnya menjadi radikal menentang kolonialisme yang telah menemaninya sampai akhir hayatnya. Sehingga pada saat masih di Belanda, Tan Malaka banyak masuk organisasi kemahasiswaan dan sangat bersimpatik pada haluan sosialisme dan komunisme yang pada saat itu menurut Tan berpihak pada rakyat.

Pada tahun 1920 Tan Malaka berhasil pulang dan menjadi guru untuk Maskapai Sanembah, ia mendirikan sekolah untuk anak kuli-kuli kontrak disana.

3 Adam, Asvi Warman, Membedah Tokoh Sejarah: Hidup atau Mati, Yogyakarta : Ombak, 2009

4 Poze, A. Herry, Tan Malaka; Pergulatan Menuju Republik I, (Jakarta: Penerbit Grafiti Pers)

Kehidupan disana yang kapitalis yang selalu menguntungkan pemodal dan membuat sengsara para buruh atau kuli membuat Tan Malaka menelurkan karya pertamanya yang tercatat yakni Parlemen atau Soviet 5 . ini dikarenakan seiring dengan pekerjaannya sebagi guru yang dianggap sebagai orang yang ia anggap berjasa dalam bidang pembangunan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi merasa dipandang sebelah mata oleh pihak kolonial. Walaupun ia digaji sesuai dengan norma- norma Eropa yang cukup tinggi, tapi lama kelamaan ia menolak dan memutuskan keluar dari kenyamanannya sebagai guru yang digaji cukup besar oleh pihak Belanda, ini dikarenakan ia sadar telah makan uang yang berasal dari pajak yang dibayar oleh para kuli kontrak yang miskin itu untuk membayar anak-anaknya sekolah. Tan Malaka merasa galau dan tidak ingin membohongi dirinya sendiri, ia serta merta tak ingin menjadi orang munafik yang tindakan, kata dan fikirannya tak selaras. Maka Jiwa sosialis-komunisnaya semakin tajam, ia memutuskan untuk pergi ke Jawa dan tempat pertama yang ia tuju adalah Semarang.

Merantau di Jawa

Pada bulan Februari 1921 Tan Malaka berangkat, Ia memilih Semarang karena disana telah bercokol manusia-manuisa yang bisa dikatakan sepaham dengan dia seperti Semaoen dan Darsono, yakni perkumpulan Sarekat Islam 6 yang terinfiltrasi dengan ajaran komunis dari Sneevliet 7 menjadi Sarekat Islam Merah. Disana ia mengajar, mendirikan sekolah rakyat. Ini bisa dikatakan lebih dahulu ketimbang taman siswa yang di dirikan oleh Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara dirikan pada tanggal 3 juli 1922.

Di Semarang ia mengajar berbagai pelajaran, dan ia tetap memperjuangkan nasib rakyat. Sehingga konsep dari sekolah yang di ajar olehnya yakni bersifat kerakyatan. Karena menurut Tan Malaka, “Kekuasaan kaum modal berdiri atas didikan yang berdasar kemodalan dan Kekuasaan Rakyat hanyalah bisa diperoleh dengan didikan kerakyatan”,yang kemudian ia lampiaskan dengan pendidikan 8 . Ini berarti kekuatan rakyat dapat terbentuk untuk mewujudkan kemerdekaan adalah atas dasar didikan kerakyatan, dan berlainan hal jika kekuatan kemodalan atau kapitalisme terbentuk ya berkat dukungan dari pendidikan yang bedasarkan kemodalan.

Akan tetapi sebelumnya ada peristiwa yang merupakan awal cikal bakal Tan Malaka masuk kedalam komunis secara formal, yang nantinya menjadi PKI (Partai komunis indonesia) yakni buah dari SI merah, tetapi SI merah juga belum bubar setelah keterbentukan partai komunis tersebut. Jadi ada keanggotaan ganda disana

5 Poze, A. Herry, Tan Malaka; Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia jilid I 6 Sarekat Islam yang dahulu bernama Sarekat Dagang Islam yang didirikan oleh Haji Samanhudi di Surakarta pada 16 oktober 1905. Yang pada awalnya (SDI) adalah perkumpulan para pedagang- pedagang islam yang menentang para pedagang asing, tetapi kemudian organisasi ini berubah haluan menjadi organisasi politik ketika dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto dan berubah nama menjadi Sarekat Islam.

7 Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet atau lebih dikenal sebagai Henk Sneevliet (lahir 13 Mei 1883 meninggal 13 April 1942 pada umur 58 tahun) adalah seorang Komunis Belanda, yang aktif di Belanda dan di Hindia Belanda. Ia ikut serta dalam perlawanan komunis terhadap pendudukan Jerman atas Belanda pada masa Perang Dunia II dan dihukum mati oleh Jerman pada 1942. Sneevliet tinggal di Hindia Belanda sejak 1913 hingga 1918 dan ia segera aktif dalam perjuangan melawan kekuasaan Belanda. Pada 1914, ia ikut mendirikan Perhimpunan Demokratis Sosial Hindia (ISDV) yang anggotanya mencakup orang-orang Belanda dan Indonesia.

8 Malaka, Tan, SI Semarang dan Onderwijd, 1921

memiliki

keanggotaan ganda.

Pada saat itu tahun 1921 di Yogyakarta terjadi kongres SI ke-5, kebetulan Tan Malaka juga menghadiri kongres tersebut karena ia akan mengajukan proposal untuk mendirikan sekolah dasar dan berkenalan dengan H.O.S Tjokroaminoto, Agus Salim, Abdul Muis. Kemudian sidangpun dimulai, Permasalahan yang selama ini di pendam oleh berbagai kalangan SI ternyata di urai dan dimunculkan kepermukaan, yakni tentang keanggotaan yang ganda. Tokoh yang menentang keanggotaan ganda adalah Agus Salim dan Abdul Muis, tetapi dalam hal ini Tan Malaka mulai berbicara tentang pendapatnya. Ia mengatakan “Bahwa selama itu masih mempunyai visi yang sama dan tujuan yang sama itu tidaklah masalah. Lebih jauh lagi Tan Malaka ingin menggaris bawahi bahwa sesungguhnya bila hal itu terjadi dengan niat yang tulus untuk berserikat dan berkumpul dengan tujuan kemerdekaan bangsa itu tidaklah masalah. Bagi penulis, bahwa pada saat itu orang mau berkumpul untuk memikirkan nasib bangsanya saja sudah bagus, apalagi dengan menambah masuk ke ladang perjuangan yang lain. Karena diwaktu itu masih banyak orang yang merasa apatis dan takut akan pemerintah Hindia Belanda. Bahkan dalam hal ini Tan Malaka sudah menerapkan UUD 1945 (sebelum itu dirumuskan dan bahkan The Founding Father kita belum jadi apa-apa pada saat itu) yakni pada pasal 28 yang berbunyi “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”. Akan tetapi semua itu tidak adanya kesepakatan, maka mulai adanya perpecahan secara formal dalam tubuh SI yakni SI yang bermarkas di Yogyakarta di pimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto yang terkenal dengan SI putih, sedangkan SI yang bermarkas di Semarang dipimpin oleh Semaoen yang terkenal dengan SI merah. Kemudian Tan Malaka di minta oleh Semaoen untuk masuk di PKI 9 .

terutama

pada

kepemimpinannya

yakni

Semaoen

dan

Darsono

yang

Dalam hal ini pihak dari SI putih sendiri juga memiliki argumen yang cukup untuk alasan penolakan tersebut. Jadi hemat kata, dalam melakukan perjuangan acapkali kita akan dihadapkan dengan masalah klasik yakni perbedaan pendapat. Akan tetapi itu adalah modal untuk kita bisa lebih di dewasakan akan hal itu. Seperti ungkapan Pramoedya Anata Toer “Ini dunia bukan surga, kalau di surga kita tinggal minta apapun pasti terwujud. tapi ini dunia bukan surga”. jadi permasalahan dari tubuh (internal) harus dihadapi sebagai suatu bentuk pemebalajaran selanjutnya. Tapi subtansi organisasi pasti akan sama, tujuannya akan sama. Walaupun sering kali menuai perbedaan dalam hal cara.

Itulah awal sepak terjang dari Tan Malaka masuk kedalam organisasi komunis untuk pertama kalinya. Kemudian ia mulai menerjunkan diri untuk mengajar berbagai anak kaum ploretar di Semarang, ia berhasil mendirikan sekolah-sekolah semacam itu dan disana ia mengajar juga tentang dasar komunisme. Dengan sebagai pegangannya ia membuat karya berjudul SI semarang dan onderwijs 10 (pendidikan). Selain Semarang iapun juga pernah mendirikan sekolah di Bandung dan berbagai tempat lainnya sebagai cabang sekolah rakyat yang ada di Semarang.

9 Soezmann, khadija, Makalah; Ilslam (oleh Tan Malaka)Penerbit Widjaja, Jakarta: 1951 10 Merupakan karya Tan Malaka saat ia mendirikan sekolah rakyat di semarang. Yang isi ringkas isinya yakni : 1. Memberi senjata cukup, buat pencari penghidupan dalam dunia kemodalan (berhitung, menulis, ilmu bumi, bahasa Belanda, Jawa, Melayu, dsb). 2. Memberi Haknya murid-murid, yakni kesukaan hidup, dengan jalan pergaulan (verenniging). 3. Menunjukan kewajiban kelak, terhadap pada berjuta-juta Kaum Kromo.

Dalam hal ini mengapa agama (Sarekat Islam) bisa bersatu dengan komunis(SI Merah maupun PKI Selanjutnya)? Yang bernaung menjadikan Sarekat Islam Merah Semarang. Hal ini perlu adanya pemikiran tindak lanjut. Menurut M. Dawam Rahardjo, Rektor Universitas Proklamasi 45 Yogyakarta, bahwa Islam dan Marxisme merupakan dua hal berbeda, bahkan bertentangan. Islam adalah agama yang ajaranya dapat diterima dan ditolak berdasarkan iman atau kepercayaan, sedangkan Marxisme sebagai suatu teori ilmiah yang diterima atau ditolak berdasarkan penalaran rasional dan obyektif. Kebenaran agama bersifat absolut, sedangkan kebenaran teori ilmiah bersifat relatif yang bersifat hipotesis.

Banyak daerah yang islamnya cukup fanatik tetapi di daerah tersebut juga termasuk basis dari komunisme pada saat itu, seperti di Banten dan Silungkang Sumatera Barat. Hal ini terjadi manakala pimpinan SI H.O.S Tjokroaminoto yang bersifat lunak atau kooperatif terhadap penjajahan Belanda. Maka dari itu banyak Kyai dan mubalig islam yang berpegang teguh pada Al-Quran senantiasa terpanggil hatinya manakala ada kaumnya yang senantiasa tertindas oleh kesewenang-wenangan kaum penjajah. Itulah titik temu dari islam dan komunis itu sendiri.

Belajar dari Kiai Hasyim Asy’ari

Selain itu, sebelum Tan Malaka mendirikan sekolah. Ia tertarik dengan sebuah tempat belajar yang ada di Jombang. Ia tertarik kepada sosok ulama dengan kharisma yang luar biasa, mengajar dengan penuh dedikasi dan perjuangan. Ialah Kiai Hasyim Asy’ari 11 pendiri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Tan malaka tertarik dengan beliau kemudian ia bersama Semaoen datang untuk sowan, di tahun 1921. Kedatangan tersebut tentunya disambut baik oleh Kiai Hasyim. Tan malaka bersimpuh dan memohon agar Kiai dawuh kepada dirinya. Kunjungannya bertujuan untuk mendengar langkah dari Kiai Hasyim mengenai hubungan islam dan sosialisme 12 . Kemudian Kiai Hasyim berpendapat bahwa sosialisme itu sejalan dengan ajaran islam yang rahmatan lil alamin. Dalam ajaran islam memang ada kewajiban membayar zakat, melindungi buruh, dan fakir miskin.

Selain itu tentunya Tan Malaka banyak meniru strategi yang dipakai Kiai Hasyim Asy’ari dalam mendidik santri-santrinya. Yang di kemudian hari terbentuklah sekolah rakyat dengan berbagai swasembada dari para muridnya (yang meskipun banyak juga ia belajar dari sekolah komunis di Belanda dan Rusia, menurut Harry A Poeze). Hal itu juga hasil inspirasi dari Kyai Hasyim yang menanamkan benih-benih kemandirian kepada para santri yang notabene adalah dari kalangan kurang mampu, Kiai mengajari santri untuk menanam sayur mayur dan beternak ikan. Hal itulah yang kemudian menambah semangat Tan Malaka dalam usahanya membangun sekolah rakyat dengan bantuan para siswa atau yang kemudian dijadikan kader.

Sebelumnya Kiai Hasyim Asy’ari juga sempat berjuang dalam pergerakan, yang di kemudian juga digunakan Tan Malaka dalam gerakannya, yakni saat di daerah Jombang banyak rakyat pribumi yang dipaksa menyewakan tanahnya kepada pihak Belanda untuk dijadikan sebagai ladang tebu dan rakyatpun juga sebagai pekerjannya, jadi otomatis dapat disebut buruh tani yang bekerja di tanahnya sendiri yang hasil pertaniannya diserahkan kepada pihak Belanda. Sang Kiai menyerukan kepada penduduk sekitar untuk mogok bekerja. Dan akhirnya-pun berhasil dengan

11 Pendiri organisasi islam Nahdlatul Ulama, sekaligus kakek dari K.H. Abdurahman Wahid (Gus Dur)

12 Irawan, Uguk, MN, 2012, Penakluk Badai; biografi K.H. Hasyim Asy’ari, Depok: Global Media Utama

kembalinya tanah milik rakyat pribumi. Maka dari itu yang kemudian merupakan salah satu untuk mengilhami Tan Malaka memimpin pemogokan buruh di pegadaian Semarang. Yang kemudian hari membuat ia di asingkan.

Dari kaca mata itulah salah satu yang membuat Tan Malaka merupakan seorang guru bangsa sejati, ia tak segan-segan belajar kepada orang yang lebih tua dan lebih memiliki pengalaman perjuangan darinya. Itulah yang selayaknya para pemuda sekarang bisa meniru, menghormati orang tua. Pejuang sejati tak bisa terus-terusan malu-malu dalam menimba ilmu kepada siapapun yang ia temui, karena memang umur yang matang juga tak bisa menjamin orang tersebut lebih arif sekaligus dewasa dan pintar dari yang lebih muda. Tan malaka juga banyak belajar dari orang yang lebih muda seperti Sukarno, Syahrir dan Hatta, bahkan anak dari Kiai Hasyim Asy’ari yakni Kiai Wahid Hasyim saat penjajahan jepang berlangsung dikemudian hari.

Kembali ke PKI dan SI, Kepergian Semaoen ke Uni Soviet membuat SI dan PKI krisis akan kepemimpinan, maka dari itu hanya Tan Malaka yang dianggap cocok sebagai penerus dari perjuangan. Ia tetap mempertahankan hubungan antara partai islam yang besar, Sarekat Islam, dengan PKI yang jauh lebih kecil itu. Kerja sama yang demikian itu pastilah memperbesar kemungkinan keberhasilan perlawanan terhadap penguasa kolonial, dan juga melindungi kedudukan PKI sebagi partai kecil. Pada sejumlah cabang SI, PKI mempunyai pengaruh penting dan terkadang sangat penting. Sayap kanan SI berusaha mengeluarkan kaum komunis dari partai mereka, kendati Tan Malaka melawannya.

Kemudian ia dan partainya terlibat dalam pemogokan buruh pegadaian. Bagi pemerintah, peristiwa ini menjadi alasan untuk tidakan penangkapan. Sepakterjangnya di berbagai daerah dipandang sebagai membahayakan untuk ketertiban dan keamanan, sehingga gubernur jendral menggunakan ‘exorbitate rechten’ (hak-hak istimewa) yang ada padanya, yang tanpa melalui proses pengadilan seseorang bisa dipindah kediamannya di dalam negeri selama watu yang tak terbatas. Sebagai alternatif Tan Malaka dengan kehendak dan biaya sendiri mintaa izin meninggalkan Hindia- Belanda, tanpa bayangan sedikit pun untuk pulang kembali. Permintaannya dikabulkan, dan dalam bulan Maret 1922 ia berangkat lagi ke Negeri Belanda 13 .

Eropa untuk Kedua Kalinya

Di Eropa Tan Malaka masuk kedalam Partai Komunis Belanda atau Communist Party of the Netherlands (CPN). Bahkan setelah para pemimpin dari partai tersebut banyak keluar dan mendirikan partai lain semisal tokoh Komunis Kiri Gorter dan Pannekoek meninggalkan partai untuk membentuk Partai Pekerja Komunis dari Belanda yang menganjurkan komunisme dewan, ia sebagai calon kuat dari Hindia Belanda untuk memimpin partai tersebut, tapi di tahun 1922 saat pemilihan ketua Tan Malaka gagal, kemudian ia didukung oleh kawan-kawannya untuk masuk kedalam komintern atau komunis internasional mewakili Indonesia (Hindia Belanda) di Moskow, Rusia.

Dalam kongres komintern ke empat, Tan Malaka menyampaikan pidatonya mengenai Pan Islamisme yang sebelumnya di tentang oleh komintern. Komintern beranggapan bahwa Pan Islamisme adalah gambaran baru dari ismperialisme. Mungkin pandangan ini terjadi manakala orang-orang eropa membayangkan di tahun- tahun abad kegelapan mereka, yang saat itu kebesaran dan kemajuan terletak di

13 Poze, A. Herry, Tan Malaka; Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia jilid I

kekuatan islam. Hal itu berbalik dengan kondisi di eropa secara umum yang rakyatnya masih sengsara sana sini di karenakan terkungkung pada gereja atau agama, itulah yang membuat sikap komintern terhadap Pan Islamisme sepertinya sinis dan sensitif.

Maka untuk memberikan penjelasan tentang semua itu Tan Malaka memberikan gambaran tentang kekuatan proletar islam dalam negerinya, khusunya di Sarekat Islam. Beliau berkata dalam pidatonya yang sempat akan dihentikan paksa oleh pimpinan sidang.

“Pan- Islamisme adalah cerita panjang . Pertama -tama saya akan berbicara tentang pengalaman kita di Hindia Timur di mana kami telah bekerja sama dengan para Islamis . Kami memiliki di Jawa sebuah organisasi yang sangat besar dengan banyak petani yang sangat miskin , Sarekat Islam ( Liga Islam ) . Antara 1912 dan 1916 organisasi ini memiliki sejuta anggota , mungkin sebanyak tiga atau empat juta . Itu adalah gerakan rakyat yang sangat besar , yang timbul secara spontan dan sangat revolusioner .

Sampai 1921 kami bekerja sama dengan itu . Partai kami , yang terdiri dari 13.000 anggota , masuk ke pergerakan ini populer dan melakukan propaganda di sana. Pada tahun 1921 kami berhasil mendapatkan Sarekat Islam mengadopsi program kita . The League Islam terlalu gelisah di desa- desa untuk mengontrol pabrik-pabrik dan slogan : Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin , semua kekuatan untuk kaum proletar ! Jadi Sarekat Islam membuat propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita , hanya kadang-kadang dengan nama lain .

Namun pada tahun 1921 terjadi perpecahan sebagai akibat dari kritik canggung pimpinan Sarekat Islam . Pemerintah melalui agen-agennya di Sarekat Islam mengeksploitasi perpecahan ini , dan juga mengeksploitasi keputusan Kongres Kedua Komunis Internasional : Perjuangan melawan Pan - Islamisme ! Apa yang mereka katakan kepada para petani sederhana ? Mereka berkata : Lihat , Komunis tidak hanya ingin membagi , mereka ingin menghancurkan agamamu ! Itu terlalu banyak untuk seorang petani Muslim sederhana . Petani itu berpikir untuk dirinya sendiri : Saya telah kehilangan segalanya di dunia ini , harus saya kehilangan surga saya juga ? Itu tidak akan melakukannya ! Ini adalah bagaimana umat Islam sederhana pikir. Para propagandis antara agen pemerintah dieksploitasi ini sangat berhasil . Jadi, kami punya perpecahan”. 14

Dalam pidato tersebut menggambarkan bahwa Tan Malaka bersifat cukup bijak dalam menanggapi permaslahan ini. Ini dikarenakan Tan Malaka dengan segala kekritisannya dalam melihat dan membaca suasana dalam perjalannnya selama ini, ia berpandangan bahwa agama dan perjuangan tidaklah dicampur adukan. Perjuangan melawan kononialisme harus secara bersama-sama dilakukan oleh berbagai golongan dan lapisan masyarakat, tanpa memandang dari mana mereka berasal asal tujuan dan esensinya sama. Tan Malaka menginginkan bentuk suatu perlawanan tidaklah saling berjalan sendiri-sendiri dan bahkan saling menjatuhkan seperti apa ungkapan komintern, ia menginginkan bentuk suatu perlawanan kepada kolonialisme imperialisme dan kapitalisme itu tidaklah dengan kesatuan yang terpisah-pisah,

14 Baca Komunisme dan Pan Ilsamisme Tan Malaka

namun dibangun dengan bentuk kesatuan. Seperti ombak yang terus menerus menerjang pantai tak henti dan satu kesatuan tanpa membeda-bedakan latar belakang. Itulah Tan Malaka dengan sosok sederhana yang begitu humanis dan pluralis.

Selama di komintern Tan Malaka sering menelurkan pemikiran-pemikiran yang mungkian dianggap nyeleneh oleh kebanyakan orang. Mungkin sekarang kita bisa menyandingkan dengan Gus Dur, kebanyakan orang memandang mereka adalah tokoh dengan segala kontrofersi, atau yang jika kita memandang dengan mata dan hati yang lebih jernih, maka orang-orang tersebut terlalu maju dari jamnnya. Yang mungkin pemikirannya tidak bisa dicerna oleh orang lain. Maka bisa di ibaratkan sosok-sosok tersebut adalah kereta Jepang dengan kecepatan yang super, dibandingkan dengan kita yang mungkin masih kereta kelas ekonomi milik Indonesia. Jadi kita mungkin tidak dapat mengejar. Karena Tan Malaka juga banyak berselisih dengan tokoh-tokoh dari H.O.S. Cokroaminoto, Soekarno sampai Lenin (saat di komintern). Lantas dengan keadaan tersebut ia sering disingkirkan oleh kawannya sendiri, puncaknya oleh apa yang ia dapat saat ia tersungkur di kaki Gunung Wilis Kediri Jawa Timur saat tentara republik menembaknya.

Pengembaraan

Balik dengan sejarah, Tan Malaka ditunjuk oleh komintern sebagai agen wilayah Asia Timur 15 , maka dimulailah pengembaraan Tan Malaka selama 20 tahun lintas bangsa lintas benua yang kesemua perjalannya lebih jauh daripada Che Guevara di Amerika Latin. Akan tetapi yang cukup penting dalam periode tersebut, Tan Malaka menulis sebuah esai yang berjudul Menuju Republik Indonesia, yang merupakan rintisan awal Tan Malaka untuk bumi pertiwinya. Maka dari itu Tan Malaka sering juga disebut sebagai Bapak Republik Indonesia, yang tokoh nasional berkata "(Tan Malaka )Tak ubahnya daripada Jefferson Washington merancangkan Republik Amerika Serikat sebelum kemerdekaannya tercapai atau Rizal Bonifacio meramalkan Philippina sebelum revolusi Philippina pecah…." Papar Prof. Muhammad Yamin dalam salah satu tulisannya yang berjudul Tan Malaka Bapak Republik Indonesia. Ini memang tak berlebihan, ungkapan tersebut tentu mempunyai bukti-bukti yang nyata atas apa yang di perjuangkan Tan Malaka terhadap tumpah darahnya Indonesia 16 .

Dari perjalanan hidupnya, ia menentang kolonialisme tanpa henti, dari Padang Gadang (Suliki), Bukit Tinggi, Batavia, Semarang, Yogya, Bandung, Kediri, Surabaya Sampai Amsterdam, Berlin, Moskow, Amoy, Shanghai, Kanton, Manila, Saigon, Bangkok, Hong Kong, Singapura, Rangon, Dan Penang yang keseluruhannya tak bisa dijelaskan secara rinci. Dikemudian hari saat ia berada di Kanton, ia mendengar seruan agar PKI melancarkan pemberontakan besar-besaran yang kemudian meletus pada tahun 1926/1927, Tan Malaka sebelumnya tidak setuju dengan pemberontakan tersebut, dinilainya terlalu gegabah dan akan membuat kehancuran PKI dikemudian hari. inilah yang membuat Tan Malaka menulis Naar de Republiek Indonesia (Kanton, April 1925 dan dicetak ulang di Tokio,Desember 1925) 17 . Yang pada waktu itu para pendiri bangsa ini masih belum apa-apa, jadi banyak dari (contohnya Soekarno) tokoh nasional setelah itu membaca karya-karya dari Tan Malaka untuk bahan kajian dalam bekal pergerakan.

15 Adam, Asvi Warwan, Membedah Tokoh Sejarah

16 Baca tulisan saya Tan Malaka: Apakah Pahlawan Hanya Tinggal Pahlawan

17 Ibid, Adam hal 23

Perpecahan terhadap komintern membuat Tan Malaka mendirikan PARI (partai republik indonesia) di Bangkok pada Juni 1927. Walaupun bukan partai massa, tetapi organisasi ini dapat bertahan sepuluh tahun, pada saat yang sama partai-partai nasionalis di tanah air lahir dan mati. Selama satu dekade PARI mengembangkan sel mereka di kota-kota penting tanah air tapi juga di kota Cepu, Wonogiri, Kediri, Sungai Gerong, Palembang, Medan, Banjarmasin dan Riau. Kemudian PARI dianggap berbahaya oleh intel Belanda dan aktivitasnya diburu-buru 18 .

Kembali ke Indonesia

Saat Jepang melebarkan sayapnya ke Asia Pasifik termasuk Indonesia, maka hal itu Jepang dianggap sebagai pahlawan untuk membantu kemerdekaan Indonesia oleh sebagian besar orang. Yang kemudian orang indonesia termakan propaganda- propaganda Jepang dan jatuhlah Indonesia ketangan Jepang dan berakhirlah pemerintahan Kolonial Belanda. Akan tetapi anggapan itu keliru, justru jepang malah membuat penderitaan rakyat semakin bertubi-tubi saat dicanangkannya romusha 19 . hal tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Tan Malaka untuk kembali ke tanah airnya setelah sekian lama berjuang di luar negeri, yang dikarenakan pihak yang mengasingkannya dulu, pemerintahan kolonial Belanda telah tidak lagi memilki kekuatan di Indonesia .

Tan malaka tiba di Jakarta pada 11 juli 1942 petang, dari Teluk Betung, Bandar Lampung pada 7 Juli. Keberangkatannya yang bersamaan dengan soekarno yang telah bebas dari pengasingannya. Tan malaka merasa ada perbedaan yang mencolok saat ia kembali dari pengasingan dengan Soekarno. Pertama, kapal yang ia tumpangi tak lebih dari 4 ton dan hanya kapal layar yang sering bocor, sedangkan kapal yang ditumpangi Soekarno adalah kapal motor milik Jepang. Yang meskipun ia berangkat lebih cepat, tapi ia tiba di Jakarta lebih lama dari soekarno. Kedua, walaupun pembuangan Tan Malaka dua kali dari pembuangan Soekarno yang 10 tanun, tetapi ia kembali bukan secara resmi melainkan kembali sendiri, maka hal itu ia sendiri tidak bisa bekerja secara terbuka dan kemudian masih memakai nama samaran sedangkan Soekarno tidak. Ketiga, saat Soekarno kembali ke Jakarta dengan sambutan yang begitu meriahnya oleh para pengikutnya, maka Tan Malaka layaknya orang biasa dengan melangkahkan kaki di jakarta tak ada sambutan apapun dari rakyat 20 .

Serba kekurangan dan keterbatasan itu tak serta merta membuat Tan Malaka kecewa dan mengurungkan niatnya berjuang di bumi pertiwi, ia terus berjuang sampai titik darah penghabisan dengan diam-diam dan sembunyi ia terus memperkuat jaringan perjuangnya. Maka dari itu ia tak berfikir rakyat mau mengakui dia atau tidak, yang terpenting baginya membuat Indonesia merdeka 100%. Inilah yang seyogyanya bisa kita anut dari perjuangan Tan Malaka yang meskipun tak ada penghargaan yang melimpah dari rakyat dan bahkan rakyat tak mengenal siapa itu Tan Malaka, tapi ia bersikukuh untuk berjuang secara tulus dan ikhlas walaupun aral rintang selalu menghadang bahkan dari teman seperjuangannya sendiri di kemudian hari.

18 Ibid, Adam hal 24

19 Romusha adalah panggilan bagi orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di indonesia dari tahun 1942 hingga 1945. Kebanyakan romusha adalah petani, dan sejak Oktober 1943 pihak Jepang mewajibkan para petani menjadi romusha.

20 Baca Madilog, Hal12-13

Kemudian Tan Malaka menetapkan untuk tinggal di Kalibata, Jakarta dengan nama samaran Ilyas Hussein 21 . Tan Malaka yang sudah sangat lama meninggalkan Indonesia karena dibuang Belanda saat itu tak lagi terlalu memahami kondisi politik dan pergerakan di tanah air. Dia pun mempelajari kondisi politik dan pergerakan saat itu sambil tetap menutupi identitas aslinya. Ia tinggal di sana sembari memantau kondisi sosial politik Indonesia yang kemudian ditempat itulah karya Master Piece Tan Malaka yang berjudul Madilog22 dilahirkan. Tan malaka menulis buku tersebut selama delapan bulan (15 juli 1942- 30 maret 1943). Buku itu bukan semacam ajaran partai atau ideologi proletariat, melainkan cita-cita Tan Malaka sendiri. Dimana, madilog yang sebagian besar mengikuti konsep materialistik-dialektik Federich Engels sama sekali bebas dari buku-buku Marxisme-Leninisme yang menuntut kekuatan mutlak pembaca terhadap partai komunis 23 .

Saat aktifitasnya di Kalibata, Jakarta telah berhasil dicium oleh pihak Jepang. Maka Tan Malaka pindah tempat tinggal ke Bayah, Banten. Beliau di sana bekerja sebagai buruh pertambangan romusha. Dia tertarik bekerja di tempat itu karena bisa langsung berada di tengah-tengah buruh pekerja paksa dan bisa mendidik mereka. Meski berada di Banten, Tan Malaka kerap mondar-mandir Jakarta, salah satu yang ia temui adalah Kiai Wahid Hasyim 24 yang merupakan anak Kiai Hasyim Asy’ari saat ia sowani di puluhan tahun yang lalu. Disana pula ia bertemu dengan Gus Dur yang sering membukakan pintu untuknya. pada saat itu Gus Dur masih kecil dan Tan Malaka-pun menggunakan nama samaran Hussein. Akan tetapi saat Gus Dur tahu

bahwa itu adalah Tan Malaka Bapak Republik Indonesia adalah saat dikasih tahu oleh

ibunya "

ingat gak Pak Hussein Banten yang sering datang ke rumah? itu Tan Malaka Gus Dur 25 .

Tan malaka dengan segala bentuk pergulatan batinnya yang kuat selama proklamasi berlangsung, ia tetap berada dalam penyamarannya, ia tak keluar secara terang-terangan. Hal ini mungkin dikarenakan Tan Malaka merasa sudah percaya kepada Soekarno dengan segala pendukungnya, dan ia juga berprinsip bahwa negara sosialisme itu hadir dan muncul harus ada dukungan seluruhnya dari lapisan masyarakat terutama kaum proletar. Sebenarnya memang ia sangat setuju dengan proklamasi kemerdekaan. Terlebih dengan bukti ia mengawal Presiden Soekarno dalam rapat raksasa di Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Monas) Jakarta 19 September 1945 yang dihadiri oleh 15 ribu orang di sekitar Jakarta. Menurut Harry Poeze, saat memeriksa foto-foto Bung Karno, ia melihat orang dengan helm di kepala di dekat bung karno, dan bahkan di salah satu foto soekarno tampat berjalan berdampingan dengannya. Setelah membandingkan berbagai foto itu, Poeze berkesimpulan bahwa orang itu adalah Tan Malaka. Lelaki itu lebih rendah dari Soekarno dan di ukuran fotonya cocok kerena tinggi soekarno 1,72 M dan Tan

kata

Lalu

beberapa tahun kemudian, ibu saya mengatakan pada saya, 'kamu "

21 Rahman, Maskyur Arif, Tan Malaka; pahlawan besar yang dilupakan sejarah 22 Madilog adalah buku yang ditulis dilatar belakangi oleh gambaran masyarakat indonesia yang memandang alam gaib seringkali mempengaruhi kejadian dan takdir didunia ini. Yang kemudian cara pandang inilah yang di namakan tan malaka sebagai “logika mistika”. Logika ini menurut pandangan tan malaka melumpuhkan, karena mereka lebih mementingkan atau memerhatikan kekuatan gaib dibanding ia berusaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh di dunia nyata. Melihat hal tersebut tan malaka melahirkan madilog.

23 Baca resensi buku Madilog karya Tan Malaka, sampul belakang

24 Baca merdeka.com; Gus Dur, Tan Malaka dan Komunisme

25 Barton, Greg, Biografi Gus Dur

Malaka 1,65 26 . Ini bisa disimpulkan bahwa sebenarnya Tan Malaka sangat setuju dengan adanya proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno yang ia mengharapkan agar tindakan atau manuver yang diapakai Soekarno itu senantiasa bisa bergerak maju dan menjahui kemauan penjajah (bukan berunding terus-menerus/ kooperatif), agar bisa merdeka 100%.

Hal itu nampaknya adalah harapan palsu yang diterima oleh Tan Malaka, padahal ia sempat diberi testamen oleh soekarno untuk menggantikan, bila Bung Karno tidak bisa menjalankan tugasnnya. Hal itu dikarenakan Tan Malaka kecewa dengan sikap-sikap pemerintah yang dipandangnya banyak pertentangan antara kemauan dan tindakan Kepala Negara dengan kemauan dan tindakan rakyat atau pemuda. Terutama tindakan pemerintah yang senantiasa diplomasi dengan Belanda tetapi kekalahan justru menimpa bangsa Indonesia, itu menurut Tan Malaka malah mengurangi kemerdekaan yang seratus persen tersebut. Ada juga tindakan negara luar khusunya Inggris yang mengakui kedaulatan Belanda atas bangsa Indonesia yang ternyata sudah merdeka. Dalam hal ini Tan Malaka berfikikir dan bertindak sesuai keahliannya sebagai intelektual organik 27 perlu adanya suatu perkumpulan atau pergerakan yang menyatukan gerakan rakyat Indonesia untuk maju berjuang bersama demi menuntaskan 100% benar-benar merdeka. Inilah yang melatarbelakangi Tan Malaka mendirikan organisasi Persatuan Perjuangan 28 pada tanggal 3 Januari 1946 yang terhimpun 141 partai atau organisasi masyarakat dan laskar (salah satu bukti Tan Malaka ahli dalam propaganda untuk kebaikan bangsa).

Akan tetapi pihak pemerintah merasa dihalang-halangi oleh Persatuan Perjuangan (PP), ini dikarenakan melihat tujuan pembentukan dan aktifitas PP. Dengan kata lain dalam perkembangannya, Persatuan Perjuangan (PP) adalah kelompok politik yang tidak sudi menerima perundingan Indonesia-Belanda yang merugikan Republik Indonesia. Tapi Pemerintahan sayap kiri, tetap saja melakukan perjuangan diplomasi yang amat merugikan. Kalau dalam Linggajati (1947), Republik tinggal hanya terdiri dari Jawa, Madura dan Sumatra, maka dalam Renville (1948) lebih parah lagi. RI hanya sebagian kecil Jawa dan sebagian Sumatera. Untuk inilah PP berjuang agar RI tidak lebih terpuruk lagi, padahal Belanda sudah berhasil memunculkan negara Federal seperti halnya Negara Indonesia Timur. PP berjuang dibidang politik untuk memprotes kebijaksanaan Pemerintah itu. Maka Pemerintah menjadi merasa dihalang-halangi PP. Tidak ayal lagi, Pemerintah merasa terganggu. Merasa bahwa gerakan melawan Pemerintah ini didalangi Tan Malaka, Pemerintah sayap kiri yang awalnya dipimpin Sjahrir kemudian Amir Sjarifudin, segera membuat pernyataan bahwa Peristiwa 3 Juli 29 yang tujuannya untuk merobohkan Pemerintah adalah sebuah gerakan yang dipimpin Tan Malaka. 30 .

26 Ibid, Adam hal 27

27 Intelektual organik, (menurut Muhtar Said di bukunya Politik Hukum Tan Malaka) adalah pemikir sekaligus melaksanakan apa yang menjadi gagasannya tersebut

28 Persatuan Perjuangan adalah suatu organisasi massa yang dibentuk di Purwokerto, Jawa Tengah, Indonesia, pada awal tahun 1946, yang bertujuan menciptakan persatuan di antara organisasi-organisasi yang ada untuk mencapai kemerdekaan penuh untuk Indonesia. Organisasi ini berhasil menghimpun 141 organisasi politik, laskar, dan partai politik seperti Masyumi dan PNI, yang tidak puas dengan lambannya diplomasi yang dilakukan oleh pemerintahan Perdana Menteri Sutan Sjahrir. 29 Adalah suatu peristiwa pengkudetaan pertama setelah republik in berdiri. Dikarenakan pihak oposisi merasa sikap dari pemerintah yang dipimpin oleh kabinet sjahrir ini tidak mencerminkan sikap membela kepentingan rakyat tetapi malah lembek terhadap Belanda. menurut versi pemerintah bahwa Tan Malaka adalah dalang dari peristiwa tersebut. Disebutkan dalam keterangan resmi pemerintah pada

Perjuangan Tan Malaka memang penuh dengan cobaan. Tapi ia punya banyak kelebihan yakni propaganda-propaganda terutama dalam hal non-kooperatif, dimasa itu ia sangat cerdas dalam mengolah negosiasi-negosiasi untuk mempengaruhi rakyat terutama pemuda-pemuda hal itu juga-lah yang membuat ia semakin radikal dalam bertindak. Tan malaka sangat anti dari kenyamanan hidup, ia seolah menolak mentah- mentah apa testamen Bung Karno untuk menggantikannya menjadi presiden. Bisa kita bandingakn dengan jaman sekarang yang hampir kesemua orang menginginkan harta tahta wanita, hidup penuh dengan pencitraan, ingin nampang sebagai pahlawan dan mengaharapkan tepuk tangan penonton. Tapi bukan itu tujuan hidup Tan Malaka, ia rela namanya tidak di kenal oleh orang saat kemerdekaan, ia juga rela menyamarkan namanya agar perjuangannya terus menerus berlangsung, sampai saat ia menghembuskan nafas yang terakhir ia tidak menikah. Bahkan ia-pun rela mabuk laut dan sakit-sakitan dalam perjalanan berhari-hari lintas banngsa lintas benua, menyusuri kota demi kota, negara demi negara dan bagi Tan Malaka hanya satu yakni merdeka 100% adalah harga mati tak bisa ditawar-tawar lagi.

Dalam bukunya “Dari Penjara ke Penjara”, Tan bercerita tentang penderitaannya berkelana dari penjara ke penjara. Untuk pertama kali dirinya ditangkap di Madiun atas perintah Amir Syarifudin Menteri pertahanan RI. Ini terjadi pada tanggal 17 Maret 1946. Dia dibawa ke Tawang Mangu dan disana diberlakukan sebagai tahanan rumah selama 3 bulan lebih. Bersamanya adalah Abikusno Tjokrosuyoso, Soekarni dan Mohammad Yamin 31 .

Setelah ia dibebaskan dari penjara, di tanggal 7 November 1948, Tan Malaka mendirikan Partai Murba (musyawarah orang banyak) tanggal yang dipakai yakni bertepatan dengan Revolusi Bolshevik 32 di Rusia. Ia bersama Sukarni, Caherul Saleh dan Adam Malik berjuang untuk membesarkan partai tersebut. Ada dua kemungkinan tentang alasan pendirian partai murba. Pertama, bahwa memang Tan Malaka Sejak dulu setelah peristiwa pemberontakan PKI tahun 1927 sampai peristiwa madiun 1948 sudah merasa tidak cocok dengan jalan yang dipakai oleh PKI yang terlalu gegabah dan sering terburu-buru dalam hal melakukan perlawanan maka dari itu setelah ia berada di Indonesia ia berupaya membuat partai massa tandingan terhadap PKI yang sudah tidak sepaham dengan dirinya. Kedua, setalah peristiwa Madiun 1948 PKI tersingkir dalam perpolitikan negeri karena namanya yang berkali-kali tercoreng dengan berbagai pemberontakan-pemberontakan yang dilakukan, maka dari itu Tan Malaka berupaya membuat partai pengganti yang agar massa atau simpatisan dari PKI tidak keluar begitu saja dari partai dan membelot apatis teradap negeri.

Meskipun Tan Malaka yang mendirikan partai murba, tak lantas ia berkeinginan untuk menjai ketua. “Dia tidak mau jadi ketua. Mungkin dia harap jadi Presiden RI dan selalu tidak senang dengan politik diplomasi,” kata sejarawan Harry

tanggal 6 Juli 1946, bahwa Tan Malaka hendak merebut kekuasaan dari kabinet Sjahrir dengan menempatkan orang-orang terdekatnya dan bahkan hendak menggantikan Soekarno menjadi Kepala Negara. Padahal menurut Harry Poeze dalam bukunya Tan Malaka, Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia jilid II, Tan Malaka sama sekali tidak memilki bukti berhubungan secara khusus dengan pentolan gerakan tersebut. Dan pada saat itu Tan Malaka sudah ditangkap oleh pemerintah, yang apada saat dipenjara ia tidak berhubungan dengan orang, malah ia banyak membaca buku dan menyusun bukunya Dari Penjara ke Penjara.

30 http://sejarahkita.blogspot.com/2007/01/tan-malaka-dizholimi-bangsanya-sendiri.html

31 Ibid, sejarahkita.blogspot.com

32 Revolusi Boshelvik adalah revolusi yang dilakukan oleh pihak komunis Rusia, di bawah pimpinan Lenin.

A. Poeze dalam diskusi bukunya, Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia Jilid 4, di Jakarta, 23 Januari 2013 33 .

Satu bulan kemudian setelah ia membentuk Murba, Tan Malaka juga mulai mencanangkan pergerakan secara aksi nyata dalam menghadapi Agresi Militer Belanda, yakni dengan dibentuknya GPP (Gerilya Pembela Proklamasi). Pembentukan ini mungkin sebagai cara Tan Malaka untuk membentuk anak dari Partai Murba yang berada di bidang pergerakan senjata. Sungguh luar biasa jika kita bayangkan perjuangan Tan Malaka mulai dari tulis menulis, orasi, propaganda, organisatoris, dan lain-lain dan sampai ahli militer. Bahkan A.H. Nasution pernah mengakui bahwa Tan Malaka adalah tokoh ilmu militer Indonesia.

Akhir Hayat

Setelah Muso kembali dari Rusia pada September 1948 dan melakukan manuver dengan berbagai perlawanan oleh partainya, PKI. Salah satunya adalah peristiwa Madiun 1948. Yang dalam pandangannya, Tan Malaka tidak setuju dengan hal tersebut. Di sisi lain Soekarno-Hatta sedang berusaha dimedan yang lain, yakni dengan cara diplomasi kepada pihak Belanda dengan tujuan Belanda bisa mengakui kedaulatan NKRI. Posisi Tan Malaka dalam hal ini adalah menggalang kekuatan para buruh, simpatisan Murba dln yang digabungkan dalam suatu gerakan yang dinamakan GPP (Gerilya Pembela Proklamasi). Dalam perjuangannya, mereka mendapat perlawanan dari pihak Belanda pada 19 Desember 1948 yang berpusat di Jawa Timur. Kemudian dari GPP mengubah taktik dengan bersembunyi di daerah gunung untuk melakukan gerilya.

Sebelumnya pada saat Belanda menyerang Yogyakarta pada 19 Desember 1948 akibat agresi militer Belanda II, para petinggi republik ini di angkut oleh Belanda untuk diasingkan di Sumatra dan sebagian di Bangka termasuk Bung Karno bersama Agus Salim pada saat itu. Kemudian terbentuklah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin oleh Mr. Safruddin Prawiranegara berkat inisiatif beliau dan kawan-kawannya. Padahal sebelumnya dengan maksud yang sama, presiden soekarno juga memberi mandat lewat media seadanya akan tetapi mandat tersebut baru diterima dibeberapa bulan setelah PDRI terbentuk. Maka dari itu sejak tanggal 22 Desember 1948 sampai 13 Juli 1949 Indonesia pusat pemerintahannya di Bukittinggi dengan kepala pemerintahannya yakni Syafruddin Prawiranegara.

Dengan keadaan demikian, Belanda memanfaatkan situasi ini dengan segera memburu para aktifis yang menyulitkan jalannya proses penguasaan kembali Indonesia, termasuk Tan Malaka. Pihak Belanda memerintahkan dan mendukung upaya yang dilakukan oleh pemerintah saat itu untuk memberantas perlawanan yang dilakukan oleh kelompok yang anti diplomasi Soekarno-Hatta. Dan kemudian Tan Malaka dan kawan-kawannya berhasil ditangkap oleh tentara republik.

Tan Malaka ditangkap oleh Letnan Dua Sukoco dari Batalion Sikatan Divisi Brawijaya 34 . Kemudian penangkapan tersebut tidak mengantarkan Tan Malaka kembali ke penjara, seperti apa yang ia tulis sebelumnya Dari Penjara ke Penjaratetapi menuntunkan Tan Malaka terhadap kehidupan yang abadi. Ia meninggal ditembak oleh Suradi Tekebek atas perintah Sukoco yang merupakan tentara dari

33 http://historia.co.id/artikel/persona/1313/Majalah-Historia/Tahun_Terakhir_Tan_Malaka

34 Poze, A. Herry, Tan Malaka; Gerakan Kiri dan Revolusi Indonesia jilid IV

bangsanya sendiri. Kejadian ini terjadi di tanggal 21 Februari 1949, di lereng Gunung Wilis, Kediri, Jawa Timur yang sebelumnya ia sudah dikabarkan hilang pada 19 Februari 1949 . Ia dimakamkan di Desa Selopanggung, Kediri di atas sebuah nisan dengan penamaan yang seadannya.

Menurut Radar Surabaya, yang telah berhasil menemui salah satu saksi mata dalam kematian Tan Malaka, yang bernama Tolu 84 tahun. Ia menjadi relawan dari tentara republik yang akan mengadakan penumpasan gerilya Tan Malaka.

“Setelah Pak Dayat menyembunyikan tawanannya yang akhirnya tewas, yang saya duga adalah Sutan Ibrahim (Tan Malaka). Kemudian pasukan Brigade S meninggalkan Desa Selopanggung setelah setahun bersembunyi. Sebelum meninggalkan desa kami pasukan membakar berkas yang dibawa. Seingat saya ada ratusan buku yang dibakar saat itu. Bahkan sangking banyaknya buku itu tidak habis terbakar selama satu minggu,” kata Tolu 35 .

Bisa kita bayangkan, dalam gerilya saja Tan Malaka masih sempat-sempatnya membawa banyak buku. Ini kita simpulkan bahwa Tan Malaka adalah juga sosok yang suka baca buku, penggiat ilmu dan memiliki sifat pencari segala ilmu pengetahuan dan ia tidak memilih spesifikasi. Benar apa yang dikatakan banyak ahli bahwa Tan Malaka adalah sosok intelektual, pemikir sekaligus eksekutor bagi gagasan-gagasannya atau dari Muhtar Said (Penulis Buku Politik Hukum Tan Malaka), Tan Malaka disebut sebagai seorang intelektual organik.

Di tanggal 28 Maret 1963 Presiden Soekarno mengangkat Tan Malaka sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden RI No. 53 . Akan tetapi nama dan segala bentuk atribut seperti partai dan bukunya sulit untuk ditemukan dalam kenyataan. Namanya dihapus dalam sejarah versi resmi pemerintah, tak ada juga di buku pelajaran sekolah-sekolah yang apabila ada dengan maksud agar bisa dijadikan teladan untuk perjuangan khusunya dalam pendidikan karakter. Sungguh kebodohan rezim Orde Baru yang masih mengecap Tan Malaka sebagai pemberontak bangsanya. Dalam sejarahnya, Tan Malaka justru menolak pemberontakan 1926/1927, kemudian ia sama sekali tak terlibat dalam peristiwa Madiun 1948, serta partainya yang didirikan yakni partai Murba, menurut sejarwan Dr. Asvi Warman Adam sama sekali berseberangan dengan PKI.

Refleksi

Sungguh ironi bangsa ini di tengah berkecamuknya ancaman perpecahan dan disintegrasi nasional serta berbagai bobroknya sistem demokrasi negeri. Memang sosok Tan Malaka juga memiliki banyak kekurangan tetapi seharusnya juga bisa dijadikan sebagai salah satu pelecut semangat kebangsaan dalam perjuangan membentuk Indonesia yang lebih baik. Agar bisa menjadi pribadi-pribadi yang tangguh untuk ujung tombak sebuah sitem ketatanegaraan sesuai dengan kondisi jaman ini. Sejatinya gagasan-gagasan Tan Malaka dapat di sebarluaskan disekolah- sekolah secara umum karena masih relevan dan dapat disesuaikan di jaman sekarang. Porsi besar pelajaran sejarah lewat kurikulum 2013 baru-baru ini, misalnya, memberi kesempatan supaya peristiwa demi peristiwa yang real dan benar-benar terjadi tanpa adanya isolasi dapat menjadi pembelajaran yang baik untuk peserta didik. Agar sosok- sosok sekelas Tan Malaka dapat menginspirasi para generasi penerus bangsa ini.

35 http://beritakediri.wordpress.com/2007/08/16/mengungkap-kematian-tan-malaka-di-selopanggung-

kediri-bagian-2/

Bukan hanya Tan Malaka karena Tan Malaka masih sebagian dari bentuk keseluruhan perjuangan. Tapi juga pahlawan-pahlawan sejati lainnya seperti Soekarno, Hatta, Pangeran Diponegoro dan masih banyak lagi. Bukan malah segala bentuk diskusi yang membicarakannya malah dilarang. Sungguh tidak ada rasa terimakasih kepada pahlawan yang pertama kali menelurkan gagasan Republik Indonesia ini.

Seperti ungkapan Clifford Geertz (1999), yang bisa di pelajari, kenyataan bahwa Indonesia adalah negara majemuk. Usaha apapun untuk mengurungnya ke kerangka apapun yang ketat-entah ideologi tinggi seperti yang dilakukan suharto, atau nasionalisme seperti yang dilakukan sukarno, atau partai komunis, atau negara islam atau lainnya-akan membawa ke bencana. (alasannya) karena Indonesia terdiri dari begitu banyak macam orang.

Oleh sebab itu kajian tentang pluralisme dan kesadaran akan pentingnya pluralitas dari bangsa Indonesia sangat penting. Ya karena memang bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk, dan memang semestinya diperlakukuan dan diperjuangkan semestinya seperti bangsa majemuk. Dan menghargai segala bentuk pemikiran sangat perlu, dan meskipun Tan Malaka sangat penting bagi perjuangan bangsa Indonesia ini, tidak mestinya kita mengkultuskan dengan men-dewakan Tan Malaka dan hanya mempelajarinya saja tanpa diimbangi oleh tokoh-tokoh lain. Setiap upaya untuk mengurungnya dalam sekat-sekat ideologis, politis atau agama hanya akan melahirkan malapetaka seperti ungkapan sejarawan Baskara T. Wardaya. Maka dari itu mari belajar banyak dari para tokoh-tokoh yang kemudian kita ambil segala kebaikannya untuk salah satu modal mengarungi perjalanan Indonesia kedepannya.

Akhir kata, meskipun di berbagai hal tokoh-tokoh pahlawan sejati bangsa ini memilki pemikiran dan cara yang berbeda dalam berjuang, tetapi subtansi dan tujuan dari keseluruhannya adalah sama, yakni kemerdekaan Indonesia secara utuh. Maka dari itu mata rantai dari perjuangan-perjuangan yang berbeda tersebut tidak bisa putus, karena itu adalah satu kesatuan utuh untuk membentuk Indonesia merdeka yang sekarang bisa kita rasakan hari ini. Mari belajar! dan Salam Pertiwi.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya” (Ir. Soekarno)

“Ingatlah! Bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi” (Tan Malaka)