Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

APLIKASI TEKNOLOGI NUKLIR


MATERI :
PENGUKURAN BATAS PERMUKAAN ZAT CAIR
DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK LEVEL GAUGING

Disusun Oleh :
Nama : Rida Ferliana
NIM : 011100296
Prodi : Teknokimia Nuklir
Semester : VI ( Enam )
Kelompok : V
Teman Kerja : 1. Guntur Sodikin
2. Ridho Wahyu Triandhini
Tanggal Praktikum : 23 April 2014
Asisten : Ir. Bangun Wasito, M.Sc
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR
BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2014
PENGUKURAN BATAS PERMUKAAN ZAT CAIR
DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK LEVEL GAUGING

I. TUJUAN
Menerapkan prinsip proteksi radiasi pada aplikasi teknik nuklir untuk menentukan
batas permukaan zat cair di dalam tangki.

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
1. Mengukur cacahan radiasi dengan system pencacah GM.
2. Menjelaskan prinsip kerja pengukuran batas permukaan zat cair.
3. Menggambarkan kurva intensitas radiasi, yang melalui tabung berisi zat cair
terhadap perubahan posisi sumber radiasi dan detector.
4. Menentukan tinggi posisi batas permukaan zat cair (air-minyak udara).
5. Menentukan volume air dan minyak di dalam tangki.
6. Menyusun konsep juklak ( prosedur kerja) penentuan batas permukaan zat cair
dengan menerapkan prinsip proteksi radiasi.

III. DASAR TEORI
Proses industri yang ekonomis memerlukan pengontrolan yang cepat, tepat,
dan kadang-kadang secara kontinyu terhadap berbagai besaran seperti tebal,
kepadatan, laju aliran, dan komposisi material yang diproses. Salah satu jenis sistem
kontrol yang memanfaatkan aplikasi teknik nuklir adalah nuclear gauge. Nuclear
gauge adalah sistem peralatan (terdiri atas sumber radiasi dan detektor radiasi) yang
memanfaatkan sifat-sifat unik radiasi pengion untuk pengontrolan proses dan kualitas
produk. Perlu diketahui bahwa data yang diperoleh dari detektor akan diteruskan ke
sistem komputasi yang terkoneksi secara integral dengan sistem kontrol.
Penerapan teknik nuklir dalam proses kontrol mempunyai beberapa kelebihan
dibanding dengan teknik lainnya, antara lain :
sumber radioaktif dapat dipilih sesuai dengan sifat bahan yang diukur
tidak merusak, tidak ada kontak, dan tidak meninggalkan bekas pada bahan
pengukuran cepat dan dapat dipercaya
sesuai untuk bahan kimia yang berbahaya atau bahan yang bertemperatur ekstrim.

Cara kerja teknik pengukuran ini berdasarkan :
1. Cara transmisi
Teknik pengukuran dengan cara transmisi adalah dengan memanfaatkan sifat
atenuasi atau penyerapan zarah radiasi oleh suatu bahan. Perbedaan intensitas
radiasi sebelum melewati suatu bahan dan sesudah melewati suatu bahan
digunakan untuk mengukur bahan tersebut.

Gambar 1.Cara transmisi
Bila suatu radiasi gamma dengan intensitas tertentu melalui suatu bahan, disini
akan digunakan zat cair, maka sebagian radiasi tersebut akan terserap sehingga
intensitas yang diteruskan akan berkurang. Penyerapan radiasi gamma oleh suatu
bahan dipengaruhi oleh rapat jenis bahan tersebut.
I
t
= I
o
e
-x

dengan :
I
t
= Intensitas radiasi yang diteruskan
I
o
= Intensitas mula-mula

= Koefisien serap bahan


x = Tebal bahan
Persamaan di atas, bila pancaran radiasi yang sama melalui bahan dengan tebal
yang sama tetapi mempunyai rapat jenis yang berbeda, maka intensitas yang
diteruskan akan berbeda sebanding dengan perbedaan rapat jenis bahan tersebut.
Batas permukaan dua jenis zat cair tak campur dapat diketahui dengan terjadinya
perubahan intensitas yang ditangkap detektor.

2. Cara back scaterring
Teknik ini memanfaatkan pantulan radiasi atau hamburan balik radiasi yang
mengenai bahan. Sifat pantulan radiasi tergantung pada sifat bahan, bahan yang
berbeda akan memberikan hamburan balik radiasi yang berbeda.

Gambar 2. Cara back scaterring

Fenomena-fenomena tersebut dapat dimanfaatkan untuk menentukan tinggi
permukaan zat cair atau batas permukaan antara dua jenis zat cair yang mempunyai
rapat jenis berbeda. Penerapan dalam industri, pengukuran batas permukaan, biasa
digunakan pada cairan atau serbuk. Metoda yang sering digunakan adalah metoda
transmisi, baik pada kondisi horizontal maupun vertikal, secara skematis digambarkan
seperti pada Gambar 3.

3A

3B

3C

3D
Gambar 3. Metode Pengukuran Batas Permukaan Cairan
Prinsip kerja gambar 3A, memanfaatkan fenomena perubahan intensitas
karena perubahan jarak antara sumber radiasi dengan detektor. Metoda ini
menempatkan sumber pada pelampung yang harus selalu mengapung dipermukaan
bahan uji. identik dengan pengukuran tebal bahan, sedang gambar 3B prinsip
kerjanya identik dengan pengukuran tebal lapisan secara transmisi. Kedua metoda ini
hanya digunakan untuk menentukan batas permukaan satu jenis bahan secara vertikal.
Konstruksi seperti gambar 3C hanya digunakan untuk menentukan batas
maksimum dan minimum suatu bahan yang berada dalam tangki. Konstruksi gambar
3D merupakan konstruksi yang rumit, karena sumber radiasi dan detektor harus
sejajar dan ditempatkan pada statif yang dapat digerakkan ke atas dan ke bawah
dengan sistem mekanik. Konstruksi ini memiliki keuntungan dapat menentukan batas
permukaan yang tepat bahkan dapat menentukan batas permukaan beberapa jenis
bahan yang tidak campur. Karena adanya perbedaan rapat jenis pada zat cair di dalam
tabung, maka intensitas radiasi yang sampai ke detektor akan berubah sehingga batas
permukaan tersebut dapat ditentukan.
Pada praktikum ini akan dilakukan pengukuran batas permukaan fluida tak
campur. Konstruksi percobaan seperti pada Gambar 4 dengan sistem pencacah Geiger
Muller (GM).
Perbedaan rapat jenis fluida dalam tabung, menyebabkan intensitas radiasi
yang sampai ke detektor akan berubah, sehingga batas permukaan tersebut dapat
ditentukan.









Gambar 4. Konstruksi Percobaan




Sumber

Sistem
Pencacah
GM

Gambar 5. Konstruksi Sistem Mekanik
Kurva hasil pencacahan akan nampak seperti gambar di bawah ini.








Gambar 6. Kurva Pencacahan
Untuk meyakinkan bahwa perubahan intensitas tersebut disebabkan oleh
perubahan rapat jenis fluida, bukan karena sifat acak atau fluktuasi dari pencacahan
radiasi, maka perubahan tersebut harus lebih besar dari 3 kali deviasinya.

=
dimana :
= nilai deviasi
C = hasil cacahan
Intensitas
III

B

A
II
Keterangan:
1. Penggerak (motor)
2. Kopel
3. Plat dudukan motor
4. Tabung ulir
5. Tiang jalan
6. Poros ulir
7. Bearing/bantalan
IV. ALAT DAN BAHAN
1. Alat
a) Sistem pencacah gamma dengan detektor GM
b) Mekanik penggerak detektor dan sumber radiasi (katrol)
c) Tabung silinder berisi fluida (udara-minyak-air)
d) Surveymeter
e) Pinset
f) Jangka Sorong
g) Penggaris Panjang
2. Bahan
a) Sumber radiasi gamma Cs-137
b) Minyak goreng
c) Air

V. LANGKAH KERJA
Sebelum praktikum dimulai, dosimeter perorangan harus digunakan.
1. Laju paparan ditentukan pada lokasi kerja, dihitung jarak dari sumber radiasi
dengan laju dosis yang aman (laju dosis 0,25 mR/jam; 0,75 mR/jam dan 2,5
mR/jam)
2. Peralatan disusun seperti gambar 10, dilakukan pengujian sistem mekanik
penggerak detector dan sumber radiasi apakah bekerja dengan baik. Dihidupkan
system pencacah, dengan tegangan HV detector 840 Volt. Surveymeter diaktifkan.

Gambar 7. Rangkaian Alat
Percobaan
Keterangan:
1. Sistem pencacah GM
2. Detektor GM
3. Plat penyangga
4. Ulir
5. Tangki cairan
6. Meteran atau penggaris
7. Sumber Cs-137
8. Motor Penggerak
3. Detektor diletakkan pada posisi 33cm dari dasar tabung.
4. Dilakukan pencacahan latar belakang.
5. Sumber Cs-137 diletakkan pada tempat sumber dan dilakukan pencacahan
sebanyak 3-6 kali pada setiap 1 cm perubahan tinggi fluida dalam tabung.
6. Cacahan yang diperoleh dicatat.
7. Pengambilan data diambil dari ketinggian 33 hingga 43 cm dan apabila sudah
mencapai 43 cm, sumber radiasi diambil yang selanjutnya ditempatkan ke dalam
wadah..
8. Diameter dan tebal tabung diukur.
9. Dihitung batas permukaan minyak dan air dengan menggabungkan data yang
diperoleh dari kelompok lainnya.

VI. DATA PENGAMATAN
Sumber : Cs-137
Aktivitas awal (A
0
) : 5 Ci
Waktu Paruh : 30,07 Tahun
t sumber : September 2009
Detektor : Geiger Muller (GM)
HV : 840 Volt
D dalam : 8,830 cm
Cacah latar dianggap 0
Hasil Pencacahan terlampir

VII. PERHITUNGAN
a) Penentuan Aktivitas Sumber (At)
Ao = 5Ci
t
1/2
= 30,07 tahun
t = September 2009 sampai 23 April 2014 = 4,7205 tahun.




b) Penentuan Jarak Aman Pekerja Radiasi
= 0,83 Rm
2
/jam Ci
At = 4,48 x 10
-6
Ci
Dosis radiasi aman pekerja = 2,5 mR/jam
2
r
o
t
D



r
2
= A
t
/D
0
=


0,0257 m
Jadi jarak aman dari sumber radiasi dengan laju dosis aman sebesar 2,5 mR/jam
adalah 0,0257 meter.
Dengan cara perhitungan yang sama, maka untuk laju dosis aman yang lain adalah
sebagai berikut:
Tabel 1. Jarak aman
Laju dosis aman, ( mR/jam ) Jarak Aman ( r
2
), ( meter )
2,5 0,0257
0,75 0,0470
0,25 0,0814

c) Pembuatan kurva hubungan tinggi dengan intensitas
Data Kelompok 4
No h, (cm) t, (sekon) Cacahan R
T
, (Cps)

,
(Cps)
1. 25
200 552 2,76
3,1133 200 634 3,17
100 341 3,41
2. 26
200 617 3,085
3,0683 200 592 2,96
100 316 3,16
3. 27
200 633 3,165
3,175 200 670 3,35
100 301 3,01
4. 28
200 667 3,335
3,13 200 609 3,045
100 301 3,01
5. 29
200 618 3,09
2,9017 200 567 2,835
100 278 2,78
6. 30
200 622 3,11
2,9917 200 605 3,025
100 284 2,84
7. 31
200 549 2,745
2,805 200 578 2,89
100 278 2,78
8. 32
200 591 2,955
2,85 200 565 2,825
100 277 2,77
9. 33
200 597 2,985
2,88 200 569 2,845
100 281 2,81

Data Kelompok 5
No h, (cm) t, (sekon) Cacahan R
T
,
(Cps)

,
(Cps)
1. 33-34 200 535 2,675 2,65
200 505 2,525
100 275 2,75
2. 34-35 200 527 2,635 2,76
200 579 2,895
100 275 2,75
3. 35-36 200 543 2,715 2,713
200 564 2,82
100 296 2,96
70 180 2,57
30 75 2,5
4. 36-37 200 537 2,685 2,783
200 562 2,81
100 287 2,87
100 274 2,74
100 281 2,81
5. 37-38 100 267 2,67 2,822
100 275 2,75
100 300 3
200 592 2,96
100 273 2,73
6. 38-39 200 587 2,935 2,7875
100 283 2,83
200 523 2,615
100 277 2,77
7. 39-40 200 564 2,82 2,945
200 551 2,755
100 326 3,26
8. 40-41 200 540 2,7 2,76375
200 495 2,475
100 254 2,54
50 167 3,34
9. 41-42 200 520 2,6 2,35
200 498 2,49
100 289 2,89
100 129 1,29
50 124 2,48
10. 42-43 200 523 2,615 2,278
200 555 2,775
200 289 1,445

Data Kelompok 6
No. h, (cm) t, (sekon) Cacahan R
T
,
(Cps)

,
(Cps)
1. 43-44
200 577 2,885
2,7717
200 561 2,805
100 273 2,73
60 160 2,666667
2. 44-45
200 527 2,635
2,6483 200 540 2,7
100 261 2,61
3. 45-46
200 609 3,045
2,9950
200 600 3
100 294 2,94
4. 46-47
200 543 2,715
2,9017 200 582 2,91
100 308 3,08
5. 47-48
200 579 2,895
2,8300 200 529 2,645
100 295 2,95
6. 48-49
200 580 2,9
2,7513
200 536 2,68
200 518 2,59
200 567 2,835
7. 49-50
200 526 2,63
2,8950
200 565 2,825
200 529 2,645
50 174 3,48
8. 50-51
200 542 2,71
2,5850
200 515 2,575
100 270 2,7
100 260 2,6
50 117 2,34
9. 51-52
200 516 2,58
2,8563
200 549 2,745
100 290 2,9
200 640 3,2
10. 52-53
200 527 2,635
2,9867 200 569 2,845
100 348 3,48



d) Penentuan Batas Permukaan Fluida


dengan:

=standar deviasi laju cacah


N=banyaknya cacah
R=laju cacah
t=waktu cacah
Dari rumus tersebut untuk pencacahan berulang-ulang dengan selang waktu yang
berbeda dapat dinyatakan dengan :


Standard deviasi

cps
Perubahan rapat untuk lapisan air dan minyak = 0,75cps
Perubahan rapat air ke minyak terjadi jika perubahan intensitas cacahan lebih dari
0,75 cps, dengan kata lain harus lebih besar dari 3,1133cps + 0,75 cps = 3,8633cps
sehingga berdasarkan data yang diperoleh, tidak terjadi perubahan rapat karena
tidak ada nilai intensitas yang melebihi 3,8633. Hal ini berarti bahwa dari
ketinggian 25cm hingga 53cm tidak dapat ditentukan batas permukaan lapisan air
dan minyak.
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
0 10 20 30 40 50 60
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s

c
a
c
a
h
a
n

(
c
p
s
)

Tinggi (cm)
Kurva hubungan tinggi fluida dengan laju cacah

VIII. PEMBAHASAN
Level Gauging merupakan teknik pengukuran gauging untuk mengetahui
batas pengukuran suatu fluida di dalam suatu tabung atau tangki dimana sifat fluida
tersebut tidak campur sehingga dapat diketahui volumenya. Prinsip level gauging
yang dilakukan pada praktikum ini adalah secara transmisi yaitu dengan
memanfaatkan sifat atenuasi atau penyerapan zarah radiasi oleh suatu bahan. Radiasi
dari sumber radioaktif ditransmisikan kemudian diserap oleh bahan uji yang berupa
minyak dan air dalan suatu tabung lalu diukur oleh detektor yang berada pada sisi
yang berlawanan dengan sumber. Intensitas radiasi yang mampu diserap bahan akan
dideteksi oleh detektor. Kemampuan penyerapan radiasi ditentukan oleh ketinggian
cairan dalam tabung.
Dalam percobaan ini dilakukan untuk menentukan batas permukaan zat cair
di dalam tangki yang tidak transparan. Sumber radioaktif yang digunakan adalah Cs-
137 yang merupakan pemancar radiasi gamma. Radiasi gamma memiliki daya tembus
yang besar sehingga dapat digunakan untuk mengukur level cairan di dalam tabung.
Karena radiasi gamma dapat menyebabkan bahaya radiasi eksternal maka perlu
dihitung jarak aman dalam bekerja. Aktivitas awal Cs-137 yang digunakan adalah 5
Ci dengan waktu paruh 30,07 tahun. Berdasarkan perhitungan batas atau jarah aman
untuk pekerja radiasi adalah 0,0257 m.
Fluida yang digunakan adalah air, minyak dan udara, meski pun minyak
dengan air hanya memiliki sedikit perbedaan densitas, namun diharapkan dengan
teknik ini dapat digunakan untuk menentukan batas permukaan dari fluida tersebut.
Batas permukaan dapat diketahui dari perbedaan intensitas radiasi yang diterima
detektor akibat perbedaan densitas masing-masing fluida. Udara memiliki densitas
sekitar 0,001 gr/ml, minyak memiliki densitas sekitar 0,8 gr/ml dan air memiliki
densitas sekitar 1 gr/ml.
Karena aktivitas sumber yang bisa dibilang cukup kecil, maka sulit sekali
untuk membedakan laju cacah sumber radiasi dan laju cacak background sehingga
dalam praktikum ini cacah background diabaikan.Dengan berdasarkan prinsip
transmisi, percobaan dilakukan dimulai dari ketinggian 24 cm dengan hasil cacahan
adalah seberapa banyak cacahan dari jarak 24cm-25cm dalam waktu tertentu. Data
yang diperoleh adalah gabungan beberapa kelompok. Pencacahan satu kelompok
dengan kelompok lain beda waktunya sehingga perhitungannya tidak begitu valid jika
digabungkan. Namun karena ada pertimbangan waktu paruh yang cukup lama maka
dengan selisih beberapa hari tidak akan besar pengaruhnya.
Setiap perbedaan 1cm dilakukan 3-6 kali pencacahan. Pencacahan dihentikan
setelah mencapai 53cm. Pencacahan yang berulang ini dengan sifat acak dari radiasi
sehingga perlu dihitung standar deviasi (besar penyimpangan). Standar deviasi
tersebut digunakan untuk mengetahui apakah perubahan cacah yang terjadi akibat dari
perbedaan fluida atau bukan. Berdasarkan hasil cacahan, dapat dibuat kurva hubungan
antara tinggi fluida dengan laju cacah sebagai berikut.

Grafik yang diperoleh sangat fluktuatif sehingga sulit sekali untuk
menentukan batas dengan grafik. Oleh karena itu, perlu dihitung nilai deviasi standard
pada titik pertama pencacahan. Berdasarkan perhitungan diperoleh standar deviasi
sebesar 0,75 cps. Standar deviasi tersebut menunjukkan bahwa perubahan rapat air ke
minyak terjadi jika perubahan intensitas cacahan lebih dari 0,75 cps atau harus lebih
besar dari laju cacah titik pertama ditambah standard deviasi yaitu lebih dari
3,8633cps. Dari hasil pencacahan yang diperoleh, tidak ada laju cacah yang lebih dari
3,8633 sehingga batas permukaan lapisan air dan minyak serta volume fluida tidak
dapat ditentukan pada praktikum ini.
Meskipun secara teori minyak dan air adalah zat yang tidak bisa bercampur
sehingga batasnya dapat ditentukan namun dalam praktikum ini kita tidak bisa
memperoleh hasil yang diinginkan. Hal ini bisa terjadi karena sumber yang digunakan
aktivitasnya sangat kecil. Selain itu juga penempatan sumber saat praktikum tidak
menempel pada tabung sehingga cacahan yang diterima detektor berkurang karena
adanya atenuasi di udara yang dalam hal praktikum ini tidak dipertimbangkan.
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
0 10 20 30 40 50 60
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s

c
a
c
a
h
a
n

(
c
p
s
)

Tinggi (cm)
Kurva hubungan tinggi fluida dengan laju cacah

IX. KESIMPULAN
a) Prinsip kerja dari teknik level gauging adalah pancaran radiasi yang datang dari
sisi samping tabung akan diserap oleh volume zat cair yang ada di dalam tangki
kemudian diteruskan ke detektor yang ada di sisi lain tabung. Semakin besar rapat
jenis zat cair maka semakin kecil intensitas radiasi yang ditangkap oleh detektor.
b) Jarak aman dalam praktikum ini adalah:
Laju dosis aman, ( mR/jam ) Jarak Aman ( r
2
), ( meter )
2,5 (pekerja radiasi) 0,0257
0,75 (non-pekerja) 0,0470
0,25 (masyarakat) 0,0814

c) Kurva hubungan tinggi fluida dengan intensitas radiasi yang diperoleh :

d) Berdasarkan hasil percobaan, batas permukaan fluida yang berbeda yakni air dan
minyak tidak dapat ditentukan.


0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
0 10 20 30 40 50 60
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s

c
a
c
a
h
a
n

(
c
p
s
)

Tinggi (cm)
Kurva hubungan tinggi fluida dengan laju cacah
X. DAFTAR PUSTAKA
Rantjono, Suryo. 2011. Petunjuk Praktikum Pengukuran Batas Permukaan (Level
Gauging). Yogyakarta : STTN-BATAN.
Wardhana, Wisnu Arya. 2007. Teknologi Nuklir Proteksi Radiasi dan Aplikasinya.
Yogyakarta : Andi Offset.
//http:www.google.com// : ans_ind_ins_Obyek_Inspeksi_FRZR.pdf-Adobe Reader
diakses pada 15 Mei 2014 pukul 20.00 WIB


Yogyakarta, 25 Mei 2014
Asisten,


Ir. Bangun Wasito
Praktikan,


Rida Ferliana


Lampiran
LAPORAN SEMENTARA
TEKNIK GAUGING
Data Pengamatan
Sumber : Cs
137

A
0
: 5 Ci
T
1/2
: 30,07 Tahun

t sumber : Sepetemper 2009
Detektor : Geiger Muller (GM)
Hv : 840 Volt
D dalam : 8,830 cm
Pencacahan Sampel Kelompok IV (Empat)
Tinggi Fluida
(cm)
Cacahan ke 1
(t = 200 s)
Cacahan ke 2
(t = 200 s)
Cacahan ke 3
(t = 100 s)
25 552 634 341
26 617 592 316
27 633 670 301
28 667 609 301
29 618 567 278
30 622 605 284
31 549 578 278
32 591 565 277
33 597 569 281
34 628 611 301
35 638 556 392
Yogyakarta, 21 April 2014
Asisten,



Ir. Bangun Wasito, M.Sc.
Praktikan
Adimas Tetuko
Niken Siwi
Novita Eka
Ristiana

Pencacahan Sampel Kelompok V (Lima)
No Tinggi (cm) Waktu (S) Cacahan
1. 33-34 200 535
200 505
100 275
2. 34-35 200 527
200 579
100 275
3. 35-36 200 543
200 564
100 296
70 180
30 75
4. 36-37 200 537
200 562
100 287
100 274
100 281
5. 37-38 100 267
100 275
100 300
200 592
100 273
6. 38-39 200 587
100 283
200 523
100 277
7. 39-40 200 564
200 551
100 326
8. 40-41 200 540
200 495
100 254
50 167
9. 41-42 200 520
200 498
100 289
100 129
50 124
10. 42-43 200 523
200 555
200 289

Asisten,



Ir. Bangun Wasito, M.Sc.
Yogyakarta, 23 April 2014
Praktikan
Guntur Sodikin
Rida Ferliana
Ridho Wahyu Triandini



LAPORAN SEMENTARA
PRAKTIKUM LEVEL GAUGING
Sumber radioaktif yang digunakan yakni Cs-137

43 cm 44 cm
Waktu Cacahan
200 577
200 561
100 273
60 160

44 cm 45 cm
Waktu Cacahan
200 527
200 540
100 261

45 cm 46 cm
Waktu Cacahan
200 609
200 600
100 294

46 cm 47 cm
Waktu Cacahan
200 543
200 582
100 308

47 cm 48 cm
Waktu Cacahan
200 579
200 529
100 295




48 cm 49 cm
Waktu Cacahan
200 580
200 536
200 518
200 567

49 cm 50 cm
Waktu Cacahan
200 526
Yogyakarta, 24 April 2014
Asisten,


Bangun Wasito
Kelompok 6
1. Andri Saputra
2. Rizky Anugrah P
3. Widya Pangestika
200 565
200 529
50 174

50 cm 51 cm
Waktu Cacahan
200 542
200 515
100 270
100 260
50 117

51 cm 52 cm
Waktu Cacahan
200 516
200 549
100 290
200 640

52 cm 53 cm
Waktu Cacahan
200 527
200 569
100 348



Yogyakarta, 24 April 2014
Asisten,

Ir. Bangun Wasito, M.Sc
Bangun Wasito