Anda di halaman 1dari 62

STANDARAKUNTANSI

PEMERINTAHAN
PSAP NOMOR 02
LAPORAN REALISASI
ANGGARAN
JULI 2009
ii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A Latar Belakang 1
B Tujuan Pembelajaran 1
C Deskripsi Ringkas 1
D Metode Pembelajaran 2
BAB II PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP LAPORAN REALISASI
ANGGARAN
3
A Pengertian 3
B Ruang Lingkup 3
BAB III BASIS AKUNTANSI 5
A Basis Anggaran dan Basis Akuntansi 5
B Pengakuan Pendapatan 5
C Pengakuan Belanja 5
D Pengakuan Pembiayaan 6
BAB IV STRUKTUR LAPORAN REALISASI ANGGARAN DAN
KLASIFIKASI ANGGARAN
7
A Struktur Anggaran 7
B Pendapatan 7
C Belanja 8
D Transfer 9
E Surplus/Defisit 9
F Pembiayaan 9
G Pembiayaan Neto 10
H Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran 10
iii
BAB V AKUNTANSI PENDAPATAN, BELANJA, DAN PEMBIAYAAN 11
A Akuntansi Anggaran 11
B Akuntansi Pendapatan 12
C Akuntansi Belanja 17
D Akuntansi Surplus/Defisit 23
E Akuntansi Pembiayaan 24
F Akuntansi Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran 26
G Transaksi Pendapatan, Belanja, dan Pembiayaan
Berbentuk Barang
26
Soal Latihan 28
Daftar Bacaan 30
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran 1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Modul LRA ini disusun untuk memudahkan dalam memahami Pernyataan Standar
Akuntansi Pemerintahan Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran. Modul ini
disusun sebagai bahan Pelatihan untuk pelatih Standar Akuntansi Pemerintahan.
Dengan mempelajari modul ini diharapkan peserta dapat belajar mandiri (self
study) atas materi LRA pada pemerintah pusat.
Modul ini menguraikan pelaksanaan anggaran, khususnya sistem penerimaan dan
sistem pembayaran, serta perlakuan akuntansi untuk setiap jenis transaksi
anggaran. Materi pelatihan ini dilengkapi dengan contoh-contoh yang terjadi dalam
kegiatan operasional pemerintahan, sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai
rujukan bagi pengguna anggaran dalam implementasi Standar Akuntansi
Pemerintahan, khususnya untuk menyusun dan menyajikan LRA.
B. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran Umum:
Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP);
2. mampu mengimplementasikan SAP dalam menyusun dan menyajikan Laporan
Keuangan.
Tujuan Pembelajaran Khusus:
Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. memahami struktur anggaran;
2. memahami pengertian pendapatan, belanja, dan pembiayaan;
3. memahami pengakuan pendapatan, belanja, dan pembiayaan;
4. memahami mekanisme penerimaan dan pembayaran;
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran 2
5. mampu melaksanakan akuntansi pendapatan, belanja, dan pembiayaan;
6. memahami perlakuan pengembalian pendapatan dan belanja; dan
7. memahami penyusunan dan penyajian LRA.
C. Deskripsi Ringkas
Modul LRA menyajikan materi tentang pengertian dan ruang lingkup LRA, basis
akuntansi untuk anggaran pendapatan, belanja, serta pembiayaan, struktur
anggaran, klasifikasi anggaran, akuntansi pendapatan, belanja, dan pembiayaan,
akuntansi transaksi PFK, akuntansi hibah yang diterima dalam bentuk nonkas, dan
penutupan pos-pos anggaran.
D. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara pemaparan teori
oleh fasilitator yang diikuti dengan tanya jawab serta diskusi, latihan soal dan
contoh kasus yang bertalian dengan transaksi pendapatan, belanja, dan
pembiayaan. Keberhasilan pembelajaran ini juga sangat tergantung pada
partisipasi aktif dari para peserta pelatihan dalam aktivitas diskusi dan tanya jawab,
serta latihan soal.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran 3
BAB II
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
A. Pengertian
Laporan Realisasi Anggaran (LRA) merupakan salah satu komponen laporan
keuangan pemerintah yang menyajikan informasi tentang realisasi dan anggaran
entitas pelaporan secara tersanding untuk suatu periode tertentu.
Penyandingan antara anggaran dan realisasi menunjukkan tingkat capaian target-
target yang telah disepakati antara legislatif dan eksekutif sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Informasi tersebut berguna bagi para pengguna laporan
dalam mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber-sumber daya ekonomi,
akuntabilitas, dan ketaatan entitas pelaporan terhadap anggaran. Berhubung
anggaran akan disandingkan dengan realisasinya maka dalam penyusunan APBN
seharusnya digunakan struktur, definisi, dan basis yang sama dengan yang
digunakan dalam pelaporannya.
B. Ruang Lingkup
APBN terdiri dari anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Pendapatan
adalah semua penerimaan kas umum negara yang menambah ekuitas dana lancar
dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah
dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. Belanja adalah semua
pengeluaran kas umum negara yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam
periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya
kembali oleh pemerintah. Pembiayaan (financing) adalah setiap penerimaan yang
perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada
tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang
dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit
atau memanfaatkan surplus anggaran
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran 4
Pendapatan dipungut berdasarkan Undang-Undang. Oleh karena itu jenis
pendapatan yang dipungut dan/atau diterima oleh pemerintah harus sesuai dengan
Undang-Undang. Belanja mencakup seluruh jenis belanja sebagaimana diatur
dalam peraturan perundang-undangan. Pembiayaan mencakup seluruh transaksi
penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Disamping itu terdapat
transfer antar pemerintahan sehubungan dengan adanya desentralisasi fiskal dan
perimbangan keuangan. Bagi yang menerima dikelompokkan dalam pendapatan
transfer, sedangkan bagi yang memberikan ditampung dalam belanja transfer.
Anggaran pemerintah dituangkan dalam bentuk APBN, yang merupakan pedoman
tindakan yang akan dilaksanakan pemerintah, meliputi rencana pendapatan,
belanja, transfer, dan pembiayaan selama suatu periode terntentu. Anggaran
diukur dengan satuan rupiah. Anggaran diklasifikasikan secara sistematis sesuai
dengan peraturan perundang-undangan. Anggaran belanja yang dituangkan dalam
Undang-undang (UU) APBN disebut sebagai apropriasi, yaitu merupakan anggaran
yang disetujui DPR yang merupakan mandat yang diberikan kepada Presiden
untuk melakukan pengeluaran-pengeluaran sesuai tujuan yang ditetapkan.
Sedangkan anggaran pendapatan dalam UU APBN disebut Estimasi Pendapatan.
Berdasarkan APBN selanjutnya disiapkan peraturan kepala Kementrian/Lembaga
(K/L) tentang Penjabaran APBN. Anggaran yang dialokasikan kepada setiap K/L
sebagai pengguna anggaran dituangkan dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
(DIPA). Anggaran pendapatan K/L pada DIPA disebut Estimasi Pendapatan yang
Dialokasikan. Anggaran belanja pada DIPA disebut Allotment. Dengan demikian,
LRA K/L membandingkan antara realisasi terhadap alokasi anggaran dalam DIPA
K/L yang bersangkutan, sedangkan untuk LRA di tingkat pemerintah pusat
realisasi anggaran dibandingkan dengan estimasi pendapatan dan apropriasi yang
tertuang dalam APBN.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran 5
BAB III
BASIS AKUNTANSI
A. Basis Anggaran dan Basis Akuntansi
Anggaran pemerintah disusun dengan basis kas. Akuntansi pemerintah pada
dasarnya merupakan akuntansi anggaran, maka basis akuntansi yang digunakan
seharusnya sama dengan basis anggaran. Untuk tujuan penyusunan Laporan
Realisasi Anggaran, pada saat ini Pemerintah Indonesia masih menggunakan
basis kas, baik untuk anggaran maupun akuntansi realisasi anggarannya.
B. Pengakuan Pendapatan
Pada umumnya terdapat dua sistem penerimaan:
Wajib bayar/masyarakat langsung menyetor ke rekening Kas Umum Negara
Wajib bayar/masyarakat menyetor ke juru pungut/Bendahara Penerimaan,
selanjutnya Bendahara Penerimaan tersebut menyetor ke rekening Kas Umum
Negara.
Dengan menggunakan basis kas, pendapatan diakui pada saat diterima pada
rekening Kas Umum Negara. Oleh karena itu, pada saat uang diterima juru
pungut/Bendahara Penerimaan, jumlah tersebut belum diakui sebagai pendapatan,
pengakuannya baru dilakukan setelah uang tersebut disetor ke rekening Kas
Umum Negara.
C. Pengakuan Belanja
Sistem pembayaran dalam pelaksanaan anggaran ada dua, yaitu:
Pembayaran langsung kepada yang berhak (beneficiary)
Pembayaran dengan dana kas kecil melalui Bendahara Pengeluaran.
Berdasarkan Basis Kas sebagaimana diatur dalam PSAP No. 2, belanja diakui
pada saat terjadinya pengeluaran dari rekening Kas Umum Negara. Khusus
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran 6
pengeluaran melalui Bendahara Pengeluaran pengakuan belanja terjadi pada saat
pertanggungjawaban atas pengeluaran tersebut disahkan oleh BUN atau Kuasa
BUN.
Dengan demikian, untuk pembayaran langsung kepada pihak ketiga/vendor
pengakuan belanja dilakukan pada saat uang dikeluarkan, yaitu pada saat
diterbitkannya Surat Perintah Pencairan Dana Langsung (SP2D LS). Sedangkan
untuk pembayaran dengan dana kas kecil, pada saat diterbitkannya SP2D untuk
pemberian uang persediaan kepada Bendahara Pengeluaran (SP2D UP) ataupun
untuk penambahan uang persediaan (SP2D TU) belum diakui sebagai belanja.
Pengeluaran tersebut merupakan transaksi transito yang belum membebani
anggaran. Pengakuan belanja baru dilakukan setelah pengeluaran yang dilakukan
dipertanggungjawabkan olah Bendahara Pengeluaran dan telah diverifikasi serta
disetujui oleh pejabat yang berwenang, ditandai dengan diberikannya pengganti
uang persediaan dengan diterbitkannya SP2D GU.
D. Pengakuan Pembiayaan
Pelaksanaan anggaran pembiayaan merupakan kewenangan BUN. Penerimaan
pembiayaan diakui pada saat diterima kas pada rekening Kas Umum Negara.
Dengan demikian, perlakuan pengakuan penerimaan pembiayaan ini sama dengan
pengakuan pendapatan sebagaimana diuraikan pada bagian terdahulu.
Pengeluaran pembiayaan diakui pada saat dikeluarkan kas dari rekening Kas
Umum Negara. Pengeluaran pembiayaan antara lain untuk pemberian pinjaman
dan penyertaan modal. Pengeluaran pembiayaan dilakukan melalui pembayaran
langsung. Pengakuannya sama dengan pengakuan belanja, yaitu pada saat
diterbitkannya SP2D LS.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran 7
BAB IV
STRUKTUR LAPORAN REALISASI ANGGARAN
DAN KLASIFIKASI ANGGARAN
A. Struktur Anggaran
Anggaran terdiri dari anggaran pendapatan, anggaran belanja, dan anggaran
pembiayaan. Struktur anggaran tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut:
a. Pendapatan .....................
b. Belanja .....................
c. Surplus/Defisit (a b) .....................
d. Pembiayaan: .....................
Penerimaan Pembiayaan (d1) .....................
Pengeluaran Pembiayaan (d2) .....................
Pembiayaan Neto (d1 d2) .....................
e. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran
(SILPA/SIKPA) (c d)
.....................
B. Pendapatan
Pendapatan pemerintah pusat berasal dari Pendapatan Pajak dan Pendapatan
Bukan Pajak.
1. Pendapatan Pajak
Pendapatan/penerimaan yang diterima oleh pemerintah yang bersumber dari
pajak, bea dan cukai yang sepenuhnya dipergunakan untuk menutupi seluruh
pengeluaran, terdiri dari:
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran 8
- Pendapatan Pajak dalam Negeri
o PPh
o PPN
o PBB
o HTB
o Cukai
o Pajak Lainnya
- Pajak Perdagangan Internasional
o Bea Masuk
o Pungutan Ekspor
2. Pendapatan Bukan Pajak
Pendapatan/penerimaan yang diterima oleh pemerintah yang bersumber dari
penerimaan lainnya (PNBP) yang tidak dapat dikategorikan kedalam
penerimaan pajak yang sepenuhnya dipergunakan untuk menutupi seluruh
pengeluaran, terdiri dari:
- Penerimaan Sumber Daya Alam
- Penerimaan bagian Pemerintah atas Laba BUMN
- PNBP Lainnya
3. Pendapatan Hibah
Penerimaan yang diterima pemerintah baik berupa uang maupun barang modal
yang sumbernya berasal dari dalam dan luar negeri atau dari hibah lainnya.
C. Belanja
Belanja diklasifikasikan menurut organisasi, fungsi, dan ekonomi. Klasifikasi
belanja menurut organisasi artinya anggaran dialokasikan ke organisasi sesuai
dengan struktur organisasi pemerintah dalam hal ini kementrian/lembaga.
Klasifikasi menurut organisasi ini tidak disajikan di lembar muka laporan keuangan,
melainkan disajikan di Catatan atas Laporan Keuangan.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran 9
1. Klasifikasi Fungsi
Klasifikasi belanja menurut fungsi pemerintahan adalah sebagai berikut:
- Pelayanan Umum
- Pertahanan
- Ketertiban dan Keamanan
- Ekonomi
- Lingkungan Hidup
- Perumahan dan Fasilitas Umum
- Kesehatan
- Pariwisata dan Budaya
- Agama
- Pendidikan
- Perlindungan Sosial
Fungsi adalah perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu yang
dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan pembangunan nasional. Klasifikasi
belanja berdasarkan fungsi diatur dalam penjelasan pasal 11 ayat (5) UU 17
tahun 2003. Klasifikasi fungsi perlu dilihat hubungannya dengan program dan
kegiatan suatu entitas atau satuan kerja. Klasifikasi fungsi ini disajikan dalam
Catatan atas Laporan Keuangan.
2. Belanja Operasi dan Belanja Modal
Berdasarkan karakternya belanja dikelompokkan menjadi Belanja Operasi dan
Belanja Modal. Belanja Operasi adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan
sehari-hari pemerintah pusat yang memberi manfaat jangka pendek. Belanja
Operasi antara lain meliputi belanja pegawai, belanja barang non investasi,
pembayaran bunga utang, subsidi, hibah, bantuan sosial, dan belanja
operasional lainnya.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
10
Belanja Modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan
aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi. Belanja
modal antara lain belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan,
peralatan dan mesin, jalan, irigasi, dan jaringan, aset tetap lainnya, dan aset tak
berwujud.
3. Klasifikasi Ekonomi
Klasifikasi ekonomi adalah klasifikasi belanja berdasarkan jenis belanjanya,
terdiri dari:
Belanja Operasi:
- Belanja Pegawai xxx
- Belanja Barang xxx
- Pembayaran Bunga Utang xxx
- Subsidi xxx
- Hibah xxx
- Bantuan Sosial xxx
- Belanja Lain-lain xxx
Belanja Modal:
- Belanja Modal - Tanah xxx
- Belanja Modal Peralatan dan mesin xxx
- Belanja Modal Gedung dan Bangunan xxx
- Belanja Modal Jalan, Irigasi, dan Jaringan xxx
- Belanja Modal Aset Tetap Lainnya xxx
- Belanja Modal - Aset Lainnya xxx
D. Transfer ke Daerah
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
11
Transfer ke daerah yaitu pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan ke entitas
pelaporan lain, seperti pengeluaran dana perimbangan dan transfer lainnya.
Contoh: bagi hasil Pajak ke propinsi/kabupaten/kota, DAU,DAK.
E. Surplus/Defisit
Surplus/Defisit timbul sehubungan dengan penggunaan anggaran defisit, di mana
jumlah pendapatan tidak sama dengan jumlah belanja. Surplus adalah selisih lebih
antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan. Defisit adalah
selisih kurang antara pendapatan dan belanja selama satu periode pelaporan.
F. Pembiayaan
Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah, baik
penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima kembali,
yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup
defisit dan/atau memanfaatkan surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan antara
lain dapat berasal dari pinjaman dan hasil divestasi. Sementara, pengeluaran
pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman,
pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah.
G. Pembiayaan Neto
Pembiayaan Neto adalah selisih antara penerimaan pembiayaan dengan
pengeluaran pembiayaan. Apabila manajemen keuangan pemerintah dilakukan
dengan baik maka jumlah pembiayaan netto ini seharusnya mendekati jumlah
surplus/defisit anggaran karena pembiayaan dimaksudkan untuk memanfaatkan
surplus atau menutup defisit anggaran.
H. Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran
Dalam penyusunan APBN, SILPA/SIKPA akan selalu nihil karena jumlah surplus
atau defisit harus ditetapkan rencana pemanfaatannya atau penutupannya. Namun
dalam realisasi anggaran pada umumnya SILPA akan muncul. Jumlah ini
merupakan selisih antara penerimaan anggaran dikurangi dengan pengeluaran
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
12
anggaran. Dengan kata lain jumlah ini diperoleh dengan menjumlahkan
surplus/defisit dengan pembiayaan neto.
LRA dijelaskan lebih lanjut dalam Catatan atas Laporan Keuangan yang memuat
hal-hal yang mempengaruhi pelaksanaan anggaran seperti kebijakan keuangan,
sebab-sebab terjadinya perbedaan yang material antara anggaran dan
realisasinya, serta daftar-daftar yang merinci lebih lanjut angka-angka yang
dianggap perlu untuk dijelaskan.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
13
BAB V
AKUNTANSI PENDAPATAN, BELANJA, DAN PEMBIAYAAN
A. Akuntansi Anggaran
Akuntansi anggaran merupakan teknik pertanggungjawaban dan pengendalian
manajemen yang digunakan untuk membantu pengelolaan pendapatan, belanja,
transfer, dan pembiayaan.
Akuntansi anggaran diselenggarakan sesuai dengan struktur anggaran yang terdiri
dari anggaran pendapatan, belanja, dan pembiayaan. Anggaran pendapatan
meliputi estimasi pendapatan yang dijabarkan menjadi alokasi estimasi
pendapatan. Anggaran belanja dalam APBN terdiri dari apropriasi yang kemudian
dijabarkan menjadi otorisasi kredit anggaran (allotment) dalam bentuk DIPA.
Anggaran pembiayaan terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran
pembiayaan.
Akuntansi anggaran diselenggarakan pada saat anggaran disahkan, anggaran
dialokasikan, dan anggaran direalisasikan. Pengesahan anggaran ditandai dengan
terbitnya UU APBN. Akuntansi diselenggarakan di K/L dan di BUN. Akuntansi di
K/L dimaksudkan untuk menghasilkan Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca.
Akuntansi di tingkat BUN terutama dimaksudkan untuk menghasilkan Laporan Arus
Kas.
Akuntansi anggaran untuk UU APBN dilakukan di BUN. Ilustrasi akuntansi untuk
anggaran yang disahkan dengan UU APBN adalah:
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Estimasi Pendapatan xxx
Surplus/Defisit Xxx
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
14
Surplus Defisit
Apropriasi Belanja
xxx
Estimasi penerimaan Pembiayaan xxx
Pembiayaan Netto xxx
Pembiayaan Neto xxx
Apropriasi Pengeluaran Pembiayaan Xxx
Pada saat alokasi anggaran dituangkan dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
(DIPA), berarti K/L mempunyai hak untuk menggunakan dana maksimum sebesar
anggaran belanja yang dialokasikan dan K/L mempunyai kewajiban untuk
menyetorkan pendapatan ke BUN/Kuasa BUN sebesar alokasi estimasi
pendapatan yang dituangkan di DIPA. Pada BUN, tidak dilakukan penjurnalan.
Jurnal pengalokasian dana berupa DIPA dicatat seperti berikut:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Estimasi Pendapatan yg Dialokasikan xxx
Utang kepada KUN xxx
Piutang dari KUN xxx
Allotment Belanja xxx
Estimasi Penerimaan Pembiayaan yg
dialokasikan
xxx
Utang kepada KUN xxx
Piutang dari KUN xxx
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
15
Allotment Pengeluaran Pembiayaan xxx
B. Akuntansi Pendapatan
Pendapatan diakui pada saat kas diterima pada rekening kas umum negara.
Seperti diuraikan di atas bahwa penerimaan pendapatan dapat dilakukan melalui
bendahara penerimaan atau langsung disetor ke kas umum negara. Apabila
pendapatan lansung disetor ke kas umum negara, maka K/L akan mengakui
adanya realisasi pendapatan dan penurunan Utang kepada KUN. Oleh karena itu,
transaksi ini dicatat dengan mendebet Utang kepada KUN dan mengkredit
Pendapatan. Apabila pendapatan disetor melalui bendahara penerimaan, maka K/L
membuat catatan besarnya pendapatan tersebut dan pada tutup buku membuat
jurnal penyesuaian dengan mendebet Kas di Bendahara Penerimaan dan
mengkredit Pendapatan yang Ditangguhkan. Pendapatan yang Ditangguhkan
mencerminkan adanya kewajiban bagi K/L untuk menyetorkan pendapatan tersebut
ke rekening Kas Umum Negara. Oleh karena itu, Pendapatan yang Ditangguhkan
merupakan utang K/L kepada BUN. Apabila pendapatan tersebut disetorkan, maka
K/L mendebet Utang kepada BUN dan mengkredit Pendapatan. Selanjutnya
dilakukan jurnal balik atas penerimaan kas yang semula ditampung dalam akun
Pendapatan yang Ditangguhkan. Jurnal balik dilakukan dengan mendebet
Pendapatan yang Ditangguhkan dan mengkredit Kas di Bendahara Penerimaan.
BUN tidak melakukan pencatatan pada saat kas diterima oleh bendahara
penerimaan. BUN melakukan pencatatan pada saat kas telah disetorkan dan
diterima pada rekening Kas Umum Negara, dengan mendebet Kas Umum Negara
dan mengkredit pendapatan sesuai dengan jenisnya. Pada tanggal pelaporan perlu
dilakukan rekonsiliasi pendapatan antara K/L dan BUN.
Dokumen sumber untuk pengakuan pendapatan antara lain berupa surat tanda
setoran, nota kredit, dan bukti penerimaan lainnya yang dianggap sah.
Berikut ini ilustrasi akuntansi untuk penerimaan pendapatan pajak:
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
16
Pendapatan yang disetor ke BUN
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Utang kepada KUN xxx
Pendapatan xxx
(Buku Pembantu: sesuai dengan jenis
pajak)
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Kas Umum Negara xxx
Pendapatan .... xxx
(Buku Pembantu: sesuai dengan jenis
pajak)
Pendapatan melalui Kas Bendahara Penerimaan
K/L
Penerimaan Kas oleh Bendahara Penerimaan
(tidak membuat jurnal hanya membuat catatan besarnya penerimaan.)
Penyetoran kas oleh K/L kepada BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Utang kepada KUN xxx
Pendapatan xxx
(Buku Pembantu: sesuai dengan jenis
pajak)
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
17
Pada saat penyusunan laporan keuangan, membuat jurnal penyesuaian untuk
mencatat sisa dana yang berada pada bendahara penerimaan sebagai pendapatan
yang ditangguhkan.
BUN
Penerimaan Kas pada K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Tidak ada Jurnal
Penerimaan Setoran Kas dari K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Kas Umum Negara xxx
Pendapatan.... xxx
(Buku Pembantu: sesuai dengan jenis
pajak)
Akuntansi pendapatan dilaksanakan berdasarkan azas bruto, yaitu dengan
membukukan penerimaan bruto, dan tidak mencatat jumlah netonya (setelah
dikompensasikan dengan pengeluaran).
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Pendapatan yang Ditangguhkan xxx
Kas Bendahara Penerimaan xxx
(Buku Pembantu: sesuai dengan jenis
pajak)
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
18
Terhadap pendapatan yang berasal dari penjualan aset tetap/lainnya perlu ada
jurnal pendamping untuk mengakui penurunan aset yang bersangkutan pada K/L.
Jurnal pendamping ini sering disebut Jurnal Korolari.
Sebagai contoh:
Diterima hasil penjualan kendaraan bermotor sebesar Rp10 juta. Harga perolehan
kendaraan tersebut Rp20 juta.
Jurnal untuk mencatat transaksi tersebut adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Utang kepada KUN 10 juta
Pendapatan PNBP Lainnya 10 juta
(Untuk mencatat hasil penjualan
kendaraan)
Diinvestasikan dalam Aset Tetap 20 juta
Peralatan dan Mesin 20 juta
(Untuk mencatat mesin yang dijual)
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Kas Umum Negara 10 juta
Pendapatan 10 juta
(Untuk mencatat hasil penjualan
kendaraan)
Apabila terdapat pengembalian pendapatan maka harus dianalisis terlebih dahulu
sifat pengembalian tersebut. Pengembalian yang sifatnya normal dan berulang
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
19
(recurring) atas penerimaan pendapatan pada periode penerimaan maupun pada
periode sebelumnya dibukukan sebagai pengurang pendapatan. Koreksi dan
pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas penerimaan
pendapatan yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan dibukukan sebagai
pengurang pendapatan pada periode yang sama.
Contoh:
Berdasarkan peraturan perundang-undangan pembayaran Pajak X dibayar secara
cicilan setiap bulan berdasarkan jumlah pajak yang dibayar pada tahun
sebelumnya. Dalam tahun 2005 jumlah pajak yang sudah dibayar setap bulan
sebesar Rp1.200.000,00. Ternyata setelah diperhitungkan pada akhir tahun, pajak
yang menjadi beban perusahaan tersebut pada tahun 2005 hanya Rp1.000.000,00.
Pengembalian kelebihan pajak Rp200.000,00 ini dibayarkan pada bulan Maret
2006.
Jurnal untuk pengembalian pendapatan pada tahun 2006 tersebut adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Pendapatan Pajak 200 juta
Utang kepada KUN 200 juta
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Pendapatan Pajak 200 juta
Kas Umum Negara 200 juta
Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas
penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode penerimaan pendapatan
dibukukan sebagai pengurang pendapatan pada periode yang sama.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
20
Contoh:
Pada periode Januari sampai dengan November 2005 terdapat penerimaan
pendapatan sumber daya alam sebesar Rp100 juta. Pada bulan Desember 2005
diketemukan adanya kesalahan dan kelebihan penerimaan sebesar Rp5 juta.
Kelebihan ini dikembalikan kepada yang berhak pada bulan Desember 2005.
Jurnal untuk pengembalian pendapatan pada tahun 2005 tersebut adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Pendapatan Sumber Daya Alam 5 juta
Utang kepada KUN 5 juta
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Pendapatan Sumber Daya Alam 5 juta
Kas Umum Negara 5 juta
Koreksi dan pengembalian yang sifatnya tidak berulang (non-recurring) atas
penerimaan pendapatan yang terjadi pada periode sebelumnya dibukukan sebagai
pengurang ekuitas dana lancar pada periode ditemukannya koreksi dan
pengembalian tersebut.
Contoh:
Pada tahun 2005 terdapat penjualan tanah kementerian A seluas 1.050 m
2
dengan harga Rp1.000,00 per m
2
. Pada tahun 2005 telah diterima seluruhnya.
Pada tahun 2006 oleh pembeli dilakukan pengukuran ulang, ternyata luasnya
hanya 1.000 m
2
, sehingga Pemerintah harus mengembalikan 50 x Rp1.000,00 =
Rp50.000,00. Pada tahun 2006 tidak terjadi lagi penjualan tanah oleh pemerintah.
Pengembalian pendapatan yang diterima tahun lalu pada umumnya dibayar oleh
BUN maka transaksi ini tidak dibukukan oleh K/L. Transaksi tersebut mengurangi
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
21
ekuitas dana. Pengembalian tersebut dicatat oleh BUN dengan mendebet SILPA
dan mengkredit Kas Umum Negara.
Jurnal untuk pengembalian pendapatan pada tahun 2006 tersebut adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Tidak ada Jurnal
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
SILPA (Pengembalian Pendapatan) 50.000
Kas Umum Negara 50.000
C. Akuntansi Belanja
Dalam manajemen anggaran, pada prinsipnya belanja baru dapat dibayarkan
setelah barang/jasa yang dibeli diterima Pemerintah. Pembayaran belanja dapat
dilakukan secara langsung (LS) atau melalui dana kas kecil yang diberikan kepada
para bendahara pengeluaran.
1. Pembayaran langsung
Pembayaran diberikan secara langsung kepada yang berhak (beneficiary) jika
jumlah, peruntukan, dan penerimanya sudah pasti. Dokumen sumber untuk
merekam pembayaran ini adalah Surat Perintah Membayar dan Surat Perintah
Pencairan Dana Langsung (SP2D LS).
Contoh:
pembayaran gaji pegawai bulan Juni 2006 dengan SP2D LS sebesar Rp50
juta. Dari jumlah tersebut terdapat potongan PPh, Askes, Taspen, dan
Taperum sebesar Rp3 juta.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
22
Jurnal untuk pembayaran gaji pegawai tersebut adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Belanja Pegawai 50 juta
Piutang dari KUN 50 juta
(Untuk mencatat belanja pegawai)
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Belanja Pegawai 50 juta
Kas Umum Negara 50 juta
(Untuk mencatat belanja pegawai)
Kas Umum Negara 3 juta
Penerimaan PFK 3 juta
Potongan atas pembayaran yang dilakukan pemerintah untuk kepentingan
pihak lain dicatat sebagai penerimaan PFK, sebaliknya pada saat disetorkan
kepada pihak lain yang berhak dicatat sebagai Penyetoran PFK. Penerimaan
dan penyetoran PFK ini bukan transaksi anggaran tetapi dalam istilah
keuangan dikenal sebagai transaksi transito. Oleh karena itu
penerimaan/pengeluaran PFK tidak disajikan dalam LRA tetapi disajikan dalam
Laporan Arus Kas.
Contoh:
Apabila potongan sebesar Rp3 juta di atas dikeluarkan dari Kas Negara
sebagai pembayaran kepada pihak ketiga, misalnya Taspen, akan dijurnal:
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
23
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Pengeluaran PFK 3 juta
Kas Umum Negara 3 juta
(Untuk mencatat penyetoran PFK)
Apabila terdapat belanja untuk perolehan aset tetap atau aset lainnya, maka
pada saat terjadi pembayaran tidak hanya dilakukan pencatatan belanja tetapi
sekaligus perolehan asetnya. Pencatatan aset tetap yang diperoleh dapat
dilakukan dengan menggunakan jurnal pendamping yang seringkali dikenal
sebagai jurnal korolari.
Contoh:
Dibeli mesin fotocopy seharga Rp60 juta dari PT Tritanu dan sudah dibayar
secara langsung dengan SP2D LS pada tanggal 30 Mei 2006.
Jurnal untuk pembelian mesin fotocopy tersebut adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Belanja Modal Peralatan dan
Mesin
60 juta
Piutang dari KUN 60 juta
(Untuk mencatat realisasi belanja
modal)
Peralatan dan Mesin 60 juta
Diinvestasikan dalam Aset Tetap 60 juta
(Untuk mencatat perolehan mesin
fotocopy)
BUN
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
24
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Belanja Modal Peralatan dan
Mesin
60 juta
Kas Umum Negara 60 juta
(Untuk mencatat realisasi belanja
modal)
2. Pembayaran melalui Dana Kas Kecil
Dana kas kecil digunakan pemerintah untuk membayar keperluan sehari-hari
perkantoran. Pada dasarnya pemerintah menggunakan sistem dana tetap.
Dana kas kecil ini disebut Uang Persediaan (UP). Pada saat uang persediaan
diberikan kepada para Bendahara Pengeluaran belum membebani belanja.
Belanja baru diakui setelah pengeluaran tersebut dipertanggungjawabkan dan
disahkan oleh unit perbendaharaan, dalam hal ini Kuasa BUN, ditandai dengan
terbitnya SPM GU atau SPM GU Nihil.
Contoh:
Diberikan uang persediaan sebesar Rp10 juta kepada Sdr. Zulfikar, Bendahara
pengeluaran di Departemen Perindustrian.
Jurnal untuk pemberian uang persediaan tersebut adalah:
k/L
No. Uraian Ref Debet Kredit
Kas di Bendahara Pengeluaran 10 juta
Uang Muka dari KUN 10 juta
(Untuk mencatat pemberian uang
muka kerja)
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
25
BUN
No. Uraian Ref Debet Kredit
Pengeluaran transito 10 juta
Kas Umum Negara 10 juta
(Untuk mencatat pemberian uang
muka kerja)
Pada saat dibelanjakan oleh Bendahara Pengeluaran belum diakui sebagai
belanja. Pada saat dipertanggungjawabkan barulah diakui sebagai belanja.
Dengan sistem dana tetap, maka dalam tahun berjalan kepada K/L akan
diberikan SP2D GU sebagai pengganti uang yang telah dibelanjakan sehingga
UP di Bendahara Pengeluaran kembali ke jumlah UP semula.
Contoh:
Dari UP telah dibelanjakan Rp8 juta untuk biaya perjalanan dinas. Pengeluaran
tersebut dipertanggungjawabkan ke BUN/Kuasa BUN dan setelah diverifikasi
pengeluaran tersebut disetujui. Selanjutnya diberikan pengganti dengan
menerbitkan SP2D-GU sebesar Rp8 juta.
Jurnal untuk pertanggungjawaban UP serta penggantian tersebut adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Belanja Barang 8 juta
Piutang dari KUN 8 juta
(Untuk mencatat belanja perjalanan
dinas)
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
26
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Belanja Barang 8 juta
Kas Umum Negara 8 juta
Dalam hal terdapat kebutuhan pengeluaran kas yang besar, melebihi UP yang
tersedia, SKPD dapat mengajukan permintaan tambahan uang persediaan
(TUP) kepada BUD. Perlakuan akuntansi TUP ini adalah seperti dana kas kecil
dengan sistem dana berfluktuasi. TUP ini harus dipertanggungjawabkan dalam
waktu 1 (satu) bulan. Terhadap TUP yang telah dipertanggungjawabkan tidak
diberikan penggantian. Sebagai pengesahan atas pertanggungjawaban TUP
diterbitkan SP2D GU Nihil.
Contoh:
Diberikan TUP Rp 25 juta kepada Bendahara Pengeluaan Departemen
Perdagangan.
Jurnal untuk pemberian TUP adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Kas di Bendahara Pengeluaran 25 juta
Uang Muka dari KUN 25 juta
(Untuk mencatat TUP)
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
27
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Pengeluaran Transito 25 juta
Kas Umum Negara 25 juta
(Untuk mencatat TUP)
Dari TUP tersebut telah dikeluarkan untuk belanja perjalanan dan telah
dipertanggungjawabkan sebesar Rp20 juta dan telah diterbitkan SP2D GU
Nihil.
K/L
untuk mengakui realisasi belanja
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Belanja Barang 20 juta
Piutang dari KUN 20 juta
(Untuk mencatat belanja perjalanan
dinas)
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Belanja Barang 20 juta
Kas Umum Negara 20 juta
Pemerintah pada umumnya mengeluarkan ketentuan tentang batas akhir
penerbitan SP2D GU sebagai pengganti UP yang telah dikeluarkan oleh
Bendahara Pengeluaran. Pertanggungjawaban atas pengeluaran UP yang
telah melewati batas akhir penerbitan SP2D GU tidak diberikan penggantian
kas. Pengesahan atas pertanggungjawaban pengeluaran akan diterbitkan
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
28
SP2D GU Nihil. Sisa UP pada akhir tahun anggaran disetor kembali ke
rekening Kas Umum Negara. Sebagai bukti penyetoran akan diperoleh Surat
Tanda Setoran (STS). Demikian pula sisa TUP, apabila kegiatan sudah selesai
maka sisa TUP harus disetor kembali ke rekening Kas Umum Negara.
Contoh:
Dari UP sejumlah Rp10 juta telah dibelanjakan Rp9 juta untuk belanja barang
dan jasa. Pengeluaran ini dipertanggungjawabkan pada tanggal 27 Desember
2005. Terhadap pengeluaran ini tidak diberikan penggantian UP, tetapi
diterbitkan SPM dan SP2D GU Nihil.
Jurnal SPM dan SP2D GU Nihil, adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Belanja Barang 9 juta
Piutang dari KUN 9 juta
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Belanja Barang 9 juta
Kas Umum Negara 9 juta
Terhadap sisa UP akan disetor kembali ke rekening Kas Umum Negara.
Contoh:
Sisa UP untuk contoh di atas adalah Rp1 juta. Jumlah tersebut disetor ke Kas
Negara pada tanggal 2 Januari 2006.
Jurnal untuk setoran sisa UP adalah:
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
29
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Uang Muka dari KUN 1 juta
Kas di Bendahara Pengeluaran 1 juta
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Kas Umum Negara 1 juta
Penerimaan Transito 1 juta
3. Penerimaan Kembali Belanja
Walaupun pembayaran belanja telah dilakukan secara hati-hati, namun
kadang-kadang terjadi kesalahan/kelebihan sehingga ada koreksi atau
penerimaan kembali belanja di kemudian hari. Koreksi atas pengeluaran
belanja (penerimaan kembali belanja) yang terjadi pada periode pengeluaran
belanja dibukukan sebagai pengurang belanja pada periode yang sama.
Apabila diterima pada periode berikutnya, koreksi atas pengeluaran belanja
dibukukan dalam Pendapatan Bukan Pajak Lainnya.
Contoh 1:
Pada bulan Juni 2006 diterima kembali belanja pegawai bulan Maret 2006
sejumlah Rp2 juta.
Jurnal untuk penerimaan kembali belanja tersebut adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Piutang dari KUN 2 juta
Belanja Pegawai 2 juta
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
30
(Untuk mencatat penerimaan
kembali belanja pegawai)
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Kas Umum Negara 2 juta
Belanja Pegawai 2 juta
(Untuk mencatat penerimaan
kembali belanja pegawai)
Contoh 2:
Pada bulan Juni 2006 diterima pengembalian belanja perjalanan dinas
sejumlah Rp5 juta dari seorang pegawai yang dibayarkan pada tahun 2005.
Jurnal untuk penerimaan kembali belanja tersebut adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Utang kepada KUN 5 juta
Pendapatan Bukan Pajak
lainnya
5 juta
(Untuk mencatat penerimaan
kembali belanja perjalanan dinas
tahun lalu)
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Kas Umum Negara 5 juta
Pendapatan Bukan Pajak
lainnya
5 juta
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
31
(Untuk mencatat penerimaan
kembali belanja perjalanan dinas
tahun lalu)
D. Akuntansi Surplus/Defisit
Surplus adalah selisih lebih antara pendapatan dan belanja selama satu periode
pelaporan. Defisit adalah selisih kurang antara pendapatan dan belanja selama
satu periode pelaporan. Selisih lebih/kurang antara pendapatan dan belanja
selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos Surplus/Defisit. Surplus/defisit
diperoleh melalui jurnal penutup pendapatan dan belanja. Perhitungan
Surplus/defisit dilakukan melalui jurnal penutup pada saat dilakukan proses
penggabungan di BUN. Di K/L tidak dilakukan penandingan antara pendapatan dan
belanja sehingga tidak ada surplus/defisit.
Dalam ilustrasi ini digunakan pendekatan penutupan akun secara berjenjang. Di
K/L, akun realisasi anggaran ditutup ke akun alokasi anggaran dalam DIPA.
Contoh:
Estimasi pendapatan di DIPA kementerian A Rp10 juta dan realisasi pendapatan
Rp9 juta. Allotment Belanja sebesar Rp20 juta dan realisasi belanja Rp18 juta.
Jurnal penutup di K/L adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Pendapatan 9 juta
Utang kepada KUN 1 juta
Estimasi Pendapatan yang
dialokasikan
10 juta
Allotment Belanja 20 juta
Piutang dari KUN 2 juta
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
32
Belanja 18 juta
Selanjutnya penutupan akun pendapatan dan belanja serta anggarannya di BUN
dapat diilustrasikan berikut ini.
Contoh:
Estimasi Pendapatan Rp1.000 miliar dan realisasi Pendapatan Rp950 miliar.
Sementara Apropriasi Belanja Rp1.250 miliar dan Realisasi Belanja Rp1.100 miliar.
Jurnal Penutup
(Rp miliar)
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Des 31 Apropriasi Belanja 1.250
Belanja 1.100
Surplus/Defisit 150
Des 31 Pendapatan 950
Surplus/Defisit 50
Estimasi Pendapatan 1.000
Des 31 Surplus/Defisit 100
Silpa 100
E. Akuntansi Pembiayaan
Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah, baik
penerimaan maupun pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima kembali,
yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup
defisit dan/atau memanfaatkan surplus anggaran. Transaksi pembiayaan dapat
berupa transaksi penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
33
1. Akuntansi Penerimaan Pembiayaan
Penerimaan pembiayaan adalah semua penerimaan kas umum negara antara
lain berasal dari penerimaan pinjaman, penjualan obligasi pemerintah, hasil
privatisasi BUMN, penerimaan kembali pinjaman yang diberikan kepada fihak
ketiga, dan penjualan investasi permanen lainnya. Penerimaan pembiayaan
diakui pada saat diterima di Kas Umum Negara.
Terhadap setiap penerimaan pembiayaan dibuat 2 (dua) jurnal. Pertama, untuk
mengakui realisasi penerimaan anggaran, kedua, jurnal korolari untuk
mengakui akun neraca terkait yang dipengaruhi transaksi tersebut.
Sesuai dengan Pasal 7 ayat (2) huruf h, j, k, dan l UU 1/2004, bahwa
Bendahara Umum Negara berwenang untuk:
menempatkan uang negara dan mengelola/menatausahakan investasi;
menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian jaminan atas nama
pemerintah;
melaksanakan pemberian pinjaman atas nama pemerintah;
melakukan pengelolaan utang dan piutang negara.
Berdasarkan kewenangan tersebut, transaksi-transaksi yang berkaitan dengan
pembiayaan dicatat dan dibukukan oleh Bendahara Umum Negara.
Contoh:
Pada tahun 2006 diterima pinjaman dari Pemerintah Jepang sejumlah Rp500
juta. Pinjaman ini merupakan pinjaman jangka panjang, yang akan diangsur
selama 5 tahun mulai tahun 2008.
Jurnal untuk penerimaan pinjaman tersebut adalah:
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
34
Kas umum Negara 500 juta
Penerimaan Pinjaman 500 juta
Dana yg harus disediakan
untuk pembayaran utang jk
panjang
500 juta
Utang LN 500 juta
K/L (Unit Penanggung Jawab Pembiayaan)
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Hutang Kepada KUN 500 juta
Penerimaan Pinjaman 500 juta
2. Akuntansi Pengeluaran Pembiayaan
Pengeluaran pembiayaan adalah semua pengeluaran kas umum negara
karena memberikan pinjaman kepada pihak ketiga, penyertaan modal
pemerintah, dan pembayaran kembali pokok pinjaman dalam periode tahun
anggaran tertentu. Pengeluaran pembiayaan diakui pada saat dikeluarkannya
kas umum negara.
Contoh:
Dikeluarkan uang sejumlah Rp100 juta sebagai penyertaan modal pada BUMN.
Jurnal untuk pengeluaran penyertaan modal pada BUMN tersebut adalah:
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
35
Pengeluaran Penyertaan Modal
Pemerintah
100 juta
Kas Umum Negara 100 juta
(Untuk mencatat penyertaan
modal pada BUMN)
K/L (Unit Penanggung Jawab Pembiayaan)
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Pengeluaran Penyertaan Modal
Pemerintah
500 juta
Piutang dari KUN 500 juta
Penyertaan Modal Pemerintah 100 juta
Diinvestasikan dalam
Investasi Jk Panjang
100 juta
(Untuk mencatat penyertaan
modal pada BUMN)
3. Akuntansi Pembiayaan Neto
Pembiayaan neto adalah selisih antara penerimaan pembiayaan setelah
dikurangi pengeluaran pembiayaan dalam periode tahun anggaran tertentu.
Selisih lebih/kurang antara penerimaan dan pengeluaran pembiayaan selama
satu periode pelaporan dicatat dalam pos Pembiayaan Neto.
Contoh:
Selama satu tahun anggaran, anggaran penerimaan pembiayaan adalah
Rp250 juta dan realisasi penerimaan pembiayaan berasal dari penerimaan
pinjaman sejumlah Rp200 juta, sedangkan anggaran pengeluaran pembiayaan
Rp300 juta dan pengeluaran pembiayaan hanya untuk penyertaan modal
sejumlah Rp250 juta.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
36
Jurnal penutupnya adalah:
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Penerimaan Pinjaman 200 juta
Pembiayaan Neto 50 juta
Pengeluaran Penyertaan
Modal
250 juta
(Untuk menutup penerimaan
dan pengeluaran pembiayaan)
K/L (Penanggung Jawab Pembiayaan)
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Penerimaan Pinjaman 200 juta
Hutang Kepada KUN 50 juta
Estimasi Penerimaan
Pembiayaan yang
dialokasikan
250 juta
(Untuk menutup penerimaan)
Allotment Pengeluaran
Pembiayaan
300 juta
Pengeluaran Penyertaaan
Modal
250 juta
Piutang dari KUN 50 juta
F. Akuntansi Sisa Lebih/Kurang Pembiayaan Anggaran
Selisih lebih/kurang pembiayaan anggaran (SILPA/SIKPA) adalah selisih
lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan pengeluaran selama satu periode
pelaporan. Selisih lebih/kurang antara realisasi penerimaan dan pengeluaran
selama satu periode pelaporan dicatat dalam pos SILPA/SIKPA.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
37
SILPA/SIKPA diperoleh dari penutupan akun Surplus/Defisit dan Pembiayaan Neto
pada akhir tahun anggaran.
Contoh:
Surplus/defisit pada contoh di atas bersaldo kredit Rp100 juta sedangkan
Pembiayaan Neto bersaldo debet Rp50 juta.
Jurnal penutupnya adalah:
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Surplus/Defisit 100 juta
Pembiayaan Neto 50 juta
SILPA 50 juta
(Untuk menutup Surplus/defisit dan
Pembiayaan neto)
G. Transaksi Pendapatan, Belanja, dan Pembiayaan Berbentuk Barang
Transaksi pendapatan, belanja, dan pembiayaan dalam bentuk barang/aset harus
dilaporkan dalam LRA dengan cara menaksir nilai aset tersebut pada tanggal
transaksi. Berhubung transaksi ini harus dicatat sebagai pendapatan dan belanja
atau pembiayaan, maka perlu dibuatkan dokumen anggaran sebagai pendapatan,
belanja, atau pembiayaan sebagai dokumen pengesahan anggaran. Berdasarkan
dokumen pengesahan inilah dibuat jurnal untuk mencatat transaksi ini. Berhubung
transaksi ini tidak melibatkan arus kas maka transaksi ini tidak dilaporkan dalam
Laporan Arus Kas.
Di samping itu, transaksi semacam ini juga harus diungkapkan sedemikian rupa
pada Catatan atas Laporan Keuangan sehingga dapat memberikan semua
informasi yang relevan mengenai bentuk dari pendapatan, belanja, dan
pembiayaan yang diterima. Contoh transaksi berwujud barang adalah hibah dalam
wujud barang dan barang rampasan.
Contoh:
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
38
Diterima hibah dari UNICEF sebuah mobil ambulance seharga Rp200 juta.
Jurnal penerimaan hibah berupa barang ini adalah:
K/L
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Utang kepada KUN 200 juta
Pendapatan Hibah 200 juta
Belanja Modal Peralatan dan
Mesin
200 juta
Piutang dari KUN 200 juta
Peralatan dan Mesin 200 juta
Diinvestasikan dalam Aset
Tetap
200 juta
BUN
Tanggal Uraian Ref Debet Kredit
Belanja Modal Peralatan dan
Mesin
200 juta
Pendapatan Hibah 200 juta
LAPORAN REALISASI ANGGARAN
PEMERINTAH PUSAT
UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0
(Dalam Rupiah)
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
39
NO. URAIAN
Anggaran
20X1
Realisasi
20X1
(%)
Realisasi
20X0
1 PENDAPATAN
2 PENDAPATAN PERPAJAKAN
3 Pendapatan Pajak Penghasilan xxx xxx xx xxx
4
Pendapatan Pajak Pertambahan Nilai dan
Penjualan Barang Mewah xxx xxx xx xxx
5 Pendapatan Pajak Bumi dan Bangunan xxx xxx xx xxx
6
Pendapatan Bea Perolehan Hak atas
Tanah dan Bangunan xxx xxx xx xxx
7 Pendapatan Cukai xxx xxx xx xxx
8 Pendapatan Bea Masuk xxx xxx xx xxx
9 Pendapatan Pajak Ekspor xxx xxx xx xxx
10 Pendapatan Pajak Lainnya xxx xxx xx xxx
11
Jumlah Pendapatan Perpajakan (3
s/d 10) xxx xxx xx xxx
12
13 PENDAPATAN NEGARA BUKAN PAJAK
14 Pendapatan Sumber Daya Alam xxx xxx xx xxx
15 Pendapatan Bagian Pemerintah atas Laba xxx xxx xx xxx
16 Pendapatan Negara Bukan Pajak Lainnya xxx xxx xx xxx
17
Jumlah Pendapatan Negara Bukan
Pajak (14 s/d 16) xxx xxx xx xxx
18
19 PENDAPATAN HIBAH
20 Pendapatan Hibah xxx xxx xx xxx
21
Jumlah Pendapatan Hibah (20 s/d
20) xxx xxx xx xxx
22
JUMLAH PENDAPATAN (11
+ 17 + 21) xxx xxx xx xxx
23
24 BELANJA
25 BELANJA OPERASI
26 Belanja Pegawai xxx xxx xx xxx
27 Belanja Barang xxx xxx xx xxx
28 Bunga xxx xxx xx xxx
29 Subsidi xxx xxx xx xxx
30 Hibah xxx xxx xx xxx
31 Bantuan Sosial xxx xxx xx xxx
32 Belanja Lain-lain xxx xxx xx xxx
33 Jumlah Belanja Operasi (26 s/d 32) xxx xxx xx xxx
34
35 BELANJA MODAL xxx xxx xx xxx
36 Belanja Tanah xxx xxx xx xxx
37 Belanja Peralatan dan Mesin xxx xxx xx xxx
38 Belanja Gedung dan Bangunan xxx xxx xx xxx
39 Belanja Jalan, Irigasi dan Jaringan xxx xxx xx xxx
40 Belanja Aset Tetap Lainnya xxx xxx xx xxx
41 Belanja Aset Lainnya xxx xxx xx xxx
42 Jumlah Belanja Modal (36 s/d 41) xxx xxx xx xxx
43
JUMLAH BELANJA (33 +
42) xxx xxx xx xxx
44
45 TRANSFER
46 DANA PERIMBANGAN
47 Dana Bagi Hasil Pajak xxx xxx xx xxx
48 Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam xxx xxx xx xxx
49 Dana Alokasi Umum xxx xxx xx xxx
50 Dana Alokasi Khusus xxx xxx xx xxx
51 Jumlah Dana Perimbangan (47 s/d xxx xxx xx xxx
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
40
50)
52
53
TRANSFER LAINNYA (disesuaikan dengan
program yang ada)
54 Dana Otonomi Khusus xxx xxx xx xxx
55 Dana Penyesuaian xxx xxx xx xxx
56 Jumlah Transfer Lainnya (54 s/d 55) xxx xxx xx xxx
57
JUMLAH TRANSFER (51 +
56) xxx xxx xx xxx
58
JUMLAH BELANJA DAN
TRANSFER (43 + 57) xxx xxx xx xxx
59
60
SURPLUS / DEFISIT (22 -
58) xxx xxx xx xxx
61 PEMBIAYAAN
62 PENERIMAAN
63 PENERIMAAN PEMBIAYAAN DALAM NEGERI
64 Penggunaan SiLPA xxx xxx xx xxx
65
Penerimaan Pinjaman Dalam Negeri -
Sektor Perbankan xxx xxx xx xxx
66
Penerimaan Pinjaman Dalam Negeri
Obligasi xxx xxx xx xxx
67
Penerimaan Pinjaman Dalam Negeri
Lainnya xxx xxx xx xxx
68 Penerimaan dari Divestasi xxx xxx xx xxx
69
Penerimaan Kembali Pinjaman kepada
Perusahaan Negara xxx xxx xx xxx
70
Penerimaan Kembali Pinjaman kepada
Perusahaan Daerah xxx xxx xx xxx
71
Jumlah Penerimaan Pembiayaan
Dalam Negeri (64 s/d 70) xxx xxx xx xxx
72
73 PENERIMAAN PEMBIAYAAN LUAR NEGERI
74 Penerimaan Pinjaman Luar Negeri xxx xxx xx xxx
75
Penerimaan Kembali Pinjaman kepada
Lembaga Internasional xxx xxx xx xxx
76
Jumlah Penerimaan Pembiayaan
Luar Negeri (74 s/d 75) xxx xxx xx xxx
77
JUMLAH PENERIMAAN
PEMBIAYAAN (71 + 76) xxx xxx xx xxx
78
79 PENGELUARAN
80
PENGELUARAN PEMBIAYAAN DALAM
NEGERI
81
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam
Negeri - Sektor Perbankan xxx xxx xx xxx
82
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam
Negeri - Obligasi xxx xxx xx xxx
83
Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam
Negeri - Lainnya xxx xxx xx xxx
84
Pengeluaran Penyertaan Modal Pemerintah
(PMP) xxx xxx xx xxx
85
Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan
Negara xxx xxx xx xxx
86
Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan
Daerah xxx xxx xx xxx
87
Jumlah Penerimaan Pembiayaan
Dalam Negeri (81 s/d 86) xxx xxx xx xxx
88
89 PENGELUARAN PEMBIAYAAN LUAR NEGERI xxx xxx xx xxx
90 Pembayaran Pokok Pinjaman Luar Negeri xxx xxx xx xxx
91
Pemberian Pinjaman kepada Lembaga
Internasional xxx xxx xx xxx
92
Jumlah Pengeluaran Pembiayaan
Luar Negeri (90 s/d 91) xxx xxx xx xxx
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
41
93
JUMLAH PENGELUARAN
PEMBIAYAAN (87 + 92) xxx xxx xx xxx
94
PEMBIAYAAN NETO (77
93) xxx xxx xx xxx
95 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (60 + 94) xxx xxx xx xxx
DAFTAR BACAAN
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Realisasi Anggaran
42
1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;
2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. PP No. 14/2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah,
sebagaimana telah diubah dengan PP No. 33/2006;
6. PP No. 20/2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah;
7. PP No. 21/2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian
Negara/ Lembaga;
8. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
9. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
10. PP No. 65/2005 tentang Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Penyusunan
dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal;
11. PP No. 2/2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan
Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri;
12. PP No. 6/2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;
13. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;
14. PP No. 8/2007 tentang Investasi Pemerintah;
15. PP No. 39/2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah;
STANDARAKUNTANSI
PEMERINTAHAN
PSAP NOMOR 03
LAPORAN ARUS KAS
JULI 2009
ii
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN 1
A Latar Belakang 1
B Tujuan Pembelajaran 1
C Deskripsi Ringkas 2
D Metode Pembelajaran 2
BAB II PENGERTIAN DAN MANFAAT LAPORAN ARUS KAS 3
A Pengertian 3
B Manfaat Arus Kas 4
BAB III BENTUK DAN STRUKTUR LAPORAN ARUS KAS 6
A Aktivitas Operasi 6
B Aktivitas Investasi Aset Nonkeuangan 7
C Aktivitas Pembiayaan 7
D Aktivitas Nonanggaran 8
BAB IV PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN 9
A Entitas Penyaji Laporan Keuangan 9
B Metode Penyajian Laporan Arus Kas 9
C Hubungan Laporan Arus Kas dan Neraca 10
Soal Latihan 12
Daftar Bacaan 13
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Komponen laporan keuangan yang disyaratkan Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP) terdiri dari Neraca, Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus
Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Penyajian keempat komponen secara
umum diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (PSAP) 01. Pos-pos
neraca diatur dalam PSAP 05, PSAP 06, PSAP 07, PSAP 08, PSAP 09. Laporan
Realisasi Anggaran diatur secara khusus dalam PSAP 02, Laporan Arus Kas diatur
secara khusus dalam PSAP 03, dan Catatan atas Laporan Keuangan diatur secara
khusus dalam PSAP 04.
Modul ini membahas mengenai Laporan Arus Kas sesuai dengan PSAP 03.
Laporan Arus Kas merupakan laporan keuangan yang memberikan informasi historis
mengenai perubahan kas dan setara kas suatu entitas pelaporan dengan
mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset
nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran selama satu periode akuntansi.
Laporan Arus Kas mempunyai kekhususan. Laporan tersebut menggambarkan
saldo awal kas, perubahan selama periode tertentu, dan saldo akhir. Dalam Laporan
Arus Kas disajikan seluruh arus masuk dan keluar kas serta saldo baik yang berasal
dari transaski yang berhubungan dengan anggaran maupun yang tidak. Laporan ini
juga hanya disajikan oleh unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan
Tujuan pelaporan arus kas adalah memberikan informasi mengenai sumber,
penggunaan, perubahan kas dan setara kas selama suatu periode akuntansi dan saldo
kas dan setara kas pada tanggal pelaporan. Informasi ini disajikan untuk
pertanggungjawaban dan pengambilan keputusan.
B. Tujuan Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran Umum
Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. memahami Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP)
2. mampu mengimplementasikan SAP dalam menyusun dan menyajikan Laporan
Keuangan
Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan peserta mampu:
1. memahami pengertian Kas dan Setara Kas serta manfaat informasi Laporan
Arus Kas;
2. mengetahui bentuk dan struktur Laporan Arus Kas;
3. memahami dasar pengklasifikasian penyajian Laporan Arus Kas;
4. mengetahui entitas pelaporan arus kas;
5. memahami metode penyajian Laporan Arus Kas;
6. menyajikan Laporan Arus Kas.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 2
C. Deskripsi Singkat
Laporan Arus Kas merupakan salah satu komponen laporan keuangan
pemerintah. Laporan ini menggambarkan arus masuk dan arus keluar kas selama satu
periode, kemudian dihubungkan dengan saldo kas awal dan akhir periode. Arus kas
diklasifikasikan berdasarkan aktivitas-aktivitas. Laporan Arus Kas berhubungan
dengan Laporan Realisasi Anggaran dan Neraca.
D. Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran dalam pelatihan ini dilakukan dengan cara pemaparan
teori yang diikuti dengan tanya jawab serta diskusi soal-soal latihan dan contoh kasus
yang bertalian dengan penyusunan Laporan Arus Kas.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 3
BAB II
PENGERTIAN DAN MANFAAT LAPORAN ARUS KAS
A. Pengertian
Laporan Arus Kas merupakan laporan yang menyajikan informasi mengenai
penerimaan dan pengeluaran kas melalui kas umum negara/kas daerah selama
periode tertentu. Pada dasarnya aktivitas keuangan pemerintah sebagian besar
merupakan penerimaan dan pengeluaran kas negara/daerah dalam rangka
pencapaian sasaran-sasaran yang ditetapkan. Bahkan penentuan adanya hak dan
kewajiban pemerintah diakui pada saat kas diterima atau dikeluarkan dari kas umum
negara/kas daerah. Hal ini sesuai dengan basis yang dianut yaitu basis kas menuju
akrual.
Laporan Arus Kas menggambarkan arus masuk dan arus keluar kas dan setara
kas. Arus kas masuk dapat berasal dari penerimaan tunai pendapatan, penjualan aset
tetap, pencairan dana cadangan, penjualan kekayaan negara yang dipisahkan,
pinjaman bahkan penerimaan atas potongan pembayaran yang dilakukan pemerintah
(PFK). Arus kas keluar misalnya pembayaran tunai belanja pegawai, belanja modal,
pembayaran cicilan hutang, pemberian pinjaman, pembentukan dana cadangan,
penyertaan modal pemerintah, dan penyetoran kepada pihak ketiga (PFK) atas
pemotongan yang telah dilakukan.
Penerimaan dan pengeluaran kas dalam Laporan Arus Kas disajikan
berdasarkan aktivitas-aktivitas keuangan pemerintahan. Penerimaan dan pengeluaran
dikelompokkan berdasarkan aktivitas tersebut. Aktivitas tersebut terdiri dari aktivitas
operasi, investasi aset nonkeuangan, aktivitas pembiayaan, dan aktivitas
nonanggaran. Hal ini berbeda dengan penyajian yang ada dalam Laporan Realisasi
Anggaran.
Pada dasarnya penerimaan dan pengeluaran yang tercantum dalam Laporan
Arus Kas sama dengan penerimaan dan pengeluaran yang ada dalam Laporan
Realisasi Anggaran. Pendapatan dan belanja juga penerimaan dan pengeluaran
pembiayaan seperti yang tercantum dalam Laporan Realisasi Anggaran diakui
berdasarkan penerimaan dan pengeluaran kas di kas negara/daerah. Hal ini
disebabkan basis yang dianut dalam penyajian Laporan Realisasi Anggaran yaitu basis
kas.
Akan tetapi ada transaksi keuangan pemerintah yang menimbulkan
penerimaan dan pengeluaran kas tetapi tidak dianggarkan. Artinya transaksi tersebut
tidak tercantum dalam Laporan Realisasi Anggaran. Transaksi atau aktivitas ini disebut
transaksi nonanggaran. Transaksi ini sebenarnya merupakan penerimaan kas untuk
dan atas nama pihak lain yang harus diserahkan kepada pihak tersebut. Oleh karena
itu transaksi ini disebut transaksi perhitungan pihak ketiga (PFK). Misalnya, bendahara
satker diwajibkan memungut iuran askes dari gaji yang dsibayarkan. Pemungutan
tersebut untuk dan atas nama PT ASKES dan harus disetor kepada PT ASKES melalui
kas negara. Transaksi ini merupakan arus masuk dan keluar kas dan mempengaruhi
posisi kas tetapi tidak masuk dalam Laporan Realisasi Anggaran.
Transaksi nonanggaran menjadi faktor yang membedakan substansi Laporan
Realisasi Anggaran dan Laporan Arus Kas. Hal lain yang membedakan adalah
penyajian. Penerimaan dan pengeluaran kas dalam Laporan Realisasi Anggaran
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 4
diklasifikasikan berdasarkan jenis belanja sedangkan penyajian dalam Laporan Arus
Kas diklasifikasikan berdasarkan aktivitas keuangan pemerintahan.
Pengertian kas dan setara kas yang ada dalam Laporan Arus Kas sama
dengan pengertian kas dan setara kas dalam neraca. Saldo-saldo yang ditunjukkan
dalam Laporan Arus Kas harus menunjukkan jumlah yang sama dalam neraca.
B. Manfaat Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas bermanfaat untuk berbagai kepentingan. Informasi arus
masuk dan keluar kas dalam Laporan Arus Kas berguna untuk melihat transaksi kas di
masa lalu dan memprediksi arus kas di masa yang akan datang. Dalam paragraf 5, 6,
dan 7 PSAP 03 mengungkapkan bahwa Laporan Arus Kas berguna:
- sebagai indikator jumlah arus kas di masa yang akan datang, serta berguna untuk
menilai kecermatan atas taksiran arus kas yang telah dibuat sebelumnya;
- sebagai alat pertanggung-jawaban arus kas masuk dan arus kas keluar selama
periode pelaporan;
- memberikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna laporan dalam
mengevaluasi perubahan kekayaan bersih/ekuitas dana suatu entitas pelaporan
dan struktur keuangan pemerintah (termasuk likuiditas dan solvabilitas).
Realisasi arus kas dapat dijadikan sebagai indikator arus kas di masa yang
akan datang. Kejadian yang akan datang dapat diperkirakan dari realisasi yang terjadi
saat ini. Perkiraan atau prediksi ini akan lebih baik kalau didasarkan pada data masa
lalu lebih dari satu. Data lebih dari satu ini dapat disusun dalam bentuk analisis
kecenderungan (trend) untuk mendapatkan perkiraan yang lebih tepat. Arus kas dapat
digunakan dalam analisis trend untuk memperkirakan arus kas di masa yang akan
datang.
Arus kas merupakan transaksi penting dalam pemerintahan. Arus kas keluar
dan masuk merupakan prediksi sebelum terjadi. Sebuah Laporan Arus Kas
menunjukkan realisasi arus kas yang diprediksi sebelumnya. Oleh karena itu, Laporan
Arus Kas yang disusun dapat dijadikan untuk menilai kecermatan taksiran yang telah
dibuat sebelumnya.
Penerimaan dan penggunaan kas sebenarnya direncanakan dan disepakati
dari awal. Jenis-janis penerimaan dan pengeluaran yang ada dalam Laporan Realisasi
Anggaran juga merupakan kesepakatan adanya penerimaan dan pengeluaran kas
untuk berbagai aktivitas. Oleh karena itu penyajian laporan Arus Kas juga merupakan
bentuk pertanggungjawaban.
Laporan Arus Kas sebagai pertanggungjawaban terkait juga dengan fungsi
yang menyajikannya. Laporan Arus Kas dibuat oleh unit yang memegang fungsi
perbendaharaan. Fungsi perbendaharaan yang dimaksud adalah Bendahara Umum
Negara sehingga merupakan bentuk pertanggungjawaban Bendahara Umum Negara.
Informasi mengenai arus kas juga dapat dijadikan bahan evaluasi aktiva bersih
atau ekuitas. Peningkatan jumlah kas akan meningkatkan juga ekuitas. Kas Umum
Negara dan Kas di Bendahara Pengeluaran akan dapat dilihat dalam rekening
kelompok ekuitas yaitu SiLPA. Sementara itu, Kas di Bendahara Penerimaan juga
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 5
dapat dilihat dalam kelompok ekuitas tetapi dengan nama akun Pendapatan
Ditangguhkan. Hal ini merupakan pencerminan konsep rekening yang saling
menyeimbangkan (self balancing account).
Klasifikasi arus kas menurut aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan,
pembiayaan, dan non anggaran memberikan informasi yang memungkinkan para
pengguna laporan untuk menilai pengaruh dari aktivitas tersebut terhadap posisi kas
dan setara kas pemerintah. Informasi tersebut juga dapat digunakan untuk
mengevaluasi hubungan antar aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan,
pembiayaan, dan nonanggaran.
Satu transaksi tertentu dapat mempengaruhi arus kas dari beberapa aktivitas,
misalnya transaksi pelunasan utang yang terdiri dari pelunasan pokok utang dan
bunga utang. Pembayaran pokok utang akan diklasifikasikan ke dalam aktivitas
pembiayaan sedangkan pembayaran bunga utang akan diklasifikasikan ke dalam
aktivitas operasi.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 6
BAB III
BENTUK DAN STRUKTUR LAPORAN ARUS KAS
Bentuk dan struktur Laporan Arus Kas merupakan kerangka atau acuan dalam
penyajian Laporan Arus Kas. Bentuknya terdiri dari uraian berbagai aktivitas yang
disajikan secara stafel diurutkan dari atas ke bawah. Penyajian didahului dengan arus
kas masuk dan keluar berbagai aktivitas. Kemudian disajikan saldo awal dan saldo
akhir kas.
Struktur Laporan Arus Kas terdiri dari arus masuk dan keluar kas berbagai
aktivitas. Dari arus masuk dan arus masuk setiap aktivitas akan diperoleh arus kas
bersih dari setiap aktivitas. Arus kas bersih setiap aktivitas dijumlahkan sehingga
diperoleh kenaikan atau penurunan kas. Jika arus penjumlahan arus kas bersih setiap
aktivitas positif berarti ada kenaikan kas. Sebaliknya jika penjumlahan arus kas bersih
setiap aktivitas negatif maka terjadi penurunan kas. Kenaikan atau penurunan kas
akan ditambahkan dengan saldo akhir sehingga diperoleh saldo akhir. Saldo akhir
yang dihasilkan dari penjumlahan ini harus sama dengan yang tercatat di neraca untuk
masing-masing akun yang berkaitan.
Aktivitas yang dijadikan dasar dalam penyajian Laporan Arus Kas terdiri dari
aktivitas operasi, investasi aset nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran.
Aktivitas operasi adalah aktivitas penerimaan dan pengeluaran kas yang ditujukan
untuk kegiatan operasional pemerintah selama satu periode akuntansi.
Aktivitas investasi aset nonkeuangan adalah aktivitas penerimaan dan
pengeluaran kas yang ditujukan untuk perolehan dan pelepasan aset tetap dan aset
nonkeuangan lainnya. Aktivitas pembiayaan adalah aktivitas penerimaan kas yang
perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran kas yang akan diterima kembali yang
mengakibatkan perubahan dalam jumlah dan komposisi investasi jangka panjang,
piutang jangka panjang, dan utang pemerintah sehubungan dengan pendanaan defisit
atau penggunaan surplus anggaran. Aktivitas nonanggaran adalah aktivitas
penerimaan dan pengeluaran kas yang tidak mempengaruhi anggaran pendapatan,
belanja, transfer, dan pembiayaan pemerintah.
Aktivitas-aktivitas dalam penyajian Laporan Arus Kas diuraikan lebih rinci
sebagai berikut:
A. Aktivitas Operasi
Arus kas bersih aktivitas operasi merupakan indikator yang menunjukkan
kemampuan operasi pemerintah dalam menghasilkan kas yang cukup untuk
membiayai aktivitas operasionalnya di masa yang akan datang tanpa mengandalkan
sumber pendanaan dari luar.
Arus masuk kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari:
1. Penerimaan Perpajakan;
2. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP);
3. Penerimaan Hibah;
4. Penerimaan Bagian Laba perusahaan negara dan Investasi Lainnya; dan
5. Transfer masuk.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 7
Arus keluar kas untuk aktivitas operasi terutama digunakan untuk pengeluaran:
1. Belanja Pegawai;
2. Belanja Barang;
3. Bunga;
4. Subsidi;
5. Bantuan Sosial;
6. Hibah;
7. Belanja Lain-lain; dan
8. Transfer keluar.
Jika suatu entitas pelaporan mempunyai surat berharga yang sifatnya sama
dengan persediaan, yang dibeli untuk dijual, maka perolehan dan penjualan surat
berharga tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi.
Jika suatu entitas mendapatkan otorisasi dana untuk suatu kegiatan yang
peruntukannya belum jelas apakah sebagai modal kerja, penyertaan modal, atau untuk
membiayai aktivitas periode berjalan, maka pemberian dana tersebut harus
diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi. Kejadian ini dijelaskan dalam catatan atas
laporan keuangan.
B. Aktivitas Investasi Aset Nonkeuangan
Arus kas dari aktivitas investasi aset nonkeuangan mencerminkan penerimaan
dan pengeluaran kas bruto dalam rangka perolehan dan pelepasan sumber daya
ekonomi yang bertujuan untuk meningkatkan dan mendukung pelayanan pemerintah
kepada masyarakat di masa yang akan datang.
Arus masuk kas dari aktivitas investasi aset nonkeuangan terdiri dari:
1. Penjualan Aset Tetap;
2. Penjualan Aset Lainnya.
Arus keluar kas dari aktivitas investasi aset nonkeuangan terdiri dari :
1. Perolehan Aset Tetap;
2. Perolehan Aset Lainnya.
C. Aktivitas Pembiayaan
Arus kas dari aktivitas pembiayaan mencerminkan penerimaan dan
pengeluaran kas bruto sehubungan dengan pendanaan defisit atau penggunaan
surplus anggaran, yang bertujuan untuk memprediksi klaim pihak lain terhadap arus
kas pemerintah dan klaim pemerintah terhadap pihak lain di masa yang akan datang.
Arus masuk kas dari aktivitas pembiayaan antara lain:
1. Penerimaan Pinjaman;
2. Penjualan Surat Utang Negara Pemerintah;
3. Hasil Privatisasi Perusahaan Negara;
4. Penjualan Investasi Jangka Panjang Lainnya; dan
Arus keluar kas dari aktivitas pembiayaan antara lain:
1. Pembayaran Cicilan Pokok Utang;
2. Pembayaran Obligasi Pemerintah;
3. Penyertaan Modal Pemerintah;
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 8
4. Pemberian Pinjaman Jangka Panjang; dan
D. Aktivitas Nonanggaran
Arus kas dari aktivitas nonanggaran mencerminkan penerimaan dan
pengeluaran kas bruto yang tidak mempengaruhi anggaran pendapatan, belanja dan
pembiayaan pemerintah. Arus kas dari aktivitas nonanggaran antara lain Perhitungan
Fihak Ketiga (PFK) dan kiriman uang. PFK menggambarkan kas yang berasal dari
jumlah dana yang dipotong dari Surat Perintah Membayar atau diterima secara tunai
untuk pihak ketiga misalnya potongan Taspen dan Askes. Kiriman uang
menggambarkan mutasi kas antar rekening kas umum negara/daerah.
Arus masuk kas dari aktivitas nonanggaran meliputi penerimaan PFK dan
kiriman uang masuk. Sedangkan, arus keluar kas dari aktivitas nonanggaran meliputi
pengeluaran PFK dan kiriman uang keluar.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 9
BAB IV
PENYAJIAN LAPORAN ARUS KAS
A. Entitas Penyaji Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas mempunyai ciri khas dalam penyajiannya. Tidak seluruh
entitas menyajikan Laporan Arus Kas. Laporan ini hanya disajikan oleh unit yang
mempunyai fungsi perbendaharaan. Hal ini diatur dalam paragraf 12 PSAP 03 yang
berbunyi sebagai berikut: Entitas pelaporan yang wajib menyusun dan menyajikan
laporan arus kas adalah unit organisasi yang mempunyai fungsi perbendaharaan.
Selanjutnya dalam paragraf 13 disebutkan: unit organisasi yang mempunyai fungsi
perbendaharaan adalah unit yang ditetapkan sebagai bendaharawan umum
negara/daerah dan/atau kuasa bendaharawan umum negara/daerah.
Di pemerintah pusat unit yang mempunyai fungsi perbendaharaan adalah
Bendahara Umum Negara (BUN). Dengan demikian yang membuat Laporan Arus Kas
di pemerintah pusat adalah Bendahara Umum Negara.
Pada pemerintah pusat, Kementerian/Lembaga merupakan entitas pelaporan
tetapi tidak membuat Laporan Arus Kas. Laporan Arus Kas hanya dibuat oleh
Bendaharawan Umum Negara yaitu Menteri Keuangan.
B. Metode Penyajian Laporan Arus Kas
Laporan Arus Kas dapat disajikan dalam dua metode. Entitas pelaporan dapat
menyajikan arus kas dari aktivitas operasi dengan cara:
1. Metode Langsung
Metode ini mengungkapkan pengelompokan utama penerimaan dan pengeluaran kas
bruto.
2. Metode Tidak Langsung
Dalam metode ini, surplus atau defisit disesuaikan dengan transaksi-transaksi
operasional nonkas, penangguhan (deferral) atau pengakuan (accrual) penerimaan
kas atau pembayaran yang lalu/yang akan datang, serta unsur pendapatan dan
belanja dalam bentuk kas yang berkaitan dengan aktivitas investasi aset nonkeuangan
dan pembiayaan.
Entitas pelaporan pemerintah pusat sebaiknya menggunakan metode langsung
dalam melaporkan arus kas dari aktivitas operasi. Keuntungan penggunaan metode
langsung adalah sebagai berikut:
1. Menyediakan informasi yang lebih baik untuk mengestimasikan arus kas di
masa yang akan datang;
2. Lebih mudah dipahami oleh pengguna laporan; dan
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 10
3. Data tentang kelompok penerimaan dan pengeluaran kas bruto dapat langsung
diperoleh dari catatan akuntansi.
Disamping itu, dengan basis yang dianut saat ini belum memungkinkan
digunakannya metode tidak langsung. Transaksi-transaksi nonkas tidak secara
langsung mempengaruhi posisi kas dan penangguhan-penangguhan tidak dapat
disajikan. Oleh karena itu sangat beralasan jika metode yang disarankan untuk
digunakan adalah metode langsung.
C. Hubungan Laporan Arus Kas Dan Neraca
Paragraf 52 PSAP 03 menyebutkan Entitas pelaporan mengungkapkan komponen
kas dan setara kas dalam Laporan Arus Kas yang jumlahnya sama dengan pos terkait
di Neraca. Artinya, ada hubungan atau kesesuaian antara jumlah-jumlah yang ada
dalam Laporan Arus Kas dan Neraca.
Untuk menjelaskan hubungan Neraca dan Laporan Realisasi Anggaran tersebut
diambil contoh di bawah ini. Misalkan di awal tahun 2005 sebuah entitas pemda
memiliki struktur kas sebagai berikut:
- Kas Umum Negara Rp 60.000,00
- Kas di Bendahara Pengeluaran Rp 8.000,00
- Kas di Bendahara Penerimaan Rp 3.000,00
Pada tanggal 10 Januari 2005 saldo kas yang ada di Bendahara Pengeluaran
disetorkan ke Kas Umum Negara. Selama tahun 2005 tersebut menerima pendapatan
sebesar Rp740.000,00 dan mengeluarkan belanja sebesar Rp700.000,00. Dalam
realisasi pendapatan termasuk yang berasal dari pendapatan yang telah diterima oleh
Bendahara Penerimaan. Belanja tersebut termasuk pengeluaran dari Bendahara
Pengeluaran yang sudah di-SPJ-kan dan telah terbit SPM/SP2D GU Nihil sebesar
Rp250.000,00. Nilai Uang Persediaan awal yang diterima oleh Bendahara
Pengeluaran dari Kas Umum Negara adalah sebesar Rp259.000,00. Dengan demikian
jumlah belanja yang dibayar langsung oleh Kas Umum Negara hanya sebesar
Rp450.000,00. Dengan transaksi di atas maka dalam Neraca per 31 Desember 2005,
saldo Kas Umum Negara pada akhir tahun sebesar Rp99.000,00, dan saldo Kas di
Bendahara Pengeluaran sebesar Rp9.000,00. Hal ini dapat dilihat dalam bentuk saldo
buku besar sebagai berikut:
Kas Umum Negara
Uraian Debet Kredit Saldo
Saldo Awal 60.000
Setoran dari Bend Pengeluaran 8.000 68.000
Pendapatan 740.000 808.000
Pengeluaran ke Bend Pengel 259.000 549.000
Pengeluaran Belanja 450.000 99.000
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 11
Kas di Bendahara Pengeluaran
Uraian Debet Kredit Saldo
Saldo Awal 8.000
Setoran ke Kas Daerah 8.000 -
Penerimaan UP dari Kas
Daerah 259.000 259.000
Pengeluaran Belanja 250.000 9.000
Transaksi selama satu tahun di atas mengakibatkan kenaikan kas sebesar
Rp40.000,00 yang terdiri dari kenaikan Kas Umum Negara sebesar Rp39.000,00 dan
kenaikan Kas di Bendahara Pengeluaran sebesar Rp1.000,00. Kenaikan Kas Umum
Negara adalah selisih antara pendapatan sebesar Rp740.000,00 dengan belanja
sebesar Rp700.000,00 serta selisih antara pembentukan UP dan penerimaan
pengembalian UP (Rp259.000,00-258.000,00). Diasumsikan bahwa pada akhir tahun
terdapat Kas di Bendahara Penerimaan sebesar Rp4.500,00 bagaimana melaporkan
posisi kas awal dan akhir serta kenaikan kas dalam Laporan Arus Kas?
Mengikuti Ilustrasi yang ada di PSAP 03 maka kenaikan kas serta posisi awal
dan posisi akhir akan dilaporkan sebagai berikut:
- Kenaikan Kas Rp 39.000,00
- Saldo Awal Kas Umum Negara Rp 60.000,00
- Saldo Akhir Kas Umum Negara Rp 99.000,00
- Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Rp 9.000,00
- Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Rp 4.500,00
- Saldo Akhir Kas Rp 112.500,00
Saldo akhir kas dalam Laporan Arus Kas adalah sebesar Rp112.500,00.
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 12
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 13
Modul LRA (PSAP 02) dan LAK (PSAP 03)
PSAP Nomor 02 tentang Laporan Arus Kas 14
DAFTAR BACAAN
1. UU No. 17/2003 tentang Keuangan Negara;
2. UU No. 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. UU No. 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara;
4. UU No. 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. PP No. 14/2005 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah,
sebagaimana telah diubah dengan PP No. 33/2006;
6. PP No. 20/2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah;
7. PP No. 21/2004 tentang Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian
Negara/ Lembaga;
8. PP No. 23/2005 tentang Pengelolaan Keuangan BLU;
9. PP No. 24/2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan;
10. PP No. 65/2005 tentang Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Penyusunan
dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal;
11. PP No. 2/2006 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman dan/atau Penerimaan
Hibah serta Penerusan Pinjaman dan/atau Hibah Luar Negeri;
12. PP No. 6/2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah;
13. PP No. 8/2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah;
14. PP No. 8/2007 tentang Investasi Pemerintah;
15. PP No. 39/2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah;