Anda di halaman 1dari 31

AHMADA WANI

133060018329
AHMAD BARIK F.
133060018209
AHMAD SINGGIH F.
133060018689
DASAR
HUKUM
PENAGIHA
N PAJAK
PENAGIHAN PAJAK adalah serangkaian tindakan agar Penanggung
Pajak melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak dengan
menegur atau memperingatkan, melaksanakan Penagihan Seketika
dan Sekaligus, memberitahukan Surat Paksa, mengusulkan
pencegahan, melaksanakan penyitaan, melaksanakan penyanderaan,
dan menjual barang yang telah disita
Pasal 18 Ayat (1) UU Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah
terakhir (STDT) UU Nomor 16 Tahun 2009 mengenai Ketentuan Umum
Perpajakan (KUP)
UU Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat
Paksa STDT UU Nomor 19 Tahun 2000
PENAGIH DAN
OBJEK PAJAK

STP
Surat
Keputusa
n
Pembetul
an
Surat
Keputusan
Keberatan
Putusan Banding
SKP
ST-BPHTB
SKBKB
SKBKBT SKPK
B
SKPKBT
Kepala Kantor Pelayanan Pajak
Kepala Kantor
Pelayanan Pajak Bumi
dan Bangunan
KEBERATAN DAN
BANDING
Jumlah tagihan atas SKPKB atau SKPKBT yang belum lunas dan sudah jatuh tempo
yaitu :
PPh dan PPN/ PPnBM
Satu bulan sejak tanggal diterbitkan, dalam hal ketidak sepekatan atas hasil akhir
pemeriksaan dan WP mengajukan :
a. Keberatan
Satu bulan sejak tanggal penerbitan keputusan keberatan
b. Banding
Satu bulan sejak tanggal penerbitan putusan banding
Lainnya
Satu bulan sejak tanggal diterima

JENIS PENAGIHAN PAJAK
1. Penagihan Pajak Pasif
Penagihan pajak yang dilakukan dengan SKPKB, SKPKBT, SK
Keberatan, SK Banding, SK pembetulan yang membuat pajak yang
masih harus dibayar menjadi bertambah.
2. Penagihan Pajak Aktif
Penagihan yang dilakukan dengan peran aktif dari fiskus yaitu
dimulai dari menyampaikan surat teguran sampai dilakukannya
lelang terhadap barang yang disita.
HAK
Wajib Pajak/Penanggung Pajak berhak:
1. Meminta Jurusita Pajak memperlihatkan Kartu
Tanda Pengenal Jurusita Pajak;
2. Menerima Salinan Surat Paksa dan Salinan
Berita Acara Penyitaan;
3. Menentukan urutan barang yang akan dilelang;
4. Sebelum pelaksanaan lelang, Wajib
Pajak/Penanggung Pajak diberi kesempatan
terakhir untuk melunasi utang pajak termasuk
biaya penyitaan, iklan dan biaya pembatalan
lelang dan melaporkan pelunasan tersebut
kepada Kepala KPP yang bersangkutan;
5. Lelang tidak dilaksanakan apabila Penanggung
Pajak melunasi utang pajak dan biaya
penagihan pajak sebelum pelaksanaan lelang.
KEWAJIBAN
Wajib Pajak/Penanggung Pajak berkewajiban:
1. Membantu Jurusita Pajak dalam melaksanakan
tugasnya:
a. memperbolehkan Jurusita Pajak memasuki
ruangan, tempat usaha/tempat tinggal WP/
Penanggung Pajak;
b. memberikan keterangan lisan atau tertulis
yang diperlukan.
2. Barang yang disita dilarang dipindahtangankan,
dihipotikkan atau disewakan
TATA
CARA
PENAGIHAN
PENAGIHAN
PAJAK
DENGAN
TENGGANG
WAKTU
TERTENTU
Penerbitan Surat Teguran sebagai langkah awal dari
tindakan penagihan pajak, dikeluarkan segera setelah 7
(tujuh) hari sejak saat jatuh tempo pembayaran STP PBB/
SKBKB/ SKBKBT/ STB atau SK.Pembetulan/
SK.Keberatan/ Putusan Banding yang menyebabkan
jumlah pajak yang harus dibayar bertambah.
Surat Teguran tidak diterbitkan terhadap Penanggung
Pajak yang telah disetujui untuk mengangsur atau
menunda pembayaran pajaknya.
SURAT TEGURAN
SURAT PAKSA
Penerbitan Surat Paksa Surat Paksa diterbitkan segera
setelah lewat waktu 21 (dua puluh satu) hari sejak
diterbitkannya Surat Teguran apabila utang pajak yang
masih harus dibayar tidak dilunasi atau telah diterbitkan
Surat Perintah Penagihan Seketika dan Sekaligus.
PENAGIHAN
PAJAK
SEKETIKA DAN
SEKALIGUS
Tindakan penagihan pajak yang dilaksanakan oleh Jurusita Pajak
kepada Penanggung Pajak tanpa menunggu tanggal jatuh tempo
pembayaran yang meliputi seluruh utang pajak dari semua jenis pajak,
Masa Pajak, dan Tahun Pajak.
Dilakukan apabila:
a. Penanggung Pajak akan meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya atau berniat
untuk itu;
b. Penanggung Pajak memindahtangankan barang yang dimiliki atau yang dikuasai dalam
rangka menghentikan atau mengecilkan kegiatan perusahaan atau pekerjaan yang
dilakukannya di Indonesia;
c. terdapat tanda-tanda bahwa Penanggung Pajak akan membubarkan badan usaha atau
menggabungkan atau memekarkan usaha, atau memindahtangankan perusahaan yang
dimiliki atau yang dikuasainya, atau melakukan perubahan bentuk lainnya;
d. badan usaha akan dibubarkan oleh negara; atau
e. terjadi penyitaan atas barang Penanggung Pajak oleh pihak ketiga atau terdapat tanda-
tanda kepailitan.
PENAGIHAN
PAJAK
SEKETIKA DAN
SEKALIGUS
Dalam Surat Penagihan Seketika dan
Sekaligus sekurang-kurangnya memuat hal-
hal sebagai berikut :
1. Nama Wajib Pajak, atau nama Wajib
Pajak dan Penanggung Pajak
2. Besarnya Utang Pajak
3. Perintah untuk membayar


4. Saat pelunasan pajak

Penerbitan Surat Perintah Penagihan dan
Sekaligus dilakukan dengan ketentuan
sebagai berikut :
1. diterbitkan sebelum tanggal jatuh tempo
pembayaran;
2. diterbitkan tanpa didahului Surat
Teguran;
3. diterbitkan sebelum jangka waktu 21
(dua puluh satu) hari sejak Surat
Teguran diterbitkan; atau
4. diterbitkan sebelum penerbitan Surat
Paksa.
PENAGIHAN
PAJAK DENGAN
SURAT PAKSA
Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya
penagihan pajak. Dasar hukum dari Surat Paksa adalah Undang-Undang No.
19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak Dengan Surat Paksa. Undang-
undang ini mulai berlaku tanggal 23 Mei 1997. Undang-undang ini kemudian
diubah dengan Undang-Undang No. 19 Tahun 2000 yang mulai berlaku pada
tanggal 1 Januari 2001.
Surat Paksa berkepala kata-kata Demi Keadilan berdasarkan Ketuhanan
Yang Maha Esa, mempunyai kekuatan eksekutorial dan kedudukan hukum
yang sama dengan grosse akte yaitu putusan pengadilan perdata yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap.
PENAGIHAN
PAJAK DENGAN
SURAT PAKSA
Surat paksa diterbitkan karena:
1. Penanggung pajak tidak melunasi utang pajak kepadanya telah diterbitkan
Surat Teguran atau Surat Peringatan atau surat lain yang sejenis.
2. Terhadap Penanggung Pajak telah dilaksanakan Penagihan Seketika dan
Sekaligus.
3. Penanggung Pajak tidak memenuhi ketentuan sebagaimana tercantum
dalam keputusan persetujuan angsuran atau penundaan pembayaran
pajak.

hasil penunjukkan pemberitahuan
TATA
CARA
hasil penunjukkan pemberitahuan
Surat paksa diberitahukan
oleh Juru Sita Pajak dengan
pernyataan dan penyerahan
salinan surat Paksa kepada
Penanggung Pajak.
Pemberitahuan ini dituangkan
dalam Berita Acara yang
sekurang-kurangnya memuat
hari dan tanggal
pemberitahuan surat Paksa,
nama Juru Sita Pajak, Nama
yang menerima, dan tempat
pemberitahuan Surat Paksa.
hasil penunjukkan pemberitahuan
Orang
Pribadi
Badan
Penanggun
g
Lain
hasil penunjukkan pemberitahuan
Orang
Pribadi
Badan
Penanggun
g
Lain
Penanggung Pajak di tempat tinggal,
tempat usaha, tempat lain yang
memungkinkan.
Orang dewasa yang bertempat tinggal
bersama atau pun yang bekerja di
tempat usaha penaggung Pajak,
apabila Penanggung Pajak yang
bersangkutan tidak dapat dijumpai
Salah seorang ahli waris atau
pelaksana wasiat atau yang
mengurus harta peninggalannya,
apabila Wajib Pajak telah meninggal
dunia dan harta warisan belum dibagi.
Para ahli waris, apabila Wajib Pajak
telah meninggal dunia dan harta
warisan telah dibagi
hasil penunjukkan pemberitahuan
Orang
Pribadi
Badan
Penanggun
g
Lain
1. pengurus meliputi Direksi, Komisaris, Pemegang
saham pengendali atau mayoritas untuk
perseroan terbuka, pemegang saham untuk
perseroan tertutup, dan orang yang nyata-nyata
mempunyai wewenang ikut menentukan
kebijaksanaan dan/atau mengambil keputusan
dalam menjalankan perseroan, untuk perseroan
terbatas;
2. kepala perwakilan, kepala cabang, atau
penanggung jawab, untuk Bentuk Usaha Tetap;
3. direktur, pemilik modal, atau orang yang ditunjuk
untuk melaksanakan dan mengendalikan
serta bertanggung jawab atas perusahaan, untuk
badan usaha lainnya seperti kontrak investasi
kolektif, persekutuan, firma, dan perseroan
komanditer.
4. ketua atau orang yang melaksanakan dan
mengendalikan serta bertanggung jawab atas
yayasan, untuk yayasan;
5. pegawai tetap di tempat kedudukan atau tempat
usaha badan yang bersangkutan apabila Jurusita
Pajak tidak dapat menjumpai salah seorang di atas.
hasil penunjukkan pemberitahuan
Orang
Pribadi
Badan
Penanggun
g
Lain
1. Dalam hal Wajib Pajak dinyatakan pailit,
Surat Paksa diberitahukan kepada
Kurator, Hakim Pengawas, atau Balai
Harta Peninggalan.
2. Dalam hal Wajib Pajak dinyatakan
bubar atau dalam likuidasi, Surat Paksa
diberitahukan kepada orang atau badan
yang dibebani untuk melakukan
pemberesan atau likuidator.
3. Dalam hal Wajib Pajak menunjuk
seorang kuasa dengan surat kuasa
khusus untuk menjalankan hak dan
kewajiban perpajakan, Surat Paksa
dapat diberitahukan kepada Penerima
kuasa.
hasil penunjukkan pemberitahuan
Tidak
dapat
dilaksanan
WP /
Penanggung
Tidak
Diketahui
hasil penunjukkan pemberitahuan
Tidak
dapat
dilaksanan
WP /
Penanggung
Tidak
Diketahui
Surat paksa dapat
disampaikan
melalui
pemerintah
daerah setempat
hasil penunjukkan pemberitahuan
Tidak
dapat
dilaksanan
WP /
Penanggung
Tidak
Diketahui
Menempelkan surat
paksaan pada papan
pengumuman kantor
pejabat
Mengumumkan melalui
media massa
Cara yang ditetapkan
oleh menteri atau kepala
daerah
Penyitaan dilakukan oleh juru sita pajak untuk memperloleh
jaminan pelunasan utang pajak dari penanggung pajak.
Penyitaan diatur dalam Undang-Undang No .19 tahun 2000
tentang Penagihan dengan Surat Paksa.
Penyitaan dilaksanakan sampai dengan nilai barang yang
disita diperkirakan cukup untuk melunasi utang pajak dan
biaya penagihan pajak.Hal lainnya yang dapat disita diatur
dengan peraturan pemerintah.Pencabutan sita dilaksanakan
apabila penanggung pajak telah melunasi biaya penagihan
dan utang pajak atau berdasarkan putusan pengadilan atau
putusan Badan Peradilan Pajak atau ditetapkan lain dengan
Keputusan Menteri Keuangan atau Keputusan Kepala
Daerah.
PENYITAA
N
PELEL
ANGA
N
Apabila Wajib Pajak telah melunasi
utang pajak tetapi belum melunasi
biaya penagihan pajak maka
penjualan secara lelang terhadap
barang yang telah disita tetap dapat
dilakukan.
Lelang dapat dilaksanakan
walaupun keberatan yang diajukan
wajib pajak belum memperoleh
keputusan keberatan walau tanpa
kehadiran penanggung pajak.
Lelang tidak dapat dilaksanakan
apabila penanggung pajak telah
melunasi utang pajak dan biaya
penagihan pajak, atau berdasarkan
putusan pengadilan, atau objek
lelang musnah.
Pelelangan dapat dilakukan 14 hari
setelah penyitaan. Pengumuman
lelang diberitahukan lewat media
massa dengan memberikan
pembenanan biaya iklan dan biaya
lelang pada saat pelelangan.
Pengumuman pelelangan harta
bergerak 1 kali dan 2 kali untuk harta
tidak bergerak

PENCEGAHAN
DAN
PENYANDERAA
N
PENGERTIA
N
Pencegahan atau penyanderaan terhadap Penanggung Pajak adalah salah satu
upaya penagihan pajak.
Persyaratan-persyaratan pelaksanaan pencegahan atau penyanderaan antara
lain:
utang pajak sekurang-kurangnya Rp100.000.000,- (seratus juta rupiah); dan
atau
terdapat dugaan kuat bahwa Penanggung Pajak diragukan itikad baiknya
untuk melunasi utang pajaknya, sesuai dengan Keputusan Dirjen Pajak
No.218/PJ/2003

TATA CARA
a. Pencegahan atau penyanderaan dapat dilakukan berdasarkan Surat
Keputusan Pencegahan oleh Menteri (dalam hal ini Menteri Keuangan)
dan untuk penyanderaan ditambah Gubernur Daerah Tingkat I atas
permintaan Pejabat atau atas Pejabat yang bersangkutan.
b. Keputusan Pencegahan tersebut harus memuat sekurang-kurangnya:
i. Identitas Penanggung Pajak yang dikenakan pencegahan atau
penyanderaan;
ii. Alasan untuk melakukan pencegahan atau penyanderaan;
iii. Jangka waktu pencegahan atau penyanderaan;
iv. Jangka waktu pencegahan paling lama 6 (enam) bulan dan dapat
diperpanjang untuk selama-lamanya 6 (enam) bulan.
v. Untuk penyanderaan harus ada izin, lamanya penyanderaan dan
tempat penyanderaan.
vi. Penyanderaan tidak boleh dilaksanakan dalam hal:
Penanggung Pajak sedang melakukan ibadah;
Penanggung Pajak sedang melakukan sidang resmi;
Penanggung Pajak sedang mengikuti Pemiihan Umum.
Selama disandera Penanggung Pajak memunyai hak:
a. Melakukan ibadah di tempat penyanderaan sesuai
dengan agama dan kepercayaannya masing-masing;
b. Memeroleh pelayanan kesehatan yang layak sesuai
dengan ketentuan yang berlaku;
c. Mendapat makanan yang layak termasuk
menerima kiriman dari keluarga;
d. Menyampaikan keluhan tentang perlakuan
petugas;
e. Memeroleh bahan bacaan dan informasi lainnya
atas biaya Penanggung Pajak yang disandera;
f. Menerima kunjungan dari: Keluarga dan sahabat;
Dokter pribadi atas biaya sendiri; Rohaniawan
Sebelum jatuh tempo yang tercantum dalam Surat
Perintah Penyanderaan, Penanggung Pajak dapat
dilepas dalam hal:
a. Utang pajak dan biaya penagihan pajak telah dibayar
lunas;
b. Jangka waktu yang ditetapkan telah terpenuhi;
c. Berdasarkan putusan pengadilan yang memunyai
kekuatan hokum tetap;
d. Berdasarkan pertimbangan tertentu dari Menteri atau
Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.
HAK PENANGGUNG
PAJAK YANG
DISANDERA
PELEPASAN
PENANGGUNG
PAJAK YANG
DISANDERA
DALUWARSA
PENAGIHAN
PAJAK
PENGERTIAN
Hak untuk melakukan penagihan
pajak, termasuk bunga, denda,
kenaikan, dan biaya penagihan
pajak, daluwarsa setelah
melampaui waktu 5 (lima) tahun
terhitung sejak penerbitan Surat
Tagihan Pajak, Surat Ketetapan
Kurang Bayar, Surat Ketetapan
Kurang Bayar Tambahan, dan Surat
Keputusan Pembetulan, Surat
Keputusan Keberatan, Putusan
Banding, serta Putusan Peninjauan
kembali.

Daluwarsa penagihan pajak tersebut tertangguh apabila :
a. diterbitkannya Surat Paksa;
b. adanya pengakuan utang pajak dari Wajib Pajak baik
langsung maupun tidak langsung;
c. diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dan
Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan
karena Wajib Pajak setelah jangka waktu 5 (lima)
tahun tersebut dipidana karena melakukan tindak
pidana di bidang perpajakan atau tindak pidana
lainnya yang dapat menimbulkan kerugian pada
pendapatan negara berdasarkan putusan pengadilan
yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap;
d. dilakukan penyidikan tindak pidana di bidang
perpajakan.
KETERTANGGUHAN
SIKLUS
PENAGIHAN
PAJAK
JATUH
TEMPO
PENGUMUMA
N LELANG
LELANG
SURAT
PERINTAH
MELAKSANAKA
N PENYITAAN
SURAT
TEGURAN
SURAT
PAKSA
7 hari 21 hari
14 hari
14 hari
2 X 24 jam