Anda di halaman 1dari 13

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Karya sastra sebagai suatu bentuk karya seni memiliki sifat indah dan
berguna. Sifat ini membuat pembaca senang untuk menikmatinya. Demikian
halnya anak-anak tentu juga senang menikmati karya sastra anak-anak.
Kondisi tersebut diatas dapat dimanfaatkan bagi pengajaran. Karena
pada umumnya anak-anak senang membaca karya sastra, maka apabila karya
sastra dijadikan bahan ajar bahasa, mereka diharapkan akan senang belajar
bahasa. Demikian juga apabila karya sastradijadikan bahan ajar mata
pelajaran lain, misalnya ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, dan
sebagainya. Disamping menyebabkan anak merasa senang, juga nilai-nilai
yang terkandung dalam karya sastra yaitu nilai keindahan dan nilai moral
akan meresap dan berkembang dalam diri anak secara alami.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini
dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa saja nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra?
2. Bagaimana memilih karya sastra yang baik?
3. Apa sajakah yang termasuk dalam karya sastra anak?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang dikemukakan
pada sub-bab sebelumnya, maka tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai
berikut:
1. Memahami nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra.
2. Mengetahui bagaimana cara memilih karya sastra yang baik.
3. Dapat menjelaskan macam karya sastra anak.
2

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pembelajaran Sastra Anak-anak
Sastra memiliki tempat khusus dalam perkembangan anak. Karya
sastra, yang dibacakan kepada anak-anak dalam suasana yang penuh
kehangatan dan pada kesempatan yang tepat, dapat merupakan wahana bagi
mereka untuk mempelajari dunia sekitarnya.
Kesempatan untuk membaca buku yang berhubungan dengan
pengalaman yang akan diperolehnya. Mereka juga dapat membuat
pengalamannya itu lebih bermakna. Sebagai contoh, apabila sebelum diajak
berkunjung ke kebun binatang, anak-anak telah diberi kesempatan membaca
cerita-cerita tentang kehidupan binatang, mereka akan lebih dapat merasakan
dan memahami kehidupan binatang-binatang di kebun binatang itu.
2.2 Nilai-nilai yang Terkandung dalam Karya Sastra
Karya sastra memenuhi berbagai kebutuhan (rohani) dan menanamkan
berbagai nilai yang tidak terlihat secara langsung. Anak-anak dapat selalu
mengulangi membaca kembali sebuah buku pada bagian yang
menyenangkan, meragukan, atau bagian yang penting.
Baik televise maupun buku memang keduanya baik digunakan sebagai
media belajar. Namun kenyataanya banyak anak-anak yang lebih tertarik
menonton televisi daripada membaca karya sastra. Padahal karya sastra dapat
menolong anak-anak untuk memahami dunia mereka, membentuk sikap-sikap
yang positif dan menyadari hubungan yang manusiawi. (Sawyer dan Corner:
2-5).
2.2.1 Mamahami Dunia Lewat Sastra
Lewat karya sastra, anak-anak dapat mempelajari dan memaknai
dunia mereka misalnya dengan membawa karya sastra yang melukiskan
seorang anak-anak yang menolong sehingga disayangi oleh gurunya
3

dan juga teman-temannya, anak-anak akan mengerti bahwa merekapun
harus bersikap seperti tokoh cerita tersebut.
Karya sastra dapat membangkitkan rasa ingin tahu anak-anak.
Setelah membaca, anak-anak sering ingin belajar lebih banyak,
sehingga mencari bahan-bahan yang serupa. Mereka mungkin mencoba
menulis cerita berdasarkan cerita yang telah mereka baca.
2.2.2 Membentuk Sikap Positif
Disamping mempelajari dunia mereka, sangatlah penting anak-
anak mengembangkan berbagai sikap-sikap positif. Mereka perlu
mengembangkan kesadaran akan harga diri dan melihat dirinya sebagai
pribadi yang memiliki kemampuan. Yang berhak memperoleh perhatian
dan kasih sayang.
1. Kesadaran Akan Harga diri (Self - Esteem)
Anak anak dapat mengetahui cara mengatasi masalah-masalah
tersebut dengan menceritakan kembali isi cerita-cerita yang mereka
baca kepada orang tua, anak-anak dapat membicarakan berbagai
permasalahan.
Sastra dapat menolong anak-anak menemukan dirinya mengenal
perasaannya sendiri. Membaca tentang kehidupan para tokoh lain yang
mencoba membuat pengalaman (yang sama dengan yang dialami oleh
pembaca) menjadi bermakna, dapat menimbulkan harapan dalam diri
pembaca sehingga bersikap optimis. Dengan belajar lewat cerita-cerita
yang dibacanya bahwa munculnya berbagai persaan itu normal.
2. Toleransi Terhadap Orang Lain
Karya sastra yang baik dapat menolong anak-anak memahami
pentingnya berhubungan dengan orang-orang lain dengan mengerti cara
menyesuaikan diri dalam pergaulan.
Perlu dipilij buku-buku cerita yang mengungkap perbedaan antara
manusia yang satu dengan yang lainnya dan penerimaan bagi keadaan
4

orang-orang lain yang berbeda dengan dirinya sendiri. Dengan
membaca buku-buku seperti ini, toleransi anak diharapkan dapat
berkembang.
3. Keingintahuan tentang Kehidupan
Apabila keingintahuan yang menakjubkan ini ditanggapi lewat program
baca tulis (literasi), termasuk program membacakan karya sastra anak-
anak, hal ini dapat mendorong keberhasilan pada jenjang sekolah
berikutnya dan dalam kehiduapan selanjutnya.
Supaya anak-anak dapat berhasil pada jenjang-jenjang sekolah
berikutya, mereka perlu memiliki keinginan untuk belajar dan berhasil.
Anak-anak dapat dipaksa mempelajari keterampilan membaca pada
bagian-bagian yang terpisah, tetapi tidak dapat dipaksa melebihi
kemampuan mereka.
Yang jauh lebih baik adalah orang tua dan guru berusaha memberikan
cerita-cerita yang dapat menumbuhkan kesadaran akan harga diri,
toleransi terhadap orang lain, dan keingintahuan tentang kehidupan.
2.3 Memilih Sastra Anak-anak
Guru harus mempertimbangkan baik kurikulum maupun kebutuhan
anak-anak, kemudian mencocokkan pertimbangan itu dengan buku-buku
yang tersedia. Dalam hal ini kualitas buku sangat penting diperhatikan.
Dalam rangka memilih buku, juga perlu diperhatikan tujuan pemakaian
buku tertentu. Apakah buku tersebut dapat menolong anak-anak memahami
topic yang dipelajari atau tidak.
Selanjutnya, perlu kiranya diuraikan aspek-aspek sastra yang bagus dan
cara menyajikan karya sastra kepada anak-anak. Untuk itu pertama-tama guru
perlu mengamati anak-anak, dengan cara aktif mengunjungi kegiatan mereka,
memperhatikan bahasa yang mereka gunakan dan mencermati hubungan
sosial mereka. Secara khusus guru perlu bertanya-tanya apa yang
dimaksudkan dengan mengatakan atau mengerjakan sesuatu, demikian juga
mengapa anak mengatakan atau berbuat sesuatu.
5

Betty Hearne (lewat Sawyer dan Comer, 1991: 44) menyatakan bahwa
Buku anak-anak merupakan tempat bagi emosi yang kuat, bahasa yang tepat,
dan seni yang hebat. ANak-anak seharusnya tidak dibuat bosan dengan
mendengarkan dan membaca buku-buku tidak bermutu atau kurang sesuai
bagi mereka. Peran guru adalah membangkitkan hasrat mengetahui,
berimajinasi, dan membaca.
2.3.1 Aspek-aspek Sastra Anak-anak yang baik
Pertimbangan dalam memilih buku-buku yangcocok bagi anak-
anak antara lain adalah sesuainya dengan kurikulum. Selanjutnya
aspek-aspek tertentu dari buku itu juga harus diperhatikan, yang
meliputi penokohan, latar, alur, dan tema. Hampir semua karya sastra
yang bermutu memiliki perkembangan yang memadai pada aspek-aspek
tersebut.
1. Penokohan
Setiap cerita memeiliki paling sedikit satu tokoh dan biasanya ada
lebih dari satu. Perasaan tokoh tersebut hendaknya dipahami oleh
pembaca. Secara singkat, pembaca memperhatikan tokoh cerita
yang dibacanya karena adanya ikatan emosional antara pembaca
dan tokoh cerita. Dengan kata lain, pembaca dan tokoh cerita
berbagi rasa.
a) Tokoh harus dapat dipercaya.
Tokoh dalam cerita harus berkata dan berbuat benar dan
jujur.
b) Tokoh Harus taat Asas (Konsisten)
Tokoh dapat berubah dan berkembang. Tapi watak dasarnya
harus tetap utuh. Tokoh yang diingat pembaca adalah yang
memiliki kepribadian yang unik. Kepribadian mereka tidak
perlu dilebih-lebihkan.
c) Tokoh Binatang Manarik untuk Anak
d) Tokoh-tokoh binatang merupakan bagian penting dari sastra
anak-anak. Lewat tokoh binatang itulah pengarang
6

memberikan pendidikan kepada pembaca. Dengan cara
demikian, anak sebagai pembaca akan dapat menyerap nilai-
nilai positif secara alami di samping menikmati keindahan
karya sastra yang dibaca.. Dengan sering membaca cerita
yang demikian ini, anak akan memiliki rasa sayang pada
binatang.
2. Latar Cerita
Istilah latar cerita biasanya diartikan tempat dan waktu terjadinya
cerita. Latar meliputi juga cara tokoh-tokoh cerita hidup dan aspek
kultural lingkungan . letak geografis, dan nilai-nilai moral yang
berlaku di daerah masing-masing.
Suatu cerita juga dipengaruhi oleh suasana kehidupan tokoh-tokoh
cerita, kemiskinan dan kemewahan.
Latar dapat memperkuat tema cerita
3. Alur Cerita
Alur cerita dapat dipandang suatu peta yang menggambarkan jalan
cerita. Alur cerita merupakan elemen yang bersifat artifisian
(buatan), tidak alami dengan tujuan menyederhanakan kehidupan
yang sebenarnya.
Alur cerita terdiri atas permulaan, pertengahan dan akhir. Permulaan
harus dengan cepat minimbulkan daya tarik pembaca. Anak-anak
kecil memiliki perhatian dalam rentang waktu yang lebih pendek.
Pada pertengahan alur cerita, konflik atau masalah menjadi lebih
jelas. Penyelesaian konflik harus tidak terlalu jelas, karena apabila
pembaca mengetahuinya dengan mudah, tidak ada perlunya
membaca sampai dengan akhir cerita.
Akhir cerita berupa klimaks dan penyelesaian. Klimaks adalah
berupa titik tertinggi alur dramatic. Penyelesaian merupakan
penyelesaian masalah atau konflik yang bersifat final akhir cerita
dapat berupa kegembiraan atau kesedihan.
Alur cerita harus jelas dan meyakinkan. Alur harus bergerak dari
satu bagian ke bagian lain dengan mudah dan konsisten untuk
7

menjaga pemahaman dan minat pembaca. Alur yang
membingungkan atau terlalu transparan akan membosankan anak.
Oleh karena itu perlu dipilih cerita yang memiliki latar murni dan
kreatif.
4. Tema
Tema serita merupakan konsep abstrak yang dimasukkan pengarang
ke dalam cerita yang ditulisnya. Tema mungkin berupa gagasan-
gagasan misalnya kesetiakawanan, kehidupan keluarga, atau
kemandirian. Tema sering mendidik atau memberikan persuai
kepada pembaca tentang sesuatu.
2.4 Macam-macam Karya Sastra Anak-anak
A. Fabel
Bagi anak-anak, penggunaan karya sastra bentuk fable (cerita binatang),
legenda (cerita asal usul daerah), dan cerita rakyat mempunyai makna
mendidik dan menumbuhkan inspirasi. Cerita-cerita tersebut sering
merupakan wahana untuk mengajarkan tata nilai. Sedangkan penggunaan
puisi dapat menghindari kebosanan dan mengembangkan rasa keindahan.
Fable adalah cerita yang digunakan untuk pendidikan moral.
Kebanyakan fable menggunakan tokoh-tokoh binatang. Namun tidak selalu
demikian. Disamping Fabel yang menggunakan tokoh-tokoh binatang, ada
yang menggunakan manusia atau benda mati sebagai tokoh (Sawyer dan
Comer, 1991: 78-79).
Fabel dapat digunakan baik untuk menghibur maupun mendiskusikan
nilai-nilai moral yang ada dalam cerita tersebut.
B. Legenda
Legenda adalah cerita yang isinya tentang asal-usul sutu daerah.
Legenda baik sekali digunakan untuk pendidikan di kelas-kelas rendah,
sekolah dasar, untuk mengajarkan konsep-konsep. Misalnya dalam
mengajarkan perputaran bumi mengelilingi matahari.
8

C. Cerita Rakyat
Cerita rakyat merupakan cerita yang alurnya mirip legenda. Yang
mengungkapkan penyelesaian masalah secara baik dan adil. Cerita rakyat
digunakan untuk menerangkan suatu masyarakat, sejarah, dan gejala alam.
D. Puisi
Puisi dapat diibarakan nyanyian tanpa notasi. Puisi merupakan bentuk
karya sastra yang paling imajinatif dan mendalam mengenai alam sekitar dan
diri sendiri. Termasuk hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.
2.5 Pembelajaran Bahasa dan Bidang Studi Lewat Sastra
Pembelajaran di kelas-kelas rendah harus terdiri dari sejumlah besar
topic dan kegiatan. Hal ini diperlukan untuk memenuhi perkembangan secara
utuh bagi setiap anak.karya sastra kadang-kadang dipandang sebagai salah
satu hal yang harus tersedia bagi anak dalam tahun-tahun penumbuhan atau
pada usia sekolah.
Diperlukan secara hati-hati agar tidak ada yang tertinggal bagian-bagian
program yang memiliki tujuan yang penting. Bagian berikut ini
membicarakan strategi untuk memasukkan aspek-aspek penting suatu
program. Strategi tersebut adalah penggunaan suatu jaraingan sebagai alat
untuk merencanakan unit program pada awal suatu program.
A. Merencanakan Jaringan
Jaringan merupakan alat yang berguna dalam berbagai situasi perencanaan
program pembelajaran.
Untuk menyusun jaringan, kita harus mulai dengan tema sentral.
Lengkah berikutnya memilih butir-butir yang gayut (relevan) dari daftar
tersebut dan mengorganisasikannya dengan menggunakan sub-subtema.
Langkah terakhir adalah membuat jaringan yang secara visual menyajikan
gambaran keseluruhan tema. (Sawyer dan Comer, 1991:151). Gambar
9

diabawah ini mengilustrasikan langkah-langkah pembuatan jaringan tema.
Dengan se;ntral mainan.
Langkah I: Curah pendapat untuk menghasilkan daftar-daftar istilah yang
berkaitan dengan sentral mainan.

Balok
Bola
Tali
Cat
Mobil
Truk
Panic
Crayon
Tanah liat
Beruang-beruangan
Kucing-kucingan
Boneka
Alat dakon

Langkah II: memilih benda-benda dalam daftar dan mengorganisasikan
menjadi sub-subtema
Mainan Lunak Mainan teman tidur Mainan Bersama Mainan Seni
Beruang-beruangan
Bola
Kucing-kucingan
Tanah liat
Beruang-beruangan
Kucing-kucingan
Boneka
Bola
Alat dakon
Crayon
Cat
Tanah liat

Langkah III: Membuat Jaringan Tema









Mainan
Mainan Lunak
Beruang-beruangan
Kucing-kucingan
Bola
Tanah Liat
Mainan Teman Tidur
Beruang-beruangan
Kucing-kucingan
Boneka
Mainan Bersama
Bola
Alat Dakon
Mainan Seni
Crayon
Cata
Tanah liat
10

B. Jaringan Sastra
Jaringan dapat disusun untuk membuat tema-tema sastra. Apabila suatu
topic telah diidentifikasi, mungkin guru ingin memfokuskan khusus pada
sastra yang berhubungan dengan topic tersebut. Dalam hal ini sub-
subtemanya dapat berupa puisi, nyanyian, dan cerita. Gambar berikut ini
merupakan contoh jaringan sastra, dengan tema sentral burung garuda.


























Garuda
Pancasila
Garudaku

Burung Garuda
dan anaknya

BURUNG
GARUDA


Puisi Nyanyian Cerita
11

C. Sastra dan Program Membaca
Apabila sastra dijadikan bagian dari program membaca, anak-anak akan
memperoleh keuntungan sangat besar. Keuntungan yang terbersar adalah
bahwa karya-karya sastra yang baik dan sesuai bagi anak dapat
menumbuhkan kecintaan membaca. Seringkali anak-anak yang semula tidak
senang membaca, kemudian menjadi asyik membaca karya sastra dan
menemukan sastra sebagai bacaan yang menyenangkan.
Karya sastra yagn baik memungkinkan pembaca seolah-olah mengalami
sendiri cerita itu dalam memiliki rasa kesetiakawanan dengan tokoh-tokoh
ceritanya. Ketika membaca, anak-anak belajar tentang orang lain, tentang
dirinya sendiri, dan tentang kehidupan. Mereka menemukan bahwa orang-
orang lain sering mengalami kesenangan, kesedihan, dan ketakutan juga, dan
mereka menemukan wawasan untuk mengatasi masalah mereka sendiri dan
untuk menghadapi dunia mereka.


















12

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sastra anak memang telah diakui banyak memainkan peran penting.
Selainmenghibur, sastra anak juga mendidik. Beberapa peran sastra anak
dalam mendidik antara lain mampu memperkaya kosa kata, menanamkan
nilai luhur, memperluas pengalaman, meningkatkan imajinasi. Namun sastra
anak juga sarat stereotipe.
Berbagai stereotipe dalam sastra anak ini perlu dicatat dan disikapi,
karena cerita rakyat ini diperuntukkan untuk anak-anak. Anak-anak adalah
masa depan bangsa, dan meneliti pesan apa yang dimasukkan ke dalam
bacaan mereka sangat perlu dilakukan karena akan memberikan gambaran ke
arah mana anak-anak ini dituntun. Pada gilirannya, perlu pula dilakukan
upaya-upaya untuk menentukan apakah cerita rakyat tertentu masih relevan
diberikan kepada anak-anak di zaman ini ataukah perlu dilakukan langkah
rekonstruksi agar lebih relevan bagi perkembangan zaman.

3.2 Saran
Ada beberapa saran yang bisa disampaikan sehubungan dengan
pembahasan pada bab-bab sebelumnya. Antara lain:
1. Pembelajaran sastar memberikan banyak sekali manfaat bagi siswa.
Sehingga perlu kiranya para guru memiliki pengetahuan dan pengalaman
mengenai hal ini. Sehingga pada saat mengajar pelajaran apapun, dapat
disisipkan dan memberikan manfaat.
2. Pendidikan bahasa sastra adalah pendidikan yang bersifat pembiasaan.
Karena itu hendaknya guru selalu menyampaikan pelajaran dengan
bahasa Indonesia yang baik dan benar.
3. Hendaknya para guru memilih karya sastra yang tepat sehingga relevan
dengan keadaan siswa di sekolahnya masing-masing.


13

DAFTAR PUSTAKA
Murkhan, A. dan Muhammad Darisman. (1995). Pembelajaran Bahasa Indonesia
SD dan Apresiasi Bahasa dan Sastra Indonesia Yogyakarta: BPG.
Nurgianto, B. (1998). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta:
BPGE.