Anda di halaman 1dari 21

Pengaruh Merger dan Akuisisi

I. Pendahuluan

Salah satu strategi untuk menjadi perusahaan yang besar dan mampu
bersaing adalah melalui ekspansi baik dalam bentuk ekspansi internal
maupun ekspansi eksternal. Ekspansi internal terjadi pada saat divisi-
divisi yang ada dalam perusahaan yang tumbuh secara normal melalui
kegiatan capital budgeting sedangkan ekspansi eksternal dapat dilakukan
dalam bentuk penggabungan usaha (business combination).
Penggabungan usaha dalam akuntansi ada tiga bentuk yaitu: konsolidasi,
merger, akuisisi.
Namun merger dan akuisisi juga mempunyai sisi gelap. Dia dianggap
dapat membahayakan kegairahan ekonomi pasar, karena dapat
mematikan kompetisi. Lebih-lebih jika dilandasi oleh hostile take over.
Dalam proses merger dan akuisisi bukan hanya masalah aset yang
menjadi persoalan, tetapi yang bersifat intangible juga perlu mendapat
perhatian tersendiri.
Perbedaan budaya mesti dikelola dengan baik, agar tidak menjadi
kontributor kegagalan merger dan akuisisi. Sebaliknya, budaya
perusahaan dapat direkayasa sebagai sarana trust building, bagian yang
paling rentan masalah dalam sebuah proses pasca merger dan akuisisi.
’Trust’ secara vertical maupun horisontal masih menjadi barang langka
yang didamba oleh bank -bank nasional hasil merger.

II. Permasalahan

Dari pendahuluan diatas maka pada paper ini masalah yang akan dibahas
dibatasi sebagai berikut :
• Penggabungan usaha hanya dalam bentuk merger dan akuisisi
• Faktor-faktor perusahaan melakukan merger dan akuisisi
• Dampak yang terjadi setelah terjadi merger dan akuisisi

I. Landasan Teori

Merger, konsolidasi, akuisisi adalah hal yang sangat umum dilakukan agar
perusahaan dapat memenangkan persaingan, serta terus tumbuh dan
berkembang.

Page | 1
Joseph F. Sinkey (1983), menjelaskan motivasi yang mendorong bank
untuk melakukan merger, antara lain:
1. Untuk mendapatkan kesempatan beroperasi dalam skala usaha
yang hemat
2. Guna meningkatkan pangsa pasar
3. Menghilangkan tidak efisien melalui operasional dan pengendalian
finansial yang lebih baik
4. Kesempatan menggabungkan sumber daya ataupun pasar yang
dimiliki masing-masing Bank. Selain itu masih terdapat beberapa
faktor yang mendorong motivasi untuk merger, seperti: upaya
diversifikasi, menurunkan biaya dana, dan menaikkan harga saham
secara emosi (bootstrapping of earning per share) karena adanya
pengumuman akan merger bagi Bank publik.

Merger merupakan salah satu pilihan terbaik untuk memperkuat


fondasi bisnis, jika merger tersebut dapat memberikan sinergi. Sutan
Remy Syahdeini dalam makalah berjudul “Merger, Konsolidasi dan
Akuisisi Bank” memberikan definisi merger atau penggabungan usaha
adalah penggabungan dari dua Bank atau lebih dengan cara tetap
mempertahankan berdirinya salah satu Bank dan melikuidasi Bank-bank
lainnya.
Menurut pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 22 tentang
penggabungan badan usaha, definisi akuisisi adalah suatu penggabungan
usaha dimana salah satu perusahaan, yaitu pengakuisisi memperoleh
kendali atas aktiva netto dan operasi perusahan yang diakuisisi, dengan
memberikan aktiva tertentu, mengakui suatu kewajiban atau dengan
mengeluarkan saham.
Akuisisi adalah bentuk pengambil alihan kepemilikan perusahaan oleh
pihak pengakuisisi sehingga mengakibatkan berpindahnya kendali atas
perusahaan yang diambil alih tersebut. Biasanya pihak pengakuisisi
memiliki ukuran yang lebih besar dibanding dengan pihak yang diakuisisi.

A. Merger

Merger merupakan suatu strategi bisnis yang diterapkan dengan


menggabungkan antara dua atau lebih perusahaan yang setuju menyatukan
kegiatan operasionalnya dengan basis yang relatif seimbang, karena mereka
memiliki sumber daya dan kapabilitas yang secara bersama-sama dapat
menciptakan keunggulan kompetitif yang lebih kuat, (Hitt, et.al., 2001).
Sedangkan menurut Brian Coyle (2000) merger dapat diartikan secara luas

Page | 2
maupun secara sempit. Dalam pengertian yang luas, merger juga menunjuk
pada setiap bentuk pengambilalihan suatu perusahaan oleh perusahaan
lainnya, pada saat kegiatan usaha dari kedua perusahaan tersebut
disatukan. Pengertian yang lebih sempit merujuk pada dua perusahaan
dengan ekuitas hampir sama, menggabungkan sumber-sumber daya yang
ada pada kedua perusahaan menjadi satu bentuk usaha. Pemegang saham
atau pemilik dari kedua perusahaan sebelum merger menjadi pemilik dari
saham perusahaan hasil merger, dan top manajemen dari kedua perusahaan
tetap menduduki posisi senior dalam perusahaan setelah merger.

Merger menurut Morris (2000), adalah “the absorption of one corporation


into another corporation,….. Usually but not always, the selling corporation’s
shareholders receive stock in the buying corporation” . Bagi Morris merger
dapat dengan mudah dimengerti sebagai suatu bentuk yang secara
struktural serupa dengan pengambilalihan saham. Semua hak dan kewajiban
dari perusahaan yang merger dialihkan demi hukum kepada perusahaan
yang mengambil alih tersebut. Dalam suatu transaksi merger yang
sebenarnya terjadi adalah pengalihan hak dan kewajiban dari perusahaan
yang diambil alih ke perusahaan yang mengambil alih. Pada pengambilalihan
saham biasa, hak dan kewajiban dari perusahaan yang diambil alih tetap
dipisahkan dalam suatu perusahaan independen yang berbeda dari
perusahaan yang mengambil alih tersebut. Agar tidak merugikan
kepentingan dari perusahaan yang mengakuisisi, dalam merger, maka
diciptakanlah triangular merger, dimana perusahaan yang mengambil alih
mendirikan satu perusahaan baru yang akan mengabsorbsi seluruh hak dan
kewajiban dari perusahaan yang diambil alih tersebut.
Merger berdasarkan aktivitas ekonomik dapat diklasifikasikan dalam lima
tipe, yaitu:

1. Merger Horisontal
Merger horisontal adalah merger antara dua atau lebih perusahaan
yang bergerak dalam industri yang sama. Sebelum terjadi merger
perusahaan-perusahaan ini bersaing satu sama lain dalam
pasar/industri yang sama. Salah satu tujuan utama merger dan
akuisisi horisontal adalah untuk mengurangi persaingan atau untuk
meningkatkan efisiensi melalui penggabungan aktivitas produksi,
pemasaran dan distribusi, riset dan pengembangan dan fasilitas
administrasi. Efek dari merger horisontal ini adalah semakin
terkonsentrasinya struktur pasar pada industri tersebut. Apabila
hanya terdapat sedikit pelaku usaha, maka struktur pasar bisa

Page | 3
mengarah pada bentuk oligopoli, bahkan akan mengarah pada
monopoli.

2. Merger Vertikal
Merger vertikal adalah integrasi yang melibatkan perusahaan-
perusahaan yang bergerak dalam tahapan-tahapan proses produksi
atau operasi. Merger dan akuisisi tipe ini dilakukan jika perusahaan
yang berada pada industri hulu memasuki industri hilir atau
sebaliknya. Merger dan akuisisi vertikal dilakukan oleh perusahaan-
perusahaan yang bermaksud untuk mengintegrasikan usahanya
terhadap pemasok dan/atau pengguna produk dalam rangka
stabilisasi pasokan dan pengguna.

Tidak semua perusahaan memiliki bidang usaha yang lengkap


mulai dari penyediaan input sampai pemasaran. Untuk menjamin
bahwa pasokan input berjalan dengan lancar maka perusahaan
tersebut bisa mengakuisisi atau merger dengan pemasok. Merger
dan akuisisi vertikal ini dibagi dalam dua bentuk yaitu integrasi ke
belakang atau ke bawah (backward/downward integration) dan
integrasi ke depan atau ke atas (forward/upward integration).

3. Merger Konglomerat
Merger konglomerat adalah merger dua atau lebih perusahaan yang
masing-masing bergerak dalam industri yang tidak terkait. Merger
dan akuisisi konglomerat terjadi apabila sebuah perusahaan
berusaha mendiversifikasi bidang bisnisnya dengan memasuki
bidang bisnis yang berbeda sama sekali dengan bisnis semula.
Apabila merger dan akuisisi konglomerat ini dilakukan secara terus
menerus oleh perusahaan, maka terbentuklah sebuah
konglomerasi. Sebuah konglomerasi memiliki bidang bisnis yang
sangat beragam dalam industri yang berbeda.

4. Merger Ekstensi Pasar


Merger ekstensi pasar adalah merger yang dilakukan oleh dua atau
lebih perusahaan untuk secara bersama-sama memperluas area
pasar. Tujuan merger dan akuisisi ini terutama untuk memperkuat
jaringan pemasaran bagi produk masing-masing perusahaan.
Merger dan akusisi ekstensi pasar sering dilakukan oleh perusahan-
perusahan lintas Negara dalam rangka ekspansi dan penetrasi
pasar. Strategi ini dilakukan untuk mengakses pasar luar negeri

Page | 4
dengan cepat tanpa harus membangun fasilitas produksi dari awal
di negara yang akan dimasuki. Merger dan akuisisi ekstensi pasar
dilakukan untuk mengatasi keterbatasan ekspor karena kurang
memberikan fleksibilitas penyediaan produk terhadap konsumen
luar negeri.

5. Merger Ekstensi Produk


Merger ekstensi produk adalah merger yang dilakukan oleh dua
atau lebih perusahaan untuk memperluas lini produk masing-
masing perusahaan. Setelah merger perusahaan akan menawarkan
lebih banyak jenis dan lini produk sehingga akan menjangkau
konsumen yang lebih luas. Merger dan akuisisi ini dilakukan dengan
memanfaatkan kekuatan departemen riset dan pengembangan
masing-masing untuk mendapatkan sinergi melalui efektivitas riset
sehingga lebih produktif dalam inovasi.

Pola adalah sistem bisnis yang diimplementasikan oleh sebuah perusahaan


dan dalam hal ini pola merger adalah sistem bisnis yang akan diadopsi atau
yang akan dijadikan acuan oleh perusahaan hasil merger. Klasifikasi
berdasarkan pola merger terbagi dalam dua kategori yaitu :

1. Mothership Merger
Mothership merger adalah pengadopsian satu pola atau sistem
untuk dijadikan pola atau sistem pada perusahaan hasil merger.
Biasanya perusahaan yang dipertahankan hidup adalah perusahaan
yang dominan dan sistem pola bisnis perusahaan yang dominan
inilah yang diadopsi.

2. Platform Merger
Jika dalam mothership merger hanya satu sistem yang diadopsi,
maka dalam platform merger hardware dan software yang menjadi
kekuatan masing-masing perusahaan tetap dipertahankan dan
dioptimalkan. Artinya adalah semua system atau pola bisnis,
sepanjang itu baik, akan diadopsi oleh perusahaan hasil merger.

Dalam perkembangannya, merger secara garis besar dibagi menjadi dua


kelompok yaitu: financial merger dan operating merger (Bringham, 1995).
Financial Merger adalah merger dimana perusahaan yang bersangkutan
masih tetap beroperasi sehingga tidak ada keuntungan sinergik secara

Page | 5
operasional, Sedangkan Operating Merger diarahkan pada penggabungan
operasional kedua unit usaha dengan harapan memperoleh keuntungan
sinergik.

Prasyarat melakukan merger


Hazel J.Johnson (1995) menyatakan, prasyarat yang harus dianalisis terlebih
dahulu dari kedua Bank yang akan melakukan merger adalah:
1. Kondisi keuangan masing-masing Bank, merger sesama bank sehat
atau karena collapse
2. Kecukupan modal
3. Manajemen, baik sebelum atau sesudah merger
4. Apakah merger dapat memberi manfaat bagi pengguna jasa Bank
tersebut

Johnson lebih lanjut menyatakan setiap lembaga yang akan melakukan


merger, pada umumnya mempunyai beberapa isu penting yang relevan
untuk dianalisis sebelum merger dilakukan, antara lain:
1. Kapan waktu yang tepat untuk melakukan merger?
2. Bagaimana mengidentifikasi kecocokan pasangan (partner) untuk
merger?
3. Bagaimana mengkomunikasikan dengan baik atas rencana merger
ini kepada seluruh pihak yang berkepentingan agar niat merger
mempunyai dampak yang positif di pasar?
4. Bagaimana melakukan cara, yang akan dilakukan untuk konsolidasi
diantara Bank yang merger?

A. Akuisisi

Akuisisi dalam terminologi bisnis diartikan sebagai berikut :


Akuisisi adalah pengambilalihan kepemilikan atau pengendalian atas saham
atau asset suatu perusahaan oleh perusahaan lain, dan dalam peristiwa ini
baik perusahaan pengambilalih atau yang diambil alih tetap eksis sebagai
badan hukum yang terpisah. (Abdul Moin, 2004).
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 27 Tahun 1998 tentang
Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas
mendefinisikan akuisisi sebagai perbuatan hukum yang dilakukan oleh
badan hukum atau orang perseorangan untuk mengambil alih baik seluruh
atau sebagian besar saham perseroan yang dapat mengakibatkan
beralihnya pengendalian terhadap perseroan tersebut.

Page | 6
Berdasarkan hubungan usaha serta ada atau tidaknya kesamaan sifat
dari dua entitas usaha yang melakukan akuisisi. Menurut Reksohadiprojo
dalam Wiharti(1999) akuisisi dapat dibedakan dalam tiga kelompok besar,
yaitu:
1. Akuisisi horizontal, yaitu akuisisi yang dilakukan oleh suatu badan
usaha yang lain, tetapi masih dalam bisnis yang sama.
2. Akuisisi vertikal, yaitu akuisisi pemasok atau pelanggan badan
usaha yang dibeli.
3. Akuisisi konglomerat, yaitu akuisisi badan usaha yang tidak ada
hubungannya sama sekali dengan badan usaha pembeli.

Klasifikasi berdasarkan obyek yang diakuisisi dibedakan atas akuisisi saham


dan akuisisi asset, yaitu :

1. Akuisisi Saham
Istilah akuisisi digunakan untuk menggambarkan suatu transaksi
jual beli perusahaan, dan transaksi tersebut mengakibatkan
beralihnya kepemilikan perusahaan dari penjual kepada pembeli.
Karena perusahaan didirikan atas saham-saham, maka akuisisi
terjadi ketika pemilik saham menjual saham-saham mereka kepada
pembeli/pengakuisisi.
Akuisisi saham merupakan salah satu bentuk akuisisi yang paling
umum ditemui dalam hampir setiap kegiatan akuisisi. Akuisisi
tersebut dapat dilakukan dengan cara membeli seluruh atau
sebagian saham-saham yang telah dikeluarkan oleh perseroan
maupun dengan atau tanpa melakukan penyetoran atas sebagian
maupun seluruh saham yang belum dan akan dikeluarkan
perseroan yang mengakibatkan penguasaan mayoritas atas saham
perseroan oleh perusahaan yang melakukan akuisisi tersebut, yang
akan membawa ke arah penguasaan manajemen dan jalannya
perseroan.

2. Akuisisi Aset
Apabila sebuah perusahaan bermaksud memiliki perusahaan lain
maka ia dapat membeli sebagian atau seluruh aktiva atau aset
perusahaan lain tersebut. Jika pembelian tersebut hanya sebagian
dari aktiva perusahaan maka hal ini dinamakan akusisi parsial.
Akuisisi asset secara sederhana dapat dikatakan merupakan :
a. Jual beli (aset) antara pihak yang melakukan akuisisi aset
(sebagai pihak pembeli) dengan pihak yang diakuisisi asetnya

Page | 7
(sebagai pihak penjual), jika akuisisi dilakukan dengan
pembayaran uang tunai. Dalam hal ini segala formalitas yang
harus dipenuhi untuk suatu jual beli harus diberlakukan,
termasuk jual beli atas hak atas tanah yang harus dilakukan
dihadapan Pejabat Pembuatan Akta Tanah.
b. Perjanjian tukar menukar antara aset yang diakuisisi dengan
suatu kebendaan lain milik dan pihak yang melakukan akuisisi,
jika akuisisi tidak dilakukan dengan cara tunai. Dan jika
kebendaan yang dipertukarkan dengan aset merupakan saham-
saham, maka akuisisi tersebut dikenal dengan nama assets for
share exchange, dengan akibat hukum bahwa perseroan yang
diakuisisi tersebut menjadi pemegang saham dan perseroan
yang diakuisisi.

Untuk melakukan akuisisi, Morris (2000) mengemukakan adanya


beberapa hal yang perlu diketahui terlebih dahulu :
1. Characteristics and size of industry and company
2. Size of market and expected market growth
3. Share of market held by the candidate (to be acquired)
4. Barriers to entry by the new competition
5. State of the acquisition candidate’s technology and easy with which
it could be duplicated by the acquirer or by a competitior
6. Competitive advantage of the acquisition candidate’s product or
service
7. Amount of the investment required by the acquirer and the
projected return rates
8. Existence of in place management, technical personnel and other
key personnel
9. Ability of the acquirer to acquire and retain the acquisition
candidate’s business
10.Size and price range

Akuisisi dapat terjadi dalam keseluruhan ataupun secara sebagian.


Akuisisi keseluruhan terjadi jika yang diambil alih seluruh saham dari
perusahaan yang diambil alih tersebut, sedangkan akuisisi disebut akuisisi
sebagian jika akuisisi dilakukan dengan mengambil alih lebih dari 50%
kepemilikan saham tetapi kurang dari 100% Coyle(2000). Selain itu, akuisisi
dapat dilakukan dengan cara :

Page | 8
1. Pembayaran tunai
2. Pembayaran dengan penerbitan surat-surat berharga, dalam bentuk
saham (share swap), obligasi, surat utang, dan surat-surat berharga
lainnya
3. Campuran dalam bentuk pembayaran tunai dan surat berharga
4. Opsi bagi pihak yang sahamnya diambil alih, untuk menerima
pembayaran dalam bentuk tunai atau surat berharga.

Akuisisi, Coyle (2000) dalam prakteknya juga dapat mengambil bentuk :


1. Agresive
2. Defensive
3. Negotiated

Akuisisi dikatakan bersifat aggressive, jika akuisisi dilakukan dengan


paksa, yang pada umumnya memperoleh tentangan yang sangat dari
manajemen perusahaan yang akan diambil alih, sehingga seringkali disebut
juga dengan hostile take over. Bentuk akuisisi yang berlawanan dari
aggressive acquisition ini adalah negotiated take over. Sedangkan suatu
akuisisi disebut dengan defensif, jika terjadi keadaan tawar menawar antara
manajemen perusahaan yang diambil alih mengenai pihak mana yang
disetujui untuk melakukan pengambilalihan. Defensive acquisition ini pada
umumnya terjadi sebagai reaksi dari aggressive take over.

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perusahaan Melakukan


Merger dan Akuisisi

Faktor-faktor yang mempengaruhi perusahaan melakukan merger dan


akuisisi adalah:

1. Sinergi.
Sinergi adalah kemampuan lebih yang diperoleh dari penggabungan
dua atau lebih kekuatan. Sinergi menggambarkan penggabungan
dua faktor akan menghasilkan tenaga yang lebig besar
dinbandingkan dengan jumlah tenaga yang dihasilkan sebelum
bergabung. Bila itu diterapkan, Kartini Muliadi (1992) mengatakan
dengan: ”it refer to the ability of a corporate combination to be
more profitable than the individual profit of the firm that were
combined”. Sinergi diperoleh dalam beberapa bentuk. Misalnya
sinergi finansial, sinergi pemasaran, sinergi penjualan dan lain-lain.

Page | 9
2. Tambahan Modal Kerja.
Modal kerja bagi suatu perusahaan digunakan untuk pembiayaan
yang sifatnya jangka pendek. Tambahan modal kerja akan lebih
mudah diperoleh dari transaksi akuisisi.

3. Perubahan Biaya Finansial.


Finansial secara umum dalam suatu perusahaan merupakan
”darahnya” perusahaan. Finansial mempunyai kesempatan
ertambah lebih banyak jika dilakukan akuisisi dengan perusahaan
target.

4. Meningkatkan Penjualan.
Transaksi merjer dan akuisisi dapat meningkatkan penjualan.
Sedikitnya ada dua kemungkinan penjualan ini meningkat. Pertama,
pengambil alihan perusahaan target yang memproduksi produk
sejenis atau berlainan, dan kedua dengan cara mengambil alih
perusahaan target yang bergerak dalam bidang pendistribusian
produk.

5. Memungkinkan Perluasan Pinjaman.


Suatu perusahaan biasanya mempunyai keterbatasan untuk
memperoleh dana berupa pinjaman dari pihak ketiga. Melalui
merjer dan akuisisi memperbesar kemungkinan untuk melakukan
pinjaman melalui perusahaan target.

6. Memperoleh keunggulan manajemen Profesional.


Manajemen Profesional adalah sumber daya manusia yang semua
orang mengakui merupakan aset perusahaan (meskipun sampai
sekarang masih kontroversi bagaimana cara mengukur ”aset” ini).
Melakukan merjer dan akuisisi dengan perusahaan target yang
mempunyai manajer yang profesional akan memperbesar
kemungkinan peningkatan prestasi perusahaan secara keseluruhan
setelah bergabung.

7. Mendapatkan Kompetisi yang lebih efektif.


Memperoleh laba yang tinggi dari hasil pelemparan produk
(meskipun produk baru). Menurut teoristis dan praktis tidak akan
lama diperoleh. Secara alamiah perusahaan lain akan masuk
menjual produk yang sama dan itu artinya persaingan menjadi kuat.
Melakukan merjer dan akuisisi terhadap perusahaan target yang

Page | 10
ikut bermain dalam pemasaran produk dapat memperoleh
kedudukan yang kompetisi yang lebih efektif.
8. Meningkatkan Efisiensi (Skala Ekonomi).
Berbagai keuntungan yang diperoleh dari segi ekonomis melalui
transaksi merjer dan akuisisi. Murahnya bahan baku, proses
produksi, pendistribusian dan lain-lain yang lebih efisien bila
dibandingkan sebelum dilakukan penggabungan.

9. Mengurangi Kompetisi.
Pesaing bagi suatu perusahaan adalah ”musuh”. Melakukan
transaksi merjer dan akuisisi dengan perusahaan target (pesaing)
adalah salah satu jalan yang lebih mudah. Tujuannya pangsa pasar
dapat dikuasai dan dikendalikan.

10.Memperbaiki Posisi Pemegang Saham Berkenaan dengan Undang-


undang Pemilikan Tanah.
Khususnya di Amerika Serikat, melakukan akuisisi akan
menguntungkan pemegang saham dan pemilikan tanah. Diluar
ketentuan yang telah digariskan dalam Undang-undang bergabung
dalam arti anti trust law, pemegang saham dan pemilikan tanah
terlindungi melalui akuisisi. Di Indonesia, UU yang mengatur
tentang akuisisi belum ada. Transaksi merger dan akuisisi yang
dilakukan oleh perusahaan go public dapat memperoleh
”keuntungan dari kekosongan perpajakan”. Setidaknya ada dua
keuntungan yang diperoleh. Pertama, akuisitor melakukan merger
dan akuisisi dengan perusahaan yang terus menerus merugi. Pada
saat dibuat laporan keuntungan konsolidasi akhir tahun akan
menampakkan rugi, walaupun sebelumnya akuisitor berlaba.
Akhirnya dengan cara ini dapat menghilangkan kesempatan negara
memperoleh penerimaan pajak melalui PPh dari pembayaran
deviden kepada pemegang saham. Kedua, transaksi akuisisi dapat
mengakibatkan perubahan kesempatan penerimaan pajak dari PPh
pada pajak capital gain.

11.Mengurangi Risiko Memasuki Industri Baru


Memasuki industri baru tentu saja mengambil resiko yang besar.
Oleh karena industri ini kurang perpengalaman dalam menghadapi
gejolak perekonomian maupun persaingan, maka tindakan terbaik
akuisitor mengambil alih merger dan akuisisi perusahaan yang

Page | 11
sudah lama berdiri dan berpengalaman serta tingkat resiko yang
jauh lebih rendah.

12.Pemanfaatan Kapasitas Hutang.


Kapasitas hutang suatu perusahaan tentu terbatas. Perusahaan
target dapat memenuhi keterbatasan itu. Dana pinjaman dari
kreditor (pihak ketiga) yang akan lebih mudah dimanfaatkan untuk
tujuan produktif.

13.Memecah-mecah Resiko.
Melakukan penggabungan usaha juga menggabungkan aset.
Dengan pengabungan itu, resiko bisnis tersebar ke beberapa
pemegang saham yang melakukan penggabungan.

D. Faktor Penentu Keberhasilan Merger dan Akuisis

Keberhasilan suatu merger dan akuisisi sangat bergantung pada ketepatan


analisis dan penelitian yang menyeluruh terhadap faktor-faktor penyelaras
atau kompatibilitas antara organisasi yang akan bergabung. Neil M. Kay
(1997), dalam bukunya Pattern in Corporate Evolution, mengungkapkan
bahwa merger dan akuisisi akan berlangsung sukses apabila diantara
perusahaan yang akan bergabung memiliki market link dan technological
link. Sementara Robins (2000), dalam Organizational Behavior,
menambahkan bahwa kompatibilitas budaya organisasi yang akan
bergabung dalam sebuah merger seringkali menjadi faktor non ekonomi
yang krusial dalam mendukung keberhasilan sebuah proses merger.
Sedangkan Pringle dan Harris (1987), dalam bukunya Esentials of Managerial
Finance memandang bahwa kinerja keuangan pada perusahaan hasil merger
merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan ketika dua
perusahaan atau lebih akan bergabung.

1. Faktor Pasar dan Pemasaran


Menurut Neil Kay (1997), perusahaan dapat berhasil dalam
melakukan merger dan akuisisi apabila terdapat kesamaan atau
komplementaritas dalam hal pasar yang ia sebut sebagai market
linkages. Salah satu hasil yang diharapkan dari merger dan akuisisi
adalah sinergi yang dihasilkan oleh meningkatnya akses
perusahaan ke pasar baru yang selama ini tidak tersentuh.
Sumber-sumber potensial yang dalam hal ini menggabungkan
kesempatan pasar dengan saling berbagi pasar yang ditekuni

Page | 12
masing-masing selama ini (cross marketing). Dengan lini produk
yang lebih luas, setiap perusahaan dapat menjual lebih banyak
produk kepada pelanggannya dari yang selama ini telah
dilakukannya. Cross-marketing ini memungkinkan secara cepat
masing-masing perusahaan untuk meningkatkan pendapatannya
dengan sangat cepat. Sehingga memungkinkan terjadinya cross
selling yang akan meningkatkan pendapatan perusahaan hasil
merger dan akuisisi. Sebagai contoh sarana cross-marketing adalah
kekuatan merk salah satu produk akan memberikan efek kepada
produk yang lain yang didapat dari hasil merger dan akuisisi.

Sustainability perusahaan sangat tergantung pada respon pasar


yang positif terhadap apa yang mereka tawarkan. Meskipun
memiliki kemampuan untuk memproduksi barang atau jasa yang
berkualitas namun bila pasar tidak memberikan respon yang positif
maka perusahaan tidak akan memperoleh profit. Sementara profit
merupakan dasar bagi keberlangsungan sebuah perusahaan.

2. Faktor Teknologi
Menurut Neil Kay (1997), perusahaan dapat melakukan merger dan
akuisisi apabila terdapat kesamaan atau komplementaritas dalam
hal sumber daya teknologi dan produksi yang ia sebut sebagai
technological linkages. Technological linkages ini dapat meliputi
penggabungan proses produksi karena proses yang sama seperti
halnya yang terjadi pada horizontal merger.
Proses pengembangan produk juga dapat menjadi sarana
terjadinya sinergi teknologi informasi dalam satu organisasi. Ketika
teknologi yang digunakan sama maka potensi sinergi dapat
diciptakan. Dengan melakukan proses merger dan akuisisi secara
sehat dan suka rela, potensi sinergi akan menghasilkan skala dan
ruang lingkup ekonomi (economy of scale and scope) yang
bermanfaat. Teknologi dapat juga didefinisikan sebagai kemampuan
produksi dan inovasi yang dimiliki oleh perusahaan yang tercermin
dari kualifikasi sumber daya manusia, skill dan keahlian yang
mereka miliki, jenis produk yang mereka tawarkan serta peralatan
barang modal yang mereka gunakan.
Disinilah para pengambil kebijakan juga mesti berhati-hati.
Jangan sampai perusahaan hasil merger dan akuisisi malah menjadi
tidak produktif dikarenakan adanya kesenjangan teknologi.

Page | 13
3. Faktor Budaya Organisasi
Budaya organisasi merupakan salah satu aspek non ekonomis yang
sangat penting untuk dipertimbangkan ketika dua perusahaan atau
lebih melakukan merger dan akuisis. Dalam banyak kasus merger
dan akuisisi diberbagai perusahaan, masalah budaya seringkali
menjadi masalah yang sangat krusial. Latar belakang budaya yang
sangat berbeda diantara karyawan dapat menyebabkan karyawan
enggan untuk melakukan kerja sama, masing-masing berusaha
melakukan sesuatu berdasarkan cara metode yang selama ini telah
mereka lakukan diperusahaan lama mereka, untuk bisa beradaptasi
seringkali membutuhkan waktu yang lama.
Budaya organisasi didefinisikan oleh Robins (2000) sebagai suatu
persepsi bersama yang dianut anggota-anggota organisasi tersebut.
Schein (1997), menyebutkan bahwa budaya organisasi mengacu
kepada suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-
anggota yang membedakan organisasi itu dari organisasi lainnya.
Sementara Kotter dan Heskett (1992) menjelaskan bahwa dalam
organisasi, budaya mempresentasikan value dan cara yang dimiliki
bersama oleh orang-orang yang terlibat dalam organisasi. Value
sendiri dipandang sebagai keyakinan dasar tentang apa yang
seharusnya atau tidak seharusnya dilakukan dan apa yang penting
dan apa yang tidak penting untuk organisasi.
Perbedaan budaya ini dapat menyebabkan konflik. Akibatnya
kerja sama tidak mudah terbangun, kohesivitas organisasi lemah,
sinergi tidak tercipta, akhirnya produktivitas perusahaan hasil
merger dan akuisisi juga menjadi lebih buruk dari sebelumnya.
Perbedaan budaya organisasi tentu dapat diselesaikan. Karena
memang budaya sendiri adalah sesuatu yang dapat berubah.
Namun hal tersebut membutuhkan waktu dan kemampuan
mengelola perubahan yang baik. Karenanya sebelum merger dan
akuisisi dilakukan kiranya perlu dipersiapkan model transisi budaya
yang bisa diterima dan diikuti oleh segenap komponen dalam
masing-masing perusahaan yang akan merger dan akuisisi.

4. Faktor Keuangan
Salah satu alasan mengapa merger dan akuisisi dilakukan adalah
harapan akan terjadinya sinergi melalui penggabungan sumber
daya beberapa perusahaan.

Page | 14
Dari sisi finansial, sinergi ini bermakna kemampuan
menghasilkan laba perusahaan hasil merger dan akuisisi yang lebih
besar dari kemampuan laba masing-masing perusahaan sebelum
merger dan akuisisi. Sinergi inilah yang menjadi syarat awal
terjadinya sebuah merger. Sinergi ini kemudian memungkinkan
perusahaan hasil merger dan akuisisi dapat membiayai proses
merger dan akuisisi serta mampu memberikan deviden yang
premium kepada pemilik modal perusahaan.
Efek sinergi dari sebuah merger dan akuisisi bersumber pada
dua aktivitas yaitu sinergi dalam hal operasional dan sinergi dalam
hal finansial. Sinergi operasional dapat terjadi berupa peningkatan
pendapatan (revenue enhancement) dan pengurangan biaya (cost
reduction).
Dalam prakteknya, usaha peningkatan pendapatan ini lebih sulit
dibanding usaha mengurangi biaya produksi. Hal ini karena yang
kedua lebih kasat mata dan terukur sehingga lebih mudah
diidentifikasi. Sementara sinergi dalam hal finansial berhubungan
dengan kemungkinan lebih rendahnya biaya memperoleh modal
bagi perusahaan hasil merger dan akuisisi dibanding biaya bagi
perusahaan sebelum merger dan akuisisi.

Para perencana merger dan akuisisi cenderung melihat


pengurangan biaya sebagai sumber utama sinergi operasional.
Pengurangan biaya ini lebih banyak bersumber dari skala ekonomi
yaitu penurunan biaya per unit produk yang dihasilkan oleh
peningkatan volume produksi atau skala operasional perusahaan.
Biaya per unit produk yang tinggi muncul akibat biaya tetap
operasional yang hanya menghasilkan output yang sedikit. Proses
yang meningkatkan jumlah output yang kemudian berakibat
penurunan biaya per unit ini biasa disebut spreading overhead.
Sumber lain yang dapat mengurangi biaya adalah peningkatan
spesialisasi tenaga kerja dan manajemen, serta penggunaan barang
modal yang lebih efisien, yang tidak mungkin terjadi pada tingkat
output yang rendah.

I. Pembahasan

A. Kasus Merger dan Akuisisi pada Industri Perbankan

Page | 15
Pada kasus industri perbankan, krisis perekonomian yang terjadi di wilayah
ekonomi Asia Timur dan Asia Tenggara pada tahun 1997 telah membawa
dampak terjadinya kemelut di industri perbankan di dalam negeri. Cukup
banyak lembaga perbankan yang menghadapi permasalahan dan bahkan
kemudian kolaps akibat krisis tersebut.
Upaya penyelamatan dari bank-bank yang masih bertahan kemudian
tertolong dengan dijalankannya kebijakan “restrukturisasi finansial” dan
strategi ”merger dan akuisisi”. Proses merger dan akuisisi di industri
perbankan memang memiliki baik dampak yang positip maupun dampak
yang negatif, tergantung dari perspektif kita memandangnya. Keberhasilan
upaya merger dan akuisisi memerlukan keuletan dan jalan yang cukup
berliku bagi berbagai pihak yang ingin sukses menerapkan kebijakan ini.

B. Manfaat dan Resiko Merger dan Akuisisi

Dalam banyak literature manajemen strategi ditemukan bahwa merger dan


akuisisi memberikan banyak manfaat. Beberapa manfaat yang mungkin
dihasilkan dari proses merger dan akuisisi menurut David (1998) antara lain :
1. Meningkatkan efisiensi melalui sinergi yang tercipta diantara
perusahaan yang dimerger atau diakuisisi.
2. Memperluas portfolio jasa yang ditawarkan yang akan berakibat
pada bertambahnya sumber pendapatan bagi perusahaan.
3. Memperkuat daya saing perusahaan, dan lain sebagainya.

Namun selain manfaat yang mungkin dihasilkan, menurut David (1998)


perlu juga diperhatikan kemungkinan risiko yang akan muncul sebagai hasil
dari merger dan akuisisi, yaitu :
1. Seluruh kewajiban masing-masing perusahaan akan menjadi
tanggungan perusahaan hasil merger atau akuisisi, termasuk
kewajiban pembayaran dan penyerahan produk kepada vendor
yang masih terhutang.
2. Beban operasional, terutama dalam jangka pendek, akan semakin
meningkat sebagai akibat dari proses penggabungan usaha.
3. Perbedaan budaya (corporate culture), sistem dan prosedur yang
diterapkan dimasing-masing perusahaan selama ini akan
memerlukan penyesuaian dengan waktu yang relatif lama, dan
sebagainya.

A. Dampak Langsung dan Tidak Langsung

Page | 16
Strategi merger dan akuisisi yang terjadi di industri perbankan dapat
memberikan dampak langsung pada perusahaan yang melakukan proses
merger.
Secara mikroekonomi, penerapan strategi ini ternyata disamping dapat
memberikan pengaruh yang positip; dapat juga memberikan rekaman hitam
dalam bentuk kekecewaan, konflik dan bahkan kegagalan dari proses itu
sendiri. Pada tingkat makro ekonomi, sementara ini strategi merger dan
akuisisi belum memberikan dampak positif yang besar.

1. Pengaruh Mikroekonomi
Begitu dua atau lebih organisasi perbankan melakukan strategi
merger maka akan terjadi perubahan tingkah laku dari perusahaan
gabungan tersebut. Dampak positip yang sering dilaporkan adalah:
a. Dimungkinkannya pertukaran cadangan cash flow secara
internal antar perusahaan yang melakukan merger, sehingga
bank hasil merger dapat memanage risiko likuiditas dengan lebih
fleksibel.
b. Diperolehnya peningkatan modal perusahaan (biasanya CAR
akan meningkat tetapi tidak terlalu cukup tinggi) dan adanya
keunggulan dalam memanage biaya akibat bertambahnya skala
usaha.Efisiensi perusahaan dapat dilakukan lebih lanjut,
khususnya dalam efisiensi biaya provisi kredit.
c. Dicapainya keunggulan market power dalam persaingan, yang
kemudian dapat memperbesar margin bunga pinjaman.

Tetapi proses merger itu sendiri dapat juga memberikan pengaruh negatif
berikut ini:
a. Karena proses merger biasanya dilakukan atas dorongan untuk
cepat terselesaikannya kemelut keuangan di salah satu bank
peserta, maka harga penjualan sahamnya cenderung akan dinilai
dibawah harga pasar yang wajar.
b. Proses merger biasanya diikuti dengan peningkatan
ketidakpastian pada pihak Direksi, manajer dan karyawan.
c. Proses merger perbankan nasional di Indonesia biasanya diikuti
dengan pengurangan jumlah pegawai dan staf kurang
profesional di perusahaan perbankan hasil merger.

Page | 17
d. Terjadinya benturan kepentingan, kondisi saling curiga dan
bahkan konflik diantara para anggota komisaris dan direksi. Hal
ini terjadi jika bank hasil merger tersebut dikuasai oleh lebih satu
pemegang saham pengendali. Sebagian anggota komisaris dan
direksi yang ada cenderung untuk berlomba mewakili
kepentingan masing-masing pemilik dari bank hasil merger
dengan menunjukkan prestasi kelompoknya masing-masing.
e. Kegiatan merger dalam dua tahun pertama cenderung diikuti
dengan strategi efisiensi; sehingga hal ini akan mengurangi
semangat dan kreativitas dari sebagian pihak Direksi dan staf
profesional. Jika hal ini berlanjut cukup lama maka biasanya akan
diikuti dengan proses exodus para manager menengah yang
profesional dan inovatif.
f. Benturan budaya perusahaan tidak dapat dielakkan; sehingga
tentunya perusahaan hasil merger akan mengalami penurunan
dalam jangka pendek.

2. Pengaruh Makroekonomi
Di beberapa negara berkembang lainnya di dunia, strategi merger
biasa digunakan untuk memperkuat dan memperluas kepemilikan
Pemerintah pada industri perbankan. Alasannya pelaksanaan
strategi ini agar pemerintah dapat menjalankan program
pembangunan dengan dukungan lembaga perbankan yang
dikendalikan.
Strategi ini ternyata tidak sepenuhnya berhasil, karena yang
terjadi adalah mismanajemen dalam pengelolaan organisasi bank
merger yang semakin besar, dengan laporan banyaknya kejadian
kasus , penunjukan rekanan teman sendiri, inefisiensi penggunaan
anggaran promosi dan anggaran pengembangan, serta
diketemukannya berbagai kasus korupsi.
Kasus di salah satu bank hasil merger di tanah air, membuktikan
sebagian dari dugaan ini. Kurangnya pengawasan dari pihak Dewan
Komisaris, yang melimpahkan kewenangan yang lebih besar pada
pihak Direksi untuk memutuskan kelayakan kredit usaha pada
jumlah yang besar, telah membawa akibat meningkatnya angka
NPL bank tersebut.
Dampak negatif terjadi karena tidak transparannya perusahaan
merger milik pemerintah yang tidak diawasi sepenuhnya oleh
publik. Pada perspektif yang lain,strategi merger dan akuisisi

Page | 18
dipandang sebagai alat untuk memperkuat struktur kapital
perbankan secara makro di lokasi operasi peserta bank merger.
Tujuan ini dilaksanakan agar tercapai proses penguatan landasan
keuangan perbankan nasional menuju konvergensi.
Dalam kaitan ini Bank Indonesia beberapa tahun terakhir telah
merubah kebijakan publiknya untuk mengundang partisipasi asing
dalam proses merger bank-bank nasional di Indonesia – sehingga
diharapkan akan tercapai arsitektur pengaturan kapitalisasi
perbankan secara bentuk “kerucut piramida”. Kebijakan ini
tentunya perlu dilakukan secara hati-hati, dan bahkan jika perlu
dikaji ulang, mengingat bukti-bukti empiris yang belum mendukung
sepenuhnya dugaan tersebut.
Internasionalisasi kepemilikan asing dalam arsitektur perbankan
nasional memiliki potensi yang akan memberikan dampak negatip
pada perekonomian nasional, mengingat beberapa potensi
ancaman berikut ini:
a. Kemungkinan timbulnya kesenjangan antara proses akumulasi
dana pihak ketiga dan proses penyalurannya untuk kepentingan
perekonomian lokal dan nasional.
b. Kurangnya partisipasi bank asing dalam pendanaan kegiatan
usaha berskala besar di tanah air, seperti pendanaan program
pembangunan infrastuktur, mengingat perhitungan managemen
resiko yang sangat ketat yang mereka jalankan.
c. Pada saat kondisi politik di dalam negeri menghadapi skenario
kemelut dan krisis, maka cadangan bank-bank asing di Indonesia
akan terjadi.
d. Bank asing akan memindahkan sementara waktu dana yang
terhimpun di dalam negeri ke anak-anak perusahaan holding
yang lokasinya terdekat, seperti di Singapura dan Hongkong.
e. Tingkat multiplier penyerapan tenaga kerja di bank milik asing
akan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan angka-angka
multiplier pada perusahaan perbankan milik swasta domestik
dan perusahaan BUMN.

D. Evaluasi keberhasilan dan kegagalan merger

Membuat proyeksi keberhasilan merger penting dilaksanakan, sebelum


merger dilakukan secara legal. Tahapan diawali dengan due diligence (uji
tuntas) atas perusahaan yang akan dikonsolidasikan. Penilaian dilakukan

Page | 19
atas sinergi yang akan diperoleh, dilihat dari sinergi operasional dan sinergi
financial.
Sinergi operasional, umumnya dengan membandingkan sumber daya
masing-masing perusahaan, antara lain: Visi Misi dan tujuan perusahaan,
perencanaan strategik, Sumber Daya Manusia, jaringan, pangsa pasar,
Informasi Teknologi yang digunakan, dan budaya kerja masing-masing
perusahaan.
Evaluasi finansial, didasarkan atas: analisis laporan keuangan
perusahaan, berupa neraca dan laba rugi, baik yang berupa on atau off
balance sheet, serta fee based income. Metoda yang digunakan bermacam-
macam, salah satunya menitik beratkan pada cash flow, sebagai berikut:
1. Analisis proyeksi arus kas dengan menggunakan diskon faktor
sesuai biaya dana perusahaan (Discounted cash flow approach)
2. Analisis yang didasakan atas ratio harga saham dengan pendapatan
(Price Earning Ratio) dibandingkan dengan nilai P/E dari perusahaan
sejenis
3. Penilaian atas dasar nilai buku,yang beberapa pos dari neraca
disesuaikan dengan perkiraan risiko yang mungkin ada sehingga
mengurangi nilai buku (Adjusted book value)

Banyak perusahaan atau Bank yang mengalami kegagalan saat dilakukan


merger, disebabkan, antara lain:
1. Harga yang ditetapkan saat dilakukan merger terlalu tinggi akibat
analisis sebelumnya tidak akurat
2. Sumber pembiayaan merger berasal dari pinjaman berbiaya tinggi
3. Asumsi yang salah dengan mengharapkan booming market, yang
ternyata terjadi sebaliknya
4. Tergesa-gesa, sebelum dilakukan uji tuntas dengan baik
5. Perbedaan kedua perusahaan terlalu besar
6. Budaya kerja tak dapat disatukan
7. Krisis manajerial karena ingin mempertahankan semua manajemen
yang ada di kedua perusahaan

I. Kesimpulan

• Merger dan akuisisi hanya akan dilakukan jika nilai dari perusahaan
hasil merger atau akuisisi tersebut lebih besar dibanding dengan
jumlah nilai masing-masing perusahaan.

Page | 20
• Walaupun hasil analisis menunjukkan bahwa hasil merger atau akuisisi
akan lebih baik, namun tetap memerlukan waktu penyesuaian,
terutama untuk menyatukan budaya kerja dari kedua perusahaan

I. Daftar Pustaka

Coyle Brian, 2000, Mergers and Acquisitions, Amacom, New York


Hitt, M.E., et.all., 2000, Strategic Management, South Western College
Publishing
Johnson, Hazel J. Bank Mergers, Acquisition & Strategic Alliances. New York:
Richard D. Irwin, Inc., 1995
http://edratna.wordpress.com/2007/06/18/merger/
http://organisasi.org/macam_jenis_serta_pengertian_ekspansi_bisnis_merger_ak
uisisi_hostile_take_over_dan_leverage_buyout
http://f1trah.blogspot.com/2008/04/akuisisi.html
http://bluesea-heromi.blogspot.com/2008/04/tugas-industrial-business-and-
analysis.html
Morris Joseph M., 2000, Mergers and Acquisitions, Business Strategies for
Accountants, JohnWiley & Sons, Inc., New York
Sinkey, Joseph F., Jr. Commercial Bank Financial Management. New York:
Macmillan Publishing Co., Inc., 1983

Page | 21