Anda di halaman 1dari 7

Bersyukur pada Allah dan memuji-Nya atas dipertemukannya dengan bulan

Ramadhan.
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Adzkaar,
Ketahuilah, dianjurkan bagi siapa saja yang mendapatkan suatu nikmat atau dihindarkan
dari kemurkaan Allah, untuk bersujud syukur kepada Allah Taala, atau memuji Allah
(sesuai dengan apa yg telah diberikan-Nya).
Dan sesungguhnya di antara nikmat yang paling besar dari Allah atas seorang hamba
adalah taufiq untuk melaksanakan ketaatan. Selain dipertemukan dengan bulan Ramadhan,
nikmat agung lainnya adalah berupa kesehatan yang baik. Maka ini pun menuntut untuk
bersyukur dan memuji Allah Sang Pemberi Nikmat lagi Pemberi Keutamaan dengan nikmat
tersebut. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak dan pantas bagi keagungan
Wajah-Nya dan keagungan kekuasaan-Nya.


Bersyukur Dengan Yang Sedikit
Alhamdulillah, puji syukur pada Allah pemberi berbagai macam nikmat. Shalawat dan salam senantiasa
dipanjatkan pada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Setiap saat kita telah mendapatkan nikmat yang banyak dari Allah, namun kadang ini terus merasa
kurang, merasa sedikit nikmat yang Allah beri. Allah beri kesehatan yang jika dibayar amatlah mahal.
Allah beri umur panjang, yang kalau dibeli dengan seluruh harta kita pun tak akan sanggup
membayarnya. Namun demikianlah diri ini hanya menggap harta saja sebagai nikmat, harta saja yang
dianggap sebagai rizki. Padahal kesehatan, umur panjang, lebih dari itu adalah keimanan, semua adalah
nikmat dari Allah yang luar biasa.

Syukuri yang Sedikit
Dari An Numan bin Basyir, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang
banyak. (HR. Ahmad, 4/278. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana dalam
As Silsilah Ash Shohihah no. 667).
Hadits ini benar sekali. Bagaimana mungkin seseorang dapat mensyukuri rizki yang banyak, rizki yang
sedikit dan tetap terus Allah beri sulit untuk disyukuri? Bagaimana mau disyukuri? Sadar akan nikmat
tersebut saja mungkin tidak terbetik dalam hati.

Kita Selalu Lalai dari 3 Nikmat
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa nikmat itu ada 3 macam.
Pertama, adalah nikmat yang nampak di mata hamba.
Kedua, adalah nikmat yang diharapkan kehadirannya.
Ketiga, adalah nikmat yang tidak dirasakan.
Ibnul Qoyyim menceritakan bahwa ada seorang Arab menemui Amirul Mukminin Ar Rosyid. Orang itu
berkata, Wahai Amirul Mukminin. Semoga Allah senantiasa memberikanmu nikmat dan
mengokohkanmu untuk mensyukurinya. Semoga Allah juga memberikan nikmat yang engkau harap-
harap dengan engkau berprasangka baik pada-Nya dan kontinu dalam melakukan ketaatan pada-Nya.
Semoga Allah juga menampakkan nikmat yang ada padamu namun tidak engkau rasakan, semoga juga
engkau mensyukurinya. Ar Rosyid terkagum-kagum dengan ucapan orang ini. Lantas beliau berkata,
Sungguh bagus pembagian nikmat menurutmu tadi. (Al Fawaid, Ibnul Qayyim, terbitan, Darul Aqidah,
hal. 165-166).
Itulah nikmat yang sering kita lupakan. Kita mungkin hanya tahu berbagai nikmat yang ada di hadapan
kita, semisal rumah yang mewah, motor yang bagus, gaji yang wah, dsb. Begitu juga kita senantiasa
mengharapkan nikmat lainnya semacam berharap agar tetap istiqomah dalam agama ini, bahagia di
masa mendatang, hidup berkecukupan nantinya, dsb. Namun, ada pula nikmat yang mungkin tidak kita
rasakan, padahal itu juga nikmat.

Kesehatan Juga Nikmat
Bayangan kita barangkali, nikmat hanyalah uang, makanan dan harta mewah. Padahal kondisi sehat
yang Allah beri dan waktu luang pun nikmat. Bahkan untuk sehat jika kita bayar butuh biaya yang teramat
mahal. Namun demikianlah nikmat yang satu ini sering kita lalaikan.
Dua nikmat ini seringkali dilalaikan oleh manusia termasuk pula hamba yang faqir ini-. Nabi shallallahu
alaihi wa sallam bersabda,


Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang. (HR.
Bukhari no. 6412, dari Ibnu Abbas)
Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga
badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat),
hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat
yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan
Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu. (Dinukil dari Fathul
Bari, 11/230)

Rizki Tidak Hanya Identik dengan Uang
Andai kita dan seluruh manusia bersatu padu membuat daftar nikmat Allah, niscaya kita akan mendapati
kesulitan. Allah Taala berfirman,


Dan Dia telah memberimu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika
kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat
lalim dan banyak mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim: 34).
Bila semua yang ada pada kita, baik yang kita sadari atau tidak, adalah rizki Allah tentu semuanya harus
kita syukuri. Namun bagaimana mungkin kita dapat mensyukurinya bila ternyata mengakuinya sebagai
nikmat atau rejeki saja tidak?
Saudaraku! kita pasti telah membaca dan memahami bahwa kunci utama langgengnya kenikmatan pada
diri anda ialah sikap syukur nikmat. Dalam ayat suci Al Quran yang barangkali kita pernah
mendengarnya disebutkan,


Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami
akan menambah (nikmat) kepadamu. (QS. Ibrahim: 7). Alih-alih mensyukuri nikmat, menyadarinya saja
tidak. Bahkan dalam banyak kesempatan bukan hanya tidak menyadarinya, akan tetapi malah
mengingkari dan mencelanya. Betapa sering kita mencela angin, panas matahari, hujan dan berbagai
nikmat Allah lainnya?
Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa Al Fudhail bin Iyadh mengisahkan: Pada suatu hari Nabi Dawud
alaihissalam berdoa kepada Allah: Ya Allah, bagaimana mungkin aku dapat mensyukuri nikmat-Mu, bila
ternyata sikap syukur itu juga merupakan kenikmatan dari-Mu? Allah menjawab doa Nabi Dawud
alaihissalam dengan berfirman: Sekarang engkau benar-benar telah mensyukuri nikmat-Mu, yaitu ketika
engkau telah menyadari bahwa segala nikmat adalah milikku. (Dinukil dari Tafsir Ibnu Katsir)
Imam As Syafii berkata, Segala puji hanya milik Allah yang satu saja dari nikmat-Nya tidak dapat
disyukuri kecuali dengan menggunakan nikmat baru dari-Nya. Dengan demikian nikmat baru tersebutpun
harus disyukuri kembali, dan demikianlah seterusnya. (Ar Risalah oleh Imam As Syafii 2)
Wajar bila Allah Taala menjuluki manusia dengan sebutan sangat lalim dan banyak mengingkari nikmat,
sebagaimana disebutkan pada ayat di atas dan juga pada ayat berikut,


Dan Dialah Allah yang telah menghidupkanmu, kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu
(lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sering mengingkari nikmat. (QS. Al Hajj: 66)
Artinya di sini, rizki Allah amatlah banyak dan tidak selamanya identik dengan uang. Hujan itu pun rizki,
anak pun rizki dan kesehatan pun rizki dari Allah.

Surga dan Neraka pun Rizki yang Kita Minta
Sebagian kita menyangka bahwa rizki hanyalah berputar pada harta dan makanan. Setiap meminta
dalam doa mungkin saja kita berpikiran seperti itu. Perlu kita ketahui bahwa rizki yang paling besar yang
Allah berikan pada hamba-Nya adalah surga (jannah). Inilah yang Allah janjikan pada hamba-hamba-Nya
yang sholeh. Surga adalah nikmat dan rizki yang tidak pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah
didengar oleh telinga, dan tidak pernah tergambarkan dalam benak pikiran. Setiap rizki yang Allah
sebutkan bagi hamba-hamba-Nya, maka umumnya yang dimaksudkan adalah surga itu sendiri. Hal ini
sebagaimana maksud dari firman Allah Taala,


Supaya Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh.
mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezki yang mulia. (QS. Saba: 4)


Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan amal yang saleh niscaya Allah akan
memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya Allah memberikan rezki yang baik kepadanya. (QS. Ath
Tholaq: 11)
Teruslah bersyukur atas nikmat dan rizki yang Allah beri, apa pun itu meskipun sedikit. Yang namanya
bersyukur adalah dengan meninggalkan saat dan selalu taat pada Allah. Abu Hazim mengatakan, Setiap
nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah. Mukhollad bin Al
Husain mengatakan, Syukur adalah dengan meninggalkan maksiat. (Iddatush Shobirin, hal. 49, Mawqi
Al Waroq)
Wallahu waliyyut taufiq.



Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta. Shalawat dan salam kepada nabi dan rasul yang paling mulia,
Muhammad bin Abdillah, serta kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma badu,
Bagaimanakah Seharusnya Kita Menyambut Ramadhan?
Pertanyaan: Apa saja cara-cara yang benar untuk menyambut bulan yang mulia ini?
Seorang muslim seharusnya tidak lalai terhadap momen-momen untuk beribadah, bahkan seharusnya ia
termasuk orang yang berlomba-lomba dan bersaing (untuk mendapatkan kebaikan) didalamnya. Allah Taala
berfirman,
: )

62 )
Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berloma-lomba. (QS. Al-Muthaffifiin:26)
Maka bersemangatlah wahai saudara-saudara muslim dalam menyambut Ramadhan dengan cara-cara yang
benar sebagaimana berikut ini:
1. Berdoa agar Allah mempertemukan dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat dan kuat, serta dalam
keadaan bersemangat beribadah kepada Allah, seperti ibadah puasa, sholat dan dzikir.
Telah diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahuanhu, bahwa dia berkata, adalah Nabi shallallahu alaihi wa
sallam apabila memasuki bulan Rajab, beliau berdoa,

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban serta pertemukanlah kami dengan Ramadhan. (HR.
Ahmad dan Ath-Thabrani)
Catatan: Syaikh Al-Albani rahimahullah mendhaifkan hadits ini dalam kitab Dhaif al-Jaami (4395) dan tidak
mengomentarinya dalam kitab Al-Misykaah.
Demikian juga generasi terbaik terdahulu (as-salaf ash-shalih) berdoa agar Allah menyampaikan mereka pada
bulan Ramadhan dan menerima amal-amal mereka.
Maka apabila telah tampak hilal bulan Ramadhan, berdoalah pada Allah:
,
Allah Maha Besar, ya Allah terbitkanlah bulan sabit itu untuk kami dengan aman dan dalam keimanan, dengan
penuh keselamatan dan dalam keislaman, dengan taufik agar kami melakukan yang disukai dan diridhai oleh
Rabbku dan Rabbmu, yaitu Allah. (HR. At-Tirmidzi dan Ad-Darimi, dishahihkan oleh Ibnu Hayyan)
2. Bersyukur pada Allah dan memuji-Nya atas dipertemukannya dengan bulan Ramadhan.
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Adzkaar,
Ketahuilah, dianjurkan bagi siapa saja yang mendapatkan suatu nikmat atau dihindarkan dari kemurkaan Allah,
untuk bersujud syukur kepada Allah Taala, atau memuji Allah (sesuai dengan apa yg telah diberikan-Nya).
Dan sesungguhnya di antara nikmat yang paling besar dari Allah atas seorang hamba adalah taufiq untuk
melaksanakan ketaatan. Selain dipertemukan dengan bulan Ramadhan, nikmat agung lainnya adalah berupa
kesehatan yang baik. Maka ini pun menuntut untuk bersyukur dan memuji Allah Sang Pemberi Nikmat lagi
Pemberi Keutamaan dengan nikmat tersebut. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak dan pantas
bagi keagungan Wajah-Nya dan keagungan kekuasaan-Nya.
3. Bergembira dan berbahagia dengan datangnya bulan Ramadhan.
Telah ada contoh dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau dahulu memberi berita gembira
pada para sahabatnya dengan kedatangan Ramadhan. Beliau bersabda,
,

Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan Ramadhan bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan
atas kalian untuk berpuasa didalamnya. Pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga serta ditutup pintu-pintu
neraka. (HR. Ahmad)
Dan sungguh demikian pula as-salaf ash-shalih dari kalangan sahabat dan tabiin, mereka sangat perhatian
dengan bulan Ramadhan dan bergembira dengan kedatangannya. Maka kebahagiaan manakah yang lebih
agung dibandingkan dengan berita dekatnya bulan Ramadhan, moment untuk melakukan kebaikan serta
diturunkannya rahmat?
4. Bertekad serta membuat program agar memperoleh kebaikan yang banyak di bulan Ramadhan.
Kebanyakan dari manusia, bahkan dari kalangan yang berkomitmen untuk agama ini (beragama Islam),
membuat program yang sangat serius untuk urusan dunia mereka, akan tetapi sangat sedikit dari mereka yang
membuat program sedemikian bagusnya untuk urusan akhirat. Hal ini dikarenakan kurangnya kesadaran
terhadap tugas seorang mumin dalam hidup ini, dan lupa atau bahkan melupakan bahwa seorang muslim
memiliki kesempatan yang banyak untuk dekat dengan Allah untuk mendidik jiwanya sehingga ia bisa lebih
kokoh dalam ibadah.
Di antara program akhirat adalah program menyibukkan diri di bulan Ramadhan dengan ketaatan dan ibadah.
Seharusnya seorang muslim membuat rencana-rencana amal yang akan dikerjakan pada siang dan malam
Ramadhan. Dan tulisan yang anda baca ini, membantu anda untuk meraih pahala Ramadhan melalui ketaatan
pada-Nya, dengan ijin Allah Taala.
5. Bertekad dengan sungguh-sungguh untuk memperoleh pahala di bulan Ramadhan serta menyusun
waktunya (membuat jadwal) untuk beramal shalih.
Barangsiapa yang menepati janjinya pada Allah maka Allah pun akan menepati janji-Nya serta menolongnya
untuk taat dan memudahkan baginya jalan kebaikan. Allah Azza wa Jalla berfirman,
: )

62 (
Maka seandainya mereka benar-benar beriman pada Allah, maka sungguh itu lebih baik bagi mereka. (QS.
Muhammad:21)
6. Berbekal ilmu dan pemahaman terhadap hukum-hukum di bulan Ramadhan.
Wajib atas seorang yang beriman untuk beribadah kepada Allah dilandasi dengan ilmu, dan tidak ada alasan
untuk tidak mengetahui kewajiban-kewajiban yang diwajibkan Allah atas hamba-hamba-Nya. Di antara
kewajiban itu adalah puasa di bulan Ramadhan. Sudah sepantasnya bagi seorang muslim belajar untuk
mengetahui perkara-perkara puasa serta hukum-hukumnya sebelum ia melaksanakannya (sebelum datang
bulan Ramadhan), agar puasanya sah dan diterima Allah Taala.
: )

7 (
Maka bertanyalah pada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui. (QS. Al-Anbiya:7)
7. Wajib pula bertekad untuk meninggalkan dosa-dosa dan kejelekan, serta bertaubat dengan sungguh-
sungguh dari seluruh dosa, berhenti melakukannya serta tidak mengulanginya lagi.
Karena bulan Ramadhan adalah bulan taubat. Barangsiapa yang tidak bertaubat di dalamnya, maka kapankah
lagi ia akan bertaubat? Allah Taala berfirman,
: )

12 (
Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung. (QS.
An-Nur: 31)
8. Mempersiapkan jasmani dan rohani dengan membaca dan menelaah buku-buku serta tulisan-tulisan,
serta mendengarkan ceramah-ceramah islamiyah yang menjelaskan tentang puasa dan hukum-hukumnya,
agar jiwa siap untuk melaksanakan ketaatan di bulan Ramadhan.
Demikian pulalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam mempersiapkan jiwa-jiwa para sahabat untuk
memanfaatkan bulan ini. Nabi shallallahu alaihi wa sallam sempat bersabda pada akhir bulan Syaban,

Telah datang pada kalian bulan Ramadhan(sampai akhir hadits). (HR. Ahmad dan An-Nasai).[1]
9. Mempersiapkan dengan baik untuk berdakwah kepada Allah Taala di bulan Ramadhan, melalui:
Menghadiri pertemuan-pertemuan serta bimbingan-bimbingan dan menyimaknya dengan baik agar dapat
disampaikan di masjid di daerah tempat tinggal.
Menyebarkan buku-buku kecil, tulisan-tulisan serta nasehat-nasehat tentang hukum yang berkaitan dengan
Ramadhan kepada orang-orang yang shalat serta masyarakat sekitar.
Menyiapkan hadiah Ramadhan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Hadiah tersebut dapat berupa
paket yang didalamnya terdapat kaset-kaset dan buku kecil, yang kemudian pada paket tersebut dituliskan
hadiah Ramadhan.
Memuliakan fakir dan miskin dengan memberi sedekah serta zakat untuk mereka.
10.Menyambut Ramadhan dengan membuka lembaran putih yang baru, yang akan diisi dengan:
Taubat sebenar-benarnya kepada Allah Taala.
Taat pada perintah Rasul shallallahu alaihi wa sallam serta meninggalkan apa yang dilarangnya.
Berbuat baik kepada kedua orang tua, kerabat, saudara, istri atau suami serta anak-anak.
Berbuat baik kepada masyarakat sekitar agar menjadi hamba yang shalih serta bermanfaat.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Seutama-utama manuia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.[2]
Demikianlah seharusnya seorang muslim menyambut Ramadhan, seperti tanah kering yang menyambut hujan,
seperti si sakit yang membutuhkan dokter untuk mengobatinya dan seperti seseorang yang menanti
kekasihnya.
Ya Allah pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan dan terimalah amalan kami sesungguhnya Engkau
Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.