Anda di halaman 1dari 7

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Pengelasan SMAW (Shield Metal Arc Welding)


1. Nama Pekerjaan :
Pengelasan SMAW (Shield Metal Arc Welding)
2. Tujuan Pekerjaan :
Untuk menggabungkan dua material logam dengan cara dicairkan menggunakan
panas yang berasal dari kawat elektroda yang telah dialiri listrik.
3. Prosedur Pekerjaan :
1.1 Langkah Pekerjaan:
1. Menyiapkan material yang akan digabungkan, alat-alat kerja, serta alat
keselamatan dalam pekerjaan las.
2. Memasang elektroda pada kutub positif atau negative pada mesin las
SMAW.
3. Men-setting mesin las SMAW (arus 75, 85, dan 95 A dan tegangan 220V)
4. Melakukan pengelasan sesuai garis pada pelat, atau alur dalam pekerjaan.
5. Membuang sisa terak pada hasil pengelasan dengan menggunakan palu
terak.
6. Cek hasil pengelasan apakah sudah sesuai, apabila sesuai lanjutkan ke
penghalusan hasil pengelasan, dan apabila belum sesuai ulangi kembali
setting pada mesin las dan pengerjaan ulang pengelasan.
7. Melakukan penghalusan pada hasil pengelasan menggunakan gerinda,
dengan catatan tidak sampai merusak hasil pengelasan.
8. Membersihkan kembali area kerja dari terak dan kotoran lain akibat
pekerjaan pengelasan.
9. Merapikan dan menyimpan kembali alat-alat yang digunakan dalam
melakukan pengelasan.
1.2 Diagram Alir Pekerjaan
Adapun langkah-langkah percobaan ini dapat digambarkan melalui diagram
alir sebagai berikut.
No
Yes
Gambar 1. Diagram Alir Pekerjaan Pengelasan
Persiapan alat-alat yang digunakan dalam
pengelasan, serta alat keselamatan
Memasang elektroda pada kutub mesin las SMAW
Setting mesin las SMAW dengan Arus 75,
85 dan 95 A pada Tegangan 220V
Pengelasan
Buang sisa terak pada hasil las.
Cek hasil pengelasan
Penghalusan
menggunakan gerinda.
Merapikan dan menyimpan alat-alat
yang digunakan.
Selesai.
Membersihkan area kerja.
1.3 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat yang digunakan
Adapun alat-alat yang digunakan dalam pekerjaan pengelasan SMAW
di antaranya:
1. Mesin Las listrik SMAW.
2. Kabel elektroda.
3. Kabel massa.
4. Penjepit eletroda.
5. Penjepit massa.
6. Penyangga material las.
7. Helm/Kaca mata las.
8. Sarung tangan las.
9. Apron (pelindung dada).
10. Gerinda, Ampelas, dan sikat baja/kikir
11. Palu Terak
12. Palu konde.
13. Sepatu safety.
3.2.2 Bahan yang digunakan
Bahan yang digunakan dalam pekerjaan pengelasan SMAW yaitu di
antaranya:
1. Material logam yang akan di las.
2. Elektroda Las.
4. Bahaya yang ditimbulkan dari pekerjaan pengleasan dan cara penanggulangannya.
1. Kejutan listrik
Kecelakaan akibat kejutan listrik dapat terjadi setiap saat, baik itu saat
pemasangan peralatan, penyetelan atau pada saat pengelasan. Resiko yang akan
terjadi dapat berupa
luka bakar
terjatuh
pingsan
meninggal dunia.
Terdapat beberapa cara untuk penanggulangan terhadap bahaya kejutan listrik
yaitu :
1. Pastikan peralatan dalam kondisi baik secara fisik.
2. Pastikan welder telah menggunakan alat keselamatan dengan baik dan
benar.
3. Mematikan stop kontak segera ketika terjadi kejutan listrik.
4. Berikan pertolongan pertama sesuai dengan kecelakaan yang dialami
penderita.
Apabila tidak sempat mematikan stop kontak dengan segera, maka hindarkanlah
penderita dari aliran listrik dengan memakai alat-alat kering yang bersifat isolator.
2. Sinar las
Dalam proses pengelasan timbul sinar yang membahayakan operator las/ welder
dan pekerja lain di daerah pengelasan. Sinar yang membahayakan tersebut adalah :
a. Cahaya Tampak
Benda kerja dan bahan tambah yang mencair pada las busur manual
mengeluarkan cahaya tampak. Semua cahaya tampak yang masuk ke mata akan
diteruskan oleh lensa dan kornea mata ke retina mata. Bila cahaya ini terlalu kuat
maka mata akan segera menjadi lelah dan kalau terlalu lama mungkin menjadi
sakit. Rasa lelah dan sakit pada mata sifatnya hanya sementara.
b. Sinar Infra Merah
Sinar infra merah berasal dari busur listrik. Adanya sinar infra merah tidak segera
terasa oleh mata, karena itu sinar ini lebih berbahaya, sebab tidak diketahui, tidak
terlihat. Akibat dari sinar infra merah terhadap mata sama dengan pengaruh
panas, yaitu akan terjadi pembengkakan pada kelopak mata, terjadinya penyakit
kornea dan kerabunan. Jadi jelas akibat sinar infra merah jauh lebih berbahaya
dari pada cahaya tampak. Sinar infra merah selain berbahaya pada mata juga
dapat menyebabkan terbakar pada kulit berulang-ulang (mula-mula merah
kemudian memar dan selanjutnya terkelupas yang sangat ringan).
c. Sinar Ultra Violet
Sinar ultra violet sebenarnya adalah pancaran yang mudah terserap, tetapi sinar
ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap reaksi kimia yang terjadi di dalam
tubuh. Bila sinar ultra violet yang terserap oleh lensa melebihi jumlah tertentu,
maka pada mata terasa seakan-akan ada benda asing di dalamnya dalam waktu
antara 6 sampai 12 jam, kemudian mata akan menjadi sakit selama 6 sampai 24
jam. Pada umumnya rasa sakit ini akan hilang setelah 48 jam.
Pencegahan Kecelakaan karena Sinar Las :
1. Memakai pelindung mata dan muka ketika mengelas, yaitu kedok atau helm las.
2. Memakai peralatan keselamatan dan kesehatan kerja (pakaian pelindung
pakaian kerja , apron / jaket las, sarung tangan , sepatu safety)
3. Buatlah batas atau pelindung daerah pengelasan agar orang lain tidak terganggu
(menggunakan kamar las yang tertutup, menggunakan tabir penghalang)
3. Debu dan Asap Las
a. Sifat fisik dan akibat debu dan asap terhadap paru-paru
Debu dan asap las besarnya berkisar antara 0,2 um sampal dengan 3 um jenis debu
ialah eternit dan hidrogen rendah. Butir debu atau asap dengan ukuran 0,5um dapat
terhisap, tetapi sebagian akan tersaring oleh bulu hidung dan bulu pipa pernapasan,
sedang yang lebih halus akan terbawa ke dalam dan ke luar kembali. Debu atau
asap yang tertinggal dan melekat pada kantong udara di paru-paru akan
menimbulkan penyakit, seperti sesak napas dan lain sebagainya. Karena itu debu
dan asap las perlu dapat perhatian khusus.
b. Harga bata kandungan debu dan asap las
Harga bata ( ukuran ) kandungan debu dan asap pada udara tempat pengelasan
disebut Thaeshol Limited Value ( TLV ) oleh International Institute of Welding
(IIW) ditentukan besarnya 10 mg/m2 untuk jenis elektroda karbon rendah dan
20mg/m2 untuk jenis lain.
Pencegahan kecelakaan karena debu dan asap las :
1. Peredaran udara atau ventilasi harus benar-benar diatur dan diupayakan, dimana
setiap kamar las dilengkapi dengan pipa pengisap debu dan asap yang
penempatannya jangan melebihi tinggi rata-rata / posisi wajah ( hidung ) operator
las/ welder yang bersangkutan.
2.Menggunakan kedok/ helm las secara benar, yakni pada saat pengelasan
berlangsung harus menutupi sampai di bawah wajah (dagu ), sehingga mengurangi
asap/ debu ringan melewati wajah.
3. Menggunakan baju las (Apron) terbuat dart kulit atau asbes.
4. Menggunakan alat pernafasan pelindung debu, jika ruangannya tidak ada sirkulasi
udara yang memadai ( sama sekali tidak ada ).
4. Luka Bakar
Luka bakar dapat terjadi karena :
- Logam panas
- Busur cahaya
- Loncatan bunga api
Luka bakar dapat diakibatkan oleh logam panas karena adanya pencairan benda
kerja antara 1200
0
C 1500
0
C, sinar ultra violet dan infra merah, hal ini dapat
mengakibatkan luka bakar pada kulit. Luka bakar pada kulit dapat menyebabkan
kulit melepuh/ terkelupas, dan yang sangat fatal dapat menyebabkan kanker kulit.
Luka bakar pada mata mengakibatkan iritasi (kepedihan, silau) yang sangat fatal
menyebabkan katarak pada mata. Luka bakar yang diakibatkan oleh loncatan
bunga api adalah loncatan butiran logam cair yang ditimbulkan oleh cairan logam.
walaupun bunga api itu kecil, tapi dapat melubangi kulit melalui pakaian kerja,
lobang kancingyang lepas atau pakaian kerja yang longgar.
Pencegahan Luka Bakar :
Untuk mencegah luka bakar, operator las harus memakai baju kerja yang lengkap
yang meliputi :
Baju kerja (overall) dari bahan katun
Apron / jaket kulit
Sarung tangan kulit (khusus pengelasan)
Topi kulit ( terutama untuk pengelasan posisi di atas kepala )
Sepatu kerja
Helm / kedok las
Kaca mata bening, terutama pada saat membuang terak.