Anda di halaman 1dari 6

Pendekatan kepada pasien dengan nyeri ekstremitas atas dan parestesia dan neuropati jebakan

Gambaran klinis
Seorang pria berusia 56 tahun mengeluh mati rasa di ibu jari dan jari telunjuk kanan semenjak setahun terakhir. mati
rasa itu menetap tetapi diperparah dengan penggunaan fisik ekstremitas. pertanyaan yang khusus mengungkapkan
nyeri leher selama beberapa tahun dan disertai kelemahan ringan dari bisep kanan dan otot infraspinatus dan atrofi
otot polisis brevis. bisep kanan dan refleks tendon brakioradialis berkurang. Pemeriksaan sensorik menunjukkan
sensasi menurun ke pin di ibu jari tangan kanan dan jari telunjuk kanan. Studi konduksi saraf menunjukkan
amplitudo penurunan median sensorik potensial aksi saraf yang tepat dan senyawa potensial aksi otot median
dengan latency pergelangan tangan berkepanjangan. Dari pemeriksaan EMG meninjukkan potensi fibrilasi di ABP
kanan dan pertengahan otot paraspinal serviks dan besar amplitudo polifasik bermotor potensi satuan dengan
perekrutan berkurang di ABP, bisep, otot deltoid dan infraspinatus. Studi MRI dari tulang belakang leher
menunjukka herniasi pada tingkat c5-6 menyebabkan penyempitan foramen intervertebralis yang tepat dan kompresi
c6 akar saraf.

PENDAHULUAN
nyeri ekstremitas atas dan parestesia adalah keluhan klinis umum. kondisi yang menyebabkan gejala-gejala ini
sering reversibel sistem saraf perifer (PNS) atau gangguan MSK.












Mekanisme nyeri dimulai dengan stimulasi nociceptor oleh stimulus noxious sampai
terjadinya pengalaman subjektif nyeri adalah suatu seri kejadian elektrik dan kimia yang bisa
dikelompokkan menjadi 4 proses, yaitu : transduksi, transmisi, modulasi, dan persepsi.
Secara singkat mekanisme nyeri dimulai dari stimulus nociceptor oleh stimulus noxious
pada jaringan, yang kemudian akan mengakibatkan stimulasi nosiseptor dimana disini stimulus
noxious tersebut akan dirubah menjadi potensial aksi. Proses ini disebut transduksi atau aktivasi
reseptor. Selanjutnya potensial aksi tersebut akan ditransmisikan menuju neuron susunan saraf
pusat yang berhubungan dengan nyeri. Tahap pertama transmisi adalah konduksi impuls dari
neuron aferen primer ke konus dorsalis medula spinalis, pada konu dorsalis ini neuron aferen
primer bersinap dengan neuron susunan saraf pusat. Dari sini jaringan neuron tersebut akan naik
ke atas di medula spinalis menuju batang otak dan talamus. Selanjutnya terjadi hubungan timbal
balik antara talamus dengan pusat-pusat yang lebih tinggi di otak yang mengurusi respons
persepsi dan afektif yang berhubungan dengan nyeri. Tetapi rangsangan nosiseptiptif tidak selalu
menimbulkan persepsi nyeri dan sebaliknya persepsi nyeri bisa terjadi tanpa stimulasi
nosiseptifptif. Terdapat proses medulasi sinyal yang mampu mempengaruhi proses nyeri
tersebut, tempat modulasi sinyal yang paling diketahui adalah pada kornu dorsalis medula
spinalis. Proses terakhir adalah persepsi, dimana pesan nyeri di relai menuju ke otak dan
menghasilkan pengalaman yang tidak menyenangkan.
Mekanisme nyeri khususnya pada sindrom jebakan karena adanya jebakan atau jepitan
pada saraf sehingga mengganggu konduktivitas saraf. Maka timbul gejala neurologist seperti
nyeri dan parestesia. Perasaan nyeri tergantung pada pengaktifan serangkaian sel-sel saraf, yang
meliputi reseptor nyeri afferent primer, sel-sel saraf penghubung (inter neuron) di medulla
spinalis dan batang otak, sel-sel di traktus ascenden, sel-sel saraf di thalamus dan sel-sel saraf di
kortek serebri. Bermacam-macam reseptor nyeri primer ditemukan dan memberikan persarafan
di kulit, sendi-sendi, otot-otot dan alat-alat dalam pengaktifan reseptor nyeri yang berbeda
menghasilkan kuatitas nyeri tertentu. Sel-sel saraf nyeri pada kornu dorsalis medulla spinalis
berperan pada reflek nyeri atau ikut mengatur pengaktifan sel-sel traktus ascenden. Sel-sel saraf
dari traktus spinothalamicus membantu memberi tanda perasaan nyeri, sedangkan traktus lainnya
lebih berperan pada pengaktifan system kontrol desenden atau pada timbulnya mekanisme
motivasi-afektif.Nyeri berawal dari reseptor nyeri yang tersebar di seluruh tubuh Reseptor nyeri
ini menyampaikan pesan sebagai impuls listrik di sepanjang saraf yang menuju kemedula
spinalis dan kemudian diteruskan ke otak.
Kadang ketika sampai di medula spinalis, sinyal ini menyebabkan terjadinya respon refleks; jika
hal ini terjadi, maka sinyal segera dikirim kembali di sepanjang saraf motorik ke sumber nyeri
dan menyebabkan terjadinyakontraksi otot. Reseptor nyeri dan jalur sarafnya berbeda pada setiap
bagian tubuh Karena itu, sensasi nyeri bervariasi berdasarkan jenis dan lokasi dari cedera yang
terjadi. Otak tidak dapat menentukan sumber yang tepat dari nyeri di usus, lokasi nyeri sulit
ditentukan dan cenderung dirasakan di daerah yang lebih luas. Nyeri yang dirasakan di beberapa
daerah tubuh tidak secara pasti mewakili lokasi kelainannya, karena nyeri bisa berpindah ke
daerah lain (referred pain). Referred pain terjadi karena sinyal dari beberapa daerah di tubuh
seringkali masuk ke dalam jalur saraf yang sama ke medula spinalis dan otak Fenomena nyeri
timbul karena adanya kemampuan system saraf untuk mengubah berbagai stimuli mekanik,
kimia, termal, elektris menjadi potensial aksi yang dijalarkan ke system saraf pusat yang dipacu
oleh gangguan oleh jepitan tersebut yang berdasarkan patofisiologinya nyeri ini tergolong dalam
nyeri neuropatik, yaitu nyeri yang timbul akibat adanya stimulus mekanis terhadap nosiseptor
yakni sensor elemen yang dapat mengirim signal ke CNS akan halhal yang berpotensial
membahayakan. Sangat banyak dalam tubuh manusia, serabut-serabut afferentnya terdiri dari:
A delta fibres, yaitu serabut saraf dengan selaput myelin yang tipis.
C fibres, serabut saraf tanpa myelin.
Nociceptor sangat peka tehadap rangsang kimia (chemical stimuli). Pada tubuh kita
terdapat algesic chemical substance seperti: Bradykinine, potassium ion, sorotonin,
prostaglandin dan lain-lain. Subtansi P, suatu neuropeptide yang dilepas dan ujung-ujung saraf
tepi nosiseptif tipe C, mengakibatkan peningkatan mikrosirkulasi local, ekstravasasi plasma.
Phenomena ini disebut sebagai neurogenic inflammation yang pada keadaan lajut
menghasilkan noxious/chemical stimuli, sehingga menimbulkan rasa sakit hypertonus otot dapat
menyebabkan rasa sakit. Pada umumnya otot-otot yang terlibat adalah postural system.
Nosiseptif stimulus diterima oleh serabut-serabut afferent ke spinal cord, menghasilkan kontraksi
beberapa otot akibat spinal motor reflexes. Nosiseptif stimuli ini dapat dijumpai di beberapa
tempat seperti kulit visceral organ, bahkan otot sendiri. Reflek ini sendiri sebenarnya bermanfaat
bagi tubuh kita, misalnya withdrawal reflex merupakan mekanisme survival dari organisme.
kontraksi-kontraksi tadi dapat meningkatkan rasa sakit, melalui nosiseptor di dalam otot dan
tendon. Makin sering dan kuat nosiseptor tersebut terstimulasi, makin kuat reflek aktifitas
terhadap otot-otot tersebut. Hal ini akan meningkatkan rasa sakit, sehingga menimbulkan
keadaan vicious circle, kondisi ini akan diperburuk lagi dengan adanya ischemia local, sebagai
akibat dari kontrksi otot yang kuat dan terus menerus atau mikrosirkulasi yang tidak adekuat
sebagai akibat dari disregulasi. Secara singkat, mekanisme nyeri pada kasus yakni terlalu banyak
gerakan, inflamasi, udem, mengakibatkan penekanan pada nervus medianus, penyempitan
ligamentum carpalis transversum
Selain itu, terlalu banyak gerakan memicu pergerakan tendon yang akan menekan nervus
medianus dan hal ini akan berdampak juga pada ligamentum carpalis transversum yang
mengakibatkan menurunnya kecepatan konduksi sensoris nervus medianus
Secara singkat
Noxious jaringan -> nocireceptor -> potensial aksi -> neuron sistem saraf pusat yang
berhubungan dengan nyeri -> konduksi impuls dari neuron aferen primer ke korna dorsalis
medulla spinalis -> neuron aferen bersinapssis dengan sistem saraf pusat -> dari jaringan, neuron
naik ke medulla spinalis menuju batang otak dan thalamus -> hubungan timbal balik neuron di
otak -> modulasi sinyal -> persepsi pesan nyeri di otak ->rasa tidak enak.

Cara untuk mengetahui apakah anda mengalami CTS atau tidak adalah dengan mencoba
menekuk pergelangan tangan ke arah telapak tangan dan mempertahankan posisi tersebut selama
sekitar 1 menit (phalens test). Bila nyeri atau rasa kesemutan dan baal atau kelemahan
bertambah, maka kemungkinan anda mengalami penyakit CTS. Cara kedua adalah dengan
melakukan ketukan-ketukan ringan berulang secara terus menerus pada pergelangan tangan
(tinels test). Bila nyeri, kesemutan, baal dan kelemahan bertambah maka kemungkinan CTS
sudah terjadi pada anda.
Phalens test dan Tinels test











ETIOLOGI
Ber bagai f akt or ya ng dapat menyebabkan
Car pal Tunnel Syndr ome
antara lain
( 1, 3, 5)
1. Trauma langsung ke c ar pal t unnel
yang menyebabkan penekanan, misalnya
Col l es f r act ur e
, dan edema aki bat t r auma t er s ebut .
2.Pos i s i per gel angan t angan, mi s al nya f l eks i akut s aat tidur, imobilisasi pada
posisi fleksi dan deviasi ulnar yang cukup bes ar .
3.Tr auma aki bat ger akan f l eks i - eks t ens i ber ul ang per - gel angan t angan
dengan kekuat an ya ng cukup
s eper t i pada pekerjaan tertentu yang banyak memerlukanger akan per gel angan t angan.
4.Tumor atau benjolan yang menekan
car pal t unnel
se- perti ganglion, lipoma, xanthoma.
5.Edema akibat infeksi.
6.Edema inflamasi yang disertai artritis rematoid, tenosy-novitis seperti penyakit de
Quervain dan
t r i gger f i nger
.7.Osteofit sendi carpal akibat proses degenerasi
.8.Kelainan sistemik seperti : obesitas, diabetes melitus,disfungsi tiroid,
amiloidosis, penyakit Raynaud
.9. Edema pada kehamilan (hormonal)