Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN KASUS

FRAKTUR TERBUKA TIBIA FIBULA DEXTRA


1/3 DISTAL GRADE IIIA
DAN
FRAKTUR TERBUKA TIBIA SINISTRA
1/3 DISTAL GRADE IIIA



DIBUAT OLEH
PRAMITA YULIA ANDINI, S. Ked
030.09.184

PEMBIMBING
DR. HERMAN GHOFARA, SpOT(K)SPINE



DEPARTEMEN BEDAH RUMAH SAKIT TNI AL DR MINTOHARDJO
PERIODE 24 MARET 2014-31 MEI 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI JAKARTA

LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KASUS
Fraktur Terbuka Tibia Fibula Dextra 1/3 Distal Grade IIIA dan Fraktur Terbuka
Tibia Sinistra 1/3 Distal Grade IIIA

Diajukan untuk memenuhi syarat kepaniteraan klinik Ilmu Penyakit Bedah
Periode 24 Maret 2014-31 Mei 2014
Di Rumah Sakit TNI AL DR Mintohardjo

Disusun oleh :
Pramita Yulia Andini, S. Ked
030.09.184
Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti


Jakarta, 28 April 2014
Pembimbing



Dr. Herman Ghofara, SpOT(K)Spine


KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan
hidayat-Nya saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah laporan kasus yang berjudul
Fraktur Terbuka Tibia Fibula Dextra 1/3 Distal Grade IIIA dan Fraktur Terbuka Tibia
Sinistra 1/3 Distal Grade IIIA. Laporan kasus ini disusun untuk melengkapi tugas di
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Bedah Rumah Sakit TNI AL DR Mintohardjo Jakarta.
Saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu saya dalam
penyusunan makalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Khususnya rasa
terimakasih yang ingin saya ucapkan kepada Dr. Herman Ghofara, SpOT(K)Spine sebagai
pembimbing dalam pembuatan makalah laporan kasus ini.
Saya menyadari masih banyak kekurangan baik dalam penulisan maupun format
makalah ini. Oleh karena itu, saya mengharapkan segala kritik dan saran. Semoga makalah
ini dapat bermanfaat dalam bidang kedokteran.




Jakarta, 28 April 2014




Penyusun


BAB I
LAPORAN KASUS


IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. T
Umur : 24 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Status perkawinan : belum menikah
Pekerjaan : kuli bangunan
Alamat : kebon sirih timur dalam, tanah abang, jakarta pusat
Suku bangsa : indonesia
Agama : islam
Pendidikan : SMP
Tanggal masuk RS : 29 Maret 2014
Jam masuk RS : 02.33

ANAMNESIS
Diambil secara autoanamnesis dan alloanamnesis pada Selasa 1 April 2014


Keluhan Utama
Terjepit alat pin blok pada kedua kaki 30menit SMRS. Nyeri pada kedua kaki
terutama kaki sebelah kanan. Kedua kaki tidak dapat digerakkan.
Keluhan Tambahan
Pingsan selama 5 menit dalam perjalanan ke rumah sakit. Badan terasa pegal-
pegal.
Riwayat Penyakit Sekarang
OS datang ke UGD RS TNI AL Mintohardjo diantar oleh teman-
temannya dan mandor menggunakan mobil dinas proyek dengan keluhan
terjepit alat pin blok pada kedua kaki 30menit SMRS. Os terjepit alat tersebut
di proyek bangunan dikarenakan hendak memindahkan batu menggunakan
tangan ke alat tersebut. Os hilang keseimbangan pada saat meletakkan batu pada
alat tersebut sehingga alat pin blok menjepit kaki kanan dan kiri Os. Segera
setelah terjepit alat pinblok teman-teman os membantu mengangkat alat pin
blok yang menindih ke dua kaki os. Segera setelah pinblok diangkat dari kedua
kaki os, kaki kanan bawah tampak patah. Kedua kaki bagian bawah baik
sebelah kanan maupin kiri os berdarah yang terus mengalir. Nyeri hebat pada
kedua kaki terutama kaki sebelah kanan. Kedua kaki tidak dapat digerakkan.
Oleh teman dan mandornya os segera dibawa ke RS. Diperjalanan os
sempat pingsan selama 5 menit kemudian sadar kembali. Os mengatakan
pingsan dikarenakan merasakan nyeri yang sangat hebat dan takut karena
melihat kaki kanannya patah. Os juga mengaku badannya terasa pegal-pegal.



Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat batuk lama, hipertensi, diabetes mellitus, asma, sakit jantung,
sakit paru, alergi obat serta makanan, riwayat operasi, dan riwayat dirawat di
rumah sakit sebelumnya disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga
Os menyangkal adanya riwayat batuk lama, hipertensi, diabetes mellitus,
asma, sakit jantung, sakit paru, alergi obat serta makanan baik pada kedua
orangtua maupun pada saudara sekandung.
Riwayat Kebiasaan
Os menyangkal kebiasaan merokok dan minum alkohol, os mengaku
jarang berolahraga. Os juga jarang mengonsumsi sayur dan buah-buahan. Os
jarang mengonsumsi air putih. Setiap pagi meminum kopi sebanyak 2 gelas
kecil.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum
o Kesadaran : compos mentis
Tanda vital
o Tekanan darah : 110/70mmHg
o Nadi : 88x/menit
o Suhu : 36,5
o
C
o Pernapasan : 18x/mnt
Status gizi
o Berat badan : 50kg
o Tinggi badan : 160cm
o Kesan gizi : BMI 19,53 (normal)

Habitus : atletikus
Kepala : normocephali, deformitas (-), rambut hitam
tersebar merata, tidak mudah dicabut
Mata : CA -/-, SI -/-, oedem palpebra -/-, refleks
cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+
Telinga : nyeri tekan tragus (-), liang telinga lapang +/+,
refleks cahaya +/+
Hidung : deformitas (-), deviasi septum (-), secret (-),
darah (-), konka hiperemis dan hipertrofi -/-
Mulut : bibir normal, tidak terdapat kelainan, tidak
terdapat karies, trismus (-), lidah kotor (-), sariawan (-), faring hiperemis
(-), tonsil T1-T1 tenang.
Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar
Thoraks
Bentuk simetris kanan kiri, tidak ada rongga thoraks yang tertinggal
gerak napasnya, fokal fremitus +/+ sama kuat kanan dan kiri
o Jantung : S1 S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
o Paru : suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing
-/-
Abdomen : supel, datar, timpani, bising usus 2x/menit,
nyeri tekan (-), nyeri lepas (-), hepar lien tidak teraba membesar
Extremitas : hangat + + oedem - -
+ + + +

Status Lokalis
Regio cruris dextra
o Look : tampak luka terbuka dengan ukuran 4x2x1cm
dengan dasar tulang, oedem(+), darah (+), deformitas (+), tepi luka
tampak kotor oleh lumpur
o Feel : teraba hangat (+), nyeri tekan (+), pulsasi a. Dorsalis
pedis (+), akral hangat (+), krepitasi (+)
o Move : terdapat keterbatasan gerak aktif, false movement (+)
Regio cruris sinistra
o Look : tampak luka terbuka dengan ukuran 1x1 cm dengan
dasar tulang, oedem (+), darah (+), deformitas (+), tepi luka
tampak kotor oleh lumpur
o Feel : teraba hangat(+), nyeri tekan (+), pulsasi a. Dorsalis
pedis (+), akral hangat (+), krepitasi (+)
o Move : terdapat keterbatasan gerak aktif, false movement (+)









PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium Tanggal 29 Maret 2014
Pemeriksaan Hasil Nilai normal
Hemoglobin 13,8 14-18g/dl
Hematokrit 39 43-51%
Leukosit 17.900 5000-10000/uL
Trombosit 160000 150-400ribu/mm
3
Eritrosit 4,65 4,5-5,5juta/mm
3
Bleeding time 300 1-6menit
Clotting time 1000 10-16menit
Glucotest 102 80-125%

Radiologi tanggal 29 maret 2014
Rongent thoraks



Rongent cruris
Cruris dextra

Kesan :
o Fraktur tibia fibula dextra 1/3 distal comminuted

Cruris sinistra

Kesan:
o Fraktur tibia sinistra 1/3 distal
DIAGNOSIS KERJA
Fraktur Terbuka Tibia Fibula Dextra 1/3 Distal Grade IIIA dan Fraktur Terbuka
Tibia Sinistra 1/3 Distal Grade IIIA
PENATALAKSANAAN
Non-operatif
dilakukan pembersihan pada area luka, luka dibalut
dilakukan pemasangan spalk
pasien di rawat
puasa sebelum operasi
Operatif
jenis operasi cito
dilakukan ORIF tibia dextra
dilakukan ORIF fibula dextra
dilakukan ORIF tibia sinistra

PROGNOSIS
Ad vitam : bonam
Ad functionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam



RESUME
OS datang ke UGD RS TNI AL Mintohardjo diantar oleh teman-
temannya dan mandor menggunakan mobil dinas proyek dengan keluhan
terjepit alat pin blok pada kedua kaki 30menit SMRS. Os terjepit alat tersebut
di proyek bangunan dikarenakan hendak memindahkan batu menggunakan
tangan ke alat tersebut. Os hilang keseimbangan pada saat meletakkan batu pada
alat tersebut sehingga alat pin blok menjepit kaki kanan dan kiri Os. Segera
setelah terjepit alat pinblok teman-teman os membantu mengangkat alat pin
blok yang menindih ke dua kaki os. Segera setelah pinblok diangkat dari kedua
kaki os, kaki kanan bawah tampak patah. Kedua kaki bagian bawah baik
sebelah kanan maupin kiri os berdarah yang terus mengalir. Nyeri hebat pada
kedua kaki terutama kaki sebelah kanan. Kedua kaki tidak dapat digerakkan
Pada pemeriksaan fisik status lokalis didapatkan:
Regio cruris dextra
o Look : tampak luka terbuka dengan ukuran 4x2x1cm
dengan dasar tulang, oedem(+), darah (+), deformitas (+), tepi luka
tampak kotor oleh lumpur
o Feel : teraba hangat (+), nyeri tekan (+), pulsasi a. Dorsalis
pedis (+), akral hangat (+), krepitasi (+)
o Move : terdapat keterbatasan gerak aktif, false movement (+)
Regio cruris sinistra
o Look : tampak luka terbuka dengan ukuran 1x1 cm dengan
dasar tulang, oedem (+), darah (+), deformitas (+), tepi luka
tampak kotor oleh lumpur
o Feel : teraba hangat(+), nyeri tekan (+), pulsasi a. Dorsalis
pedis (+), akral hangat (+), krepitasi (+)
o Move : terdapat keterbatasan gerak aktif, false movement (+)
Pada pemeriksaan penunjang didapatkan:
Pemeriksaan Hasil Nilai normal
Hemoglobin 13,8 14-18g/dl
Hematokrit 39 43-51%
Leukosit 17.900 5000-10000/uL

Foto rongent cruris didapatkan kesan:
o Fraktur tibia fibula dextra 1/3 distal comminuted dan fraktur tibia sinistra
1/3 distal













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

ANATOMI OS TIBIA FIBULA
Tulang adalah suatu jaringan dan organ yang terstruktur dengan baik,
tulang terdiri atas daerah yang kompak pada bagian luar yang disebut dengan
korteks dan bagian dalam yang bersifat spongiosa berbentuk trabekula dan
dilapisi oleh periosteum pada bagian luarnya sedangkan yang membatasi tulang
dari cavitas medullaris adalah endosteum , tulang tersusun atas:
a. Komponen sel :osteocytus, osteoblastocytus dan osteoclastocytus
b. Komponen matrix ossea: serabut-serabut kolagen tipe 1 dan substantia
fundamentalis
Arsitektur jaringan tulang dikenal dengan 2 jenis yaitu:
a. Jaringan tulang dengan arsitektur serupa jala
b. Jaringan tulang yang menunjukkan gambaran lembaran-lembaran
(lamella ossea). Masing-masing memiliki deretan lacuna ossea yang pada
keadaan segar ditempati oleh osteocytus.



Os tibia merupakan os longum yang terletak di sisi medial region cruris.
Ini merupakan tulang terpanjang kedua setelah os femur. Tulang ini terbentang
ke proksimal untuk membentuk articulatio genu dan ke distal terlihat semakin
mengecil.
Os fibula atau calf bone terletak sebelah lateral dan lebih kecil dari tibia.
Extremitas proximalis fibul aterletak agak posterior dari caput tibia, dibawah
articulatio genu. Fascia cruris merupakan tempat perleketan musculus dan
bersatu dengan perosteum. Ke proximal akan melanjutkan diri ke fascia lata,
dan akan melekat di sekitar articulatio genu ke os patella, ligamentum patellae,
tuberositas tibiae, dan capitulum fibulae. Ke posterior membentuk fascia
poplitea yang menutupi fossa poplitea. Disini tersusun oleh serabut-serabut
transversal yang ditembus oleh vena saphena parva. Fascia ini menerima
serabut-serabut tendo m.biceps femoris femoris disebelah lateral dan tendo m.
Sartorius, m.gracilis, m.semitendinosus, dan m.semimembranosus disebelah
medial. Keanterior, fascia ini bersatu dengan perosteum tibia serta perostenium
capitulum fibulae dan malleolus fibulae. Ke distal, fascia ini melanjutkan diri ke
raetinaculum mm.extensorum superior dan retinaculum mm. flexorum. Fascia
ini menjadi tebal dan kuat dibagian proximal dan anterior cruris, untuk
perlekatan m.tibialis anterior dan m.extensor digitorum longus. Tetapi, fascia ini
tipis dibagian posterior yang menutupi m.gastrocnemeus dan m.soleus. disisi
lateral cruris, fascia ini membentuk septum intermusculare anterius dan septum
intermusculare posterius.
Musculus di region cruris dibedakan menjadi tiga kelompok. Yaitu (a)
kelompok anterior, (b) kelompok posterior dan (c) kelompok lateralis.

Musculus di regio anterior
o M. tibialis anterior
o M. extensor hallucis longus
o M. extensor digitorum longus dan m.peroneus tertius
o Musculus regio cruris posterior kelompok superficialis
o M. Gastrocnemius
o M. Soleus
o M. Plantaris
o Musculus regio cruris posterior kelompok profunda
M. Popliteus
M. flexor hallucis longus
M. flexor digitorum longus
M. tibialis posterior
Musculus region cruris lateralis
M. peroneus longus
M. peroneus brevis










Definisi Fraktur
Fraktur adalah putusnya kontinuitas tulang, tulang rawan epifisis atau
tulang rawan sendi.
(1)

Klasifikasi
Secara klinis, fraktur dibagi menurut ada-tidaknya hubungan patahan tulang
dengan dunia luar, yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Fraktur terbuka
memungkinkan masuknya kuman dari luar ke dalam luka. Patah tulang terbuka
dibagi menjadi tiga derajat(Gustilo-Anderson classification), yang ditentukan
oleh berat ringannya luka dan fraktur yang terjadi.
Derajat luka terbuka:
Tipe I
o Luka kurang dari 1 cm dengan cedera jaringan lunak minimal
o Dasar luka bersih
o Fraktur biasanya melintang sederhana, fraktur oblik pendek dengan
kominusminimal
Tipe II
o Luka lebih besar dari 1 cm dengan cedera jaringan lunak moderat
o Fraktur biasanya melintang sederhana, fraktur oblik pendek dengan
kominusi minimal
Tipe II
o Fraktur yang melibatkan kerusakan parah pada jaringan lunak,
termasuk struktur otot,kulit dan neurovaskular.
o Subtipe IIIA, jaringan lunak masih adekuat tanpa memandang luas
luka.Termasuk didalamnya fraktur segmental atau fraktur
kominutif. Subtipe IIIB,hilangnya jaringan lunak disertai
pengikisan jaringan periosteal dan tulang tampak dari luar. Subtipe
IIIC, fraktur dengan cedera arteri utama yang
membutuhkan perbaikan segera untuk mempertahankan bagian
distal dari fraktur.

Diagnosis fraktur
Anamnesa
Bila tidak ada riwayat trauma, berarti fraktur patologis. Trauma harus diperinci
kapanterjadinya, jenisnya, berat-ringannya trauma, arah trauma dan posisi
pasien atau ekstremitasyang bersangkutan (mekanisme trauma). Jangan lupa
untuk meneliti kembali trauma ditempat lain secara sistematik dari kepala,
muka, leher, dada dan perut.

Pemeriksaan Umum
Dicari kemungkinan komplikasi umum, misalnya: syok pada fraktur multiple,
fraktur pelvis atau fraktur terbuka, tanda-tanda sepsis pada fraktur terbuka
terinfeksi.

Patofisiologi fraktur
Fraktur terjadi apabila ada suatu trauma yang mengenai tulang, dimana
trauma tersebut kekuatannya melebihi kekuatan tulang, ada 2 faktor yang
mempengaruhi terjadinya fraktur yaitu ekstrinsik (meliputi kecepatan,
sedangkan durasi trauma yang mengenai tulang, arah dan kekuatan), intrinsik
meliputi kapasitas tulang mengabsorbsi energi trauma, kelenturan, kekuatan
adanya densitas tulang tulang.yang dapat menyebabkan terjadinya patah pada
tulang bermacam-macam antaralain trauma (langsung dan tidak langsung),
akibat keadaan patologi serta secara spontan. Trauma langsung menyebabkan
tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma
tidak langsung terjadi apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari
daerah fraktur, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh. Tekanan
pada tulang dapat berupa teknan berputar, membengkok, kompresi bahkan
tarikan. Sementara kondisi patologis disebabkan karena kelemahan tuklang
sebelumnya akibat kondisi patologis yang terjadi di dalam tulang. Akibat
trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya.


Pemeriksaan Status Lokalis
Tanda-tanda klinis pada fraktur tulang panjang:
Look
Cari apakah terdapat:
o Deformitas, terdiri dari penonjolan yang abnormal (misalnya pada
fraktur kondilus lateralis humerus), angulasi, rotasi
dan shortening.
o Functio laesa (hilangnya fungsi), misalnya pada fraktur tibia
tidak dapat berjalan.Lihat juga ukuran panjang tulang,
bandingkan kiri dan kanan.
Feel
1. Temper at ur set empat yang meni ngkat
2. 2. Nyer i t ekan; nyer i t ekan yang super f i si sal
bi asanya di sebabkan ol eh ker usakan jaringan lunak yang
dalam akibat fraktur pada tulang.
3. Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus
dilakukan secara hati-hati.
4. Pemer i ksaan vaskul er padadaer ah di st al t r auma ber upa
pal pasi ar t er i r adi al i s, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis
posterior sesuai dengan anggota gerak yang terkena. Refilling
(pengisian) arteri pada kuku.

Move,untuk mencari:
o Krepitasi, terasa bila fraktur digerakkan. Pemeriksaan ini
sebaiknya tidak dilakukan karena menambah trauma.
o Nyeri bila digerakkan, baik pada gerakan aktif atau pasif.
o Seberapa jauh gangguan-gangguan fungsi, gerakan-gerakan yang
tidak mampu dilakukan, range of joint movement (derajat dari
ruang lingkup gerakan sendi) dan kekuatan.

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi dilakukan untuk menentukan jenis dan kedudukan
fragmen fraktur. Foto Rontgen harus memenuhi beberapa syarat (rule of two):
o Dua pandangan
Fraktur atau dislokasi mungkin tidak terlihat pada film sinar-X tunggal
dansekurang-kurangnya harus dilakukan 2 sudut pandang (AP &
Lateral/Oblique).
o Dua sendi
Pada lengan bawah atau kaki, satu tulang dapat mengalami
fraktur atau angulasi. Tetapi angulasi tidak mungkin terjadi kecuali
kalau tulang yang lain juga patah, atau suatu sendi mengalami dislokasi.
Sendi-sendi diatas dan di bawah fraktur keduanya harus disertakan dalam
foto sinar-X.

Proses penyembuhan tulang
1. Fase hematoma (dalam waktu 24 jam timbul perdarahan)
Apabila terjadi fraktur maka pembuluh darah kecil yang melewati
kanalikuli dalam sistem harvesian mengalami robekan pada daerah
fraktur dan akan membentuk hematoma diantara kedua sisi fraktur.
Hematoma yang besar diliputi oleh periosteum. Periosteum akan
terdorong dan dapat mengalami robekan akibat tekanan hematoma yang
terjadi sehingga dapat terjadi ekstravasasi darah kedalam jaringan lunak.
Osteosit dengan lakunanya yang terletak beberapa milimeter dari daerah
fraktur akan kehilangan darah dan mati,yang akan menimbulkan suatu
daerah cicin avaskuler tulang yang mati pada sisi-sisi fraktur segera
setelah trauma.

2. Fase proliferasi/inflamasi (Terjadi 1 5 hari setelah trauma)
Terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi
penyembuhan. Penyembuhan terjadi karena adanya sel-sel osteogenik
yang berproliferasi dari perosteum untuk membentuk kalus eksterna serta
pada daerah endosteum membentuk kalus interna sebagai aktivitas seluler
dalam canalis medullaris. Apabila terjadi robekan hebat pada periosteum
maka penyembuhan sel berasal dari sel-sel mesenkimal yang tidak
berdiferensiasi kedalam jaringan lunak. Pada tahap awal penyembuhan
fraktur terjadi penambahan jumlah sel-sel osteogenik yang memberikan
pertumbuhan yang cepat melebihi sifat tumor ganas. Jaringan seluler
tidak terbentuk dari organisasi pembekuan hematoma suatu daerah
fraktur. Setelah beberapa minggu kalus dari fraktur akan membentuk satu
massa yang meliputi jaringan osteogenik. Pada pemeriksaan radiologi
kalus belum mengandung tulang sehingga masih merupakan suatu daerah
radiolusen.

3. Fase pembentukan kalus (terjadi 6 10 hari setelah trauma)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap
fragmen sedasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada
kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat osteoblas diduduki oleh
matriks interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garam-
garam kalsium membentuk tulang yang imatur. Bentuk tulang ini disebut
woven bone (merupakan indikasi radiologi pertama penyembuhan
fraktur).

4. Fase konsolidasi (2 3 minggu setelah fraktur sampai dengan sembuh)
Woven bone akan membentuk kalus primer dan secara perlahan-lahan
diubah menjadi tulang yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang
menjadi struktur lamelar dan kelebihan kalus dapat diresorpsi secara
bertahap.

5. Fase remodeling (waktu lebih 10 minggu)
Perlahan perlahan terjadi resorbsi secara osteoklastik dan tetap terjadi
proses osteoblastik pada kalus eksterna secara perlahan-lahan
menghilang. Kalus intermediet berubah menjadi tulang yang kompak dan
berisi sistem haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami
peronggaan untuk membentuk ruang sum-sum.

Sementara penyembuhan fraktur tulang kanselosa pada metafisis tulang
panjang atau tulang-tulang pendek terjadi secara cepat karena beberapa faktor,
yaitu : adanya vaskularisasi yang cukup, terdapat permukaan yang lebih luas,
kontak yang baik memberikan kemudahan vaskularisasi yang cepat, hematoma
memegang peranan dalam penyembuhan fraktur. Tulang kanselosa yang
berlokalisasi pada metafisis tulang panjang, tulang pendek serta tulang pipih
diliputi oleh korteks yang tipis. Penyembuhan fraktur pada daerah tulang
kanselosa melalui proses pembentukan kalus interna dan endosteal. Proses
osteogenik penyembuhan sel dari bagian endosteal yang menutupi trabekula,
berproliferasi membentuk woven bone primer di dalam daerah fraktur yang
disertai hematoma. Pembentukan kalus interna mengisi ruangan pada daerah
fraktur.


Faktor-faktor yang yang mempengaruhi penyembuhan tulang, antara lain :
a. Faktor yang mengganggu penyembuhan fraktur
1. Imobilisasi yang tidak cukup
o Imobilisasi dalam balutan gips umumnya memenuhi syarat imobilisasi,
asalkan persendian proksimal dan distal dari patah tulang turut di
imobilisasi.
o Gerakan minimal pada ujung pecahan patah tulang di tengah otot dan
didalam lingkaran kulit dalam gips, yang misalnya disebabkan oleh
latihan ekstremitas yang patah tulang tidak mengganggu, bahkan dapat
merangsang perkembangan kalus. Hal ini berlaku utuk patah tulang yang
ditangani gips maupun traksi.
2. Infeksi
o Infeksi di daerah patah tulang merupakan penyulit berat.
o Hematom merupakan lingkungan subur untuk kuman patologik yang
dapat menyebabkan osteomyelitis di kedua ujung patah tulang, sehingga
proses penyembuhan sama sekali tidak dapat berlangsung.
3. Ruang diantara kedua fragmen serta Interposisi oleh jaringan lunak
o Interposisi jaringan seperti otot atau tendo antara kedua fragmen patah
tulang dapat menjadi halangan perkembangan kalus antara ujung patahan
tulang. Penyebab yang lain, karena distraksi yang mungkin disebabkan
oleh kelebihan traksi atau karena tonus dan tarikan otot.
4. Gangguan perdarahan setempat
o Pendarahan jaringan tulang yang mencukupi untuk membentuk tulang
baru merupakan syarat mutlak penyatuan fraktur.
5. Trauma lokal ekstensif
6. Kehilangan tulang
7. Rongga atau jaringan diantara fragmen tulang
8. Keganasan lokal
9. Penyakit tulang metabolik (mis; penyakit paget)
10. Radiasi (nekrosis radiasi)
11. Nekrosis avaskuler
o Apabila kedua fragmen mempunyai vaskularisasyang baik, maka
penyembuhan biasanya tanpa komplikasi akan tetapi bila salah satu sisi
fraktur vaskularisasinya jelek sehingga mengalami kematian maka akan
menghambat penyembuhannya.
12. Fraktur intra artikuler (cairan sinovial mengandung fibrolisin, yang akan
melisis bekuan darah awal dan memperlambat pembentukan jendalan)
13. Usia (lansia sembuh lebih lama)
Waktu penyembuhan tulang pada anak-anak jauh lebih cepat daripada
orang dewasa. Hal ini terutama disebabkan karena aktifitas proses osteogenesis
pada periosteum dan endosteum dan juga berhubungan dengan proses
remodeling tulang pada bayi sangat aktif dan makin berkurang apabila umur
bertambah.
14. Kortikosteroid (menghambat kecepatan perbaikan)


Faktor yang mempercepat penyembuhan fraktur
1. Imobilisasi fragmen tulang
2. Kontak fragmen tulang maksimal
3. Asupan darah yang memadai (dengan syarat imobilisasi yang baik)
4. Nutrisi yang baik
5. Latihan-pembebanan berat badan untuk tulang panjang
6. Hormon-hormon pertumbuhan, tiroid kalsitonin, vitamain D, steroid anabolic
7. Potensial listrik pada patahan tulang
Penyembuhan fraktur berkisar antara 3 minggu sampai 4 bulan. Waktu
penyembuhan pada anak secara kasar waktu penyembuhan pada dewasa.

Penatalaksanaan
1. Konservatif
Pengobatan standar dengan cara konservatif berupa reduksi fraktur
dengan manipulasi tertutup dengan pembiusan umum. Pemasangan gips
sirkuler untuk immobilisasi,dipasang sampai diatas lutut. Prinsip reposisi
adalah fraktur tertutup, ada kontak 70% atau lebih, tidak ada angulasidan
tidak ada rotasi. Apabila ada angulasi, dapat dilakukan koreksi setelah 3
minggu(union secara fibrosa). Pada fraktur oblik atau spiral, imobilisasi
dengan gips biasanyasulit dipertahankan, sehingga mungkin diperlukan
tindakan operasi Cast bracing adalah teknik pemasangan gips sirkuler
dengan tumpuan pada tendo patella (gips Sarmiento) yang biasanya
dipergunakan setelah pembengkakan mereda atauterjadi union secara
fibrosa.
2. Terapi operatif dilakukan pada fraktur terbuka, kegagalan dalam terapi
konservatif,fraktur tidak stabil dan adanya nonunion. Metode pengobatan
operatif adalah sama ada pemasangan plate dan screw, atau
nail intrameduler, atau pemasangan screw semata-mataatau pemasangan
fiksasi eksterna. Indikasi pemasangan fiksasi eksterna pada fraktur tibia:
o Fraktur tibia terbuka grade II dan III terutama apabila terdapat kerusakan
jaringanyang hebat atau hilangnya fragmen tulang.
o Pseudoartrosis yang mengalami infeksi (infected pseudoarthrosis)

Penatalaksanaan Fraktur dengan operasi, memiliki 2 indikasi, yaitu:
o Absolut
Fraktur terbuka yang merusak jaringan lunak, sehingga memerlukan
Operasi dalam penyembuhan dan perawatan lukanya.
Cidera vaskuler sehingga memerlukan operasi untuk
memperbaikijalannya darah ditungkai.
Fraktur dengan sindroma kompartemen.
Cedera multipel, yang diindikasikan untuk memperbaiki mobilitas
pasien, juga mengurangi nyeri.

o Relatif , jika adanya:
Pemendekan
Fraktur tibia dengan fibula intak
Fraktur tibia dan fibula dengan level yang sama

Komplikasi fraktur
Komplikasi segera
o Lokal:
Kulit dan otot; berbagai vulnus, kontusio, avulsi
Vaskular; terputus, kontusio, perdarahan-
Organ dalam; jantung, paru-paru, hepar, limpa (pada fraktur kosta), buli-
buli(pada fraktur pelvis)
Neurologis; otak, medulla spinalis, kerusakan saraf perifer
o Umum:
Trauma multiple
Syok

Komplikasi dini
o Lokal:
Nekrosis kulit,otot, sindroma kompartemen, thrombosis, infeksi sendi,
osteomyelitis.
o Umum:
ARDS, tetanus

Komplikasi lama
o Lokal:
Tulang: malunion, nonunion, delayed union; osteomyelitis;
gangguan pertumbuhan; patah tulang rekuren.
Sendi: ankilosis, penyakit degeneratif sendi pasca trauma
Miositis osifikan
Distrofi reflex

















DAFTAR PUSTAKA

1. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi,cetakan ke-V.
Jakarta: Yarsif Watampone, 2008. 332-334.
2. Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta: EGC,
2005. 840-841.
3. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2. Jakarta: Media
Aesculapius, 2000.346-370.
4. Price, Sylvia Anderson (1995). Phatophysiology: Clinical Concept of
Disease Process.Alih bahasa: Peter Anugerah, Patofisiologi: Konsep
Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4 vol. 2. Jakarta :EGC.
5. Brinker. Review Of Orthopaedic Trauma, Pennsylvania: Saunders
Company, 2001. 127-135.
6. Putz R, Pabst R. Atlas Anatomi Manusia Sobotta, Jilid 2. Jakarta: EGC,
2000.284.