Anda di halaman 1dari 20

1

KEPANITERAAN KLINIK ILMU TELINGA HIDUNG TENGGOROK


RUMAH SAKIT TNI-AL DR. MINTOHARDJO


REFERAT:
HEARING AID PADA PRESBIKUSIS








OLEH:
MUHAMMAD TAUFIQ HIDAYAT
030.09.160


PEMBIMBING:
dr. DONALD MARPAUNG, Sp.THT



FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
JAKARTA, 4 JULI 2014
2

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karuniaNya sehingga dapat terselesaikannya referat dengan judul Presbiakusis Pada
Hearing Aid. Penulisan referat ini dibuat dengan tujuan untuk memenuhi salah satu tugas
kepaniteraan Ilmu Telinga Hidung Tenggorok di RS TNI-AL dr. Mintohardjo periode 2 Juni 5
Juli 2014.
Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak sangatlah sulit
untuk menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada dr. Donald Marpaung, Sp.THT selaku pembimbing yang telah
membantu dan memberikan bimbingan dalam penyusunan makalah ini, dan kepada semua pihak
yang turun serta membantu penyusunan makalah ini.
Akhir kata dengan segala kekurangan yang penulis miliki, segala saran dan kritik yang
bersifat membangun akan penulis terima untuk perbaikan selanjutnya. Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak yang mempergunakannya selama proses kemajuan pendidikan
selanjutnya.

Jakarta, 4 Juli 2014


Penulis










3


LEMBAR PERSETUJUAN




Presentasi referat dengan judul
HEARING AID PADA PRESBIAKUSIS

Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing, sebagai syarat untuk menyelesaikan kepaniteraan
klinik Ilmu Telinga Hidung Tenggorok di RS TNI-AL dr. Mintohardjo periode 2juni5 juli 2014.













Jakarta, 4 Juli 2014


dr. Donald Marpaung, Sp.THT



4


DAFTAR ISI


Kata Pengantar ................................................................................................................. 2
Lembar Persetujuan ......................................................................................................... 3
Daftar Isi .......................................................................................................................... 4

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 6
II. 1. Anatomi Telinga Luar ................................................................................. 6
II. 2. Presbiakusis ................................................................................................. 7
II. 3. Epidemiologi ............................................................................................... 7
II. 4. Etiologi ........................................................................................................ 7
II. 5. Klasifikasi .................................................................................................... 7
II. 6. Patogenesis .................................................................................................. 9
II. 7. Gejala Klinis ................................................................................................ 9
II. 8. Diagnosis ..................................................................................................... 9
II. 9. Penatalaksanaan Hearing Aid ...................................................................... 11

BAB III PENUTUP ..................................................................................................... 18

Daftar Pustaka .................................................................................................................. 20







5

BAB I
PENDAHULUAN

Presbikusis adalah penurunan pendengaran alamiah yang terjadi sejalan dengan proses
penuaan dan umumnya dimulai pada umur 65 tahun. Presbikusis terjadi pada nada tinggi dan
pada pemeriksaan audiometri nada murni terlihat berupa penurunan pendengaran jenis
sensorineural yang bilateral pada kedua telinga dansimetris yang disebabkan oleh perubahan
degeneratif telinga bagian dalam.
5
Angka insidensi dari gangguan pendengaran akibat prebikusis pada lansia di Amerika
Serikat dilaporkan sebesar 25-30% untuk kelompok umur 65-70 tahun, sedangkan angka
insidensi untuk umur lebih dari 75 tahun sebesar 50%. Menurut hasil survei, jumlah pemakai
alat bantu dengar sampai saat ini di Amerika mencapai 20 juta orang.
5
Pendengaran yang baik merupakan salah satu kebutuhan hidup yang sangat penting bagi
manusia. Jika manusia mengalami gangguan pendengaran maka hal itu akan sangat berdampak
buruk dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini sudah tersedia teknik penanganan gangguan
pendengaran yang baru dan lebih baik. Penanganan gangguan pendengaran yang efektif telah
terbukti menghasilkan efek positif terhadap kualitas hidup.
8
Pemasangan alat bantu dengar (ABD) merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas
hidup terutama pada pasien presbiakusis. Tujuan utama dari alat bantu dengar adalah untuk
memaksimalkan sisa pendengaran.
9











6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. ANATOMI TELINGA

Telinga terdiri atas telinga luar, telinga tengah atau kavum timpani, dan telinga dalam atau
labirin. Telinga luar terdiri atas aurikula dan meatus akustikus eksternus (MAE)/ liang telinga.
Telinga tengah adalah ruang berisi udara di dalam os temporal pars petrosa yang dilapisi
membran mukosa, berisi tulang-tulang pendengaran. Telinga dalam berisi labirin tulang
(vestibulum, kanalis semisirkularis, dan koklea) dan labirin membranasea (utrikulus dan sakulus
di dalam vestibulum, tiga duktus semisirkularis di dalam kanalis semisirkularis, dan duktus
koklearis di dalam koklea), sesuai dengan yang ditampilkan pada Gambar 1.
1



Gambar 1: Anatomi telinga luar, tengah dan dalam.




7

II. 2. PRESBIKUSIS
Presbikusis adalah tuli sensorineural pada usia lanjut mulai usia 65th akibat proses
degenerasi organ pendengaran, simetris (terjadi pada kedua sisi telinga) yang terjadi secara
progresif lambat, dapat dimulai pada frekuensi rendah atau tinggi serta tidak ada kelainan yang
mendasari selain proses menua secara umum.
5

II. 3. EPIDEMIOLOGI
Berdasarkan definisinya, prevalensi presbiakusis meningkat seiring bertambahnya usia.
Secara global prevalensi presbikusis bervariasi, Presbiakusis dialami sekitar 30-35% pada
populasi berusia 65-75 tahun dan 40-50% pada populasi diatas 75 tahun. Prevalensi pada laki-
laki sedikit lebih tinggi daripada wanita. Perbedaan prevalensi presbiakusis antar ras belum
diketahui secara pasti.
6

II. 4. ETIOLOGI
Umumnya diketahui bahwa presikusis merupakan akibat dari proses degenerasi.
Schucknecht menerangkan penyebab kurang pendengaran pada presbikusis adalah Degenerasi
sel rambut di koklea, degenerasi fleksibilitas dari membran basiler, berkurangnya neuron pada
jalur pendengaran, perubahan pada sistem pusat pendengaran dan batang otak, degenerasi jangka
pendek dan auditory memory, menurunnya kecepatan proses pada pusat pendengaran di otak
(central auditory cortex ).
5,7
Cepat lambatnya proses degenerasi ini dipengaruhi juga oleh tempat dimana seseorang
tinggal selama hidupnya. Orang kota lebih cepat datangnya presbikusis ini dibandingkan dengan
orang desa. Diduga kejadian presbikusis usia mempunyai hubungan dengan faktor-faktor
herediter, metabolism (DM, hiperkolesterol), arterosklerosis (Hipertensi,), infeksi, bising, gaya
hidup atau bersifat multifactor(Merokok, riwayat bising).
8

II. 5. KLASIFIKASI
Gacek dan Schucknecht mengidentifikasi 4 lokasi penuaan koklea dan membagi
presbikusis menjadi 4 tipe berdasarkan lokasi tersebut. Perubahan histologik ini berhubungan
dengan gejala yang timbul dan hasil pemeriksaan auditorik. Prevalensi terbanyak menurut
8

penelitian adalah jenis metabolic 34,6%, jenis lainnya neural 30,7%, mekanik 22,8% dan
sensorik 11,9%.
6
Presbikusis sensorik adalah atrofi epitel disertai hilangnya sel-sel rambut dan sel
penyokong organ corti. Proses berasal dari bagian basal koklea dan perlahan-lahan menjalar ke
daerah apeks. Penurunan ambang frekuensi tinggi, yang dimulai setelah usia pertengahan. Secara
histologi, atrofi dapat terbatas hanya beberapa millimeter awal dari basal koklea dan proses
berjalan dengan lambat. Ciri khas adalah terjadi penurunan pendengaran secara tiba-tiba pada
frekuensi tinggi (slooping downn). Jenis sensori adalah tipe noise-induced hearing loss (NIHL).
Banyak terdapat pada laki-laki dengan riwayat bising.
6,7
Presbikusis Neural merupakan atrofi sel-sel saraf di koklea dan jalur saraf pusat. Atrofi
terjadi mulai dari koklea, dengan bagian basilarnya sedikit lebih banyak terkena dibanding sisa
dari bagian koklea lainnya. Tidak didapati adanya penurunan ambang terhadap frekuensi tinggi
bunyi. Keparahan tipe ini menyebabkan penurunan diskriminasi kata-kata yang secara klinik
berhubungan dengan presbikusis neural dan dapat dijumpai sebelum terjadinya gangguan
pendengaran. Efeknya tidak disadari sampai seseorang berumur lanjut sebab gejala tidak akan
timbul sampai 90% neuron akhirnya hilang. Pengurangan jumlah sel-sel neuron ini sesuai
dengan normal speech discrimination. Bila jumlah neuron ini berkurang di bawah yang
dibutuhkan untuk tranmisi getaran, terjadilah neural presbyacusis. Menurunnya jumlah neuron
pada koklea lebih parah terjadi pada basal koklea. Gambaran klasik: speech discrimination
sangat berkurang dan atrofi yang luas pada ganglion spiralis (cookie-bite).
7
Presbikusis Metabolik/(Strial presbyacusis) keadaan ini dihasilkan dari atrofi stria
vaskularis. Stria vaskularis normalnya berfungsi menjaga keseimbangan bioelektrik dan kimiawi
dan juga keseimbangan metabolik dari koklea. Atrofi dari stria ini menyebabkan hilangnya
pendengaran yang direpresentasikan melalui kurva pendengaran yang mendatar (flat) sebab
seluruh koklea terpengaruh. Diskriminasi kata-kata dijumpai. Proses ini berlangsung pada
seseorang yang berusia 30-60 tahun. Berkembang dengan lambat dan mungkin bersifat familial.
Penderita dengan kasus kardiovaskular (heart attacks, stroke, intermittent claudication) dapat
mengalami prebikusis tipe ini serta menyerang pada semua jenis kelamin namun lebih nyata
pada perempuan.
5,8
Presbikusis Mekanik ini disebabkan oleh penebalan dan kekakuan sekunder dari
membran basilaris koklea. Terjadi perubahan gerakan mekanik dari duktus koklearis dan atrofi
9

dari ligamentum spiralis. Berhubungan dengan tuli sensorineural yang berkembang sangat
lambat.
5,6

II. 6. PATOGENESIS
Tuli sensorineural pada usia lanjut disebabkan oleh berkurangnya sel-sel rambut dan
elemen penunjang. Degenerasi yang tejadi di basal membran menyebabkan penurunan pada
frekuensi tinggi. Pada usia lanjut ditemukan atrofi stria vaskularis yang memberikan gambaran
audiometri nada murni berbentuk flat. Kekakuan membran basal juga memberikan gambaran
penurunan audiometri nada murni yang berbentuk kurva menurun, kerusakan bisa juga mengenai
nervus koklearis. Kerusakan terjadi akibat adanya lesi yang disebabkan oleh infeksi atau
penyakit sistemik, sehingga menghambat impuls yang ditansmisikan ke otak.
5,7,8

II. 7. GEJALA KLINIS
Keluhan utama presbikusis berupa berkurangnya pendengaran secara perlahan-lahan dan
progresif, simetris pada kedua telinga. Kapan berkurangnya pendengaran tidak diketahui pasti.
Keluhan lainnya adalah telinga berdenging (tinitus nada tinggi). Pasien dapat mendengar suara
percakapan, tetapi sulit untuk memahaminya, terutama bila diucapkan dengan cepat di tempat
dengan latar belakang yang bising (cocktail party deafness). Bila intensitas suara ditinggikan
akan timbul suara nyeri di telinga, hal ini disebabakan oleh faktor kelemahan saraf
(recruitment).
8

II. 8. DIAGNOSIS
Pada anamnesis Penurunan ketajaman pendengaran pada usia lanjut, bersifat
sensorineural, simetris bilateral dan progresif lambat. Umumnya terutama terhadap suara atau
nada yang tinggi. Tidak terdapat kelainan pada pemeriksaan telinga hidung tenggorok, seringkali
merupakan kelainan yang tidak disadari. Penderita menjadi depresi dan lebih sensitif. Kadang-
kadang disertai dengan tinitus yaitu persepsi munculnya suara baik di telinga atau di kepala.
Faktor risiko presbikusis adalah: 1) Paparan bising, 2) merokok, 3) obat-obatan, 4) hipertensi,
dan 5) riwayat keluarga. Orang dengan riwayat bekerja di tempat bising, tempat rekreasi yang
bising, dan penembak (tentara) akan mengalami kehilangan pendengaran pada frekuensi tinggi.
10

Penggunaan obat-obatan antibiotik golongan aminoglikosid, cisplatin, diuretik, atau anti
inflamasi dapat berpengaruh terhadap terjadinya presbikusis.
8
Pemeriksaan fisik pada penderita biasanya normal setelah pengambilan serumen yang
merupakan problem pada penderita usia lanjut dan penyebab kurang pendengaran terbanyak.
Pada pemeriksaan otoskopi, tampak membran timpani normal atau bisa juga suram, dengan
mobilitas yang berkurang. Pemeriksaan tambahan tes penala Uji rinne positif Hantaran Udara
Hantaran Tulang, Uji Weber, Uji Schwabach memendek.
5
Audiometri murni pemeriksaan penunjang yang biasanya dilakukan. Pemeriksaan
audiometri nada murni menunjukkan suatu tuli sensorineural nada tinggi bilateral dan simetris.
Pemeriksaan audiometri nada murni ditemukan perurunan ambang dengar nada murni yang
menunjukkan gambaran tuli sensorineural. Pada tahap awal terdapat penurunan yang tajam
(sloping) setelah frekuensi 1000 Hz. Gambaran ini khas pada gangguan pendengaran jenis
sensorik dan neural. Kedua jenis ini paling sering ditemukan.
5,7

Garis ambang dengar pada audiogram jenis metabolik dan mekanik lebih mendatar,
kemudian pada tahap berikutnya berangsur-angsur terjadi penurunan. Semua jenis presbikusis
tahap lanjut juga terjadi penurunan pada frekuensi yang lebih rendah.
5
Audiometri tutur Menunjukkan adanya gangguan diskriminasi wicara (speech
discriminatin) dan biasanya keadaan ini jelas terlihat pada presbikusis jenis neural dan koklear.
Pada pemeriksaan audiometri tutur pasien diminta untuk mengulang kata yang didengar melalui
kasettape recorder. Pada tuli persepti koklea, pasien sulit untuk membedakan bunyi R, S, C, H,
CH, N. Sedangkan pada tuli retrokoklea lebih sulit lagi umtuk membedakan kata tersebut. Guna
pemeriksaan ini adalah untuk menilai kemampuan pasien dalam pembicaraan sehari-hari, dan
untuk menilai pemberian alat bantu dengar.
5

11


Gambar 2 : audiogram presbikusis
II. 9. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pada pasien ini bertujuan untuk memperbaiki efektifitas pasien dalam
berkomunikasi dan memaksimalkan pendengaran pasien, atau yang biasa disebut dengan
rehabilitasi. Pada penatalaksanaan kali ini akan lebih diterangkan tentang Hearing Aid/Alat bantu
dengar.
5,7,9
II.11.a Definisi Hearing Aid
Alat bantu dengar merupakan suatu alat elektronik yang dioperasikan dengan batere,
yang berfungsi memperkuat dan merubah suara sehingga komunikasi bisa berjalan dengan
lancar. Alat bantu dengar terdiri dari:
9

Komponen Fungsi
Microphone bagian yang berperan menerima suara dari luar dan mengubah sinyal
suara menjadi energi listrik, kemudian meneruskannya ke
amplifier.
Amplifier berfungsi memperkeras suara dengan cara memperbesar energi listrik
yang selanjutnya mengirimkannya ke receiver.
Receiver atau
loudspeaker
mengubah energi listrik yang telah diperbesar amplifier menjadi
energi bunyi kembali dan meneruskannya ke liang telinga
Batere sebagai sumber tenaga.
Tabel 1 : komponen ABD
12


Gambar 3 : komponen ABD
Berdasarkan hasil tes fungsi pendengaran, seorang audiologis bisa menentukan apakah
penderita sudah memerlukan alat bantu dengar atau belum (audiologis adalah seorang
profesional kesehatan yang ahli dalam mengenali dan menentukan beratnya gangguan fungsi
pendengaran).
10
Alat bantu dengar sangat membantu proses pendengaran dan pemahaman percakapan
pada penderita penurunan fungsi pendengaran sensorineural. Dalam menentukan suatu alat bantu
dengar, seorang audiologis biasanya akan mempertimbangkan kemampuan mendengar penderita,
aktivitas di rumah maupun di tempat bekerja, keterbatasan fisik, keadaan medis, penampilan,
harga.
10

Pemrosesan Suara Pada Alat Bantu Dengar
Saat ini sebagian besar alat bantu dengar sudah memakai teknologi digital, artinya sinyal
suara yang ditangkap oleh mikrofon dirubah (konversi) menjadi kode-kode digital, yang
kemudian diproses menggunakan perhitungan matematis.
5,9

Pemrosesan suara secara digital memungkinkan untuk melakukan teknik memanipulasi
sinyal contohnya : memisahkan sinyal suara percakapan dengan sinyal bising. Sebagian besar
alat bantu dengar saat ini memiliki kemampuan (dalam memproses) lebih baik dibanding
komputer desktop, tidak seperti alat bantu dengar yang ada di beberapa tahun lalu yang tidak
lebih dari sekedar amplifier.
10
Algoritma yang kompleks dapat memisahkan suara/bunyi ke beberapa frekuensi dan
mengamplifikasi tergantung dari settingan/program yang diberlakukan pada alat bantu dengar
13

yang sesuai dengan kondisi gangguan pendengaran klien. Dengan metode algoritma juga
memungkinkan untuk membedakan jumlah amplifikasi antara suara yang pelan,sedang dan
keras. Dengan cara tersebut diharapkan suara yang pelan dapat terdengar, namun suara yang
keras tidak terasa menyakitkan telinga (over amplifikasi). Dan pemrosesan digital memastikan
replika sinyal asal secara presisi dengan distorsi yang minimal agar menghasilkam kualitas suara
yang bagus.
9,10

Gambar 4 : Mekanisme Kerja ABD

KLASIFIKASI
Menurut sistim kerjanya
Secara umum sistim kerja ABD dibedakan menjadi:

Analog Prinsip sistem analog adalah memperkeras suara yang masuk telinga
melalui komponen mekanik dasar yang sederhana. Sirkuit ABD ini telah diatur
dari pabrik sehingga kemampuan pengaturan yang lebih individual sangat terbatas
atau kurang fleksibel. Sistim ini mudah mengalami distorsi, terjadi noise (bising)
pada rangkaian komponen dan rentan terhadap bising di sekitarnya.
Digital Sistem analog merupakan ABD yang menggunakan chip komputer yang
menganalisa suara yang masuk. Setelah suara diamplifikasi, teknologi digital
akan memilih suara yang perlu diteruskan ke dalam telinga dan menyingkirkan
14

suara yang tidak diharapkan (noise). ABD Sistim digital bisa menerima program
komputer tertentu yang dapat memilih frekuensi syang spesifik sesuai dengan
kebutuhan. ABD Sistim digital menjadi sangat fleksibel karena secara otomatis
dapat beradaptasi dengan suara yang keras atau halus, sehingga tidak terjadi
perkerasan yang berlebihan.
Tabel 2 : Mekanisme Kerja
Menurut bentuknya
Setiap bentuk ABD memiliki keuntungan dan kerugiannya masing-masing. Berikut
adalah pembahasan beberapa jenis ABD yang ada saat ini:
8,9
Jenis alat bantu
pendengaran
Keuntungan Kerugian
Body Worn Type
Harga murah
Baterai tahan lama dan mudah
didapat
Feedback tidak ada
Amplifikasi lebih kuat
Pengaturan manual mudah
Bentuk besar
Ada kabel
Bunyi gesekan dengan kain
Selit menangkap suara dari belakang
Dapat rusak oleh sekret telinga pasien
Behind-the-ear
type
Amplifikasi kuat
Feedback minimal
Pengaturan manual relatif

Membutuhkan ear mould
Memberikan efek oklusi
Dapat rusak oleh sekresi telinga
pasien
In-the-ear type
Sulit terlihat

Amplifikasi terbatas
Membutuhkan ear mould
In-the-canal type
Sulit terlihat
Amplifikasi cukup baik karena
terpasang dalam

Rentan terhadap feedback
Pengaturan manual sulit
Completely-in-
canal
Tidak terlihat kecuali melihat
langsung ke liang telinga pemakai
Pengaturan manual sulit
Rentan feedback
Fitur tertentu tidak dapat digunakan
Spectacle aid
Secara kosmetik lebih dapat
diterima
Letak receiver menjadi relatif tidak
stabil
Open-fit mini
BTE
Baterai relatif lebih tahan
Amplifikasi kuat
Feedback minimal
Pengaturan mudah
Harga mahal
Ketersediaan masih terbatas karena
merupakan teknologi baru
15

Sulit terlihat
Tidak perlu ear mould
Tidak menimbulkan efek oklusi
Memungkinkan keluarnya sekret
telinga pasien
Tabel 3 : macam-macam ABD
Kandidat pemakai alat bantu dengar
Setiap orang dengan kesulitan mendengar atau memahami pembicaraan harus
mempertimbangkan penggunaan alat amplifikasi pendengaran. Hal ini terutama sangat
dianjurkan untuk anak-anak dengan gangguan pendengaran, dimana intervensi harus dianjurkan
sedini mungkin. Gangguan pendengaran dapat secara umum dikelompokkan menjadi Mild
Hearing Loss (20-40 dB), Moderate Hearing Loss (45-65 dB), Severe Hearing Loss (70-85 dB),
Profound Hearing Loss (>85 dB).
8,9
Selain tipe dan derajat ketulian, ada beberapa faktor lainnya yang perlu
diperhitungkan mengenai apakah seorang pasien membutuhkan alat bantu dengar, antara lain
umur dan kondisi kesehatan mental dan fisik pasien secara umum, motivasi pasien (Bukan
keluarga atau pihak lain), kondisi keuangan pasien, pertimbangan kosmetis, kebutuhan pasien
akan komunikasi, terutama dalam kehidupan dan pekerjaan.
9

Implan Koklea
Implan koklea merupakan perangkat elektronik yang mempunyai kemampuan
menggantikan fungsi koklea untuk meningkatkan kemampuan mendengar dan berkomunikasi
pada pasien tuli saraf berat dan total bilateral. Implan koklea sudah mulai dimanfaatkan
semenjak 25 tahun yang lalu dan berkembang pesat di negara maju. Implantasi koklea pertama
kali dikerjakan di Indonesia pada bulan Juli 2002. Selama 4 tahun terakhir telah dilakukan
implantasi koklea pada 27 anak dan 1 orang dewasa.
8
IMPLAN KOKLEA
Indikasi Kontra Indikasi
- keadaan tuli saraf berat bilateral atau
tuli total bilateral (anak maupun
dewasa) yang tidak / sedikit mendapat
manfaat dengan alat bantu dengar
- tuli akibat kelainan pada jalur saraf
pusat (tuli sentral),
- proses penulangan koklea
- koklea tidak berkembang
16

konvensional,
- usia 12 bulan sampai 17 tahun, tidak
ada kontraindikasi medis
- calon pengguna mempunyai
perkembangan kognitif yang baik.

Tabel 4 : Indikasi dan Kontra indikasi implant Koklea
Cara kerja implan koklea
Perangkat implan koklea terdiri dari Komponen luar (Mikrofon, Speech processor, kabel
pengubung), komponen dalam (Receiver dan Multi-channel electrode). Prinsip kerja dari
cochlear implant pertama kali gelombang suara masuk pada mikrofon yang ditempatkan pada
headpiece, suara dikirim ke speech processor melalui sebuah kabel tipis yang menghubungkan
headpiece ke speech processor, the speech processor mengubah suara tersebut menjadi sebuah
sinyal khusus yang dapat ditafsirkan oleh otak. Perubahan ini diselesaikan dengan suatu
program yang disebut speech processing strategies, sinyal khusus tersebut dikirim kembali
melalui kabel yang sama ke headpiece dan dikirim melewati kulit melalui gelombang radio ke
alat yang ditanam tersebut, sinyal tersebut berjalan melalui barisan elektroda di dalam pusat
telinga dan merangsang saraf pendengaran.
9,10
Saraf pendengaran kemudian mengirim sinyal sinyal listrik ke otak dimana siyal
sinyal listrik tersebut ditafsirkan sebagai suara.

Gambar 5 : Implant koklea
17

VERIFIKASI PEMASANGAN
Peraturan dari FDA (Foods and Drugs Administration) mengharuskan masa uji coba
selama 30 hari untuk alat bantu dengar yang baru, suatu masa untuk mengetahui apakah alat
tersebut cocok dan efektif bagi pemakai. Prosedur verifikasi pemasangan ABD pada pasien
tersebut antara lain:
Assessment of Word Recognition & Sound
Quality
klinisi harus melakukan penilaian
peningkatan kemampuan pengenalan kata
penderita dan kualitas suara ABD baik dalam
kondisi yang ramai dan dalam kondisi yang
tenang.

Probe Tube Measure Pengukuran dengan probe tube
merupakan tindakan noninfasif yang secara
cepat menilai kekuatan suara yang diterima
pada jarak 5mm dari membran timpani. Yang
akan dinilai melalui pemeriksaan ini adalah
Dynamic Range dari penderita, yaitu rentang
antara Threshold Level dan Loudness
Discomfort Level dari penderita. Bila alat
pemeriksaan ini tidak ada, dapat juga
dilakukan pemeriksaan Functional Gain, yakni
selisih dari Threshold penderita tanpa dan
dengan ABD.

Subjective Scaling penilaian subyektif kepuasan pengguna,
baik dengan metode menjawab pertanyaan
yang sudah disediakan, atau menggambarkan
sendiri kondisi dan apa yang dirasakan
pengguna setelah pemakaian ABD.

Tabel 5 : Evaluasi ABD
18

BAB III
PENUTUP
III. 1. RESUME
Presbikusis adalah tuli sensorineural pada usia lanjut mulai usia 65th akibat proses
degenerasi organ pendengaran, simetris (terjadi pada kedua sisi telinga) yang terjadi secara
progresif lambat, dapat dimulai pada frekuensi rendah atau tinggi serta tidak ada kelainan yang
mendasari selain proses menua secara umum. Banyak beberapa faktor yang mempunyau hub
dengan presbikusis seperti herediter, metabolisme, aterosklerosis, bising, gaya hidup atau bersifat
multifactor. Presbikusis dapat dijelaskan dari beberapa kemungkinan patogenesis, yaitu
degenerasi koklea, degenerasi sentral, dan beberapa mekanisme mokuler, seperti faktor gen,
stress oksidatif, dan gangguan transduksi sinyal.Klasifikasi presbikusis menjadi 4 jenis: Sensori
(outer hair-cell), neural (ganglion-cell), metabolik (strial atrophy), dan koklea konduktif
(stiffness of the basilar membrane). Diagnose ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Presbiakusis tidak dapat disembuhkan dan tujuan
penatalaksanaanya adalah untuk memperbaiki kemampuan pendengarannya dengan
menggunakan alat bantu dengar.
Alat Bantu Dengar (ABD) adalah Alat suatu perangkat elektronik yang berguna untuk
memperkeras (mengamplifikasi) suara yang masuk ke dalam telinga, sehingga si pemakai dapat
mendengar lebih jelas suara yang ada di sekitarnya. mekanisme kerja ABD berupa: masuknya
suara melalui mikrofon, pengerasan suara oleh amplifier, dan penyampaian ulang suara oleh
receiver / loudspeaker yang mana keseluruhan sistemnya diperdayai oleh suatu komponen
baterai. Terdapat berbagai macam jenis ABD: Menurut sistem kerjanya, Menurut jenis
hantarannya, dan Menurut bentuknya yang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-
masing. Setelah Pemakaian ABD, perlu dilakukan penilaian ulang untuk menentukan
keberhasilan pemakaian ABD dengan beberapa tes, seperti Assessment of Word Recognition &
Sound Quality, Probe Tube Measure, dan Subjective Scaling.





19

III. 2. KESIMPULAN
Presbiakusis merupakan tuli sensorineural pada usia lanjut yang pada umumnya terjadi
mulai usia 65 tahun akibat proses degenerasi organ pendengaran yang terjadi secara berangsur-
angsur dan simetris di kedua sisi telinga. Penatalaksanaan dari presbikusis itu sendiri adalah
ddengan menggunakan alat bantu dengar / Hearing AID, tetapi tujuan di gunakanya ABD bukan
untuk mengobati tetapi untuk memaksimalkan sisa pendengaran pasien agar pasien bisa tetap
berkomunikasi dengan baik. ABD mempunyai berbagai macam bentuk mulai dari yang besar
terlihat, kecil tidak terlihat dan hingga tersamarkan dengan kaca mata. Pemilihan ABD
tergantung dari derajat ketulian pasien hingga kosmetik, pasien dianjurkan berkonsultasi dengan
audiologist. Setelah ada yang cocok pasien di lakukan uji coba selama 90 hari apakah alatnya
benar-benar cocok dan efektif. Jadi, pemakaian ABD pada presbikusis sangat membantu pasien
dalam berkomunikasi dan meningkatkan kualitas hidup psien.



















20

DAFTAR PUSTAKA

1. Snell RS. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran. 6th ed. Jakarta: EGC; 2000. P:
230-240.
2. Probst R, Grevers G, Iro H. Basic Otorhinolaryngology. 2nd ed. Stuttgart: Georg Thieme
Verlag; 2006. P: 357-483.
3. Junqueira LC. Carneiro J. Histologi Dasar: Teks dan Atlas. 10th ed. Jakarta: EGC; 2004.
P: 30-40.
4. Sherwood L. Fisiologi Manusia: Dari Sel ke Sistem. 2nd ed. Jakarta: EGC; 1996. P: 135-
278.
5. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. 6th ed. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. P: 1. 43-45.
6. Muyassaroh, M. 2013. Faktor Risiko Presbikusis - Health Science Journals. Diunduh
dari: indonesia.digitaljournals.orginde.php... . [Diakses pada 11 Juni 2014]
7. Dewi, Afriani. 2011. Presbiakusis. Diunduh dari: http://pustaka.unpad.ac.id/wp-
content/uploads/2009/05/presbiakusis.pdf. [Diakses pada 18 Juni 2014]
8. Inner ear, Presbycusis, Available from www.emedicine.com, Last update on July 27, 2013.
[Diakses pada 11 Juni 2014]
9. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. 6th ed. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. P: 93-97.
10. http://medicastore.com/penyakit/357/Berkurangnya_Pendengaran_&_Tuli.html [Diakses
pada 11Juni 2014]