Anda di halaman 1dari 9

KOMUNIKASI DAN PERSETUJUAN

Persetujuan yang berdasarkan pengetahuan merupakan salah satu konsep inti etika kedokteran
saat ini. Hak pasien untuk mengambil keputusan mengenai perawatan kesehatan mereka telah
diabadikan dalam aturan hukum dan etika di seluruh dunia. Deklarasi Hak-hak Pasien dari
WMA menyatakan:
Pasien mempunyai hak untuk menentukan sendiri, bebas dalam membuat keputusan
yang menyangkut diri mereka sendiri. Dokter harus memberi tahu pasien konsekuensi
dari keputusan yang diambil. Pasien dewasa yang sehat mentalnmya memiliki hak
untuk memberi ijin atau tidak memberi ijin terhadap prosedur diagnosa maupun
terapi. Pasien mempunyai hak untuk mendapatkan informasi yang diperlukan untuk
mengambil keputusannya. Pasien harus paham dengan jelas apa tujuan dari suatu tes
atau pengobatan, hasil apa yang akan diperoleh, dan apa dampaknya jika menunda
keputusan.
Kondisi yang diperlukan agar tercapai persetujuan yang benar adalah komunikasi yang baik
antara dokter dengan pasien. Jika paternalisme medis adalah suatu yang normal, maka
komunikasi adalah suatu yang mudah karena hanya merupakan perintah dokter dan pasien
hanya menerima saja terhadap suatu tindakan medis. Saat ini komunikasi memerlukan sesuatu
yang lebih dari dokter karena dokter harus memberikan semua informasi yang diperlukan
pasien dalam pengambilan keputusan. Ini termasuk menerangkan diagnosa medis, prognosis,
dan regimen terapi yang konpleks dengan bahasa sederhana agar pasien paham mengenai
pilihan-pilihan terapi yang ada, termasuk keuntungan dan kerugian dari masing-masing
terapi, menjawab semua pertanyaan yang mungkin diajukan, serta memahami apapun
keputusan pasien serta alasannya. Ketrampilan komunikasi yang baik tidak dimiliki begitu
saja namun harus dibangun dan dijaga dengan usaha yang disadari penuh dan direview secara
periodik.
Dua hambatan besar dalam komunikasi dokter-pasien yang baik adalah perbedaan budaya dan
bahasa. Jika dokter dan pasien tidak berbicara dalam bahasa yang sama maka diperlukan
seorang penterjemah. Sayangnya dalam banyak situasi tidak ada penterjemah yang memadahi
dan dokter harus mencari orang yang tepat untuk pekerjaan ini. Budaya dapat memunculkan
masalah dalam komunikasi karena perbedaan pemahaman budaya tentang penyebab, dan sifat
dari penyakit dapat menyebabkan pasien tidak paham terhadap diagnosis dan perawatan yang
diberikan. Dalam situasi seperti ini dokter harus membuat segala usaha yang mungkin untuk
dapat memahamkan pasien terhadap kesehatan dan penyembuhan serta mengkomunikasikan
saran-sarannya kepada pasien sebaik mungkin.
Jika dokter berhasil mengkomunikasikan semua informasi yang diperlukan oleh pasien dan
jika pasien tersebut ingin mengetahui diagnosa, prognosis, dan pilihan terapi yang dijalani,
maka kemudian pasien akan berada dalam posisi dapat membuat keputusan berdasarkan
pemahamannya tentang bagaimana menindaklanjutinya. Walaupun istilah ijin mengandung
pengertian menerima perlakuan yang diberikan, namun konsep ijin berdasarkan pengetahuan
dan pemahaman juga bermakna sama dengan penolakan terhadap terapi atau memilih
Pasien yang kompeten mempunyai hak untuk
menolak perawatan, walaupun penolakan tersebut
dapat menyebabkan kecacatan atau kematian.
diantara beberapa alternatif terapi. Pasien yang kompeten mempunyai hak untuk menolak
perawatan, walaupun penolakan tersebut dapat menyebabkan kecacatan atau kematian.
Bukti adanya ijin dapat eksplisit atau emplisit. Ijin eksplisit diberikan secara lisan atau
tertulis. Ijin implisit jika pasien mengindikasikan kemauannya untuk menjalani prosedur atau
tindakan tertentu melalui perilakunya. Contohnya ijin untuk venipuncture (suntikan pada
pembuluh vena) secara implisit diberikan melalui tindakan memberikan lengannya. Untuk
tindakan yang dapat menimbulkan resiko
atau melibatkan ketidak nyamanan yang
tidak ringan, lebih baik mendapat ijin
eksplisit bukan ijin implisit.
Ada dua perkecualian syarat untuk mendapatkan ijin berdasarkan pemahaman oleh pasien
yang kompeten:
Keadaan dimana pasien memberikan secara sukarela hak pengambilan keputusan kepada
dokter atau pihak ketiga. Karena kompleksitas masalah atau karena pasien percaya
sepenuhnya kepada penilaian dokter, maka pasien dapat saja mengatakan Lakukan apa
yang menurut anda yang terbaik. Dokter tidak boleh terlalu berani bertindak karena
mendapat permintaan seperti itu, namun harus tetap memberi pasien informasi dasar
mengenai pilihan tindakan yang ada dan tetap menyemangati pasien untuk mengambil
keputusan sendiri. Namun setelah diberitahu dan didorong paisen tetap menyerahkan
keputusan kepada dokter, dokter harus bertindak berdasarkan kepentingan terbaik pasien.
Keadaan dimana penyampaian informasi kepada pasien dapat menyakiti pasien. Konsep
therapeutic privilege (hak istimewa terapi) dapat digunakan dalam kasus tersebut dimana
dokter diijinkan menyimpan informasi medis jika ternyata menyampaikannya dapat
membahayakan atau menyakiti pasien secara emosional, psikologi, fisik dirinya atau
orang lain; seperti jika pasien dapat melakukan tindakan bunuh diri jika diagnosa ternyata
mengindikasikan adanya penyakit stadium terminal. Hak istimewa ini sangat mungkin
disalahgunakan, sehingga dokter hanya boleh menggunakannya dalam keadaan yang
ekstrim. Dokter harus mengawali dengan anggapan bahwa semua orang pasien dapat
menghadapi semua fakta dan tetap mencoba terbuka terhadap kasus-kasus dimana dokter
menganggap bahwa akan lebih membahayakan jika mengatakan kebenaran dibanding
tidak mengatakannya.
Dalam beberapa budaya masih dianut bahwa dokter tidak harus memberitahukan informasi
kepada pasien dengan diagnosis penyakit stadium terminal. Hal tersebut dikarenakan dirasa
akan menyebabkan pasien putus asa dan menyebabkan sisa hidupnya lebih menderita
dibanding jika masih ada harapan untuk sembuh. Hampir di seluruh dunia sangat umum kita
jumpai bahwa anggota keluarga pasien meminta dokter untuk tidak mengatakan kepada
pasien bahwa mereka sekarat. Dokter haruslah sensitif terhadap budaya dan juga faktor-faktor
personal saat memberitahukan kabar buruk, terlebih lagi yang menyangkut kematian.
Walaupun demikian hak pasien terhadap persetujuan tindakan berdasarkan pemahaman telah
diterima lebih luas dan dokter memiliki tugas utama membantu pasien menggunakan hak
tersebut.
Sejalan dengan perkembangan tren anggapan bahwa pelayanan kesehatan merupakan produk
konsumen dan pasien adalah konsumen, pasien dan keluarganya secara teratur meminta akses
terhadap pelayanan medis yang menurut pendapat dokter tidak tepat. Contohnya adalah
permintaan antibiotik untuk infeksi virus sampai perawatan intensif pasien dengan otak yang
sudah mati atau prosedur pembedahan atau pemberian obat-obatan yang menjajikan namun
belum terbukti. Beberapa pasien mengklaim hak mendapatkan layanan medis apapun yang
dirasa dapat menguntungkan mereka, dan sering dokter hanya menyetujuinya bahkan dokter
yakin bahwa pilihan tersebut tidak memberikan keuntungan medis terhadap kondisi pasien.
Masalah ini dapat menjadi serius jika sumber terbatas dan memberikan tindakan yang sia-sia
atau tidak menguntungkan terhadap seorang pasien berarti membiarkan pasien lain tidak
terawat atau tidak menerima tindakan.
Kesia-siaan dan hal yang tidak menguntungkan dapat dipahami bahwa dalam keadaan tertentu
seseorang dapat menentukan bahwa suatu tindakan adalah sia-sia dan tidak menguntungkan
secara medis karena tidak menawarkan harapan yang masuk akal terhadap kesembuhan atau
perbaikan kondisi atau karena pasiennya secara permanen tidak dapat merasakan keuntungan
yang diharapkan. Pada kasus yang lain manfaat dan keuntungan suatu tindakan hanya dapat
ditentukan dengan referensi dari penilaian subjektif pasien mengenai kebaikan badannya
secara keseluruhan. Aturan umum mengatakan, pasien sebaiknya dilibatkan dalam
menentukan ketidak manfaatan/kesia-sian dalam kasusnya, kecuali dalam keadaan tertentu
seperti diskusi-diskusi, mungkin tak sesuai untuk kebaikan pasien. Dokter tidak berkewajiban
menawarkan kepada pasiennya tindakan sia-sia atau hal yang tidak menguntungkan.
Dokter tidak berkewajiban menawarkan
kepada pasiennya tindakan sia-sia atau
hal yang tidak menguntungkan.
Prinsipnya persetujuan tindakan berdasarkan pengetahuan (informed consent) berhubungan
dengan hak pasien untuk memilih dari beberapa pilihan yang ditawarkan dokter. Sampai
sejauh mana pasien dan keluarganya mempunyai hak terhadap suatu layanan kesehatan yang
tidak direkomendasikan oleh dokter menjadi topik kontroversi yang besar dalam etika
kedookteran, hukum, dan kebijakan publik. Sampai masalah ini diputuskan oleh pemerintah,
penyedia asuransi kesehatan, dan/atau organisasi profesional, dokter secara pribadi harus
menentukan apakah mereka harus setuju terhadap permintaan suatu tindakan yang tidak
sesuai. Dokter harus menolak permintaan seperti itu jika yakin bahwa tindakan tersebut akan
lebih membahayakan. Dokter harus juga tahu bahwa mereka mempunyai hak untuk menolak
jika tindakan yang akan dilakukan sepertinya tidak akan memberikan kebaikan, atau bahkan
membahayakan walaupun kemungkinan efek plasebo tidak dapat diabaikan. Jika sumbersumber
daya yang terbatas menjadi masalah, dokter harus mengkonsultasikannya kepada
pihak yang bertanggung jawab terhadap alokasi sumber daya tersebut.

Makalah Bioetika (Pembahasan kasus berdasarkan kaidah Beneficence, Non-maleficence, Autonomi,
Justice)
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kemajuan teknologi yang semakin pesat membuat akses informasi yang beredar seolah tak terbendung.
Masyarakat semakin cerdas dalam menentukan pilihan, yang salah satunya adalah pilihan dalam urusan
kesehatan. Dengan akses informasi yang tak terbatas inilah, masyarakat semakin diperdalam pengetahuannya
dalam bidang kesehatan, terutama mengenai hak hak yang wajib mereka dapat dan bahkan mengenai penyakit
yang mereka derita.
Seorang dokter yang baik tentu harus memperhatikan hal tersebut, agar bisa mengimbangi pasien yang
datang untuk berobat padanya.
Penerapan kaidah bioetik merupakan sebuah keharusan bagi seorang dokter yang berkecimpung
didalam dunia medis, karena kaidah bioetik adalah sebuah panduan dasar dan standar, tentang bagaimana
seorang dokter harus bersikap atau bertindak terhadap suatu persoalan atau kasus yang dihadapi oleh pasiennya.
Kaidah bioetik harus dipegang tegush oleh seorang dokter dalam proses pengobatan pasien, sampai pada
tahap pasien tersebut tidak mempunyai ikatan lagi dengan dokter yang bersangkutan.
Pada kasus kali ini, penulis akan membahas tentang kasus yang dialami oleh dokter Bagus, seorang
dokter yang mendedikasikan diri pada pelayanan pada orang kecil di daerah terpencil.


1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang digunakan dalam makalah ini adalah Totalitas seorang dokter dalam
pelayanannya.
Penulis memilih rumusan masalah ini karena rumusan ini sudah mencakup banyak aspek yang menjadi masalah
atau kendala dalam pelayanan sang dokter di tempat tugasnya, sehingga mudah untuk dijabarkan atau
dijelaskan.

1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ilmiah ini adalah agar mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA dapat
memahami dengan sungguh dan mampu menerapkan kaidah bioetik seperti Beneficence, Non - Malficence,
Autonomy dan Justice apabila sudah terjun kedunia kerja yang sesungguhnya.


PEMBAHASAN

2.1 Defenisi bioetik
Sepanjang perjalanan sejarah dunia Kedokteran, banyak defenisi dan paham mengenai bioetika yang
dilontarkan oleh para ahli etika dari berbagai belahan dunia. Pendapat pendapat ini dibuat untuk merumuskan
suatu pemahaman bersama tentang apa itu bioetika.
Bioetika berasal dari kata bios yang berati kehidupan dan ethos yang berarti norma-norma atau nilai-
nilai moral. Bioetika merupakan studi interdisipliner tentang masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan di
bidang biologi dan ilmu kedokteran baik skala mikro maupun makro, masa kini dan masa mendatang. Bioetika
mencakup isu-isu sosial, agama, ekonomi, dan hukum bahkan politik. Bioetika selain membicarakan bidang
medis, seperti abortus, euthanasia, transplantasi organ, teknologi reproduksi butan, dan rekayasa genetik,
membahas pula masalah kesehatan, faktor budaya yang berperan dalam lingkup kesehatan masyarakat, hak
pasien, moralitas penyembuhan tradisional, lingkungan kerja, demografi, dan sebagainya. Bioetika memberi
perhatian yang besar pula terhadap penelitian kesehatan pada manusia dan hewan percobaan.
Menurut F. Abel, Bioetika adalah studi interdisipliner tentang masalah-masalah yang ditimbulkan oleh
perkembangan biologi dan kedokteran, tidak hanya memperhatikan masalah-masalah yang terjadi pada masa
sekarang, tetapi juga memperhitungkan timbulnya masalah pada masa yang akan datang.

2.2 Pembahasan Masalah
Kaidah kaidah bioetik merupakah sebuah hukum mutlak bagi seorang dokter. Seorang dokter wajib
mengamalkan prinsip prinsip yang ada dalam kaidah tersebut, tetapi pada beberapa kasus, karena kondisi
berbeda, satu prinsip menjadi lebih penting dan sah untuk digunakan dengan mengorbankan prinsip yang lain.
Kondisi seperti ini disebut Prima Facie. Konsil Kedokteran Indonesia, dengan mengadopsi prinsip etika
kedokteran barat, menetapkan bahwa, praktik kedokteran Indonesia mengacu kepada kepada 4 kaidah dasar
moral yang sering juga disebut kaidah dasar etika kedokteran atau bioetika, yaitu:
Beneficence
Non - Maleficence
Justice
Autonomi

2.2.1 Beneficence
Dalam arti bahwa seorang dokter berbuat baik, menghormati martabat manusia, dokter tersebut harus
berusaha maksimal agar pasiennya tetap dalam kondisi sehat. Perlakuan terbaik kepada pasien merupakan poin
utama dalam kaidah ini. Kaidah beneficence menegaskan peran dokter untuk menyediakan kemudahan dan
kesenangan kepada pasien mengambil langkah positif untuk memaksimalisasi akibat baik daripada hal yang
buruk. Prinsip prinsip yang terkandung didalam kaidah ini adalah;
Mengutamakan Alturisme
Menjamin nilai pokok harkat dan martabat manusia
Memandang pasien atau keluarga bukanlah suatu tindakan tidak hanya menguntungkan seorang dokter
Tidak ada pembatasan goal based
Mengusahakan agar kebaikan atau manfaatnya lebih banyak dibandingkan dengan suatu keburukannya
Paternalisme bertanggung jawab/kasih sayang
Menjamin kehidupan baik-minimal manusia
Memaksimalisasi hak-hak pasien secara keseluruhan
Menerapkan Golden Rule Principle, yaitu melakukan hal yang baik seperti yang orang lain inginkan
Memberi suatu resep berkhasiat namun murah
Mengembangkan profesi secara terus menerus
Minimalisasi akibat buruk

Kaidah Benefince dalam kasus dokter Bagus
1. Dokter Bagus telah lama bertugas di suatu desa terpencil yang sangat jauh dari kota. Sehari-harinya ia
bertugas di sebuah puskesmas yang hanya ditemani oleh seorang mantri, hal ini merupakan pekerjaan yang
cukup melelahkan karena setiap harinya banyak warga desa yang datang berobat karena puskesmas tersebut
merupakan satu-satunya sarana kesehatan yang ada. Dokter Bagus bertugas dari pagi hari sampai sore hari
tetapi tidak menutup kemungkinan ia harus mengobati pasien dimalam hari bila ada warga desa yang
membutuhkan pertolongannya. (Paragraf 1).
Disini dokter bagus menunjukan bahwa ia melayani pasien tanpa mengenal batas waktu, walaupun
sebenarnya ia merasakan kelelahan, tetapi hal tersebut tidak meruntuhkan niatnnya untuk menolong pasien
dokter bagus juga rela berkorban demi orang lain.
Dalam kasus ini, dokter bagus telah menjalankan prinsip altruisme dalam kaidah Beneficence.
2. Setelah memeriksakan anak tersebut, dokter Bagus menyarankan agar anak tersebut dirawat dirumah
sakit yang berada dikota.(Paragraf 2).
Dapat kita lihat bahwa dokter bagus juga telah melakukan suatu tindakan yang berhubungan dengan
Kaidah Beneficence yaitu mengusahakan agar kebaikan atau manfaat lebih banyak dibandingkan dengan
keburukannya, dan meminimalisasi akibat buruk.
3. Dokter Bagus memberikan beberapa macam obat dan vitamin serta nasehat agar istirahat yang cukup.
(Paragraf 2).
Disini dokter Bagus memberi perhatian penuh kepada pasien, dalam mengusahakan agar kebaikan serta
manfaatnya lebih besar dibandingkan dengan kerugian yang akan diterima pasien.
4. Pak mantri tolong bikinkan puyer untuk anak ibu ini dan setelah itu tolong jelaskan cara membuat air
oralit pada ibu ini kata dokter Bagus kepada pak mantri. (Paragraf 3)
Dapat dilihat jika dokter Bagus juga menjalankan prinsip Benefince yang ke 15 yaitu, memberikan obat
berkhasiat namun murah kepada pasiennya.
5. Pak, yang hanya dapat saya lakukan adalah memberi obat obatan penunjang agar anak bapak tidak
terlalu menderita kata dokter Bagus sambil menyerahkan obat kepada orang tua pasien. (Paragraf 4).
Dokter bagus memberikan obat penunjang untuk meminimalisasi akibat buruk agar pasien tidek terlalu
menderita.
6. Sambil bersimbah peluh, dokter Bagus akhirnya menyelesaikan tindakan amputasi telapak tangan
pemuda yang mengalami kecelakaan tersebut. (Paragraf 5). Disini dokter Bagus menunjukkan sisi paternalisme
penuh kasih sayang dan bertanggung jawab sebagai seorang dokter dalam menangani pasiennya.
7. Demikianlah kegiatan sehari-hari dokter Bagus dan tanpa terasa sudah 25 tahun dokter Bagus mengabdi
di desa tersebut dan kini usianya sudah memasuki 55 tahun, namun belum ada sedikitpun dibenaknya dokter
Bagus untuk mencari pendamping hidupnya, yang ada hanya bagaimana mengobati pasien-pasiennya (Paragraf
7).
Disini dokter Bagus menunjukkan sisi altruisme, ia menolong dan rela berkorban demi kepentingan
orang lain, dan tidak mementingkan dirinya sendiri.



2.2.2 Non Malficence
Non-malficence adalah suatu prinsip yang mana seorang dokter tidak melakukan perbuatan yang
memperburuk pasien dan memilih pengobatan yang paling kecil resikonya bagi pasien yang dirawat atau
diobati olehnya. Pernyataan kuno Fist, do no harm, tetap berlaku dan harus diikuti. Non-malficence mempunyai
ciri-ciri:
Menolong pasien emergensi
Mengobati pasien yang luka
Tidak membunuh pasien
Tidak memandang pasien sebagai objek
Tidak menghina/mencaci maki/memanfaatkan pasien
Melindungi pasien dari serangan
Manfaat pasien lebih banyak daripada kerugian dokter
Tidak membahayakan pasien karena kelalaian
Menghindari misrepresentasi
Memberikan semangat hidup
Tidak melakukan white collar crime
Kaidah Non - Maleficence dalam kasus dr. Bagus:
1. Ketika yang lain sibuk membaringkan pemuda yang tidak sadarkan diri tersebut, salah satu orang
mengatakan bahwa pemuda tersebut telapak tangan sebelah kanannya masuk kedalam mesin penggilingan padi
dan setelah 15 menit kemudian telapak tangan pemuda tersebut baru dapat dikeluarkan dari mesin penggilingan
padi. Pada pemeriksaan, dokter Bagus mendapatkan telapak tangan pemuda tersebut hancur. Dokter Bagus
bertanya kepada orang-orang yang mengantar pemuda tadi apakah diantara mereka ada keluarga dari pemuda
tersebut. Dari serombongan orang tadi keluar seorang perempuan, ia mengatakan bahwa ia adalah istri dari
pemuda tersebut. Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak tangan kanan suaminya dan tindakan yang harus
dilakukan adalah amputasi. (Paragraf 5).
Disini dokter Bagus menunjukkan usahanya yaitu melakukan amputasi dalam hal untuk meminimalisasi
akibat buruk yang akan merugikan pasien, seperti kehilangan nyawa akibat pendarahan.

2.2.3 Autonomi
Dalam kaidah ini, seorang dokter wajib menghormati martabat dan hak manusia. Setiap individu harus
diperlakukan sebagai manusia yang mempunyai hak menentukan nasib sendiri. Dalam hal ini pasien diberi hak
untuk berfikir secara logis dan membuat keputusan sendiri. Autonomi bermaksud menghendaki, menyetujui,
membenarkan, membela, dan membiarkan pasien demi dirinya sendiri. Kaidah Autonomi mempunyai prinsip
prinsip sebagai berikut:
Menghargai hak menentukan nasib sendiri
Tidak mengintervensi pasien dalam membuat keputusan
Berterus terang menghargai privasi
Menjaga rahasia pasien
Menghargai rasionalitas pasien
Melaksanakan Informed Consent
Membiarkan pasien dewasa dan kompeten mengambil keputusan sendiri
Tidak mengintervensi atau menghalangi autonomi pasien
Mencegah pihak lain mengintervensi pasien dalam membuat keputusan, termasuk keluarga pasien
sendiri
Sabar menunggu keputusan yang akan diambil pasien pada kasus non emergensi
Tidak berbohong kepada pasien meskipun demi kebaikann pasien
Mejaga hubungan atau kontrak

Kaidah Autonomi dalam kasus dr. Bagus :
1. Namun ibu tersebut menolak karena tidak mempunyai uang untuk berobat. Baiklah kalau
begitu saya akan memberi ibu obat dan oralit untuk anak ibu, nanti ibu berikan obat tersebut sesuai dengan
aturan dan usahakan anak ibu minum oralit sesering mungkin, nanti sore setelah selesai tugas saya akan mampir
kerumah ibu untuk melihat kondisi keadaan anak ibu, kata dokter Bagus. (Paragraf 3).
Disini dokter Bagus menunjukkan bahwa setiap keputusan itu berada di tangan pasien, dan dokter bagus
tidak mengintervensi keputusan dari ibu tersebut. Dia juga tetap menjaga hubungan atau kontrak dengan pasien,
dengan berjanji akan mengunjungi anak dari ibu tersebut
2. Dokter Bagus menjelaskan keadaan telapak tangan kanan suaminya dan tindakan yang harus
dilakukan adalah amputasi. (Paragraf 5).
Disini dokter bagus berterus terang dan tidak berbohong demi kebaikan pasien itu sendiri.
3. Melihat kondisi pasien yang baik dan stabil, akhirnya pasien diperbolehkan pulang dengan diberi
beberapa macam obat dan anjuran agar besok datang kembali untuk kontrol. (Paragraf 5).
Dapat dilihat bahwa dokter Bagus sepenuhnya memberikan keputusan kepada pasien, apakah dia mau
dirawat atau tidak, dan dokter Bagus pun tetap menjaga hubungannya dengan pasien melalui kontrol rutin yang
dilakukannya.
4. Setelah menerima penjelasan tentang kemungkinan penyakit yang dideritanya, pasien pulang
dengan membawa surat rujukan tersebut. (Paragraf 6)
Dapat kita lihat juga dalam paragraph ini, bahwa dokter Bagus selalu menerapkan prinsip prinsip yang
ada didalam kaidah Autonomi. Dalam kasus ini, dokter Bagus menerapkan prinsip ke 3, yaitu berterus terang
kepada pasiennya.

2.2.4 Justice
Keadilan atau Justice adalah suatu prinsip dimana seorang dokter wajib memberikan perlakuan sama rata serta
adil untuk kebahagiaan dan kenyamanan pasien tersebut. Perbedaan tingkat ekonomi, pandangan politik,
agama, kebangsaan, perbedaan kedudukan sosial, kebangsaan, dan kewarganegaraan tidak boleh mengubah
sikap dan pelayanan dokter terhadap pasiennya. Justice mempunyai ciri-ciri :
Memberlakukan segala sesuatu secara universal
Mengambil porsi terakhir dari proses membagi yang telah ia lakukan
Memberikan kesempatan yang sama terhadap pribadi dalam posisi yang sama
Menghargai hak sehat pasien
Menghargai hak hukum pasien
Menghargai hak orang lain
Menjaga kelompok rentan
Tidak membedakan pelayanan terhadap pasien atas dasar SARA, status social, dan sebagainya
Tidak melakukan penyalahgunaan
Memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien
Meminta partisipasi pasien sesuai dengan kemampuannya
Kewajiban mendistribusikan keuntungan dan kerugian secara adil
Mengembalikan hak kepada pemiliknya pada saat yang tepat dan kompeten
Tidak memberi beban berat secara tidak merata tanpa alasan sah atau tepat
Menghormati hak populasi yang sama sama rentan penyakit atau gangguan kesehatan
Bijak dalam makroalokasi

Kaidah Justice dalam kasus dr. Bagus :
1. Pada suatu pagi hari, ketika ia datang ke puskesmas sudah ada 4 orang pasien yang sedang mengantri.
Dokter bagus memeriksa pasien sesuai nomor urut pendaftaran, hal ini dilakukannya agar pemeriksaan pasien
berjalan tertib teratur. (Paragraf 2).
Disini dokter Bagus menunjukkan keadilannya dalam menangani pasien, ia memeriksa pasiennya secara
teratur menurut nomor urut agar pemeriksaan berjalan dengan tertib, lancar dan tidak membeda-bedakan
pasien.
2. Pak mantri tolong bikinkan puyer untuk anak ibu ini dan setelah itu tolong jelaskan cara membuat air
oralit pada ibu ini kata dokter Bagus kepada pak mantri. (Paragraf 3)
Dari percakapan dokter bagus diatas, dapat dilihat jika dokter Bagus menjalankan prinsip Justice yang
ke sepuluh, yaitu memberikan kontribusi yang relatif sama dengan kebutuhan pasien
3. Dokter Bagus meminta kesediaan pasien keempat untuk menunggu diluar karena ia akan terlebih dahulu
memberi pertolongan pada pemuda tersebut. (Paragraf 5).
Di sini dokter bagus menjalankan prinsip Justice yang ketiga, yaitu memberi kesempatan yang sama
terhadap pribadi dalam posisi yang sama.


PENUTUP
3. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan mengenai kasus dokter Bagus, dapat ditarik kesimpulan bahwa dokter Bagus
melaksanakan segala tugas praktek kedokterannya berdasarkan prinsip-prinsip yang ada di dalam kaidah
bioetika kedokteran, yaitu beneficence, non maleficence, justice dan autonomi.
Sesuai prinsip beneficence dokter Bagus memberikan usaha yang terbaik untuk kesembuhan pasien. Ia
mengutamakan kepentingan pasien. Kemudian sesuai prinsip non maleficence, dokter bagus mengutamakan
keselamatan pasien, terutama pada saat pasien dalam keadaan darurat. Yang ketiga sesuai prinsip justice, dokter
Bagus mengutamakan keadilan baik untuk pasien itu sendiri maupun keluarga pasien. Dan yang terakhir
menurut prinsip autonomi, dokter Bagus mengutamakan hak-hak pasien dalam mengambil keputusan tentang
penanganan terhadap penyakit yang pasien alami dan menghormati hak pasien dalam menentukan nasibnya
sendiri.
Prinsip-prinsip dalam bioetik tersebut dapat diterapkan dalam menghadapi pasien, sehingga terciptanya situasi
yang, baik bagi hubungan pasien dan dokter dalam pelayanan kesehatan demi kesembuhan pasien.


DAFTAR PUSTAKA

1. 1. Hanafiah, J., Amri amir. 2009. Etika Kedokteran dan Hukum\Kesehatan (4th ed). Jakarta: EGC.
2. 2. Hartono, Budiman., Salim Darminto. 2011. Modul Blok 1 Who Am I? Bioetika, Humaiora dan
Profesoinalisme dalam Profesi Dokter. Jakarta: UKRIDA.