Anda di halaman 1dari 8

LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2014

A. CARA KERJA
1. Persiapan



2. Perawatan






Mencatat semua jumlah anakan yang lahir dan kenampakan warna tubuh
Pemanenan
anakan berikutnya dipindah ke wadah yang telah disiapkan.
jika ikan sudah terdapat anakan, maka anakan pertama dipindahkan ke wadah lain.
dilakukan sifon jika air di akuarium sudah kotor
Pemeliharaan ikan selama 1 bulan dengan pemberian pakan ikan minimal 2 kali sehari
Pembagian jadwal piket pemberian pakan ikan
Akuariumdiberi tanaman air, minimal dua buah dan selembar daun ketapang serta
aerasi
Memilih indukan masing-masing kelompok 3 betina dan 1 jantan dengan warna tubuh
yang berbeda. Setelah itu ikan dimasukkan ke akuarium.
Mempersiapkan akuariumkemudian diisi dengan air sebanyak bagian.
Pembagian Kelompok
LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2014

B. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dominansi adalah peristiwa tertutupnya sifat atau karakter oleh sifat atau karakter
yang lain sehingga sifat yang ditutupi tidak terekspresi dalam fenotip suatu individu.
Sifat yang menutup sifat yang lain ini disebut sifat dominan, sedangkan sifat yang
ditutup oleh sifat dominan disebut sifat resesif (Yatim, 1972). Gen yang dominan
dilambangkan dengan huruf besar sedangkan gen resesif dilambangkan dengan huruf
kecil.
Persilangan dengan dominansi ada dua, yaitu dominansi penuh dan dominansi tidak
penuh. Suatu sifat dikatakan dominan penuh bila sifat tersebut dapat menghalangi
terekspresinya sifat resesif dalam suatu individu yang heterozigotik (Yatim 1972).
Menurut Aryulina dkk. (2007), dominansi tidak penuh adalah alel dominan yang tidak
dapat menutupi alel resesif sepenuhnya sehingga individu heterozigot meiliki sifat
setengah dominan dan setengah resesif.
Klasifikasi ikan Molly menurut Lingga dan Susanto (1997) adalah sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Classis : Pisces
Sub Classis : Teleostei
Ordo : Cyprinodontaidei
Sub Ordo : Poecilioidei
Familia : Poecillidae
Genus : Mollinesia
Species : Mollinesia sp.
Ikan molly jantan memiliki bentuk tubuh lebih ramping dan lebih kecil dan sirip
punggung jantan lebih panjang dan lebar. Selain itu, Pinnae ventrales pada ikan molly
jantan mengalami modifikasi sehingga berbetuk memanjang. Ikan molly betina memiliki
sirip punggung betina lebih sempit dan pendek serta bentuk tubuh lebih bulat dan lebih
besar dibandingkan jantan.
Molly jantan akan selalu mengeja betina dan akan menanduk-nandukkan anus betina
sambil sesekali menyerempetkan badannya. Saat itu terjad pemijahan. Setelah 4-7 hari,
biasanya akan tampak anak-anak ikan berenang dipermukaan air. Setelah itu, dapat
dipisahkan dari induknya (Bachtiar dan Tim Lentera, 2004).
LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2014

Prinsip kerja dari praktikum dominansi ini adalah membuktikan adanya dominansi
dengan melihat variasi fenotip pada hasil persilangan ikan molly. Langkah pertama
dalam tahap persiapan ini adalah mempersiapkan akuarium kemudian dibersihkan dan
diisi dengan air sebanyak bagian. Selanjutnya memilih indukan ikan molly, 1 jantan
dan 3 betina dengan warna yang sudah ditentukan dan dimasukkan kedalam akuarium.
Indukan yang dipilih jangan sampai tertukar, oleh karena itu perlu mengetahui ciri-ciri
ikan molly jantan dan betina. Agak kandungan oksigen terjamin, akuarium diberi aerasi.
Fungsi aerasi antara lain untuk menghindari penguraian bakteri secara aerob yang dapat
menghasilkan senyawa beracun, seperi CH4 dan H2S (Khairuman dan Khairul, 2003).
Pemberian tananaman air ini selain untuk penyedia oksigen bagi ikan juga sebagai
tempat persembunyian anak-anak ikan yang masih kecil. . Pemberian daun ketapang ini
dimaksudkan untuk menetralkan pH. Pemberian pakan ini untuk memenuhi kebutuhan
ikan dalam metabolisme ataupun untuk perkembangbiakannya. Kemudian setiap
kelompok menyusun jadwal pemberian pakan selama perawatan dalam praktikum
dominansi.
Tahap perawatan ini dilakukan dengan penyifonan jika kondisi akuarium kotor karena
kotoran ikan ataupun sisa pakan yang tidak dimakan ikan. Penyifonan dilakukan untuk
membersihkan sisa pakan atau kotoran yang berada di dasar kolam, sehingga kualitas air
akan selalu terjaga. Anakan pertama (F1) ini dipisahkan dan dipindahkan ke wadah lain,
anakan pertama ini tidak dihitung sebagai anakan, karena dikhawatirkan anak pertama ini
bukan merupakan anakan dari ikan molly jantan yang ada diaquarium, tetapi dari ikan
jantan lain yang satu aquarium dulu. Setelah itu, anakan kedua (F2) dipindahkan ke
wadah yang airnya ditambahkan methilen blue dan dipelihara dengan baik, karena
anakan inilah yang akan diamati untuk melihat dominansi pada ikan molly. Methilen
blue ini berfungsi agar anakan tidak mudah terkena penyakit. Setelah 1 bulan, anakan
dipanen kemudia diamati dan dicatat kenampakan warna tubuh atau fenotipnya.

Jantan Betina Anakan anakan SR
Hitam
(Hhpp)
Kuning
(hhpp)
Hitam
Marble
Kuning
12
8
19
39/56x100%
=69,64%
Tabel 1. Hasil Persilangan Kelompok I
Kelompok I mengadakan perkawinan antara ikan molly jantan hitam dengan ikan
molly betina kuning menghasikan 12 anakan berwarna hitam, 8 anakan marble dan 19
anakannya kuning. Hasil persilangan diatas menunjukkan bahwa dominansi lebih ke
LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2014

warna kuning, meskipun genotipnya resesif. SR (Survival Rate) dari anakan kelompok I
adalah 75%.

Jantan Betina Anakan anakan SR
Oren
(hhpp)
Marble
(HhPp)
Oren
Marble
9
7
16/24x100%
=67%
Tabel 2. Hasil Persilangan Kelompok II

Hasil persilangan antara ikan molly jantan oren dengan ikan betina marble
menghasilkan 16 anakan. Anakan berwarna oren berjumlah 9 ekor dan anakan marble
berjumlah 7 ekor. Dominansi pada hasil persilangan kelompok II ini adalah marble. SR
(Survival Rate) dari anakan kelompok II adalah 67%.

Jantan Betina Anakan anakan SR
Kuning
(hhpp)
Hitam
(HHpp)
Hitam 5 5/5x100%
=100%
Tabel 3. Hasil Persilangan Kelompok III

Persilangan antara ikan molly jantan kuning dengan ikan betina hitam menghasilkan 5
anakan selama perwatan dilakukan. Semua anakan yang dihasilkan berwarna hitam.
Berdasarkan hasil persilangan tersebut, dominansi pada kelompok III ini adalah warna
hitam. Dominansi yang terjadi di kelompok III ini adalah dominansi penuh, karena 100%
anakan yang dihasilkan adalah berwarna hitam dan hitam adalah alel dominan. SR
(Survival Rate) dari anakan kelompok ini adalah 100%, artinya anakan tidak ada yang
mati.

Jantan Betina Anakan anakan SR
Marble
(HhPp)
Kuning
(hhpp)
Marble
Hitam
Putih
Kuning
1
1
2
6
10/10x100%
=100%
Tabel 4. Hasil Persilangan Kelompok IV

Kelompok IV menyilangkan ikan molly jantan marble dengan ikan molly betina
kuning dan menghasilkan 10 anakan. Satu diantara kesepuluh anakannya adalah
berwarna marble dan hitam. Anakan yang berwarna putih 2 ekor dan 6 ekor berwarna
kuning. Dominansi yang terjadi pada persilangan ini adalah warna kuning, karena anakan
LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2014

yang berwarna kuning lebih banyak daripada yang lain. SR (Survival Rate) dari anakan
kelompok IV adalah 100%.

Jantan Betina Anakan anakan SR
Putih
(hhPp)
Hitam
(Hhpp)
Hitam
Putih
5
13
18/18x100%
= 100%
Tabel 5. Hasil Persilangan Kelompok V

Persilangan antara ikan molly jantan putih dengan ikan molly betina hitam yang
dilakukan oleh kelompok V menghasilkan 18 anakan. Hasil persilangan diperoleh 5
anakan berwana hitam dan 13 anakan berwarna putih. Berdasarkan hasil tersebut,
dominansi terjadi pada warna putih. SR (Survival Rate) dari anakan kelompok V adalah
100%, yang berarti anakan tidak ada yang mati.

Jantan Betina Anakan anakan SR
Hitam
(Hhpp)
Marble
(HhPp)
Marble
Putih
Hitam
26
25
13
64/72x100%
=88,89%
Tabel 6. Hasil Persilangan Kelompok VI

Persilangan antara ikan molly jantan hitam dan ikan molly marble mengahasilkan 64
anakan dan yang terbanyak adalah anakan berwarna marble. Anakan berwarna putih
berjumalah 25 ekor, sedangkan anakan berwarna hitam hanya berjumlah 13 ekor.
Berdasakran hasil tersebut, dominansi yang terjadi pada persilangan ini adalah warna
marble. SR (Survival Rate) dari anakan kelompok VI adalah 88,89%.

Contoh persilangan antara ikan molly jantan hitam dan ikan molly betina kuning
adalah sebagai berikut,
P1 : hitam > < kuning
HHpp hhpp
F1 : hitam (Hhpp) 100%
P2 : hitam > < hitam
Hhpp Hhpp
F2 : 1 HHpp : 2 HHpp : 1 hhpp
3 hitam : 1 kuning

LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2014

C. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Fenotip kuning ternyata lebih dominan pada hasil anakan ikan molly yang
dipelihara yang dibuktikan pada kelompok 1,2,dan 4, sedangkan kelompok 3
lebih dominan ke fenotip hitam, kelompok 5 dominan ke fenotipe putih dan
kelompok 6 dominan ke fenotip marble.
2. Variasi yang ditunjukan kelompok 3 fenotip yang paling dominan adalah hitam
sebab semua anakan hitam. Untuk kelompok 1 dari 3 variasi anakan diperoleh
bahwa fenotipe kuning lebih dominan. Pada kelompok 2 dari 2 variasi anakan
diperoleh bahwa fenotipe kuning lebih dominan sedangkan untuk kelompok 4
dengan variasi fenotipnya 4 diperoleh kuning yang paling dominan. Pada
kelompok 5 dengn variasi fenotipnya 2 didapat warna putih yang lebih dominan
dan pada kelompok 6 dari 3 variasi fenotipe marbel dan putih ditemukan lebih
dominan pada anakan tersebut.
Saran
Diharapkan pada praktikum berikutnya, ikan yang digunakan lebih bervariasi lagi dan
waktu perawatan ikan lebih dipersingkat lagi, sehingga praktikan lebih mengetahui
domniansi pada beberapa spesies ikan.

D. DAFTAR PUSTAKA
Aryulina, D. , Choirul M., Syalfinat M. dan Endang W. W. 2007. Biologi. Erlangga.
Jakarta
Bachtiar, Y. dan Tim Lentera. 2004. Budi Daya Ikan Hias Air Tawar untuk Ekspor.
Agromedia Pustaka. Jakarta
Brooker,C. 2005. Ensiklopedia Keperawatan.Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta
James, J. Colin, B. dan Helen S. Prinsip-prinsip Sains untuk Keperawatan. Erlangga.
Jakarta
Susanto, H. dan Lingga, P. 1995. Ikan Hias Air Tawar. Penebar Swadaya. Jakarta
Yatim, Wildma. 1983. Genetika. Penerbit Tarsito. Bandung.
Yuwono, T. 2007. Biologi Molekuler. Erlangga. Jakarta
Khairuman dan Khairul A.2003. Pembenihan dan Pembesaran Gurami secara Intensif.
Penerbit PT Agromedia Pustaka. Jakarta



LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2014

LAMPIRAN


Kelompok 1

Jantan Betina Anakan anakan SR
Hitam
(H_pp)
Kuning
(hhpp)
Hitam
(H_pp)
12
=


100%
=
39
56
100%
= 69,64%

Marbel
(Hhpp)
8
Kuning
(hhpp)
19

Kelompok 2

Kelompok 3
Jantan Betina Anakan

Anakan
Survival Rate
Kuning
hhpp
Hitam
H_pp
Hitam
Hhpp
5
Anakan hidup saat panen
Anakan awal
x100%

5
5
100% = 100 %


Kelompok 4





Jantan Betina Anakan
Anakan
Survival rate
Orange
hhpp
Marbel
HhPp
Orange
Hhpp
9
Anakan hidup saat panen
Anakan awal
x100%
16
24
x100% = 67%
Marbel
HhPp
7
Jantan Betina Anakan
Anakan
Survival rate
Marbel
HhPp
Kuning
hhpp
Marbel
HhPp
1
Anakan hidup saat panen
Anakan awal
x100%
10
10
x100%= 100%
Hitam
H_pp
1
Putih
hhPp
2
Kuning
hhpp
6
LKM Praktikum Dasar-Dasar Genetika 2014

Kelompok 5

Kelompok 6



Jantan Betina Anakan
Anakan
Survival rate
Putih
hhP_
Hitam
H_pp

Hitam
H_pp

5 Anakan hidup saat panen
Anakan awal
x100%
18
18
x100%= 100%
Putih
hhP_
13
Jantan Betina Anakan
Anakan
Survival rate
Hitam
H_pp
Marbel
H_P_
Marbel
hhPp

26
Anakan hidup saat panen
Anakan awal
x100%
64
3272
x100% = 88,89%
Putih
hhP_

25

Hitam
H_pp

13