Anda di halaman 1dari 13

Kerangka Acuan Kerja (KAK) RENCANA TEKNIS SATUAN PERMUKIMAN TRANSMIGRASI ( RTSP ) DI KABUPATEN SABU RAIJUA, TAHUN 2014

1. Latar Belakang

Pembangunan bidang ketransmigrasian merupakan salah satu pendekatan untuk mencapai tujuan kesejahteraan rakyat, pemerataan pembangunan daerah serta perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Namun demikian, kebijakan penyelenggaraan transmigrasi perlu diperbaharui dan disesuaikan dengan kecenderungan perubahan yang terjadi akhir akhir ini terutama pada tata pemerintahan. Pembaharuan penyelenggaraan transmigrasi tersebut diharapkan dapat memperbaiki cara program transmigrasi dan diterima oleh berbagai pihak khususnya daerah-daerah yang masih membutuhkan adanya pengembangan suatu kawasan baik sumberdaya manusia maupun pemanfaatan sumberdaya alam yang tersedia dengan tetap memperhatikan:

Program pembangunan dan pembinaan dirubah dari yang bersifat standar menjadi spesifik lokasi sesuai nuansa kebijakan lokal. Perencanaan transmigrasi harus merupakan kombinasi dari perencanaan daerah dan arah kebijakan Pemerintah Pusat ( Bottom Up Planning).

Sejalan dengan itu Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi telah mengeluarkan Paradigma Baru penyelenggaraan transmigrasi sebagai kebijakan adalah

Pembangunan Permukiman dan Penempatan yang sebagaian besar masih berorientasi kepada pengembangan budidaya pertanian, harus mampu memberikan kontribusi bagi upaya meningkatkan Ketahanan Pangan dan Penyediaan Papan;

Prioritas sasaran adalah wilayah perbatasan dan wilayah tertinggal dan harus dapat mengurangi kesenjangan antar wilayah untuk memberikan kontribusi dalam Memantapkan Ketahanan Nasional;

Pembangunan permukiman dan penempatan diarahkan untuk mendukung Pemenuhan Kebutuhan Bio-Energi dengan pengembangan komoditas sawit, jagung, tebu dan jarak pagar;

Pembangunan penyiapan permukiman dilaksanakan terintegrasi dengan aktivitas investasi untuk mendukung Pemeratan Investasi;

Pembangunan permukiman transmigrasi harus mampu tumbuh dan berkembang menjadi komunitas yang produktif sebagai satu kesatuan strategi nasional ketenagakerjaan dalam rangka recovery Penanggulangan Pengangguran.

Kebijakan Penyiapan Permukiman sebagai implementasi dari paradigma baru penyelenggaran transmigrasi adalah :

Penyiapan permukiman transmigrasi disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan daerah dan Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Propinsi / Kabupaten (RUTRWP/K) terintegrasi dengan kawasan / wilayah yang lebih luas;

Pendekatan sosial budaya dikedepankan dalam arti harus didasarkan pada kesepakatan masyarakat melalui musyawarah;

Masyarakat setempat harus memperoleh manfaat dari permukiman transmigrasi di daerahnya sehingga perlu dilakukan pemugaran / rehabilitasi permukiman yang ada menjadi satu kesatuan permukiman transmigrasi

Pengelolaan permukiman transmigrasi menjadi satu kesatuan dengan desa yang sudah ada;

Pengembangan komoditi unggulan berbasis lahan atau perairan dikelola dalam system bisnis yang utuh dan terpadu

Penyiapan permukiman transmigrasi disesuaikan dengan realitas kebutuhan dan manfaat yang spesifik lokasi melalui pendekatan bottom up planning yang partisipatif dan emansipatif;

Pelaksanaan penyiapan permukiman transmigrasi didekonsentrasikan hingga ke tingkat kawasan yang didukung unit pengelola untuk menjamin pengelolaan yang utuh dan terpadu;

Tanggung jawab dan wewenang pelaksanan penyiapan permukiman transmigrasi berada pada pemkab/kota yang difasilitasi dan dikendalikan oleh Pemprov.

Sementara itu pembangunan ketransmigrasian di NTT untuk perjalanan ke depan telah dirumuskan pembangunan ketransmigrasian Provinsi NTT sebagai berikut:

Pembangunan / pendekatan pembangunan dengan lokasi pembangunan sesuai karakteristik dengan terciptanya Kota Terpadu Mandiri;

Pembangunan transmigrasi diarahkan untuk pengurangan kemiskinan dan pengangguran;

Terciptanya keunggulan komparatif dan setiap UPT berdasarkan karakteristik dan pemberdayaan masyarakat dan lahan yang tersedia sesuai dengan perencanan WPT

Peningkatan kesejahteran / ekonomi masyarakat dan ketersediaan pangan;

Dalam berbagai perencanaan tata ruang transmigrasi sebelumnya, berbagai permasalahan spesifik yang muncul sampai saat ini adalah adanya kesan enclave pada RTUPT yang dibuat antara transmigran dengan penduduk sekitarnya, sehingga perlu diupayakan bahwa lokasi transmigrasi ini harus terintegrasi dengan desa yang ada dan mengakomodir kebutuhan desa setempat. Disamping itu pada masa lalu kesan eksklusif pada lokasi transmigrasi melalui perencanaan tata ruang yang dibuat dan kemudian lokasi tersebut dibangun masih mengesampingkan keinginan lokal, termasuk siapa yang menjadi transmigran sehingga perlu adanya perubahan pendekatan dimana dimensi fisik tata ruang yang dibuat harus menggambarkan dimensi sosial budaya, dimensi ekonomi dan politik sehingga menjadi berkeadilan dan mampu secara berkelanjutan.

Tata Ruang Permukiman Transmigrasi selama ini bersifat ekslusif, yaitu berarti belum sepenuhnya kepentingan dan kebutuhan masyarakat lokal serta Kebijakan yang ada dan berlaku dalam masyarakat lokal. Hal ini mengakibatkan ketidakserasian dan ketidak harmonisan serta kurang memungkinkan terjadinya pembauran melalui proses adaptasi dan asimilasi budaya antara penduduk lokal dan pendatang. Akibatnya kelompok penduduk setempat dan penduduk pendatang tumbuh dan berkembang secara sendiri-sendiri, masing- masing dengan karakter tersendiri di bidang sosial, budaya dan ekonomi. Dikotomi perkembangan yang demikian mengakibatkan terjadinya hubungan sosial ekonomi budaya yang tidak harmonis diantara mereka, yang pada akhirnya dapat menimbulkan konflik sosial dan benturan budaya antara penduduk lokal dan pendatang.

Selain itu juga nampak adanya disparatis dalam pemberian insentif dimana insentif pembangunan dari pemerintah hanya diberikan pada Unit Permukiman Transmigrasi (UPT) sedangkan permukiman penduduk lokal hampir tidak memperoleh apa-apa. Hal ini mengakibatkan kesenjangan yang semakin melebar pertumbuhan pembangunan permukiman pendatang (UPT) dengan permukiman penduduk lokal. Kesemuanya ini mengakibatkan meningkatnya penolakan Pemda dan masyarakat lokal terhadap program transmigrasi.

Dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Desentralisasi maka diperlukan Paradigma Baru berupa penyesuaian dalam pendekatan dan kerangka berfikir pembangunan kawasan transmigrasi yaitu dengan mengedepankan pendekatan perencanaan dari bawah ke atas (bottom up planning) serta berdasarkan aspirasi masyarakat (demand side), Sedangkan pemerintah lebih berperan sebagai

pendamping, regulator dan fasilitator sampai tingkat tertentu. Paradigma baru tata ruang permukiman transmigrasi pada dasarnya bertujuan untuk mengintegrasikan penanganan pembangunan kawasan transmigrasi yang kompleks dengan kebutuhan simplikasi program pembangunan transmigrasi dengan penekanan pada pemenuhan kebutuhan spesifik setiap lokasi.

2. Tujuan dan Sasaran Memberikan arahan pelaksanaaan penyusunan Rencana Teknis Unit Permukiman

Transmigrasi yang terintegrasi dengan pembangunan daerah dengan mengoptimalkan Ruang secara efisien dan efektif dan memperhatikan daya dukung lingkungan yang dapat mengakomodir aktifitas kawasan/desa sekitarnya, sehingga membentuk kawasan transmigran secara terpadu. a. Tujuan

Menyusun Rencana Teknis Satuan Permukiman Transmigrasi (RTSP) yang terintegrasi dengan wilayah dan masyarakat sekitar yang ada. Menyusun Rencana Teknik Jalan (RTJ) yang terintegrasi dengan wilayah dan masyarakat sekitar yang ada. Menganalisis kesesuaian permukiman dan kesesuaian kegiatan usaha pokok yang dapat dikembangkan dilokasi tersebut. Menetapkan kebutuhan dasar secara normatif, jenis dan volume sarana, prasarana pembangunan permukiman. Melakukan optimalisasi penataan ruang transmigrasi, Penduduk Setempat (TPS) dan Transmigran Pendatang (TP) sesuai dengan kebutuhan desa yang bersangkutan.

b. Sasaran Tersusunnya lokasi permukiman transmigran yang layak huni, layak usaha, layak berkembang dan layak lingkungan. Tersusunnya Rencana Teknis Satuan Permukiman Transmigrasi dengan pola struktur ruang didasarkan kepada pertimbangan aspek fisik lahan, aspek sosial budaya, aspek ekonomi dan aspek politik/kebijakan secara berkeadilan antara masyarakat setempat dan pendatang. Tersusunnya desain tata ruang dan kebutuhan sarana, prasarana pembangunan permukiman yang efektif dan efisien. Tersusunnya desain kegiatan usaha pokok dan pertanian dalam arti luas (Pangan, Perkebunan, Peternakan, Perikanan), Jasa dan Industri di lokasi.

3. Deskripsi Lokasi Lokasi kegiatan RTSP adalah di Desa Loboaju Kecamatan Sabu Tengah.

4. Ruang Lingkup Ruang lingkup kegiatan RTSP adalah sebagai berikut :

a. Rekomendasi Tata Ruang Permukiman secara detail yang meliputi : Lahan Pekarangan / Tapak Rumah, Lahan Usaha, Prasarana dan Sarana serta Lahan Cadangan atau Lahan Penyangga (buffer) untuk pengelolaan lingkungan. Guna mengetahui kebutuhan secara detail pola tata ruang permukiman perlu dilakukan suatu survey untuk mengetahui keinginan masyarakat setempat melalui survey sosial budaya yang bersifat langsung partisipan dari penduduk setempat. Survey tersebut dapat memakai metode Partisipatory Rural Appraisal (PRA) sehingga bisa saja Lahan Pekarangan untuk Transmigrasi Penduduk Setempat (TPS) berada di dalam kawasan permukiman lama (rehab rumah) ataupun bangunan Fasilitas Umum berada di dalam permukiman lama.

b. Rekomendasi kebutuhan (volume); jenis prasarana dan sarana permukiman serta prakiraan pembiayaan pembangunan permukiman meliputi penyiapan lahan, pembangunan jalan dan jembatan, pembangunan rumah Trans dan Bangunan Fasilitas Umum, Sarana Air Bersih serta fasilitas pendukung ekonomi lainnya serta pasar dan lain-lain.

c.

Perencanaan Tata Ruang Makro yaitu dengan memperhitungkan pengaruh daya dukung regional kawasan serta kondisi sosiokultur regional. Khusus kawasan yang telah dilakukan studi studi tata ruang sebelumnya seperti RWPT dan RSKP maka proses studi RTSP ini dapat memanfaatkan regional konteks dari studi yang terdahulu tersebut sebagai penunjang sehingga lebih mudah dan lebih cepat proses analisanya.

d. Rekomendasi usaha tani meliputi kegiatan usaha pokok yang mempunyai komoditas unggulan sesuai potensi dan kondisi lokasi tersebut antara lain: pola usaha pertanian perkebunan (kelapa sawit, karet, coklat), pola usaha pertanian tanaman pangan, pola usaha pertanian hortikultura (durian, vanili dan lain-lain), pola usaha perikanan tambak (keramba jaring apung, rumput laut, teripang, udang), pola usaha perikanan tangkap dan nelayan, pola usaha jasa dan industri dan lainnya.

e. Rekomendasi terhadap peluang investasi (swasta, masyarakat, organisasi dan sebagainya) meliputi :

Kesesuaian lahan dengan jenis komoditi yang akan dikembangkan. Keterampilan dan pengetahuan baik Transmigran Pendatang maupun Transmigran Penduduk Setempat. Ketersediaaan pasar yang membutuhkan komoditas tersebut. Teknologi pengolahan yang ramah lingkungan.

5. Substansi Dasar RTSP Pekerjaan Penyusunan Rencana Teknis Tata Ruang Permukiman Transmigrasi dengan pendekatan Pola Kegiatan Usaha yang selaras dengan aspirasi masyarakat setempat memungkinkan upaya alokasi peruntukan lahan bagi transmigrasi yang berbeda untuk setiap lokasi permukiman transmigrasi sehingga dalam menentukan alokasi peruntukkan lahan untuk tapak rumah dan lahan usahanya (LR+LU) merujuk pada kebijaksanaan Pemerintah Daerah yang berlaku. Pekerjaan mulai dari pengumpulan data, analisis pada penyusunan model Perencanaan Unit Permukiman Transmigrasi sampai tahap rekomedasi. Beberapa aspek yang perlu ditinjau adalah sebagai berikut:

a. Aspek Legal Memenuhi kriteria penetapan lokasi atau kepastian lokasi transmigran (Clear) :

Adanya aspirasi masyarakat setempat/usulan lokasi oleh masyarakat setempat bagi transmigran yang dibuktikan dengan adanya surat penyerahan / pelepasan hak kepemilikan tanah dalam bentuk berita acara. Adanya surat pencadangan dari Bupati Kepala Daerah yang didukung oleh Camat/ Lurah setempat. Legalitas lahan/pelepasan hutan dari Departemen Kehutanan bagi kegiatan penyelenggaraan pembangunan bidang transmigrasi. Digambar pada peta skala 1 : 10.000.

b. Aspek Tata Ruang Transmigrasi Sisipan. Penataan Ruang Desa yang ada bagi pengembangan desa tersebut, Unit Permukiman Transmigrasi diperlukan untuk menunjang kegiatan usaha sehingga model rencana Unit Permukiman Transmigrasi sebagai sisipan yang terintegrasi dengan pembangunan dusun-dusun yang ada dan sesuai dengan aspirasi masyarakat setempat dan dapat menunjang rehabilitasi desa. Karena adanya faktor produksi pertanian dan sarana/prasarana yang tidak memadai sehingga perlu rehabilitasi atau renovasi permukiman/fasilitas umum sehingga model rencana unit permukiman bersifat perubahan desa setempat transmigran (Eks UPT yang telah diserahkan) diperlukan untuk kegiatan teknis pembangunan fisik. Transmigrasi Pengembangan Desa Potensial. Model rencana Unit Permukiman Transmigrasi dengan pola usaha industri perkebunan, perikanan dan tanaman pangan dilaksanakan pada desa yang sudah ada atau membentuk Unit Permukiman Transmigrasi Baru. Penduduk setempat dapat diberlakukan sebagi transmigran.

c.

Aspek Permukiman Kriteria Perencanaan Kriteria yang digunakan meliputi :

- Kesesuaian lahan secara ideal, lahan seharusnya S1 untuk penggunaan tertentu tetapi S2 dan S3 dapat digunakan terutama untuk lahan permukiman

- Pola permukiman lebih baik adalah desa ber-inti (Nucleus) dimana fasilitas umum dapat mengakomodir kegiatan masyarakat setempat/transmigran, linier juga masih diperbolehkan tergantung pada tingkat topografi / kondisi fisik lahan

- Topografi kelerengan untuk Lahan Pekarangan sebaiknya 0 8%, Lahan Usaha 0

25%

- Jarak capai (Aksebilitas) dari LP LU : 0 2,5 Km

- LP LU : 0 3,5 Km

- Lahan konservasi sekitar sungai 0 25 m tetap dipertahankan untuk penghijauan / aspirasi masyarakat

- Lahan Pekarangan 500 m 2 2 Ha/KK

- Lahan Usaha : 0 -2 Ha/KK (disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan)

- Fasilitas Umum : 2 Ha 4 Ha di Pusat Desa

- Faktor Sosial Budaya menentukan pola permukiman dapat berkelompok membentuk permukiman dan sebagainya sehingga dapat terintegrasi dengan masyarakat setempat

- Pusat Desa (FU) sebaiknya melihat kondisi yang ada, apa perlu rehabilitas atau buat baru di Pusat Desa Baru / Lama.

- Jarak capai : Tapak Rumah ke Pusat Desa (FU) 0 Km sampai dengan 2,5 Km. Tapak Rumah ke Lahan Usaha 0 sampai dengan 5 Km.

- Sumberdaya Air. Ketersediaan air bersih ini sangat menentukan kelayakan huni bagi permukiman transmigrasi. Kebutuhan air bersih bagi kegiatan keluarga memerlukan 60 liter/hari antara lain untuk mandi, cuci, minum, masak dan sebagainya. Kualitas Air Bersih: tidak berwarna dan berbau dan memenuhi persyaratan kesehatan (laboratorium). Terhadap lokasi yang tidak memenuhi standar, sumur gali dengan kedalaman > 10 m (non standar) maka perlu alternatif dalam penyediaan air bersih yaitu disiapkan Kolam Tandon Air (KTA / Embung), tong air, gentong plastik. Terhadap lokasi di pesisir pantai dimana sulit air bersih, perlu alternatif model perpipaan, survey ini dilakukan setahun sebelum pelaksanaan (T-1).

Ketentuan ini relatif sangat ditentukan oleh kondisi sekarang seperti topografi dan persebaran lokasi fasilitas yang ada. Fasilitas Umum Sarana/Prasarana yang disediakan harus dapat mengakomodir aktifitas masyarakat setempat yang dapat mencerminkan keterintegrasian antara transmigran dengan penduduk setempat. Alokasi Lahan untuk Permukiman. Diperlukan pendekatan-pendekatan aspirasi masyarakat dan ketersediaan lahan Pemerintah Daerah. Alokasi Lahan Tapak Rumah : 75 m 2 sampai dengan 2.500 m 2 . Alokasi tapak rumah bagi transmigran berdasarkan pada kebutuhan dan pola usaha di lokasi.Sebagai contoh : (1) Untuk pola industri maka cukup disediakan tapak rumah 100 m 2 /KK, atau pola perikanan karena lahan usahanya di laut, maka diperlukan tapak rumah 150 m 2 /KK; (2) Pola permukiman ditentukan oleh kondisi topografi dan kesesuaian lahan serta terintegrasi dengan permukiman penduduk setempat. Alokasi Lahan Usaha. Alokasi Lahan untuk pola usaha industri atau perikanan tidak diberikan alokasi untuk pola usaha tanaman pangan lahan kering/basah atau pola perkebunan/tambak disesuaikan dengan kebutuhan 1 Ha/KK 2 Ha/KK.

d. Aspek Sarana Dan Prasarana. Jaringan jalan harus direncanakan (diukur) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat setempat dipermukiman. Jaringan jalan ini harus dapat menghubungkan antar desa. Dalam kegiatan survey perlu pengukuran terhadap jalan- jalan yang perlu direhabilitasi dan jalan-jalan baru yang harus direncanakan jika adanya pengembangan transmigrasi (Permukiman Transmigrasi Baru). Juga sarana yang ada (Fasilitas Umum seperti Puskesmas, Kantor Desa, Tempat Ibadah, Pasar dan sebagainya), apakah perlu dilakukan penambahan/perluasan terhadap sarana tersebut.Untuk

mengakomodir hal tersebut perlu dilakukan Participatory Rural Appraisal (PRA) sehingga

prioritas pembangunan dapat segera diatasi. Ada jenis-jenis jalan yang perlu ditinjau :

Jalan Penghubung; jalan yang menghubungkan antar Desa ke Desa sebagai Pusat Pengembangan Kawasan Jalan Desa; jalan yang menghubungkan antar Desa ke Desa setingkat dan jalan yang ada dalam desa tersebut. Jalan Lahan; jalan yang memberikan aksesibilitas dari desa ke lahan usahanya.

e.

Aspek Lingkungan Letak lingkungan daerah survey calon lokasi transmigrasi yang direncanakan harus diketahui dan dipertimbangkan hubungan terhadap pusat pertumbuhan kota dan desa terdekat. Aspek lingkungan ini dapat memberikan secara garis besar mengenai pengaruh yang mungkin terjadi terutama pengaruh yang merugikan apabila rencana UPT itu diimplementasikan, meliputi :

Lingkungan Fisik dan Biologi. Perubahan lingkungan yang mungkin terjadi sebagai akibat adanya pembangunan fisik : pembukaan lahan/jalan hutan, jalan-jalan baru, fasilitas umum/sosial. Adanya pengembangan permukiman transmigrasi di daerah survey apakah akan mempengaruhi keadaan flora/fauna, rona awal lingkungan fisik perlu dinilai dan cara penanggulangan jika ada kegiatan pengembangan permukiman daerah tersebut. Lingkungan Sosial, Budaya, Penduduk dan seterusnya. Pengaruh yang mungkin timbul akibat pengembangan transmigran terhadap kondisi sosial budaya ekonomi penduduk adalah :

 

- Terhadap kesempatan kerja dan tenaga kerja yang ada pada penduduk setempat;

- Terhadap sosial ekonomi meningkatnya pendapatan penduduk setempat;

- Terhadap budaya setempat: pengaruh terhadap adat istiadat dan budaya mata pencaharian penduduk setempat;

- Makro ekonomi meningkatnya pendapatan daerah.

f.

Aspek Sosial Budaya

Untuk menjalin hubungan antara masyarakat setempat dengan transmigran dan dalam rangka proses pelaksanaan pembangunan desa, ada beberapa aspek sosial budaya yang perlu dicermati melalui pendekatan PRA (Partisipatory Rural Appraisal) dimana tujuan utamanya adalah untuk mengurangi kegagalan program pembangunan. Supaya lebih tepat sasaran dan harus melibatkan masyarakat sejak dari proses perencanaan pelaksanaan, monitoring hingga evaluasi. Aspek Sosial Budaya dan Kependudukan meliputi:

Aspirasi budaya masyarakat yang ada dan diinginkan

Kelembagaan masyarakat yang ada dan yang diinginkan

Persepsi masyarakat dan harapan terhadap program transmigrasi

Spesifik terhadap alokasi kepemilikan lahan bagi penduduk/transmigran Interaksi sosial budaya/ kontekstual yang ada dan diharapkan.

g.

Aspek Ekonomi Kegiatan ekonomi tampak bila ada pengembangan transmigran pada desa tersebut

seperti pembuatan jalan baru / rehab pembuatan rumah transmigran, fasilitas umum. Pengolahan lahan pertanian perlu mempertimbangkan hal-hal sebegai berikut :

Kesempatan kerja/potensi Sumber Daya Manusia (SDM) pada masyarakat setempat.

Pendapatan penduduk setempat dan kegiatan usahanya dibanding dengan kegiatan

daerah sekitarnya. Adanya mata pencaharian lokal. Pasar, faktor produksi yang menunjang pendapatan daerah/desa setempat.

h.

Aspek Kelayakan Usaha. Lingkup pekerjaan yang dilakukan terhadap kawasan yang berpotensi untuk pengembangan permukiman transmigran meliputi kegiatan usaha pokok yang komoditas unggulannya antara lain : (1) Pola Usaha Pertanian Perkebunan : kelapa sawit, kelapa

hibrida, karet, durian dan sebagainya, (2) Pola Usaha Pertanian Tanaman Pangan Lahan Kering/Basah : Palawija, Padi dan sebagainya, (3) Pola Usaha Agro Marina:

Perikanan dan Tambak, (4) Pola Usaha Industri, (5) Pertanian Lahan Kering/Basah, (6) Perkebunan, dan (7) Perikanan.

6.

i.

Aspek Kelembagaan Aspek kelembagaan yang perlu dipertimbangkan meliputi pelayanan pendukung pertanian, fasilitas pelayanan umum (FU) dan pelayanan administratif. Kelembagaan Pendukung Pertanian : Pelayanan Penyuluh Pertanian (Pusat Penyuluh Pedesaan); Penyedia Faktor produksi Lembaga Umum: Sosial, Agama, Koperasi, Kebudayaan dan Bank Perkreditan Rakyat Pelayanan Administrasi: Peran Wanita, Lembaga Sosial Desa

Metodologi

a. Persiapan Meliputi koordinasi secara internal dan eksternal dengan pemilik kegiatan dan penyusunan rencana kegiatan tata ruang ini. Melakukan inventarisasi data, hasil penelitian dan peta yang sudah dilakukan oleh pelaksana terdahulu (data sekunder). Analisa awal tentang gambaran kondisi dan karakteristik wilayah saat ini serta pemilihan kawasan potensial yang sesua untuk kegiatan usaha berdasarkan pola usahanya atau komoditas unggulan. Rencana kerja sebagai pedoman kerja di lapangan perlu disusun rencana kerja yang menyangkut rencana pengecekan lapangan dan pengumpulan data sekunder Pengecekan lapangan diarahkan pada lokasi kawasan yang terpilih dan mempunyai potensi bagi pengembangan unit permukiman transmigrasi yang direncanakan dengan pola usaha terpilih. Untuk yang menyangkut tata ruang kawasan perlu dibuat di atas peta topografi skala 1: 50.000.

b. Survey

Survey untuk Pengumpulan Data meliputi data primer dan sekunder.

Pengumpulan Data Sekunder:

Pengumpulan data data tentang sarana dan prasarana permukiman transmigrasi yang ada di NTT berupa laporan, peta, gambar, foto dan rencana teknis yang sudah ada. Pedoman kegiatan RTUPT ini yang bisa dipakai sebagai referensi kerja adalah:

- Undang Undang No. 29 Tahun 2009 tentang Perubahan atas UU Nomor 15 tahn 1997 tentang Ketransmigrasian.

- UU No.26 tahun 2007 tentang Penataan ruang

- PP Nomor 2 Tahun 1999 tentang Penyelenggaran Transmigrasi.

- PP No. 25 tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional

- RTRW Provinsi NTT dan RTRW Kabupaten yang masih berlaku/tahun terakhir.

- Bimtek Penyusunan RTSP Tahun 2012, Subdit PTP,Direktorat Perencanaan Teknis,Ditjen P2KTrans,Depnakertrans RI

- Pedoman teknis lainnya yang relevan dari instansi teknis lainnya.

Pengumpulan Data Primer Metode yang akan digunakan dalam penelitian potensi fisik wilayah akan berbentuk diskriptif analisis (penelitian survei) dimana dilakukan penginderaan secara sistematis dan faktual mengenai data-data dan karakteristik daerah tersebut. Variabel-variabel yang akan diamati meliputi : topografi, tata guna lahan, iklim, hidrologi, vegetasi /hutan, potensi lahan, struktur sosial ekonomi, budaya masyarakat setempat termasuk struktur penduduk dan sarana / prasarana yang ada dan yang perlu direhabilitasi atau dibangun baru.

- Karakteristik Fisik Lapangan :

Topografi. Data yang dikumpulkan dengan pengumpulan langsung di lapangan (data primer dan sekunder). Data kemiringan lahan / tanah akan diukur dengan alat teodolit, sedangkan luasnya langsung diukur dengan meteran atau berdasarkan hitungan dengan planimeter di atas peta berskala yang ada 1 : 50.000. Kondisi di sekitar dapat diteliti/ditelaah berdasarkan hasil pemetaan citra landsat dan sebagainya. Kemunkinan lahan yang direkomendasikan untuk permukiman 0-8% dan lahan usaha

8-25% sesuai dengan pola usahanya. Tata Guna Lahan. Daya tata guna lahan, kesesuaian lahan dan struktur kepemilikan lahan didapat dari data sekunder dari pemerintah daerah atau dinas-dinas terkait atau wawancara dengan Bappeda Tk. I, II, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Dinas Pertanian, Agraria, sedangkan data dari Dinas terkait seperti kelautan untuk pengembangan pola perikanan Iklim. Data primer yang akan dikumpulkan adalah data iklim makro yaitu curah hujan, suhu udara, kelembaban udara dan arah serta kecepatan angin. Selain data primer juga dikoleksi data sekunder bagi iklim makro dari laporan-laporan stasiun penangkap harian dan instansi terkait. Hidrologi. Data debit air permukaan akan diteliti dengan menggunakan metode pengukuran debit sungai dan saluran terbuka dengan pelampung perawatan. Tinggi muka air permukaan dan air tanah yang ada didaerah studi diperoleh dari pengecekan langsung disekitar sungai yang diperoleh dari dinas terkait seperti Dinas PU dan Bappeda setempat. Kehutanan ( Vegetasi ): Penelitian status lahan dan status hutan serta hal-hal yang perlu diamati meliputi: Status hutan: (1) Status Hukum, Penguasaan dan kepemilikan tanah; (2) Penggunaan lahan suatu kawasan; (3) Penentuan batas blok yang akan direkomendasikan untuk calon areal transmigrasi; (4) Pemasangan BM (Bench Mark) sehingga titik kontrol horisontal dan vertikal pemasangan BMR (Bensch Mark Terekomendasi) sebagai batas areal yang direkomendasikan untuk calon lokasi transmigrasi; (5) Perhitungan koordinat dan penggambaran blok-blok kepemilikan lahan dan penyerahan lahan; (6) Pembuatan berita acara di lapangan; (7) Pembuatan peta penggunaan lahan dan status hutan pada skala 1:20.000 berdasarkan rotasi data sekunder dan pengamatan lapangan serta penyelidikan setempat untuk menentukan ketersediaan lahan yang memperhatikan arahan rencana penggunaan lahan berdasarkan RSTRP/RUTRD, khususnya pada kawasan budidaya dan hirarki sistem pusat.

- Struktur Sosial Budaya Ekonomi dan Kependudukan

Studi sosio ekonomi dan pertanian untuk mengetahui kegiatan penduduk setempat dalam hubungan dengan produksi pertanian dan usulan pertanian serta usulan pengembangan dari masyarakat setempat, pemasaran hasil pertanian dan pembinaan. Komoditas yang diusulkan merupakan spesifik dari tiap-tiap kawasan. Studi sosial budaya untuk mengetahui: (1) Aspirasi budaya masyarakat yang ada dan yang diinginkan, (2) Aspek kelembagaan masyarakat yang ada dan yang diinginkan, (3) Persepsi masyarakat dan harapan terhadap program transmigrasi, (4) Alokasi kepemilikan lahan (spesifik tiap kawasan), (5) Interaksi sosial budaya yang diharapakan. Usulan pengembangan kegiatan usaha pertanian disesuaikan dengan spesifik hasil pertanian setiap kawasan Studi kependudukan dilakukan untuk mengetahui : (1) Jumlah penduduk dan pertambahan penduduk, (2) Jumlah penduduk setempat dan penduduk pendatang, (3) Komposisi penduduk berdasarkan usia produktif.

Pengumpulan data/ informasi sesuai dengan peruntukannya:

Data kesesuaian lahan Data topografi Data sosial budaya/ statistik Data ekonomi

Data iklim/curah hujan

Data hidrologi

Data kehutanan / vegetasi

Data laboratorium (air, tanah) Data-data tersebut harus dituang dalam peta sehingga kemudian dapat dianalisa bagi kegiatan penyusunan rencana tata ruang permukiman. Kegiatan analisa data tersebut bagi perencana untuk menentukan pola permukiman bagi kegiatan usaha yang direkomendasikan

c.

Analisis Lingkup Kajian

- Kajian Fisik Lahan, meliputi :

Topografi : Survey topografi bertujuan untuk menentukan potensi calon lokasi sekaligus memperoleh informasi land use existing dan kemiringan lahan. Metode yang dilakukan dalam pengukuran topografi selain pengukuran lapangan perlu didukung dengan wawancara dengan penduduk setempat dan data instansional o Tanah: Penelitian dan kesesuaian lahan yang dimaksudkan untuk evaluasi sumber daya lahan yang digunakan untuk menentukan berbagai jenis kesesuaian pengembangan pertanian, peternakan, perkebunan dan perikanan dengan klasifikasi tanah menggunakan terminology PPT 1993 untuk klasifikasi tanah / jenis tanah dan kesuburan tanah serta petunjuk pelaksanaan lainnya yang berlaku.

o

o

Hidrologi: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi iklim, ketersediaan sumber air (air minum dan air pertanian) kualitas air serta resiko banjir.

o

Vegetasi / Hutan: Survei ini bertujuan untuk mendapatkan informasi awal tentang jenis vegetasi / hutan , luasan dan sebaranyan dalam lokasi.

o

Lingkungan: Kajian lingkungan bertujuan mempertimbangkan daya dukung lingkungan terhadap dampak-dampak penting yang mungkin timbul jika lokasi dikembangkan sebagai permukiman transmigrasi, kajian lingkungan meliputi aspek fisik, sosial budaya dan ekonomi yang diharapkan menjadi usulan rekomendasi kelayakan lokasi tersebut.

- Kajian Sosial Budaya. Kajian sosial Budaya penekanan penelitian digunakan metode PRA (Participatory Rural Appraisal).Tujuan utama PRA adalah memberdayakan masyarakat (Community Empowerment) melalui antara lain program program yang melibatkan masyarakat secara penuh (full involment) mulai dari penyusunan program sampai dengan implementasi (mulai dari perencanaan sampai dengan pembangunan serta pemberdayaannya). Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain :

Metode PRA mengikutsertakan partisipasi penuh dari masyarakat Memperhatikan faktor-faktor sosial ekonomi dan budaya yang akan meningkatkan hasil yang diperoleh. Mendorong saling pengertian antar pihak yang terlibat dalam proses pelaksanaan PRA PRA menggunakan kerangka pikir yang Holistik Meningkatkan komunikasi antar masyarakat dengan penyelenggara pembangunan (PEMDA dan Pemerintah Pusat).

- Kajian Terhadap Azas Sosial Yang beremansipasi, Antara lain :

Pemerataan Pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat khususnya pangan, sandang dan perumahan (tempat tinggal/panggil). Pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan Pemerataan pembagian pendapatan Pemerataan kesempatan kerja Pemerataan kesempatan berusaha

Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan, khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita Pemerataan pembangunan Pemerataan kesempatan memperoleh keadilan

Model Analisis

- Kesesuaian lahan. Untuk pengembangan pola usaha dianalisis berdasarkan fisik lahan dan lingkungan yang telah disebutkan terutama topografi tanah, iklim,hiodrologi dan sebagainya, maka menentukan apakah suatu kawasan sesuai atau tidak untuk tipe peruntukan lahan pola permukiman transmigrasi dengan usulan pokoknya.

- Analisis Sosial Budaya. Meliputi mata pencaharian, adat istiadat, struktur penduduk, pendidikan, ketersediaan sumber daya manusia yang berperan aktif.

- Analisis Ekonomi. Analisis ekonomi untuk mengkaji kelayakan pengembangan permukiman transmigrasi ditinjau dari sudut pandang layak huni, layak usaha, layak berkembang dan layak lingkungan yang meliputi: (1) Analisis pendapatan transmigrasi baik dengan usaha pokok maupun dari luar usaha pokok, (2) Analisis pengeluaran transmigran baik dari usaha pokok maupun dari luar usaha pokok, (3) Analisis pemasaran hasil usaha pokok, (4) Analisis pendapatan hasil para transmigran, (5) Analisis anggaran pengembalian kredit (bila ada hubungannya dengan investor).

- Analisis Tata Ruang. Faktor yang diamati dalam analisis tata ruang adalah: (1) Penentuan kawasan yang potensial bagi pengembangan pola usaha dan pola permukiman berdasarkan karakteristik fisik dan strategi pembangunan, (2) Menentukan struktur ruang pola permukiman transmigrasi beserta komponen- komponen yang menunjang, (3) Menentukan kelengkapan sarana dan prasarana serta model unit permukiman dan daya tampung/besaran ruangnya, (4) Menentukan pola usaha yang potensi untuk dikembangkan dalam kawasan permukiman transmigrasi

- Kebijaksanaan Pengembangan Daerah. Faktor yang ditelaah adalah sebagai berikut: (a) Rencana pembangunan daerah, (b) Arah, pola dan prioritas pembangunan daerah. Data ini kemudian dinalisis dengan metode analisis isi (Content Analysis). Apabila dalam kegiatan RTUPT ini dalam kawasan tersebut sudah ada perencanaan teknis secara makro (seperti RTRW, RWPT, RTPKT) maka ada beberapa kajian yang tidak perlu dilakukan cukup dengan mempertimbangkan kajian yang lalu berupa :

Kajian aspek regional konteks Kajian potensi lahan lokasi / kawasan sekitarnya Kajian kebutuhan pengembangan sarana dan prasarana di luar kawasan Kajian potensi komoditi unggulan Kajian gambaran struktur sosial budaya di dalam kawasan Kebijakan peruntukan dan pengembangan kawasan tersebut Kebijakan program lintas sektor pada kawasan/lokasi Model atau pola unit permukiman transmigrasi dengan pola usahanya yang terekomendasi, ditentukan dengan analisis daya dukung dan kelayakan atau analisis isi (Content Analysis). Dalam hal ini keeratan sifat masing-masing daerah yang mempunyai potensi sebagai daerah yang dapat dikembangkan akan dianalisis dengan matrik dan analisis pengelompokan. Dari analisis ini diketahui desa/daerah yang mempunyai persamaan tinggi dalam usaha pokoknya dalam bentuk kombinasi, antara lain: Pola usaha perkebunan + nelayan + tanaman pangan, Pola usaha tambak + nelayan + peternakan, Pola usaha perkebunan + ternak, dan atau Pola usaha industri + nelayan. Kombinasi pola usaha ini dan alokasi peruntukan lahan bagi transmigrasi disesuaikan dengan kebijaksanaan daerah dan aspirasi masyarakat setempat.

d. Asistensi Asistensi dilakukan oleh tim yang dibentuk oleh pemilik kegiatan melalui bidang PKT sebagai pengelola teknis terkait. Asistensi dilakukan pada saat penyerahan Laporan Pendahuluan dan hasil analisis kegiatan sebelum disempurnakan dalam Draft Laporan Akhir. Disamping itu akan dilakukan presentasi di lokasi kegiatan (kabupaten) untuk menampung aspirasi dan penyempurnaan laporan akhir. Pada bagian akhir akan dilakukan pemaparan / Ekspose di Dirjen P2K Trans Jakarta oleh Dinas Nakertrans Kabupaten dan Konsultan.

e. Penyusunan Berupa dokumen kegiatan disain teknis sesuai materi dan format pelaporan yang disyaratkan berupa sebuah rekomendasi RTSP. Lokasi transmigrasi yang merekomendasikan harus memenuhi kriteria layak huni, layak usaha, layak berkembang, layak lingkungan dan persyaratan-persyaratan teknis / non teknis lainnya yang dapat mendukung pelaksanaan pembangunan

7. Hasil Kegiatan

Hasil

kegiatan

berupa

Dokumen

Inventarisasi

dan

Identifikasi

dan

disain

teknis

Sarana

Prasarana dengan materi dan bentuk/format laporan sebagai berikut :

a. Materi Dokumen

Materi dokumen yang perlu disiapkan adalah sebagai berikut:

Perencanaan tata ruang makro Rekomendasi tata ruang permukiman UPT Rencana kebutuhan sarana dan prasarana beserta RAB. Rekomendasi usaha ekonomi atau usaha tani (secara makro) Peluang investasi (secara makro)

b. Format Pelaporan Laporan Pendahuluan (Inception Report) Berisikan Rencana kerja / kegiatan yang memuat latar belakang, tujuan-sasaran, ruang lingkup, metodologi kegiatan, gambaran kegiatan perencanaan dan desain teknis, organisasi pelaksana dan jadwal kegiatan. Laporan pendahuluan dibuat dalam 5 (lima) rangkap.

Laporan Antara (Interim Report) Penyusunan Interim Report atau laporan hasil survei lapangan dilakukan oleh tenaga ahli/pelaksana, untuk mendapatkan persetujuan masyarakat tentang model permukiman yang terpilih. Data-data sosial budaya, ekonomi dan data-data fisik harus didokumentasikan termasuk surat-surat pernyataan warga masyarakat dan kebijakan pemerintah terhadap pembangunan transmigrasi. Laporan antara ini dibuat dalam 7 (tujuh) rangkap.

Laporan Akhir Sementara (Draft Final Report) Penyusunan laporan akhir sementara pada dasarnya adalah merumuskan hasil perencanaan RTSP meliputi: kelayakan permukiman, kelayakan usaha, kelayakan berkembang dan kelayakan lingkungan. Laporan antara ini dibuat dalam 7 (tujuh) rangkap.

- Usulan dan arahan pengembangan pertanian

- Jumlah daya tampung yang optimal

- Model permukiman yang direkomendasikan berdasarkan kesepakatan masyarakat dan analisa kesesuaian lahan.

- Informasi terhadap jaringan jalan yang ada dalam wilayah administratif desa/kecamatan yang menunjang terhadap pusat pertumbuhan ekonomi.

- Menampung keinginan masyarakat dan kebutuhan masyarakat berkaitan dengan ketersediaan lahan dan dana.

- Usulan kebutuhan sarana dan prasarana, sosial budaya masyarakat dan sosial ekonomi masyarakat.

- Laboratorium : air dan tanah

- Rekomendasi ketersediaan dan kualitas air minum dan kebutuhan untuk kegiatan usaha.

- Usulan rekomendasi kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan usaha ekonomi.

Laporan Akhir (Final Report) Laporan ini sudah merupakan hasil diskusi dan penyempurnaan / perbaikan laporan dan sudah mendapat persetujuan dari tim evaluasi untuk digandakan melalui proses asistensi oleh masing-masing tenaga ahli.

Pilok (Paket Informasi Lokasi) Berisikan uraian secara makro hasil kegiatan RTSP dan RTJ yang dilengkapi 6 buah peta format A3.

RAB dan Spesifikasi Teknis Laporan ini juga perlu dilampirkan dengan Rencana Anggaran Biaya setiap sarana dan prasarana dan spesifikjasi teknisnya. RAB dan spesifikasi teknis ini dapat dilampirkan dalam Laporan Akhir atau dibuat terpisah dari dukumen Laporan Akhir.

Album Peta Gambar Berisikan peta dan gambar seperti:

- Peta Peta orientasi, peta topografi dan kemiringan lahan, peta kondisi eksisting lahan, peta penggunaan lahan, peta satuan lahan, peta sumber air, peta rencana tata ruang UPT, peta batas pembukaan lahan dan peta rencana pengembangan kawasan UPT dan daerah sekitarnya. Jumlah peta sebanyak 21 buah sesuai standar dengan format kertas A0.

- Gambar Desain Gambar site plan, denah dan tampak dari sarana dan prasarana UPT, gambar rencana teknis jalan dan gambar lainnya yang diperlukan disertai RAB dan spesifikasi teknisnya.

Soft Dokumen Laporan dan gambar dibuat dalam file file yang dimasukkan dalam CD yang berisikan laporan pendahuluan, antara, akhir sementara dan laporan akhir beserta album gambarnya. Soft Dokumen ini dibuat sebanyak 5 buah.

8. Waktu Pelaksanaan Waktu pelaksanaan kegiatan Penyusunan RTSP Calon Lokasi Unit Permukiman Transmigrasi adalah 3 (tiga) bulan.

9. Organisasi Pelaksana

Pelaksana

kebutuhan tenaga ahli

1. Ahli Perencana Wilayah (S1/S2 Planologi) sebagai team leader S2 pengalaman minimal 3 tahun dan atau S1 pengalaman minimal 5 tahun

2. Ahli Tanah (S1 Pertanian Ilmu Tanah minimal 3 tahun pengalaman)

3. Ahli Teknik Sipil (S1 Teknik Sipil minimal 3 tahun pengalaman)

4. Ahli Hidrologi (S1 Geologi/Agrometeorologi /Geografi minimal 3 tahun pengalaman)

5. Ahli Geodesi (S1 Geodesi minimal 3 tahun pengalaman )

6. Ahli Kehutanan (S1 Kehutanan minimal 3 tahun pengalaman)

7. Ahli Sosial Ekonomi Pertanian (S1 Sosial Ekonomi Pertanian minimal 3 tahun pengalaman )

8. Surveyor

9. Juru gambar

kegiatan

adalah

pihak

ketiga

(konsultan

perencana)

dengan

kualifikasi

terdiri dari :

Salah satu tenaga ahli diatas harus mempunyai sertifikat AMDAL minimal A untuk melakukan telahaan lingkungan.

(Bahan Bimtek RTSP 2012, Subdit PTP, Direktorat Perencanaan Teknis,Ditjen P2KTrans)

10. Pembiayaan Jumlah dana yang dibutuhkan untuk Kegiatan RTSP sebesar Rp 190.500.000,- (Seratus sembilan puluh juta lima ratus ribu rupiah).

11. Penutup Demikian Kerangka Acuan Kegiatan RTSP ini dibuat sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan perencanaan pembangunan ketransmigrasian di Kabupaten Sabu Raijua.

Mengetahui:

Kepala Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab. Sabu Raijua

TTD

Septenius M. Bule Logo, SH.,MHum NIP. 196909041989031006

Sabu, 04 Januari 2014

Kepala Bidang Transmigrasi dan Penanganan Kemiskinan

TTD

Dagerlin N. Lay Rihi, SKM NIP. 196911131989031002