Anda di halaman 1dari 7

4.

1 ANALISIS KELEMBAGAAN DAN PERAN SERTA MASYARAKAT


4.8.1. Analisis Kebutuhan Kelembagaan Penataan Ruang
Permasalahan penataan ruang bukanlah permasalahan yang bisa diatasi oleh satu pihak
saja. Penataan ruang akan terlaksana dengan baik dengan kerjasama dan koordinasi yang
intensif dari berbagai instansi terkait. Terkait dengan penataan ruang ini, lembaga-lembaga
pemerintah yang memiliki wewenang mengawasi dan sebagai tim pengendali pemanfaatan
ruang seringkali masih mengalami kendala-kendala dalam melaksanakan tugasnya.
Permasalahan kelembagaan yang sering dihadapi sekarang ini antara lain kurangnya
koordinasi antarlembaga pemerintah, kurangnya pengawasan pada tingkat pelaksanaan
dan juga masih terbatasnya personil sebagai pelaksana di lapangan.
Pelaksanaan kegiatan penyusunan Rencana Rinci (RDTR) SPPK Sumurpanggang dalam
mekanisme pengelolaan tata ruang Kota Tegal perlu didukung oleh aspek kelembagaan di
daerah yang berfungsi sebagai badan koordinasi.
Selain itu, dalam kegiatan perencanaan terdapat tiga elemen dasar yang mencakup
perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian yang masing-masing membutuhkan lembaga
yang mengkoordinasikan/ bertanggung jawab.
Kelembagaan penataan ruang diharapkan mampu berfungsi sebagai wadah media
komunikasi antar stakeholder terkait untuk mengatasi masalah keruangan yang ada di
wilayah perencanaan. Adapun kebutuhan pengembangan kelembagaan penataan ruang
dalam tiga aspek diatas sebagai berikut:
a. Lembaga Perencanaan
Kegiatan perencanaan ruang secara umum meliputi tahapan persiapan penyusunan
materi tata ruang, tahapan penyusunan materi tata ruang, tahapan penetapan dan
pengesahan materi tata ruang yang telah tersusun sebagai peraturan daerah dalam
kegiatan pemanfaatan ruang serta sosialisasi rencana tata ruang kepada pihak-pihak
lainnya yang terkait dengan proses penataan ruang. Wilayah Kota Tegal yang memiliki
tanggung jawab dalam tahapan perencanaan tata ruang terutama yaitu Dinas
Permukiman dan Tata Ruang Kota Tegal.
b. Lembaga Pemanfaatan Ruang
Kegiatan pemanfaatan ruang pada dasarnya meliputi kegiatan pengoperasionalisasian
rencana tata ruang oleh dinas/instansi terkait serta pelaksanaan teknis lainnya. Kegiatan
pemanfaatan ruang dilakukan oleh seluruh pengguna ruang, baik dinas/instansi
pemerintah maupun pihak swasta/masyarakat luas. Sehingga, dalam hal ini seluruh
lapisan masyarakat memiliki tanggung jawab atas kegiatan pemanfaatan ruang.
c. Lembaga Pengendalian Pelaksanaan Rencana Tata Ruang
Kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang meliputi kegiatan koordinasi, pengawasan,
dan penertiban. Badan yang bertugas sebagai pengendali adalah Badan Koordinasi
Penataan Ruang Daerah (BKPRD), yaitu lembaga yang secara hukum memiliki
kewenangan dalam mengarahkan penggunaan ruang di daerah. Alat yang digunakan
oleh lembaga ini adalah rencana tata ruang yang telah diperdakan dengan berbagai
tingkat kedalaman rencana (RTRW-RDTRK-RTBL).
Koordinasi
Kegiatan koordinasi ditujukan untuk menghindari terjadinya konflik yang mungkin
timbul di antara para pengguna ruang dalam proses pemanfaatan ruang. Lembaga
yang berperan sebagai lembaga koordinasi kegiatan penataan ruang adalah BKPRD
yang dibentuk dari beberapa instansi di tingkat Kota Tegal.
Pengawasan
Kegiatan pengawasan merupakan bentuk kegiatan yang dilakukan untuk
menemukenali dan memperbaiki permasalahan yang ditemui dalam kegiatan
pemanfaatan ruang, menyediakan informasi tentang perkembangan situasi yang
terjadi dalam proses pemanfaatan ruang serta melakukan kegiatan evaluasi yang
dimaksudkan untuk menghasilkan umpan balik dalam rangka penyempurnaan
kegiatan penataan ruang yang sedang berjalan maupun sebagai masukan bagi
penyempurnaan rencana tata ruang.
Lembaga yang berperan dalam kegiatan pengawasan terutama juga dilaksanakan
oleh BKPRD. Selain itu, masyarakat dalam hal ini juga sangat diharapkan dapat
berperan aktif dalam mengawasi pelaksanaan tata ruang wilayah.
Penertiban
Kegiatan penertiban dimaksudkan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya
penyimpangan terhadap rencana tata ruang dalam proses pemanfaatan ruang.

Gambar 4.1
Diagram Kebutuhan Lembaga Penataan Ruang di Kota Tegal


Kegiatan koordinasi pengelolaan tata ruang dan mekanisme dalam penataan ruang di Kota
Tegal saat ini telah dilakukan oleh BKPRD Kota Tegal dengan Walikota dan wakil Walikota
Tegal sebagai penanggung jawab. BKPRD Kota Tegal terdiri atas 4 unsur dengan susunan
keanggotaan sebagai berikut:
1. Tim Koordinasi Kota, diketuai Sekretaris Daerah (SekDa) Kota Tegal
2. Sekretariat BKPRD, diketuai Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota
Tegal
3. Kelompok Kerja Perencanaan Tata Ruang, diketuai oleh Kepala Bidang Prasarana
Wilayah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kota Tegal
4. Kelompok Kerja Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang, diketuai Kepala
Bidang Penataan Ruang Dinas Permukiman dan Tata Ruang Kota Tegal
BKPRD ini juga beranggotakan dinas-dinas teknis lain yang ada di wilayah pemerintahan
Kota Tegal. Selain lembaga-lembaga dalam Pemerintahan Daerah Kota Tegal, terkait adanya
otonomi daerah, maka keterlibatan masyarakat baik dalam tingkat kecamatan maupun
desa juga memiliki peran penting dalam perencanaan pembangunan. Adapun lembaga-
lembaga tersebut antara lain tokoh masyarakat (toma), LKMD, PKK, RW, RT, karang taruna,
LSM, dan lembaga sosial lainnya yang terdapat dalam masyarakat SPPK Sumurpanggang.
Adanya lembaga-lembaga tersebut dapat menciptakan adanya kesinambungan antara
Ya
T
i
d
a
k

BKPRD
Konteks Masalah
Keruangan
Lembaga Stakeholder Terkait
(Pem, masy., swasta)
Diskusi
Mediasi
Sosialisasi
Program
Keruangan
Indikator Kinerja
(Output dan Outcome)
Pemanfaatan
Ruang Sesuai
Rencana?
End

RTRW
RDTRK
RTRK/RTBL
Perencanaan Pemanfaatan Pengendalian
Pelaksanaan
Program
pemerintah kota dan pemerintah daerah di kecamatan maupun kelurahan-kelurahan yang
bersangkutan.

4.8.2. Analisis Peran Serta Masyarakat
Selain pemerintah dan pihak ketiga, suatu perencanaan tata ruang juga harus melibatkan
masyarakat dan unsur-unsur di dalamnya. Masyarakat dalam hal ini berperan sebagai pihak
yang terkena dampak langsung dari perencanaan tersebut. Peran masyarakat sendiri dalam
penataan ruang berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 2010 Tentang Peran Serta
Masyarakat dilakukan pada tahap perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang.
a. Bentuk Peran masyarakat dalam perencanaan tata ruang berupa:
Masukan mengenai:
1. Persiapan penyusunan rencana tata ruang
2. Penentuan arah pengembangan wilayah atau kawasan
3. Pengidentifikasian potensi dan masalah pembangunan wilayah atau kawasan
4. Perumusan konsepsi rencana tata ruang; dan/atau
5. Penetapan rencana tata ruang
Kerjasama dengan pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau sesama unsur
masyarakat dalam perencanaan tata ruang.
b. Bentuk peran masyarakat dalam pemanfaatan ruang dapat berupa:
masukan mengenai kebijakan pemanfaatan ruang;
kerja sama dengan Pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau sesama unsur
masyarakat dalam pemanfaatan ruang;
kegiatan memanfaatkan ruang yang sesuai dengan kearifan lokal dan rencana tata
ruang yang telah ditetapkan;
peningkatan efisiensi, efektivitas, dan keserasian dalam pemanfaatan ruang darat,
ruang laut, ruang udara, dan ruang di dalam bumi dengan memperhatikan kearifan
lokal serta sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
kegiatan menjaga kepentingan pertahanan dan keamanan serta memelihara dan
meningkatkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan sumber daya alam; dan
kegiatan investasi dalam pemanfaatan ruang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
c. Bentuk peran masyarakat dalam pengendalian pemanfaatan ruang dapat berupa:
masukan terkait arahan dan/atau peraturan zonasi, perizinan, pemberian insentif dan
disinsentif serta pengenaan sanksi;
keikutsertaan dalam memantau dan mengawasi pelaksanaan rencana tata ruang
yang telah ditetapkan;
pelaporan kepada instansi dan/atau pejabat yang berwenang dalam hal menemukan
dugaan penyimpangan atau pelanggaran kegiatan pemanfaatan ruang yang
melanggar rencana tata ruang yang telah ditetapkan; dan
pengajuan keberatan terhadap keputusan pejabat yang berwenang terhadap
pembangunan yang dianggap tidak sesuai dengan rencana tata ruang.
Pada perencanaan Rencana Rinci Tata Ruang (RDTR) SPPK Sumurpanggang, pelibatan
masyarakat telah dilakukan mulai dari awal penyusunan materi perencanaan, identifikasi
potensi dan permasalahan kawasan sampai pada penyusunan rencana pola ruang.
Masyarakat dapat secara langsung memberikan masukan dan kritik terhadap perencanaan
kawasan. Kegiatan pelibatan masyarakat ini akan dapat dilihat secara langsung melalui
Forum Group Discussion (FGD) yang dilakukan sebelum penyusunan materi laporan antara
dan perumusan kebijakan. Masukan-masukan ini kemudian menjadi bahan kajian dan
menjadi pertimbangan dalam penyusunan rencana. Forum Group Discussion (FGD)
penyusunan RDTR SPPK Sumurpanggang dilaksanakan pada tanggal 26 Juni 2013 di Kantor
Kecamatan Margadana. Berikut ini merupakan dokumentasi FGD di SPPK Sumurpanggang:

Gambar 4.2
FGD Penyusunan RDTR SPPK Sumurpanggang

Sumber : Dokumentasi Penyusun, 2013

4.2 ANALISIS PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
Kegiatan pembangunan harus dilaksanakan secara merata melalui kerjasama dari seluruh
tingkat pemerintahan pusat sampai dengan pemerintah daerah dengan cara yang Iebih
terpadu, efisien, efektif serta memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi seluruh
masyarakat. Sumber pembiayaan pembangunan SPPK Sumurpanggang berasal dari
Pemerintah Pusat (APBN), Pemerintah Provinsi (APBD Proinsi Jawa Tengah), Pemerintah
Kota Tegal (APBD), dan pendapatan daerah Kecamatan Margadana sendiri. Selain itu juga
dapat berupa sumber-sumber pendapatan lain yang bersifat sah seperti bantuan pihak
swasta dalam pembangunannya.
Berdasarkan pendapatan daerah Kota Tegal Tahun 2011, dapat dilihat bahwasanya sumber
pendapatan daerah terbesar berasal dari dana perimbangan, yaitu dari hasil bagi pajak dan
bukan pajak, dana alokasi umum (DAU), dan dana alokasi khusus (DAK). Berikut persentase
pendapatan daerah Kota Tegal:

Gambar 4.3
Persentase Sumber Pendapatan Daerah Kota Tegal Tahun 2011

Sumber : Hasil Analisis, 2013
Sumber pendapatan Kota Tegal ini dimanfaatkan untuk kegiatan pembiayaan
pembangunan (belanja daerah) di seluruh wilayah Kota Tegal termasuk Kecamatan
Margadana. Pendapatan daerah Kota Tegal dengan pengeluaran belanja daerah apabila
dikalkulasi pada akhir tahun 2011 mengalami defisit, namun penerimaan pada tahun
tersebut diperoleh juga dari silpa (sisa tahun lalu) sehingga penerimaan daerah masih
memiliki sisa setelah digunakan untuk realisasi belanja daerah.
SPPK Sumurpanggang sendiri merupakan kecamatan yang wilayahnya memiliki fasilitas-
fasilitas yang tidak hanya ditujukan untuk kepentingan daerah saja, melainkan propinsi dan
nasional. Oleh karena itu, pembangunan pada SPPK Sumurpanggang sendiri tidak hanya
dibiayai oleh pendapatan Kecamatan Margadana sendiri. Kecamatan Margadana sebagai
bagian dari Kota Tegal tidak bisa lepas dari pemerintahan di atasnya. Beberapa fasilitas di
SPPK Sumurpanggang yang dikelola menggunakan pembiayaan pemerintah kota, propinsi
maupun pusat adalah:

Tabel IV.1
Sumber-sumber Pendanaan Pembangunan Fasilitas di SPPK Sumurpanggang
Fasilitas Sumber Pendanaan
Jalan
Jalan Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo Dr
Wahidin
APBN
Pintu Air
Pintu Air MD I APBD Provinsi (PSDA)
Pintu Air MD II APBD Provinsi (PSDA)
CRMD APBD Provinsi (PSDA)
Pintu Air K. Blabad APBD Kota
Pintu Air Sumurpanggang Kali Kemiri APBD Provinsi (PSDA)
Pintu Air Cabawan APBD Kota
Pintu Air S.i.2 S.i.5 APBD Provinsi (PSDA)
Pintu Air Bokong Semar APBD Kota
Pintu Air Kaligangsa APBD Kota
Pintu Air Folder APBD Kota
Pintu Air Kaligangsa sebelah selatan APBD Provinsi (PSDA)
Sumber : Kumpulan Data, 2013

Pengembangan prasarana-prasarana lain juga dapat dilakukan melalui mekanisme
kerjasama antara pemerintah dengan swasta dalam pembangunanannya, khususnya untuk
pengembangan sarana prasarana lingkungan. Hal ini dikarenakan nilainya yang cukup besar
dan memiliki nilai sosial yang cukup tinggi, sehingga donatur-donatur dapat menjadi salah
satu sumber penting melalui kerjasama dengan masyarakat juga sebagai subjek dan obyek
pembangunan.