Anda di halaman 1dari 11

1

LAPORAN PENDAHULUAN
APPENDICITIS









DISUSUN OLEH :
ANITASARI SETYANINGSIH
J230 135 066




PROGRAM PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2014
2

LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN PENDAHULUAN
APPENDICITIS


Di susun oleh :
ANITASARI SETYANINGSIH
J 230 135 066





Telah di setujui pembimbing Akademik dan pembimbing Klinik dalam memenuhi tugas
praktik klinik Stase Keperawatan Gawat Darurat



Telah di setujui oleh :



Pembimbing Akademik



(Arif Wahyudi Jatmiko, S. Kep., Ns)

Pembimbing Klinik



( )


3

LAPORAN PENDAHULUAN
APPENDICITIS

A. Pengertian
Appendicitis adalah inflamasi akut pada appendiks verniformis dan
merupakan penyebab paling umum untuk bedah abdomen darurat (Brunner
& Suddart, 2008). Appendicitis adalah peradangan dari appendiks vermiforis
dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering (Arif Mansjoer,
2005). Appendicitis adalah inflamasi dari apendiks yang disebabkan oleh
karena obstruksi lumen usus karena infeksi, masa fecal, benda asing atau
tumor.
Appendicitis merupakan peradangan pada apendik periformis,
apendik periformis merupakan saluran kecil dengan diameter kurang lebih
sebesar pensil dengan panjang 2-6 inci. Lokasi apendik pada daerah illiaka
kanan, di bawah katup iliacecal, tepatnya pada dinding abdomen di bawah
titik Mc Burney.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan Appendicitis adalah
apendiks terinflamasi dengan sebab suatu peradangan pada apendiks
verivormis yang menyerupai jari, melekat pada sekum tepat dibawah
ileosekal yang mungkin timbul setelah obstruksi oleh tinja, atau akibat
terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahnya.

B. Etiologi
Penyebab utama adalah penyumbatan/ obstruksi lendir yang disebabkan
oleh :
1. Hiperplasi folikal limfoid
2. Fecal dalam lumen appendiks
3. Benda asing, tumor cacing, infeksi virus
4. Striktura karena fibrosis pada dinding usus
5. Ulserasi pada mukosa
6. Obstruksi pada colon oleh fecalit (feses yang keras)
7. Pemberian barium
8. Berbagai macam penyakit cacing
9. Tumor, hiperplasia folikel limfoid
Berbagai hal berperan sebagai faktor pencetusnya, sumbatan lumen
appendiks merupakan faktor yang diajukan sebagai pencetus disamping
hiperplasia jaringan limfa, fekalith, tumor appendiks dan cacing ascaris.
4

Penyebab lain adalah erosi mukosa appendiks karena parasit seperti E
histolica, kebiasaan makan-makanan rendah serat.

C. Patofisiologi
Appendicitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen
appendiks oleh hyperplasia lymphoid, fekalit, benda asing, atau neoplasma.
Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang diproduksi mukosa sehingga
mengalami bendungan. Makin lama mucus tersebut makin banyak, namun
elastisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga
menyebabkan peningkatan tekanan intralumen. Tekanan yang meningkat
tersebut akan menghambat aliran limfe yang mengakibatkan edema,
diapedis bakteri dan ulserasi mukosa. Pada saat inilah terjadi appendicitis
akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrum.
Bila sekresi mucus terus berlanjut, tekanan akan terus meningkat.
Hal ini akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah dan mengenai
peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri di daerah kanan bawah,
keadaan ini disebut dengan appendicitis supuratif akut. Bila kemudian aliran
arteri terganggu akan terjadi infark dinding appendicitis gangrenosa. Bila
dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi appendisitis perforasi. Bila
semua proses berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan
bergerak ke arah appendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut
infiltrasi appendikularis.

D. Tanda dan Gejala
Tanda dan Gejala dari appendicitis antara lain :
1. Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya demam ringan
2. Anoreksia (mual dan muntah) dan malaise
3. Nyeri tekan lokal pada titik Mc. Burney
4. Spasme otot
5. Konstipasi, diare (kadang-kadang)
6. Nyeri yang terlikalisir atau menyeluruh
7. Hipertermi
8. Pada palpasi dijumpai ketegangan pada Mc.Burney dan otot sekitarnya.
9. Peningkatan suhu tubuh dan takikardia.
10. Peningkatan jumlah sel nilai leukosit (leukositosis).
11. Nyeri difus yang timbul mendadak di daerah epigastrum atau
periumbilikus.
12. Demam.
5


E. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Penunjang yang dapat dilakukan antara lain :
1. Pemeriksaan leukosit diperoleh hasil : 10-18 ribu/mm (leukositosis)
2. Netrofil meningkat 75%
3. WBC yang meningkat sampai 20.000 mungkin indikasi terjadinya
perforasi (jumlah sel darah merah)
4. Radiologi : foto colon yang memungkinkan adanya fecalit (feses yang
mengeras) pada katup
5. Barium enema : appendiks terisi barium hanya sebagian
6. Urinalisis : normal, tetapi eritrosit atau leukosit mungkin ada
7. Foto abdomen : adanya pergeseran material appendiks (fekalis) ileus
terlokalisir
8. Tanda rovsing (+) : dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang
secara paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa di kuadran kanan
bawah
9. USG : bila telah terjadi infiltrat appendicitis

F. Penanganan Penatalaksanaan Pre dan Intra Hospital
1. Pre Operasi
a. Observasi
Dalam 8-12 jam setelah timbul keluhan, tanda dan gejala appendicitis
masih belum jelas, pasien dianjurkan tirah baring dan dipuasakan.
Lakukan pemeriksaan abdomen, darah (leukosit), foto abdomen dan
foto thorax tegak.
b. Intubasi bila diperlukan
c. Antibiotik
2. Operasi : Appendiktomy
3. Post Operasi
4. Observasi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan di
kolon, shock, hipertermia, gangguan pernapasan, pasien dipuasakan
sampai fungsi usus kembali normal, kemudian berikan 15 ml/jam selama
4-5 jam lalu naikkan 30 ml/jam, keesokan harinya diberikan makanan
secara sering dan berikutnya makanan lunak.

G. Pathway
(terlampir)

6

H. Asuhan Keperawatan Appendicitis
1. Pengkajian
a. Riwayat :
Data yang dikumpulkan perawat dari klien dengan kemungkinan
appendicitis meliputi : umur, jenis kelamin, riwayat pembedahan,
riwayat medik lainnya, pemberian barium baik lewat mulut atau
rektal, riwayat diit terutama makanan yang berserat.
b. Aktifitas atau istirahat : malaise
c. Sirkulasi : takikardi
d. Eliminasi :
1) Konstipasi pada awitan awal
2) Diare (kadang-kadang)
3) Distensi abdomen
4) Nyeri tekan atau lepas abdomen
5) Penurunan bising usus
e. Cairan atau makanan : anoreksia, mual dan muntah
f. Kenyamanan
Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus yang meningkat
berat dan terlokalisasi pada titik Mc. Burney meningkat karena
berjalan, bersin, batuk, atau napas dalam.
g. Keamanan : demam
h. Pernapasan :
1) Tachipnea
2) Pernapasan dangkal
i. Pengkajian Pre-OP
1) Data Subyektif :
a) Nyeri daerah pusar menjalar ke daerah perut kanan bawah
b) Mual, muntah, kembung
c) Tidak nafsu makan dan demam
d) Tungkai kanan tidak dapat diluruskan
e) Konstipasi atau diare
2) Data Obyektif
a) Nyeri tekan di titik Mc. Burney
b) Spasme otot
c) Takikardi, takipnea
d) Pucat dan gelisah
e) Bising usus berkurang atau tidak ada
f) Demam 38-38,5C
7

j. Pengkajian Post-OP
1) Data Subyektif
a) Nyeri daerah operasi
b) Lemas dan pusing
c) Haus
d) Mual, muntah dan kembung
e) Pusing
2) Data Obyektif
a) Terdapat luka operasi di kuadran kanan bawah abdomen
b) Terpasang infus
c) Terdapat drain atau pipa lambung
d) Bising usus berkurang atau tidak ada
e) Selaput mukosa mulut kering
k. Keluhan utama : nyeri pada perut kanan bagian bawah
l. Riwayat kesehatan sekarang : nyeri pada abdomen kuadran kanan
bawah, nyeri tekan local dan nyeri tekan lepas yang disertai dengan
demam ringan, mual muntah, anoreksia.
m. Riwayat kesehatan dahulu : kebiasaan makan, nutrisi inadekuat,
konsumsi biji-bijian kurang serat dan konstipasi.
n. Keadaan umum : kaki akan bergerak berhati-hati, takut nyeri bila
berbaring, kaki kanan akan sedikit ditekuk untuk mengurangi pada
daerah yang sakit, nyeri lepas pada sisu kiri.
o. Aktivitas/istirahat : malaise, bedrest, ROM terbatas, dan nyeri otot.
p. Fungsi gastrointestinal : mual muntah, anoreksia, diare atau
konstipasi, distensi abdomen, bising usus menurun, nyeri tekan local
bila dilakukan penekanan, nyeri tekan muscular setempat.
q. Sistem pernafasan : RR meningkat, takipnea, napas dangakal,
penggunaan obat-obatan.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan yang bisa muncul pada pasien appendicitis
antara lain :
a. Nyeri abdomen berhubungan dengan obstruksi dan peradangan atau
inflamasi appendiks.
b. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual,
muntah, anoreksia dan diare.
c. Kurang pengetahuan tentang prosedur pembedahan berhubungan
dengan keterbatasan paparan.
8

d. Resiko infeksi berhubungan dengan luka post pembedahan.

3. Intervensi Keperawatan
N
o
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
RENCANA TINDAKAN RASIONAL
1 Nyeri abdomen
berhubungan
dengan obstruksi
dan peradangan
apendiks.
Subyektif :
Nyeri daerah
pusar menjalar
kedaerah perut
kanan bawah.
Tungkai kanan
tidak dapat
diluruskan.

Obyektif :
Nyeritekan di
titikMc Burney.
Kaji tanda vital dan KU

Kaji keluhan nyeri,
karakteristik nyeri :
PQRST
Jelaskan penyebab rasa
sakit, cara mengurangi.

Beri posisi duduk untuk
mengurangi penyebaran
infeksi pada abdomen.
Ajarkan tehnik relaksasi
napas dalam.
Kompres espada daerah
sakit/abdomen.
Anjurkan klien untuk tidur
pada posisi nyaman
(miring dengan menekuk
lutut kanan).
Puasa makan minum
apabila akan dilakukan
tindakan.

Ciptakan lingkungan
yang tenang.
Pantau efek
terapeutikdan non
terapeutik dari pemberian
analgetik.
Untuk menentukan
tindakan selanjutnya
Untuk mengetahui
tingkat keparahan
nyeri
Untuk mengurangi
kecemasan pada
klien
Untuk mengurangi
penyebaran infeksi
pada abdomen
Untuk mengurangi
nyeri pada klien
Untuk mengurangi
nyeri pada klien
Untuk mengurangi
nyeri yang dirasakan
klien

Untuk
mengosongkan
kandung kemih dan
lambung klien
Untuk mengurangi
nyeri pada klien
Untuk mencegah
terjadinya komplikasi
pada klien
2 Resiko kekurangan
volume cairan
berhubungan
Observasi tanda vital
suhu, nadi, tekanan
darah, pernapasan tiap 4
Untuk menentukan
tindakan selanjutnya
yang akan dilakukan
9

dengan mual,
muntah, anoreksia
dan diare.
jam.
Observsi cairan yang
keluar dan yang masuk.

Jauhkan makanan/bau-
bauan yang merangsang
mual atau muntah.
Kolaborasi pemberian
infuse dan pipa lambung.

Untuk menjaga
keseimbangan cairan
pada klien
Untuk mencegah
terjadinya mual dan
muntah pada klien
Agar tidak terjadi
dehidrasi dan terjaga
keseimbangan cairan
3 Kurang
pengetahuan
tentang prosedur
persiapan dan
sesudah operasi
berhubungan
dengan kurang
terpaparnya
informasi
Subyektif
Klien / keluarga ber-
tanya tentang
prosedur persiapan
dan sesudah
operasi
Obyektif
Klien tidak
kooperatif terhadap
tindakan per-siapan
operasi.
Jelaskan prosedur
persiapan operasi.
Pemasanga ninfus.
Puasa makan & minum
sebelumnya 6 - 8 jam.
Cukur daerah operasi.
Jelaskan situasi dikamar
bedah.

Jelaskan aktivitas yang
perlu dilakukan setelah
operasi.
Latihan batuk efektif.
Mobilisasi dini secara
pasif dan aktif
bertahap.

Untuk menambah
pengetahuan klien
dan keluarga tentang
prosedur
pembedahan

Agar klien tidak
cemas selama di
kamar operasi
Untuk mencegah
terjadinya komplikasi
4 Resiko infeksi
berhubungan
dengan luka akibat
pembedahan
Pantau luka pembedahan
dari tanda-tanda
peradangan :demam,
kemerahan, bengkak dan
cairan yang keluar, warna
jumlah dan karakteristik.
Rawat luka secara steril.

Untuk mengetahui
apakah terjadi tanda-
tanda infeksi atau
tidak


Untuk mencegah
terjadinya infeksi
10



Beri makanan berkualitas
atau dukungan klien
untuk makan.

pada luka
pembedahan
Makan yang cukup
dan makanan yang
berkualitas akan
mempercepat proses
penyembuhan





















11


DAFTAR PUSTAKA
Carpenito,Lynda Juall. 2004. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.
Doengoes, M.E. 2006. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta :
EGC.
Doenges, Marilynn E. 2008. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta :
EGC.
Mansjoer, Arif dkk. 2005. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius.
Price, SA, Wilson, LM. 2005. Patofisiologi Proses-Proses Penyakit, Buku Pertama.
Edisi 4. Jakarta : EGC.
Rothrock,Jane C. 2006. Perencanaan Asuhan Keperawatan Perioperatif. EGC :
Jakarta.
Smeltzer Bare. 2007. Buku Ajar KeperawatanMedikalBedah.Brunner
&suddart.Edisi 8.Volume 2.Jakarta :EGC.