Anda di halaman 1dari 66

TINDAK PIDANA PERBANKAN

TINDAK PIDANA PERBANKAN MHD SUBHI SOLIH HSB 090200007 DEA ARUM AMELIA SARAH SYLVIANA FAUZUL ASYURA LUTHFI
TINDAK PIDANA PERBANKAN MHD SUBHI SOLIH HSB 090200007 DEA ARUM AMELIA SARAH SYLVIANA FAUZUL ASYURA LUTHFI

MHD SUBHI SOLIH HSB 090200007

DEA ARUM AMELIA

SARAH SYLVIANA

FAUZUL ASYURA LUTHFI FAUZI FAHMI

090200242

090200425

090200040

090200250

TINDAK PIDANA PERBANKAN

SEBAGAI BAGIAN DARI TINDAK PIDANA DI BIDANG EKONOMI

TINDAK PIDANA PERBANKAN SEBAGAI BAGIAN DARI TINDAK PIDANA DI BIDANG EKONOMI  WHITE COLLAR CRIME 
TINDAK PIDANA PERBANKAN SEBAGAI BAGIAN DARI TINDAK PIDANA DI BIDANG EKONOMI  WHITE COLLAR CRIME 
  • WHITE COLLAR CRIME

  • TINDAK PIDANA YANG MEMPUNYAI MOTIF EKONOMI DAN LAZIMNYA DILAKUKAN OLEH ORANG YANG MEMPUNYAI KEMAMPUAN INTELEKTUAL DAN MEMPUNYAI POSISI PENTING DALAM MASY. ATAU PEKERJAANNYA

TINDAK PIDANA PERBANKAN DALAM

UU PERBANKAN 7/1992 SEBAGAIMANA DIUBAH DENGAN UU 10/1998

TINDAK PIDANA PERBANKAN DALAM UU PERBANKAN 7/1992 SEBAGAIMANA DIUBAH DENGAN UU 10/1998 2 JENIS:  KEJAHATAN
TINDAK PIDANA PERBANKAN DALAM UU PERBANKAN 7/1992 SEBAGAIMANA DIUBAH DENGAN UU 10/1998 2 JENIS:  KEJAHATAN

2 JENIS:

  • KEJAHATAN

  • PELANGGARAN

APA PERBEDAANNYA?

APA PERBEDAANNYA? KEJAHATAN AKAN DIKENAKAN ANCAMAN HUKUMAN YANG LEBIH BERAT DIBANDINGKAN DENGAN PELANGGARAN
APA PERBEDAANNYA? KEJAHATAN AKAN DIKENAKAN ANCAMAN HUKUMAN YANG LEBIH BERAT DIBANDINGKAN DENGAN PELANGGARAN

KEJAHATAN AKAN DIKENAKAN ANCAMAN

HUKUMAN YANG

LEBIH BERAT

DIBANDINGKAN DENGAN

PELANGGARAN

TINDAK PIDANA PERBANKAN DALAM

UU PERBANKAN 7/1992 SEBAGAIMANA DIUBAH DENGAN UU 10/1998

TINDAK PIDANA PERBANKAN DALAM UU PERBANKAN 7/1992 SEBAGAIMANA DIUBAH DENGAN UU 10/1998 PASAL 51 AYAT (1):
TINDAK PIDANA PERBANKAN DALAM UU PERBANKAN 7/1992 SEBAGAIMANA DIUBAH DENGAN UU 10/1998 PASAL 51 AYAT (1):

PASAL 51 AYAT (1):

“TINDAK PIDANA SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL 46, 47, 48 (1), 49, PASAL 50, DAN PASAL 51 A ADALAH KEJAHATAN

PASAL 51 AYAT (2):

“TINDAK PIDANA SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL PASAL 48 AYAT (2) ADALAH PELANGGARAN

KEJAHATAN PERBANKAN

KEJAHATAN PERBANKAN  PASAL 46 (1): PENGHIMPUNAN DANA DARI MASYARAKAT DALAM BENTUK SIMPANAN TANPA IJIN USAHA
KEJAHATAN PERBANKAN  PASAL 46 (1): PENGHIMPUNAN DANA DARI MASYARAKAT DALAM BENTUK SIMPANAN TANPA IJIN USAHA
  • PASAL 46 (1): PENGHIMPUNAN DANA DARI MASYARAKAT DALAM BENTUK SIMPANAN TANPA IJIN USAHA DARI BI

  • PASAL 47: TERKAIT DENGAN RAHASIA BANK

  • PASAL 48: INFORMASI / LAPORAN KEUANGAN BANK (MEMBUAT, MEMALSUKAN, MENGHILANGKAN, MENGUBAH, MENGABURKAN, MENYEMBUNYIKAN DLL)

  • PASAL 49 (2): MEMINTA ATAU MENERIMA, MENGIZINKAN, MENYETUJUI IMBALAN, KOMISI, UANG TAMBAHAN, PELAYANAN DLL.

  • PASAL 50: PIHAK TERAFILIASI

PELANGGARAN PERBANKAN

PELANGGARAN PERBANKAN PASAL 48 (2): ANGGOTA DEWAN KOMISARIS, DIREKSI, PEGAWAI BANK YANG LALAI MEMBERIKAN KETERANGAN YANG
PELANGGARAN PERBANKAN PASAL 48 (2): ANGGOTA DEWAN KOMISARIS, DIREKSI, PEGAWAI BANK YANG LALAI MEMBERIKAN KETERANGAN YANG

PASAL 48 (2): ANGGOTA DEWAN KOMISARIS, DIREKSI, PEGAWAI BANK YANG LALAI MEMBERIKAN KETERANGAN YANG WAJIB DIPENUHI

SEBAGAIMANA DIMAKSUD… ” ..

TINDAK PIDANA PERBANKAN DI LUAR UU PERBANKAN

TINDAK PIDANA PERBANKAN DI LUAR UU PERBANKAN  KUHPIDANA BUKU II TENTANG KEJAHATAN DAN BUKU III
TINDAK PIDANA PERBANKAN DI LUAR UU PERBANKAN  KUHPIDANA BUKU II TENTANG KEJAHATAN DAN BUKU III
  • KUHPIDANA BUKU II TENTANG KEJAHATAN DAN BUKU III TENTANG PELANGGARAN

  • UU 31/1999 JO. UU 20/2001 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI

  • UU 15/2002 JO. UU 25/2003 TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

KEJAHATAN

TERHADAP MATA

UANG

KEJAHATAN TERHADAP MATA UANG
KEJAHATAN TERHADAP MATA UANG

PENDAHULUAN

PENDAHULUAN “OEANG” BUKAN HANYA UANG ORI, ADALAH OEANG, BUKTI EKSISTENSI NEGERI DI JAMANNYA, OEANG BUKAN HARTA
PENDAHULUAN “OEANG” BUKAN HANYA UANG ORI, ADALAH OEANG, BUKTI EKSISTENSI NEGERI DI JAMANNYA, OEANG BUKAN HARTA

“OEANG” BUKAN HANYA UANG

ORI, ADALAH OEANG, BUKTI EKSISTENSI NEGERI DI JAMANNYA, OEANG BUKAN HARTA SEMATA OEANG BUKAN HANYA UANG OEANG ADALAH KOMITMEN PERJUANGAN

OEANG ADALAH BUKTI ADA PERJUANGAN

OEANG ADALAH HARGA DIRI BANGSA.

Fungsi Uang

Fungsi Uang  AWAL: alat tukar  PERKEMBANGAN: berfungsi: – ukuran umum dalam menilai sesuatu (
Fungsi Uang  AWAL: alat tukar  PERKEMBANGAN: berfungsi: – ukuran umum dalam menilai sesuatu (
  • AWAL: alat tukar

  • PERKEMBANGAN: berfungsi:

ukuran umum dalam menilai sesuatu (common measure of value),

Sebagai aset likuid (liquid asset),

komponen dalam rangka pembentukan harga pasar (framework of the market allocative system),

faktor penyebab dalam perekonomian (a causative factor in the economy), dan

faktor pengendali kegiatan ekonomi (controller of the economy).

Fungsi Uang (Presiden SBY)

Fungsi Uang (Presiden SBY)  Bagi bangsa kita, mencetak uang bukan sekedar melakukan kegiatan usaha di
Fungsi Uang (Presiden SBY)  Bagi bangsa kita, mencetak uang bukan sekedar melakukan kegiatan usaha di
  • Bagi bangsa kita, mencetak uang bukan sekedar melakukan kegiatan usaha di bidang jasa percetakan belaka. Tetapi, kegiatan itu juga merupakan bagian dari upaya Negara dalam menjaga dan mempertahankan ketahanan nasionalnya.

  • Uang suatu negara bukanlah sekedar alat pembayar, tetapi juga simbol dari suatu negara yang merdeka dan berdaulat.

Dasar Pemikiran Pengaturan Mata Uang oleh Bank sentral

Dasar Pemikiran Pengaturan Mata Uang oleh Bank sentral  Best practice di berbagai negara: fungsi dan
Dasar Pemikiran Pengaturan Mata Uang oleh Bank sentral  Best practice di berbagai negara: fungsi dan
  • Best practice di berbagai negara: fungsi dan tugas di bidang pengelolaan dan pengedaran uang dilakukan oleh bank sentral.

  • Pencetakan dan penerbitan uang oleh suatu negara tidak dapat semata-mata diterbitkan begitu saja, melainkan pencetakan dan penerbitan uang tersebut sangat terkait dengan kebijakan moneter suatu negara.

TUJUAN DAN TUGAS BI
TUJUAN DAN TUGAS BI
MENGATUR DAN MENETAPKAN & MELAKSANAKAN KEBIJAKAN MONETER MENCAPAI & MEMELIHARA MENJAGA KELANCARAN SISTEM KESTABILAN NILAI PEMBAYARAN
MENGATUR
DAN
MENETAPKAN &
MELAKSANAKAN
KEBIJAKAN
MONETER
MENCAPAI &
MEMELIHARA
MENJAGA
KELANCARAN
SISTEM
KESTABILAN NILAI
PEMBAYARAN
RUPIAH
MENGATUR &
Ps 7 dan 8
MENGAWASI
BANK
TUGAS MENGATUR & MENJAGA KELANCARAN SISTEM PEMBAYARAN
TUGAS MENGATUR & MENJAGA
KELANCARAN SISTEM PEMBAYARAN

MENGATUR & MENJAGA KELANCARAN SISTEM PEMBAYARAN TUNAI DAN NON TUNAI .

TUGAS MENGATUR & MENJAGA KELANCARAN SISTEM PEMBAYARAN MENGATUR & MENJAGA KELANCARAN SISTEM PEMBAYARAN TUNAI DAN NON
TUGAS MENGATUR & MENJAGA KELANCARAN SISTEM PEMBAYARAN MENGATUR & MENJAGA KELANCARAN SISTEM PEMBAYARAN TUNAI DAN NON

TUNAI :

  • MENGEDARKAN, MENCABUT, MENARIK DAN MEMUSNAHKAN UANG,

  • MENETAPKAN MACAM, HARGA, CIRI UANG YANG

AKAN DIKELUARKAN

NON TUNAI :

  • MENGATUR DAN MENYELENGGARAKAN KLIRING SERTA PENYELESAIAN AKHIR TRANSAKSI PEMBAYARAN ANTAR BANK

KEWENANGAN MENGELUARKAN DAN MENGEDARKAN UANG

KEWENANGAN MENGELUARKAN DAN MENGEDARKAN UANG  DI INDONESIA, LEMBAGA YANG MEMILIKI KEWENANGAN UNTUK MENGELUARKAN DAN MENGEDARKAN
KEWENANGAN MENGELUARKAN DAN MENGEDARKAN UANG  DI INDONESIA, LEMBAGA YANG MEMILIKI KEWENANGAN UNTUK MENGELUARKAN DAN MENGEDARKAN
  • DI INDONESIA, LEMBAGA YANG MEMILIKI KEWENANGAN UNTUK MENGELUARKAN DAN MENGEDARKAN UANG RUPIAH SERTA MENCABUT, MENARIK, DAN MEMUSNAHKAN UANG DIMAKSUD DARI PEREDARAN ADALAH BANK INDONESIA.

  • LEMBAGA YANG MELAKUKAN PENCETAKAN UANG RUPIAH ADALAH PERUM PERURI.

INDISCHE MUNTWET 1912

INDISCHE MUNTWET 1912  Di masa pemerintahan Hindia Belanda, pernah berlaku Indische Muntwet 1912 sebagai Undang-Undang
INDISCHE MUNTWET 1912  Di masa pemerintahan Hindia Belanda, pernah berlaku Indische Muntwet 1912 sebagai Undang-Undang
  • Di masa pemerintahan Hindia Belanda, pernah berlaku Indische Muntwet 1912 sebagai Undang-Undang yang mengatur tentang mata uang.

  • Tetap diberlakukan pada masa awal kemerdekaan Republik Indonesia hingga dinyatakan dicabut pada masa berlakunya

UUDS 1950, yaitu dengan UU Darurat No. 20

Tahun 1951 tentang Penghentian Berlakunya Indische Muntwet 1912” dan Penetapan Peraturan Baru tentang Mata Uang, yang lebih

dikenal sebagai UU Mata Uang 1951.

UU NO. 13 TAHUN 1968 TENTANG BANK SENTRAL

UU NO. 13 TAHUN 1968 TENTANG BANK SENTRAL  Dengan UU ini maka UU tentang Mata
UU NO. 13 TAHUN 1968 TENTANG BANK SENTRAL  Dengan UU ini maka UU tentang Mata
  • Dengan UU ini maka UU tentang Mata Uang tahun 1951 dengan tambahan dan perubahannya dinyatakan tidak berlaku.

  • Sejak dicabutnya “UU Mata Uang eks UUDS 1950” itu, maka sejak tahun 1968 sampai dengan saat ini Indonesia tidak mempunyai UU yang khusus mengatur tentang mata uang.

DELIK KEJAHATAN TERHADAP MATA UANG

DELIK KEJAHATAN TERHADAP MATA UANG  Wetboek van Strafrecht (Stbl.1915 No.732) yang kemudian diberlakukan atas dasar
DELIK KEJAHATAN TERHADAP MATA UANG  Wetboek van Strafrecht (Stbl.1915 No.732) yang kemudian diberlakukan atas dasar
  • Wetboek van Strafrecht (Stbl.1915 No.732) yang kemudian diberlakukan atas dasar UU No.1 tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana Untuk Seluruh Wilayah Republik Indonesia.

PASAL 23 B UUD 1945 (PERUBAHAN KEEMPAT)

PASAL 23 B UUD 1945 (PERUBAHAN KEEMPAT)  Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan Undang-undang
PASAL 23 B UUD 1945 (PERUBAHAN KEEMPAT)  Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan Undang-undang

Macam dan harga mata uang ditetapkan dengan Undang-undang

Hukum Positif saat ini

Hukum Positif saat ini  Perangkat hukum yang berlaku pada dewasa ini yang mengatur tentang aspek-aspek
Hukum Positif saat ini  Perangkat hukum yang berlaku pada dewasa ini yang mengatur tentang aspek-aspek
  • Perangkat hukum yang berlaku pada dewasa ini yang mengatur tentang aspek-aspek mata uang:

UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU No. 3

Tahun 2004 (UUBI) dan

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang pada dasarnya merupakan peraturan yang

dibuat pada masa pemerintah kolonial Belanda

100 tahun yang lalu (Stbl.1915 No.732).

UU BI NO 23 TAHUN 1989 DAN PERUBAHANNYA UU 3 TAHUN 2004

UU BI NO 23 TAHUN 1989 DAN PERUBAHANNYA UU 3 TAHUN 2004  Pengaturan dalam UUBI,
UU BI NO 23 TAHUN 1989 DAN PERUBAHANNYA UU 3 TAHUN 2004  Pengaturan dalam UUBI,
  • Pengaturan dalam UUBI, yaitu:

Pasal 2, Pasal 19 s.d 23, serta Pasal 65 dan 66,

Pasal 2

Pasal 2 – Mengatur mengenai:  satuan mata uang RI adalah Rupiah;  uang rupiah sebagai
Pasal 2 – Mengatur mengenai:  satuan mata uang RI adalah Rupiah;  uang rupiah sebagai

Mengatur mengenai:

satuan mata uang RI adalah Rupiah; uang rupiah sebagai alat pembayaran yang sah (legal tender); kewajiban untuk menggunakan dan menerima

uang rupiah bagi setiap orang atau badan

yang berada di wilayah NKRI;

  • pengecualian penggunaan uang rupiah.

Pasal 19. s.d. 23

Pasal 19. s.d. 23 – Mengatur mengenai kewenangan BI dalam:  menetapkan macam, harga, ciri, bahan,
Pasal 19. s.d. 23 – Mengatur mengenai kewenangan BI dalam:  menetapkan macam, harga, ciri, bahan,

Mengatur mengenai kewenangan BI dalam:

  • menetapkan macam, harga, ciri, bahan, dan tanggal mulai berlakunya;

  • mengeluarkan, mengedarkan, mencabut, menarik, dan memusnahkan uang;

  • tidak memberikan penggantian atas uang yang

hilang/musnah;

  • memberikan penggantian dengan nilai yang sama terhadap uang yang dicabut dari peredaran dalam batas waktu tertentu.

 Pasal 65 dan 66 UUBI merumuskan bentuk pelanggaran serta ancaman pidana dan sanksi administratif, yaitu:
 Pasal 65 dan 66 UUBI merumuskan bentuk pelanggaran serta ancaman pidana dan sanksi administratif, yaitu:
  • Pasal 65 dan 66 UUBI merumuskan bentuk pelanggaran serta ancaman pidana dan sanksi administratif, yaitu:

pelanggaran dengan sengaja terhadap kewajiban penggunaan uang rupiah diancam dengan pidana kurungan paling

singkat 1 (satu) bulan dan paling lama 3

(tiga) bulan, serta denda paling sedikit Rp 2.000.000,00 (dua juta rupiah) dan paling banyak Rp 6.000.000,00 (enam juta

rupiah); dan

UU BI 19. s.d. 23 (Lanjutan)

UU BI 19. s.d. 23 (Lanjutan) – pelanggaran karena sengaja menolak uang rupiah diancam dengan pidana
UU BI 19. s.d. 23 (Lanjutan) – pelanggaran karena sengaja menolak uang rupiah diancam dengan pidana

pelanggaran karena sengaja menolak uang rupiah diancam dengan pidana

kurungan paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 3 (tiga) tahun, serta denda paling sedikit Rp 1.000.000.000,00 (satu

miliar rupiah) dan paling banyak Rp

3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).

KUHP Pasal 244

KUHP Pasal 244  KUHP dalam Bab X tentang pemalsuan mata uang dan uang kertas pada
KUHP Pasal 244  KUHP dalam Bab X tentang pemalsuan mata uang dan uang kertas pada
  • KUHP dalam Bab X tentang pemalsuan mata uang dan uang kertas pada Pasal-Pasal 244 s.d 252, mengatur delik kejahatan terhadap mata uang dan ancaman pidana, sebagai berikut:

Pasal 244: Barangsiapa meniru atau memalsu mata uang atau uang kertas

dengan maksud untuk mengedarkan atau menyuruh edarkan, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas)

tahun;

KUHP Pasal 245

KUHP Pasal 245 – Pasal 245: Sengaja mengedarkan, menyimpan, memasukkan, dan menyuruh mengedarkan uang palsu, diancam
KUHP Pasal 245 – Pasal 245: Sengaja mengedarkan, menyimpan, memasukkan, dan menyuruh mengedarkan uang palsu, diancam

Pasal 245: Sengaja mengedarkan, menyimpan, memasukkan, dan menyuruh

mengedarkan uang palsu, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun;

KUHP Pasal 246

KUHP Pasal 246 – Pasal 246: Mengurangi nilai mata uang dengan maksud untuk mengeluarkan atau menyuruh
KUHP Pasal 246 – Pasal 246: Mengurangi nilai mata uang dengan maksud untuk mengeluarkan atau menyuruh

Pasal 246: Mengurangi nilai mata uang dengan maksud untuk mengeluarkan atau menyuruh

edarkan, diancam karena merusak uang,

diancam dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun;

KUHP Pasal 247

KUHP Pasal 247 – Pasal 247: Sengaja mengedarkan mata uang yang dikurangi nilainya atau menyimpan atau
KUHP Pasal 247 – Pasal 247: Sengaja mengedarkan mata uang yang dikurangi nilainya atau menyimpan atau

Pasal 247: Sengaja mengedarkan mata uang yang dikurangi nilainya atau menyimpan atau

memasukkan dengan maksud mengedarkan

atau menyuruh edarkan, diancam dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun;

KUHP Pasal 249

KUHP Pasal 249 – Pasal 249 (Pasal 248: dihapuskan atas dasar Stbl. 1938 No. 593): Sengaja
KUHP Pasal 249 – Pasal 249 (Pasal 248: dihapuskan atas dasar Stbl. 1938 No. 593): Sengaja

Pasal 249 (Pasal 248: dihapuskan atas dasar Stbl. 1938 No. 593): Sengaja mengedarkan

uang yang dipalsu atau dirusak, diancam,

kecuali yang ditentukan dalam Pasal 245 dan 247, dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu atau denda paling banyak

tiga ratus rupiah.

KUHP Pasal 250

KUHP Pasal 250 – Pasal 250: Membuat atau mempunyai persediaan bahan atau benda untuk meniru, memalsu
KUHP Pasal 250 – Pasal 250: Membuat atau mempunyai persediaan bahan atau benda untuk meniru, memalsu

Pasal 250: Membuat atau mempunyai persediaan bahan atau benda untuk meniru, memalsu atau mengurangkan nilai mata uang, diancam dengan pidana penjara paling lama 6

(enam) tahun atau denda paling banyak tiga

ratus rupiah;

KUHP Pasal 250 bis

KUHP Pasal 250 bis – Pasal 250 bis: Dalam hal pemidanaan karena salah satu kejahatan yang
KUHP Pasal 250 bis – Pasal 250 bis: Dalam hal pemidanaan karena salah satu kejahatan yang

Pasal 250 bis: Dalam hal pemidanaan karena salah satu kejahatan yang diterangkan dalam bab ini,

maka mata uang palsu, dipalsu atau dirusak; uang

kertas negara atau bank yang palsu atau dipalsu; bahan-bahan atau benda-benda yang menilik sifatnya digunakan untuk meniru, memalsu atau

mengurangkan nilai mata uang atau uang kertas,

sepanjang dipakai untuk atau menjadi obyek dalam melakukan kejahatan, dirampas juga apabila barang-barang itu bukan kepunyaan terpidana;

KUHP Pasal 251

KUHP Pasal 251 – Pasal 251: Dengan sengaja tanpa izin Pemerintah, menyimpan atau memasukkan ke Indonesia
KUHP Pasal 251 – Pasal 251: Dengan sengaja tanpa izin Pemerintah, menyimpan atau memasukkan ke Indonesia

Pasal 251: Dengan sengaja tanpa izin Pemerintah, menyimpan atau memasukkan ke Indonesia keping-keping atau lembar-

lembar perak untuk dianggap sebagai uang,

diancam dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun atau denda paling banyak sepuluh ribu rupiah;

KUHP Pasal 252

KUHP Pasal 252 - Pasal 252: Dalam hal pemidanaan karena salah satu kejahatan yang diterangkan dalam
KUHP Pasal 252 - Pasal 252: Dalam hal pemidanaan karena salah satu kejahatan yang diterangkan dalam
  • - Pasal 252: Dalam hal pemidanaan karena salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 244-247 itu, dapat dicabut hak-hak tersebut pada Pasal 35 No. 1 4 yaitu: (i). hak memegang jabatan pada umumnya atau jabatan yang tertentu; (ii). hak memasuki angkatan bersenjata; (iii). hak memilih dan dipilih dalam pemilihan yang

diadakan berdasarkan aturan-aturan umum; (iv).

hak menjadi penasihat atau pengurus menurut hukum, hak menjadi wali, wali pengawas,

pengampu atau pengampu pengawas atas orang

yang bukan anak sendiri.

Beberapa kelemahan delik

kejahatan terhadap mata uang dalam KUHP

Beberapa kelemahan delik kejahatan terhadap mata uang dalam KUHP 1. Unsur Delik  Delik yang diatur
Beberapa kelemahan delik kejahatan terhadap mata uang dalam KUHP 1. Unsur Delik  Delik yang diatur

1. Unsur Delik

  • Delik yang diatur dalam KUHP yang mencantumkan syarat “dengan maksud untuk mengedarkan atau menyuruh edarkan” dapat melemahkan penuntutan dalam hal uang palsu

dimaksud belum diedarkan.

  • Seyogianya dengan terpenuhinya unsur meniru atau memalsu uang, maka delik tersebut telah memenuhi unsur pemalsuan uang. Sedangkan unsur mengedarkan seyogianya adalah merupakan unsur yang memberatkan.

Beberapa kelemahan delik kejahatan terhadap mata uang dalam KUHP

Beberapa kelemahan delik kejahatan terhadap mata uang dalam KUHP 2. Tidak fokus pada timbulnya kerugian. 
Beberapa kelemahan delik kejahatan terhadap mata uang dalam KUHP 2. Tidak fokus pada timbulnya kerugian. 

2. Tidak fokus pada timbulnya kerugian.

  • Dalam kasus pemalsuan uang rupiah, seharusnya tidak terfokus pada timbulnya kerugian setelah uang palsu tersebut

diedarkan, akan tetapi haruslah dilihat pula dari sisi yang lain,

yaitu bahwa uang rupiah adalah merupakan salah satu simbol kenegaraan, sehingga tindakan pemalsuan uang rupiah dapat pula dianggap sebagai kejahatan terhadap

simbol negara.

  • Oleh karena itu, belum diedarkannya uang palsu dimaksud seyogianya tidak dijadikan alasan yang meringankan hukuman karena terdakwa belum menikmati hasil kejahatannya.

Fokus:

Pemalsuan Uang

Fokus: Pemalsuan Uang  Seharusnya, yang dijadikan fokus adalah dengan telah selesainya perbuatan memalsukan uang rupiah,
Fokus: Pemalsuan Uang  Seharusnya, yang dijadikan fokus adalah dengan telah selesainya perbuatan memalsukan uang rupiah,
  • Seharusnya, yang dijadikan fokus adalah dengan telah selesainya perbuatan memalsukan uang rupiah, maka kejahatan tersebut telah selesai dilakukan.

  • Perbuatan mengedarkan uang palsu seharusnya adalah delik yang berdiri sendiri (terpisah dari perbuatan memalsukan uang),

sehingga apabila pelaku pemalsuan uang juga sekaligus mengedarkan uang palsu tersebut, maka hukumannya harus lebih berat.

Pelaku Kejahatan Mata Uang

Pelaku Kejahatan Mata Uang  Kejahatan yang sifatnya tidak berdiri sendiri namun merupakan kejahatan yang terorganisir
Pelaku Kejahatan Mata Uang  Kejahatan yang sifatnya tidak berdiri sendiri namun merupakan kejahatan yang terorganisir
  • Kejahatan yang sifatnya tidak berdiri sendiri namun merupakan kejahatan yang terorganisir dengan baik, bahkan sangat mungkin merupakan kejahatan yang bersifat transnasional (transnational crime);

  • Pelaku tindak pidana di bidang mata uang pada umumnya dilakukan oleh para residivis. Hal ini kemungkinan karena hukuman yang dijatuhkan bagi para pelaku sangat ringan;

  • Pemalsuan terhadap mata uang memerlukan suatu proses yang cukup rumit, oleh karena itu biasanya

pelaku tindak pidana pemalsuan uang tersebut dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian

khusus.

Pentingnya penerapan sanksi yang berat :

Pentingnya penerapan sanksi yang berat :  Aspek Filosofis  Aspek Sosiologis  Aspek Ekonomi 
Pentingnya penerapan sanksi yang berat :  Aspek Filosofis  Aspek Sosiologis  Aspek Ekonomi 
  • Aspek Filosofis

  • Aspek Sosiologis

  • Aspek Ekonomi

  • Aspek Yuridis

  • Aspek Politis

Aspek Filosofis

Aspek Filosofis – Mata uang merupakan salah satu simbol negara dan mata uang mempunyai fungsi yang
Aspek Filosofis – Mata uang merupakan salah satu simbol negara dan mata uang mempunyai fungsi yang

Mata uang merupakan salah satu simbol negara dan mata uang mempunyai fungsi yang sangat penting bagi perekonomian

suatu negara, yaitu sebagai:

  • alat tukar;

  • penyimpan nilai;

  • satuan hitung;

ukuran pembayaran yang tertunda (menghitung jumlah pembayaran pinjaman).

Aspek Sosiologis

Aspek Sosiologis  Uang suatu negara haruslah dapat diterima oleh masyarakat sehingga ada kepercayaan masyarakat terhadap
Aspek Sosiologis  Uang suatu negara haruslah dapat diterima oleh masyarakat sehingga ada kepercayaan masyarakat terhadap
  • Uang suatu negara haruslah dapat diterima oleh masyarakat sehingga ada kepercayaan masyarakat terhadap uang dimaksud.

Aspek Ekonomi

Aspek Ekonomi  Pada umumnya korban kejahatan mata uang adalah masyarakat dengan kemampuan ekonomi yang rendah,
Aspek Ekonomi  Pada umumnya korban kejahatan mata uang adalah masyarakat dengan kemampuan ekonomi yang rendah,
  • Pada umumnya korban kejahatan mata uang adalah masyarakat dengan kemampuan ekonomi yang rendah, misalnya pedagang kecil (warung/asongan). Apabila masyarakat tersebut mendapat uang palsu dari pembeli, hal

tesebut tidak hanya menimbulkan kerugian sebesar jumlah uang palsu tersebut, tetapi dapat mengancam kelangsungan usahanya karena pedagang kecil/asongan pada umumnya

tidak memiliki simpanan uang yang cukup untuk menutupi

kerugian dimaksud.

Aspek Ekonomi-Security features uang

Aspek Ekonomi-Security features uang  Bertujuan untuk menghindari pemalsuan uang  Diperlukan teknologi tinggi dengan biaya
Aspek Ekonomi-Security features uang  Bertujuan untuk menghindari pemalsuan uang  Diperlukan teknologi tinggi dengan biaya
  • Bertujuan untuk menghindari pemalsuan uang

  • Diperlukan teknologi tinggi dengan biaya yang tinggi. Memerlukan keahlian dan kecermatan yang tinggi,

  • Merupakan kerugian bagi negara, karena harus meciptakan uang baru yg memiliki

security fitures berbeda

FEATURES UANG

FEATURES UANG
FEATURES UANG
FEATURES UANG
FEATURES UANG
FEATURES UANG
FEATURES UANG

Aspek Yuridis

Aspek Yuridis  Terkait dengan hal ini perlu diperhatikan pula konvensi internasional mengenai pemberantasan uang palsu,
Aspek Yuridis  Terkait dengan hal ini perlu diperhatikan pula konvensi internasional mengenai pemberantasan uang palsu,
  • Terkait dengan hal ini perlu diperhatikan pula konvensi internasional mengenai pemberantasan uang palsu, yaitu

International Convention for the Suppression of Counterfeiting Currency and Protocol

(Geneva, 1929) yang telah diratifikasi

dengan UU No. 6 tahun 1981 tentang

Pengesahan Konvensi Internasional mengenai Pemberantasan uang Palsu

beserta Protokol.

Aspek Politis

Aspek Politis  Salah satu simbol kedaulatan suatu negara dan di dalamnya sekaligus terkandung makna menjaga
Aspek Politis  Salah satu simbol kedaulatan suatu negara dan di dalamnya sekaligus terkandung makna menjaga
  • Salah satu simbol kedaulatan suatu negara dan di dalamnya sekaligus terkandung makna menjaga kestabilan ekonomi nasional.

  • ORI pada masa mempertahankan kemerdekaan RI

Hukuman Terhadap Pelaku

Hukuman Terhadap Pelaku  Kejahatan terhadap mata uang perlu diberikan hukuman yang berat (setimpal) dengan mempertimbangkan
Hukuman Terhadap Pelaku  Kejahatan terhadap mata uang perlu diberikan hukuman yang berat (setimpal) dengan mempertimbangkan
  • Kejahatan terhadap mata uang perlu diberikan hukuman yang berat (setimpal) dengan mempertimbangkan lamanya jangka waktu beredarnya suatu emisi uang rupiah. Hukuman bagi pemalsu uang dikaitkan dengan jangka waktu edar suatu emisi uang

agar para pemalsu tersebut setelah

menjalani hukuman tersebut tidak dapat melakukan pemalsuan lagi terhadap uang

rupiah dengan emisi yang sama.

Hukuman Tambahan

Hukuman Tambahan  Selain itu, pidana penjara saja tidak cukup untuk menimbulkan efek jera, oleh karena
Hukuman Tambahan  Selain itu, pidana penjara saja tidak cukup untuk menimbulkan efek jera, oleh karena
  • Selain itu, pidana penjara saja tidak cukup untuk menimbulkan efek jera, oleh karena itu terhadap para pemalsu uang perlu ditambahkan hukuman lain yaitu berupa

penggantian kerugian materil yang diakibatkan oleh kejahatan tersebut. (biaya yg dikeluarkan oleh negara (Penegak

Hukum) untuk mengungkap kasus cukup besar)

Ketentuan Pidana

Ketentuan Pidana  Perlu ancaman pidana yang relatif berat (meliputi pidana penjara dan denda dengan batas
Ketentuan Pidana  Perlu ancaman pidana yang relatif berat (meliputi pidana penjara dan denda dengan batas
  • Perlu ancaman pidana yang relatif berat (meliputi pidana penjara dan denda dengan batas minimum dan maksimum).

  • Dari berbagai kasus tindak pidana di bidang mata uang, hukuman pidana yang dijatuhkan kepada para pelaku berdasarkan peraturan perundang-undangan yang saat ini berlaku relatif rendah, sehingga tidak bersifat deterrent untuk mencegah terjadinya pemalsuan uang

Legal tender

Legal tender
Legal tender
Legal tender

Legal Tender

Legal Tender  Sebagaimana currency act negara lain, pengertian legal tender untuk uang kertas dibedakan dengan
Legal Tender  Sebagaimana currency act negara lain, pengertian legal tender untuk uang kertas dibedakan dengan
  • Sebagaimana currency act negara lain, pengertian legal tender untuk uang kertas dibedakan dengan uang logam dari sisi

jumlahnya.

  • Uang kertas berlaku sebagai legal tender dalam jumlah berapa pun pada setiap transaksi pembayaran.

  • Sedangkan untuk uang logam, berlaku sebagai legal tender untuk jumlah tertentu untuk setiap pecahan. Namun demikian, pembatasan jumlah uang logam tidak berlaku bagi setoran nasabah kepada bank.

Pertimbangan pembedaan uang kertas dan logam

Pertimbangan pembedaan uang kertas dan logam  Memberikan beban (resiko selisih kurang, handling cost ) kepada
Pertimbangan pembedaan uang kertas dan logam  Memberikan beban (resiko selisih kurang, handling cost ) kepada
  • Memberikan beban (resiko selisih kurang, handling cost) kepada pihak yang menerima pembayaran dalam jumlah besar apabila

dilakukan dalam uang logam.

  • Fungsi uang logam lebih ditujukan untuk pengembalian.

  • Secara best practice di beberapa negara lain, penggunaan uang logam sebagai legal tender dibatasi dalam jumlah tertentu antara lain seperti Malaysia, Thailand, Singapura, Australia, Inggris, Kanada.

BANK DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP

BANK DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP  SANKSI ADMINISTRASI  SANKSI PERDATA  SANKSI PIDANA
BANK DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN HIDUP  SANKSI ADMINISTRASI  SANKSI PERDATA  SANKSI PIDANA
  • SANKSI ADMINISTRASI

  • SANKSI PERDATA

  • SANKSI PIDANA

KREDIT BANK DAN

LINGKUNGAN

KREDIT BANK DAN LINGKUNGAN
KREDIT BANK DAN LINGKUNGAN

LATAR BELAKANG

LATAR BELAKANG  KREDIT BERPERAN DALAM PEMBANGUNAN  TAHUN 1962 MULAI MUNCUL KESADARAN AKAN DAMPAK YANG
LATAR BELAKANG  KREDIT BERPERAN DALAM PEMBANGUNAN  TAHUN 1962 MULAI MUNCUL KESADARAN AKAN DAMPAK YANG
  • KREDIT BERPERAN DALAM PEMBANGUNAN

  • TAHUN 1962 MULAI MUNCUL KESADARAN AKAN DAMPAK YANG TIMBUL AKIBAT PEMBANGUNAN

KASUL MINIMATA DI JEPANG SEJAK 1955 DAN BARU DISADARI

BEBERAPA TAHUN KEMUDIAN

ISO 14000 ECOLABELING

  • KREDIT HARUS BERMANFAAT UNTUK:

DEBITUR (KEMBANGKAN USAHA)

BANK (BUNGA, SOLVABILITAS DLL)

PEMERINTAH (PERTUMBUHAN EKONOMI, LAPANGAN KERJA DLL)

MASYARAKAT LUAS (LAPANGAN KERJA, PENINGKATAN PENGHASILAN DLL)

MENGAPA BANK HARUS MENEMPUH

KEBIJAKAN KREDIT BERWAWASAN LINGKUNGAN?

MENGAPA BANK HARUS MENEMPUH KEBIJAKAN KREDIT BERWAWASAN LINGKUNGAN? 1. PASAL 6 UU LINGKUNGAN HIDUP: TIAP ORANG
MENGAPA BANK HARUS MENEMPUH KEBIJAKAN KREDIT BERWAWASAN LINGKUNGAN? 1. PASAL 6 UU LINGKUNGAN HIDUP: TIAP ORANG
  • 1. PASAL 6 UU LINGKUNGAN HIDUP: TIAP ORANG BUKAN SAJA MEMILIKI HAK, TETAPI JUGA KEWAJIBAN DALAM MENGELOLA LINGKUNGAN HIDUP

  • 2. BANK PERLU MELINDUNGI DIRI DAN KREDITNYA

    • 1. PROYEK DARI KREDIT YANG MENCEMARI LINGKUNGAN

    • 2. PROYEK DARI KREDIT YANG DICEMARI OLEH LINGKUNGAN

    • 3. JAMINAN KREDIT YANG MENCEMARI LINGKUNGAN

    • 4. JAMINAN KREDIT YANG DICEMARI LINGKUNGAN

  • 3. APABILA DICEMARI:

    • 1. DAPAT MEMPENGARUHI USAHA,

    • 2. KEMAMPUAN BAYAR,

    • 3. JIKA MENUNTUT GANTI RUGI PROSES LAMA DAN

    • 4. BIAYA BESAR

  • HINDARI USAHA/PROYEK KREDIT DARI PENCEMARAN

    HINDARI USAHA/PROYEK KREDIT DARI PENCEMARAN  PENCEMARAN: MASUKNYA / DIMASUKKANNYA MAKHLUK HIDUP, ZAT, ENERGI ATAU KOMPONEN
    HINDARI USAHA/PROYEK KREDIT DARI PENCEMARAN  PENCEMARAN: MASUKNYA / DIMASUKKANNYA MAKHLUK HIDUP, ZAT, ENERGI ATAU KOMPONEN
    • PENCEMARAN: MASUKNYA / DIMASUKKANNYA MAKHLUK HIDUP, ZAT, ENERGI ATAU KOMPONEN LAIN KE DALAM LINGKUNGAN HIDUP OLEH KEGIATAN MANUSIA, SEHINGGA KUALITAS LINGKUNGAN MENURUN SAMPAI TINGKAT TERTENTU SEHINGGA FUNGSI TIDAK SESUAI PERUNTUKANNYA

    • PERUBAHAN MENURUN : DAMPAK

    • SEHINGGA DIPERLUKAN PANDUAN UNTUK USAHA- USAHA YANG DIPERKIRAKAN MEMILIKI DAMPAK TERHADAP LINGKUNGAN

    1. PP NOMOR 51 TAHUN 1993

    1. PP NOMOR 51 TAHUN 1993 KEGIATAN YANG:  EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM (SDA)  PERUBAHAN
    1. PP NOMOR 51 TAHUN 1993 KEGIATAN YANG:  EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM (SDA)  PERUBAHAN

    KEGIATAN YANG:

    • EKSPLOITASI SUMBER DAYA ALAM (SDA)

    • PERUBAHAN BENTUK LAHAN/BENTANG ALAM

    • USAHA YANG POTENSIAL MENYEBABKAN PEMBOROSAN SDA

    • MEMPENGARUHI KAWASAN KONSERVASI

    • KEGIATAN YANG MEMPENGARUHI PERTAHANAN NEGARA

    • PENERAPAN TEKNOLOGI

    PENGUKURAN BESAR KECIL DAMPAK

    PENGUKURAN BESAR KECIL DAMPAK  JUMLAH MANUSIA  LUAS AREA  LAMA BERLANGSUNG  INTENSITAS DAMPAK
    PENGUKURAN BESAR KECIL DAMPAK  JUMLAH MANUSIA  LUAS AREA  LAMA BERLANGSUNG  INTENSITAS DAMPAK
    • JUMLAH MANUSIA

    • LUAS AREA

    • LAMA BERLANGSUNG

    • INTENSITAS DAMPAK

    • KOMPONEN LAIN YANG TERKENA

    2. PASAL 15 UUPLH

    2. PASAL 15 UUPLH  RENCANA USAHA/KEGIATAN YANG KEMUNGKINAN BERDAMPAK BESAR WAJIB AMDAL  JENIS USAHA
    2. PASAL 15 UUPLH  RENCANA USAHA/KEGIATAN YANG KEMUNGKINAN BERDAMPAK BESAR WAJIB AMDAL  JENIS USAHA
    • RENCANA USAHA/KEGIATAN YANG KEMUNGKINAN BERDAMPAK BESAR WAJIB

    AMDAL

    • JENIS USAHA YANG WAJIB AMDAL

    PERTAMBANGAN DAN ENERGI

    KESEHATAN

    PEKERJAAN UMUM

    PERTANIAN (TAMBAH LUAS MIN 50 HA)

    PARPOSTEL

    INDUSTRI

    PERHUBUNGAN

    KEHUTANAN

    KREDIT BERWAWASAN LINGKUNGAN

    KREDIT BERWAWASAN LINGKUNGAN PROSES ANALISIS :  KASUISTIS  AMAN SECARA AKTIF MAUPUN PASIF  KEMUNGKINAN
    KREDIT BERWAWASAN LINGKUNGAN PROSES ANALISIS :  KASUISTIS  AMAN SECARA AKTIF MAUPUN PASIF  KEMUNGKINAN

    PROSES ANALISIS:

    • KASUISTIS

    • AMAN SECARA AKTIF MAUPUN PASIF

    • KEMUNGKINAN PERUBAHAN

    • KERJASAMA (AMDAL)

    • PERTIMBANGAN DAYA SAING DENGAN BANK LAIN

    • PASAL 18 UUPLH: WAJIB AMDAL UNTUK MEMPEROLEH IJIN MELAKUKAN USAHA DAN KEGIATAN

    • PENJELASAN PASAL 8 UU NOMOR 10 TAHUN
      1998

    KENDALA KREDIT BERWAWASAN LINGKUNGAN

    KENDALA KREDIT BERWAWASAN LINGKUNGAN  INTERN: – PENGETAHUAN KURANG TENTANG LINGKUNGAN – KEBIJAKAN PERKREDITAN BANK YANG
    KENDALA KREDIT BERWAWASAN LINGKUNGAN  INTERN: – PENGETAHUAN KURANG TENTANG LINGKUNGAN – KEBIJAKAN PERKREDITAN BANK YANG
    • INTERN:

    PENGETAHUAN KURANG TENTANG LINGKUNGAN

    KEBIJAKAN PERKREDITAN BANK YANG TIDAK TEGAS

    • EKSTERN:

    PERSAINGAN TENAGA PROFESIONAL DI LUAR BANK

    2. PROSES PERJANJIAN

    2. PROSES PERJANJIAN  ADA KLAUSULA-KLAUSULA PERSYARATAN YANG DAPAT DIMASUKKAN SEBAGAI SURAT PERSETUJUAN DENGAN TUJUAN UNTUK
    2. PROSES PERJANJIAN  ADA KLAUSULA-KLAUSULA PERSYARATAN YANG DAPAT DIMASUKKAN SEBAGAI SURAT PERSETUJUAN DENGAN TUJUAN UNTUK
    • ADA KLAUSULA-KLAUSULA PERSYARATAN YANG DAPAT DIMASUKKAN SEBAGAI SURAT PERSETUJUAN DENGAN TUJUAN UNTUK KEPENTINGAN BANK DAN LINGKUNGAN YANG AMAN

    CONDITION PRECEDENT: NASABAH TELAH MENYERAHKAN

    SELURUH SURAT-SURAT (AMDAL, DLL) SEBELUM DROPPING

    NASABAH MEMASTIKAN LOKASI AMAN DARI PENCEMARAN

    NEGATIVE COVENANT:

    • NASABAH TIDAK MENEMPATKAN DI PROPERTINYA ZAT-ZAT BERACUN DAN MENCEMARI LINGKUNGAN

    • NASABAH TIDAK PERNAH ATAU SEDANG MELANGGAR PERATURAN UULH

    • NASABAH TIDAK AKAN MEMBUANG ZAT-ZAT YANG BERBAHAYA

    3. MONITORING (KREDIT DAN USAHA)

    3. MONITORING (KREDIT DAN USAHA)  MONITORING USAHA – ADA/TIDAK PENINGKATAN OMZET – ADMINISTRASI BAIK –
    3. MONITORING (KREDIT DAN USAHA)  MONITORING USAHA – ADA/TIDAK PENINGKATAN OMZET – ADMINISTRASI BAIK –
    • MONITORING USAHA

    ADA/TIDAK PENINGKATAN OMZET

    ADMINISTRASI BAIK

    KEUNTUNGAN

    RISIKO

    • MONITORING KREDIT

    SESUAI/TIDAK DENGAN TUJUAN

    KUALITAS KREDIT

    DOKUMENTASI KREDIT

    • MENEMPATKAN ORANG BANK / PIHAK III DALAM PERUSAHAAN KHUSUS TERKAIT DENGAN LINGKUNGAN

    • LAPORAN DARI HASIL MONITOR:

    LAPORAN KEUANGAN

    LAPORAN LINGKUNGAN: EPR (ENVIROMENTAL PERFORMANCE REPORT), YAITU DOKUMEN PERUSAHAAN YANG MENYATAKAN KINERJA LINGKUNGAN (PERUBAHAN KONDISI LINGKUNGAN AKIBAT AKTIVITAS PERUSAHAAN, KOMITMEN DAN TANGGUNGJAWAB PERUSAHAAN)

    APAKAH BANK DAPAT TERSANGKUT?

    APAKAH BANK DAPAT TERSANGKUT?  JIKA SYARAT ANALISIS TIDAK LENGKAP (PERIJINAN)  JIKA BANK IKUT DALAM
    APAKAH BANK DAPAT TERSANGKUT?  JIKA SYARAT ANALISIS TIDAK LENGKAP (PERIJINAN)  JIKA BANK IKUT DALAM
    • JIKA SYARAT ANALISIS TIDAK LENGKAP (PERIJINAN)

    • JIKA BANK IKUT DALAM MANAJEMEN

    PERUSAHAAN

    • LAPORAN LINGKUNGAN TIDAK DITINDAKLANJUTI

    • JIKA JAMINAN DIBELI BANK DALAM RANGKA

    PENYELESAIAN KREDIT

    • JIK BANK IKUT MEMASUKKAN MODAL PENYERTAAN DALAM PERUSAHAAN NASABAH