Anda di halaman 1dari 6

NILAI PEMULIAAN

Nilai Pemuliaan dari seekor ternak adalah sebuah gambaran nilai gen-gen ternak yang
bersangkutan untuk keturunannya (KINGHORN, 1992). Seleksi dilaksanakan biasanya bertujuan
untuk memilih tetua yang memiliki Nilai Pemuliaan paling tinggi dari semua ternak yang
tersedia, supaya keturunan dari tetua yang terseleksi mencapai rataan performans setinggi
mungkin. Seandainya dapat diketahui secara pasti Nilai Pemuliaan sebenarnya (true breeding
value) dari setiap ternak maka tujuan tersebut dapat dicapai secara efisien dengan meranking
ternak-ternak menurut true breeding value tersebut dan memilih dari daftar teratas. Namun
demikian, dalam praktek true breeding value dari ternak-ternak tersebut tidak diketahui, yang
ada hanya satu atau lebih petunjuk untuk true breeding value itu. Petunjuk itu terdiri dari satu
atau lebih ukuran performans (nilai fenotipik) yang ada pada ternak itu sendiri atau pada
saudaranya. Dengan menggunakan petunjuk-petunjuk tersebut dapat diperkirakan true breeding
value dari setiap ternak dan kemudian ternak-ternak tersebut dapat diranking menurut estimated
breeding value (EBV). Dengan meranking ternak menurut EBV maka sebenarnya telah
cenderung meranking ternak-ternak tersebut menurut true breeding value. Lebih akurat perkiraan
true breeding value tersebut maka lebih akurat ranking yang telah dibuat tersebut (NICHOLAS,
1987). Rumus umum untuk menghitung perkiraan Nilai Pemuliaan dari sumber informasi
tunggal menurut BOURDON (1997) adalah :
I = b.x
di mana :
I = nilai indeks (predicted value)
b = koefisien regresi
x = (PI - P) = deviasi dari rataan contemporary
Nilai indeks (I) adalah Nilai Pemuliaan dugaan yang terdiri dari beberapa bentuk, biasanya
berupa Estimated Breeding Value (EBV), Expected Progeny Difference (EPD) atau Most
Probable Producing Ability (MPPA). Koefisien regresi (b) merupakan regresi dari true value
(BV, PD atau PA) atas evidence (fakta) yang mengukur perubahan (expected) true value per unit
perubahan evidence. Nilai koefisien regresi tergantung pada sumber informasi catatan produksi
dan metode prediksi Nilai Pemuliaan. HARDJOSUBROTO (1994) memberikan pengertian dari
istilah EBV, EPD dan MPPA. Estimated Breeding Value (EBV) atau Nilai Pemuliaan dugaan
adalah hasil pendugaan dari Nilai Pemuliaan yang sesungguhnya yang dihitung berdasarkan atas
performans individu dan keluarga dekatnya dibandingkan dengan\ performans populasinya.
Expected Progeny Difference (EPD) atau Ramalan Beda Produksi adalah ramalan perbedaan
antara performans di kelak kemudian hari dari anak seekor pejantan bila dibandingkan dengan
performans populasinya. Most Probable Producing Ability (MPPA) atau Penduga Kemampuan
Berproduksi adalah suatu pendugaan dari produksi ternak di masa mendatang yang didasarkan
atas produksi sekarang dan di masa yang lalu.

Sumber informasi untuk menghitung Nilai
Pemuliaan
Dalam menduga Nilai Pemuliaan seekor ternak, ada empat macam sumber informasi yang dapat
dipergunakan, yaitu (1) fenotipe individu itu sendiri; (2) fenotipe saudara kolateral; (3) fenotipe
anak keturunannya; dan (4) fenotipe tetuanya (HARDJOSUBROTO,
1994). Dengan rumus umum I = b.x, BOURDON (1997) memberikan contoh rumus koefisien
regresi yang dipakai untuk menghitung Nilai Pemuliaan dari sumber informasi tunggal (catatan
individu, catatansaudara kolateral dan catatan progeni) seperti terlihat pada Tabel 2.
Berdasarkan Tabel 2 tersebut dapat diambil contoh jika akan dihitung EBV seekor induk sapi
perah dari n catatan dirinya sendiri, maka rumusnya adalah :
di mana :

h2 = heritabilitas
r = ripitabilitas
PI = rataan catatan produksi ternak
yang sedang diduga
P = rataan produksi populasi
Demikian juga untuk pendugaan yang lain berlaku aturan seperti contoh di atas.
Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi
84

Pendugaan Nilai Pemuliaan atas dasar sumber informasi performans dari tetuanya
(seleksi silsilah) dapat dilakukan dengan rumus berikut (HARDJOSUBROTO, 1994):
NP = 1/2 h2 (PD - P) + 1/2 h2 (PS - P)
di mana :
PS = performans bapaknya
PD = performans induknya
P = rataan performans populasi

Seandainya tidak tersedia informasi dari kedua tetuanya maka informasi dari nenek, kakek, terus
ke atas dapat digunakan tetapi dengan merubah koefisien di depan h2 sesuai dengan hubungan
individu tersebut denganmoyangnya tersebut. Hubungan individu dengan kedua tetua (parent)
adalah 1/2, dengan kakek dan neneknya (grandparent) adalah 1/4, dengan buyut (grade
grandparent) adalah 1/8 demikian seterusnya makin jauh makin rendah, yang mencerminkan
sumbangan darah dari moyangnya tersebut. Dengan demikian contoh rumus Nilai Pemuliaan
seekor ternak dengan menggunakan informasi dari induk dan neneknya adalah
(HARDJOSUBROTO,1994) :
NP = 1/2 h2 (PD - P) + 1/4 h2 (PN - P)
di mana :
PN = performans neneknya
Kedua rumus pendugaan Nilai Pemuliaan dari informasi silsilah di atas ditulis dalam bentuk
yang telah disederhanakan. Kecermatan pendugaan nilai pemuliaan (accuracy prediction)
menunjukkan keterandalan (reliability) dari pendugaan tersebut, kecermatan tidak dapat dipakai
untuk memperbaiki kebenaran pendugaan tersebut (KINGHORN, 1992). Sebagai contoh,
seandainya dua ekor ternak mempunyai EBV yang sama tetapi kecermatan EBV satu ekor ternak
lebih tinggi dibandingkan yang lain maka masih dianggap bahwa dua ekor ternak tersebut
mempunyai genetik yang sama. Walaupun demikian, ada resiko yang lebih besar bahwa true
breeding value dari ternak dengan kecermatan EBV lebih rendah secara signifikan lebih rendah
daripada yang diharapkan/diperkirakan dibandingkan ternak satunya. Banyak faktor yang
mempengaruhi kecermatan pendugaan seperti terlihat pada rumus dalam Tabel 2. Faktor-faktor
tersebut sama dengan faktor yang mempengaruhi koefisien regresi yaitu (1) jumlah catatan, (2)
heritabilitas, (3) ripitabilitas dan (4) hubungan silsilah/kekerabatan. Pengaruh keempat faktor
tersebut terhadap kecermatan pendugaan Nilai Pemuliaan dapat dilihat dengan jelas pada Tabel 3

Dari Tabel 3 terlihat bahwa makin tinggi nilai heritabilitas maka kecermatan pendugaan makin
meningkat, hal ini dikarenakan heritabilitas mengukur kekuatan hubungan di antara Nilai
Pemuliaan dengan nilai fenotipe. Kecermatan pendugaan paling tinggi diperoleh dari
penggunaan catatan individu, selanjutnya catatan progeni dan kemudian catatan half sib. Hal ini
berhubungan dengan proporsi gen yang dikandung dari sumber informasi untuk pendugaan.
Semakin banyak jumlah catatan, kecermatan terlihat semakin lebih baik. Dapat dilihat pula
bahwa jika heritabilitas tinggi, maka catatan performans individu merupakan petunjuk yang baik
dari Nilai Pemuliaannya karena memiliki kecermatan yang tinggi (0,84). Catatan progeni
merupakan sumber informasi yang sangat berharga karena dengan jumlah catatan yang cukup,
kecermatan pendugaan Nilai Pemuliaan mampu melebihi kecermatan pendugaan dengan sumber
informasi catatan performans individu itu sendiri walaupun pada sifat dengan heritabilitas yang
rendah. Dapat dicatat pula bahwa catatan dari saudara hanya dapat meningkat kecermatan
pendugaan tidak melebihi 0,5.

Best linear unbiased prediction
Pendugaan Nilai Pemuliaan yang dilakukan di atas dilakukan dengan asumsi bahwa informasi
performans yang dipergunakan berasal dari kelompok ternak kontemporari yang mirip secara
genetis. Seandainya ingin melakukan pendugaan menggunakan data dari kelompok ternak
kontemporari yang berbeda secara genetis, yaitu misalnya berasal dari farm atau ranch yang
berbeda atau dari dekade yang berbeda maka metode yang cocok dengan keadaan tersebut adalah
dengan menggunakan Best Linear Unbiased Prediction (BLUP) (BOURDON, 1997), suatu
metode yang telah dikembangkan oleh HENDERSON (NICHOLAS, 1987; SCHNEEBERGER,
1992). BLUP merupakan metode analisis uji zuriat yang menggunakan berbagai macam
informasi dari anak dan lingkungannya, sehingga peramalan mutu pejantan dapat dikatakan tidak
mengalami bias (HARDJOSUBROTO, 1994). Metode BLUP tidak lain adalah kombinasi dari
seleksi indeks dengan teknik least square (HARDJOSUBROTO, 1994). Pengaruh lingkungan
dan nilai pemuliaan dari ternak diestimasi serentak (simultan) sehingga perbedaan genetik di
antara herd diperhitungkan dengan benar (SCHNEEBERGER, 1992). BLUP memerlukan
perhitungan yang sangat intensif dengan menggunakan multiple sumber informasi dan\
melibatkan solusi (cara penyelesaian) simultan dari sejumlah persamaan. BLUP menggabungkan
berkali-kali sejumlah persamaan yang akan dipergunakan untuk indeks seleksi yang sesuai, hal
ini karena sekali analisis, BLUP menyediakan pendugaan untuk keseluruhan populasi ternak,
tidak hanya untuk satu ternak pada suatu waktu (BOURDON, 1997). Untuk sedikit
menggambarkan bagaimana dan pengaruh apa saja yang digunakan dalam analisisnya, berikut ini
adalah model statistik yang dipakai dalam menghitung BLUP (HARDJOSUBROTO, 1994) :
W = HY + BY + A + G + S + 1/2G + 1/2S + e
di mana:
W = nilai BLUP
HY = pengaruh tahun (herd year effect)
BY = block calving effect
A = pengaruh umur saat beranak
G = pengaruh kelompok pejantan (sire group)
S = pengaruh pejantan
G = maternal grandsire group effect
S = maternal grandsire effect
e = galat (error)
Dari model tersebut di atas dapat dilihat bagaimana kompleksnya cara menghitung nilai W.
Dimasukkannya bermacam-macam faktor itu dengan maksud untuk meningkatkan kecermatan
dalam menghitung nilai W. Oleh karena itu, perhitungan dengan cara demikian disebut dengan
unbiased prediction, yaitu peramalan yang tanpa penyimpangan (HARDJOSUBROTO, 1994).
NICHOLAS (1987) telah mengemukakan empat langkah dasar metode BLUP di dalam
melakukan pendugaan Nilai Pemuliaan, sekaligus memberikan contoh perhitungan sederhana
dari keempat langkah tersebut, yang meliputi:
1. Menuliskan sebuah ekspresi (disebut sebuah model) yang menggambarkan performans
individu yang berhubungan dengan semua faktor yang diperlukan untuk dimasukkan ke dalam
perhitungan.
2. Menuliskan persamaan kuadrat terkecil (least squares equations), yang berhubungan dengan
model.
3. Menambahkan e s 2 2 ke koefisien diagonal dari sisi kiri setiap persamaan yang
menunjukkan pengaruh sire, di mana s 2 adalah ragam pengaruh sire (=1/4VA = 1/4h2VP),
dan e 2 adalah residual error variance (=VP- s 2 = (1- 1/4h2)VP), di mana VP adalah ragam
fenotipik. Persamaan tersebut sekarang disebut persamaan mixed-model (mixedmodel equations).
4. Menghasilkan sebuah estimasi dari setiap pengaruh dengan menyelesaikan persamaan mixed-
model setelah menentukan beberapa pembatas-pembatas yang perlu, seperti =0.

BLUP telah membuktikan sebagai metode yang sangat berguna untuk menduga Nilai Pemuliaan
(SCHNEEBERGER, 1992), dan lebih andal daripada pendekatan seleksi indeks konvensional
(NICHOLAS, 1987), dengan kesalahan pendugaan sangat diminimalkan (tidak bias) dengan
korelasi antara yang diduga dengan penduganya maksimal (HARDJOSUBROTO, 1994). Karena
kemampuannya untuk menghitung perbedaan genetik di antara kelompok kontemporari dan
dapat menyediakan pendugaan genetik untuk banyak ternak pada suatu waktu, maka BLUP
adalah metode yang disukai untuk evaluasi genetik skala besar yaitu evaluasi genetik dari
populasi yang sangat besar, khususnya segala bangsa (BOURDON, 1997). Ada beberapa tipe
model BLUP, yaitu sire model, sire-maternal grandsire model, animal model, repeat measure
model, direct-maternal model, multiple-trait model. Perbedaan di antara model-model tersebut
adalah pada ternak yang menerima pendugaan genetik (misalnya hanya bapak, semua tetua, atau
semua ternak), jumlah atau macam pendugaan yang dibuat dan kesukaran perhitungan. Pada
umumnya lebih rumit model, lebih banyak persamaan yang terlibat, dan lebih banyak fasilitas
komputer yang diperlukan (BOURDON, 1997). BLUP animal model saat ini dipergunakan pada
banyak negara untuk sejumlah spesies, termasuk sapi perah, sapi potong, babi, kuda, domba dan
ikan (SCHNEEBERGER, 1992). BOURDON (1997) telah membuat diagram yang
menggambarkan perbedaan pendugaan Nilai Pemuliaan dengan cara BLUP animal model dan
Selection index sire model (Gambar 1). Dari diagram tersebut terlihat bahwa BLUP animal
model menggunakan informasi perfor-mans dari seluruh ternak yang memiliki hubungan
kekerabatan, tidak hanya half sib tetapi juga saudara sepupu karena mereka mempunyai nenek
bersama (common granddam). Sementara itu, pendugaan Nilai Pemuliaan dengan menggunakan
metode Selection index sire model menggunakan kelompok bapak dengan mengabaikan
hubungan maternalnya. Individu X dan Y terlihat tidak lebih sebagai half sib dan Y dan Z
terlihat tidak mempunyai hubungan.


DAFTAR PUSTAKA
BECKER, W. A. 1985. Manual of Quantitative Genetics. Fourth Edition. Academic Enterprises.
Pullman, Washington.
BOURDON, R. M. 1997. Understanding Animal Breeding. Prentice-Hall, Inc. New Jersey.
FALCONER, D. S. and T. F. C. MACKAY. 1996.Introduction to Quantitative Genetics. Fourth
Edition. Longman Group Ltd. England.
HARDJOSUBROTO, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT. Gramedia
Widiasarana Indonesia. Jakarta.
JOHANSSON, I. and J. RENDEL. 1966. Genetics and Animal Breeding. Translated by M.
TAYLOR. W. H. FREEMAN and Company. SanFrancisco.
KINGHORN, B. 1992. Principles of Estimated Breeding Values. In: Animal Breeding, The
Modern Approach. Post Graduate Foundation in Veterinary Science, University of Sidney. New
South Wales, Australia.
NICHOLAS, F. W. 1987. Veterinary Genetics. Oxford University Press Inc., New York.
NOOR, R. R. 1996. Genetika Ternak. PT. Penebar Swadaya. Jakarta.
SCHEEBERGER, M. 1992. The Alternative Evaluation Procedures. In: Animal Breeding,
The Modern Approach. Post Graduate Foundation in Veterinary Science, University of Sidney.
New South Wales, Australia.
WARWICK, E. J., J. M. ASTUTI, dan W. HARDJOSUBROTO. 1990. Pemuliaan Ternak.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta